[EXOFFI FREELANCE] The Forgotten One – The Next Door Girl

(best read while listening to EXO – XOXO (Full Album))

Aurrsyj’s storyline

The Continuation of 2014’s “Imprinted

The Forgotten One

( The Next Door Girl )

Ji Yeon Hee

Alia Wu

EXO

Luhan

Kris

Tao

and others.

“You all shall forget me…”

***

Uap mengepul dari segelas kopi arabika. Angin malam menusuk sampai ke tulang. Awan gelap hampir menutupi sebagian bulan, meninggalkan sebersit cahaya di celah pepohonan.

Kris menyeruput kopinya yang tinggal setengah. Dia menatap ke depan, di sambut hutan rimba Shengshan. Dentingan yang dihasilkan dari gelas dan meja kaca membuat suasana malam sedikit menegangkan. Meski begitu, Kris sudah terbiasa. Dia hanya memiringkan kepalanya, menghasilkan sedikit bunyi dari otot-otot lehernya yang meregang.

Luhan menoleh, mendapati sosok Kris yang sedari tadi hanya diam. Dia tetaplah Kris teman bermainnya, tetaplah Kris yang Luhan kenal.

Luhan melihat empat gelas kosong di atas meja. Satu gelas lagi adalah miliknya yang tak urung dia habiskan karena jika dia minum lagi dia tahu dia akan terjaga sampai pagi dan malah molor di siang hari. Luhan tidak ingin itu terjadi untuk yang kesekian kalinya. Dia khawatir juga pada kesehatannya yang kini sangat terpengaruh pada apa yang dia konsumsi.

“Aku pikir manusia butuh istirahat cukup.” Kris membuka mulut.

Eoh?” Luhan memberinya tatapan bingung –dan sedikit canggung. Luhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua malam, itu artinya sudah tiga jam Luhan dan Kris duduk di tempat ini dengan tujuan yang tak jelas. Ini bukan berarti Luhan bisa mengendalikan waktu istirahatnya seperti dulu, meski sudah bertahun-tahun menjalani hidup sebagai seorang manusia toh Luhan tetap merasa berat. Bagaimana tidak? Dia menua, kadang sakit, dan tak punya kekuatan. Tidak seperti teman-temannya.

Dan yang paling menyedihkan adalah. Fakta bahwa dia bisa dijadikan daging panggang kapan saja oleh teman-temannya sendiri. Diantara mereka adalah Tao, yang berhenti menua di usia 19 tahun. Anak bodoh itu sering kali sulit mengontrol diri dan terkadang menyeramkan juga buat Luhan, meskipun itu adalah sifat alamiahnya.

“Aku tidak menyangka bahwa kau mampu bertahan sejauh ini.” Kris berujar lagi, disahuti anggukan Luhan.

Sudah empat tahun.

Sudah empat tahun dan tidak ada yang berubah, kecuali Luhan.

Luhan mengigit bibir bawahnya yang sedikit pucat, “Apa kau pikir aku bisa kembali?”

Kris menatap nanar temannya itu. Dia melihat wajah Luhan yang malam ini memucat lagi, entah karena kedinginan atau karena terlalu banyak bergadang, mencoba menyesuaikan diri.

“Entahlah.” Kris menjawab singkat. Kris bergeser sedikit dari tempat duduknya agar dapat melihat seekor rusa yang sedang bersembunyi di balik semak-semak. “Aku pernah dengar legenda tentang Black Pearl.” Katanya.

***

“Astaga!” Yeon Hee sedikit telonjat ketika dia menemukan seorang gadis di depan pintu rumahnya. Bagaimana tidak, dia baru akan menyambut pagi ketika gadis itu tanpa diduga-duga sudah berada di sana. Yeon Hee menoleh ke kanan dan kiri dan tidak menemukan siapapun kecuali gadis itu. Tidak biasanya komplek rumah sesepi ini dan bahkan dia tidak melihat kakek tua di seberang rumah yang setiap pagi duduk di teras sambil membaca koran.

Yeon Hee melihat gadis itu lagi, yang kini tersenyum ramah padanya. “Halo.” Gadis berambut hitam legam itu menyapa Yeon Hee dalam aksen yang aneh.

Yeon Hee mengamati gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kepala. Yeon Hee tidak berkata apa-apa karena dia sendiri tidak yakin orang ini adalah seseorang yang akan mengerti perkatannya jika Ia bicara dalam bahasa Korea. Bagaimana tidak. Gadis yang berdiri di depan Yeon Hee ini benar-benar mengagumkan. Wajahnya hampir sempurna, dengan mata yang besar dan kelopak yang indah. Hidungnya mancung. Kulitnya sedikit lebih gelap dari Yeon Hee tapi dia tetap terlihat berkilauan. Gadis itu seperti sebuah pahatan, maha karya seniman Yang Agung.

Gadis itu terkekeh, dia bisa melihat raut kagum Yeon Hee. “Aku bicara bahasa Korea. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucap gadis itu seakan tahu isi kepala Yeon Hee.

“Eh?” dahi Yeon Hee berkerut.

“Namaku Alia. Alia Wu. Aku baru pindah dari China. Aku tinggal di rumah samping itu.” Gadis bernama Alia itu menunjuk rumah di samping rumah Yeon Hee.

“Ah…” Yeon Hee mengangguk paham. Tapi dia masih tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya akan sosok di hadapannya itu.

Alia menyodorkan sesuatu pada Yeon Hee, “Aku membawakanmu tahu Ma Po. Semoga kau menyukainya.” katanya tanpa melepas segaris senyum pun.

“Ah… Terimakasih.” Yeon Hee menyambut mangkok berisi tahu Ma Po itu.

Alia tidak ingin terlalu lama membuat Yeon Hee kagum, jadi dia cepat-cepat berbalik dan hanya membalas terimakasih Yeon Hee dengan anggukan.

