[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married – (Chapter 8)

poster When I Must be Married chapter 8.jpg

When I Must be Married (Chapter 8)

By El Byun

Chaptered

Romance, Comedy, Married Life, Angst, Adult

Rating  (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO | Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

Taeyeon SNSD

Sehun EXO | Song Shimin (OC)

Jinji (OC)

EXO’s member and etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost di manapun.

The Liar

Matahari enggan menyengat ketika musim dingin datang di kota hallyu Korea Selatan, Seoul. Bulan Desember menjadi awal turunnya salju. Dari sebuah apartemen yang tak banyak orang tahu. Jendela berembun karena pemanas ruangan di kamarnya. Dinginnya udara luar membuat wanita ini enggan untuk keluar dari persembunyiannya. Tersengar isakan tangis yang tak pernah berhenti setiap malam hingga pagi, seperti hari ini. Pagi ini, seseorang mengetuk pintunya bahkan ia tidak bisa masuk seperti biasanya karena sang pemilik mengganti passwordnya.

“Hyo!” dug.. dug..

“Song Hyohwa! Buka pintunya!” dug.. dug.. dug…

Sepanjang ia berteriak, ia terus menggedor pintu itu. Ia tidak tega membiarkan sahabatnya mati kelaparan. Walaupun sebenarnya bahan makanan yang ia tinggalkan di bawah pintu selalu diambilnya tanpa sepengetahuan dirinya. Tapi sudah sebulan lebih ia melihat temannya sedemikian menyedihkan. Bahkan suatu ketika ia pernah berniat untuk melaporkannya pada orang tuanya. Tapi, ia berpikir bahwa ia sudah berjanji untuk merahasiakan ini semua. Jinji, ia harus sabar melihat sahabatnya menderita sendirian. Walaupun sebenarnya ia tidak tega. Ia juga penasaran, apa yang sebenarnya terjadi padanya dan apa yang Baekhyun perbuat hingga membuatnya sahabat tercintanya menjadi seperti ini?

“Jinji-ya! Eotteokhae??” teriak seseorang dari kejauhan dengan langkah yang setengah berlari.

“Akhirnya kau datang juga Oppa. Sudah sebulan ia memperlakukanku seperti ini.” Ungkap Jinji dengan napas tersengal. Ia sudah menunggu kedatangan baekhyun 2 jam yang lalu. Perasaannya tidak enak, ia khawatir sesuatu terjadi pada sahabatnya.

“Ne, aku hampir saja ketahuan karena harus mengambil kartu passwordnya.” Jawab Baekhyun dengan tergesa. Ia mengkhawatirkannya juga. Setelah membuka pintu, Baekhyun langsung menyapu seluruh ruangan mencari sosok Hyo di sana. Begitu melihat pintu kamarnya sedikit tebuka, Baekhyun meluncur ke satu titik.

“HYO..! Gwaenchana, eoh?”

Teriaknya menghampiri Hyo yang sedang terduduk kaku di tempat tidurnya. Hyo tidak merespon apapun. Tatapannya kosong dan hanya tertuju pada satu arah di depannya. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah karena seharian ia menangis. Badannya dingin walaupun penghangatnya hidup. Untung saja mereka datang secepatnya sebelum wanita hamil ini berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Lagi. Hyo menangis di hadapan Baekhyun dan dilihat juga oleh sahabatnya sendiri.

“Uljima!” ungkap Baekhyun terduduk di bawah melihatnya menangis, ia menangkap pipi chuby hangatnya dan menghapus air matanya. Hyohwa menangkis tangan baekhyun pergi.

“Nappeun… Nappeun!!” ungkap Hyo sambil memukuli dada Baekhyun liar. Ia menangis sejadi-jadinya. Wanita mana yang terima jika ditinggalkan sendirian dengan keadaan hamil seperti ini. Seberapapun usahanya untuk berpikir tenang, bayangan pertengkaran mereka terakhir kali membuat dadanya terasa sakit. Di samping itu ia juga merindukan eommanya setelah sekian bulan pergi dari rumah.

Dalam keadaan hamil seperti ini biasanya seorang wanita hamil selalu dekat dengan eommanya dan bercerita bersama. Bertukar pengalaman bagaimana seorang yang sedang hamil harus lakukan. Entah itu tentang makanan, atau pantangan-pantangan yang harus dihindari, atau bagaimana menghadapi situasi tegang saat proses persalinan?

Pernah terpikir ingin pulang, tapi melihat keadaannya yang sedang hamil hyohwa mengurungkan niatnya untuk pergi. Jika dia pulang masalahnya akan semakin rumit. Mungkin saja ayahnya akan membencinya, atau menyalahkan baekhyun, atau yang paling ditakutkan ia akan dipisahkan dengan baekhyun. Ia tahu peringai ayahnya jika sedang marah. Oleh karena itu, ia bertahan disini menunggu kabar kepastian dari baekhyun.

“Mianhae Hyo, aku terlambat menemuimu. Jinja mianhae?” ungkap Baekhyun penuh dengan nada penyesalan. Untuk sekian kalinya ia menyakiti wanita yang katanya ia cintai itu. Ia diperalat oleh ego dan image yang tinggi hingga rela mengabaikan wanitanya.

“Keumanhae, jebal! Eoh?” pinta Baekhyun yang juga merasakan kesakitan mendalam darinya. Ia sudah cukup membuatnya sendirian, apa lagi melihatnya menangis membuatnya merasa sangat bersalah. Hal ini hanyalah akan membuat Hyo semakin menderita dan stress. Tangis Hyo semakin memuncak, ditambah dengan dehidrasi dan kurangnya asupan makanan membuat mualnya kembali kambuh.

“Huek.. huek…” Hyo memuntahkan seluruh isi perutnya pada pangkuan Baekhyun yang kala itu sedang di hadapannya.

“Hyo, neo gwaenchana?” tanya baekhyun khawatir tanpa memperdulikan rasa jijiknya. Untuk menyelamatkan kesehatan Hyo dan aegy-nya, Baekhyun tetap mengurut leher hyohwa agar mengeluarkan seluruh isi perutnya.

“Jinji-ya, segelas air hangat. Palliwa!” titah Baekhyun tergesa. Baekhyun terus saja membantunya menyelesaikan mualnya.

Setelah selesai baekhyun membaringkan wanitanya pada bantal empuk yang sedari tadi belum dijamahnya. Karena sejak ia datang baekhyun hanya melihat wanita itu duduk dan pasti membuat tulang punggungnya sakit. Hyo terbaring dalam dekapan selimut diiringi suara gemercik air dari dalam kamar mandi kamarnya.

