[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 4)

H A V O C

| Cast : All member EXO, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Jae-kyung OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Fantasy, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. My Wattpad Account @96dreamgirl. Sorry for alot of cursing word in this story!|

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

Previous Chapter : Prolog, Satu, Dua, Tiga

— HAVOC—

Chapter 4

“Aku akan selalu menjadi Kim Kai, Mutans terkutuk yang mematikan!”

H Y E N A

Pagi ini aku terbangun dengan suara ponselku yang lupa tidak aku ubah ke mode silent. Yah, salah satu kebodohanku sebenarnya. Terlebih lagi nada dering yang aku pakai cukup bisa membuat telinga seseorang sedikit rusak karena suara kencangnya. Well, kebodohanku yang lainnya. Aku menggerakan tanganku dengan malas ke balik bantal. Mengambil benda persegi panjang bodoh yang masih merengek seperti bayi monster.

Aku membuka sebelah mataku dan memencet tombol hijau di ponselku. Sedangkan otakku tidak bisa berhenti memikirkan rencana pembunuhan terkeji yang bisa aku lakukan untuk siapapun yang menelponku kali ini. Okeh, aku mungkin berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, anggaplah itu sebuah hadiah karena membangunkan seseorang yang baru tidur selama kurang dari satu jam.

Mwo?” Sentakku, sesaat setelah ponsel itu menempel di telingaku.

“Wow, seseorang tidak dalam mood yang baik pagi ini,” Seseorang bersenandung di sebrang telpon.

Aku menjauhkan kembali ponselku. Melirik ke arah layar. Tertera  “Stupid Seo-jun” di sana. Aku mendengus, sebelum akhirnya menempelkan kembali ponsel itu ke telingaku.

“Bisakah kau enyah saja dari dunia ini?” dengusku.

“Hei aku tahu kau sangat mencintaiku. Mana bisa aku melakukan itu?” balas Seo-jun dengan nada manisnya yang berlebihan, aku hanya bisa memutar bola mataku dengan malas.

“Aku harap kau punya alasan yang cukup pintar untuk menelponku sepagi ini. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengenyahkanmu dari dunia ini!” aku mengancam, berusaha terdengar serius dalam keadaanku yang masih mengantuk.

“Oh, manis sekali! Aku tidak tahu adik kesayanganku bisa tumbuh jadi sekejam itu,” balas Seo-jun sarkatis. Membuatku menyunggingkan senyum.

“Cepatlah katakan! Kenapa kau menelponku?” desakku.

“Tidak ada alasan penting. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Bagaimana sekolahnya? Kau menyukainya?” tanya Seo-jun terdengar antusias.

Aku mengerjapkan mataku, pertanyaan Seo-jun menyadarkanku. Aku beringsut bangun dan duduk bersandar ke kepala tempat tidur. Tiba-tiba teringat dengan semua kejadian yang menimpaku sampai tadi malam. Apa yang harus aku katakan pada Seo-jun? Apakah aku harus jujur padanya? Tentang sekolah aneh ini? Tentang semua hal gila yang aku alami? Tidak, mungkin kalau aku jujur padanya dia akan histeris dan langsung mendaftarkanku ke rumah sakit jiwa. Mengingat sifat Seo-jun, hal itu sangat mungkin terjadi.

Aku menoleh ke tempat tidur di sampingku. Mengerutkan kening saat aku tidak menemukan Hyun-ji di sana. Bahkan tempat tidurnya terlihat sangat rapih. Tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tidur di sana. Apakah Hyun-ji tidak kembali tadi malam? Pertanyaan bodoh! Seharusnya aku tahu jawabannya. Mengingat aku yang terjaga hampir semalaman, aku harusnya tahu bahwa malam itu Hyun-ji memang tidak kembali ke kamar kami.

“Hei, ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana?” tanya Seo-jun, membuatku sadar bahwa aku masih tersambung dengannya.

“Tidak ada. Aku suka sekolahnya,” bohongku.

“Kau yakin? Nada suaramu berkata sebaliknya,”

“Aku hanya sedang sedikit lelah. Percayalah aku baik-baik saja,”

“Tentu saja kau akan baik-baik saja. Gadis kasar sepertimu pasti akan sangat mudah beradaptasi’kan?” komentar Seo-jun kelewat riang. Aku hanya bisa mendecak kesal karenanya.

“Kau tahu? Pergilah ke neraka sana!” balasku dengan ketus, sedetik kemudian aku mendengar suara tawa dari sebrang telpon.

“Yah, mendengar ancamanmu aku jadi yakin kalau kau memang baik-baik saja. Jaga dirimu, langsung telpon aku kalau terjadi sesuatu di sana. Akan aku pastikan kakakmu yang tampan ini akan segera datang menolongmu,”

Aku terkekeh, “Kau pikir kau super hero?” balasku.

“Yasudah, aku hanya ingin memastikan kondisimu saja. Jaga dirimu, Naya. Jangan sembarangan membawa lelaki ke tempat tidurmu!” oceh Seo-jun.

Yak! Aku tidak seperti dirimu,” protesku tidak terima.

