[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür – 6- Guntur dan Diajeng

die geheime tur- cover.jpg

Tittle : Die geheime Tür

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Campus Life, Friendship, Night life

Rating : PG-17

Cast : Jonathan Virgio S (OSH) (main cast)

Additional Cast

  • Guntur Putra Mandala (KAI)
  • Keynal Mahesa (PCY)
  • Antares Praditya (BBH)
  • Alandio Fazzikri Mulhaq (DO)

Akan ada pemeran wanita pastinya yang nantinya akan muncul seiring berjalannya cerita~

 

Summary : Aku tidak pernah memikirkan jika aku mulai membuka pintu itu akan ada ledakan dahsyat yang terjadi di kehidupan ku.

Disclaimer : Cerita ini merupakan murni hasil pemikiran dari author mulai dari yang bener sampai yang agak rusak sedikit(?) tapi masih batas wajar, jika ada kesamaan tokoh atapun latar, itu semua terjadi atas ketidak sengajaan.

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   : Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

 

Enam – Guntur dan Diajeng

        Rasanya aneh. Duduk berduaan dengan dia. Banyak orang yang melirik setiap mereka melewati kaca transparan restoran bermenu makanan jepang itu. Cukup banyak dari mereka yang melihat lalu tertawa ada juga yang melihat dengan tatapan yang penasaran lalu berbisik dengan temannya.

Nathan tahu persis apa yang mereka bicarakan, “ih cakep-cakep sayang doyannya laki.” Di sebuah mall di daerah Jakarta Barat, Central Park seperti ini, tidak jarang bisa menemukan maho alias gay. Setidaknya dua atau tiga pasang bisa ditemukan. Dan mereka targetnya.

“Anjir, udah kaya biji gue sama lo berduaan gini. Mana dipojokan.” Keynal melemparkan pandangan tajam kepada orang yang melihat ke arah mereka.

“Lo kaya macan di dalam kebun binatang bego Key.” Nathan tertawa melihat tingkah teman seperbijiannya. Eh, seperjuangan maksudnya. “Temen lo pada kemana sih? Kebiasaan banget doyan ngaret.” Nathan melanjutkan.

“Mana gue tau. Tunggu aja. Si item telat dia bareng adiknya.”

“Tumben bawa adiknya, biasanya mana mau nemuin ke kita apalagi ke lo.” Nathan mencibir.

“Kegantengan gue, nanti kalau naksir sama gue,kan bisa gawat sampai adeknya minta nikah sama gue. Iparan dong sama Uta.” Keynal menyombongkan dirinya dan bergaya sok ganteng.

“Najis. Urusin aja dulu tuh Milli. Surat lo aja baru dibales dua kali, setelah ngirim tujuh kali.” Nathan memberikan penekanan pada kata tujuh kali dan tertawa melihat penderitaan temannya.

“Bacot lo, Jo.” Keynal melempar sedotan yang sudah terkontaminasi air liurnya ke Nathan.

“Najis mugholadoh woi, idih.”

“Emang gue anjing?” Keynal memutar bola matanya kesal.

“Emang. Hahaha.” Nathan membalas membuat Keynal kesal. Memang seperti itu mereka. Walaupun beda fakultas ya seperti itu kelakuannya. Dekat berantem, kalau lama nggak ketemu, begitu ketemu curhat-curhatan.

“Eh tapi, nggak kebayang deh gue. Kalo lo sama si jatem iparan, terus satu rumah,repot juga ya.” Jatem yang dimaksud Nathan itu jawa item. Iya. Semua orang juga tau kalau Uta bersanding dengan Nathan, agak seperti mokacino susu. Tidak hitam kok. Hanya kurang terang aja.

“Lah kenapa emang?”

Nathan memajukan badannya dan berbicara pelan didekat Keynal. “Repot lo berdua kalo lagi khilaf bareng nanti berisik dikamar masing-masing.” Natahn tersenyum jahil.

“Astaghfirullah Jonathan Virgio, bener-bener lo ya harus di rukyah.” Keynal mengelus dada dan menggelengkan kepalanya.

“Kyainya lebih tertarik sama lo kayaknya. Dari mukanya aja keliatan mana yang suka ngabisin sabun mana yang nggak. Hahaha.” Nathan tertawa terbahak.

Itu sebabnya kenapa mereka memilih duduk di pojokan yang jauh dari orang-orang. Banyak hal-hal yang hanya mereka yang mengerti dan memalukan kalau didengar orang.

oOo

Setelah waktu yang cukup panjang Nathan dan Keynal menanti, akhirnya orang yang mereka tunggu tiba. Masih dengan kondisi kekurangan anggota, Uta masih belum hadir karena sebuah alasan –ya tidak lain alasan utama dari kurang lebih tujuh juta penduduk Jakarta jika terlambat adalah padatnya jalanan dikarekanan jumlah kendaraan yang membludak setiap tahunnya — yaitu macet total dimana-mana.