Yeon Hee masih mematung di tempatnya. Di ujung pekarangan, Ia melihat Alia menoleh dan samar-samar berkata, “Senang berkenalan denganmu, Ji Yeon Hee-ssi.”

***

Yeon Hee menenggak tetes terakhir jus jeruknya. Siang ini cuaca sangat terik, bahkan setelah Yeon Hee menyalakan AC di ruang tengah. Oh, ayolah. Ji Yeon Hee benci musim panas, mungkin sama seperti yang lainnya. Dia hanya ingin tinggal di rumah seharian jika saja Ibu nya tidak mengomel sepanjang waktu –dan jika saja dia tidak tinggal dengan Kwang Soo.

“Aku rasa aku butuh satu gelas lagi.” Kata Yeon Hee sambil menatapi gelas kosong di tangannya.

Laki-laki di balik meja bar menoleh dan sedikit terkekeh. Dia menutup pintu kulkas dan menghampiri Yeon Hee dengan membawa semangka potong di tangannya. Laki-laki berambut merah itu meletakkan mangkuk semangka di hadapan Yeon Hee yang kesenangan.

“Jangan terlalu banyak makan dan minum dingin, kau bisa terkena diare.”

Yeon Hee menyipitkan matanya. Apa? Diare? Yang benar saja. Yeon Hee bahkan tidak akan keberatan jika dia kena diare setelah menghabiskan semakuk semangka ini karena dia sangat kehausan. “Kau gila Park Chanyeol!” umpat Yeon Hee. Laki-laki, bernama Chanyeol itu, lagi-lagi hanya terkekeh. “Rumah ini sudah tidak ditinggalkan lebih dari lima tahun dan dengan teganya kau menyuruhku membersihkannya. Sebenarnya aku ini pacar atau pembantumu sih?”

Chanyeol berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah gelas, “Tapi kan aku juga ikut membantu.” Katanya sambil menuang air meneral ke dalam gelas tersebut.

“Kau sama sekali tidak membantu.” Yeon Hee memasukkan sepotong semangka lagi ke dalam mulutnya. Chanyeol duduk di depan Yeon Hee, dia mengambil sepotong semangka dan ikut menikmatinya bersama gadis itu. Kupikir Yeon Hee adalah gadis paling beruntung di dunia, meski terkadang Chanyeol kasar dan sering bersikap dingin tapi dia sangat menyayangi Yeon Hee.

Sebelum menempuh pendidikan musik di Amerika Serikat, Chanyeol pernah pergi ke Tokyo selama satu tahun dan berjanji akan kembali. Yeon Hee bersumpah, pada saat itu dia seakan ingin mati saja karena Chanyeol tak menghubunginya sekalipun selama enam bulan. Tapi toh akhirnya Chanyeol kembali padanya juga. Setelah kepulangan Chanyeol dari Tokyo, mereka resmi pacaran. Oh, itu adalah hari terindah bagi Yeon Hee. Hari dimana si raksasa sombong menyatakan perasaannya pada Yeon Hee dan memintanya untuk menjadi kekasihnya, pernah kau bayangkan?

Sayang itu tidak berlangsung lama. Berselang dua bulan, Chanyeol mengatakan pada Yeon Hee bahwa Ia ingin melanjutkan studi musik di Amerika dan mereka terpaksa berpisah untuk waktu yang lama.

Sekarang Chanyeol, bersama tiga temannya, Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun telah menyelesaikan studi mereka dan akan debut sebagai sebuah band minggu depan. Itu sebabnya Chanyeol meluangkan hari ini hanya untuk Yeon Hee, dia takut kalau mereka tidak bisa bertemu dalam waktu yang lama.

“Ah!” Yeon Hee menjatuhkan garpunya, membuat Chanyeol yang sedang minum hampir saja tersedak. “Maaf.” Kata Yeon Hee tanpa rasa bersalah.

Chanyeol berdecak, dia hampir lagi-lagi meneriaki gadis ini jika saja dia lupa kalau ini barangkali jadi hari terakhir bagi mereka untuk bersama –dalam satu bulan yang akan datang.

Yeon Hee menelan ludah. “Ada seorang gadis bernama Yejin yang menghampiriku beberapa hari setelah kau pergi ke Amerika.”

Chanyeol menghentikan gerakan tangannya saat hendak mengambil sepotong semangka lagi. Dia tiba-tiba salah tingkah. Nama itu, adalah nama yang sangat tidak ingin dia dengar, bahkan dari mulut Suho sekalipun. Chanyeol bisa saja, menggebrak meja sekarang kalau dia tidak ingat bahwa gadis di depannya adalah Ji Yeon Hee. Dia sama sekali tidak ingin membahas tentang gadis bernama Yejin.

Chanyeol mengangkat kepala dan menemukan Yeon Hee yang sedang menatapnya dengan tatapan berharap. Chanyeol bingung harus menjawab apa, dia tidak mungkin jujur pada Yeon Hee karena dia tidak yakin hubungan mereka akan baik-baik saja jika gadis itu tahu tentang Yejin.

“Itu…” Chanyeol mengetukkan jarinya di meja, mencoba menemukan klise. “Mungkin teman sekolahku.”

Oh Yeon Hee, maafkan Chanyeol, tapi dia tidak punya pilihan lain.

***

Yeon Hee bersumpah dia tidak akan makan makanan manis berlebihan lagi karena sekarang dia sibuk mondar-mandir kamar mandi untuk buang air besar. Oh, itu sebenarnya tidak apa jika saja dia tidak harus menemui Kwang Soo yang manatapnya aneh setiap kali melintasi ruang keluarga menuju kamar mandi.

Sebenarnya terkadang Yeon Hee kasian juga pada adiknya itu. Yeon Hee sadar bahwa meskipun menyebalkan, Bibi Hwang, yang kini dia panggil dengan sebutan Ibu, telah begitu berjasa padanya. Dengan keadaan Kwang Soo yang setiap hari hanya duduk di depan televisi, Ibu telah bekerja keras untuk membesarkan mereka berdua. Yeon Hee sangat berharap bahwa suatu hari ceritanya bisa diterbitkan dan dia bisa membuat Ibu bangga.

