GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2Level 3Level 4 — Level 5 — Level 6 — Level 7 — Level 8Level 9 — [PLAYING] Level 10

My heart’s racing again

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 10 — Betrayed Betrayal

In Jiho’s Eyes…

Cosmic Rings yang kuberikan padamu, apa kau masih menyimpannya?”

Aku mengangguk pelan. Mengingat bahwa beberapa hari ini aku dan Baekhyun tenggelam di dalam perdebatan, keberadaan Cosmic Rings itu sempat kulupakan. Padahal sebelumnya aku begitu susah payah untuk tahu tentangnya.

“Kenapa? Apa kau menginginkannya kembali?” tanyaku membuat Baekhyun menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kumengerti.

“Memangnya aku terlihat seolah menginginkan benda yang sudah kuberikan?” ia bertanya dengan nada tidak percaya. Well, mungkin ia kesal karena aku baru saja mencurigainya saat ia mungkin memikirkan ide yang luar biasa.

“Baik, maaf. Jadi, mengapa kau menanyakannya?” tanyaku kemudian.

Baekhyun terdiam sejenak.

“Aku tidak tahu apa cara ini akan berhasil, tapi kupikir Cosmic Rings itu bisa membantuku, jika kau ingin membantu, kurasa.”

“Bagaimana caranya?” aku menatap Baekhyun antusias.

Ia tersenyum kecil. “Apa kau sudah tahu cara kerja Cosmic Rings?” tanyanya.

“Hmm, aku pernah menanyakannya pada Wendy—di hari kita bertemu saat health barku kacau itu—dan dari Wendy aku tahu jika Cosmic Rings bisa mengikat dua player dalam hubungan online dan offline mode. Bukankah begitu?”

“Benar. Player tersebut juga bisa saling bertukar equipment tanpa harus melalui proses trading. Jika kita—maksudku, mungkin kalau kau—”

“—Jika kugunakan Cosmic Rings itu denganmu, aku bisa membantumu tanpa harus ketahuan oleh player lain, begitu? Dan jika kau dalam keadaan terdesak, atau sebaliknya, kau bisa menggunakan equipmentku?”

“Ya…”

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, aku tidak dirugikan. Aku hanya akan kehilangan beberapa potion saja, atau mungkin weaponku akan berkurang jika Baekhyun menggunakannya.

Tapi aku juga bisa melakukan hal yang sama.

“Baiklah, lalu haruskah aku menggunakan amulet itu sekarang?”

“Tidak, jangan.”

“Kenapa?”

Baekhyun menatapku sejenak.

“Apa kau tidak ingin menggunakannya untuk orang lain?” pertanyaan Baekhyun sekarang membuatku terdiam.

“Mengapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak banyak dekat dengan player di sini. Dan juga, dalam waktu dekat mereka mungkin akan berusaha menyerangmu lagi. Aku sudah bilang kalau aku ingin membantumu, Baekhyun.”

“Tapi, mengapa? Kau bahkan tidak mengenalku sebelum ini.”

“Kau bilang kau pernah melihatku beberapa kali, dan tertarik padaku hingga kau menerima tawaran bantuan dariku. Meski aku tahu aku mungkin bukan seseorang seperti yang kau bayangkan, tapi juga bukan seorang egois yang merasa senang saat merugikan orang lain dengan sengaja.”

“Aku mungkin akan menyerang player lain yang levelnya jauh di bawahku, mungkin aku bahkan akan menggunakan equipment milikmu. Bukankah kau tidak ingin melukai player lain?”

Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Baekhyun.

“Kenapa? Anggap saja aku membantumu balas dendam.”

“Apa?” ia menatapku tidak mengerti.

“Aku punya semua rekaman battle turbulencemu selama beberapa hari ini. Kau tidak harus menyerang player tidak bersalah untuk mendapatkan seratus level itu, Baekhyun. Kita hanya perlu mengalahkan seratus player yang terlibat dalam kecurangan. Mereka akan jadi pengkhianat yang dikhianati. Kupikir cara itu lebih adil daripada aku membayangkan kau menyerang player secara random.”

Baekhyun terdiam sejenak, sekon kemudian dia melangkah ke arahku, begitu cepat hingga kutemukan diriku tidak sempat menghindar darinya. Nyeri sedikit kurasakan saat kabut gelap milik Baekhyun melingkupi, sementara ia merengkuh tubuhku.

“Terima kasih,” ucapnya.

Umm, menjauhlah sedikit, Baekhyun. Aku mungkin akan terlogout otomatis jika health barku kau habiskan hanya karena kau berterima kasih.” memang, pelukan Baekhyun tidak membuatku merasakan apapun, tidak juga benar-benar menyentuh permukaan kulitku karena kami sedang berada dalam permainan bukannya kenyataan.

