[EXOFFI FREELANCE] Like A Cat (Chapter 2)

Like A Cat

A fanfiction written by Shiraayuki

Maincasts

Oh Sehun with Bae Irene

Others

Kang Seulgi, Park Chanyeol, etc.

Genres

Romance, comedy, work-life, friendship, AU, etc.

Length Chaptered | Rating PG-17

Disclaimer

This fanfiction pure from my imagination.

Don’t copy-paste my story without permission. Sorry for typos, happy reading^^

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

[00. Prolog] [01. Meet Again?][02. Stupid Irene!]

  1. Stupid Irene!

“Apa terjadi sesuatu Irene-ssi?” Irene menoleh pada Chanyeol yang duduk di kursinya dengan tenang seraya tersenyum ramah, Irene hanya menyengir kemudian kembali melanjutkan percakapannya dengan Seulgi melalui ponsel.

“Seulgi-ah, kita bicara lagi nanti.” ucap Irene berbisik kemudian segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blezzer-nya. Ia kembali lagi ke posisinya yang sebelumnya setelah merapikan penampilannya sejenak.

“Apa sudah selesai, Irene-ssi?” Irene hanya mengangguk pelan, gadis bermarga Bae itu lantas menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Chittaphon-ssi, kau bisa kembali bekerja. Irene-ssi, kau tetap disini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” rahang Irene nyaris jatuh mendengar perkataan Chanyeol barusan.

Jangan-jangan dia ingin memecatku!!” Irene merutuk dalam hati, ia menatap iri Ten yang sudah berjalan menuju pintu. Dan setelah mendengar suara pintu tertutup, Irene yakin ia sedang dalam masalah.

“Ayo, Irene-ssi, kita bicara disana.” Chanyeol bangkit dari duduknya seraya mengajak Irene untuk duduk ke sofa. Irene menelan liurnya pelan, ia takut ia akan dipecat setelah ini.

“Ba-baik, Presdir.” Irene menundukkan kepalanya lalu berjalan perlahan menuju sofa. Ia pun duduk di salah satu sofa yang terletak di hadapan Sehun yang tengah memasang wajah dingin namun tetap tampan.

“Aku rasa kita sudah bertemu sebelumnya.” Chanyeol berucap masih dengan senyum manis melekat di wajah tampannya, pria itu duduk di sebelah Sehun yang memiliki raut wajah 360 derajat berbeda dengannya.

“Ahh.. dimana, ya? Aku ini orangnya pelupa, Presdir,” jawab Irene seraya terkekeh hambar, ia menatap Sehun yang tengah menatapnya dingin. Ugh… Irene malah melting dengan tatapan itu.

“Ah.. kalau dengan sekretaris Oh, aku rasa kau tidak asing dengannya.” perkataan Chanyeol direspon dengan anggukan mantap oleh Irene.

“Tentu saja! Kami bertemu di lift tadi pagi dan mana mungkin aku melupakannya, dia ‘kan sangat tampan!” ucap Irene dengan semangat beserta sebuah senyuman bangga mengembang di wajahnya. Gadis itu tak sadar kalau kini Chanyeol maupun Sehun sama-sama menatapnya tak percaya.

Menyadari raut wajah terkejut dikedua wajah bosnya, Irene menyengir, “Apa aku salah bicara?” gadis itu bercicit pelan dengan wajah memelas.

“Ah tidak-tidak, Sehun pasti justru senang kalau ternyata ada gadis yang menyukainya.” Chanyeol bertepuk tangan yang segera mendapat lirikkan maut dari Sehun.

“Ah benarkah? Kalau begitu bolehkah aku meminta nomor ponselnya?” mata Irene berbinar, ia bahkan menyatukan kedua tangannya dan tersenyum lebar.

“Tentu saja, ah, kalian bicara berdua dulu, ya. Aku harus mengangkat telepon ini dulu.” Chanyeol beranjak dari sofa dan segera melenggang pergi keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Irene yang tersenyum lebar dan Sehun yang menatap gadis di depannya tidak suka.

“Sehun-ssi, apa ada kotoran di wajahku?” tanya Irene polos ketika ia menyadari Sehun terus saja menatapnya.

“Iya, sekujur tubuhmu kotor,” jawab Sehun sarkas dan sarat akan kebencian. Mendengar hal itu Irene justru tersenyum menggoda lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menatap Sehun intens kemudian menaikkan sebelah alisnya.

