Caramelo pt. 8

caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin, Oh Sehun | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: Shuutory

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 7 8

Shuu’s Present this story

“Kwon Chaerin, sweet and annoying at the same time.”

Hari ini hari pertama sekolah Chaerin setelah seminggu terkena skors. Didalam kamarnya telah terdengar bunyi gaduh sejak beberapa puluh menit yang lalu. Cepat-cepat ia terlihat memakai celana olahraganya. Kemudian mengambil sumpit sekali pakai di laci, asalkan kalian tahu, banyak sekali macam sumpit yang tersedia di lacinya.

Dengan gerakan cepat ia menggulung rambutnya ke atas dan menahan rambutnya dengan kedua sumpit.

Ia cepat-capat keluar dari kamarnya sambil menyambar tas yang semenjak tadi menunggunya di atas ranjang. Ia memutar knop pintu dan terlihat berbelok ke sebuah pintu yang terletak tak jauh dari kamarnya.

OppaOppa! Apa kau lupa akan janjimu semalam?” kata Chaerin sambil menyampirkan dasinya di leher.

Oppa! Kwon Sojoon!” ucapnya sambil menggedor pintu.

“Kwon so-“ saat akan menyebutkan nama terakhir dari kakaknya itu, pintu terdengar berderit. Menampakkan sesosok mengenaskan yang masih berbalut kaos putih dan celana longgar panjang berwarna khaki.

“Bisa tidak untuk tak menggedor pintu dengan kekuatan premanmu itu?” kata kakak Chaerin sambil mengusap matanya.

“Astaga, kau lupa. Kemarin kau telah berjanji padaku untuk mengantarkanku ke sekolah sebelum kau kembali ke camp,” ucap Chaerin sambil mengacak-acak rambut kakaknya itu.

“Aku masih mengantuk,” ucap kakak Chaerin dengan mata yang setangah terpejam.

“Aku akan menunggumu di bawah. Awas kau!” kata Chaerin sambil menunjuk kakaknya dengan telunjuknya.

Ia kemudian berbalik dan cepat-cepat menuruni tangga. Di bawah sudah ada ibu Chaerin yang memasak pagi ini.

“Kau lebih galak dari atasanku! Dasar anak babi!” ucap kakak Chaerin sebelum adiknya itu menghilang sempurna dari pandangannya.

Chaerin langsung duduk saat mengetahui banyak makanan yang sudah tersedia di meja makan. Ibunya yang sedang menata makanan langsung berdecak sambil menyodorkan semangkuk nasi kepada Chaerin.

“Tidak boleh tambah untuk pagi ini,” ucap Ibu Chaerin dengan nada mengintimidasi.

“Aaaaa….. eomma kejam. Jika aku kurus bagaimana?” kata Chaerin merengek sambil menggeser semangkuk sup tauge mendekat.

“Tidak baik makan banyak saat pagi hari. Akan menganggu proses pencenaan,” kata ibu Chaerin kemudian duduk dihadapan Chaerin sambil memandangi anaknya itu yang sedang makan dengan lahap. “Lagipula badanmu itu sudah seperti sapi.”

Chaerin langsung memandang ibunya dengan tatapan menusuk. Dirinya yang telah mirip sapi terus terngiang di telinganya. “Apa maksud ibu?” tanya Chaerin sambil mengernyit.

“Kau itu tambah gemuk, ingat kau sebentar lagi ada turnamen. Aku tidak akan tanggung jawab jika kau tidak kuat berlari,” ucap ibunya yang membuat Chaerin langsung bergidik ngeri.

Ia sebenarnya tidak masalah badannya bertambah gemuk. Bahkan jika sudah mirip dengan beruang sekalipun, tetapi kalah dalam turnamen adalah sebuah mimpi buruk untuknya.

Ia tetap mengunyah makanannya, dalam waktu kurang dari setengah menit ia sudah menghabiskan setangah dari mangkuk nasinya.

“Pelan-pelan tidak ada yang ingin mengambil makananmu,” ucap ibu Chaerin masih dengan menopang dagu di meja, ia masih setia mengamati cara sapi mengunyah makanannya. “Lihatlah dandananmu. Apakah ada yang mau berkencan dengan orang aneh yang memakai sumpit dirambutnya seperti dirimu?” ucap ibu Chaerin dengan wajah datar.