“Oh, astaga!” Yeon Hee hampir terpeleset ketika dia mendapati Kwang Soo berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Kau sedang menulis cerita tentang manusia serigala, kan?” tanya Kwang Soo. Yeon Hee membelalakkan matanya, dia tidak pernah tahu bahwa diam-diam Kwang Soo memperhatikan dan tahu apa yang dia kerjakan.

Tidak mendapat jawaban dari Yeon Hee, Kwang Soo berbalik. Dia berjalan dan duduk hanya beberapa senti dari depan televisi. Yeon Hee memandanginya aneh. Tapi dia sedikit tertarik dengan apa yang sebenarnya sedang ditonton Kwang Soo sampai-sampai dia tidak ingat waktu.

Yeon Hee duduk di sofa. Dia ingin ikut menonton film, tapi pandangannya dihalangi oleh Kwang Soo. “Hey, kau bisa merusak matamu jika duduk terlalu dekat dengan televisi.”

Kwang Soo menoleh pada Yeon Hee dan tanpa mengatakan apapun meringsut dari tempat duduknya. Sedikit dia mengerti kalau Yeon Hee ingin ikut menonton.

Yeon Hee tahu betul kalau Kwang Soo hobi menonton film horor, thriller, dan sejenisnya. Itu sama sekali bukan genre favoritnya. Oh, Yeon Hee akan dengan senang hati menerima uag tunai daripada di traktir nonton film horor di bioskop. Yeon Hee sendiri lebih suka romance dan drama. Dia suka membayangkan hal-hal romantis seperti ciuman, pelukan, dan rayuan. Hal yang tidak pernah dia dapat dari Chanyeol. Tsk, laki-laki itu. Kalau dipikir-pikir Chanyeol bukan tipe ideal Yeon Hee sama sekali. Yeon Hee jauh lebih memilih Kyungsoo ketimbang Chanyeol. Tapi ada sesuatu yang membuat Yeon Hee kemudian berpikir ulang, dan menikmati perasaan yang tidak bisa dia deskripsikan saat bersama Chanyeol.

“Hua!!!!!!” Yeon Hee berteriak sangat kencang ketika tiba-tiba seekor serigala menyeramkan dengan kepala penuh darah muncul di layar televisi. Dia mengubur dirinya di antara tumpukan bantal di atas sofa. Dia begitu terkejut ketika binatang itu muncul.

Yeon Hee menyembulkan kepalanya. Dia melirik Kwang Soo yang sekarang sedang menyipitkan matanya ke arah Yeon Hee, menatapnya aneh. “Tetangga bisa terbangun karena teriakanmu.” Kata Kwang Soo.

Yeon Hee duduk. Dia membereskan rambutnya yang berantakan akibat terlalu brutal menyembunyikan diri di balik tumpukan bantal tadi. “Aku hanya kaget.” Yeon Hee berbohong, sebenarnya dia hanya tidak ingin terlihat cemen di hadapan Kwang Soo.

“Ck. Kalau kau takut kenapa kau menulis cerita horror?”

“Itu bukan cerita horor!” Yeon Hee hampir kelepasan. Dia paling tidak ingin ada orang yang menerka-nerka tulisannya. Dia tidak ingin ada orang yang sok tahu dengan apa yang dia tulis tanpa membacanya dulu. “Um.. maksudku itu adalah romance antara manusia setengah serigala dan manusia. Lebih baik kau membacanya dulu sebelum memberikan komentar!”

“Terserahlah.” Kwang Soo bergumam. Dia kemudian mengalihkan konsentrasinya pada film yang dia tonton.

Yeon Hee hanya bisa menatapnya kesal. Setidaknya aku bisa menulis, memangnya apa yang bisa Kwang Soo lakukan?

“Aku ingin pergi tidur.” Yeon Hee berdiri, dia berjalan ke kamarnya. “Kau harus tidur Kwang Soo. Dan jangan menonton film sambil mematikan lampu seperti ini.” Lanjutnya sembari menutup pintu kamar.

Yeon Hee baru akan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika dia mendengar sebuah suara geraman. Yeon Hee dongkol. Dia pikir pasti Kwang Soo telah sengaja memperbesar volume televisi untuk menakutinya dengan suara geraman serigala itu.

Ya! Hwang Kwang Soo!” Yeon Hee berseru dongkol. Tapi kemudian dia terdiam, ketika mendapati ruang keluarga yang gelap, televisi dalam keadaan mati, dan Kwang Soo yang sudah tak berada disana.

***

Yeon Hee sedang serius menyiram bunga di pekarangan rumah. Sabtu pagi ini Yeon Hee merasa begitu segar, jadi dia sedikit bersemangat untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Ibu menuruni anak tangga sambil sibuk memasang jaket usungnya. Yeon Hee menghentikan kegiatannya sejenak. Kali ini Ibu harus pergi ke pasar untuk berbelanja. Memang beberapa tahun terakhir Ibu membuka katering dan di antara makanan yang pernah dia buat, kue beras adalah yang paling laku.

“Aku harus pergi ke pasar karena besok ada pesanan kue beras.” Kata Ibu sambil menyampirkan tasnya di pundak.

Yeon Hee menyunggingkan senyum, dia mengangkat ibu jarinya di depan wajah Ibu. “Semangat!” katanya sambil memberi semangat. Ibu menatapnya jengah.

“Daripada memberiku semangat akan lebih baik jika kau beri aku uang juga. Carilah pekerjaan, toh tulisanmu belum ada yang terbit sampai sekarang.” Celetuk Ibu. Yeon Hee manyun. Dia sudah sering dapat petuah dari Ibu, tapi toh dia tidak mengindahkan satupun. Yeon Hee pikir dia tidak akan pernah menyerah jadi penulis. Dia akan terus berjuang sampai ada yang mau menerbitkan tulisannya.