Tapi rasanya berbeda, entah, karena ini pertama kalinya aku berinteraksi begitu dekat dengan seseorang dalam situasi yang membingungkan dan aneh? Mungkin, ya.

“Baik, maaf. Aku punya potion yang kau sukai.” ia melepaskan rangkulannya, sementara sekarang ia pamerkan dua buah potion merah muda di atas telapak tangan kirinya.

Memangnya dia pikir aku akan tergiur pada potion itu sekarang?

“Kapan aku bisa menggunakan Cosmic Ringsnya, Baekhyun?” tanyaku kemudian.

“Kau bisa menggunakannya sekarang.” jawab Baekhyun.

Ia melangkah mundur beberapa langkah, memberiku ruang untuk bergerak. Segera, kukeluarkan dua buah ring berwarna keemasan dengan hiasan permata-permata kecil di sisinya.

Cosmic Rings.

“Baekhyun, bagaimana cara—hey!” aku tersentak saat Baekhyun meraih Cosmic Rings itu dari telapak tanganku saat aku bahkan belum selesai bertanya tentang bagaimana cara menggunakannya.

Mengabaikan keterkejutanku, Baekhyun bergerak menarik tangan kiriku dan memasangkan salah satu ring tersebut di jari manisku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku tak mengerti.

“Apa kau tidak pernah diberi cincin di kehidupan nyata?” ia balik bertanya, kulihat bagaimana Baekhyun menggeleng-geleng karena pertanyaanku—yang pasti dinilainya begitu konyol—sebelum ia memasang ring lain di tangannya.

“Begitu saja?” ucapku makin tidak mengerti.

“Kau tidak memeriksa survival state milikmu? Kau bisa melihat profilku secara keseluruhan sekarang.” Baekhyun berucap.

Lekas, aku berbalik, mengintip survival state—ditampilkan dalam sebuah layar transparan kecil yang hanya muncul jika aku menepukkan kedua tanganku—dan kulihat ada dua buah profil di sana.

Milikku. Dan Baekhyun.

“Aku juga ada di dalam genggamanmu sekarang, Jiho.”

“Apa?” aku berbalik, menatap Baekhyun sementara ia tersenyum kecil.

“Ada beberapa stat dalam profilku yang tidak bisa kau akses, karena Cosmic Rings masih memberi batasan, tidak sebebas invisible mode. Tapi setidaknya, kau sekarang bisa tahu keberadaanku tanpa harus mengirim pesan apapun.”

“Ah… Begitu rupanya.” aku mengangguk-angguk saat Baekhyun menjelaskan tentang akses limited yang masih akan kudapatkan jika aku memiliki Cosmic Rings.

Karena ia ada di invisible mode tentu dia bisa mengakses segalanya, tapi setidaknya aku bisa mengakses profil Baekhyun juga.

“Kau juga bisa menggunakan equipmentku jika kau ingin. Kita bisa menggunakan satu equipment yang sama di waktu bersamaan. Jadi… jika mereka memang menyerangku dalam waktu dekat, aku bisa menggunakan equipmentmu ketika milikku masih direload.”

Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk-angguk pelan. Penjelasan Baekhyun entah mengapa terdengar sama rincinya dengan Wendy, meski Wendy harus menyerangku terlebih dahulu untuk memberiku informasi tapi setidaknya ia memberitahuku juga.

“Oh, hampir aku lupa.”

“Apa? Ada apa?” tanyaku saat Baekhyun berucap.

“Apa kau sudah dengar jika WorldWare akan diluncurkan dalam mobile version? Cosmic Rings juga bisa menjadi alarm penghubung kita dalam mobile version jika kau login, Jiho.”

Ah, jadi Cosmic Rings sejenis dengan GPS, atau pelacak yang biasa orang-orang gunakan. Mungkin, jika aku atau Baekhyun terjebak masalah saat online sementara salah satu dari kami offline, Cosmic Rings ini akan—

“Tunggu, apa tadi kau bilang? WorldWare dalam mobile version?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Taehyung, apa WorldWare benar-benar akan diluncurkan dalam mobile version?”

Taehyung melirikku sekilas, meninggalkan kesibukannya bermain dengan encoding di PC sebelum ia mengangguk mengiyakan.

“Kau tahu darimana? Kurasa aku belum memberitahumu.” ucapnya.

“Ah, aku dengar dari player lain di Country.” kilahku, dari cara Taehyung bicara sekarang, kupikir tidak banyak orang tahu tentang informasi ini. Dan tentu saja, aku tidak mungkin mengatakan pada Taehyung kalau aku mendapatkan kabar dari Baekhyun, bukan?