“Oppa belum selesai membersihkan dirinya?” sahut Jinji ketika datang membawakan semangkuk bubur dan segelas minuman untuk Hyo. Ia meletakkannya di nakas dekat tempat tidur dan mulai berbicara padanya.

“Hyo, gwaenchana? Kau demam, jadi kutambahkan lebih banyak rempah di buburmu. Kau mau aku suapi atau makan sendiri?” Tanya Jinji. Ia berusaha untuk tidak membahas apapun sebelum keadaannya membaik.

“Shireo!” jawab Hyo singkat. Ia masih sakit hati dengan perlakuan baekhyun terakhir kali. Setahu jinji, hyohwa tidak pernah memperlakukannya sedingin ini.

“Andwae, jangan lakukan ini untuk bayi-mu. Dia butuh asupan makanan. Ne?” bujuk Jinji bersikeras. Kali ini bayinya lebih penting.

“Aku tak pernah berharap hidupku seperti ini, jinji-ya. Arro?” ungkap Hyo emosional. Matanya tersirat akan keputusasaan yang mendalam.

“Arra. Tapi….” Seseorang menghentikan kata-katanya.

“Aku akan melakukannya.” Sahut Baekhyun yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.

“N.. Nde..” balas Jinji gugup dan bergegas pergi meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya kembali. Dengan mengenakan pakaian rumah yang ia punya di apartemen itu, Baekhyun kembali membujuk Hyo untuk bicara padanya.

“Makanlah selagi hangat!” bujuk Baekhyun sabar sambil mengangkat mangkuk bubur di mejanya dan mengambil sepucuk sendok untuk menyuapi wanitanya.

“Shireo!” tangkis Hyo saat sendok itu hampir mendarat di bibirnya. Bahkan matanya enggan menatap baekhyun. Bibirnya bergetar ingin menangis lagi.

“Jebal, makanlah beberapa sendok! Kau bisa sakit, eoh!” bujuk Baekhyun dengan sedikit penekanan.

“Aku sudah sakit, kau tahu!” Ungkap Hyo penuh dengan penekanan. Jiwanya tertekan selama ini. Baekhyun benar-benar kehilangan akal. Ia tak habis pikir dampak yang diterima oleh Hyo akan seperti ini. Ia menyeka keringat di lehernya yang tidak basah. Lalu…

TTTEENGG!!

Dengan kasar baekhyun membuang sendok ke dalam mangkuk yang sudah diletakkannya di atas nakas.

“AKU JUGA TIDAK PERNAH BERHARAP HIDUPKU SEPERTI INI, HYO!”

Teriak Baekhyun hingga ia berdiri dari tempat duduknya dan menendang kursinya sendiri. Hal semacam ini langka untuk dilakukan oleh seorang Baekhyun. Ini bukan karakter asli yang ia tunjukkan selama ini. Hyo, ia tercengang melihat pria dihadapannya mengamuk. Matanya enggan untuk berkedip hingga beberapa saat. Mulutnya terbungkam karena kata-katanya digunakan tadi sewaktu berbicara dengan Jinji.

<Two days before>

@Baekhyun’s Home

“Yeobo, lusa nanti berita pertunangan Baekhyun akan dipublikasikan bukan? Ah, aku tidak sabar menantikannya.” Ungkap Tn Byun yang terduduk di depan meja makan besarnya bersama Ny Byun.

“Nde. Apa.. oh, andwae! Tidak jadi” Ny Byun menggantungkan kata-katanya.

“Bwo? Ada sesuatu yang mengganjal yang ingin kau tanyakan?” Tanya Tn. Byun mencurigai istrinya.

Ny Byun’s side

Aku memikirkan ini sejak mimpi itu muncul menghantuiku. Oh, anakku… Aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang. Sepanjang aku menemuinya, tak pernah ia membicarakan pertunangannya. Ia hanya mengkhawatirkan kesehatan appa-nya. Bahkan Taeyeon tak pernah diajak untuk datang ke rumah sekalipun. Memang jadwal manggungnya dan Taeyeon sangatlah sibuk. Tapi apakah sulit mengunjungi kami walaupun hanya sekali saja? Sikapnya sangat aneh belakangan ini. Terakhir kali dia bersikap aneh di rumah sakit. Perasaanku juga terasa dekat sekali dengan wanita hamil yang waktu itu aku temui. Dan, Baekhyun tiba-tiba meminta untuk pergi. Saat itu pula aku melihat wanita hamil itu menemui pria yang sepantaran dengan anakku. Walau wajah dan rambutnya tidak bisa kukenali, tetap saja terasa aneh. Seperti memang benar itu mereka. Sudah lama juga aku tidak mendapatkan kabar dari hyohwa. Bagaimana keadaannya atau dia sedang melakukan sesuatu. Aku tidak tahu.

“Yeobo.” Panggilku.

“Wae?” sahutnya sambil mengunyah makanan.

“Apa kau tidak merasakan hal aneh yang dilakukan oleh Baekhyun. Aku pikir dia sedikit… berbeda.” Akhirnya aku mengungkapkannya.

“Berbeda bagaimana?” tanyanya santai. Sepertinya ia tak pernah memperhatikannya.

“Andwae-yo, mungkin perasaanku saja.” Aku menyembunyikannya. Mungkin ia tidak mengalami apa yang aku alami.

“Yeobo, apa sebaiknya kita bicarakan lagi pertunangan ini dengan Baekhyun. Kau tahu, selama ini ia tak pernah mengajak Taeyeon untuk berkunjung ke rumah.” Perasaanku tidak enak jika tak melakukannya.

“Benar..” akhirnya suamiku sadar.

“Bagaimana dengan makan malam keluarga. Eotte?” suamiku menyarankan hal yang aku pikirkan. Aku memang sedang butuh bicara dengan mereka, terlebih lagi baekhyun.

“Makan malam tidaklah buruk!” aku menyetujuinya dan melemparkan senyuman padanya.

<Back to the day>

Author’s side

Hyo semakin tenang dengan cerita-cerita yang diungkapkan oleh Baekhyun. Walaupun begitu, ia tetap menyembunyikan pertunangannya dengan Taeyeon. Kalau tidak, ia benar akan dibunuh oleh wanita yang satu ini. Ia berencana akan membatalkannya sebelum artikelnya muncul di media. Apapun caranya. Namun, sebelumnya ia harus mencari cara agar berita itu dapat ditarik dan dia terlepas dari ikatan pertunangannya dengan Taeyeon.

