Caramelo pt. 7

caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: Shuutory

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 7

Shuu’s Present this story

“Chaerin the ignorant!”

Chaerin melangkahkan kakinya memasuki rumah. Ia sengaja tak menghidupkan lampu, jika ia melakukannya siap-siap ia mendapat omelan dari ibunya.  Ia menenteng sepatunya di tangan kanan smabil sesekalii menengok ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Wajahnya sedikit tegang, rupanya ia berusaha tidak membuat suara sedikitpun.

“Ibu tahu jika itu dirimu,” terdengar suara seorang perempuan bersamaan dengan menyalanya lampu. Chaerin memicingkan matanya karena silau.

Ia mendapati ibunya sedang berdiri sambil menyandarkan diri ke tembok. Terlihat ibu Chaerin sedang melipat tangan di depan dada sambil memandang Chaerin dengan lekat. Ia yang ketahuan tertangkap basah hanya dapat tersenyum kikuk sambil menggaruk kepala.

“Dari mana?” tanya ibu Chaerin.

“Ibu kenapa belum tidur?” tanya Chaerin dengan wajah polos.

“Ibu tanya kau dari mana?!” tanya ibu Chaerin sambil berjalan mendekat ke arah Chaerin. Membuat Chaerin harus berjalan mundur beberapa langkah.

“Sudah kubilang aku pergi bersama teman-temanku,” kata Chaerin yang ingin membela diri.

“Kenapa sampai malam? Ini sudah hampir jam dua belas,” kata ibu Chaerin yang sedikit mengintimidasi. “Baumu aneh,bau rokok. Kau merokok?”

“Ani!” jawab Chaerin cepat. “Sudah kubilang aku pergi ke club,” kata Chaerin seolah ia tidak berdosa sama sekali.

“Apa? Kau ke club? Aduh…, kepalaku sakit,” kata ibu Chaerin sambil memegang kepalanya. “Kau mau jadi apa, hah?” tambahnya.

“Pemilik club itu adalah ayah temanku eomma,” jawab Chaerin.

“Benar? Kau tidak bohong? Awas sampai bohong kupukul pantatmu,” kata ibu Chaerin sambil berlalu menuju ke lantai atas.

EommaEomma akan kemana?” kata Chaerin sambil mendengus kesal.

“Aku mau tidur,” ucap ibu Chaerin dengan santai.

“Kamarmu dibawah!” jawab Chaerin yang setengah kesal.

“Aku akan tidur di kamarmu. Jika Appa-mu tahu aku menginap disini. Bisa hancur harga diriku,” kata Ibu Chaerin yang sudah menghilang dari pandangan Chaerin.

“Bilang saja kau masih suka dengannya? Memangnya kenapa sih?” kata Chaerin kepada Ibunya. Sebenarnya ia masih tidak tahu alasan dibalik kedua orang tuanya itu berpisah.

Seharian ini yang di lakukan Chaerin tentu saja hal yang membosankan untuknya. Ibunya sedang kembali ke rumah neneknya. Chaerin dirumah hanya makan, tidur, sesekali ia dengan bosan memukuli samsak yang terlihat mengerikan itu.

Setelah ujian semester dua yang akan datang ada turnamen tenis. Ia tadi berlatih tenis dengan pelatihnya dibelakang rumah yang kebetulan terdapat lapangan tenis. Ia sengaja memanggli pelatih Kim untuk mengajarnya tadi pagi, kalau tidak ia akan mati berdiri karena bosan terus melandanya.

Malam ini Chaerin pergi ke markas Caramelo dengan membawa setumpuk buku. Rupanya niat belajarnya untuk menghadapi ujian semester dua yang akan datang sangat kuat setelah mendapatkan omongan pedas dari gurunya.

Ia sudah meminta Seulgi mengajarinya setiap mata pelajaran yang akan diujikan dalam ujian akhir semester yang akan datang. Hari ini yang mereka pelajari adalah matematika. Chaerin sudah duduk manis di meja depan televisi ambil memperhatikan Seulgi yang tengah mengajarinya aljabar yang sempat dilupakannya.

