[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class -Vol.05 (Little Pieces)

Cover.jpg

A(+) Class –Vol. 05 (Little Pieces)

Author : jjehxi

Length : Chaptered

Genre : School life, Family, Slight romance.

Rating : PG-15

Main cast & additional cast : Started by Oh Sehun & OC.

Summary :”Lavera….”

Disclaimer : Cerita ini murni milik saya, tidak ada unsur kesengajaan apabila ada beberapa adegan yang sama. Dilarang keras untuk mengcopy-paste. Don’t be plagiator! Sorry for typo(s) and happpy reading^^

Previous :

(00) Prologue (01) Change? (02)Poetry

(03)What if? (04)Is It Beginning?

-Vol. 05 (Little Pieces)

Sehun PoV.

Terhitung 10 jam sudah sejak kejadian yang merugikanku dalam pelajaran olahraga itu terjadi. Pengurangan poin. Cih, jika aku mengingatnya sungguh konyol kejadian tadi. Ayolah, aku hanya tidak mengganti seragam biasaku dengan seragam olahraga. Itu pun karena seragam olahragaku hilang.

Mengingat itu, sepertinya sepulang sekolah nanti aku harus mencoba mencari seragamku di lingkungan sekolah. Mustahil jika tiba-tiba hilang. Dan agar aku bisa bergegas mencarinya, kurasa aku harus mempercepat kinerja otakku untuk menyelesaikan naskah drama berbahasa inggris yang akan kelompok belajarku gunakan untuk Ujian Tengah Semester nanti. Ya, aku penanggung jawab naskah drama yang mana tugas tersebut baru diberitahukan sekitar 2 jam lalu oleh Mrs. Jung, begitu beliau mulai mengajar.

Dan, selesai.

Ini bukan cerita yang tabu, kalian pasti tau cerita “Beauty and The Beast” bukan? Ya aku mengusulkan cerita tersebut dengan sedikit perubahan di beberapa latar agar menjadi lebih sederhana namun tetap berkualitas. Tentu saja aku juga menambahkan beberapa bagian backsound yang berupa rap, ballad, dan sedikit instrumen dansa untuk kedua main cast yang aku simpan di bagian akhir cerita. Aku mencoba menberikan totalitasku pada tugas kali ini. Kuharap takkan mengecewakan.

TING! TONG! TING! TONG!

Ah, akhirnya bel pun berbunyi. Kulihat penanggung jawab naskah kelompok lain hendak menghampiri Mrs. Jung untuk memberikan salinan naskah. Begitu pun aku. Namun, sebelum aku menyerahkan hasil naskah kelompokku, Mrs. Jung menginterupsi seluruh atensi penghuni kelas, tak terkecuali aku.

“Penanggung jawab naskah kelompok 1 adalah kau, Oh Sehun?” Tanyanya dengan nada kurang bersahabat, kurasa.

“Ya, Mrs. Jung.”

“Kau tau’kan baru beberapa jam yang lalu kau mendapat pengurangan poin untuk pertama kalinya di semester ini? Lalu, bagaimana mungkin kalian anggota kelompok 1, membiarkan rekan yang baru mendapatkan hukuman mengemban peran penting pada tugas kali ini? Kalian membuatku terkejut.” Aku pun terdiam. Mencoba mencerna apa yang baru saja Mrs. Jung ucapkan. Aku pun hendak bersuara setelah yakin akan beberapa kalimat yang telah tersusun apik di kepalaku. Namun sebelum itu terjadi, aku melihat Si Wakil Ketua Kelas -Kim Jiwon maju kedepan kelas, menghampiri Mrs. Jung dan menyerahkan satu lembae kertas seraya mengatakan satu kalimat yang membuat runguku seketika berdengung.

∩∩∩

image[1].jpg

Pertengahan Musim Semi 11 tahun yang lalu, Lourmarin -salah satu kota kecil yang paling indah di Perancis.