Chaerin langsung menatap kembali mata ibunya, lagi-lagi dengan tatapan yang tak kalah menusuknya dengan pisau belati. Ia tak mengerti dengan pemikiran semua orang yang mengagung-agungkan sebuah hubungan yang menurutnya sungguh tidak perlu dilakukan.

“Dulu setiap hari banyak sekali para gadis dan lelaki yang lewat di depan rumah hanya untuk melihat kedua kakakmu itu. Mereka saat seumuranmu keren sekali,” kata ibu Chaerin wajahnya tetap saja tak berubah masih menampakkan wajah datar dan tak berdosanya.

“Mereka berdua mewarisi gen Appa. Aku pastilah mewarisi gen Eomma,” jawab Chaerin dengan wajah tak kalah polosnya dengan ibunya.

Ibunya mengambil sendok yang ingin dipukulkan kepada Chaerin. “Kenapa aku membencimu. Aku menyesal melahirkan dirimu. Lihatlah kau ini lelaki atau perempuan, memakai celana seperti itu?” kata Ibu Chaerin sambil menunjuk celana olahraga yang berfungsi merangkapi rok pendeknya.

“Siapa suruh memendekkan rokku tanpa persetujuanku?” ucap Chaerin sambil menjauhkan mangkuk yang sudah tandas tanpa sisa secuil nasi pun.

Eomma hanya melihat para gadis di Apgujeong. Mereka terlihat memakai rok yang pendek ke sekolah. Itu ‘kan trend. Bukankah lucu?” ucap Ibu Chaerin yang tak mau kalah. “Coba lihat temanmu. Pasti mereka juga memendekkan roknya.”

“Aku sekolah Eomma. Tempat yang ingin kudatangi untuk sekolah Eomma bukan untuk ajang pamer paha,” ucap Chaerin sambil memutar bola matanya dengan malas.

Chaerin turun dari mobil dengan sedikit brutal, mungkin perlu diralat. Chaerin sangat-sangat brutal. Jika ia tidak berpegang erat dengan pintu mobil mungkin saja ia sudah jatuh tersungkur di aspal dengan wajah yang mendarat duluan.

“Anak babi, hati-hati!” ucap kakak lelaki Chaerin sambil berdecak. Ia menatap adiknya itu dengan prihatin, menyesal mempunyai adik yang mempunyai kelakuan di ambang batas kewajaran seperti Chaerin.

Kakak Chaerin keluar dari mobil, ia tampak gagah memakai seragamnya. Benar-benar sangat keren. Ia terlihat menyenderkan dirinya di pintu mobil, kemudian Chaerin menghampirinya.

“Awas jika kau bermain mata dengan gadis-gadis itu!” ucap Chaerin sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Kenapa? Kau cemburu?” kata Sojoon kepada Chaerin. Ia terlihat sedikit melirik beberapa gadis yang sedang memandangi mereka dengan tatapan memuja.

“Awas kau jika menatap mereka. Akan kupatahkan kakimu,” kata Chaerin sambil membelalakkan matanya.

Sojoon terlihat terkekeh kemudian menjawab, “Arraseo, aku tak akan mencari pasangan jika kau belum mempunyai pacar.”

Chaerin terlihat melotot. “Pasti Appa akan menjodohkanmu dengan anak Jendral siapa itu, mungkin juga dengan seorang gadis angkatan darat,” ucap Chaerin.

Sojoon terlihat gemas dengan adiknya itu, ia mengacak puncak kepla Chaerin. Tetapi Chaerin justru menepisnya, dengan alasan takut jika tatanan rambutnya rusak.

“Bersikaplah layaknya perempuan. Kau tidak kasihan kepadaku jika aku menjadi bujang lapuk?” kata Kwangjin.

“Tidak ada yang menyuruhmu untuk melakukan itu bodoh,” ucap Chaerin sambil menyipitkan matanya. Ia kemudian kembali membuka mulutnya, “Omong-omong kapan kau kembali dari liburanmu?”

“Nanti siang. Jaga dirimu baik-baik, babi,” kata Sojoon sambil menatap teduh gadis mungil dengan tinggi sedadanya itu. Chaerin terlihat mengkerut saat mendengarnya. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada .

