[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 7)

kkm5

 

[Oh Sehun, Seravina (Oc), Park Chanyeol]

[Another Cast : Bae Joohyun/Irene, Park Bogum, Daren (Oc), Park Sena(Oc), Do Kyungsoo]

[Cameo: Shannon Arrum williams (solo)]

[Romance, Drama, AU, Hurt/Comfort]

[PG-17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Summary : Kisah biasa di antara sejuta kisah klasik lainnya.

Tentang seorang adik yang mengingkar janjinya.

Tentang seorang gadis yang tidak dapat melindungi apa yang harus dilindungi.

Dan juga, tentang seorang pria yang menaruh dendam sekaligus cinta.

Semua itu, perjalanan hidup yang mereka tempuh … hanyalah buah dari penyesalan.]

 [Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

Ruang serba putih itu kerap kali mendatangkan suka maupun duka. Pertolongan adalah tujuannya, sembuh adalah keberhasilannya, ‘mati’ adalah kegagalannya. Rumah sakit namanya.

Chanyeol, Shannon, serta teman-teman yang lain duduk dalam diam menantikan kabar dari seseorang di dalam sana.

Bau obat-obatan yang menusuk indera penciuman semakin menyesakkan dada, mengingatkan bahwa seseorang di dalam sana sedang berjuang demi sebuah kesadaran.

Isak tangis yang tadinya hanya berasal dari Shannon bertambah setelah kedatangan keluarga Park.

Bogum selaku kepala keluarga hanya bisa menenangkan anak juga istrinya dengan mendekap sesekali mengelus surai mereka. Kabar buruk beberapa menit yang lalu sontak saja menimbulkan keresahan sekaligus kepedihan. Pasalnya, musibah ini tidak pernah diduga karena korban di dalam sana seakan sengaja ingin terbaring dan membuat cemas keluarga.

Bogum bukannya tidak menyadari perubahan sikap keponakannya, hanya saja Bogum terlalu fokus menyembuhkan luka hati istrinya yang ia buka kembali hingga ia melupakan perihal perubahan itu. Mungkin keponakannya itu berada dalam tahap masa labil, pikir Bogum.

Namun setelah kejadian ini, insting Bogum mengatakan seseorang di dalam sana pasti mengetahui dan menyimpulkan kepingan puzzle yang terkumpul. Dan ia tidak menyangka akan seperti ini akibatnya.

Pintu ICU terbuka menampilkan seorang dengan setelan jas putih juga stetoskop yang menggantung di lehernya.

Bogum segera menghampiri dan berdiri di depan dokter untuk meminta penjelasan.

Senyum sendu yang menyiratkan maaf adalah yang Bogum terima. Dokter itu menatap seluruh netra yang mengantisipasi kalimatnya. Sang dokter menarik napas, berat dengan beban yang ia tanggung, “Luka di bagian tubuh berhasil ditangani. Benturan di kepalanya membuatnya banyak kehilangan darah, pasien mengalami pendarahan yang cukup serius. Untuk saat ini pasien dalam keadaan kritis. Tapi jangan panik dahulu, sebaiknya kita berdoa saja untuk kesembuhannya. Kami juga akan berusaha semaksimal mungkin.”

Diam dalam kesakitan. Bagai air yang membeku, suasana menjadi sangat dingin. Keadaanya kritis. Tetapi semua yang berada di sini hatinya teriris-iris. Air mata mengalir tanpa bisa dicegah, menggambarkan betapa nyeri kabar terbaru yang diterima.

Dokter mengerti, ia tahu rasa sakit mereka, ia telah menyaksikan peristiwa seperti ini berulang kali. Tetapi demi apapun, kalimatnya tadi bukan bualan semata karena dengan doa seseorang di dalam sana, siapa tahu diberi keajaiban.

“Anda Ayah dari pasien?” Bogum mengangguk. Selama Sehun menjadi anak asuhnya tentunya ia menjadi ayah baginya. “Mari ikut ke ruangan saya.”

Dokter berlalu pergi. Bogum mengikuti bersamaan menarik tangan istrinya, meninggalkan Sena dengan kawan karib keponakannya.

Gwaenchana.” Baekhyun yang notabene teman Sehun yang sudah kenal dengan Sena segera memberi semangat Sena. Ia menepuk pundak Sena untuk menenangkannya.

Semua terdiam di lorong depan ruang Sehun dirawat. Tarikan napas begitu berat dilakukan setiap insan. Benar apa yang dikatakan dokter, mereka harusnya berdoa bukan bermurung ria.

Dering ponsel Chanyeol memecah hening. Ia agak kesulitan mengambil ponsel di sakunya karena ia sepenuhnya sedang memeluk Shannon yang tidak juga berhenti menangis. Gumaman kecilnya bahkan membuat Chanyeol nyeri sampai ke hulu hati. Chanyeol berjanji ini untuk terakhir kalinya Shannon menangis seperti ini.