“Oh, rupanya di Country-mu juga ada hacker sepertiku?” tanyanya masih tidak mengalihkan perhatian dari layar PC.

Hacker?” ulangku tidak mengerti.

“Ya, informasi tentang WorldWare versi mobile hanya diketahui segelitir hacker yang bermain-main di NG Factory.” sahut Taehyung.

“Ah…” aku mendesah pelan, jadi Baekhyun juga salah satu hacker seperti Taehyung? Sampai-sampai dia bisa meretas NG Game Factory dan mendapatkan informasi tentang mobile version. Pantas saja kemampuannya tidak main-main.

“Kenapa kau tersenyum sendiri?” tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh Ashley.

“Oh, tidak. Aku tersenyum karena senang ponselku bisa berguna lagi.”

“Benarkah? Bagaimana bisa? Apa Taehyung membelikan ponsel baru untukmu? Kau biasanya lebih cinta pada keyboard daripada ponsel ataupun makanan.”

“Dia senang karena WorldWare akan dirilis dalam versi mobile.” Taehyung menyahut, sekon kemudian pemuda Kim itu terdengar mengumpat kesal.

“Sial, ini gara-gara kalian berdua, merusak konsentrasiku.” Taehyung menggerutu, dihempaskannya tubuh di sandaran kursi sementara ia menarik dan menghembuskan nafas panjang.

“Kenapa? Kami berdua salah apa?” Ashley balik menggerutu.

“Memangnya kau sedang apa? Sejak tadi kulihat kau hanya mengetik secara acak di atas keyboard. Dan juga, keyboard itu keyboard gamingku, tidak cocok untuk jari-jari sepertimu.” aku balik mengomel. Bisa-bisanya dia mengumpati aku dan Ashley sebagai penyebab kekesalannya sementara alasannya saja tidak jelas.

“Kau tidak lihat? Aku sedang berada di hacker challenge.” tutur Taehyung membuatku memperhatikan layar lebar yang Taehyung hadapi sejak tadi.

“Oh, kau kalah ya?” tebakku melihat ekspresi Taehyung.

“Berkat siapa?” dia melirikku sekilas.

Aku mengangkat bahu acuh. “Kau tidak bilang.”

Meski aku tidak memahami kode-kode komputer atau semacamnya, setidaknya aku bisa membaca ekspresi seseorang dengan cukup baik. Kekesalan Taehyung misalnya, dia jelas baru saja kalah.

“Anak sekolah dasar juga tahu kalau aku kalah.” ucap Taehyung masih dengan nada kesal.

Aku hanya terkekeh mendengar ucapannya. Sekon kemudian, aku teringat bahwa NG Game Factory begitu senang mengadakan demo dengan mengundang playerplayer dari permainan miliknya.

“Taehyung, apa akan ada demo lagi kali ini?” tanyaku, entah mengapa melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk bisa bertemu dengan—tidak, Jiho. Apa kau baru saja berpikir untuk bertemu dengan Baekhyun?

“Kenapa?” Taehyung melirikku—masih dengan tatapan kesalnya tadi.

“Kau akan datang? Terakhir kali, kau katakan kalau playerplayer RPG jauh lebih baik di dalam permainan daripada kehidupan nyata.” Ashley ikut berkomentar.

Aku hanya menghela nafas panjang. Ucapan Ashley ada benarnya, aku memang merasa trauma untuk bertemu dengan player RPG lain karena mereka pada kenyataannya begitu berbeda dengan yang kukenal di dalam permainan.

Aku—yang pada dasarnya tidak punya bakat untuk hidup dalam komunitas sosial besar—pada akhirnya merasa tidak nyaman dan tanpa sadar bersikap canggung pada playerplayer tersebut, berujung pada pembicaraan-pembicaraan aneh mengenai diriku di dalam game, dan akhirnya aku akan menghapus akunku untuk membuat satu akun baru.

Banyak masalah yang akhir-akhir ini muncul di WorldWare, dan membayangkan untuk bertemu salah satu anggota Country saja sudah membuatku merasa jengah. Belum lagi, bagaimana aku harus menghadapi dedengkot-dedengkot Country yang seringkali bermain dengan dompet mereka di dalam permainan?

Yang ada aku justru akan berkeinginan untuk membuat akun baru. Tapi aku tidak bisa melakukannya, tidak di WorldWare tentu saja. Karena sistem pembuatan akun WorldWare menggunakan nomor kartu identitas tiap orang dan scanner untuk visualisasi, jadi walaupun aku menghapus akunku dan membuat satu lagi, semua orang akan tetap mengenaliku.

Hey, kau dengar aku?” lamunanku sontak buyar saat Ashley menyenggol lenganku dengan cukup keras.

“Apa? Ada apa?” tanyaku.