“Eee, jangan bicara begitu, Bu. Aku sedang menulis cerita yang luar biasa jadi tunggu saja.” Sahut Yeon Hee berharap. Ibu hanya berdecak sambil menatapnya jijik. Sekali lagi Yeon Hee berterimakasih dalam hati pada wanita yang semakin hari semakin menua ini, walaupun dia cerewet dan suka marah-marah tapi dia tetap membesarkan Yeon Hee layaknya anak sendiri.

Ibu menyeret sepeda tuanya keluar pekarangan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun menghilang dari hadapan Yeon Hee. Gadis itu diam saja. Dia hanya begitu sibuk membayangkan betapa dia sangat beruntung karena diluar sana mungkin saja ada lebih banyak orang terlantar.

Bruk. Yeon Hee menoleh untuk melihat siapa orang yang baru saja keluar dari rumah sebelah.

Yeon Hee membelalakkan mata. Dia mencoba mengamati gadis itu dengan seksama. Astaga Yeon Hee pasti tidak salah lihat, itu adalah Alia. Gadis yang waktu itu tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya ketika dia hendak pergi ke swalayan. Oh, benar juga.

Tapi… kenapa Alia mengenakan seragam sekolah?

Heol. Maksudku, dia terlalu tua untuk siswa SMA.

Yeon Hee menggelengkan kepala. Gadis yang baru saja menutup pintu dan berjalan menuruni anak tangga menuju pekarangan rumah itu, yang mengenakan seragam Moorim International High School itu, adalah Alia Wu. Ya ampun. Yeon Hee bahkan hampir memanggilnya ‘eonni’.

“Eh? Alia-ssi! Annyeonghaseyo!” sapa Yeon Hee ketika tiba-tiba gadis itu menoleh padanya. Yeon Hee baru sempat menyadari bahwa gadis itu benar-benar memiliki fisik yang hampir sempurna. Alia tidak sama sekali terlihat seperti orang Asia, juga tida terlihat seperti orang barat. Kulitnya memang sedikit lebih gelap daripada Yeon Hee, tapi wajahnya terlihat pucat.

Yang paling dikagumi Yeon Hee adalah betapa indah matanya. Bulat besar, beralis tebal, dan kelopak matanya besar. Oh! Dan bahkan bola matanya berwarna biru malam. Yeon Hee jatuh terlalu dalam dalam tatapan menghipnotis yang diberikan Alia sampai-sampai dia tidak sadar bahwa dia lupa bahwa airnya masih mengalir.

Alia mengedipkan mata dan seketika juga Yeon Hee tersadar dari lamunannya.

“Ah, anu. Um…” Yeon Hee salah tingkah. Dia tidak biasanya bertemu dengan orang asing seperti Alia, jadi dia mulai berpikir bahwa mungkin Alia benar-benar punya darah campuran Kaukasia. “Aku tidak menyangka bahwa kau sekolah di Moorim.”

Alia mengangkat alis. Dia menunduk untuk melihat seragam yang dia kenakan.

“Ah, iya. Aku ada di tahun ajaran terakhir. Kuharap aku dapat teman-teman yang baik.” Alia berujar, disambut anggukan oleh Yeon Hee.

“Kau pasti akan mendapatkannya.”

“Kalau begitu, aku pergi dulu, Yeon Hee-ssi.” Alia memperbaiki posisi tasnya dan menundukkan kepala pada Yeon Hee.

Yeon Hee mengamati kepergian gadis itu. Dan lagi-lagi dia bahkan mengagumi cara berjalannya yang begitu anggun. Semua laki-laki pasti akan menyukai gadis seperti itu. Oh, apalagi Chanyeol. Apa? Chanyeol? Tidak, tidak. Yeon Hee menggelengkan kepala. Chanyeol jangan sampai melihat Alia atau dia bisa saja menyukainya. Tidak. Jangan sampai. Itu mimpi buruk bagi Yeon Hee.

“Ah, tapi aku belum memperkenalkan diri padanya, bagaimana dia bisa tahu namaku?” Yeon Hee menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia menoleh lagi untuk melihat Alia yang tiba-tiba menghilang setelah melewati rumah nomor sembilan.

***

Begitu pintu lift terbuka dan dia berada di lantai tiga belas, Yeon Hee sempat kebingungan. Pasalnya, dia bisa melihat banyak orang yang berlalu lalang dengan langkah cepat. Sebagian dari mereka membawa kamera dan lampu sorot berukuran besar.

Yeon Hee melangkah keluar lift. Ketika dia menengok ke sebelah kiri, terdapat sebuah pintu dua daun yang di atasnya terdapat tulisan “ON AIR” yang menyala. Yeon Hee mencoba menebak kalau di balik pintu itu pasti studio para idol melakukan recording untuk acara musik, Music Bank.

Yeon Hee menggelengkan kepala. Dia enggan masuk ke tempat itu, karena dia bisa membayangkan pasti akan ada begitu banyak orang disana. Jujur Yeon Hee tidak suka keramaian. Apalagi ketika Yeon Hee ingat kejadian dimana Joy pulang dengan keadaan amburadul setelah menonton konser BTS. Astaga, saat itu Joy seperti orang yang habis kena keroyok masal, akibat ulah penonton anarkis, apalagi sebagian dari fangirls mereka adalah gadis ABG.

Yeon Hee kemudian berjalan menyusuri koridor. Dia akhirnya memilih untuk ke arah kanan dimana di sisi koridor terdapat banyak ruangan berjejer dengan papan nama tersampir. Ada TWICE, SEVENTEEN, Lee Hyori, dan di pintu yang keempat, Yeon Hee menemukan papan nama EXO, band yang dibentuk Chanyeol bersama teman-temannya, yang baru saja debut seminggu yang lalu. Meski demam Boyband dan Girlband sedang mewabah di Korea, Chanyeol dan kawan-kawan tetap percaya diri debut sebagai band dan bahkan di usia mereka yang sudah cukup dewasa –kalau tidak mau dibilang tua- dibandingkan kebanyakan idol sekarang.