Sojoon terlihat terkesiap untuk sesaat, ia kemudian mengukir senyum di bibirnya. “Kau masih merindukanku ya?” tanya Sojoon sambil mengusap punggung Chaerin.

“Iya, bodoh,” ucap Chaerin. “Kau baru kembali ke rumah beberapa hari lalu. Sekarang kau mau kembali ke camp lagi. Appa kejam,” gumam Chaerin di dada Sojoon.

Apa yang mereka tengah lakukan ternyata mengundang perhatian beberapa murid yang hendak masuk ke kawasan ke sekolah. Beberapa dari mereka memandang Chaerin dan Sojoon dengan tatapan kagum. Rasanya Chaerin ingin menyembunyikan kakaknya itu supaya gadis-gadis itu tak seenaknya menelanjangi Sojoon dengan tatapan mesum mereka. Di sisi lain ia juga ingin menunjukan ke semua orang jika Kwon Sojoon saat ini hanya miliknya.

Chaerin lalu melepaskan diri dari pelukan Sojoon, kemudian ia berjijit dan meraih pipi kakaknya itu. Dengan kecepatan sepersekian detik ia mengecup pipi Kwangjin kemudian cepat-cepat membalikkan tubuhnya.

Sebelum ia akan melangkahkan kakinya, Sojoon terlihat mencekal tangan Chaerin kemudian membuatnya berbalik. Chaerin merasakan bibir Kwangjin menyentuh dahinya. Chaerin terlihat tersenyum.

Kemudian mereka melakukan high-five. Chaerin melambaikan tangannya sambil berjalan mundur menjauhi Sojoon yang sedang tersenyum padanya di samping mobil Porsche hitam itu. Demi apapun ia mengagumi kakaknya dengan seragam angkatan darat seperti itu.

“Jaga dirimu baik-baik babi kecil!” ucap Kwangjin setengah berteriak.

Ne, Babi besar!” teriak Chaerin yang sudah banyak menciptakan jarak dengan Kwangjin ia masih terus melambaikan tangannya sambil berjalan mundur.

“Janji?” ucap Kwangjin.

“Janji! Demi kedaulatan Republik Korea tercinta!” ucap Chaerin sambil menempelkan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya di pelipis. Kwangjin tersenyum kepada Chaerin. Bukankah Chaerin juga bisa menjadi manis dan menjengkelkan?

Hari Senin yang sebagian murid dianggap sebagai hari keramat menunjukkan langit cerahnya. Seolah mengejek wajah murung beberapa siswa yang masih ingin berguling-guling dikasur hangat mereka sambil memeluk guling. Untuk para guling mereka mungkin bersorak karena tidak tersiksa akibat jepitan dan pelukan erat yang biasa mereka dapatkan di hari Minggu.

Wajah Chaerin tak kalah cerahnya dengan cakarawala yang memayunginya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman saat berjalan melewati gerbang, padahal beberapa belas pasang mata sedang berfokus kepadanya.

Hal yang ditunggu Chaerin saat ini sebenarnya teguran dari beberapa anggota OSIS. Rupanya mereka sedang sibuk dengan festival yang diadakan mulai lusa. Chaerin mengacuhkan beberapa pasang mata yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Mengabaikan seperti menganggap mereka semua raga tanpa jiwa.

Ia mendapati sebuah punggung yang sangat dihafalnya. Chaerin terlihat tersenyum sekilas sebelum akhirnya berlari menggapai punggung itu. ia mengalungkan tangannya di leher sosok itu sambil menunjukkan senyum cerahnya. Sepertinya mulai hari ini predikat senyum terbaik akan direbut Chaerin dari Chanyeol.

Good Morning!” ucap gadis itu. Pengucapan Bahasa Inggrisnya perlu diacungi dua jempol, kalo bisa kedua jempol kaki juga bisa disertakan.

Kyungsoo terlihat terkesiap saat mendapati Chaerin sedang mengalungkan tangannya di leher. “Senyumanmu membuat mataku sakit,” ucap Kyungsoo sambil menunjukkan wajah yang enggan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada berkas yang berada di kedua tangannya.