“Halo,” ucap Chanyeol begitu ia menjawab panggilan. Tangan kirinya merangkul bahu mungil Shannon, masih berusaha menenangkannya walau sekarang tidak terisak hebat seperti sebelumnya.

Pandangan Chanyeol terpaku pada Shannon karena orang yang menghubunginya saat ini menanyakan keberadaan Shannon.

“Hem. Tidak perlu cemas. Shannon bersamaku, kami tadi bermain di rumah teman.”

“….”

Sebagian atensi beralih pada Chanyeol. Teman-temannya itu tahu bahwa kebohongan yang Chanyeol lakukan demi keselamatan gadis yang ia dekap. Dan mereka tebak yang sedang bercakap-cakap bersama Chanyeol adalah orang tua Shannon.

“Baiklah. Kami akan pulang sekarang. Tidak perlu sampai lapor polisi. Shannon tidak diculik, ia aman bersamaku.”

Panggilan ditutup. Chanyeol memasukkan kembali ponsel ke sakunya. Ia kemudian berdiri seraya memapah Shannon agar mengikutinya. Shannon menggeleng, tidak mau beranjak dari kursi. Baginya, selama Sehun masih di dalam, ia tidak akan pergi ke mana pun.

Chanyeol mulai jengah. Bukan saatnya ia menuruti segala kekeras kepalaan Shannon, orang tua Shannon yang mendesak agar putri tercinta mereka segera tiba di rumah.

“Shannon, kau ingin orang tuamu menyuruh penjaga jelek itu menjemputmu kemari?”

Shannon termenung. Kalimat Chanyeol menohok dirinya. Tidak mustahil jika dalam beberapa menit tiba-tiba datang segerombolan orang berbadan tegap berseragam hitam-hitam seperti ninja. Shannon waktu dulu pernah bermain di rumah temannya, tetapi karena ia lupa memberi tahu orang tuanya bahwa ia menginap di rumah teman, orang tuanya melakukan hal yang membuat Shannon malu untuk sekolah. Rumah temannya itu dikepung orang bersetelan jas hitam layaknya buronan diringkus polisi. Mengingat hal itu, Shannon berigidik. Akhirnya ia berdiri mengikuti Chanyeol.

“Kami pulang duluan,” pamit Chanyeol seraya tersenyum tipis. Teman-temannya mengangguk, paham dengan situasi yang Chanyeol hadapi.

Chanyeol dan Shannon melangkah pelan hingga tidak terlihat saat ditelan tembok. Beberapa menit setelah kepergian dua saudara itu, satu sosok yang menjadi sumber kekuatan Sehun baru datang ditemani Kyungsoo.

Langkah tergesa dan sempoyongan itu jelas menggambarkan kegetiran. Tatapan mata kosong saat melihat Sena yang terisak pelan di sisi Baekhyun, hatinya semakin nelangsa. Mengapa Sena menangis seperti itu? Apakah keadaan Sehun begitu buruk?

Suho yang duduk bersebelahan di sisi Baekhyun segera bangkit dan menuntun kakak Sehun duduk di tempatnya tadi.

Seravina linglung, ia menggeleng saat Suho menjelaskan perihal keadaan Sehun. Kyungsoo iba, Seravina bagai tak bernyawa. Wajahnya sangat pias, tidak ada air mata yang keluar, Kyungsoo tahu penyebabnya. Dalam perjalanan kemari air mata Seravina telah mengucur deras, mungkin pasokan air matanya telah terkuras. Lihatlah mata sembab itu, atau hidung memerah tomatnya.

“Sehun lelaki tangguh, dia tidak mungkin mati di dalam sana, Sera.” Entah ejekan atau pujian, Kyungsoo memang tidak ada manis-manisnya. Maksudnya sih ingin memberi semangat pada Sera, tetapi mulut pedasnya tidak terkontrol.

Kyungsoo sedikit lega saat melihat senyum tipis di bibir Seravina. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

“Kamu benar Kyungsoo,” Kyungsoo meringis melihat senyum palsu Seravina, “Sehun tidak akan mati di dalam sana.”

*****

Chanyeol menghempas keras pintu mobil begitu ia sampai di garasi. Ia berjalan tergesa ke dalam rumah dengan amarah yang tertahan.

Harus ada pelampiasan.

Tatkala mengantarkan Shannon pulang, Chanyeol bersikap tenang bahkan tersenyum lembut berharap Shannon melupakan kesedihannya. Sayang hal itu tidak terjadi.