Yeon Hee menghela napas panjang. Dia sedang mempersiapkan diri barang kali dia kena serangan jantung karena, ugh, Yeon Hee benci ini tapi entah mengapa Chanyeol jadi lebih tampan setelah minggu lalu tampil di Show Champion. Mengingat bahwa Chanyeol sekarang adalah seorang selebriti, Yeon Hee merasa sedikit takut bahwa mungkin saja Chanyeol bisa meninggalkannya.

“Kau akan masuk atau tetap disini?” sumber suara itu berada sangat dekat dengan Yeon Hee, sampai-sampai Yeon Hee bisa merasakan helaan napasnya.

“D… Do Kyungsoo?” Kyung Soo tersenyum sumringah, dia sudah tidak heran kalau Yeon Hee bereaksi seperti itu, apalagi ketika melihat pipinya yang seketika saja memerah seperti kepiting rebus.

Kyung Soo mengajak Yeon Hee masuk ke ruang tunggu mereka. Yeon Hee datang sedikit terlambat karena EXO baru saja menyelesaikan recording sesaat sebelum Yeon Hee datang. Tapi Yeon Hee tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, apalagi ketika melihat Kyung Soo, Sehun, dan Baekhyun. Tiba-tiba saja Yeon Hee jadi ingat saat-saat mereka berempat tinggal di sebelah rumahnya. Saat itu mereka baru lulus SMA dan sedang mengikuti pelatihan Bahasa Inggris demi melanjutkan studi ke Amerika Serikat.

Kyung Soo terkekeh geli melihat ekspresi kesenangan Yeon Hee. Kyung Soo hampir tidak bisa melupakan Yeon Hee karena harus dia akui bahwa dia pernah jatuh cinta pada teman masa kecil Chanyeol itu.

Chanyeol mengamati tingkah Kyung Soo. Bagaimanapun dia merasa tidak enak kalau harus mempertemukan Yeon Hee dengan Kyung Soo seperti ini. Kalau saja Kyung Soo bukan temannya, dia pasti sudah menghajar pemuda bermarga Do itu.

“Ya! Ji Yeon Hee! Berhentilah tersenyum seperti itu! Kau seperti tidak pernah bertemu selebriti saja!” Chanyeol menendang kursi yang diduduki Yeon Hee.

Sehun dan Baekhyun sudah tidak heran jika melihat pasangan kekasih ini bertengkar –atau lebih tepatnya Chanyeol yang lebih sering bersikap kasar pada Yeon Hee.

Baekhyun berdeham, “Kalau aku jadi Yeon Hee aku pasti sudah membuangnya.” Membuat semua orang mengalihkan pandang pada dirinya. Gitaris mereka, Sehun, bahkan memberi tatapan seperti –kau-bicara-apa- pada Baekhyun. Well, Baekhyun memang sedikit ember. Mungkin karena dia terlalu banyak berteman dengan wanita. Ingat dulu saat SMA, Baekhyun adalah yang paling dekat dengan So Hee, mereka bahkan pergi ke salon bersama.

Baekhyun sedikit beruntung karena disaat yang bersamaan, pintu ruang tunggu diketuk dan empat orang pria muncul bersamaan dari balik pintu. “Kejutan!” mereka berseru bersamaan.

Yeon Hee melongo, ini kali pertama dia bertemu dengan mereka. Tapi, Oh! Yeon Hee tahu siapa pria yang berjas biru itu, dia adalah Kim Min Seok atau yang lebih dikenal dengan nama pena –Xiumin, penulis ‘Matahari’, series yang terkenal itu! Yeon Hee sangat mengagumi karyanya. Oh astaga! Apa mungkin Chanyeol kenal dengannya?

“Hei apa yang kalian lakukan disini?” tanya Baekhyun terkejut. Yeon Hee hanya melongo ketika melihat para pria itu saling memeluk satu sama lain.

“Maaf kami baru bisa berkumpul hari ini untuk merayakan debut kalian. Kau tahu, kami sekarang punya kesibukan masing-masing. Jadi sangat sulit menemukan waktu untuk dapat pergi bersama.” Jawab salah satu di antara mereka yang tingginya tidak jauh dari Baekhyun.

Mereka masih sibuk melepas rasa rindu pada satu sama lain ketika tiba-tiba perkataan Sehun membuyarkan lamunan Yeon Hee, “Hey, Ji Yeon Hee, kau tidak ingin memberi salam pada mereka?”

Ne?” Yeon Hee terkejut. Dia baru sadar kalau mereka semua sedang memperhatikannya. “Ah, iya.” Kata Yeon Hee lagi, dia segera berdiri untuk membungkukkan badan. “Annyeonghaseyo. Namaku Ji Yeon Hee. Aku…”

“Dia kekasihku.” Yeon Hee belum selesai memperkenalkan diri ketika tiba-tiba Chanyeol menyebut Yeon Hee sebagai kekasihnya.

Semuanya menoleh pada Chanyeol, “Ah, Ji Yeon Hee yang itu.” Gumam salah satu diantara mereka.

Tiba-tiba saja suasana menjadi tidak enak. Atmosfer di sekitar Yeon Hee jadi aneh dan dia merasa bahwa sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Yeon Hee seperti seseorang yang tiba-tiba saja diadili tanpa melakukan kesalahan. Entahlah, tatapan mereka pada Yeon Hee seperti… mereka tidak menyukainya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dari balik tubuh Baekhyun, Yeon Hee dapat melihat seorang wanita berjas kuning memasuki ruangan. “Apa aku melewatkan sesuatu?”

“Yoon So Hee!” seru delapan pria itu.

