TOY – [05] Him – Shaekiran

toycoverr.jpg

TOY

A Fanfiction By Shaekiran

Chanyeol x Irene

romance | hurt | campus life

Chaptered | PG-17

Disclaimer

standard disclaimer applied. Don’t copy  or plagiarism without permisson. Happy reading.

.

Previous Chapter

Prolog |Chapter 1 |Chapter 2 | Chapter 3 |Chapter 4 | [NOW] Chapter 5

.

[PLAY]

—CHAPTER 05—

Chanyeol mendesah berat. Dia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah hampir jam satu siang. Kemana Irene? Pertanyaan yang selalu muncul di otaknya sejak tadi pagi hingga tidak fokus mengikuti kuliah pun kembali mengisi benaknya setelah proffesor berwajah kalem yang tadi mengajar di depan kelasnya mengatakan bahwa pelajaran untuk hari ini selesai dan pamit untuk keluar dari dalam kelas. Oh, dia bahkan baru sadar kalau proffesornya tidak ada lagi di tempat karena tepukan dari teman yang duduk di sebelahnya; Jongdae.

“Kau kenapa?”

Pertanyaan Jongdae rasanya sangat sulit untuk lelaki jangkung itu jawab. Haruskah dia mengatakan dia gelisah karena Irene menghilang sejak tadi pagi dan tidak mengangkat puluhan panggilan tak terjawabnya? Atau perlu Chanyeol jelaskan kalau dia kesal karena Irene tidak menggubris satu pun dari ratusan pesan singkat yang ia kirimkan tadi pagi untuk menanyakan keberadaan gadis itu? Tidak, Chanyeol tidak ingin terlihat protektif—meski sebenarnya memang iya.

“Tidak apa-apa,” akhirnya hanya satu kalimat itu yang meluncur dari bibir ranum seorang Park Chanyeol disertai sebuah senyuman tipis. Mendengarnya Jongdae terkekeh pelan.

“Cih, jangan berbohong padaku. Kau mencari Irene kan? Ku dengar kalau sekarang kau menjadi pacar ke-sekian gadis centil itu.” Chanyeol memutar matanya.

“Ya, aku memang mencari Irene, dan sekarang aku memang menjadi kekasih ke-6 Irene. Tapi kau salah tentang sesuatu Kim Jongdae, Irene bukan gadis centil seperti yang kau maksud.”

Jongdae ternganga. Matanya melebar dan mulutnya terbuka cukup besar. Apa pemuda Kim itu baru saja salah dengar? Ayolah Chanyeol, dari sisi mananya kekasihmu itu bukan gadis centil?

“Ah, begitu ya?” dalam hati Jongdae menambahkan, mungkin kau buta, Park Chanyeol-ssi. Jongdae tidak tau saja jika dia menyuarakan isi hatinya itu, Chanyeol pasti akan menjawab seperti ini, tentu saja aku buta, aku buta karena cintaku kepada Irene. Klise, manusia dimabuk cinta.

Chanyeol akhirnya berdiri dari bangkunya sambil membereskan buku-buku yang tergelatak di atas mejanya dan menyimpan semua peralatan belajarnya itu ke dalam tas ranselnya. Mata coklat Chanyeol nampak sedikit memicing menatap Jongdae yang ia tau pasti tengah menertawai ucapannya beberapa menit yang lalu. Chanyeol pun akhirnya menepuk bahu teman yang cukup akrab dengannya itu dengan ringan setelah menggendong tas ranselnya di punggung—sekedar pamit kepada teman bicaranya itu.

“Aku pergi dulu, Jongdae. Satu lagi, jangan bicara yang aneh-aneh tentang Irene. Sampai jumpa besok.”

💋💋💋

Irene mengucek-ucek matanya pelan. Dia baru saja bangun dari tidurnya yang melelahkan. Tempat tidur di sebelahnya sekarang sudah kosong dan hanya meninggalkan kasur yang kusut karena belum dirapikan. Tunggu, kemana Mino?

Tak ambil pusing, Irene pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Mata Irene menyipit, mengira dia masih mengantuk dan salah lihat, tapi ternyata tidak. Demi Tuhan, siapa yang mengirim seratus dua puluh tujuh pesan dan menghubungi Irene sebanyak enam puluh sembilan kali?

“Kurang kerjaan,” komentar Irene akhirnya sambil menghapus semua pesan masuk dan daftar panggilan tidak terjawab itu dari ponsel mahalnya. Bagaimana tidak, semuanya dari orang yang sama—pacar 6.