Kali ini tidak lupa dengan Dio juga datang. Hari ini Dio tidak memiliki jadwal dikampus dan kebetulan tidak ada hal mendesak yang harus dia urus untuk keperluan BEM. Suatu hal langka untuk mahasiswa kedokteran semacam Dio yang super sibuk dan sengaja menyibukkan diri memiliki jadwal kosong –atau sengaja dikosongkan— untuk berkumpul bersama teman-temannya yang nirfaedah ini.

Hanya ada satu alasan yang membuat Dio datang ketempat ini. Semua ini karena perkataan sakti Nathan yang sudah bersekongkol dengan Keynal untuk menyeret Dio ikut pergi bersama mereka. Mungkin jika Keynal yang mengatakannya Dio tidak akan terpengaruh, tapi kalau Nathan, maka akan berbeda persoalannya.

Semalam grup yang berpenghuni lima orang itu cukup ramai hanya karena Keynal mengajak makan di restoran mereka berkumpul saat ini. Keynal bilang, dia mau mentraktir teman-temannya dalam rangka hemat akhir bulannya karena bulan ini dia cukup sibuk kuliah jika perlu, titip absen wajib, dan kerja sesuai hobinya. Dia tidak banyak bermain bulan ini membuat uang yang dia punya cukup untuk makan besar mereka berlima.

Ah iya, tidak hanya berlima, Keynal mengajak Keynar dan Zee juga. Dan satu perempuan yang menjadi alasan Dio datang, Rasya. Sebenarnya tidak seutuhnya Dio ingin datang karena Rasya. Dio hari ini punya waktu luang dan satu-satunya hari bebasnya minggu ini untuk beristirahat, dan dia tidak mau menyia-nyiakan waktunya itu.

Namun niat untuk beristirahatnya diurungkan hanya karena kalimat sakti dari Nathan yang terluncur begitu saja di layar chat grupnya.

Nathan Virgio : Kalo nggak ikut aib lo bisa didengar Rasya.

Keynal Mahesa : Wah Yo, mampus kau kalau adinda mu itu tau.

Dio terbelalak melihat kata demi kata dan mencoba mengingat apa yang dimaksud “aib” di kata tersebut. Salah apaan gue. Aib apa yang segitu mengerikannya kalau sampai Rasya tau. Dio membatin dan berpikir sampai pada akhirnya sampai pada sesuatu yang dia cari. Ah fak. Itu anak setan masih inget aja aib gue. Dio membatin lagi dan dengan lelah akhirnya Dio meng-iyakan ajakan Keynal.

Pasalnya, kalau saja Keynal yang mengatakannya Rasya mungkin tidak akan percaya karena track record Keynal yang terkenal fakboi dan playboy dan Rasya tau betul tentang itu, Rasya tidak akan percaya. Tapi lain kalau Nathan, Nathan tidak terlalu buruk, bahkan cukup baik dari yang lain dan omongannya bisa dipercaya. Hal itu yang paling ditakutkan Dio kalau sampai Nathan yang turun tangan untuk menyebar aibnya. Dan akhirnya sampailah Dio ditempat ini.

oOo

Dan orang terakhir yang ditunggu pun datang. Uta terlihat datang sendirian lalu ternyata dibelakang tubuhnya yang tinggi itu terlihat perempuan yang tingginya tidak terlalu jauh dari Uta, namun cukup bisa untuk ditutupi tubuh Uta. Perempuan itu adalah adik Uta yang katanya akan diajak untuk nongkrong-nongkrong classy anak kuliahan ibu kota.

Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka bertemu dengan adiknya itu. Pernah sekitar setahun yang lalu saat adiknya masih duduk dibangku SMA di Solo, dan Uta kuliah di Jakarta, adakalanya mereka berdua melakukan face time saat waktu senggang. Dan waktu senggang itu tidak lain saat bersama teman-temannya. Secara tidak langsung mereka mengenal adik perempuan Uta itu. Meskipun tidak tahu namanya dan hanya menyebut dengan sebutan “dedek emesh” saja karena Uta merahasiakannya.

Bahkan kadang sesekali saat libur sekolah adiknya datang ke Jakarta untuk menemui kakaknya itu. Katanya dia kangen pipi bolong masnya. Maksudnya lesung pipitnya. Dan karena rumah Uta dan Zee berdekatan, Zee suka datang kerumah Uta untuk mengajak adiknya jalan-jalan. Maklum saja, Zee anak satu-satunya di keluarganya, jadi kalau ada perempuan lain selain ibunya apalagi yang umurnya tidak terlalu jauh dia pasti akan mengajak pergi.

Dengan malu-malu adiknya keluar dari balik tubuh tinggi kakanya dan tersenyum manis hingga pipi chubbynya terangkat. Zee yang tadinya hanya terduduk diam sambil kadang menyeruput minumannya tiba-tiba membelalakan matanya senang lalu berlari kecil menghampiri adiknya dan memeluknya dengan erat. Adiknya pun membalas pelukannya.