***

Sepanjang jalan Yeon Hee hanya melamun. Dia tidak bisa melupakan tatapan yang diberikan teman-teman Chanyeol padanya. Tentu saja. Yeon Hee tidak benar-benar menikmati pesta mereka. Pesta yang dibuat teman-teman Chanyeol untuk merayakan debut EXO. Pesta yang akhirnya berujung pada rasa penasaran Yeon Hee tentang sosok Yejin. Bagaimana tidak? Beberapa saat setelah Chanyeol meninggalkan Korea Selatan, seorang gadis bernama Yejin itu pernah datang pada Yeon Hee dan menanyakan apakah Chanyeol menghubunginya atau menemuinya, juga bertanya apakah dia boleh meminta nomer telepon Chanyeol yang dapat dihubungi. Tapi saat Yeon Hee bertanya siapa Yejin itu, dia tidak memberikan jawaban.

Mobil yang ditumpangi Yeon Hee berbelok di pertigaan. Jalanan gelap, dan hampir tak satu rumah pun menyalakan lampu. “Sepertinya ada pemadaman listrik.” Gadis di sebelah Yeon Hee bergumam. “Ji Yeon Hee-ssi, rumahmu yang mana?”

So Hee menoleh pada Yeon Hee dan mendapati gadis itu sedang sibuk melamun. “Yeon Hee-ssi?” panggilnya sekali lagi dan dia berhasil menyadarkan Yeon Hee.

Yeon Hee mengerti kalau Chanyeol sekarang adalah seorang selebriti dan mustahil untuk mengantarnya pulang. Yeon Hee beruntung karena teman SMA Chanyeol yang bernama So Hee ini dengan senang hati bersedia mengantarnya pulang. Dalam malam yang gelap ini, akan sangat mengerikan kalau Yeon Hee pulang sendiri.

“Oh, iya, itu, rumah nomor tiga belas.” Jawab Yeon Hee sambil mengacungkan jari ke sebuah rumah bernomor tiga belas.

So Hee mengangguk. Mobil yang dikendarainya mulai melambat sebelum akhirnya berhenti di depan rumah Yeon Hee.

Yeon Hee turun dari mobil. Dia menghampiri So Hee dan bicara padanya lewat jendela mobil yang dibuka So Hee. “Kau tidak ingin mampir?” tanya Yeon Hee, dia sedikit membungkukkan badannya agar dapat menyamakan dengan jendela mobil So Hee.

So Hee tersenyum dan menggeleng. “Aku akan sangat senang, tapi kurasa tidak. Sudah terlalu larut. Dan ada persidangan yang harus aku hadiri besok pagi.” Jawabnya.

Yeon Hee mengangguk mengerti. Sedikit Yeon Hee mengagumi sosok So Hee karena di usianya yang sangat muda, dia sudah sukses menjadi pengacara.

“Kalau begitu, selamat malam.” Kata So Hee mengucap salam perpisahan. Dia menginjak pedal mobil dan mulai beranjak dari rumah Yeon Hee.

Yeon Hee melambaikan tangan, So Hee dapat melihatnya dari kaca spion. Yeon Hee melihat kepergian So Hee sampai akhirnya mobilnya menghilang setelah tikungan. Kemudian Yeon Hee menghela napas. Kepalanya terasa sedikit berat karena seharian sibuk memikirkan sosok bernama Yejin.

“Astaga!” Yeon Hee hampir limbung, dia baru saja akan melempar tubuhnya ke semak-semak ketika mendapati seorang gadis berbaju hitam berdiri persis di belakangnya.

Yeon Hee memegangi dadanya, jantungnya hampir copot sangking kagetnya. Yeon Hee membelalakkan mata, dia kaget bukan main. Napasnya memburu, seakan dia bisa kehilangan oksigen kapan saja. Bagaimana bisa gadis China itu tiba-tiba ada di sana? Yeon Hee bahkan tidak merasakan kehadirannya meski Alia berdiri persis di belakangnya, hanya beberapa senti darinya.

Mata Alia semakin bersinar dalam kegelapan, dan Yeon Hee bersumpah itu bukan seperti lensa atau semacamnya. Tapi…benar-benar memancarkan sinar. Bagaimana mungkin seorang manusia punya mata seperti dia?

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yeon Hee, sedikit kesal karena Alia suka sekali datang dan membuatnya terkejut.

Alia tersenyum. “Apa dia teman barumu?” dia balik bertanya pada Yeon Hee.

“Hm…” Yeon Hee mengalihkan pandangan pada tikungan di ujung jalan. “Seperti yang kau lihat.” Jawab Yeon Hee seadanya. Sebenarnya dia bingung juga karena Alia bisa menebak semua hal dengan sangat mudah. Seperti namanya, dan bahkan…

“Apa aku juga bisa berteman denganmu? Sama seperti So Hee dan Yejin?”

So Hee dan Yejin.

***

“Kau pulang jam berapa tadi malam Ji Yeon Hee?” Ibu meletakkan piring berisi kue beras di meja makan, tepat di depan Yeon Hee, membuat gadis itu melempar pandang pada ibunya. “Sudah kubilang jangan terlalu sering pulang larut malam. Kau tahu ada banyak kejahatan yang terjadi pada malam hari.”

“Dan bahkan kau bisa bertemu vampir atau manusia serigala pada malam hari. Bagaimana jika kau dijadikan santapan makan malam mereka?” Kwang Soo datang dan duduk di sebelah Yeon Hee, dia langsung mengambil kue beras yang baru dibuat Ibu dan melahapnya dalam satu suap.

Yeon Hee mengerutkan alis. Yeon Hee kesal pada Kwang Soo. Kenapa sih Kwang Soo hobi sekali menakut-nakutinya dengan cerita yang bahkan tidak nyata itu? Apa Kwang Soo terlalu banyak menonton film?

“Apa yang kau bicarakan? Kau terlalu banyak menonton film!”

Bruk. Novel yang sedang dipegang Yeon Hee berhasil mendarat di kepala Kwang Soo.

