[EXOFFI FREELANCE] YOU CAN CALL ME MONSTER? (Chapter 3)

Tittle : You Can Call Me ‘Monster’?

Author : NaMiPark

Length : Chaptered

Rating : PG

Cast   : Han Jina , Park Chanyeol (Exo), Byun Baekhyun (Exo) and other cast.

Summary   : “Memiliki mu adalah satu-satunya jalan ku untuk tetap hidup.”

Chanyeol Park, Seorang pemimpin sindikat kelompok mafia bernama DARK MÀRVOS. Lelaki tak berperasaan yang membawa takdirnya bertemu dengan Han Jina. Seorang gadis yang membuat Chanyeol sangat mengagumi mata indah Jina. Dan sialannya gadis itu adalah adiknya! Oh, Shit!

“Kau terlalu sialan berani membuat ku kehilangan akal sehat ku!”

Desclaimer   : Fanfiction ini murni berdasarkan hasil pemikiran saya. Tanpa ada unsur penjiplakan. So, Don’t Copast. Please !

Fanfiction ini juga di publish di satu-satunya akun wattpad pribadi saya (NaMiPark). Selain di sana dan di EXOFFI, adalah penjiplakan. Bila ada yang melihat FF ini di publish di lain tempat, mohon hubungi saya. Terimakasih.

Author Note’s   : Bagi ku cinta yang sebenarnya harus memiliki. Berjuang untuk membuat ‘dia’ bahagia di sisi ku adalah keharusan. Bagaimanapun caranya. Bukan membiarkannya pergi dengan dalih berfikir; “Dia tidak bahagia bersama ku.”

🍁Chapter 3🍁

Cemoohan adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi Han Jina. Dulu hanya karena ia lahir tanpa seorang ayah, lantas di sekolahnya ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Kau tahu, semacam pembullyan yang tidak pernah terlepas dari siswa di korea.

Ia bahkan di cap sebagai wanita ‘murahan’ tanpa alasan yang masuk akal. Apa karena ia lahir dari seorang ibu yang tidak memiliki suami? Lantas mereka menganggap ia dan ibunya adalah wanita tidak baik-baik?

Cih, dangkal sekali pemikiran mereka!

Han Jina bahkan merasa sudah menjaga dirinya dengan baik-baik. Terbukti di umurnya yang ke dua puluh satu tahun itu ia belum pernah sekali pun menodai tubuhnya dari sentuhan seorang laki-laki. Gadis itu bahkan tidak pernah memakai pakaian minim yang mencetak lekuk tubuhnya. Ia terlalu polos dan murni.

Lalu di mana letak murahannya gadis itu??

Kehilangan seorang ibu cukup menghantam dirinya saat itu. Di dunia ini hanya ibunya yang Jina miliki. Hanya ibunya yang berbicara lembut pada Jina. Hanya ibunya yang bersikap baik padanya. Benar-benar hanya ibunya yang Jina miliki !

Dan tuhan sudah mengambil itu. Mengambil ibunya dari sisi nya.

Malam itu jika saja seorang lelaki bernama Byun Baekhyun tidak menghentikan Jina dari niatnya untuk berdiri di tengah jalan. Menunggu sebuah truk atau bus melindas tubuhnya. Jika saja lelaki itu tidak perduli pada seseorang yang bahkan tidak di kenalnya. Saat ini Jina mungkin sudah menyusul ibunya dengan cara yang konyol!

Byun Baekhyun, lelaki yang mengulurkan tangannya pada Jina malam itu. Lelaki yang menarik Jina dari tengah jalan. Dan orang ke dua setelah ibunya yang berbicara lembut padanya.

Baekhyun adalah seorang yang juga tidak memiliki orang tua. Bahkan sejak ia masih menjadi bayi merah, ia sudah di temukan pengurus panti asuhan di depan pintu. Dan malam itu Baekhyun menawarkan tempat pada Jina.

Sebuah panti asuhan yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya bahwa ia akan menjadi salah satu penghuni panti. Tempat dimana para anak yang tidak memiliki orang tua, berada.

Meski begitu panti asuhan itu memberi hal baru pada Jina. Sebuah keluarga besar yang hangat. Jika dulu ia hanya memiliki satu orang yang berada disisinya, yaitu ibunya. Maka di panti itu Jina memiliki banyak orang di sampingnya. Orang-orang yang meskipun tidak mengatakannya dengan sebuah kalimat, tetapi seolah menunjukan dan mengatakan pada Jina, “kau tidak sendiri”.

Dan satu lagi, Jina memiliki Baekhyun!