“Baiklah, nyonya besar sudah berteriak memanggilku. Aku harus segera pergi sebelum aku mati mengenaskan di tangannya,” ucap Seo-jun berlebihan, membuatku terkekeh lagi. Such a drama boy! Aku bahkan bisa mendengar teriakan bibiku di sebrang sana.

“Sampaikan salamku untuknya dan bilang kalau aku baik-baik saja,” kataku mengingatkan.

“Siap kapten! Sampai jumpa lagi,”

Aku masih bisa mendengar suara Seo-jun yang berteriak sebelum sambungan telpon terputus. Aku yakin, bibiku saat ini sedang berusaha sebaik mungkin untuk menyeret putranya itu turun dari tempat tidur. Sayang sekali aku tidak bisa melihat pertengkaran mereka hari ini. Aku merasa aneh, karena biasanya hal pertama yang aku dengar saat pagi adalah ibu dan anak yang sedang berteriak satu sama lain. Mengingat semua itu aku semakin merindukan mereka.

Aku menghela nafasku. Tiba-tiba merasa lelah dengan hidupku sekarang. Bagaimana mungkin hidupku bisa berubah sangat banyak hanya dalam waktu satu malam? Mutans? Aku seorang Mutans? Ayolah, semua ini sangat gila! Bagaimana aku bisa menerima semua kenyataan ini? Aku sangat berterima kasih pada D.O yang sudah menjelaskan semuanya padaku. Tapi kalau boleh jujur, aku lebih memilih hidup dalam ketidak tahuan.

Aku jadi teringat kata-kata Baek-hyun kemarin. Baek-hyun benar, bahwa terkadang ketidak tahuan bisa menyelamatkanku. Tapi apa yang terjadi sekarang? Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi ini semua. Bolehkah aku hanya menghilang saja dari dunia ini? Bolehkah aku kembali ke rumah bibiku, melupakan semua ini dan hidup normal seperti dahulu? Tentu saja tidak. Dengan mengetahui jati diriku, aku sudah tahu bahwa mulai saat ini hidupku akan jauh dari kata normal. Hei, bukankah takdir tidak pernah adil padaku? Ya, hidupku memang semenyenangkan itu.

Aku menoleh ketika mendengar pintu kamar yang terbuka. Sesaat kemudian aku melihat Hyun-ji masuk. Dia sedikit terkejut melihatku, tapi kemudian dia menyunggingkan senyum manisnya.

“Aku tidak mengira kalau kau akan bangun sepagi ini. Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, dia melangkah mendekat lalu mendudukan dirinya di tempat tidurnya.

“Yah, tidak terlalu buruk,” jawabku sekenanya.

“Syukurlah, aku sangat khawatir dengan kondisimu. Tapi melihatmu sekarang aku merasa lega,”

Aku hanya mengangguk, melihat senyuman Hyun-ji aku jadi merasa bersalah. Teringat sikapku padanya tadi malam.

“Hyun-ji, aku ingin meminta maaf atas sikapku. Aku masih syok mengetahui siapa sebenarnya dirimu dan semua kejadian itu. Jadi sebagai respon refleksku aku jadi menghindari keberadaanmu atau sentuhan fisik apapun,” ucapku terus terang.

Hyun-ji tersenyum, “Kau membuatnya jadi terdengar aneh. Kau kan hanya menghindar saat aku ingin menyentuhmu. Aku mengerti kondisimu. Mungkin kalau aku ada di posisimu aku juga akan melakukan hal yang sama,” balasnya. Mendengarnya, aku merasa sedikit tenang.

“Lalu kenapa kau tidak kembali semalam?” tanyaku penasaran.

“Aku bersama Sehun semalam,” jawabnya singkat, Hyun-ji kemudian bangkit dan melepaskan leather jaket yang sedang dikenakannya. Sebelum akhirnya mendudukan dirinya lagi di tempat tidur.

Aku sedikit tersentak mendengar jawaban Hyun-ji. Tunggu! Hyun-ji bilang dia bersama Sehun semalam? Apa yang mereka lakukan? Mungkinkah dia melakukan ‘hal itu’? Aku tahu mereka berpacaran tapi apakah etis melakukan ‘hal itu’ di lingkungan sekolah? Okeh, aku sudah pernah bilangkan kalau aku benar-benar payah mengenai hal ini.

“Kau bersama Sehun?” tanyaku memastikan.

“Iya,”

“Semalaman?” tanyaku lagi, Hyun-ji hanya mengangguk dengan yakin.

“Maksudmu bersama? Bersama-sama? Dengan Sehun? Apa kalian melakukan sesuatu?” racauku.

Hyun-ji mengerutkan keningnya, “Iya aku bersama Sehun semalaman. Kami melakukan banyak hal bersama,”

“Melakukan hal yang bisa membuat kalian lelah?” tanyaku lagi, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menghentikan kata-kataku.

“Ya, cukup melelahkan. Tapi aku senang bisa melakukan itu dengannya,” jawab Hyun-ji, masih dengan senyum manisnya.

Kemudian keadaanpun menjadi hening sesaat. Hyun-ji masih menatapku dengan bingung, sedangkan aku masih menimbang-nimbang pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya.

“Aku tahu kau kekasihnya, tapi apakah tidak apa-apa melakukan itu di lingkungan Sekolah?” tanyaku ragu-ragu.