“Lihat? Dia tidak mendengar penjelasanmu.” Ashley berkata pada Taehyung.

Taehyung sendiri, hanya menatapku dengan alis berkerut.

“Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau melamun seperti ini. Kau tidak dengar penjelasanku tadi?”

“Penjelasan apa?” tanyaku.

“Tentang demo.” sahutnya.

Demo? Benar-benar akan ada demo?” tanpa sadar aku berucap antusias.

“Hmm,” Taehyung menggumam, jemarinya sudah sibuk di atas keyboard lagi saat ia kemudian melanjutkan, “akhir bulan ini, atau awal bulan depan, aku tidak begitu tahu kapan pastinya. Yang kutahu, mereka akan menyediakan delapan tempat peluncuran mobile version sekaligus meluncurkan versi 4.2.4 dari versi PC.”

“Lalu? Mengapa mereka melakukannya di delapan tempat?” tanyaku tak mengerti.

“Versi 4.2.4 adalah versi terbaru WorldWare yang disebut-sebut bisa memberi efek ‘perasa’ sungguhan saat kita berada dalam survival mode. Jadi, akan ada rasa sakit sungguhan saat kita diserang, aku tidak tahu rinciannya tapi yang jelas mode survival akan terasa lebih nyata karena menggunakan sensor tubuh.”

“Dan juga, akan ada dua puluh—atau tiga puluh?—set survival tube yang mendukung versi 4.2.4 ini, di masing-masing tempat itu. Kau tahu apa menariknya?  Player yang mendaftarkan diri secara online akan dipilih secara acak di hari demo tersebut untuk masuk ke dalam survival mode 4.2.4.”

“B-Benarkah?”

Taehyung mendengus pelan.

“Aku sudah memberimu informasi serinci itu dan kau masih meragukanku? Keterlaluan sekali, Nona Song.”

“Apa kau bisa meretas sistem onlinenya?” tanyaku mengabaikan kekesalannya.

Taehyung menjawab dengan gelengan samar.

“Tidak, belum bisa. Sistem hanya akan terbuka di hari ‘itu’ dan aturan yang mereka gunakan, tidak boleh ada perangkat elektronik di dalam gedung. Hebat, mereka berusaha menghindari hacker dengan membuat demo semi tertutup.”

Aku terdiam, melihat bagaimana sekarang Taehyung menjelaskan, kupikir hadir di sana hanya akan membuatku menonton bagaimana kesenangan mereka yang beruntung untuk ada di mode survival baru sementara aku hanya duduk dan melihat.

“Ah, kupikir aku bisa datang ke sana…” gumamku tanpa sadar.

“Aku sudah mendaftarkan nama kita bertiga. Tentu saja, setelah aku menghapus tiga nama legal dengan cara ilegal. Kau pikir aku tidak ingin datang ke demo itu meski hanya untuk melihat orang lain bermain? Lagipula, sudah bisa dipastikan kalau hanya player dengan DPS tinggi yang bisa terpilih.”

DPS tertinggi? Ah, sudahlah Jiho, lupakan saja keinginan itu.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kenapa kau melamun di sini?”

Aku mendongak, menatap Baekhyun yang berdiri tidak jauh dariku. Heran sekali, bagaimana dia bisa menemukanku dengan sangat mudah? Padahal ada ratusan tempat di dalam permainan ini yang bisa dikunjunginya.

“Merenungi rendahnya DPS milikku.” aku lantas menyahuti Baekhyun.

“Memangnya kenapa?” lagi-lagi ia bertanya. Ugh, diam-diam aku memperhatikan Baekhyun. Dengan DPS seperti itu dia akan sangat mudah masuk ke dalam list player yang diperbolehkan untuk hadir dalam demo versi 4.2.4 nanti.

“Apa kau akan datang di demo nanti?” tanyaku membuat Baekhyun menatap dengan alis berkerut.

“Mengapa?” tanyanya tidak malah menjawab pertanyaanku.

“Tidak ada. Hanya saja, kau akan begitu mudah masuk ke dalam list player yang boleh datang di demo itu, mungkin juga bisa mencoba versi 4.2.4.”

“Tidak ada yang begitu menarik dari versi itu, selain karena kau bisa benar-benar merasa sakit, atau sejenisnya. Seperti dalam kehidupan nyata.” tutur Baekhyun.

“Temanku juga berkata seperti itu tapi, aku merasa penasaran. Bagaimana rasanya ketika benar-benar ada di dalam permainan yang terasa nyata? Apa kau tidak penasaran?” tanyaku pada Baekhyun.

Sebagai jawaban, ia menggeleng pelan.

“Aku tidak tertarik. Lagipula, cepat atau lambat versi 4.2.4 akan diluncurkan juga secara internasional. Apa gunanya mencoba demo?”