Senyuman itu runtuh begitu saja. Kyungsoo kemudian kembali membuka mulutnya tanpa memandang Chaerin, “Dan jangan pura-pura dekat denganku. Kita tidak dekat sama sekali,”

Ia kemudian melepaskan tangannya dari Kyungsoo sambil mencibir. Ia kemudian pergi menjauh dengan berjalan mundur sambil melambaikan kedua tangannya ke atas.

“Jaga dirimu baik-baik Kyungie-ya!” ucap Chaerin yang sengaja di keraskan membuat banyak orang mengalihkan pandangannya kepada Chaerin. Caherin terlihat membuat bentuk hati dengan kedua ujung tangannya yang menyatu di ubun-ubun.

Kyungsoo terlihat berdecak sambil memutar bola matanya. “Ya! Kwon!”

Dari arah pintu masuk kantin terlihat Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun, dan Chen sedang berjalan sambil bergurau. Terlihat Chenyeol tertawa sambil memegang perutnya, ia juga menepuk kedua tangannya karena tidak bisa menahan tawanya yang sudah meledak. Badannya sampai lemas ia sampai menopang badannya dengan tangan yang memegang lutut.

Baekhyun tak kalah kencang tertawanya, ia sedari tadi mengeluh jika perutnya kram karena saking hebohnya ia tertawa. Sedangkan Chen berjalan disebelah Kyungsoo sambil menahan tertawanya. Kyungsoo lagi-lagi sebagai sasaran ketiga menusia itu. terlihat dari wajahnya yang enggan sambil sesekali melirik ketiga makhluk itu bergantian.

Chaerin terlihat sudah duduk bersama Seulgi di salah satu meja dibagian tengah ruangan. Chaerin kelihatannya masih setia dengan ramennya. Ia sedari tadi asyik memakan ramen jumbo itu dengan lahap.

Chanyeol menyeret kursi itu sambil tak berhenti tertawa.

Geumanhae,” kata Kyungsoo dengan kesal. Ia kemudian mengambil duduk di hadapan Chaerin.

“Kalian menertawakan apa sih? Berisik sekali,” ucap Chaerin dengan mulut yang penuh dengan ramen.

“Telan dulu itu menjijikkan,” kata Kyungsoo sambil meletakkan nampan makannnya di meja. Diikuti dengan Chanyeol, Baekhyun, dan Chen.

“Jangan tanya padaku hahahha… aku tidak bisa menjawabnya karena itu hahaha terlalu lucu hahahaha,” ucap Chaneyol sambil memegangi perutnya.

Baekhyun juga terlihat tidak bisa menahan tawanya. “Jangan tanya aku, aku bisa celaka pffttt…,” kata Chen sambil menahan tawa.

Kali ini Seulgi meletakkan sendoknya di meja kemudian mulai membuka mulut, “Ayolah katakan.” Seulgi merengek kepada ketiga pria tersebut, karena pasti Kyungsoo tidak akan mengatakan begitu saja kepada Seulgi tentang apa yang sedang ditertawakan ketiga alien tersebut. mengingat Kyungsoo juga tidak ikut tertawa, ini pasti Kyungsoo menjadi sasaran lagi.

“Jadi… hahahha, aku harus berkata apa ini hahahha,” kata Baekhyun sambil mengatur nafas dan tawanya yang sedari tadi tidak bisa berhenti.

“Katakan apa yang ingin kau katakan. Cepat saja lakukan,” kata Kyungsoo sambil mengaduk nasinya kemudian menyuapnya kedalam mulut.

“Saat Guru Hong sudah selesai dengan materinya dia memberi kami kuis untuk mengisi jam pelajaran yang masih tersisa satu jam. Saat itu kuisnya tentang seberapakah dirimu mengenal diri sendiri,” kata Baekhyun mulai cerita.

“Iya lalu?” kata Seulgi sambil menopang dagu di meja.

“Ada dua babak dan satu babak tersebut ada sepuluh soal. Setiap soal berisi kurang lebih soal seperti ‘Apakah kamu mengerjakan pr tepat waktu?’ soal itu akan dijawab dengan angka 5 sampai 10. Total skor di soal babak dua di kurangi dengan soal babak pertama,” kata Baekhyun kemudian lalu melanjutkan tawanya lagi.