Hyun-ji mengerutkan keningnya lagi, kemudian tawa renyah tiba-tiba terdengar dari mulutnya.

“Oh, maafkan aku. Aku membuatmu salah paham, ya? Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bersama Sehun karena kami dapat tugas jaga semalam. Kau tahukan setelah kejadian yang menimpamu dan Kai,” jawabnya, masih terkekeh.

“Ma-maafkan aku,” ucapku terdengar bodoh. Aku merasakan pipiku yang memanas. Oh ya ampun kenapa aku bisa berpikir sejauh itu?

“Sudahlah, kita harus bersiap-siap. Ini hari pertamamu sekolah’kan? Teman-teman yang lain pasti akan senang bertemu denganmu,” Hyun-ji kembali bangkit dan berjalan ke arah lemarinya.

“Aku tidak yakin,” ucapku lirih.

Hyun-ji berbalik, “Aku tidak bisa bilang bahwa sekolah ini akan menyenangkan. Tapi aku bisa memastikan padamu bahwa sekolah ini tidak seburuk perkiraanmu. Kau juga bisa bertemu dengan orang-orang menyenangkan. Seperti Baek-hyun misalnya?” ucapnya berusaha meyakinkan.

Aku menaikan sebelah alis, “Baek-hyun menyenangkan? Kau pasti bercanda. Sampai saat ini saja aku masih memikirkan cara paling efektif untuk bisa menggantung kepala merah mudanya itu. Kalau semua orang bersikap seperti Baek-hyun, aku yakin aku akan berubah menjadi psikopat gila dalam waktu satu hari,” komentarku dengan malas.

Aku mendengar Hyun-ji terkekeh, “Itulah sebabnya aku menyukaimu. Kau terlalu terus terang,” mendengar komentar Hyun-ji membuatku ikut terkekeh bersamanya.

“Ya mau bagaimana lagi. Aku memang sudah terlahir seperti ini,” balasku.

“Dan aku juga tidak sabar untuk bisa melihat kekuatanmu. Kita bisa berlatih bersama-sama mulai saat ini,” kata Hyun-ji, dia melangkah kembali ke arahku. Ditangannya ada pakaian yang baru dia ambil dari lemarinya.

Aku menundukan wajahku, merasa sedikit terganggu dengan pernyataan Hyun-ji barusan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak nyaman saat Hyun-ji mengingatkanku tentang jati diriku yang baru.

“Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu, “ Ucap Hyun-ji sambil menepuk bahuku. Aku mendongkak ke arahnya. Merasa bersalah melihat raut wajah sedih yang Hyun-ji tunjukan.

“Tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya aku menerima jati diriku. Aku hanya butuh waktu. Ini tidak mudah bagiku, kau tahu. Mengetahui semua ini membuatku merasa ada sesuatu yang besar sedang menghimpit dadaku,” jujurku padanya.

“Semakin kau mengelaknya, maka beban di dadamu akan terasa semakin berat. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah menerima dirimu dan jati dirimu yang sekarang,” saran Hyun-ji.

“Aku akan berusaha,”

“Jangan khawatir, aku akan ada di sini untuk membantumu melewatinya,” ucap Hyun-ji, menarik tanganku ke genggamannya dengan cara yang menenangkan.

Aku mengangguk, “Terimakasih, aku sangat membutuhkan ini,” balasku, Hyun-ji hanya mengangguk dan tersenyum padaku.

Aku ingin percaya pada Hyun-ji bahwa sekolah ini mungkin saja tidak seburuk yang aku pikirkan. Tapi mengingat kejadian semalam, aku jadi tidak yakin. Aku hanya harus berusaha untuk bertahan di sini, mengingat tidak ada jalan untuk kembali saat ini. Meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya, tapi mempercayai perkataan Hyun-ji aku rasa adalah langkah awal yang baik untuk bertahan. Benar’kan? Ya, aku harap begitu.

-o0o-

Author POV

Sehun menggerakan tangannya untuk memutar knop pintu. Seseorang yang sangat dikenalnya menoleh sesaat setelah dia masuk ke ruangan. Sehun mengeryit melihat kondisi orang yang sedang menatapnya saat ini. Tanpa pikir pajang, Sehun melangkah mendekat dan mendudukan dirinya di kursi di samping tempat tidur. Berusaha sebaik mungkin untuk menyunggingkan senyum.

“Jangan menatapku seperti itu. Tersenyumlah dengan tulus!” komentar Kai, sesaat setelah Sehun mendudukan dirinya.

“Jangan mengharapkan aku melakukan itu. Melihat kondisimu sekarang, hal itu sulit untuk aku lakukan,” Balas Sehun, berusaha menutupi kekhawatirannya.

“Kau berbicara seperti kau baru pertama kali melihaku saja—“ Kata Kai acuh, “–Ini pemandangan yang biasa bagimu ‘kan?”

Sehun menatap Kai agak lama. Matanya beralih dari muka pucat Kai, ke arah kedua tangannya yang dirantai ke kepala tempat tidur. Sehun bahkan bisa melihat kulit pergelangan tangan Kai yang terkoyak. Luka tembak yang membengkak di lengan kirinya juga menambah buruk kondisi sahabatnya itu.