Sedangkan anggota Caramelo yang lain sedang sibuk masing-masing. Chnayeol, Baekhyun, Jongdae sedang bermain biliar sesekali terdengar suara Chanyeol yang tertawa akibat Baekhyun yang tidak dapat memasukkan bola ke lubang.

Sedangkan si brengsek menyebalkan itu sedang duduk di meja makan ditemani laptopnya. Entah apa yang dikerjakannya, tetapi Chaerin terlihat sangat tidak peduli. Ia terlihat serius dengan bingkai yang manghiasi matanya itu.

Chaerin terdengar berseru, “Yeah, aku paham. Aku sudah ingat. Kenapa aku begitu bodoh yang tak mengerti ini semua ya? Apadahal sangat mudah.”

“Muridku pintar sekali. Kau bukan bodoh, hanya tidak mau berusaha saja. Baru berapa jam aku mengajariya tentang ini itu dia sudah paham,” kata Seulgi sambil mengacak rambut Chaerin. Terlihat Seulgi yang bangga terhadap muridnya ini.

“Hei bocah kembar. Jangan mengada-ada. Tidak mungkin Chaerin paham sebanyak itu,” kata Jongdae sambil menopang tangannya menggunakan stick biliar.

“Jangan meremehkanku Chen,” kata Chaerin yang tampak kesal. Chen adalah nama panggilan Jongdae saat berada di China. Entah kenapa Chaerin lebihnyaman memnaggil Jongdae dengan Chen, lebih simple katanya.

Terdengar bunyi langkah kaki yang mendekat. Itu adalah Kyungsoo yang akan duduk di sofa depan televisi sambil melepas kacamatanya. Kemudian ia terlihat meraih remote dan menyalakan televisi.

“Kau mau mengajarinya semua mata pelajaran yang akan diujikan pada ujian semester?” tanya Kyungsoo kepada Seulgi tanpa memandang Seulgi yang notabene adalah lawan bicaranya.

Ye,” jawab Seulgi singkat.

“Dalam waktu dua minggu apa kau yakin? Kau juga harus belajar untuk dirimu sendiri,” ucap Kyungsoo.

“Aku setia kawan Oppa. Aku akan membantunya semampuku,” kata Seulgi sambil tersenyum ke arah Chaerin. Chaerin juga terlihat senang dengan keputusan temannya ini.

“Aku akan memberi kalian soal mata pelajaran yang diujikan di ujian akhir tahun lalu. Biasanya banyak soal yang akan  keluar. Kau juga cukup mengajari gadis itu tentang menghitung saja. kalau teori aku yakin dia akan cepat paham tanpa kau mengajarinya. Terlihat dia yang paham saat kau ajari tadi. Aku akan memberi kalian bonus dengan memberi kalian rangkuman yang kubuat saat aku masih kelas satu dulu Dengan begitu kau tiak repot membagi waktu belajarmu,” kata Kyungsoo masih acuh tak acuh. Ia terlihat mengganti channel tv yang ia tonton.

Terdengar sorakan gembira dari Chaerin dan Seulgi. Kemudian terdengar suara langkah Chen yang mendekat kemudian duduk di sebelah Kyungsoo sambil memasang muka serius.

“Soal kejadian kemarin,” ujar Chen dengan nada menggantung. Membuat Kyungsoo mengalihkan perhatian kepada Chen begitu pula yang dilakukan Seulgi dan Chaerin. Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol menghampiri mereka dengan bergabung duduk bersama Seulgi dan Chaerin di atas karpet. “Kalian menyadari sesuatu tidak?” kata Chen lagi. Membuat alis Chaerin mengerut.

“Menyadari apa? Tolong jangan berbelit,” kata Baekhyun. Chanyeol dan Kyungsoo hanya berpandangan tidak mengerti.

“Apa kalian tahu siapa yang sedang berhadapan dengan kalian selama ini?” kata Chen.

Membuat dahi Kyungsoo mengernyit. Kemudian ia mulai angkat bicara, “Tidak. Kami sama sekali tidak tahu.”

“Ahhh…., bisa gila,” ucap Chen lagi sembil menengadahkan wajahnya ke langit-langit. “Aku saat menghadapi pria cungkring berambut aneh, aku menyadari suatu hal yang ganjal. Pada lengannya saat aku memelintirnya. Aku melihat sebuah tato lingkaran yang mempunyai tulisan AJ ditengah,” kata Chen lagi, kali ini wajahnya terlihat lebih serius.