“Jinja? Abojhi sakit jantung dan ia masih sakit hati dengan appaku?” Ungkap Hyo mengulangi ceritanya.

“Nde. Kita harus mencari cara lain untuk meredamkan amarah mereka dulu saja. Eotte?” ungkap Baekhyun berusaha mencari solusi. Ia begitu hati-hati dalam berucap. Salah sedikit saja, bisa berakibat fatal.

“Nde. Tapi apa?” Tanya Hyo yang dengan polos.

“Molla, ayo pikirkan sambil makan ne?” ungkap Baekhyun sambil menyuapkan sendok demi sendok bubur pada Hyo. Tatapannya mulai hangat dan meninggalkan situasi tegang tadi.

Baekhyun’s side

Jinja, wanita ini benar-benar membuatku cemas. Tapi menakutkan jika terjadi sesuatu yang tidak ia harapkan. Aku merindukan saat-saat di mana ia marah padaku dan memukulku dengan bantal bertubi-tubi. Bahkan rasanya baru kemarin kami bertemu, tapi waktu berlalu begitu cepat. Cheh.. sekarang status kami sudah menjadi mantan suami dan istri. Lalu sebentar lagi menjadi orang tua. Orang tua jahat mana yang memiliki anak di luar pernikahan seperti ini. Aku memikirkan hal ini setiap mengingat hasil USG yang ku dapat terakhir kali.

“Oppa, apa hari ini kau tidak sibuk?” tanyanya disuapan terakhirnya. Ia menghabiskan semangkuk bubur ukuran medium di tanganku. Lihatlah, kulitnya tidak segar lagi seperti terakhir kali kulihat.

“Ne, aku sibuk sekali eoh!” bohongku. Hari ini memang ada jadwal latihan saja tak ada agenda lain. Jadi, aku bisa menemuinya hari ini.

“Mianhae. Aku membuatmu membolos kerja hari ini.” Ungkapnya memelas. Ia merasa bersalah padahal yang seharusnya meminta maaf adalah aku sendiri.

“Ani, aku masih tetap bekerja. Mengurus dirimu benar-benar melelahkan eoh. Aiggo, badanku sakit semua.” Aku berpura-pura meregangkan lenganku. Ia tampak iba dengan keadaanku saat ini.

“Oppa, apa aku benar-benar merepotkanmu. Eoh, apa aku harus membuatkan makanan kesukaanmu? Aku punya sedikit ketrampilan pijat-memijat. Berikan saja pundakmu!” ia terus menyerocos tanpa henti mengkhawatirkanku. Bwo, ia ingin memijat pundakku? Cheh..

“Pundakku?” tanyaku mengulangi.

“N..nde” sepertinya ia ragu. Mana mungkin dia akan melakukan hal itu? Sejak kapan dia bisa memijat, memukul dengan bantal saja rasanya seperti dihantam batu. Tapi dia tak mungkin menolak hal semacam ini kan?

¯kiss.. kiss.. kiss..¯

Memang benar, dia seorang wanita yang sangat tangguh. Ia tak mau kalah denganku. Leherku hampir sakit dibuatnya. Decakkan bibir kami berpacu dengan suara detak jarum jam dinding kamar kami. Tak ada jeda, tak ada sekat diantara kami. Hanya satu-satunya penyekat sekaligus penyatu kami adalah aegy yang dikandungnya. Ia tak pernah lepas dari kehidupan kami. “Ah..” untuk kesekian kali ia menggigit bibirku. Aku melumatnya ia balas melumatku. Aku menghisap salivanya ia pun juga. Seperti perang yang tak pernah ada seorangpun yang akan gugur. Kecuali…

Author’s side

Tok.. tok.. KLEK!

“Mianhae.. Pabbo-ya Jinji!” Jinji merutuki kebodohannya. Ia tidak sadar dengan keberadaan Baekhyun di sisi Hyohwa saat ini. Empat mata itu memperhatikan Jinji dengan wajah terkejut. Begitu Jinji kembali menutup pintu, baekhyo kehilangan selera untuk melanjutkannya lagi. Dan Jinji, ia bingung menyembunyikan wajahnya.

“Pabbo, seharusnya aku tahu hal ini akan terjadi. AARRHG.. Mereka melakukannya lagi di depanku! Dunia ini sudah gila.” Tangannya menggenggam kuat menahannya untuk menggaruk mukanya sendiri karena malu.

Jinji terus mondar-mandir di dapur memikirkan sesuatu. Ia begitu terusik dengan panggilan Tn Song beberapa hari yang lalu.

“Bagaimana aku mengatakan ini? Appa Hyo menghubungiku untuk mencari tahu keberadaannya. Eottokhae?” gumamnya yang masih mondar-mandir di depan meja makan.

KLEKK..

Jinji melihat ke sumber suara. Ternyata Baekhyun yang keluar dari kamar Hyo. Jinji yang merasa malu tidak berani menatap ke arahnya. Ia berusaha mencari kegiatan untuk menghindarinya. Mencari perkakas dapur yang mungkin kotor karena semuanya sudah ia bersihkan tadi.

“Jinji-ya?” Baekhyun menyela kelakuan Jinji yang aneh sejak kejadian tadi.

“Ne?” sahut Jinji singkat dan menghampiri meja pantry yang begitu bersih karena ulahnya.

“Gwaenchana? Eoh, mian. Tadi benar-benar tidak diduga?” Baekhyun mencoba untuk menjelaskan. Ia memijat tengkuknya untuk mengusir rasa malu.

“Arra. Aku seharusnya lebih berhati-hati.” Balas Jinji menerima kesalahannya.

“Eoh, aku akan kembali. Tolong jaga dia dengan baik, ya?” ternyata Baekhyun memutuskan untuk pergi setelah kejadian tadi. Ia merasa tidak enak dengan kehadiran Jinji di sana.

“Chakamman. Tadi, Tn Song menelfonku. Ia mencari keberadaan Hyo. Eotteokhae?” Jinji berhasil membuat Baekhyun menunda kepergiannya. Berita ini sungguh mengejutkan. Seharusnya hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu setelah ujian semester berakhir. Tapi kenapa baru sekarang?

“Kau tidak mengatakan hal apapun kan?” Tanya Baekhyun memastikan bahwa dirinya aman. Jinji hanya mengangguk.