“Tetap saja, aku tidak akan terbiasa melihat kondisimu yang seperti ini,” Sehun berucap, menghindari tatapan mata Kai padanya.

“Kau merasa bersalah karena telah menembakku?” tanya Kai, Sehun hanya diam membisu.

“Ayolah, Oh Sehun! Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkanku,”

Sehun mengangkat kepalanya lagi, “Aku benci setiap kali aku harus melakukannya,” lirih Sehun.

“Jangan merasa seperti itu. Kau membuatku terlihat buruk,” ucap Kai.

“Lalu aku harus merasa seperti apa? Kalau kau ada di posisiku kau pasti akan mengerti. Bagaimana rasanya harus menembak sahabatmu sendiri, Bagaimana rasanya mendengarmu berteriak semalaman setiap kali ini terjadi, Bagaimana rasanya melihat sahabatmu dirantai seperti ini agar kekuatannya tersegel. Aku tid–“ Omelan Sehun terhenti melihat Kai yang menatapnya dengan wajah sok polosnya. Sehun akhirnya menghembuskan nafasnya dengan kasar, “– Lupakan saja.”

“Aku sedang terluka dan kau malah mengomeliku? Sungguh sahabat yang baik hati,” celoteh kai, sama sekali tidak menghiraukan perkataan serius yang baru saja Sehun katakan.

“Tutup mulutmu! Celotehanmu sama sekali tidak membantu keadaanmu ini!” timpal Sehun dengan kesal.

“Keadaan apa? aku baik-baik saja!”

“Harusnya kau bercermin. Kau terlihat seperti baru saja terlindas truk,”

“Wah Oh Sehun! Kata-katamu benar-benar membuatku tersentuh,” Ucap Kai sarkatis. Berusaha memasang wajah mengejek paling baiknnya. Meskipun begitu, dalam hati dia diam-diam berterimakasih pada Sehun. Sabahatnya itu tidak pernah membuatnya merasa menyedihkan. Dalam keadaan terburuk sekalipun. Meskipun Kai tahu ada kekhawatiran besar yang Sehun sembunyikan di balik sikap kasarnya itu. Yah, Sehun memang selalu seperti itu.

“Lupakan saja!” balas Sehun, mengibaskan tangannya dengan malas. Kai hanya mengedikan bahunya tidak peduli.

“Kenapa kau memutuskan untuk turun tangan semalam?” tanya Sehun. Dia menumpangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah penasaran terbaiknya pada Kai.

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa menemukan radar kalian di sekitar situ, jadi aku memutuskan untuk mengulur waktu sampai kalian sampai,” balas Kai terdengar serius.

“Hanya itu?” Sehun menaikan sebelah alisnya.

Kai mengedikan bahunya, “ Hanya itu,” jawabnya kemudian.

“Ayolah Kim Kai! Kau tidak bisa membodohiku. Kau pasti punya alasan yang lebih kuat’kan? Terakhir kali ini terjadi adalah saat kita menyelamatkan gadis itu. Dan itu terjadi 3 tahun yang lalu. Kau sudah berjanji pada Suho hyong untuk tidak melepaskan kekuatanmu lagi’kan, kondisi terakhirmu saat itu sangat buruk. Lalu kenapa sekarang kau memutuskan untuk turun tangan sendiri?” Kata Sehun tidak sabaran.

Kai menghela nafas dengan berat, “Aku tidak tahu.” jawabnya singkat.

“Kau serius? Hei, aku sudah menyimpan pertanyaan ini dari 3 tahun yang lalu dan hal terakhir yang ingin aku dengar darimu adalah bahwa kau tidak tahu. Bagus Kim Kai, sangat bagus!” Ucap Sehun dengan nada mengejek yang sangat kentara.

“Aku benar-benar tidak tahu!” ulang Kai, merasa sedikit kesal.

“Kau tidak tahu kenapa kau tidak bisa menahan dirimu kalau sudah menyangkut tentang Hye-na?” Sehun bertanya lagi, merasa bingung.

Kai mengangguk, “Aku tidak tahu alasannya. Rasanya seperti ada dorongan kuat dari dalam diriku yang membuatku langsung bereaksi ketika menyangkut dirinya. Dan dorongan itu terasa semakin kuat saat melihatnya dalam bahaya,” Kai mencoba menjelaskan.

Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya, “Hmn, ini aneh.” Komentarnya kemudian.

Kai menoleh dengan cepat, “Aneh kenapa?”

“Reaksimu itu seperti kau sedang melindungi kekasihmu. Kau yakin kalau kau tidak sedang jatuh cinta padanya? Maksudku, mungkin saja kau sudah menemukan penyegel–”

“Tentu saja tidak!” jawab Kai cepat-cepat, memotong perkataan apapun yang ingin Sehun ucapkan.

Sehun mengusap-usap dagunya, “Kau benar. Kau kan sangat kasar padanya. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau sangat kasar padanya? Sejauh yang aku tahu, dia gadis yang cantik,”

Kai lagi-lagi membuang muka, “Aku tidak tahu!” jawabnya dengan malas.