“Lalu apa maksud tato itu?” tanya Seulgi sambil melipat kakinya. Chaerin hanya mengangguk-angguk, entah mempunyai tujuan apa.

“Kalian sungguh tidak tahu?” kata Chen menatap satu persatu anggota Caraemlo yang lain tidak percaya. Ia terlihat mendesah kasar sebelum pada akhirnya mengacak rambutnya. Kali ini terlihat rambutnya sedikit kusut akibat ulahnya.

“Mereka bukanlah orang sembarangan ataupun gangster tidak berguna. Aku sering mendengar kelompok itu. AJ adalah salah satu perkumpulan Yakuza bersifat raksasa yang terkenal dari Jepang. Mereka telah merambah anggotanya ke negara asia timur seperti China dan Korea. Untuk China sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi kudengar untuk Korea baru-baru ini saja. Kudengar mereka suka sekali memanfaatkan anak muda untuk menjual kokain kepada murid sekolah menengah atas,” kata Chen sambil menatap Chaerin dan Kyungsoo bergantian.

Mereka semua terperangah mendengar hal itu. bagimanapun berurusan dengan Yakuza adalah pilihan yang salah yang pernah dilakukan seumur hidup. Yakuza kalau orang awam sering menyebut mereka dengan gangster. Mereka tak segan untuk membunuh siapa saja yang menghalangi. “Mereka juga sering dimintai melakukan pekerjaan kotor oleh pejabat negara maupun pemilik perusahaan besar untuk melakukan hal yang….., kau tahu sendirilah,” Ujar Chen ragu

“Kuingatkan pada kalian,” kata Chen. “Berurusan dengan Yakuza adalah hal yang tidak mudah. Mereka dapat melukai kalian semau mereka. Terkadang mereka juga mempunyai perjanjian busuk dengan aparat polisi untuk menutupi jejak,” kata Chen panjang lebar.

Saat itu juga para anggota Caramelo menehan nafas semua. Mereka tahu berhadapan dengan kelompok yang salah.

“Chaerin, appa-mu seorang bintang lima ‘kan? Bisa tolong appa-mu untuk melindungi kita dari hal yang tak diinginkan?” tanya Chanyeol memohon.

“Wow… wow… wow….,” ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya di sebelah telinga, matanya melotot, mulutnya terbuka lebar. “Aku bisa dideportasi dari Korea oleh ayahku jika katahuan berkelahi. Ayolah…, sebenarnya aku juga ingin membantu. Tetapi jika aku ketahuan berkelahi lagi. Dia akan mengirimkanku ke kakak perempuanku yang bekerja di luar negeri. Dia tak main-main dengan omongannya. Jikaayahku tahu aku berkelahi di Club waktu itu, kuyakin sekarang aku sudah berada dalam pesawat,” ucap Chaerin wajahnya kali ini terlihat melas.

“Tenanglah kalian. Jangan takut,” ucap Chen menangkan.

“Kita tak boleh gegabah. Kalian tahu, setelah kejadian itu aku tidak menjamin kita akan terlepas dari Yakuza itu dengan mudah. Apalagi jumlahnya yang banyak dan namanya sudah terkenal kemana-mana. Jika ada sesuatu yang aneh tolong hubungi masing-masing. Kita akan menghadapinya bersama-sama,” ucap Kyungsoo sambil menopang tangannya di lutut. Kali ini ia terlihat lebih dan lebih serius daripada yang biasanya.

Malam itu dihabiskan dengan berunding dengan serius. Gara-gara masalah sepele mereka jadi terkena masalah yang jauh lebih besar. Chaerin tahu topik pembicaraan seperti ini sangat berat untuk menjadi kudapan mereka di malam hari. Agak sulit untuk dicerna lebih tepatnya. Ia sedikit merasa bersalah, karena karena ulahnya keselamatan mereka terancam.

Pagi-pagi sekitar jam sembilan, Chaerin dudah bersiap dengan pakaian rapi. Ia mengenakan kaos putih yang dipadu blazer biru laut, ripped jeans berwarna terang, sneakers putih polos juga menemaninya pagi hari ini. Ripped jeans yang ia kenakan terlihat ia tekuk d atas mata kaki membuat mata kakinya terlihat.