“Hmm.. kalau begitu, apa kau mau membantuku untuk membersihkan tubuhku?” Irene tersenyum lagi, kali ini menunjukkan deretan giginya yang putih. Sehun lantas berdecih menanggapi hal itu dan semakin memperdingin tatapannya.

“Apa aku perlu menyirammu dengan segelas air dingin?” suara dingin Sehun membuat Irene menarik tubuhnya kembali. Gadis itu mengibaskan rambutnya ke belakang, “Selama itu kau, aku tidak masalah.” Irene mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum lagi pada Sehun.

“Apa menurutmu aku tidak akan membalas perbuatanmu?” Sehun menatap lurus manik Irene membuat gadis itu jadi tersipu.

“Kau tentu saja membalas perbuatanku dengan cintamu.” Irene tertawa kecil, senang rasanya dia bisa mengobrol dengan si tampan pujaan hatinya.

“Maaf membuat kalian menunggu.” tiba-tiba Chanyeol muncul dan mendapati atmosfer yang berbeda di antara Irene dan Sehun, namun dia mengacuhkannya dan segera duduk kembali di sebelah Sehun.

“Tidak apa-apa, Presdir. Aku senang kau memberiku waktu untuk berduaan dengan sekretaris Oh,” ucap Irene dengan senang tak mempedulikan wajah cengo milik Chanyeol.

“Ah.. sama-sama, Irene-ssi. Tapi sebenarnya aku ingin bertanya padamu, kenapa kau menyiram Sehun waktu itu?”

Glek.

Ingin rasanya Irene menggigit pantat Chanyeol sekarang juga. Dia mau-mau saja kalau Sehun yang membahas hal itu, tapi kalau Chanyeol yang mengajaknya membahas itu dia ogah.

“Oh itu, tanganku tertiup angin,” jawab Irene tanpa rasa bersalah yang seketika mengundang Sehun mengeraskan rahangnya.

“Tolong jangan bercanda.” merasakan hawa iblis Sehun telah menguar dari kepala pria itu, Irene menjadi kikuk sendirian. Mungkin Sehun sudah muak dengan gadis itu. Sehingga ia tak lagi mampu menahan emosinya.

“Hehe.. maaf ya, tampan. Jadi sebenarnya, aku salah siram,” aku Irene dengan wajah bersalah yang sangat dibuat-buat.

“Salah siram?” beo Chanyeol dengan kepala meneleng bingung.

“Iya! Harusnya yang aku siram itu kau! Kau ‘kan yang menyelingkuhi sahabatku?! Aku tahu kau itu seorang Presdir yang kaya raya! Tapi jangan seenaknya mempermainkan hati perempuan!” Irene membentak Chanyeol dengan perasaan berapi-api. Melupakan fakta bahwa Chanyeol adalah Presdir di perusahaan tempatnya bekerja.

Rahang Chanyeol terbuka lebar, tak menyangka ada gadis yang berani membentaknya. Gelar lady-killer yang dipegangnya ternyata belum cukup menaklukkan hati seorang gadis yang notabene adalah pegawai perusahannya. Ia bahkan tak mampu marah sakin kagetnya.

“Tapi aku malah salah menyiram orang, maaf ya, tampan. Gara-gara aku kau jadi basah waktu itu, tapi kau harus tahu itu siraman cinta, kok.” lagi-lagi Irene mengedipkan sebelah matanya, membuat Chanyeol geleng-geleng kepala. Chanyeol melirik Sehun yang sepertinya sudah mencapai klimaksnya disana.

“Apa kau tadi menyebut sahabatmu? Apa sahabatmu adalah mantan kekasihku?” terka Chanyeol dan segera dibalas dengan anggukan sinis dari Irene.

“Iya,” sahut Irene seraya memangku kedua tangannya.

“Siapa namanya?” tanya Chanyeol lagi, Irene memicingkan matanya lalu tertawa melalui hidung, “Aku tidak akan memberitahumu.” Irene mendengus lalu kembali menatap wajah tampan Sehun yang masih saja memasang ekspresi dingin.

Chanyeol benar-benar tak habis pikir dengan gadis bernama Bae Irene di hadapannya itu. Bagaimana bisa dia bersikap seberani itu terhadap bosnya sendiri.