Benar juga. Kuakui, perkataan Baekhyun memang banyak benarnya. Selain karena rasa penasaranku dan kemungkinan kalau Baekhyun juga datang di demo itu, tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku.

Beberapa orang player dari Enterprise berasal dari komplek yang berdekatan dengan tempat tinggalku. Dan secara otomatis mereka pasti mendaftarkan diri juga. Jika mereka beruntung, dan jika aku beruntung, kami mungkin akan sama-sama masuk ke dalam daftar player yang diperbolehkan masuk.

Lalu apa untungnya? Seluruh Enterprise akan tahu seperti apa aku, dan buruknya, aku tak akan bisa menjelaskan tentang kehidupanku yang kacau balau pada mereka. Jika saja aku cukup beruntung, Ashley dan Taehyung akan ada di sana, dan setidaknya mereka tidak akan membuatku terlihat begitu menyedihkan.

Tapi tetap saja, aku hanya akan terlihat tidak berarti di sana.

“Jiho?” aku tersadar saat mendengar Baekhyun memanggil. Ia masih berdiri di tempat yang sama, dengan kabut hitam yang menyelimutinya—mengingat ia berada di dalam after effect—tapi apa dia benar-benar perlu menjaga jarak seperti itu?

“Kenapa kau berdiri di sana?” tanyaku membuat senyum Baekhyun mengembang sedikit. Ia mungkin berpikir jika aku tidak lagi menaruh perhatian di atas keinginanku untuk datang ke demo WorldWare nanti. Padahal, aku hanya mengesampingkan keinginanku itu untuk beberapa waktu.

“Aku mungkin bisa menyerangmu, ingat?” ia mengingatkanku pada hilangnya health barku saat berada dalam radius tertentu darinya dalam after effect.

“Apa kau berencana untuk menyerang seseorang?” tanyaku kemudian.

“Sebenarnya, aku berencana menyerang White Lion dan kawan-kawannya hari ini. Sayang sekali, dia sedang mengadakan wedding.” Baekhyun menjelaskan, ia kemudian duduk di atas salah satu batu berukir yang ada di dekatnya, menatap langit jingga dengan pandangan yang tak bisa kuartikan.

“Memangnya kenapa?” pertanyaanku berhasil merenggut atensi Baekhyun.

“Kau tanya kenapa? Jiho, aku memang ingin segera terlepas dari after effect ini, tapi bukan berarti aku harus mengacaukan momen bahagia orang lain. Meski dalam sebuah game, wedding tetaplah jadi upacara sakral yang tidak seharusnya kuhancurkan.”

Aku mengangguk-angguk mendengar ucapan Baekhyun. Sebenarnya, dalam benakku tergambar bagaimana dramatisnya ketika White Lion berusaha menyelamatkan pairnya di tengah-tengah serangan Baekhyun—dan aku? Mungkin—tapi sayang Baekhyun tak berpikir begitu.

Setidaknya, aku tahu jika Baekhyun bukan seorang egois yang menomor satukan keinginannya tanpa peduli pada keadaan yang dialami orang lain. Meski dia menyimpan dendam pada White Lion, tapi dia bisa mengesampingkan emosinya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” lagi-lagi, pertanyaan Baekhyun membuyarkan lamunanku. Apa aku tanpa sadar tersenyum karena mengingat-ingat kepribadiannya? Terkutuklah kau, Song Jiho.

“Tidak, aku hanya membayangkan hal-hal aneh,” sahutku ringan.

Baekhyun melirikku dengan pandang menyelidik. Sekon kemudian, dia menghembuskan nafas panjang.

“Apa aku boleh mendekat, Jiho?” tanyanya.

Aku memperhatikan ekspresi Baekhyun. Raut muram tampak mendominasi wajahnya sekarang. Kupikir, ia tetap berusaha bercanda denganku meski suasana hatinya sedang buruk.

“Tentu saja, aku sudah membeli beberapa live charge,” ucapku berusaha menciptakan sebuah candaan untuk Baekhyun.

Ia tersenyum kecil, dan bangkit dari tempatnya sedari tadi duduk. Beberapa langkah diuntainya sebelum ia menggapai untaian tanaman yang menjadi peganganku, sedari tadi aku duduk di atas sebuah ayunan.

“Sejujurnya, aku tak pernah bicara sebanyak ini pada player di WorldWare.” Baekhyun memulai pembicaraan, ia berdiri di belakangku, perlahan-lahan tangannya bergerak mengayunkan tubuhku.

“Apa itu berarti baik? Maksudku, keberadaanku dan hubungan kita.”

“Aku juga tidak tahu. Di satu sisi, aku senang menjalani kehidupan seperti ini. Kau tahu maksudku, bukan? Selama ini aku selalu sendirian di WorldWare, dan kupikir kau juga sama sendirinya denganku.”