Bayang-bayang Shannon yang menangis serta kalimat pahitnya sungguh merobek hati Chanyeol. Bahkan doa tulus yang sepanjang perjalanan Shannon lontarkan membuat Chanyeol nelangsa. Mengapa seperti ini? Mengapa rasa ini sangat menyesakkan dada?

Begitu masuk ke dalam, suasana yang sudah sangat kental melekat di rumah ini membuat Chanyeol tertawa miris. Ia menghiraukan para pelayan yang menunduk menyambut kedatangannya. Itu lebih baik daripada ia luapkan emosi ini pada orang yang tidak bersalah, apalagi seorang perempuan. Walau nakal, Chanyeol selalu menghormati wanita. Tidak peduli bangsawan atau pelayan, jelek atau cantik, menyebalkan atau menyenangkan, selama itu wanita, Chanyeol tidak akan menyakitinya. Terkecuali jika wanita itu punya alasan Khusus yang memang harus ia sakiti.

Langkahnya terhenti di depan pintu hitam di lantai dasar. Ia menarik kenop pintu lalu berkata sebelum masuk ke dalam, “Aku butuh tujuh orang.”

Pelayan yang memang mengikuti setiap langkah Chanyeol segera mengangguk mengerti. Ia langsung menjalankan perintah Chanyeol dengan mengumpulkan tujuh pria berbadan tegap yang terpilih sebagai kandidat terkuat. Dipilih dari penjaga profesional yang sudah sangat terlatih. Bukan apa, Tuannya ini sangat brutal mengingat amarah yang terpendam dari auranya. Terakhir kali Tuannya seperti ini adalah dua bulan yang lalu, dan ia salah pilih karena membiarkan pengawal biasa yang menemani Tuannya. Alhasil para pengawal itu dipecat. Tetapi Tuannya itu memberikan uang santunan yang lebih dari cukup untuk membiayai hidup setiap pengawal itu. Tuannya itu baik, hanya saja … luka lama dalam hatinya membuat bocah tengil tapi manis menjadi sosok dingin nan beringas.

Daren, ketua pelayan yang tadi Chanyeol perintahkan melangkah masuk ke ruangan tempat Tuannya berada, diikuti oleh tujuh pria lainnya.

Daren membungkuk hormat pada Chanyeol yang asik dengan samsaknya. Chanyeol baru menoleh setelah tigapuluh menit berlalu, waktu yang cukup membuat ketujuh pria terpilih pegal-pegal karena Tuannya belum menginjinkan untuk menegakkan tubuh.

Cengiran khasnya membalas sapaan Daren. “Ah? Sudah datang ya? Kalian menunggu lama?”

Daren tersenyum sopan sudah terbiasa dengan sikap menyebalkan Tuannya. “Tidak, Tuan. Kami baru saja datang.”

Chanyeol mengangguk paham lalu ia berbalik kembali, meluncurkan kepalannya pada samsak sampai bagian isinya terburai. Samsak mahal nan berkualitas tinggi itu kini hanyalah seonggok sampah yang menggantung dihadapan Chanyeol. Ia kemudian berbalik menatap ke tujuh pria yang berbaris rapi di belakang Daren. “Samsakku rusak. Kalian mengerti tugas kalian?”

Sedikit menelan saliva, pengawal terpilih mengangguk menyanggupi tugas. Manusia macam apa yang membuat samsak tebal nan berat itu hancur lebur?

“Satu persatu. Aku takut kalian langsung mati jika kalian menyerang secara sekaligus.”

Satu dari ketujuh terpilih maju ke depan. Enam yang tersisa menunggu giliran, giliran mereka menjadi pengganti samsak atau lawan tinju. Cara mainnya cukup mudah. Mereka hanya perlu bertahan dan menyerang sampai tumbang, kalau beruntung, hanya menunggu Tuannya bosan dan mengakhiri permainan. Tapi itu hanya dalam imajinasi karena sekarang Tuannya sepertinya tidak dalam kondisi bosan, tamatlah riwayat mereka.

Semua bergidik ngeri saat satu tinju mendarat di rahang si pengawal hingga jatuh tersungkur. Chanyeol menunggu si pria bangkit dan melawannya lagi.

Huft, tetap saja. Sekuat apapun pria yang terlatih, kelihaian permainan Chanyeol tidak tertandingi.

Wajah Daren tetap tanpa ekspresi meski sebenarnya dalam hati ingin mengakhiri permainan maut ini. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meredakan emosi Tuannya selain dengan kekerasan, misalnya curhat mungkin? Oh, curhat? Tidak ada yang dipercaya Chanyeol di dunia ini. Hatinya telah beku.

Sudah lima menit berlalu tetapi pria terpilih pertama belum juga tumbang. Rekor baru tercetak karena biasanya yang menghadapi Chanyeol hanya berhasil bertahan satu atau dua menit.