“Tahan hal itu. Aku akan mencari cara untuk mengungkap kebenaran. Tahan sampai aku menemukannya. Ne?” ungkapku lalu meninggalkan apartemen dan kembali ke dorm.

Baekhyun tidak benar-benar kembali ke dorm, ia pergi ke tempat lain yang berhubungan erat dengan masalahnya. Rumah, ia ingin membuat pertunangannya dengan Taeyeon dibatalkan sehingga ia memiliki kesempatan untuk menunjukkan Hyo di depan kedua orang tuanya. Tapi masalahnya, apakah Appa Baekhyun akan mengabulkan permintaan anaknya begitu saja? Dan lagi, bagaimana dengan Taeyeon? Apakah dia akan melepas begitu saja tali pertunangan mereka?

HMakan malam

Terdengar suara benda keramik dan sumpit yang saling beradu. Rumah Baekhyun menjadi saksi pertama sejarah kelakuan Baekhyun. Hanya butuh setengah jam baekhyun untuk sampai di rumahnya. Taeyeon bahkan telah sampai duluan tanpa minta dijemput.

“Abojhi, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ungkap Baekhyun di tengah makan malam mereka.

“Wae? Tapi nanti saja setelah makan selesai.” Jawab Tn. Byun dingin. Ia seperti menghindar percakapan serius dengan anaknya.

Selama makan malam, baekhyun hanya bergeming sendiri. Bahkan hanya 3 sendok suap saja ia makan. Hatinya bargejolak menyiapkan pidatonya. Setelah selesai makan malam, Baekhyun ingin mengungkapkan hal yang selama ini ia ingin ungkapkan.

“Abojhi..” panggilnya.

“Apa kalian sudah persiapkan jawaban untuk wawancara lusa nanti?” Tanya Tn Byun mengalihkan pembicaraan.

“Appa!!” Baekhyun semakin geram.

“Wae?” sahutnya ketus.

“Bisakah Appa mendengarkanku dulu? Apa kau tidak pernah memperhatikan perasaan anakmu ini? Eoh.. Eomma?” ungkap Baekhyun kesal. Dengan pernyataan seperti itu, baekhyun justru yang mendapatkan tatapan intimidasi dari mereka.

“Jangan kekanak-kanakan. Katakan apa yang ingin kau katakan!” ungkap appa acuh. Hal ini semakin membuat emosi Baekhyun meluap-luap.

“Jeosohamnida! Tapi aku ingin pertunangan ini dibatalkan saja!” ungkap Baekhyun to the point. Ia tak mau berbelit-belit. Ia bahkan berdiri dari kursi makannya dan menunduk hingga 90˚ dalamnya.

“MWO? ANAK KURANG AJAR! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” umpat Tn Byun pada anaknya. Ia tidak menyangka putranya akan melakukan hal semacam ini.

“Oppa, apa maksudmu membatalkan pertunangan kita?” Tanya Taeyeon yang juga sedang berada duduk di samping Baekhyun. Eomma Baekhyun yang juga terkejut hanya bisa diam.

“Ije, aku mencintai seseorang. Kalau appa ingin mendapat cucu. Aku bisa memberikannya, tetapi hanya dengan wanita yang aku cintai.” Ungkap Baekhyun hingga membuat orang-orang di sekitarnya memperhatikan dengan ekspresi yang tidak percaya. Sedangkan Taeyeon sudah berkaca-kaca hingga membungkam mulutnya sendiri.

“Baekhyun-ah?” umpat Eomma. Tn Byun berdiri dari tempatnya dengan wajah yang ia tahan. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi.

PLAKK..

Ia menampar Baekhyun dengan kerasnya. Sedangkan eomma Baekhyun terperangah dengan tindakan yang dilakukan suaminya yang kasar itu.

“Yeobo, apa yang kau lakukan?”

“Lihatlah. Ia anak paling durhaka yang pernah aku miliki. Br*ngs*k!” umpat Tn. Byun bertubi-tubi. Ia akan kembali menampar Baekhyun, namun seseorang menahannya.

Taeyeon’s side

“Ije, aku mencintai seseorang. Kalau appa ingin mendapat cucu. Aku bisa memberikannya, tetapi hanya dengan wanita yang aku cintai.”

Apa yang sebenarnya ia maksud? Mencintai seseorang? Bukankah berarti bukan aku yang ia cintai sekarang ini? Hiks..

Mataku terasa basah. Aku berusaha menahan tangisku dengan menutup mulutku.

PLAKK!! Eoh? Andwae..

“Lihatlah. Ia anak paling durhaka yang pernah aku miliki. Br*ngs*k!” Abojhi? Hiks.. aku tidak tega melihatnya begini. Aku sebenarnya penasaran, siapa wanita yang dia maksud? Apa ini ada sangkut pautnya dengan mantan istrinya yang bukan dari kalangan artis itu? Bukankah mereka lama tidak bertemu?

“ANDWAE!!!!” aku berteriak hingga membuat mereka terdiam. Abojhi bahkan ingin menyiksa anaknya dengan tamparan seperti itu.

“Taeyeon-ah?” panggilnya.

“Aku harus beri pelajaran pada anak nakal ini. Dia sudah berani untuk menyakitimu nak..” ungkapnya padaku dengan tatapan yang sungkan.

“Abojhi. Andwae, jangan sakiti baekhyun lagi. Ku akui aku tidak tahu kalau kau menyukai wanita lain selain diriku. Aku juga tidak tahu, apa alasannya menerima pertunangan denganku…”

“Aku.. merasa pada posisi yang salah. Jika aku boleh bertanya, kenapa oppa melakukan pertunangan itu kalau kau mencintai seseorang dan seseorang itu bukan diriku eoh??”

Semua orang menatap penuh harap pada baekhyun. Termasuk aku. Awalnya aku memang sedikit aneh mendapatkan tawaran bertunangan dengannya. Tapi mendengar kesungguhan abojhi waktu itu, aku menyetujuinya. Bahkan sejak lama aku menginginkan hidup berkeluarga dengan baekhyun. Tapi aku lupa. Aku lupa menanyakan kesungguhannya untuk menikahiku dengan jalan pertunangan. Aku terlalu senang mendapatkan baekhyun-ku kembali.

“Aku..tidak ingin menyakiti perasaan appa. Kenapa aku tidak mau menolak? Karena aku tidak ingin penyakit appa kambuh. Di sisi lain aku merasa takut mengatakan bahwa aku mencintai wanita yang orang tuanya dibenci oleh appaku sendiri. Aku tidak salah sepenuhnya bukan?” Sekarang ia mengakuinya. Dia melakukannya semata-mata demi ayahnya bukan karena dia masih mencintaiku.