Ya! Ji Yeon Hee!” Ibu terlalu sayang pada Kwang Soo, jadi dia akan marah kalau Yeon Hee bersikap kasar padanya. Yeon Hee melempar pandang tak suka pada Ibu, tapi Ibu diam saja.

Kwang Soo kembali melanjutkan makan kue berasnya. Tiba-tiba saja pandangan Yeon Hee tertuju pada jendela rumah Alia yang bersebelahan langsung dengan rumahnya. Sama seperti berbulan-bulan sebelumnya, tirai jendela itu selalu tertutup bahkan saat siang hari. Sama sekali tidak terlihat seperti rumah berpenghuni.

“Kwang Soo, apa kau pernah dengar kalau Kakek Nam punya anak, cucu, atau semacamnya?” tanya Yeon Hee tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela yang tertutup tirai berwarna merah itu.

Kwang Soo masih sibuk mengunyah kue berasnya, “Bukankah Kakek Nam tidak punya siapapun? Istrinya meninggal sehari setelah mereka menikah, dan dia bahkan tak punya saudara.”

Yeon Hee menumpukan dagunya dengan tangan, sama sekali tak berniat mengalihkan pandangan dari jendela itu. “Benar juga.” Dia bergumam pelan.

“Kudengar Ibu sedang berusaha mencari surat kepemilikan rumah itu agar bisa menjualnya.” Yeon Hee sontak menoleh pada Kwang Soo, pemuda itu terlihat sangat menikmati kue beras buatan ibunya.

“Bukankah rumah itu telah dijual?” tanya Yeon Hee.

Kali ini Kwang Soo berhenti mengunyah, dia menyipitkan mata pada Yeon Hee. “Rumah itu tidak pernah dijual sejak Kakek Nam meninggal sembilan tahun yang lalu.”

***

Sejak kapan kau peduli padaku? Aku bisa pulang dengan Joy.

Ji Yeon Hee

Saturday, 10.42 pm.

Chanyeol bersumpah bahwa dia sangat ingin melempar ponselnya ke dinding jika saja dia tidak ingat kalau ponsel itu adalah ponsel yang baru dia beli dengan uang yang dia hasilkan sejak debut. Chanyeol ingin menyusul Yeon Hee tapi manajernya tidak akan memberi ijin. Bagaimanapun dia adalah seorang selebriti, berkeliaran di sembarang tempat adalah sebuah larangan, apalagi jika dia terlihat bersama seorang gadis. Oh, itu bisa membahayakan karirnya!

“Apa kau sudah dengar berita tentang menghilangnya Vivian Cha? Dia menghilang satu hari setelah MV kita dirilis.” Baekhyun datang dan menjatuhkan diri di sofa, tepat di samping Chanyeol. Baekhyun tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, dia terlalu serius membaca berita tentang menghilangnya Vivian Cha, seorang model yang menjadi pemeran utama dalam video musik EXO.

Chanyeol menoleh pada Baekhyun. Sebenarnya dia tidak peduli pada Vivian atau siapapun itu. Dia hanya sangat sebal karena Baekhyun muncul di saat yang tidak tepat.

“Lihatlah. Hilangnya Vivian Cha menjadi kasus ke empat menghilangnya perempuan secara misterius dalam sepekan!” Baekhyun begitu bersemangat ketika membacakan berita di internet.

Baekhyun menegakkan badannya, dia menoleh pada Chanyeol, “Kau ingat Wendy Son? Teman SMA kita yang sekarang menjadi koki? Kudengar dia adalah salah satu dari mereka.”

Chanyeol menyipitkan matanya, napasnya memburu sangking kesalnya pada Baekhyun. “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!” katanya sarkastis dan meninggalkan pria itu di ruang tengah sendirian.

Sementara itu, Yeon Hee yang sedang dalam perjalanan pulang hanya diam. Hari ini lagi-lagi dia dan Chanyeol bertengkar hanya karena Yeon Hee terlambat membalas pesannya. Ckckck. Terkadang Chanyeol memang egois dan keras kepala sampai-sampai Yeon Hee tidak mengerti mengapa dia harus berkencan dengan orang seperti itu. Sempat terpikir oleh Yeon Hee bahwa sebaiknya Chanyeol pergi saja ke tempat yang jauh sekalian. Toh selama Chanyeol berada di Amerika hubungan mereka jauh lebih baik dari ini.

Joy menoleh pada Yeon Hee, sedikit dia merasa prihatin pada temannya itu. “Kau baik-baik saja?” tanya Joy. Yeon Hee menoleh padanya.

“Aku tidak baik-baik saja.” Jawab Yeon Hee, dia membenamkan wajahnya di pundak Joy.

Joy benar-benar seorang teman yang bisa diandalkan, dia tahu Yeon Hee mungkin saja melakukan hal aneh seperti terjun dari jembatan kalau malam ini dia tidak mengantar gadis itu pulang –benar-benar sampai di depan rumahnya. Saat mereka tiba, lampu rumah Yeon Hee sudah dimatikan, hanya ada beberapa lampu taman yang dinyalakan. Joy mencoba menebak bahwa Ibu Hwang mungkin sudah tidak makanya lampunya dimatikan. Kemudian Joy mengamati rumah di samping rumah Yeon Hee.

“Oh, sepertinya rumahmu diapit oleh dua rumah tak berpenghuni.” Gumam Joy. Yeon Hee menoleh untuk melihat rumah di samping kiri rumahnya, tangisnya semakin jadi saat itu juga.

“Itu rumah Chanyeol! Dia sudah tidak ingin tinggal bersebelahan denganku, Joy! Dia sudah bosan denganku!” dia berkata di tengah tangisnya, persis seperti anak kecil. Joy menggaruk kepalanya. Dia sendiri juga bingung harus berbuat apa pada Yeon Hee. Joy kehabisan akal. Jujur yang dibutuhkan Yeon Hee saat ini adalah kehadiran Chanyeol. Hanya Chanyeol.