“Dasar bipolar! Kau membahayakan nyawamu untuk menyelamatkannya tapi kau juga bersikap kasar padanya. Dan kau tidak tahu alasannya? Kau benar-benar pemuda yang menakjubkan Kim Kai!” Kata Sehun, menggerak-gerakan tangannya dengan dramatis.

“Bukan salahku kalau aku tidak tahu!” ucap Kai dengan ketus. Sedikit mengeryit saat gerakannya membuat rantai di pergelangan tangannya menggesek lukanya yang menganga.

“Sepertinya kau juga harus menyegel otakmu itu!” komentar Sehun, membuat Kai melemparkan tatapan terjahatnya.

Baru saja Sehun akan melontarkan ejekan lain pada Kai, dia merasakan ponselnya bergetar. Sehun merogoh ponselnya, lalu tersenyum melihat nama yang tertera pada layar benda persegi panjang itu.

“Dari si gadis chubby itu ya?” tanya Kai.

Sehun menoleh, “Jangan mengejek kekasihku!” balasnya.

“Ya ya pergilah lover boy! Julietmu sudah menunggu,” ejek Kai.

Menghiraukan ejekan Kai, Sehun bangkit dari duduknya, “Aku harus pergi. Aku akan mampir ke lab dan meminta Suho hyong untuk mengirimkan pil lagi padamu.”

Kai mengangguk, “Baiklah.”

Sehun memberikan tatapan terakhir pada Kai sebelum akhirnya berbalik pergi. Namun baru sampai di ambang pintu, Sehun menoleh kembali ke arah Kai, “Jangan terlalu kasar pada Hye-na. Mendengar penjelasanmu aku jadi yakin bahwa ada sesuatu yang mengikat kalian berdua. Meskipun aku juga tak tahu apa. Instingmu telah membawamu padanya. Siapa tahu saja dia adalah jawaban yang selama ini kau cari. Pikirkanlah!”

Sehun tersenyum sebelum akhirnya memutar knop pintu dan menutupnya kembali. Kai menyandarkan kepalanya ke tempat tidur. Memikirkan perkataan terakhir Sehun padanya. Sehun mungkin benar, tapi Kai tidak mau mengambil resiko besar untuk hal itu. Dia tidak akan merubah apapun. Toh tidak banyak yang bisa dia lakukan. Meskipun nyatanya dia tidak bisa menahan diri ketika ada di dekat Hye-na, tak ada yang akan berubah. Bahwa dia akan tetap menjadi Kim Kai. Mutans terkutuk yang mematikan.

“Memangnya apalagi yang bisa aku harapkan?” gumam Kai, sambil mengamati aura keunguan yang mulai menguar dari sela-sela jarinya. Aura itu terus menyebar sampai terasa memabukkan. Dan saat itu juga, Kai tahu bahwa kesadaran akan segera direnggut darinya. Lagi.

-o0o-

H Y E N A

Aku melangkah dengan ragu-ragu menyusuri koridor sekolah. Berusaha sebaik mungkin untuk menghindari tatapan para murid lain yang tak pernah melepas pandangannya dariku sejak aku mulai memasuki koridor. Sebenarnya bukan hal yang asing bagiku mendapat tatapan itu. Bahkan di sekolahku dulu, semua orang selalu memandangku dengan tatapan yang aneh. Seolah-olah aku ini adalah makhluk menjijikan yang datang ke wilayah mereka. Harusnya aku terbiasa dengan semua itu, tapi kali ini terasa berbeda. Jauh berbeda. Tatapan mereka lebih ke arah penasaran. Seolah-olah mereka sedang mencari sesuatu yang tersembunyi dari diriku, kurasa. Maksudku, kalau ini yang harus aku dapatkan di hari pertamaku di sekolah yang penuh dengan Mutans, aku tidak akan berterima kasih.

Aku menoleh saat merasakan seseorang menarik tanganku dengan lembut, mendapati Hyun-ji yang sedang menyunggingkan senyuman khasnya.

“Jangan takut. Tegakan kepalamu dan berjalanlah dengan percaya diri. Kalau kau seperti ini, mereka akan meremehkanmu. Para Mutans itu agak sedikit arogan,” Ucap Hyun-ji, masih menarik tangannku dengannya.

Aku mengangguk dengan ragu, “Aku akan mencobanya,” balasku.

Menarik nafas yang panjang, aku berusaha mengikuti saran Hyun-ji. Tatapan penasaran itu semakin menghujamku. Tapi aku berusaha menghiraukannya. Mencoba untuk bersikap percaya diri dengan tanganku yang mulai bergetar. Tidak tidak! Aku bisa melakukan ini!

Tinggal beberapa langkah lagi, maka aku akan selamat sampai di kelas. Setidaknya aku harap begitu. Di sepanjang perjalanan, ada hal aneh yang membuatku penasaran. Suasananya sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan sekolah manusia biasa. Para murid bergerombol di sisi koridor. Bercanda, tertawa, atau menatapku seperti yang sedang mereka lakukan saat ini. Tapi yang berbeda adalah hampir semua murid terlihat berpasangan. Sederhananya, aku seperti masuk ke sekolah yang muridnya semuanya berpacaran. Aku tidak bisa menyangkal kalau itu terlihat menggemaskan, tapi apakah ini mungkin? Maksudku, di satu sekolah pasti ada murid yang berpacaran. Tapi ini berbeda, semua yang aku lihat menggandeng pasangannya masing-masing. Hampir semuanya! Ini benar-benar gila!