Ia melenggang masuk melalui pintu pagar samping sekolah seperti yang biasa ia lakukan jika telat masuk sekolah. Ia memutuskan pergi ke sekolah karena ia bosan dirumah hanya makan tidur serta berlatih olahraga. Pagi tadi ia sudah menghabiskan waktunya untuk berenang. Sekarang ia sudah merasa bosan lagi.

Dengan mengerahkan seluruh tenanganya ia memanjat tembok itu kemudian melompat dan jatuh mendarat dengan mulus di semak-semak yang empuk. Ia terlihat membersiahkan kedua tangannya dengan cara saling menepuk-nepukan tangannya.

Chaerin kemudian berjalan menyusuri sekitar sekolah sambil menghirup udara pagi yang segar. Suasana sekolah sudah sepi karena pelajaran telah berlangsung beberapa puluh menit yang lalu. Sebagai murid yang terkena skors sebenarnya ia terlarang masuk sekolah, tetapi ia mempunyai berjuta cara dan alasan untuk melakukan apa yang ia mau.

Entah kenapa mengitari sekolah yang ia sudah paham betul seluk beluknya terasa sangat membosankan. Ia mempunyai akal busuk untuk mengusir jauh-jauh rasa bosannya yang sudah mencapai ubun-ubun dan tak bisa dikendalikan ini. Diam-diam ia tersenyum penuh kemenangan dan bangga kepada otaknya sendiri.

Terdengar bunyi dahan yang bergoyang tak jelas dari salah satu pohon di pinggir jalan setapak sekolah. Terlihat Chaerin sedang memanjat pohon tersebut sambil mengantongi susu pisang di kedua sakunya. Rambutnya yang setengah kering terurai begitu saja. Katakan Chaerin gila atas semua tindakan anehnya pagi ini.

Ia terus memanjat sampai sejajar dengan sebuah jendela yang mengarah ke lantai dua. Ia terlihat tersenyum seperti kerasukan setan saat mendapati jendela itu terbuka lebar. Ia juga mendengar suara-suara dari dalam rungan itu yang menandakan jika hari ini ada rapat di ruangan tersebut, sepertinya ide gilanya akan berlangsung tanpa ada halangan yang berarti.

Dengan hati-hati ia masuk melewati jendela itu. Ternyata ruangan yang dimasuki Chaerin adalah ruangan OSIS, kebetulan sekali sedang ada rapat. Sehingga disana banyak anggota OSIS yang sedang duduk melingkar di meja persegi panjang. Seingat Chaerin anggota OSIS cukup banyak, tetapi kenapa yang berkumpul hanya sedikit? Apakah hanya anggota penting saja yang ikut rapat?

Terlihat Kyungsoo berdiri memunggunginya. Ia sedang menjelaskan sesuatu di papan. Mungkin biaya yang akan dikeluarkan sekolah untuk festival musim semi?

Chaerin duduk di jendela tersebut sambil melipat salah satu kakinya dan yang lain ia biarkan menggantung. Bukan Chaerin jika tidak melakukan hal gila.

Saat itu banyak anggota OSIS yang terperangah dengan kehadiran Chaerin yang tiba-tiba, apalagi kehadirannya itu tidak memakai seragam sekolah. Chaerin menusuk susu rasa pisangnya dengan sedotan. Ia mulai menyesapnya dan tersenyum kepada anggota OSIS yang sedang menatapnya dengan terkejut.

Chaerin menempelkan telunjuknya pada bibirnya, berusaha membuat para anggota OSIS itu terdiam. Chaerin memandangi punggung Kyungsoo dengan mimik muka sedemikian rupa yang membuatnya seperti orang gila. Ada salah satu gadis berambut cokelat yang menatap Chaerin dengan tatapan yang membenci. Tapi Chaerin tidak terlalu mempedulikannya.

Kyungsoo terlihat menyadari mimik muka aneh dari para anggotanya. Ia menatap satu persatu ekspresi anak buahnya. Ia menyadari bahwa sedari beberapa menit yang lalu para anggotanya terlaihkan fokusnya.