“Baiklah kita lupakan soal itu, aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih serius. Jadi begini Irene-ssi..” Chanyeol menekan kata embel-embel -ssi membuat Irene menutup mulutnya sendiri. Sadar kalau sedari tadi ia bersikap tidak sopan dan berbicara non-formal pada bosnya sendiri.

“Aku tahu kau masih pe-ga-wai ba-ru, tapi aku ingin kau..” Chanyeol tersenyum licik pada Irene yang terlihat menundukkan kepalanya sekarang. Gadis itu merutuk mulutnya yang sialan.

“..menjadi asisten pribadi Sehun.”

“Apa?!”

“Benarkah?!!”

Sehun menoleh tak percaya pada Chanyeol, sedang Irene senang bukan main saat mendengar kata asisten pribadi.

“Park Chanyeol, apa yang kau rencanakan?” tanya Sehun setengah berbisik, Chanyeol melempar senyum misterius pada Sehun lalu berucap, “Nanti kau akan tahu.”

“Jadi Irene-ssi, kau akan bekerja mulai besok. Besok Sehun akan memberitahu apa saja yang akan menjadi tugasmu. Sekarang kau boleh kembali bekerja.” Irene mengangguk-angguk senang, ia segera bangkit dari duduknya lalu menatap Sehun dengan mata berbinar.

“Sampai jumpa tampan.” Irene memberi Sehun sebuah flying-kiss lalu segera melenggang pergi dari ruangan Presiden Direktur itu.

“Wah.. gadis itu benar-benar sesuatu.” decak Chanyeol seraya menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.

“Kau lebih sesuatu, apa maksudmu menjadikannya asistenku?” tanya Sehun tak suka. Melihat wajah Irene saja dia sudah muak apalagi bersama dengan gadis itu.

“Supaya kau bisa menyiksanya, bodoh. Dengan menjadikannya asisten pribadimu, kau bisa memerintahnya sesuka hatimu. Aku tahu kau sangat membencinya, makanya aku menjadikannya asisten pribadimu.” Chanyeol berujar enteng sembari menyunggingkan sebuah senyuman bangga. Sehun terdiam sejenak, berusaha memaknai kalimat Chanyeol baik-baik. Namun, bayangan wajah Irene seketika membuatnya men-ck kesal.

“Aku tidak bisa, Chanyeol-ah. Gadis itu terlalu memuakkan dan menjijikkan.” Sehun melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Perlu kalian ketahui kalau Sehun akan mengurangi sikap dinginnya jika ia bersama Chanyeol.

“Bukannya kau bilang dia sudah menghancurkan harga dirimu? Ya sudah, ini saatnya kau membalas perbuatannya. Dan hmm.. berhati-hatilah, kata orang biasanya benci jadi cinta.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya kemudian tersenyum mengejek, ia bangkit berdiri lalu kembali ke kursi singgasananya.

“Aku tidak mempercayai cinta.”

Chanyeol hanya menggeleng melihat sahabatnya semenjak masa taman kanak-kanak itu. Pria caplang itu pun meraih kacamatanya yang berada di atas meja lalu mulai berkutat dengan setumpuk dokumen yang harus ia baca satu-persatu.

Ten menatap Irene yang sedari tadi asyik bersenandung dengan tatapan menyelidik. Pria yang berasal dari negeri gajah putih itu penasaran roh apa yang tengah merasuki teman sekerjanya itu. Setelah kembali dari ruangan Presdir Irene tak henti-hentinya menari-nari kecil sambil bernyanyi, hal itu membuat Ten semakin ingin tahu apa yang telah terjadi di ruang Presdir setelah ia pergi dari sana.

“Kau baik-baik saja, Irene-ssi?” tanya Ten dengan wajah curiga, sedang yang ditanyai lantas tersenyum manis.

“Tentu saja, memangnya aku terlihat sedang sakit?” Irene memutar kursi kerjanya agar ia menghadap ke arah Ten.

“Iya, kau seperti orang sakit jiwa,” cibir Ten yang seketika membuat Irene menjitak dahinya.

“Enak saja kau mengataiku orang gila, dasar chittaporno!” balas Irene tak mau kalah, baru beberapa jam bersama, Irene sudah memiliki nama ejekan untuk pria berdarah Thailand itu.

“Cuih, dasar wanita genit, wanita ular! Shhhh..” Ten berdesis seperti ular yang justru membuat Irene tertawa lepas. Gadis itu mengusap sudut matanya yang berair akibat terlalu kuat tertawa.