Chaerin masih terlihat tidak peduli dengan Chen, ia masih saja terus menggeluti ramen yang nampak menggoda di depan matanya itu. ia melahapnya dengan rakus.

“Kami semua mendapatkan nilai 5 atau 3. Itu berarti kita cukup baik mengenal diri sendiri. Tiba-tiba Kyungsoo angkat tangan dengan wajah polosnya ia berkata seperti ini ‘Saem nilai saya minus 3 artinya bagaimana?’ Seisi kelas awalnya biasa saja tetapi saat Saem menjawab ‘Benarkah? Apa kau benar-benar menghitungnya? Itu berarti kau tidak mengenal dirimu sama sekali’ Seiisi kelas langsung tertawa terpingkal mendengar itu,” kata Baekhyun panjang lebar kemudian tertawa bersamaan dengan Chanyeol dan Chen. Saat itu juga Seulgi dan Chaerin ikut menertawai Kyungsoo.

“Ba-bagaimana mungkin dia mengerti orang lain jika tidak mengerti diri sendiri?” kata Seulgi masih sambil mengontrol tertawanya.

“Maka dari itu dia cuek seperti itu,” kata Chaerin menyuap ramen ke mulutnya.

“Bukankah itu sangat aneh?” kata Chen kemudian menyuap makanannya.

Poor Do Kyungie,” ucap Chaerin  sambil menghentakkan sumpitnya di meja dengan sedikit keras menandai tandasnya ramen jumbo itu.

“Hei Chaerin,” ucap Seulgi. Kyungsoo menatap Chaerin dengan enggan.

Oppa-mu, beberapa waktu lalu menjadi bahan pembicaraan seluruh sekolah karena wajahnya yang tampan,” kata Seulgi mengalihkan pembicaraan karena sudah tak tega dengan Kyungsoo yang menjadi ssaran ketiga lelaki itu.

“Siapa saja yang memandangnya sampai matanya hampir lepas? Aku akan mencolok kedua matanya itu,” kata Chaerin sabil menggertakkan gigi-giginya.

“Ey… ey… Ey,” ucap Baekhyun yang sudah bergidik ngeri melihat ekspresi Chaerin yang beringas.

“Tetapi memang benar Oppa-mu sungguh tampan,” ucap Seulgi.

“Mau kucolok matamu juga, eoh?” tanya Chaerin yang cemburu kakaknya menjadi perhatian suluh orang.

“Hey, jaga mulutmu,” ucap Kyungsoo, ia merasa kupingnya sudah perih mendengar kata kasar yang diucapkan Chaerin sedari tadi.

“Apakah dia memang tidak bisa bercanda?” ucap Chaerin kepada Seulgi, Baekhyun, Chanyeol, dan Chen.

“Dia orang teraneh setelah kau yang pernah kutemui,” ucap Chanyeol yang asik dengan sekotak susunya.

“Kupikir ia bisa menjadi trending di naver jika sampai foto-fotonya muncul, dengan kata pencarian ‘Tentara Tampan’ atau ‘Yoo Sijin di Kehidupan Nyata’ Semua orang sudah heboh,” ucap Seulgi yang diiyakan yang lain.

“Ini semua gara-gara Appa menyuruhnya pergi ke sekolah menghadap guru. Gara-gara ia sedang tugas di Iran. Aku masih tidak rela jika ada yang memandang dirinya seperti itu kecuali aku,” ucap Chaerin dengan wajah yag agak kesal, ia kemudian meneguk air putihnya dengan ganas.

“Hey, jangan sedih. Masih ada berita buruk yang ingin kita sampaikan semenjak dirimu di skors,” lata Seulgi sambil memandang Baekhyun dan Kyungsoo.

“Apalagi?” ucap Chaerin acuh tak acuh sambil memutar bola matanya.

“Itu, ada yang menyebarkan rumor yang tidak-tidak tentang dirimu. Sampai masuk di website sekolah, kelihatannya orang itu benar-benar tidak menyukaimu sampai ia nekat memasukkan artikel tidak berdasar itu di website sekolah beberapa waktu yang lalu,” kata Baekhyun.

Kali ini Chen membuka suara setelah meneguk airnya, “Tenang saja aku sudah meretas akun website sekolah itu untuk menghapus artikel itu.”