Baru saja aku ingin bertanya pada Hyun-ji, tiba-tiba seseorang melambaikan tangan dan memanggil namaku dan Hyun-ji. Aku menoleh, begitu juga Hyun-ji. Gadis yang meneriaki nama kami berlari dengan riang ke arah kami.

“Ah- syukurlah, kali ini aku tidak terlambat,” ucap gadis itu.

“Biar kutebak– ” balas Hyun-ji, “—kau berhasil melarikan diri?” tanyanya.

Gadis itu mengeryit tidak suka, “Jangan ingatkan aku pada si bodoh itu!” ucapnya kesal.

Gadis itu menoleh ke arahku. Dan saat itulah aku bisa mengenalinya. Dia adalah gadis yang sama yang aku lihat semalam. Gadis yang dibawa Chan-yeol terbang bersamanya, dan gadis yang menolongku saat Sehun tidak sengaja melemparkan kekuatannya ke arahku.

“Hey, Hye-na. Syukurlah kau baik-baik saja,” Ucapnya dengan riang.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Gadis berambut brunatte itu mengerutkan kening, lalu kemudian dia berjengit mengingat sesuatu.

“Ah! Maafkan aku. Bagaimana bisa aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Cho Jae-kyung. Kau bisa memanggilku Jae-kyung. Tapi aku lebih suka dipanggil Jey,” Jae-kyung mengulurkan tangannya padaku, aku pun tanpa ragu menyambut uluran tangannya.

“Senang bertemu denganmu,” balasku.

“Aku juga. Aku senang kau tidak menganggapku sebagai makhluk mengerikan. Aku dengar D.O menjelaskan dasar-dasar tentang kami padamu. Kau tahu ak—Aw!” ucap Jae-kyung, namun kata-katanya terpotong saat Hyun-ji memukul lengannya dan memelototinya.

“Kau harus belajar mengendalikan mulutmu itu, Jey!” sentak Hyun-ji.

Aku tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku rasa aku harus terbiasa dengan semua ini,” kataku. Membuat Jae-kyung mengulurkan lidahnya kepada Hyun-ji.

“Tidak biasanya kau datang sendiri. Di mana Chan-yeol?” tanya Hyun-ji, saat kami bertiga mulai berjalan lagi.

“Aku tidak tahu!” balas Jae-kyung kesal, “Mungkin dia sedang membuat pertunjukan sirkus pada kekasih-kekasih bodohnya. Mungkin saja saat ini dia sedang bermain dengan kekuatan apinya dan bilang ‘Hei, sayangku. Lihatlah kekuatan apiku. Dan ya aku bisa membakar otak bodoh kalian!’” jelas Jae-kyung, memperagakannya dengan suara yang sangat melengking. Aku dan Hyun-ji tertawa mendengarnya.

Sisa perjalanan kami habiskan dengan mendengar celotehan konyol dari Jae-kyung. Dan saat kami bertiga sampai di kelas, aku baru menyadari betapa sakitnya perutku karena terlalu banyak tertawa. Aku tidak menyangka bahwa Jae-kyung sangat menyenangkan. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan kekonyolan yang dia miliki.

Jae-kyung adalah gadis yang sangat cantik. Tinggi dengan rambut panjang brunattenya. Mata lebar dan bibirnya yang sexy. Aura sensual yang dimilikinya tidak bisa ditutupi. Dia tipe gadis yang akan dengan mudah mendapatkan pria manapun yang dia suka. Tidak ada yang akan menyangka bahwa gadis secantik Jae-kyung akan memiliki banyak sekali celotehan konyol.

Hyun-ji ternyata benar, aku bisa bertemu dengan orang yang menyenangkan. Mungkin bertemu dengan Jae-kyung adalah permulaan yang bagus bagiku.

“Wah wah wah! Apa yang kita dapatkan di sini? Tiga itik buruk rupa!” komentar seorang gadis, membuat tawa kami bertiga langsung berhenti.

“Menyingkirlah!” balas Jae-kyung dengan ketus.

“Oh! Hei Jey. Aku lihat kau tidak bersama Chan-yeol hari ini. Apa kau ditelantarkan lagi?” tanyanya, gadis itu memainkan rambut pirangnya dengan gerakan yang sangat menyebalkan. Tipikal queen bee!

“Diamlah! Bukan urusanmu!” Jae-kyung melangkah melewati si gadis pirang dan masuk ke dalam kelas. Menghiraukan dengusan kesal dari si gadis pirang karena bahunya yang sengaja ditabrak Jae-kyung.

Aku mengekor di belakang Hyun-ji yang mengikuti Jae-kyung masuk. Hyun-ji menarik tanganku untuk duduk bersamanya di barisan ketiga dari belakang. Sedangkan Jae-kyung mendudukan dirinya di depan kami. Dengan santai duduk sambil memainkan ponselnya. Sama sekali tidak menghiraukan gadis pirang yang sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan paling kejam yang dimilikinya.