“Hahah.. aduh perutku,” ringis Irene diakhir tawanya, sedangkan Ten hanya memutar jari telunjuknya di sebelah pelipisnya.

“Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi di ruang Presdir setelah aku pergi?” kali ini Ten mulai serius, ia tak mau Irene tertawa lagi. Bisa-bisa mereka berdua di-fire jika terus saja bermain-main disaat jam bekerja. Apalagi Irene kalau sedang tertawa tidak anggun sama sekali.

“Ah.. seperti biasa, aku menggoda si tampan,” ucap Irene jujur, kening Ten berkerut menanggapi kalimat kejujuran gadis itu.

“Si tampan? Maksudmu Presdir Park?” terka Ten seraya menyipitkan matanya, Irene lekas menggeleng dan menjawab, “Sekretaris Oh.” gadis itu tersenyum genit lalu memain-mainkan ujung rambutnya.

“APA?! Upss..” Ten segera menutup mulutnya yang baru saja kelepasan. Untung saja semua orang terlalu sibuk bekerja hingga tak menyadari suara sekian desibelnya.

“Kau menyukai Sekretaris Oh?” tanya Ten memastikan, matanya melebar namun suaranya setengah berbisik.

“Iya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, wajah dinginnya itu membuatku ingin menghujani pipinya dengan ciumanku.” Ten menggeleng ngeri saat kalimat Irene tercerna olehnya, ia menepuk-nepuk pipi Irene pelan.

“Sadarlah, dia itu setan!” Irene menaikkan sebelah alisnya, “Setan bagaimana? Wajahnya tampan begitu.” Irene terdengar tak setuju dengan pendapat Ten.

“Bae Irene yang cantik dan manis, Sekretaris Oh itu sangat kejam. Orang-orang bisa pingsan hanya mendengar kata-katanya saja. Sebelum masuk ke perusahaan ini, aku sudah mengorek-ngorek segala informasi mengenai para bos kita. Dan Sekretaris Oh itu adalah orang yang paling banyak memecat pegawai di sini. Dia punya wewenang karena Presdir Park memberikan mandat itu padanya.” ujar Ten panjang kali lebar, pria dengan surai hitam itu terlihat sangat serius sekarang.

“Tidak apa-apa, apa boleh buat dia sangat tampan. Aku suka!” Irene tersenyum memuja saat ia membayangkan wajah dingin Sehun.

“Para gadis ketakutan padanya, sedangkan kau malah menggodanya. Kau memang tidak waras.” Ten lagi-lagi memutar jari telunjuknya di sebelah pelipisnya.

“Ah! Aku lupa memberitahumu, kalau mulai besok aku akan menjadi asisten pribadi Sekretaris Oh!” Irene tersenyum pamer namun Ten sama sekali tidak bangga dengan pekerjaan baru temannya itu.

Chukkae, Irene. Belum genap sehari bekerja kau pasti sudah, grekkkk…” Ten mempraktekkan seolah-olah ia memotong lehernya sendiri dengan ibu jarinya.

“Haha.. tidak mungkin. Sekretaris Oh tidak akan tega melakukan hal seperti itu pada gadis yang cantik dan imut sepertiku.” Irene memainkan kedua jari telunjuknya di kedua pipinya yang membuat Ten menepuk jidatnya pasrah.

“Aku rasa, justru Sekretaris Oh yang akan bunuh diri menghadapi gadis aneh sepertimu,” gumam Ten seraya melirik Irene yang sedang ber-kyaaa-kyaaa! sendiri di sana.

“Baru pulang?” Irene bertanya seraya melirik Seulgi yang baru saja masuk dengan penampilan awut-awutan. Gadis Kang itu langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Irene.

“Iya,” jawab Seulgi lemas, ia memejamkan matanya kemudian memijit pelipisnya pelan.

“Apa wawancaramu berhasil?” tanya Irene tanpa mengalihkan matanya dari layar televisi, namun bukannya menjawab pertanyaan Irene, Seulgi justru menghela nafas pelan.

“Gagal?” tebak Irene kemudian, entah kenapa melihat penampilan Seulgi yang sedikit menyedihkan membuatnya berpikir kalau wawancara gadis itu lagi-lagi gagal.