“Kalian lihat apa?” kata Kyungsoo sambil mengikuti arah pandangan anggotanya yang mengarah melewati dirinya. Ia menoleh sedikit kebelakang, beberapa saat kemudian mata Kyungsoo terlihat membulat dengan sempurna.

Kyungsoo menatap Chaerin dengan terperangah. Ia mendapati Chaerin sedang duduk sambil menekuk lutut di jendela. Chaerin dengan santainya tersenyum kepada Kyungsoo sambil menjauhkan botol susu rasa pisangnya. Kyungsoo terlihat berdecak sebal.

Annyeong!” kata Chaerin sambil melambaikan tangan ke seluruh anggota OSIS yang sedang berkumpul.

Banyak anggota lelaki yang terpana melihat Chaerin. Sebagian bahkan terlihat memandang Chaerin dengan tatapan memuja. Sedangkan para anggota parempuan menatap Chaerin dengan tatapan heran yang sulit diartikan lagi.

Kyungsoo mendekati Chaerin kemudian menarik lengannya. “Kenapa kau disini? Bukannya kau itu di skors? Kenapa juga tidak memakai seragam?” kata Kyungsoo pelan supaya anggota OSIS tidak mendengar.

Chaerin menggaruk tengkuk dan tersenyum kepada Kyungsoo, “Aku bosan hanya berguling-guling dikasur. Lagi pula dengan berguling-guling di kasur tidak membuat perutku rata,”

Seperti gaya Chaerin yang biasanya. Ia selalu santai saat mengatakannya, suaranya yang sedikit keras membuat anggota OSIS yang lain tertawa terbahak. Tetapi ada salah satu gadis yang tidak tertawa, rupanya gadis itu tidak menyukai Chaerin.

Kyungsoo memejamkan mata karena saat ini ia pening sekali menghadapi ulah Chaerin yang sudah melebihi batas. Apakah Chaerin itu titisan setan?

“Kau tidak merindukanku?” tanya Chaerin dengan wajah polosnya. Sekian kali Kyungsoo hanya bisa mendesah pasrah. Anggota OSIS ynag lain tengah berbisik-bisik mengenai hubungan Chaerin dan Kyungsoo.

“Kenapa kau tidak pakai seragam?” kata Kyungsoo dengan geram.

“Aku?” kata Chaerin sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku di skors dan seharausnya tidak boleh pergi ke sekolah,” kata Chaerin.

“Kau tahu itu,” ucap Kyungsoo singkat.

“Eyyy…, dengarkan dulu,” ucap Chaerin sambil mengibaskan tangannya. “Jika aku tidak boleh sekolah. Seharusnya pihak sekolah patut bangga, bahkan banyak murid yang diwajibkan sekolah menginginkan tidur-tidur dirumah. Dengan sikapku ini mereka seharusnya boleh membiarkanku tidak pakai seragam. Aku bahkan melewatkan kesempatan itu untuk bersekolah dengan sennag hati,” ucap Chaerin panjang lebar tanpa titik dan koma.

“Tapi bisa tidak pergi kesekolah dengan memakai celana robek seperti itu? Tidak masalah menggunakannya diluar sekolah,” kata Kyungsoo sambil menyeret Chaerin ke luar.

Chaerin menghentikan langkahnya membuat Kyungsoo berhenti dan berbalik menatap Chaerin dengan geram. Terlihat kedua tanduk akan muncul di kedua sisi kepalanya beberapa saat lagi.

“Kau tidak tahu?” kata Chaerin dengan membuka tangannya lebar di depan dada, matanya yang kecil ia lebarkan. “Ini style, style, style. Jangan menyebutnya celana robek, ini destroyed jeans kau bisa juga menyebutnya ripped jeans,” kata Chaerin menekankan kata style-nya berulang. Kemudian dengan geram ia kembali mencengkeram lengan Chaerin

Chaerin mengaduh saat Kyungsoo mencengkeram tangannya kuat. Ia memukul lengan Kyungsoo yang mencengkeramnya, berusaha untuk membuat Kyungsoo melepaskan tangannya yang mencengkaram kuat lengannya. Kyungsoo menyeretnya keluar.