“Kau belum meengenal Chen dengan baik ‘kan? Dia ahli dalam bidang komputer,” kata Chanyeol dengan bangga.

“Terimakasih,” ucap Chaerin dengan datar. “Ngomong-ngmong artikel itu tentang apa?” kata Chaerin.

“Kau yang akhir-akhir dekat dengan kami membuat orang itu merumorkan dirimu sedang berkencan dengan Chanyeol,” kata Seulgi.

“Bagaimana kalau kita membuat semua itu nyata?” kata Chaerin sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Chanyeol yang diiyakan olehnya.

“Gila,” ucap Baekhyun sambil tertawa.

“Lalu di artikel itu juga ditulis kalau kau senang sekali menggoda lelaki tampan. Dalam artikel itu disebutkan bahwa incaranmu selanjutnya adalah Do Kyungsoo,” kata Seulgi. “Kata siswa yang lainnya setelah kutanyai siapa kira-kira pelaku dari tindakan itu, mereka rata-rata menjawab Park Jiyeon. Menurutmu bagaimana?” tanya Seulgi.

“Aku saja tidak tahu Park Jiyeon yang mana.” Jawab Chaerin dengan wajah polos. “Mungkin dia tidak mempunyai pekerjaan yang berarti. Membuatnya mencari masalah dengan mencampuri hidup orang lain. Tidak seperti diriku yang sibuk walaupun berdiam dirumah,” ucap Chaerin.

“Kau sibuk apa? Belajar saja tidak. Kalian tidak sepantasnya menuduh Jiyeon seperti itu,” ucap Kyungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap temannya itu satu persatu.

“Cih, Michigaesseo. Tentu saja aku memikirkanmu Do Kyungie,” kata Chaerin sambil tersenyum jahil. “Aku akan membuktikan nilaiku akan baik di ujian sekolah semester ini. Aku tak akan membiarkanmu merehkanku begitu saja,” ucap Chaerin dengan mata yang berkilat-kilat.

“Woww….., wowww,… wow, the third world war,” ucap Baekhyun sambil bertepuk tangan.

“Bilang saja kau masih menyukainya,” ucap Chanyeol dengan nada yang datar.

Saat itu juga pergerakan sumpit Kyungsoo langsung terhenti. Ia terdiam sesaat membuat Chaerin memendangnya lekat. Kyungsoo hanya teriam sambil menatap lekat makanan dihadapanna itu dengan enggan. Apa Kyungsoo menyukai gadis bernama Park Jiyeon itu?

Saat mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Sehun dari belakang Chaerin mengendap-endap. “Hey,” ucap Sehun smabil memegang pundak Chaerin sceara tiba-tiba.

Chaerin terlonjak kaget sambil membulatkan matanya, mulutnya terlihat berkomat-kamit menyumpah serapahi  Sehun yang sedang tersenyum tanpa terlihat mempunyai dosa sedikitpun  kepada Chaerin.

Sehun duduk di kursi kosong sebelah Chaerin. Chaerin langsung menoyor Sehun membuatnya mengaduh pelan sambil merintih.

“Bisa bersikap seperti perempuan tidak?” ucap Sehun sambil menggerutu.

“Tidak memangnya kenapa,” ucap Chaerin smabil menaikkan dagunya.

“Hey, kenapa wajah kalian terlihat murung? Bertengkar?” ucap Sehun sambil menaikkan alisnya.

Baekhyun, Chanyeol, dan Chen hanya berpandangan satu sama lain.

“Hey, ceritakan saja tentang yakuza AJ,” ucap Chaerin sambil menopang dagunya di meja.

“AJ?” tanyanya lagi dengan nada menggantung. “Kalian ingin aku mengatakan apa?” ucap Sehun lalau menopang kepalanya dengan sebelah tangan di meja.

“Katakan saja apa yang kau ketahui tentang AJ,” ucap Kyungsoo.

“Aku tahu mereka kerena club kami sering dijadikan tempat mereka berkumpul. Tetapi pihak kami telah mengatur sedemikian rupa supaya tidak melakukan hal yang berbahaya,” jawab Sehun.

“Kita berhadapan dengan orang yang salah,” gerutu Chen sambil mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.

“Mana kutahu berandal itu dari bagian yakuza itu. Jika aku tahu aku sudah mundur dan membiarkan lelaki itu dipukuli,” ucap Chaerin sambil mendengus kesal.