Hiks.. akhirnya air mataku jatuh. Benar yang aku duga. Ia pasti wanita itu. Tega sekali ia melakukan ini padaku. Ia menipuku secara terbuka tetapi aku tidak mengetahuinya. Itulah kenapa ia tak pernah menyambutku dengan hangat. Menggandeng tanganku saja sepertinya ragu.

BRAK!!! Aku berdiri dan semua menatap ke arahku. Walau sebenarnya aku berat untuk mengatakannya tapi buat apa? Dia bahkan tidak memikirkan perasaanku.

“Baiklah jika itu maumu baekhyun-ssi! Aku menyerah, dan lakukan sesuka hatimu.”

Aku menyentak kursi yang kududuki dan menyambar tasku. Lalu pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan kesal sekaligus kecewa. Aku merasa dipermainkan sekarang.

Author’s side

@Hyo’s Home

Tn Dan Ny Song tampak mondar-mandir menunggu kabar dari Jinji. KRIING!!

“yeobseo? Jinji, bagaimana? Kau sudah menemukan tempat tinggal atau tempat magang Hyo anakku?” Tanya Tn Song bertubi-tubi.

“A..Ajik. Jeosseohamnida Ajhussi, aku belum bisa memberikan informasi tentang keberadaan Hyo saat ini.” Ungkap Jinji yang masih tutup mulut. Ingat, dia sudah berjanji. Mau bagaimana lagi, berkata jujur tapi malah membuat masalah semakin rumit. Atau tidak berkata apapun, namun ia dihantui dengan rasa bersalah.

“Eoh, Jinja? Khamsahamnida Jinji-ya. Kabari aku lagi jika kau mendapat informasi.” Tn Song menutup sambungannya. Ia berpikir sejenak. Aneh jika Jinji tidak tahu kabar tentang anaknya. Terakhir kali memang jinji-lah yang menjadi tujuan anaknya pergi. Namun sekarang seolah jinji bukan bagian penting dari hilangnya hyohwa. Kepikiran akan sesuatu sedang mencelakai anaknya, seseorang sedang menculik anaknya, atau seseorang melenyapkannya. Bahkan lebih dari hal-hal kriminal lainnya yang terpikir oleh Tn Song.

“Yeobo. Akankah kita laporkan kehilangan Hyo ke pihak kepolisian? Aku begitu mengkhawatirkannya. Eotteokhae?” ungkap Tn Song dengan penuh harapan dan rasa cemas.