“Aduh… bisa tidak pelan-pelan?” ucap Chaerin sambil menekuk wajahnya.

“Bisa tidak tidak menganggu acara rapat kami?” kata Kyungsoo yang telah berwajah serius. Chaerin memutar bola matanya kemudian mendesah sambil membuka kedua tangannya di depan dada.

Ye, ye, ye…, aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucap Chaerin yang telah kalah telak dengan Kyungsoo. Kemudian ia terlihat mengeluarkan sesuatu dalam saku celananya, itu adalah sebotol susu pisang yang belum ia minum. Ia meraih tangan Kyungsoo kemudian meletakkan susu itu pada telapak tangan Kyungsoo. “Minumlah…, perhatikan makanmu,” ucap Chaerin sambil tersenyum.

Bukannya menerima pemberian Chaerin, Kyungsoo malah mengembalikannya kepada Chaerin. “Tidak usah repot-repot,” ucapnya dengan wajah datar. Ia kemudian berbalik  memutar knop pintu dan kembali tenggelam dalam pintu tersebut.

Blammmmmm…..

Kyungsoo menutup pintu dengan agak keras. Membuat Chaerin terperanjat. Ia sekarang tengah menggerutu tidak jelas akibat ulah Kyungsoo yang kelewat menyebalkan.

Saat memsuki ruangan seluruh anggota OSIS memusatkan pandangannya kepada Kyungsoo yang masih menunjukkan ekspresi tegang. Ia kembali menjelaskan agenda apa saja yang akan diadakan pada festival musim semi nantinya.

Iya berdeham sebelum menjelaskan, “Jadi ada beberapa agenda wajib seperti biasanya. Seperti penampilan band akustik. Tapi tahun lalu diadakan di aula. Tahun ini tidak memungkinkan karena pihak komite menyarankan membuka festival ini untuk murid sekolah lain. Aula kita tidak menampung orang yang banyak. Jadi ada saran?”

Seorang lelaki berkacamata terlihat mengangkat tangannya, “Sekolah kita mengadakan festival musim semi karena mempunyai pohon sakura di pinggir jalan utama. Kurasa kita harus menonjolkan pohon sakura tersebut. Maka dari itu aku menyarankan untuk membuat panggung di ujung jalan. Kurasa akan memberi kesan romantis. Didukung juga dengan musik akustik, bukankah itu bagus?”

Kyungsoo mengangguk pelan. “Aku tidak terlalu mengerti seperti itu. Aku memberi kalian semua kesempatan untuk memberikan suara untuk saran Donghyuk,” ucapnya sambil menopangkan kedua tangan di meja.

Beberapa orang disana terlihat saling berpandangan dan mengangguk-anggik tanda setuju. Mereka satu persatu menyatakan setuju tentang ide Donghyuk.

Brakkk…

 Pintu OSIS dipukul. Kemudian terdengar suara seorang wanita yang menggerutu tidak jelas dari balik pintu.

“Ya! Kwon!” teriak Kyungsoo yang menyadari bahwa pelaku penyerangan itu adalah Kwon Chaerin.

Anggota OSIS yang lain kaget melihat ketuanya terlihat marah besar. Mereka terlihat diam di tempatnya tanpa berani membuka suaranya. Kyungsoo benar-benar mengerikan jika sedang marah.

“Jangan hiraukan dia,” ucap Kyungsoo kepada anggota OSIS yang lain. Mencoba meyakinkan anggotanya dengan perkataannya. “Jadi saran dari Donghyuk di terima,” ucapnya lagi.

Blammmm….

Kyungsoo menutup pintu dengan sedikit kasar. Saat ini Chaerin sudah memasang tampang kesal. Apakah kalian tidak berpikir kelakuan Kyungsoo itu kelewat menyebalkan? Atau Kyungsoo memang menyebalkan sejak ia lahir? Kenapa ada orang yang menyebalkan seperti Kyungsoo?

Chaerin masih menatap pintu bercat putih itu. Ia sesekali memaki pintu tersebut dengan seluruh amarah yang ia punya. Mungkin Chaerin berharap pintu itu bisa menyalurkan rasa kesalnya kepada Kyungsoo.