“Iya, aku gagal lagi,” akui Seulgi dengan sedih, gadis itu tersenyum getir mengingat wawancara ke -98-nya gagal, lagi.

“Tidak apa-apa, kau pasti akan menemukan perusahaan yang cocok denganmu.” Irene memeluk Seulgi hangat membuat Seulgi tersenyum tipis.

“Terimakasih, Irene-ah. Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu?” semangat Seulgi kembali mencuat setelah Irene memeluknya.

“Mengasyikkan, aku memiliki teman baru yang berdarah Thailand namun fasih bahasa Korea. Dan yang paling fantastisnya, aku jatuh cinta at the first sight pada Sehun.” Irene tersenyum senang namun berbeda dengan Seulgi yang kini melebarkan matanya tak percaya.

“Irene! Kau gila?! Dia itu iblis! Dan kau menyiramnya kemarin, dia pasti akan balas dendam padamu!” Seulgi memukul-mukul pundak dan lengan Irene membuat Irene mengaduh kesakitan.

“Arghh appo!” Irene memajukan bibirnya dongkol, kenapa tidak ada yang bahagia kalau dia telah menemukan pujaan hatinya setelah sekian tahun men-jomblo?

“Sehun itu tampan!” teriak Irene kesal, ia melipat kedua tangannya lalu mendengus sebal.

“Iya, dia memang tampan. Tapi-arghh sudahlah, terserah kau saja!” Seulgi menyerah, sepanjang apapun kalimat nasehat yang akan ia ucapkan jika Irene sudah berlabuh ia tak akan mau berlayar lagi.

“Ah iya, kau tahu, Seulgi-ah, mulai besok aku akan menjadi asisten pribadi Sehun.” Irene berucap pamer seraya menaik-naikkan kedua alisnya.

Seulgi menganga, jika rahangnya bisa lepas mungkin sekarang rahangnya sudah menggelepar di lantai. Irene mengulurkan tangannya untuk mengatupkan kembali rahang Seulgi. Tiba-tiba Seulgi bergumam dan membentuk salib (seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang menganut ajaran agama Katolik) kemudian menjamah kepala Irene.

“Semoga kau diberkati, permisi.” Seulgi beringsut turun dari sofa lalu segera meloyor pergi ke kamar mandi, ia tak mampu lagi menghadapi sahabatnya yang keras kepala itu.

“Hmm.. mungkin Seulgi takjub padaku. Hehehe.. aku hebat juga, ya?”

from: tukang selingkuh

Apartemen Sokcho, lantai 8 nomor 94. Datanglah kesana dan buatkan sarapan untuknya. Jangan memberitahunya kalau aku yang menyuruhmu. Tapi ingat kau harus kembali lagi ke perusahaan jika Sehun tak membutuhkan jasamu lagi.

“Lantai 8 nomor 94. Aku rasa ini sudah benar.” Irene menatap nomor yang tertera di dinding sebelah kanan pintu apartemen itu. Jelas terlihat angka 94 menempel disana.

“Baiklah, mari bertemu si tampan~” dengan segera Irene memencet bel apartemen itu, kemudian memasang senyumnya yang paling manis. Namun pintu tak kunjung dibuka, jadilah Irene terus memencet bel hingga semenit kemudian, pintu berlapis besi itu terbuka dan memampangkan sosok Sehun yang mengenakan kaos putih dan celana training serta wajah khas bangun tidurnya.

“Kau?!” desis Sehun dingin, menatap gadis dengan kemeja berwarna peach dan celana jeans hitam di depannya dengan pandangan mematikan.

Irene tak menggubris suara dingin Sehun, ia sekarang tengah terpesona dengan penampilan Sehun yang baru saja bangun tidur.

“Nikmat Tuhan manalagi yang kau dustakan?” Irene menulusuri tubuh Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu matanya memandang iris Sehun yang terlihat sedikit kebiruan jika diperhatikan dari jarak dekat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Irene tersadar dari keterpesonaannya lalu tersenyum gembira.

“Aku ingin memasakkanmu sarapan, aku masuk, ya!” baru saja selangkah Irene menjejalkan kakinya, Sehun sudah mendorong dahinya sehingga ia mundur kembali.

“Aku tidak sudi apartemenku dimasuki oleh wanita sepertimu,” desis Sehun dengan wajah mautnya, namun Irene tetap tersenyum, “Aku menyukaimu juga.” gadis itu mencubit pipi Sehun lalu menerobos masuk ke dalam apartemen pria Oh itu.