“Hmm, kau benar. Aku memang seorang penyendiri di sini.” kataku menyahuti ucapan Baekhyun, sementara kubiarkan ia menguras health barku tiap kali ia mengayunkan tubuhku.

“Tapi di sisi lain aku merasa bersalah, dan khawatir. Tidak semua orang di dunia ini baik, Jiho. Dan bisa kukatakan, kalau aku bukan seorang yang baik. Suatu hari nanti, aku pasti akan membuatmu mendapat masalah karena diriku.”

Aku menyernyit saat mendengar perkataannya.

“Mengapa kau pikir kau bukan orang baik?” tanyaku.

“Katakanlah, aku memang terlahir seperti itu. Lantas bagaimana? Bukankah seharusnya kau segera pergi dariku, Jiho?” tanya Baekhyun.

Aku terdiam sejenak. Belum pernah, aku menemukan seseorang yang terang-terangan mengaku jika ia bukan orang baik. Jika diingat lagi, selain di beberapa waktu ketika Baekhyun menyerang player dengan membabi buta dan berkata-kata cukup pedas, kupikir ia tak pernah terlihat buruk.

Ia hanya, kesepian. Sama sepertiku, kami sama-sama menemukan seorang yang akhirnya bisa mengisi kekosongan yang selama ini telah mendominasi. Lalu untuk apa aku berlari darinya ketika pada akhirnya aku lagi-lagi mencarinya?

“Kau bukan seorang yang buruk, Baekhyun. Aku percaya itu. Setidaknya, aku ingat kau telah menaruh kepercayaan padaku. Bukankah aku seharusnya melakukan hal yang sama? Kita bisa saling mempercayai, bukan?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?” aku menatap Baekhyun tidak mengerti.

“Karena sudah percaya padaku.”

Aku menurunkan tungkaiku, menahan ayunan yang kududuki agar tidak lagi bergerak. Perlahan, aku berbalik menatap Baekhyun, ingin tahu seperti apa ekspresinya ketika ia berucap seperti itu padaku.

“Bukankah dunia ini jauh lebih baik jika kita punya seseorang yang percaya pada kita dan bisa kita percayai?”

Baekhyun tersenyum, mengangguk pelan sebelum tangannya bergerak menyentuh puncak kepalaku, mengusapnya lembut dan membuatku terpaku. Aku tahu ia tidak bermaksud apa-apa ketika memberikan sentuhan seperti itu, tapi aku bisa tahu jika sekarang vital sign-ku tidak baik-baik saja.

Jantungku berdegup dengan laju tidak normal karena sikap Baekhyun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

SRASH!

“Kupikir aku bisa sabar menunggu sampai honey moon-mu selesai. Tapi ternyata aku tidak cukup sabar.”

Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Baekhyun. Meski ia berucap dengan nada penuh canda, tapi aku tahu ia tengah serius. Omong-omong, dia sedang mengacaukan WhiteTown sekarang.

Sudah dua hari berlalu sejak White Lion mengadakan wedding megah dengan membagi-bagikan ratusan ribu pouch di jalanan, dan hari ini Baekhyun tiba-tiba saja datang ke Country mereka untuk mengejar beberapa level dari mereka.

Aku sudah memberi Baekhyun catatan nama semua pemain yang terlibat dalam turbulence penuh kecurangan tempo hari. Meski aku merelakan waktu tidurku untuk menulis satu persatu nama itu dan jumlah keterlibatan mereka dalam kecurangan yang ada, kemudian Baekhyun yang mengurutkannya.

Ia katakan, ia akan merenggut setidaknya dua atau tiga level dari player yang paling banyak terlibat. Tentu saja, White Lion, White Tiger, dan Royal Thrope kuyakini ada di urutan teratas. Menggelikan rasanya, menonton duel seperti ini layaknya player lain yang tidak sengaja lewat di dekat Country padahal Baekhyun diam-diam menggunakan equipment milikku untuk duelnya.

Di mata player lain, Baekhyun mungkin terlihat memiliki banyak equipment tambahan meski keadaannya mengerikan. Di mataku, ia tengah bermain-main dengan anggota WhiteTown sementara dia membalas dendam.

“Tiger! Serang dia!” terdengar White Lion berteriak cukup keras.

Aku, masih berdiri di tempat yang sama. Menonton—sekaligus merekam—duel mereka entah mengapa terasa lebih menyenangkan daripada ikut terlibat.

Hurtling fire!” aku terkesiap saat Baekhyun mengeluarkan hurtling fire miliknya, menyerang White Tiger dan refleks membuat White Tiger mengelak dengan menggunakan perisai.