Lelaki yang pada saat-saat pertamanya berada di panti selalu mengulurkan tangan dan meminjamkan bahunya untuk tempat menangis gadis itu. Lelaki yang memeluknya saat ia sudah menangis terlalu lama. Lelaki yang menguatkannya. Dan lelaki yang setiap ia menangis akan selalu berkata, “Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak menangis lagi?.”

Baekhyun adalah lelaki pertama yang bersikap seperti itu padanya. Dan itu berhasil membuat gadis itu tersentuh. Perasaannya menghangat.

“Jina…”

Panggilan seseorang membuyarkan lamunannya. Jina menoleh. Mendapati Baekhyun yang berdiri di belakangnya, yang kemudian menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan disini? Disini dingin. Kau bisa terkena flu,” cemas Baekhyun, seraya menyampirkan sebuah mantel tebal yang tadi di bawanya untuk Jina.

“Terimakasih, Baekhyun.”

“Apa yang sedang kau fikirkan?.”

Manik birunya menatap langit malam yang gelap tanpa taburan bintang atau sinar bulan itu,  “Aku ingin melihat ibu. Tapi disana…” Jina menunjuk langit, “Dia tidak ada malam ini.”

Baekhyun tersenyum, “Tapi dia selalu ada di sini..” lelaki bersurai kecokelatan itu menyentuh bagian dadanya dengan telapak tangannya, “Di hati mu. Dan di sini..” Sekali lagi ia menyentuh kepalanya, “Di fikiran mu. Aku benarkan kan?”

Jina tersenyum. Lelaki itu selalu membuatnya jauh lebih baik. “Terimakasih Baekhyun.”

“Apa tidak ada kata lain selain ucapan terimakasih?”

Jina mengerutkan keningnya, “Aku memang benar-benar berterimakasih pada mu.”

“Aku tahu. Tapi ucapkan dengan cara lain.”

“Apa?”

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Menimang untuk mengatakannya atau tidak. “Besok…” Ia menggantung kalimatnya sendiri. Membuat Jina penasaran dengan itu.

“Besok?”

Baekhyun menarik nafasnya. Kemudian membalas tatapan Jina yang menatapnya dengan penuh tanya, “Kau mau berkencan dengan ku?”

🍁🍁🍁

  Chanyeol memperhatikan dengan seksama apa yang sedang Oh Sehun kerjakan saat ini di dalam laboratoriumnya yang menurutnya pengap karena kekurangan cahaya matahari. Sehun dengan cekatan mencampurkan beberapa cairan dan bahan-bahan yang Chanyeol tidak tahu sama sekali apa itu. Yang di ketahuinya hanya satu, Sehun sedang membuat penemuan barunya pada narkotika berjenis LSD atau Lysergic Acid. Sebuah jenis narkotika berkadar tinggi dengan efek halusinasi, paranoid dan obsesi yang di luar batas terhadap sesuatu hal. Penggunanya akan mengalami denyut jantung dan tekanan darah yang meningkat, demam, depresi, mengalami gangguan persepsi bahkan sampai rasa panik dan takut yang berlebihan. Dan Sehun adalah seorang spesialis dalam hal menciptakan obat-obatan memabukan sekaligus mengerikan seperti itu.

Oh sehun adalah pencipta narkotika terbaik yang pernah Dark Màrvos miliki. Sepertinya tidak sia-sia bagaimana mereka membiayai Sehun sampai bersekolah ke negeri paman Sam. Tanpa perlu di perintah atau di paksa, lelaki berkulit putih itu sudah lebih dulu menawarkan dirinya untuk mengabdi pada kelompok Dark Màrvos. Well, memang bukan hal yang asing bukan? Memangnya siapa anggota kelompok itu yang hidupnya tidak di topang oleh Dark Màrvos?

Entah dengan niat dermawan atau memang karena menginginkan balas budi. Semuanya tidak ada yang perduli. Mereka hanya berfikir Dark Màrvos membuat hidup mereka menjadi lebih baik dari pada kehidupan masalalu yang pernah mereka jalani.

“Kau tidak akan menjemput sendiri adik mu?” Tanya sehun tanpa mengalihkan perhatiannya dari apa yang tengah di kerjakannya saat ini.

Chanyeol berdecak, “Sialan kau, Oh Sehun. Ku bilang dia bukan adik ku!”

Sehun terkekeh pelan, lalu menghampiri Chanyeol. Duduk di soffa yang berseberangan dengan nya, “Kau tidak takut Tao dan Kris melakukan sesuatu pada gadis itu dengan otak mesumnya?”

“Kau fikir aku perduli?” Sinisnya, “Tuan Park hanya memintaku untuk mencari gadis itu. Bukan menjadi baby sitternya!” Sergah Chanyeol dengan malas.