Joy menghela napas, “Masuklah Yeon Hee, kau butuh istirahat. Jangan terlalu memikirkan Chanyeol.”

Hiks.” Joy bisa mendengar isakan Yeon Hee.

Sekali lagi Joy mengusap lengan Yeon Hee, mencoba memberikan dukungan terhadap temannya itu. “Aku pulang dulu ya.” Kata Joy sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Yeon Hee tidak menghiraukan kepergian Joy, dia hanya berjalan gontai dan akhirnya terduduk di tangga teras. Yeon Hee memedamkan wajahnya diantara pahanya. Dia menangis sejadinya sembari berharap Chanyeol akan datang, meski rasanya tidak mungkin.

Oh, Tuhan. Sebenarnya apa yang terjadi? Yeon Hee ingat bahwa hubungannya dan Chanyeol baik-baik saja sebelumnya. Yeon Hee bahkan telah menunggu-nunggu kedatangan Chanyeol ke Korea Selatan. Tapi mengapa setelah Chanyeol pulang, mereka malah lebih sering bertengkar?

Yeon Hee tahu betul bagaimana sifat Chanyeol. Untuk menjadi kekasihnya, Yeon Hee bahkan mempertimbangkan semalaman. Dia tidak ingin hubungan ini hanya sekedar sepasang ‘kekasih’. Maksudku, dimana sih otak Chanyeol? Dia pikir hubungan mereka hanya main-main saat Yeon Hee bahkan berharap banyak?

Yeon Hee bingung sendiri. Sedikit banyak dia menyesal karena menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada pria yang dia juluki ‘raksasa sombong’ itu. Walaupun sebenarnya  Yeon Hee hanya ingin Chanyeol ada disini, mengucap kata maaf atau sekedar memberi kepastian.

Yeon Hee menggosok lengannya, angin malam tiba-tiba terasa jadi sangat dingin sampai menusuk ke tulang. Satu dua motor masih berlalu beberapa manit yang lalu, tapi tiba-tiba kesunyian menghantam keras diri Yeon Hee, entah karena dia merindukan sosok Chanyeol atau memang karena kota mulai mati.

Isak tangis Yeon Hee sudah tak terdengar lagi. Bulu kuduk Yeon Hee meremang. Itu ketika secara tiba-tiba Yeon Hee merasakan kehadiran seseorang.

Yeon Hee mendongak, berharap besar bahwa itu adalah Chanyeol. Tapi yang Ia temui malah cahaya biru yang menyeruak dari manik mata Alia.

“Alia-ssi..” gumam Yeon Hee, Alia tersenyum padanya. “Kenapa kau disini?”

Cahaya itu semakin bersinar terang. Bahkan di tengah kegelapan malam, Yeon Hee masih sempat mengagumi sosok Alia. Betapa mata indahnya sangat memikat.

“Mau ikut denganku, Yeon Hee-ssi?”

***

Aku baru berjalan beberapa blok dari rumah Yeon Hee ketika aku baru ingat bahwa aku meninggalkan charger ponselku di dalam tas gadis malang itu. Aku terpaksa kembali, menyusuri jalanan sepi di tengah keheningan malam.

Karena tuntutan pekerjaan, aku sering pulang malam. Ini sudah biasa bagiku jadi aku yakin akan baik-baik saja. Tapi, ada sesuatu yang entah mengapa terus mendorongku kembali. Seperti aku sangat mengkhawatirkan keadaan Yeon Hee. Jujur saja, aku memang berteman dengannya sejak beberapa tahun terakhir. Itu bermula ketika dia datang ke restoranku. Dia menghabiskan waktu berjam-jam dan setelah aku tahu bahwa dia seorang penulis baru aku bisa memahaminya. Meskipun tak satu pun karyanya dapat diterbitkan, toh Yeon Hee pantang menyerah. Dia tetap berkarya bahkan mencoba genre baru yang sama sekali tidak disukainya.

Aku mengerti. Yeon Hee pasti sangat menyesal karena kini kekasihnya yang bernama Chanyeol itu sangat sibuk, hampir tidak ada waktu untuknya. Tidak ada bahkan hanya untuk membalas pesannya saja. Ditambah lagi perlakuan kasarnya yang tak pernah berubah meski status mereka ‘pacaran’. Yeon Hee pasti bingung harus bagaimana.

Aku terlalu larut dalam pikiranku tentang hubungan Yeon Hee dan Chanyeol sampai-sampai aku tidak sadar bahwa aku telah berada tepat di depan pekarangan rumah Yeon Hee. Sst… aku baru meninggalkan tempat ini, persis dimana aku berdiri, sekitar sepuluh menit yang lalu tapi suasana dan hawanya menjadi sangat berbeda.

Aku mengedarkan pandanganku. Manik mataku berhenti bergerak ketika aku melihat Yeon Hee masuk ke dalam rumah di samping rumahnya bersama seorang gadis di belakangnya.

Bulu kudukku seketika meremang ketika secara tiba-tiba gadis di belakang Yeon Hee menangkap sosokku, seperti sudah tahu bahwa aku tepat berada di sana. Aku tidak dapat memastikan bagaimana wajahnya, tapi yang jelas aku melihat gadis itu tersenyum padaku.

Suhu badanku semakin naik, aku merasakan dingin mendera tubuhku dalam sekejap, kakiku bergetar hebat sampai-sampai rasanya aku hampir limbung. Aku bisa memastikan bahwa gadis ittu benar-benar tersenyum ke arahku.

Aku membalikkan badan, berniat pergi dari tempat ini sebelum suatu hal yang tidak aku inginkan terjadi.

Tapi dugaanku benar, aku limbung dan pantatku berhasil mendarat di aspal.

Aku mendongak, mendapati gadis yang sama di sana. Seluruh tubuhku melemas. Gadis itu memancarkan cahaya biru dari manik matanya.

“S..siapa kau? A..apa kau?”

(The Next Door Girl)

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s