Hal yang lebih membuatku terkejut adalah bagaimana hurtling fire tersebut sekarang mengarah padaku. Segera, aku berusaha berpindah—sial, freeze? Ada apa dengan koneksiku? Mengapa aku tidak bisa bergerak.

Terlalu cepat, aku tidak akan sempat mengelak.

SRASH!

Aku terkesiap saat mendengar suara letupan api khas milik hurtling fire yang—tunggu. Aku tidak apa-apa. Tadinya, aku sudah pasrah dengan memejamkan mata dan siap menerima hurtling fire itu, tapi aku baik-baik saja.

“Jangan menyerang orang-orang yang tidak terlibat dalam duel ini.” kutemukan fungsi indera tubuhku dalam mode survival ketika suara Baekhyun terdengar.

Entah sejak kapan—dan bagaimana caranya—ia kini tengah merengkuhku dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mencekal heaven sword yang kuyakini tadi ia gunakan untuk melindungiku?

Apa dia baru saja melindungiku dari hurtling fire milikku sendiri?

Global chat segera meluap. Semua orang kudengar mengelu-elukan nama Invisible Black dan sikap heroiknya terhadapku sekarang sementara aku masih tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kau baik-baik saja?” pertanyaan Baekhyun menyadarkanku. Kusadari ia menatapku dengan pandangan khawatir. Memang, sejak tadi ia mengkhawatirkanku, bahkan sempat mengirim private chat padaku dan memintaku untuk berdiri sedikit lebih jauh dari arena.

“Ya, aku baik-baik—awas!”

SRASH!

Aku terlambat memperingati Baekhyun saat kemudian sebuah serangan bersarang di punggungnya. Tidak berefek banyak memang, apalagi pada health barnya, tapi setidaknya seseorang berhasil menyerangnya.

“Jangan khawatir. Serangan sekecil itu tak akan melukaiku.” Baekhyun tersenyum menenangkanku, apa ekspresiku dengan kentara memberitahunya kalau aku sedang khawatir sampai-sampai ia bisa berucap—tunggu, apa dia baru saja mengajakku bicara lewat global chat? Apa dia sudah gila?!

Belum selesai aku dengan keterkejutan karena Baekhyun menyelamatkanku dan juga dia yang baru saja mengajakku bicara lewat global chat, ia sudah melepaskan rengkuhannya, tersenyum simpul padaku sebelum ia berbalik dan melanjutkan duel.

Ini tidak baik.

Tidak, bukan keadaannya yang tidak baik, tapi jantungku. Lagi-lagi, jantungku bekerja dengan tidak normal karena tindakan Baekhyun.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

ADUH, MAS CABE, TOLONG, DIKONDISIKAN KEBENINGAN DAN KEDATARANNYA SAMA CEWE LABIL MACEM JIHO YANG SERINGKALI PURA-PURA JUTEK DAN JUAL MAHAL PADAHAL ASLINYA DEMEN. WKWK.

Eh, emang begitu sih imej Jiho di sini, seringkali jual mahal, enggak mau kalah, tapi ujung-ujungnya kalah dan menyerah, sama cabe… TROLOLOLOLOLOL. Nah, ini udah level 10, diriku udah bilang kan kalo bakal ada sedikit bonus setelah level 10 mencungul? Dan yes, bersamaan sama level 10 ini, besok saat publish level 11 bonus itu bakal aku sertain! ^^

Mungkin temen-temen dari Game Over bisa ngejelasin garis besar WorldWare ini dan nyeritain juga (mungkin nanti Baekhyun sama Taehyung yang cerita) soal mobile version dan PC version 4.2.4 yang bakal segera release! (bahasa ente, Rish, kayak beneran ada aja ini game astral ciptaan ente).

Eits, dunia itu enggak jalan di tempat. Rotasi mungkin enggak kerasa karena adanya gravitasi, tapi perubahan di dunia pasti bakal ada, cepat atau lambat.

Siapa yang tahu kalau beberapa belas tahun kemudian game sejenis WorldWare bakal beneran ada? Dan tau-tau diri ini udah lansia pas game kayak gitu beneran ada, padahal belum bisa nikmatin, huft, sesungguhnya bayangan tentang sci-fi ini di satu sisi begitu indah, tapi nyakitin juga dikit-dikit.

NAH, aku kasih klarifikasi kecil juga kalo ternyata jiwa crime-mysteryku itu mencungul karena kebiasaan jadi makhluk nokturna yang beberapa minggu terakhir menyerang!

Bayangin, diri ini bisa tidur dari jam enam sore sampe jam setengah satu malem, terus jam setengah satu malem sampe jam setengah lima kebangun dan ngetik fanfiksi sendirian di tengah gelap… terus tidur lagi abis subuh dan bangun jam setengah tujuh buat ngelanjutin rutinitas.