“Ne. kalau kita benar-benar tidak bisa menemukannya. Kita harus lapor. Apalagi, ia tak pernah mengirim kabar apapun. Aku juga mencemaskannya.” Ungkap Ny Song tak kalah khawatir. Akhirnya surat laporan kehilangan dilayangkan keesokkan harinya.

~~~

Saat sedang menikmati makan siang, Sehun, menantu Tn Song mengawali pembicaraan dengan mertuanya.

“Abojhi, Hyo noona…” Sehun menyindir tentang noona-nya.

“Wae? Aku belum menerima kabar dari kepolisian.” Jawabnya dengan santai sembari mengunyah makanannya.

“Aku.. aku mencurigai Baekhyun Hyung mengetahui keberadaan Hyo noona. Aku yakin dia masih menghubunginya.” Ungkap Sehun mengungkapkan spekulasinya.

“Jinja??” umpat Shimin yang juga mendengarnya sedangkan orang tuanya diam tidak percaya.

“Aku masih belum yakin. Tapi, DO pernah diajak Baekhyun Hyung mengunjungi seseorang yang dirahasiakannya. Dia seperti memberikan perhatian yang berlebih padanya.” Sehun menceritakan apa yang ia ketahui.

“Itu bisa menjadi petunjuk. Tapi tempat itu dimana?” Tanya Tn. Song penasaran.

“Keugae. Apartemen, tidak jauh dari dorm kami. DO hyung tidak tahu nomor berapa yang dikunjunginya. Dia hanya menunggu di luar.” Jelas Sehun. Seketika itu juga Tn Song menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki tempat itu.

Dengan berjalannya waktu, seolah kepergian Hyo menjadi teka-teki yang belum jelas alasan kepergiannya. Tn Song mendapat informasi kalau kampus Hyo tidak mengadakan magang untuk semester ini dan mahasiswi atas nama Song Hyohwa resmi cuti dari aktivitas akademiknya. Hal ini menjadi pukulan besar yang harus dihadapi oleh keluarga Song.

Beranjak dari situasi rumah keluarga Song. Orang-orang sibuk menyiapkan berbagai kelengkapan untuk perayaan malam nanti. Malam yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua orang yang menyambut kedatangan penyelamat di dunia. Tepat malam nanti adalah malam natal. Salju turun dengan lebatnya menutupi atap rumah beserta pepohonan yang ada di sana. Hari yang begitu dingin, tak menyurutkan orang-orang untuk beraktivitas di luar rumah. Berbagai dekorasi natal menghiasi kota Seoul.

@Apartemen

“YA.. Michosseo? Salju turun hari ini.” Rekannya terus mengoceh di tengah kesibukan Hyo menyiapkan mantel dan jaketnya.

“Wae, aku hanya ingin jalan-jalan. Hari ini malam natal Jinji-ya. Kau tak ingat? Seoul pasti sedang merayakannya.” Hyo yang juga keras kepala tidak ingin dikekang terus-menerus di dalam rumah.

“Ani. Maksudku, jalanan mungkin akan licin karena salju. Udara dingin juga tak baik untuk kehamilanmu. Aku pasti kena omel Baekhyun Oppa, jika kau nekat pergi. Ne?” Jinji tak kehabisan alasan untuk mencegahnya. Tapi, sepertinya usahanya sia-sia. Hyo tetap kukuh untuk pergi.

“Kan ada kau? Bilang saja padanya, kau bersamaku. Aku tidak akan lama, aku janji.” rayu Hyo dengan sungguh. Ia tak ingin ketinggalan moment ini.

Akhirnya, keinginan Hyo terkabul. Ia pergi bersama Jinji sahabatnya ke pusat kota Seoul, tepatnya di jalan Gangnam. Waktu itu sudah mulai petang saat mereka sampai di lokasi. Keramaian membuat semangat Hyo bertambah. Karena memang selama ini dia tidak pernah keluar ke tempat ramai seperti ini semenjak perpindahannya. Kerlap-kerlip lampu dan kerumunan orang-orang yang berlalu lalang membuat hyohwa lupa diri.

“Hyo-ya. Ini sudah pukul 9 malam. Sebaiknya kita pulang, ne?” bujuk Jinji dengan susah payah. Setiap jam ia mengajak Hyo untuk kembali.

Di lain tempat, polisi sedang menyelidiki apartemen yang dimaksud. Mereka mencari data penghuni di bagian administrasi. Mereka tidak menemukan nama Song Hyo Hwa maupun Byun Baek Hyun di sana.

“Tuan, ini Sia-sia. Informasi yang anda dapat tidak akurat. Tak satupun nama itu tercantum disini.” Ungkap salah seorang penyelidik.

“Aigoo. Ne khamsahamnida.” Begitu telepon ditutup Sehun kembali bersuara.

“Abojhi. Bagaimana kalau mereka menggunakan nama lain sebagai samaran?” tuduh Sehun menerka.

“Tidak mungkin Sehun. Data pemilik haruslah menggunakan data kependudukan.” Jelas Tn. Song.

“Abojhi. Bagaimana kalau nama keluarga. Misalnya nama saudara?” ungkap sehun ikut mencurigai sesuatu.

“Ne, Baekhyun Hyung punya saudara laki-laki.” Begitu Sehun mengkonfirmasi, Tn Song melaporkannya pada penyidik. Ternyata dugaan Sehun benar, seseorang terdaftar dengan marga Byun di sana.

“Ne?? bisakah Anda mengirimkan foto-nya?” pinta Tn Song saat menghubungi mereka.

Tn Song mengamati ponselnya sejenak lalu menunjukkannya pada Sehun untuk mencari kepastiannya.

“Benar. Dia Byun Baek Boom Hyung, kakak dari Baekhyun Hyung. Wajahnya sama seperti terakhir kami bertemu dengannya. Ia sekarang berada di luar kota. Kemungkinan Hyung menggunakan identitasnya.” Jelas Sehun menganalisis temuannya. Ia yakin dengan bukti yang didapat.

“Geurae? Polisi sudah melihat tempat itu dan tidak ada satu orang pun di sana. Tapi melihat keadaan rumah yang dimaksud, sepertinya ada tanda-tanda kehidupan di sana.” Ungkap Tn Song menginformasikan semua hal yang ia dapatkan dari sana. Istrinya sungguh tidak percaya bahwa Baekhyun telah menyembunyikan putrinya.

@Baekhyun’s Home

Baekhyun masih bersikeras meyakinkan orang tuanya, bahwa keputusannya untuk membatalkan pertunangannya dengan Taeyeon sudah ia pikirkan matang-matang. Ia mencoba membujuk rayu orang tuanya agar permintaannya dikabulkan. Karena beberapa hari lagi berita pertunangannya akan menyebar.

“Appa, bisakah kau tidak menyalahkan keluarga Song. Ne!! Eomma?” Baekhyun sudah kehabisan kata-kata untuk membujuknya. Tapi ia punya senjata terakhir yang sebenarnya bukan keinginannya ia ungkapkan saat seperti ini.

“Appa, Eomma, bukankah kalian masih mengharapkan seorang cucu? Aku akan memberikan kebahagiaan itu jika kalian membatalkan artikelnya, ne?” rengek Baekhyun kekanak-kanakan. Ia galau gelisah karena orangtuanya hanya diam saja.

“Baekhyun-ah, terlambat jika kau ingin membatalkan artikelnya. Mereka sudah mengirimnya beberapa jam yang lalu. Taeyeon yang meminta hal itu dipercepat hari ini.” Ungkap sang eomma memelas. Ia sebenarnya tak ingin masalahnya berakhir seperti ini.