“Kau sudah bangun?” suara berat itu menyadarkan Irene yang masih menatap datar layar ponselnya yang kini menampilkan wallpaper berwarna hitam polos. Aneh, bukan seperti kepribadian Irene yang tidak bisa ditebak. Wallpaper itu terlalu polos untuk ukurang seorang gadis liar.

“Hm, sudah. Kapan kau bangun, sayang?” tanya Irene akhirnya kepada Mino yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. Bahkan sekarang Mino menghampiri lemarinya dan mengeluarkan sebuah jas berwarna senada dengan celananya.

“Setengah jam yang lalu.” Irene tidak menjawab, gadis itu masih setia menatap Mino dengan tampilan formalnya. “Aku ingin bertemu dengan ayah.” lanjut Mino kemudian seakan sadar kalau Irene pasti gatal ingin bertanya kemana celana jeans robek dan jaket kulitnya.

“Bersiap-siaplah Irene, aku akan mengantarmu pulang.”

Irene menggeleng ketika Mino berbalik dan menawarkan tumpangan kepada gadis itu. “Kau akan terlambat jika mengantar aku pulang, paman akan marah.”

“Ayah tidak akan marah kalau dia tau aku mengantarmu dulu, dia malah akan senang.”

Irene tertawa sumbang. “Benarkah?” katanya setengah mencebik. Gadis itu nampak menyisir seluruh poninya ke belakang rambut, lalu menatap Mino dengan super lembut namun tegas. “Tidak apa-apa, aku akan pulang sendiri, Mino.”

💋💋💋

Keras kepala. Mungkin kata itu tepat untuk menggambarkan watak Irene maupun kekasih pertamanya itu, Song Min Ho atau yang lebih sering dipanggil Mino. Sekarang pemuda itu tengah berada di balik kemudi sedang Irene dengan wajah datarnya berada di bangku penumpang. Sekeras kepalanya Irene, tapi Mino tidak peduli. Toh buktinya lelaki itu lebih keras kepala dan tetap memaksa untuk mengantar gadis itu dengan alasan Irene tidak membawa mobil—kemarin Mino yang menjemput gadis itu dan membawanya ke kelab—dan Irene tidak biasa naik taksi atau kendaraan umum lainnya. Akhirnya, mau tidak mau Irene menurut juga meski hatinya dongkol bukan main.

“Aku tidak tau kalau kau menolak diantar pulang karena ada kekasihmu yang sudah menunggu di depan rumah.”

Irene yang sedari tadi membuang muka ke arah jendela segera menoleh dan menangkap apa yang dimaksud oleh Mino. Gadis itu memutar matanya jengah. “Aku tidak mengundangnya datang,” kata Irene cepat dan sinis.

Mino hanya mengangkat bahu saja dengan jawaban gadis itu. Tanpa menunggu waktu lama, Mino memarkirkan mobil mewahnya di halaman rumah Irene dan segera membukakan pintu untuk gadis itu.

“Aku tidak bisa mampir, istirahatlah. Aku pergi dulu,” pamit Mino sambil mengecup bibir Irene pelan dan segera pergi dari rumah gadisnya.

Irene tidak ambil pusing. Gadis bermarga Bae hanya melangkah santai menuju rumahnya tanpa menoleh untuk sekedar melambai kepada mobil Mino yang menjauh. Sekarang yang gadis itu inginkan hanya satu, mengusir lelaki jangkung yang datang tanpa diundang itu karena mood Irene sedang tidak bagus.

“Kenapa kau di sini?” tanya Irene akhirnya sambil berkacak pinggang. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. “Kau sudah pulang? Tidak, lebih tepatnya kau mengganti nomor ponselmu?”

Irene tertawa hambar. “Memangnya apa hubungannya denganmu?” balasnya acuh tak acuh. Irene hanya terus berjalan dan mulai mengetikkan password rumahnya.

“Kau bahkan mengganti password pintumu, sayang.”

Irene memutar matanya malas, tidak peduli meski lelaki jangkung itu mulai mengoceh lagi.

“Pergilah,” ucap Irene kemudian sambil masuk ke dalam rumah, tapi sebuah tahan kini mencengkram pergelengannya sangat keras. Irene ingin memekik kesakitan, tapi gadis itu menahannya isakannya karena tidak ingin terlihat lemah.

“Lepas,” perintah Irene, tapi lelaki jangkung di depannya menggeleng. “Tidak, sebelum kau setuju untuk berbicara denganku, Bae Irene.”

To Be Continued

Iklan

8 pemikiran pada “TOY – [05] Him – Shaekiran

  1. Omaygat greget bgt sm ni ff waaaaa…. yaampun irene,, ceye nya di cuekkin gitu aja.. mending disedekahkan kepada yg lebih membutuhkan,, misalnya gue gitu mba irene kkkk😂 next kaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s