Chanyeol menyeringai keji saat pria ini tidak tumbang jua. Baiklah, cukup main-mainnya. Sepertinya Chanyeol terlalu memanjakan pengawal yang satu ini.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Sehun tidak menyelamatkanku.”

Pria pertama terlempar beberapa meter hingga terhempas ke dinding. Kepalan Chanyeol di bawah dagunya membuat ia melayang dan akhirnya tumbang.

Pria kedua maju menggantikan. Sementara si pria pertama telah Daren ambil alih untuk diobati.

Hiks … Chanwoo bhilang, ia akhan menjualku ke om-om. Hiks, aku tidak mau. Lalu dia menarikh paksa bahkan hampir melecehkanku.”

Pukul, pukul dan pukul.

Sehun datang tapi kami dikepung. Chanwoo menyuruh teman-temannya untuk menyiksaku.”

Tendangan yang tak terduga mendarat di pinggang si pria.

Aku berutang budi pada Sehun. Aku ingin dia selamat. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi ia kritis.

Shit!

Chanyeol melakukan pukulan pendek dengan tangan kirinya sebagai umpan lalu memukul cepat menggunakan tangan kanannya. Ia melakukan strike.

“Bodoh, teknik dasar pun kau tidak bisa mengelak,” desis Chanyeol mengejek pria kedua terkapar di lantai. Ia menginjak perut si pria.

“Ceroboh.” Kata itu sebenarnya ia tunjukkan untuk dirinya sendiri, bukan pria yang tengah ia injak pelan yang menjerit kesetanan. Permintaan ampunan agar Tuannya memaafkan bergema di ruang gelap itu. Sungguh memilukan.

Telinga Chanyeol panas, hatinya terbakar, sakit ini sangat ingin Chanyeol bagi. Maka dari itu ia menggeram dan berteriak kesal.

Aku ingin Sehun selamat. Aku ingin ia hidup tenang. Bisakah membantuku, oppa?”

Raungan amarah yang menyimpan derita itu jauh lebih memilukan daripada jerit sakit si pria. Seperti lolongan serigala yang ditinggal mati betina.

Chanyeol berjalan mundur tidak lagi menginjak perut si pria. Ia masih meraung dengan wajah memerah sampai telinga. Rambutnya ia jambak dan tubuhnya jatuh bersimpuh.

Rasa sakit ini tidak jera membuatnya lelah. Sakit ini lagi dan lagi mencabik hatinya tak kunjung berhenti. Berapa lama lagi ia sanggup bertahan dengan rasa ini?

Tuhan…,”

Tidakkah Engkau kasihan melihatku?”

Daren tertegun melihat air mata yang mengalir di pipi Chanyeol. Tanpa isakan, hanya air mata. Chanyeol menangis dalam diam.

Kejatuhan ini, kerapuhan Tuannya, tidak seharusnya ditonton oleh bawahannya. Di mana letak harga diri Sang Tuan?

Senyum miring di bibir Tuan tampak aneh. Meski perih, ego lelaki tidak akan membiarkannya menjadi pecundang walau kejatuhannya jelas di depan mata. Tatapan kosongnya entah mengapa membuat Daren iba. Tetapi kalimat lirih dari bibir Tuannya membuat Daren terkejut.

“Aku sangat menyayangimu, Shannon. Sangat menyayangimu. Haruskah kuakhiri semua ini?”

Apakah Tuannya … berniat membatalkan rencana yang telah tersusun?

.

.

.

.

.

To be Continue

Nano note: gimana? Udah bisa nebak konflik yang bakal terjadi?

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 7)

  1. Ngerti, ngerti… Boleh aku ceritain gk kak? yang udah aku ngerti, kenapa si shannon sangat penting HAHAHA.
    Jangan patah semangat yaa, tetap cintai fiksi ini
    /nano: ngomong apa sih nih reader?/

    • Jangan gitu dek, nanti aku depak mau gak?
      Ulah sok bocor, dedek durhaka. Nanti kualat loh…
      Iya, daku juga tetep cinta sama fanfic ini kok.

  2. Semoga sehun cepat sadar. Sebenarnya kasihan lihat chanyeol begitu, sebenarnya apa sih yang membuat chanyeol kayak gitu sampe-sampe gak ada rasa kasihan begitu ? Dan apa rencana chanyeol sebenarnya ? Makin kepo sama kelanjutan nya ditunggu ya kak, kalo bisa jangan lama-lama gak sabar sama kelanjutannya.

    • Hihihi… makasih ya udah ninggalin jejaknya^^
      Nanti juga bakal kejawab kok semua pertanyaan kamu. So, ikutin terus ya ff ini.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s