“Bwo? Taeyeon melakukannya? Wae, bukannya dia bilang menyerah waktu itu.” Baekhyun masih tidak percaya bahwa yang menyebarkannya adalah Taeyeon sendiri. Begitu ia mengingat artikel, Baekhyun teringat Hyo lagi, ia lalu menghubungi Jinji yang katanya sedang bersamanya.

Tut tut tut..

Tak lama panggilan itu terhubung. “Jinji-ya. Berita buruk. Singkirkan berbagai macam alat untuk mengakses media yang dimiliki Hyo. Jangan biarkan ia melihat siaran di televisi, ne?” perintah Baekhyun dengan terburu.

“Jinji-ya. Kau mendengarku?” teriak Baekhyun karena lawan bicaranya tidak member respon.

“O..Oppa, Hyo sedang melihat dirimu di televisi, bersama TAEYEON? Apa kau gila? Kau menghianati Hyo dengan cara seperti ini?” umpat Jinji kesal. Mereka tengah di trotoar jalan gangnam di persimpangan toko elektronik. Tayangan berita pertunangan baekhyun dengan Taeyeon terpampang jelas di sana.

“Eodiya? Neo, Jinji. Aku bisa jelaskan padamu, ne?.. Jin..” saat Baekhyun akan melanjutkan kata-katanya terdengar suara lain yang mengambil alih ponselnya.

“Oppa..” suaranya terdengar parau. Sudah dipastikan hatinya sedang hancur saat ini. Baekhyun mengenali dengan jelas suara itu. Ketakutan mulai tersirat di wajahnya.

“H.. Hyo? Eodi? Aku bisa jelaskan padamu eoh!” bujuk baekhyun merajuk.

“Aku mencintaimu, tapi kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Hiks.. Dia mantan kekasihmu? Arrasseo..” suaranya bertambah parau karena air mata mulai berjatuhan di pipinya.

“Aku juga mencintaimu. Neomu.. neomu.. ne?” suara Baekhyun terdengar berbisik. Itu karena ia berbicara di depan kedua orangtuanya.

“Mianhae…” tut.. tut.. tut.. sambungan teleponnya diputus.

“Hyo.. Hyo.. Mianhae mwo? Aishh..!!” Baekhyun mengumpat pada dirinya sendiri.

Orang tua Baekhyun mendengar semua percakapan itu. Mereka masih tidak percaya bahwa selama ini Baekhyun menyembunyikan hubungannya dengan Hyo. Yang sangat disayangkan adalah sekarang ini hubungan mereka menjadi bertambah tidak jelas karena Baekhyun mempunyai status baru yaitu seorang tunangan dari Taeyeon. Baekhyun juga tak habis pikir bahwa mantan kekasihnya dapat bertindak sesadis ini.

“Abojhi, eomma. Naega.. jjosseohamnida.” Ungkap Baekhyun sambil menunduk dalam.

“Aku pergi. Aku akan menemui Hyo dan membawanya menghadap kalian. Aku akan mengabulkan permintaan kalian untuk mendapatkan cucu. Ani, kami akan segera memberikan kalian cucu. Kha..” jelas Baekhyun sebelum ia akan pergi.

“Chakkaman.” Eomma Baekhyun menghampirinya dan menundanya pergi.

“Apa Hyo sedang mengandung? Ne?” tanyanya mencurigai.

“Ne Eomma. Deul.” Ungkapnya membenarkan. Eomma yang terkejut segera saja kegirangan. Ia gembira mendengarkan kabar bahagia ini.

“Deul? Aegy?” tanyanya lagi memastikan. Baekhyun hanya mengangguk meng-iyakan.

“Yeobo, kau dengar. Kita akan memiliki dua cucu sekaligus. Omo, kenapa kau tidak mau menceritakan ini dari awal? Aku hampir mati terus memikirkan mimpi Eomma. Palliwa, bawa Hyo kemari dengan selamat. Ne? kha..” eomma Baekhyun terus saja membicarakannya hingga Baekhyun meninggalkan rumah diantar oleh Eommanya.

@Gangnam’s street

Hyo’s side

“Mianhae..”

Apa hubunganku akan berakhir seperti ini? Hiks.. Sejak beberapa waktu lalu air mataku terus mengalir mengiringi berita yang muncul di televisi saat ini. Yah, aku memandang nanar salah satu televisi yang dipajang di etalase toko di depanku. ‘Oppa, kenapa kau membuat keputusan bodoh ini?’ pikirku.

“Hyo, Gwaenchana?” jinji sahabatku begitu mengkhawatirkanku. Ia sabahat terbaik yang aku miliki saat ini.

“Ne, gwaenchana. Ayo kita pergi dari sini. Mian, selama ini telah menyusahkanmu.” Aku salut dengan kesetiaannya padaku. Banyak kebohongan yang ia lakukan untukku.

“Hajiman. Kau tak pernah menyusahkanku Hyo. Sahabat seharusnya seperti itu. Khaja!” ia menggandeng tanganku dan mentitahku berjalan di jalan yang licin ini.

Setengah kami berjalan, kakiku merasa kaku karena dinginnya udara. Dengan keadaanku yang sudah hamil besar, membuatku mudah lelah. Aku berencana untuk mengajak Jinji memanggil taksi saja.

“Jinji-ya, kita panggil taksi saja kemari eoh. Kakiku sudah tidak kuat untuk berjalan.” Bujukku.

“Ne. eoh, aku akan membelikanmu susu hangat dulu. Tunggulah disini. Sebentar saja. Ok?” Jinji berjanji meninggalkanku hanya sebentar. Ketika itu aku mengambil ponselku untuk menelfon taksi.

DUK..

“Eoh, jjeosseohamnida.” Beberapa anak kecil berlari melewatiku dan menyenggol lenganku hingga ponselku terjatuh. Setelah mengatakan itu, mereka langsung pergi. Aku berniat untuk mengambilnya, tetapi sepertinya cukup jauh terlempar.

Author’s side…

Baekhyun tampak terburu mengendalikan kemudinya di tengah jalan yang licin. Ia segera saja menangkap GPS lokasi ponsel terakhir kali ia menghubungi Hyo. Deg.. perasaannya mendadak tidak enak. Seperti terasa sesak di dadanya. Karena hal tersebut, pandangannya berkali-kali tidak fokus. Lalu ia memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan dan menghubungi Hyo ataupun Jinji. Seberapapun jarak mereka, panggilan itu dengan anehnya langsung terhubung.

“Yeobseo. Oppa, tolonglah Hyo.. Palliwa..” suara yang mirip Jinji itu terdengar tidak baik. Ia mengatakannya tidak dengan jelas seperti sedang dikejar sesuatu.

“Chakkaman, aku sebentar lagi sampai. Tunggulah di sana! Eoh..” jawab Baekhyun dengan terburu juga. Inikah jawaban dari perasaannya yang tidak enak itu?

@Lokasi

Banyak orang yang mengerumun di salah satu pelataran toko. Dan Baekhyun segera membanting pintu dan berlari menghampirinya.

“JJeosseohamnida. Permisi.” Ia meniti satu persatu orang yang menghalangi jalannya untuk mencari sosok yang dicarinya.

“Oppa? Palliwa..” teriak Jinji histeris saat ia menemui Baekhyun dihadapannya. Ternyata Hyo tengah tak sadarkan diri di sana. Mengingat udara yang dingin dan bersalju, Baekhyun reflek melepas jaketnya untuk menyelimuti hyohwa. Tanpa ba-bi-bu, ia segera menggendongnya menuju mobil yang ia kendarai tadi.

“Bukankah itu Baekhyun EXO?? Kyaa…”

“Ne, bagaimana bisa dia ada disini?”

“Wanita itu sepertinya tidak asing ya?”

Beberapa orang membicarakannya, bahkan ada yang mengambil gambar dari moment tersebut. Hal ini karena Baekhyun tidak menggunakan penyamarannya. Bahkan ia melepas mantelnya demi menghangatkan Hyo.