Rencana awal, aku dan paman hendak pergi ke Pérouges menghadiri festival musim semi yang rutin di selanggarakan disana. Namun rencana tinggalah rencana, karena kenyataannya kini aku tengah tertahan di balik lemari buku yang menjulang tinggi dengan deretan buku tebal yang mengisinya. Lemari ini satu-satunya penghalang antara ruang baca yang tengah kutempati sekarang dengan ruang depan tempat menyambut “tamu” yang tengah paman tempati bersama seorang wanita dewasa awal 20-an.

“Dia akan pergi hari ini. Kau tak berniat mencegahnya?” -Si wanita yang mengatakannya.

“Jadi kalian akan pergi?” Tentu itu pamanku dengan nada tenangnya.

“Kau sama sekali tak berniat merawatnya?”

“Kalian akan baik disana bukan? Itu bagus.”

“Dasar gila! Kau menampung anak laki-laki yang tak jelas asal-usulnya, sedangkan anak perempuanmu bahkan tak kau indahkan kehadirannya!.” Seperti biasa, aku akan diikutsertakan dalam perbincangan mereka lewat mulut pedas wanita itu.

“Suatu hari dia akan pergi. Aku hanya merawatnya sementara.”

“Terserah. Bahkan nama untuk putrimu pun kau tak memikirkannya.” Ucap wanita itu lantas hendak pergi.

“Lavera. Itu nama untuknya.” Ya, perkataaan paman sempat menghentikan langkah wanita itu, namun tetap saja dia si egois yang langsung saja pergi berlalu begitu saja.

“Bibi itu tidak pernah bertanya keadaanmu, Paman.” Ucapku dengan nada yang kuyakini akan dia dengar.

“Aku juga tak melakukannya.”

“Itu karena kau takut terluka. Mulutnya terlalu pedas.” Kataku diakhiri dengan kekehan kecil.

“Ck. Sebenarnya berapa usiamu? Bahkan kau terlihat lebih dewasa dibanding dia.” Ucap paman diiringi dengan derap langkah tenangnya menghampiriku. Berarti lukisannya selesai, pikirku.

“Besok usiaku 6 tahun.” Membuatnya terkekeh dengan pandangan lurus menatapku. Setelahnya hening. Dan aku benci itu.

“Paman lapar? Aku ingin makan ramyeon sebelum aku pergi.” Ucapku mencoba mencairkan suasana.

Tanpa menunggu responnya, aku pun bergegas mencari ramen yang kuyakini berada di lemari kecil disamping lemari perabotan. Bibi itu selalu menyetok ramyeon untuk paman sebulan sekali, itu satu-satunya kebaikannya yang kuingat. Dan ini, tinggal satu? Ah, tak apalah mungkin setelah ini paman akan hidup sehat tanpa mie asal Korea ini.

Setelah melalui proses memasak yang instan, aku pun segera menyajikannya langsung didalam panci tanpa mangkuk. Paman terlihat kaget begitu melihat panci kecil yang berisikan ramyeon telah tersaji didepannya.

“Kita makan berdua. Romantis’kan?” Tanyaku yang membuatnya terkekeh pelan dengan senyuman tulusnya diakhir.

Satu, dua, dan tiga suap mie telah kumasukkan kedalam perutku. Namun saat hendak melanjutkan suapan yang keempat, pintu depan terdengar dibuka pelan.

“Excusez-moi, Monsieur Vapeur.”

“Pergilah, kembali ke keluargamu. Aku takkan mengantarmu sampai depan. Dan bawalah bingkisan yang telah aku pisahkan dibawah meja depan. Jika nanti kau bertemu Lavera, berikanlah apa yang menjadi haknya. Kuharap kau selalu sehat.” Ucapnya membuatku bungkam untuk beberapa saat. Setelah kusadar, paman kembali melanjutkan makannya aku pun berkata.

“Selamat musim semi yang ke-5. Terimakasih telah merawatku. Aku akan mengunjungimu nanti. Kuharap kau selalu sehat. Aku pergi.” Bergegas aku pun beranjak dari kursi kayu yang kokoh itu. Aku tak sanggup jika terlalu lama dalam momen perpisahan. Karena bagaimana pun, perpisahan akan selalu menyakitkan.