“Kenapa jika dirimu yang melakukan terasa menyebalkan!?! Apa wajahmu yang mempengaruhinya?” ucap Chaerin sambuil menunjuk pintu tersebut, matanya mendelik menatap pintu tersebut.

“Dasar Kyungsoo brengsek,” ucap Chaerin dan…..

Brakkk….

Chaerin menghadiahi pintu tersebut dengan sebuah tendangan yang cukup keras. Sampai-sampai pintu itu bergoyang setelah di tendang Chaerin.

“Ya! Kwon!” suara rendah itu terdengar dari balik pintu.

Chaerin yang mendengarnya langsung mengkerut. Ia menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dada kemudian memasang wajah terkejut. Lihatlah kali ini ia terlihat sangat menggemaskan.

Ia berlari setengah berjingkat supaya Kyungsoo tidak mendengarnya. “Uwaaaa….” kata Chaerin setelah agak jauh dari ruangan itu. Ia akhirnya berlari kencang menerobos sekumpulan siswa yang baru saja keluar dari kelas mereka masing-masing.

Chaerin melangkahkan kaki menyusuri setiap koridor. Ia beberapa kali melongokkan kepala di beberapa kelas. Ia baru menyadari banyak juga yang mengenalnya, terlihat dari tatapan mereka serta beberapa menggumamkan namanya saat Chaerin lewat. Padahal Chaerin tak tahu satupun dari mereka.

Bukan Chaerin jika tidak jahil. Ia memberikan senyum jahil dan lambaian tangan kepada salah satu siswa berkecamata yang sedang memandangnya lekat. Saat  lelaki itu menyadari Chaerin tersenyum kepadanya, wajahnya berubah menjadi merah dan gugup. Cepat-cepat lelaki itu memalingkan wajah ke arah lain.

Chaerin merespon itu dengan tertawa ringan. Ia merasa seperti artis dengan diiringi tatapan seperti itu kemanapun ia pergi.

“Chaerin!” ada suara lelaki yang  samar-samar diingatnya. Ia lalu diam di tempat sesaat sebelum mendeteksi keberadaan suara lelaki itu dimana. Kelihatannnya suara itu berasal dari ujug lorong.

Ia masih belum lelaki pemilik suara karena pandangannya terhalang oleh beberapa siswa yang sedang berjalan dengan tujuan yang berbeda-beda. Beberapa saat kemudian gerombolan siswa itu terlihat menghilang menampilkan seorang lelaki tinggi berkulit seputih susu sedang melambaikan tangan kepadanya.

Chaerin terlihat tersenyum kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan ia lambaikan tangan itu kuat di udara. “Sehun-a!!!!” ucap Chaerin dengan suara lantang. Membuat beberapa siswa yang sedang lewat menegok ke arah mereka berdua.

“Chaerin-a!!!” ucap Sehun sambil berlari kecil.

Lebih menghayati jika adegan seperti ini di beri efek slow motion. Bukankah begitu? Chaerin tertawa lebar saat menyadari adegan yang ia lakukan seperti di film-film lawas. Berlari ke arah satu sama lain dengan efek slow motion di tengah hujan. Berpelukan dan melepas payung masing-masing di tengah hujan yang mengguyur.

Bukankah itu sangat mendramatisir suasana?

“Aku punya ini untukmu,” ucap Chaerin sambil menyerahkan sebotol susu rasa pisangnya kepada Sehun.

“Ada apa kau memberiku ini?” ucap Sehun sambil menggoyangkan susu tersebut di depan wajah Chaerin.

“Aku tadi ingin memberinya kepada Kyungsoo sunbae. Tetapi dia menolaknya. Mubazir jika di buang, minumlah. Supaya aku tidak sedih,” ucap Chaerin sambil memasnag wajah setengah cemberut.

Sehun tertawa lebar, “Kenapa dengan ekspresimu?”

“Minum saja! apa susahnya sih?” jawab Chaerin membuat Sehun tertawa terbahak untuk yang kedua kalinya.

Sehun mengalungkan lengannya dipundak Chaerin. “Kudengar dari Bodhi kalian bertengkar di lapangan parkir. Kau baik-baik saja?” kata Sehun sambil berjalan.

Chaerin melipat tangannya di depan dada. Kemudian memandang Sehun dengan malas karena ia sedang tidak ingin membahas hal itu.