Baekhyun meletakkan tubuh hyo dengan susah payah di kursi belakang. Bukan karena berat badannya yang bertambah. Ia sudah tidak perduli. Hanya saja, bagaimana memposisikan tubuh hyo agar kepalanya tidak terbentur pintu mobil dan area perutnya tidak terantuk sesuatu atau terlalu tertekan karena akan membahayakan calon bayinya.

“Oppa, mereka mengetahui identitasmu?” Jinji sedikit was-was. Ia duduk di sebelah hyohwa dan menyandarkan kepala sahabatnya dipelukkannya.

“Biarkan saja, bukankah itu baik. Berita pertunanganku dengan Taeyeon akan dihilangkan.” Ia dengan santai menjawabnya.

“Mwo? lupakan, sekarang cepatlah ke rumah sakit sebelum pendarahannya semakin banyak!” ungkap Jinji yang sudah diujing kesabarannya.

“NE? PENDARAHAN? BAGAIMANA KECELAKAAN SEPERTI INI BISA TERJADI?” ia marah sejadi-jadinya.

“Nanti aku jelaskan setelah sampai di rumah sakit. Aku sudah memberitahu orang tuanya. Mereka sudah mencurigaimu. Sebelum mereka salah paham, baiknya mereka mengetahuinya lebih awal bukan?” ungkap Jinji melebihi dugaan yang Baekhyun harapkan. Laju mobilnya sudah melebihi batas normal.

“Terserah saja. Yang terpenting keselamatan Hyo dan aegy-ku.” Ia tidak mengetahui yang sebenarnya akan terjadi padanya.

HSong’s house

Semua orang beranjak sibuk setelah jinji mengatakan yang sebenarnya kepada Tn Song. Terlebih Ny Song yang terus merengek akan ikut. Shimin apa lagi, ia bahkan sampai menangisi ayahnya karena terus melarangnya ikut. Usia kandungan shimin tidaklah jauh dari hyohwa, bedanya shimin tidak mengandung bayi kembar. Namun cuaca yang bersalju dan dingin mengalahkannya untuk ikut. Bahkan sehun juga melarangnya.

“Palli kajja! Shimin, kau tidak usah ikut. Besok saja kalau situasi sudah membaik. Berhati-hatilah dengan kehamilanmu!” titah sang appa mengintruksikan dan menantunya Sehun mengikutinya untuk pergi.

“Ne appa. Ucapkan salamku untuk Hyo Unnie. Oppa, kabari aku saat kau sampai di sana!” Sehun mengangguk lalu menancapkan kecupan di kening istrinya.

@Hospital

“Dokter, selamatkanlah mereka. Jebal!” pinta Baekhyun pada suster jaga saat Hyo masuk ke dalam ruang gawat darurat.

“Kami akan lakukan yang terbaik. Kami akan memeriksanya dahulu, apakah kandungannya masih aman.” Ungkap sang dokter lalu beranjak pergi dan ruangan di tutup. Baekhyun mengalihkan pandangan pada jinji sahabat hyohwa yang juga cemas di sana.

“Jinji, katakanlah! Bagaimana Hyo bisa sampai pendarahan seperti itu? Aku sudah peringatkan kalian untuk tidak pergi. Lihatlah, dia juga hampir membeku kedinginan.” Baekhyun mengomelinya. Jinji takut tapi juga khawatir. Tidak mungkin dia tega menelantarkan sahabatnya sendiri.

“Oppa, mian. Tapi, Hyo sendiri yang ingin pergi. Ia terus membujukku. Aku tidak tega melihatnya depresi setiap hari. Jadi, kami berjalan-jalan di daerah Gangnam. Waktu kami pulang ia ingin memanggil taksi karena kakinya lelah untuk berjalan. Tapi sebelum itu… ini kesalahanku juga.. aku meninggalkannya untuk membeli susu hangat karena aku lihat wajahnya sangat pucat karena kedinginan. Saat aku kembali ia sudah pingsan seperti yang kau lihat tadi.” Jinji menceritakan kronologis kejadiannya.

“Aigoo.. kenapa sebelumnya kalian tidak segera pulang kalau tahu semakin dingin jika berada di luar? Jinja? Babo-nya?” umpat Baekhyun.

“Mian, tapi sebelumnya aku terus membujuknya untuk pulang tapi dia tidak mau. Katanya ia sudah lama tidak melihat kerumunan banyak orang, jadi aku biarkan saja. JJeosseohamnida oppa! Aku benar-benar menyesal.” Jinji terus memohon pengampunan pada Baekhyun.

Sudah sekian menit mereka menunggu di depan ruang instalasi. Tapi dokter tidak segera datang. Baekhyun yang mengkhawatirkannya bahkan tidak bisa duduk tenang menunggunya. Ia terus mondar-mandi di depan pintu. Lalu sesaat kemudian seorang dokter akhirnya keluar untuk menginformasikan keadaan Hyo.

“Ny Song banyak mengeluarkan darah bahkan air ketubannya hampir saja kering. Ia harus dioperasi segera untuk menyelamatkan bayinya. Detak jantung Ny Song juga melemah. Ia harus segera mendapat tindakan.” Jelas sang dokter yang berseragam abu-abu itu.

“Ne? Dokter lakukanlah untuk menyelamatkan mereka! Tolonglah dokter!” Baekhyun terus merengek.

Spoiler->

“Kami tidak bisa bertindak sebelum pihak keluarga menandatangani formulir persetujuan. Anda-pun bukan suaminya, sebaiknya anda hubungi keluarganya.” dokter menolak permintaan segera dari Baekhyun.

“Aku sudah menghubunginya dokter. Mereka bilang akan segera datang.” Sahut Jinji.

“JINJI!” terdengar teriakkan dari jauh.

“HYUNG!!” lagi

PLLAK!!!!

“Br*ngs*k!!……..”

“Jeosseohamnida.. Abojhi!”

TBC

Hayo, siapa yang mau tebak endingnya? Author gk mau cuap2 banyak. Yang sadar diri aja, komen ntar kubales. Mian, author gak jahat kok #haha (kibar bendera putih) #menyerah

Sampai jumpa di chapter 9: “my critical time”(spoiler lagi..) ^.^ tapi sepertinya chapter 9 bakalan telat aku kirim, karena masih berantakan belum saya sentuh sama sekali. Author juga masih sibuk ngurusin chapter 10. Tapi ku usaha kan bisa deh.. mohon doanya.. #amin

Iklan

17 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married – (Chapter 8)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Prologue) | EXO FanFiction Indonesia

    • wahaha.. tungguin aja minggu depan. klo ang udah jadi author bakalan kirim kok. lg on the way soalnya. xixixi 😂

      keep reading yah.. makasih uda komen 😘

  3. Yah yah yahh… itu hyoo selamatkann?? Plisss kak! Blang kalau hyo akan baik2 saja..
    Trus tu taeyeon kenapa lagi pake umumin ke media segala? Padahal udah blang menyerah..
    Huahhh endingnya harus bahagiaa titik /digampar author/
    Jebal kak el, tlong selamatkan hyo dan anaknya, dan bahagiakan baekhyo…
    Jangan biarkan mereka menderita terlalu lama..😭😭
    Gak kuat ahh..
    Udh, cukup berpidatorianya..
    Semangat kak el /masih sama/ 😂
    Fighting -,-

  4. duuh.. puncaknya ini.. bagaimana endingnya?? makin penasaran.. masih semangat menunggu kok tor.. semangat juga yaa tor nglanjutin ceritanya hhe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s