Seolah mengabaikan kedatangan Uta, empat laki-laki yang tadinya sedang asik membicarakan hal-hal tidak penting tiba-tiba menatap Uta dan adiknya yang datang terlambat. Sebetulnya, mereka lebih fokus ke arah adiknya bukan Uta. Uta yang nyengir kuda karena datang sangat terlambat hanya dibalas sapaan oleh Dio. Dio tidak terpengaruh dengan adiknya Uta. Bukan seleranya mungkin.

Dari mereka bertiga yang melihat adiknya hanya dua orang menyedihkan yang haus akan perempuan mana saja yang terlihat seperti ingin memangsa. Nathan hanya melihat santai saja tapi cukup kaget saat kedatangan awalnya.

Eleuh geulis pisan euy. Nggak kaya kakanya.” Celetukan pertama dari Ares yang selanjutnya disentil oleh Zee.

“Kenalan dulu dong. Kenalin gue Keynal Mahesa. Panggil aja sayang. Hehehe.” Keynal terkekeh dan mulai modus.

“Sayang sayang. Kepala lo sini gue jadiin sashimi.” Uta medorong wajah Keynal menjauh. “Panggil aja Keynal. Nggak usah pake kakak. Orang kaya dia nanti modus dek.” Uta memberi tahu adiknya dan adiknya hanya tertawa.

“Diajeng Audia Agniasari. Panggil aja Audi.” Audi tersenyum, dan meraih rangkulan Zee. Dari tadi Zee merangkulnya. Baginya Zee seperti kakak perempuan, kalau kakak laki-lakinya ini sedang tidak bisa diajak menjadi kakak perempuannya.

“Itu nama apa merk mobil. Audi. Hehehe bercanda eneng, Aa’ emang suka gini.” Ares usil menggoda dan berakhir di toyor Uta. Audi sendiri tahu siapa teman-teman kakaknya ini, jadi tidak perlu berlama-lama perkenalan.

Selanjutnya obrolan mereka berubah karena kedatangan Audi. Adik perempuan satu-satunya yang dijaga betul-betul oleh Masnya, berniat melanjutkan kuliah di Jakarta dan sialnya untuk Uta dia akan masuk ke fakultas yang sama dengan Keynal. Fakultas ekonomi dan bisnis memang sudah menjadi cita-cita Audi sejak sekolah. Dengan terpaksa, Uta akan menuruti, karena untuk masa depan adiknya, toh dia ada di universitas yang sama.

Satu jam berlalu dan agenda selanjutnya bergantung pada masing-masing ingin melakukan apa. Perempuan-perempuan memutuskan utnuk berjalan jalan bersama berkeliling sedangkan para laki-laki buaya memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih santai. Seperti perjanjian yang pernah mereka buat, setiap jarak lebih dari satu minggu kalau mereka berkumpul, mereka harus menceritakan progress mereka masing-masing. Aneh memang. Tapi, itulah mereka.

Entah tentang pekerjaan Keynal sebagai DJ yang semakin banyak tawaran, Dio yang semakin sibuk dengan diktat tebal tentang anatominya, Uta yang sedang giat untuk mewujudkan kuliah cumlaude untuk ibunya, Nathan yang sedang bolak-balik ke tukang fotokopi untuk print A3, bahkan Ares yang hanya menceritakan perempuan cantik kenalannya di jurusan komunikasi dan menunjukkan fotonya sekalipun. Dan juga percintaan mereka.

Di sela-sela Ares yang sedang menunjukkan foto dan berbicara panjang lebar seperti sales menawarkan produk andalannya, tiba-tiba, ponsel Nathan bergetar. Terasa cukup lama, menandakan sebuah panggilan masuk dan Nathan segera mengecek ponselnya itu. Hanya ada nomor, tidak ada nama. Membuat kening Nathan berkerut lalu dengan pertimbangan Nathan mengangkatnya.

“Halo.”

Halo, Nathan ?” terdengar suara dari balik telepon lirih, lalu tercekat.

“Halo? Halo?.” Nathan mengecek layar telepon dan tiba-tiba sambungan terputus.

Nathan mengerutkan kening bingung. Aneh. Dia tidak mengenali suara itu. Sebenarnya tidak jelas, mungkin kalau jelas Nathan akan mengenalinya. Dicoba lagi ditelepon nomor itu namun yang ia dapatkan hanya sebuah suara dari operator menandakan nomer tidak bisa dihubungi.

Ooooooooo

#TBC#

 

A/N:

Hmm visualisasi diajeng itu hmm.. rose.. sangan keadekan mukanya hehe

Feedback kalian aku terima dalam bentuk apapun dan mohon maaf untuk segalanya dan terima kasih sudah membaca u.u

Babay~

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür – 6- Guntur dan Diajeng

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s