Majjayo! kami bertengkar,” ucap Chaerin sambil memutar bola matanya.

“Ya Tuhan Chaerin, kalian berhadapan dengan orang yang salah,” kata Sehun tidak percaya.

“Aku sudah tahu itu. Yakuza AJ ‘kan? Chen sudah mengatakannya kepada kami,” kata Chaerin kemudian.

Ye, AJ adalah Yakuza besar di Jepang. Mereka juga melakukan bisnis kotor seperti penjualan organ manusia secara ilegal, human traficking, serta yang paling umum adalah narkoba dan  kasino,” ucap Sehun panjang lebar.

“Kau serius?” kata Chaerin kali ini memandang Sehun lagi sambil membelakkan matanya.

“Ya tentu. Mereka sering ke club kami untuk bersenang-senang. Untuk yang lain kami sudah melarang mereka melakukan hal yang tidak-tidak,” ucap Sehun.

“Kau tahu banyak tentang mereka. Bisa gila aku,” ucap Chaerin sambil mendecak.

“Ya aku tahu banyak. Bodhi yang bercerita padaku,” ucap Sehun.

“Eyyyyy…, kalian sama-sama terlaru kesepian ya? Aku memang kesepian karena tidak ada orang dirumah. Tapi tidak separah dirimu. Pacaran saja dengan Bodhi,” ucap Chaerin sambil tertawa lebar.

Sehun membawa Chaerin ke atap sekolah. Karena Chaerin tidak tahu ingin melakukan apa setelah ini. Pemandangan di atap sungguh luar biasa membuat Chaerin terperangah. Ia menopang tangannya di besi bercat hijau di pagar pembatas. Kemudian Sehun ikut bergabung dengan berdiri di sebelah Chaerin.

“Aku baru tahu bisa melihat kota Seoul dari sini,” ucap Chaerin, beberapa anak rambutnya terbang karena tertiup angin. Membuatnya menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.

“Makanya jangan tidur saja kalau di sekolah,” kata Sehun sambil membalikkan badannya kemudian bersandar kepada pagar. Ia menusuk susu pisang yang baru saja di berikan Chaerin beberapa waktu lalu.

“Eyy…, kau tahu banyak tentangku ya?” kata Chaerin sambil menyipitkan matanya memandang Sehun.

“Seluruh sekolah mungkin juga tahu kelakuan apa saja yang kau buat di sekolah,” ucap Sehun dengan nada yang sedikit tinggi.

Chaerin baru tahu memiliki teman seperti itu rasanya. Rasa yang menjekelkan, tetapi saling membantu. Mendapat teman curhat seperti Sehun yang memiliki nasib mirip dengannya. Ayah dan Ibu yang sibuk dan sering tidak ada dirumah membuat mereka cocok satu sama lain dan cepat akrab.

Hatinya sepertinya telah menghangat beberapa derajat. Ia masih kesal dan jengkel kepada Kyungsoo. Tetapi sangat-sangat berterimakasih juga kepadanya kerenanya ia mendapatkan teman-teman yang selalu membuka diri untuknya seperti Seulgi, Bakehyun, Chanyeol, dan yag baru adalah Chen.. Juga berterimakasih kepada Kyungsoo, Seulgi, Baekhyun, Chanyeol karena mereka telah membuat Chaerin bertemu dengan Sehun.

To Be Continue….

Chaerin yang pentalitan keliatannya mulai penasaran sama Kyungsoo. Mungkin dia baru nemuin spesias baru kyk Kyungsoo wkwkwkkwk… Makasih yang udah baca sejauh ini. Love love ❤ yeayyy anak sekolah btw senin udah masuk ‘kan? Semangat! Jangan lupa like dan komen ya!

Iklan

10 pemikiran pada “Caramelo pt. 7

  1. Ping balik: Caramelo pt. 12 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Caramelo pt. 11 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Caramelo pt. 10 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Caramelo pt. 9 | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Caramelo pt. 8 | EXO FanFiction Indonesia

  6. Kenapa aku malah tertarik sama couple sehun-chaerin 😅😅
    Apa jangan” sehun bakal jadi org ketiga di hubungan cae

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s