“Woahh~ apartemenmu jauh lebih mewah dibandingkan apartemen Seulgi,” puji Irene seraya menatap sekelilingi apartemen milik Sehun. Ia tak sadar mata elang Sehun sudah meliriknya penuh kebencian.

“Keluar.” Irene menoleh pada Sehun, ia masih tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Iya, aku akan keluar setelah aku memasakkanmu sarapan. Jadi sekarang kau mandi, saat kau selesai mandi kau tidak akan melihatku lagi, kok.” Irene segera melangkah menuju dapur, mengeluarkan celemeknya dari ransel mininya. Ia tak mempedulikan tatapan dingin Sehun yang masih menatapnya.

“Kenapa kau menatapku? Kau ingin aku menemanimu mandi, hm?” Irene tersenyum genit membuat Sehun mengepal tangannya dan berusaha menahan emosinya.

“Tutup mulut sialanmu itu!” sarkas Sehun kemudian segera melenggang pergi masuk ke kamarnya kembali. Irene hanya terkekeh geli, sama sekali tidak merasa sakit hati dengan kalimat-kalimat jahat seorang Oh Sehun.

“Mau bagaimanapun, kau tetap tampan, meow..” Irene menggerakkan jemarinya seperti seekor kucing yang hendak mencakar.

Sehun mengosok rambutnya yang basah dengan handuk abu-abunya. Indra penciumannya menghirup aroma sedap dari arah dapur. Namun matanya segera melebar saat ia melihat Irene masih anteng duduk di sofa dan menonton televisi layar lebarnya disana.

“Kenapa dia masih disini?” gumam Sehun seraya berjalan mendekati Irene yang duduk bersandar ke sofa putih Sehun. Namun mata Sehun segera melebar saat menyadari film apa yang Irene tengah tonton saat ini.

“Hah? Mereka itu sedang apa, sih? Kenapa sampai buka baju begitu?”

Sehun sadar dan tahu betul kalau sebentar lagi ada adegan 21+ yang akan muncul di tv-nya.

“Hei, Bae Irene, kenapa kau belum pergi? Kau bilang kau-“

“Sekretaris Oh, mereka itu sedang apa, sih? Kenapa mereka bergoyang-goyang seperti itu? Mana wanitanya tidak pakai baju,” ucap Irene polos, matanya masih fokus ke layar televisi.

Sekon selanjutnya, Sehun bergerak secepat kilat ia segera berdiri di depan televisi. Berharap tubuh tegapnya mampu menutupi layar televisi yang tengah menampilkan adegan tak senonoh di sana.

“Matikan tv-nya, bodoh!”

Bukannya mencari dimana letak remote, Irene malah menutup matanya sendiri dengan telapak tangannya.

“Astaga, aku menyuruhmu mematikan tv-nya bukan menutup matamu,” ucap Sehun dongkol, ia sudah melindungi kepolosan Irene dan sekarang gadis itu malah tidak mau mengikuti instruksinya.

“Cari remote-nya, Irene!”

“Tidak mau!” Irene semakin menutup matanya dan bahkan membalik tubuhnya.

“Ada apa denganmu?”

“Sekretaris Oh! Mana celanamu?!”

Sehun menatap bagian bawah tubuhnya yang ternyata hanya mengenakan hot-pants bewarna hitam. Lalu kembali menatap Irene yang berusaha mati-matian menutup matanya. Perlu kalian ketahui, dibalik sikap Irene yang genit tersimpan sikap polos yang sangat tidak relevan dengan kegenitannya.

Shit!” maki Sehun seraya bergerak secepatnya menuju kamarnya.

| to be continue |

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Like A Cat (Chapter 2)

  1. Asli gue ngakak parah ama si irene bisa2nya bertingkah seperti itu sama bosnya kkkkkkk

    Dan omegat nggak nyangka ternyata irene punya sikap polos gitu, dan(lagi) sehun bisa2nya lupa pakai celana njirrr pantesan irene tutup mata gitu hahahaha oke next kak

  2. Astagaaa….
    Irene,ente suwer,blak blakan banget jadi cwek,gak ngerasa sakit hati sedikitpu,genit campur polos,itu gimana bisa nyampur.
    Adeuh,kta yang pembaca yang pusing,,,
    Lanjut thor…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s