“Hey, bitch! Kau berani menghiraukanku?” sembur si gadis pirang, aku berjengit mendengar kata kasar yang gadis itu gunakan.

Jae-kyung menoleh ke arah gadis itu, “Hey Queen bitch! Bisakah kau tutup mulutmu yang kotor itu? Telingaku terlalu berharga untuk mendengarkan kata-kata murahan yang kau ucapkan!” Balas Jae-kyung dengan tenang. Hal itu mengundang tawa dari anak-anak yang mulai memenuhi kelas. Terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka.

Si gadis pirang menarik rambut Jae-kyung dan mendorongnya ke depan. Aku mendengar suara berderak yang cukup nyaring. Sontak aku berdiri dan menutup mulutku tak percaya. Aku sangat yakin, kepala Jae-kyung membentur ujung meja di depannya. Dan saat Jae-kyung menoleh, aku bisa melihat darah segar mengalir dari dahinya. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah seringai yang Jae-kyung pasang di wajahnya. Sama sekali tidak ada raut kesakitan di sana.

Hyun-ji tiba-tiba memegang lenganku dan menarik aku kembali duduk. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat.

“Biarkan saja,” ucap Hyun-ji.

“Tapi kau tidak lihat? Jae-kyung terluka!” balasku, merasa sedikit kesal melihat respon Hyun-ji yang sangat tenang.

“Jey sengaja melakukannya,” kata Hyun-ji, membuatku mengerutkan kening dengan bingung.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Jey itu sangat kuat. Dia salah satu yang terkuat di antara kami semua. Dia tidak membalas karena dia ingin Hye-min dihukum. Di sekolah ini ada peraturan bahwa kita dilarang untuk menyakiti siapapun yang ada di lingkungan sekolah. Kalau kita melanggar maka hukuman berat akan dijatuhkan padanya,” Jelas Hyun-ji.

“Hukuman macam apa?”

“Apa saja yang bisa membuat kami menderita,”

Aku bergidik membayangkan penjelasan Hyun-ji. Apapun hukumannya, aku yakin bahwa hal itu sangat-sangat mengerikan. Bahkan untuk ukuran Mutans sekalipun.

“Apakah gadis pirang itu tahu mengenai hukumannya?” aku bertanya lagi. Pandanganku masih tertuju pada Jae-kyung dan si rambut pirang. Jae-kyung masih dengan seringainya dan si gadis pirang saat ini telah berubah bentuk. Setidaknya aku bisa melihat cakar tajam yang mencuat dari jari-jarinya.

“Tentu saja! Semua murid di sekolah ini tahu mengenai hukuman itu.” Jawab Hyun-ji.

“Tapi kenapa si gadis itu menyerang Jae-kyung?”

“Karena dia bodoh,” Jawab Hyun-ji cepat, “Ini bukan pertama kalinya mereka begitu. Dan hasil perkelahiannya akan tetap sama. Dan kali ini pun, aku yakin Hye-min akan berakhir lagi di ruang hukuman. Aku tidak tahu kenapa gadis itu tidak pernah jera. Mungkin karena perasaan naifnya pada Chan-yeol,” lanjutnya.

“Chan-yeol? Lalu apa hubungannya dengan Jae-kyung?” aku mengerutkan kening lagi, berusaha mengerti semua penjelasan dari Hyun-ji.

“Mungkin Chan-yeol adalah playboy. Tapi dia sangat bergantung pada Jae-kyung. Dan itu yang membuat Hye-min sangat membenci Jae-kyung,”

Aku mengangguk-angguk mengerti, mencoba memahami situasi yang ada di sekolah ini. Hukuman, perkelahian, peraduan kekuatan. Apa lagi yang lebih buruk dari ini? Sepertinya, aku mulai meragukan keputusanku untuk bertahan di sini. Yah tapi memangnya apa yang aku harapakan dari sekolah Mutans macam ini?

“Ada apa, Park Hye-min? Ayolah! Jangan tahan kekuatanmu. Bukankah kau butuh pelampiasan? Mungkin kau salah mengerti. Bahwa sebenarnya bukan aku yang ditelantarkan. Tapi kau! Bagaimana rasanya ditelantarkan oleh Park Chan-yeol mu tersayang itu?” Kata Jae-kyung mengejek, membuatku memusatkan kembali perhatianku padanya. Seringai jahat tidak pernah lepas dari bibirnya.

Aku mendengar si gadis pirang menggeram marah. Dan hal terakhir yang aku tahu adalah tubuh Jae-kyung yang terpental keras menabrak papan tulis di depan. Aku menahan nafasku. Itu pasti sangat menyakitkan. Namun alih-alih mendengar erangan kesakitan, aku malah mendengar Jae-kyung yang lagi-lagi terkekeh senang. Padahal aku bisa melihat dengan jelas darah yang saat ini mengalir dari bibirnya.

Si gadis pirang sepertinya belum puas, dengan geraman mengerikan yang sama. Dia menerjang ke arah Jae-kyung. Namun sebelum cakarnya melukai Jae-kyung, tiba-tiba sebuah suara mengintrupsinya.