“Tetapi jika kau tidak ada disana pasti lelaki itu sudah mengalami semi koma,” ucap Seulgi.

“Jangan salahkan dirimu untuk semua kejadian ini,” ucap Chanyeol.

“Jika ada hal yang mencurigakan, kita akan membantu,” tambah Baekhyun berusaha menenangkan Chaerin.

“Aku menyesal tidak menuruti nasehat Appa untuk tidak berkelahi lagi,” ucap Chaerin. “Eotteohkke?” tambah Chaerin kemudian meletakkkan kepalanya di atas meja.

“Tenang saja, aku sudah melaporkannya pada guru soal kedua berandal itu. Beberapa hari lalu lelaki yang mereka pukuli juga sudah memberi saksi. Mungkin kedua berandal itu akan dibimbing oleh guru konseling,” ungkap Kyungsoo.

“Tetap saja. Itu juga beresiko Kyungie,” rengek Chaerin. Wajahnya sudah memelas seperti anak kucing yang dibuang.

“Berhenti memanggilku dengan nama itu,” ujurnya yang jengkel. Terdengar Sehun yang terkekeh melihat wajah Kyungsoo yang kesal dengan alis berkerut.

“Bukankah itu lucu?” ucap Baekhyun menggoda mereka berdua.

“Lucu kepalamu itu,” umpat Kyungsoo dengan wajah ditekuk.

Chaerin menatap Kyungsoo dengan tatapan yang ditajamkan.

“Bisakah kalian akur untuk sesaat saja. Aku pusing melihat kalian bertengkar terus,” gerutu Sehun.

“Jangan begitu, nanti kau bisa suka denganku sungguhan,” ucap Chaerin yang membuat yang lain tertawa terbahak mendengar respon Chaerin yang begitu santai menaggapi ucapan Kyungsoo yang kadang-kadang menyakitkan hati.

Terkadang melihatnya saja sudah membuat sebagian orang sakit perut dengan ekspresi wajahnya yang cenderung seperti orang yang sedang menderita diare.

“Aku suka gayamu,” kata Sehun kemudian tertawa lagi.

Kemudian Sehun melakukan high five dengan Chaerin.

“Kenapa kalian tidak ada yang membelaku?” ucap Kyungsoo dengan wajah polos.

“Orang bodoh saja yang mau membelamu,” ucap Chanyeol yang kemudian mendapatkan sebuah bogeman dari Kyungsoo tepat di lengannya. Chanyeol terlihat megaduh pelan sambil tak berhenti tertawa.

Apalagi Sehun, ia saking tak bisa menahan tertawanya ia limbung ke bahu Chaerin.

Chanyeol, Chen, Baekhyun, Seulgi, Chaerin dan Sehun berpandangan satu sama lain kemudian berucap, “Poor Do Kyungie.”

To Be Continue…

Halo halo Chaerin kembali nih…. siapa yang kangen. Dia kembali sama Oppanya yang super duper kece. Chawerin juga mulai usil jahilin Kyungsoo. Ketemu lagi munggu depan ya!

Iklan

14 pemikiran pada “Caramelo pt. 8

  1. Ping balik: Caramelo pt. 12 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Caramelo pt. 11 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Caramelo pt. 10 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Caramelo pt. 9 | EXO FanFiction Indonesia

  5. Paling suka sama kata “Mungkin dia tidak mempunyai pekerjaan yang berarti. Membuatnya mencari masalah dengan mencampuri hidup orang lain. Tidak seperti diriku yang sibuk walaupun berdiam dirumah” ini semacam quote. Tp dengan gaya slengekan nya caerin ini kata” kesan nya mlh jd lucu. Wkwkwk
    Jan lama” update nya

    • ya authornya bikin quotes begitu dipengaruhi pengalaman pribadi juga kok wkkwkw… makasih udah baca dan komnetar! Tetep setia nungguin Caramelo ya!

  6. preman kwon,panggilan yang cocok.
    biarpun aku udah baca yang di kyungsoo fanfic indo sampai part berapa itu…?,i’m forget biarpun belum sampe final,tapi tetep aja seru buat dibaca berulang2.
    lanjut dan pelis sampe final.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s