“Kenapa kau menyuruh mereka menjemput adik mu? Kenapa tidak Jong In saja? Atau Yixing misalnya.” Sehun mengabaikan nada mengancam Chanyeol. Ia kembali mengajukan pertanyaan yang membuat bos besarnya itu kesal. “Apa kau sengaja ingin membuat gadis itu di permainkan mereka?”

Chanyeol memutar malas bola matanya. Oh Sehun benar-benar menguji kesabarannya. “Kenapa tidak kau saja yang menjemput gadis itu?” Sergah Chanyeol, sarkastik. “Kau perduli sekali padanya, huh? Atau—” Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sandaran soffa, “—Kau menyukai gadis itu?”

Sehun tertawa pelan. Apa menurut seorang pemimpin Dark Màrvos itu perduli artinya suka?? “Jika iya, apa kau merestuiku menjadi adik ipar mu?” Goda lelaki dengan marga Oh itu, lagi.

Chanyeol mendelik tajam pada Sehun. Tatapannya tidak sedatar tadi. “Fucking you, Oh Sehun!”

Sehun tertawa lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sejujurnya ia memang sempat tertarik pada gadis itu. Terlebih Sehun melihatnya langsung satu bulan lalu di salah satu panti asuhan milik Dark Màrvos di daerah Daegu. Well, gadis itu berbeda dengan gadis lain yang ia temui. Cantik tapi memiliki sisi murni yang belum terjamah. Tidak seperti wanita-wanita yang ia kenal selama ini. Cantik…Tapi seorang jalang! ck!!

“Ah,ya.” Sehun memajukan tubuhnya. Menopang ke dua sikunya di atas pahanya. “Dimana gadis yang kemarin kau bawa itu?”

Chanyeol mengkerutkan keningnya, berfikir sejenak. Gadis yang mana?

“Gadis yang kemarin memakai seragam sekolah itu.” Jelas sehun, tidak sabaran. Ketika Chanyeol masih belum mengingat gadis mana yang Sehun maksud.

“Ah…Dia. Kenapa?” Alis Chanyeol naik satu. “Kau menginginkannya?”

Sehun tersenyum penuh arti. Dan Chanyeol tahu apa yang sedang di fikirkan lelaki itu saat ini. “Aku mengurungnya di gudang bawah tanah. Julia masih mengurusinya sebelum di bawa ke Octagon.” Chanyeol meraih ponsel dari dalam saku menghubungi seseorang dan menunggu sambungan telfon terhubung sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tidak sekarang Sehun. Jung Nam Sik sudah membayar tinggi untuk gadis itu. Kau tahu, pria Jung itu begitu menginginkannya.”

Sehun mendengus. Sudah lama ia tidak mendapatkan seorang gadis belia yang masih perawan. Ia menghela berat. Mungkin keberuntungannya datang lain kali.

“Bagaimana?” Tanya Chanyeol pada seseorang di seberang sana.

“Aku menemukannya. Tapi dia sedang bersama seorang laki-laki.”

“Lalu?” Chanyeol mengerutkan dahinya.

“Bagaimana jika laki-laki itu membuat keributan? Saat ini mereka sedang di taman hiburan.”

“You are stupid, huh?” Dengus Chanyeol, “Habisi saja laki-laki itu! Aku ingin sore ini gadis itu sudah ada di rumah ku!”

Flip.

Chanyeol memutuskan sambungan telfon dengan sepihak. Lalu berjalan keluar dari ruang laboratorium dengan kesal. Di ikuti Sehun di belakangnya.

🍁🍁🍁

Han Jina mematut dirinya di depan cermin. Dress putih selutut dengan coat merah sebagai luarannya. Kakinya di balut dengan flat shoes senada. Rambut pirang terangnya yang bergelombang terurai panjang di punggungnya. Han Jina mengoleskan lagi lipbalm merah mudanya di bibir. Hanya itu riasan yang di kenakannya tapi membuat gadis itu terlihat sangat mempesona.

Getaran ponselnya mengalihkan perhatian Jina. Dengan cepat gadis itu meraih ponselnya di atas meja.

[ Kau sudah selesai? ]

Jina tersenyum sebelum membalas pesan Baekhyun.

[ Ya. Aku akan keluar sekarang. ]

Gadis itu merapikan rambutnya, sekali lagi. Memeriksa kembali dress dan sepatu yang di kenakannya. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Jina keluar dari dalam kamar. Menghampiri Baekhyun yang menunggunya.

☆TBC☆

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] YOU CAN CALL ME MONSTER? (Chapter 3)

  1. Wow! Jadi penasaran apakah gadis yg dimaksud chan sama sehun itu Jina? Yang katanya adiknya itu? Suka sama karakter Sehun di sini 😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s