“Hentikan!” suara yang sarat dengan kekuatan itu menggema ke seluruh ruangan. Semua murid di sana menoleh ke sumber suara.

Aku melihat seorang lelaki tampan berjalan masuk kelas. Di belakangnya ada Baek-hyun, Sehun dan juga Chan-yeol. Aku melihat Chan-yeol berlari ke arah Jae-kyung dan membantunya berdiri. Sedangkan Sehun dengan santai berjalan ke arah aku dan Hyun-ji. Dan Baek-hyun sendiri dengan tenang mendudukan dirinya di barisan paling depan, mengeluarkan earphonenya tanpa mempedulikan perkelahian yang terjadi.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lelaki tampan yang masuk tadi. Lelaki itu berjalan ke arah gadis pirang yang tampak kesakitan. Dia menyentuhkan tangannya ke kening si gadis, membuat gadis itu semakin mengerang sakit.

“Aku bilang hentikan! Kau tidak mendengarku?” ucapnya dengan dingin, membuatku bergidik mendengar suaranya. Lalu sesaat kemudian lelaki itu memandang semua murid yang ada di kelas.

“Baiklah. Cukup di sini pertunjukannya. Kalian bisa kembali ke kursi masing-masing karena sebentar lagi para guru akan masuk kelas.” Ucapnya dengan santai, tanpa lupa menyunggingkan senyum memesonanya. Membuat ketampanan lelaki itu naik beberapa tingkat.

Tapi Jong-in lebih tampan! Aku mendengus kesal ketika pemikiran itu tiba-tiba melintas di benakku. Kenapa  di saat seperti ini aku malah terpikir lelaki kasar itu? Menyebalkan!

Aku bisa mendengar beberapa murid membisikan  kata ‘Ketua kelas’. Dan masing-masing dari mereka bergegas untuk duduk di kursinya dengan patuh.

“Aku selalu benci ketika Suho hyong melakukan itu. Dia seperti Dewa Janus. Sisi baik dan jahatnya sama-sama kuat,” komentar Sehun, yang entah sejak kapan sudah duduk di meja Hyun-ji.

“Itu sangat keren, tahu! Suho oppa selalu keren!” ucap Hyun-ji dengan mata yang berbinar. Membuat Sehun mendengus kesal mendengarnya.

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tidak percaya. Yah, kejadian aneh yang menakjubkan untuk memulai hari pertamaku di sekolah. Menyenangkan bukan? Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku saja, andaikan aku bisa melakukannya. Menyedihkan!

-TBC-

Pertama-tama aku mau minta maaf karena lanjutannya sangaaaat lama. Yah meskipun aku gak tahu apakah ada yang mengikuti cerita ini atau tidak. Yang belum ngerti dan ingin membaca part sebelumnya kalian bisa baca di wattpad aku @96dreamgirl atau kalian bisa cari di blog ini. Cari aja HAVOC di kolom search pasti akan muncul. Aku harap ada yang suka dengan cerita ini dan membacanya. Sampai bertemu di part selanjutnya.

^^

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 4)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 5) | EXO FanFiction Indonesia

  3. aku masih sangat nunggu kelanjutan Havoc ini udah kangen berat dan sekarang chapter 4 udah di post setelah sekian lama enggak ada kabar malah udah lebaran masih gak ada wkwkw
    ikatan antara kai hyemi masih misteriuss tapi aku mau moment kai-hyemi di perbanyak gitu hehe 😀

    aku mohon dengan sangat sama author jangan lama² ya post next chapter nyaaa plisss , 😉

    • Iya nih maaf banget atas keterlambatan updatenya ya. Karena satu dan lain hal jadi terbengkalai huhuhu 😢😢😢 Padahal draf udah ada, cuman belom sempet ngetik aja wkwk insyaallah kalo gak ada halangan FF ini akan terus update setiap selasa atau rabu wkwk makasih atas apresiasinya ya 😊😉

  4. Gatau lagi mau ngomong apa:’) kuterhura bgt akhirnya lu bisa ngelanjutin ni epep kak :”) mungkin tetiba lu dapet hidayah setelah ngeliat mv exo dan all membet jadi makin bangsat terutama si jongin yg pamer aurat 😏 pokoknya it goes down down baby~~ assaaaaa 😂😂 entah gue kobam bgt tu lirik kkkk😂
    😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚

    • Iya nih beneran dah dapet hidayah sekaligus cobaan nih ane hari ini. Laki ane berubah jadi aer tetiba dia masuk mesin cuci, mana si maknae slayer bet sama tatto di dadanya. Si Jongin bajunya kekurangan bahan mana itu badan kinclong bener. Belom member yg laen bikin melongo gaak bisa mingkem liatnya. Pokoknyamah shimmi shimmi Ko Ko Bop lah. Kalo kata si oseh “break it down now” *gaknyambung wakakkka 😂😂😂

  5. Aku masih menunggu ff mu loh kak. Masih penasaran sama kelanjutannya lagi. Gak tau mau komen apa lagi, pokoknya aku menunggu ffmu terus.

    • Makasih banyak ya. Sebenernya draf buat cerita ini udah selesai, cuman belom sempet ngetiknya huhuhu doakan aja supaya update terus ya wkwkwk 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s