Terus jam biologis ini otomatis jadi enggak jelas, otak juga kerjanya jadi enggak jelas sampe-sampe yang ada dalem otak waktu ngelamun ya cuma bayangin scene-scene crime nyelekit, kalo engga misteri, kalo engga ya thriller!

Pertanyaannya, sampe kapan kebiasaan buruk ini berlanjut… ;~;

Sekian dulu deh dariku, selamat bertegur sapa sama temen-temen Game Over. See you next week! Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

 

Iklan

38 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Bonus Stage III [Royal Thrope] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 21 [Eden’s Nirvana] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 20 [Black Radiant] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GAME OVER – Lv. 19 [White House] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: GAME OVER – Lv. 18 [WorldWare 4.2.4] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: GAME OVER – Lv. 17 [Fire on the Temple] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  7. Haaahhh…
    Baper berat. Baek udah mulai berani publish nih ye ceritanya, relationnya sama Jiho.

    Tapi dia emang sopan /dalam game iya, tapi in real life, jangan ditanya deh, usilnya gimana… lol/
    Iya emang Baek, wedding orang jangan dibikin kacau ya nak yaa… Jangan karma berlaku di wedding kita nanti, trus di bikin kacau orang laen… /digampar fans Baekhyun sedunia/ #becanda temanteman..

    Intinya, aku sukaaaa banget sama imaGe dia di sini.
    Himneyo Irishnim…

    Shannon

    • XD baek ceritanya udah mulai berani beneran pdkt gitu loh kak… PADAHAL DIA ASLINYA KEK ORANG KURANG WARAS, DI FF AKU RATA2 DIA JADI NORMAL DAN BOYFRIENDABLE GITU XD XD

    • Dear Irishnim,

      Aigooyaa…
      Ya iyalah, orang dia juga beaggle line gitu ya…
      XD

      Mmm, kalo normal, aku rasa gak deh Irishnim. Soalnya, mana ada cowok normal trus vangsatable gitu… eheheheh…
      Tapi kalo boyfriendable, baekposenteu kkol…
      100% setujuh.

      Thanks to Irishnim Baek-ah, your image is became repairable. /lalu digampar Baekhyeon/

      Himnebuseyo~~
      Sincerely,
      Shannon

  8. Ping balik: GAME OVER – Lv. 16 [Epic-T] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: GAME OVER – Lv. 14 [Perfect Match] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: GAME OVER – Lv. 13 [Aftermath] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: GAME OVER – Lv. 12 [His Loneliness, I Understand] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: GAME OVER – Bonus Stage II [Eden’s Nirvana] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: GAME OVER – Bonus Stage I [Tacenda Corner] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: GAME OVER – Lv. 11 [Stigma] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  16. akhir ny bisa ngeliat juga, baekhyun bikin baper terus y, btw bakhyun itu bukan hacker kn? tp dia yg buat game ini kn?
    lanjuttt cemungut eeaaa

  17. Ikutan deg deg ser kayak jiho gara” tuan byun itu wkwkwkwk.. Ff yang di tunggu akhirnya muncul juga walaupun telat 2 hari hehe.. Kelanjutan level 11 dan bonusnya di tunggu thor jangan kelamaan ngepublishnya wkwkwk.. Semangat lanjut author-nim ^^

  18. Uluhhh uluhh.. Jiho udah baper😄ditunggu loh kak Rish next chap nya.. Btw kak.. One and only kok ga dilanjut sih kak.. Padahal suka banget lohh.. Lanjut dong kak Rish.. Pleaseeee.. .
    Oh ya kak Rish.. Udah liat teaser comeback baekhyun belom.. Aku sampe koma 2 hari lohh liat teasernya.. Ala mak jjang😂

    • Mbb ya sayangs :* buakakakakakakakak iya di sini dia mulai baper banget XD one and only sudah lanjut yaa ~~ alhamdulillah, aku waktu liat itu teaser langsung muntaber saking eksaititnya

  19. BONUSSSSSnya bakal di tunggu risssh

    Ya ampun dirimu kok jadi kelambit siiih. Tidur sore malemnya keliaran. Wkwkwk. Gak cape apaa???

    Nah itu dia si jiho sifatnya ampir sama kek gue/ihguecurcol/eeh betewe si cabe menggoda banget di teaser The War Kokobop. Suka laah pokoknya. Imajin dia jadi kena banget disini.

    Udah aaah jadi ikutan baper. Semangat terus rissh

  20. Lanjut nya jgn lama2 rish,,
    menrut pemikiran yg akstral gue pertemuan jiho sma byun cabe bkalan di mulai di acara demo nanti deh.. Kira2 gmna ya reaksi mereka nanti saat bertemu..??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s