Saat kulewati ruang depan itu, mataku segera berpendar mencari sesuatu yang dimaksudkan paman. Dan aku menemukannya. Kuambil bingkisan berukuran sedang itu, dan kusiapkan kaki kurusku untuk kembali melangkah mendekat kearah seorang pria dewasa yang kuyakini seorang pelayan. Namun, suara dengan kesan datar itu tertangkap runguku.

Joyeux Anniversaire, Sehun.” Setelahnya aku pun kembali melangkah keluar, yang kemudian disambut oleh Limousin hitam dengan pintu yang dibukakan oleh pria dewasa tadi. Dan akupun meninggalkan Perancis hari itu juga.

Pertengahan Musim Semi 2017, Dongdaemun -salah satu distrik di kota Seoul, Korea Selatan.

Itu masa laluku saat di Perancis. Setelah meninggalkan Perancis, aku tinggal di Negeri Paman Sam bersama nenek, dan saudara kembarku -Oh Hayoung. Jika kuingat saat itu, aku terlihat bingung dan begitu pendiam. Berbeda dengan nenek yang menyambutku hangat, dan berbeda juga dengan saudara kembarku yang lahir 5 menit setelah aku, ia menatapku tak suka. Dan saat itu, kucatat dalam memoriku, “Oh Hayoung, saudara kembarku tak menyukaiku. Hindari dia.”

Seperti yang kuduga, hindari dia maka aku takkan dapat masalah. Hingga hari itu, seminggu setelah hari ulang tahunku. Nenek memutuskan untuk mengirimku ke Negeri Ginseng ini. Apa alasannya? Sederhana, aku tertangkap hendak menghisap ganja lewat batang rokok yang diapit jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku. Ayolah, Amerika itu menyenangkan. Dan aku seperti remaja laki-laki Amerika pada umumnya, menyukai pesta dan wanita. Apa aku brengsek? Tidak, aku normal.

Dan sial, terhitung bulan depan, aku akan genap 2 tahun di Negeri Ginseng dengan peraturan sekolahnya yang ketat. What the hell.

Ya, aku mengumpat, dalam hati sayangnya. Jika itu terucap, kupastikan wanita awal 70-an yang tengah menyantap sarapan paginya itu akan menatapku tajam seakan ingin membunuhku. Padahal membentakku saja ia takkan mampi, sinisku seraya terkekeh pelan.

“Apa yang kau tertawakan?” Benar. Dia memang selalu mengawasiku.

“Bukan apa-apa.”

“Begitukah? Lalu bagaimana sekolahmu?” Tanyanya diiringi suara dentingam alat makan yang ia gunakan bersentuhan dengan piring kosong. Dia sudah selesai. Dan mengingat tentang sekolah, seketika aki teringat dengan ucapan konyol Wakil Ketua kelas, Kim Jiwon.

“Aku akan menggantikan posisi Sehun-ssi sebagai penanggung jawab naskah. Dan itu pun sudah atas persetujuan Im Se-yoo sebagai ketua. Dan ini hasilnya.” Sialnya saat itu, tangan kurus Mrs. Jung dengan senang hati menerimanya. Jadi, untuk apa totalitas yang aku berikan pada hasil kerjaku ini? Bahkan kertas ini dilirik pun tidak.

Aku pun meremas pelan ujung kertas yang kini berada di tanganku. Dan kulihat Im Se-yoo tengah tersenyum puas menatapku yang tampak tengah emosi. Sangat sial, pikirku.

“Baik.” Dan kulihat nenek sama sekali tidak puas dengan jawabanku.

“Lalu bagaimana dengan Im Se-yoo? Dia baik?” Pertanyaan konyol macam apa ini? Sial, rutukku dalam hati.

“Sangat baik.” Final. Aku beranjak pergi, dengan niat tak ingin memperpanjang masalah. Masalah? Ya, masalah ketenanganku.

TBC

Please leave comment(s) and/or like juseyo^^

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class -Vol.05 (Little Pieces)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s