[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 3)

Screenshot_2017-03-10-16-50-29

 

After The Wedding (Chapter 3)

.

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “Jangan menyusahkan dirimu sendiri, Tuan Oh. Kau hanya perlu teliti!!” -Jae Han

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

 

 

Seorang wanita tengah sibuk memindahkan beberapa santapan yang telah ia buat ke atas piring. Malam ini ia cukup banyak membuat makanan untuk mengapresiasi putrinya yang tadi pagi terlihat begitu bersemangat pergi ke sekolah.

Sementara itu, prianya tengah termenung. Ia diam karna sibuk dengan berbagai hal yang tengah menguasai isi kepalanya, terutama tentang istri kedua dan anak laki-lakinya yang sangat susah untuk ia temui keberadaanya.

 “Kau tak apa?” Hye Ra menghampiri Sehun dengan sepiring daging ditangannya dan langsung ia taruh dihadapan sang suami.

“Tak apa.” ucap Sehun yang terlihat sedikit lesu.

Seakan tau isi pikiran prianya, Hye Ra semakin mendekatkan tubuhnya pada Sehun yang duduk disampingnya. Wanita ini segera menggenggam tangan kanan prianya.

“Mungkin memang belum waktunya untuk bertemu dengan Jae Mi dan Sean!” ucap Hye Ra seraya melirik wajah Sehun.

Sehun tersenyum. Sudah 15 tahun wanita ini kembali kedalam hidupnya dan berhasil membuatnya merasa tenang untuk beberapa saat dari masalah yang kerap kali menerpa.

Hye Ra sedikit mengelus tangan dingin Sehun. Kali ini isi kepala Hye Ra juga ikut berputar saat beberapa detik lalu mulutnya berucap tentang Jae Mi dan Sean.

Bagaimanapun, Jae Ra harus ketemu dengan ibu kandungnya, Sean juga harus ketemu dengan ayah kandungnya, terlebih lagi Jae Ra sama Sean memang harus segera bertemu, pikir Hye Ra.

“Nenek tak jadi datang?” tanya Jae Ra yang tiba-tiba datang.

“Tidak jadi, Nenek masih menemani bibimu.” ucap Sehun yang langsung tersenyum pada putri kecilnya, berusaha menutupi sejenak masalah yang berputar dikepalanya sendiri.

Kini terlihat Jae Ra mengerutkan bibirnya sejenak saat mendengar bahwa neneknya tak jadi datang untuk menikmati santap malam mereka bersamaan.

“Bagaimana sekolahmu?” tanya Hye Ra saat melihat Jae Ra kini telah duduk tepat dihadapannya.

“Eemmm.. tidak buruk!” jawab Jae Ra seraya mengambil beberapa sendok sayur untuk ia taruh diatas piring dihadapannya.

“Kau sudah punyak banyak teman?” tanya Sehun.

“Belum, Appa.”

“Carilah banyak teman agar kau tak sendiri saat memandangi orang yang kau sukai dikantin.”

“Appa, Kyaa!!” Jae Ra tersenyum kesal mendengar ucapan Sehun yang menurutnya sangat menggelikan.

“Apa? Ada yang salah?” tanya Sehun kembali.

“Aku tidak mau pacaran dulu.” terang Jae Ra.

“Omma yakin semester depan kau pasti sudah punya pacar.” ucap Hye Ra yang kali ini ikut bersekongkol dengan Sehun menggoda putri kecil mereka.

“Appa juga yakin akan itu! Anak kita terlalu cantik!” ucap Sehun mendekatkan wajahnya pada Hye Ra namun tetap menatap intens kearah Jae Ra.

“Appa kyaa!!” Jae Ra kini memperlihat semburan merah jambu dikedua pipinya.

Hye Ra tersenyum melihat Jae Ra yang kini sudah mulai salah tingkah, “Sudahlah, ayo makan!” lerai Hye Ra.

Kau terlihat sangat mirip dengan Ibumu, Jae Ra, Ucap batin Sehun seraya memperhatikan wajah Jae Ra.

“Omma, tadi aku bertemu dengan anak baru. Dia begitu kaku. Sepertinya dia baru pindah dari luar negeri.” ucap Jae Ra yang berusaha keluar dari ledekan yang tadi sempat ayahnya ciptakan. Kini ia tengah mencoba menganti topik pembicaraan.

“Ahh, sungguh?” tanya Hye Ra setelah selesai mengunyah sesendok nasi dalam mulutnya.

“Iya, namanya..-“ Jae Ra langsung terdiam saat melihat Sehun yang tengah memperhatikannya.

Sean, namanya seperti kembaranku. Wajahnya juga mirip Appa, ujar batin Jae Ra.

“Siapa namanya, Jae Ra?” tanya Hye Ra.

Sesaat Jae Ra mengarahkan pandangan bingungnya pada Hye Ra. Ia seperti dibuat tak berkutik oleh pikirannya sendiri.

“Jae Ra?” tanya Sehun.

“Ahh, namanyaa.. aku lupa tak melihat name badge miliknya!” ucap Jae Ra sedikit kelimpungan untuk berucap bohong pada kedua orangtuanya ini.

“Dia perempuan?” tanya Sehun yang masih asik mengarahkan pandangannya pada Jae Ra.

“Ahh, bukan.” jawab Jae Ra yang langsung berdiri dari duduknya dan bergegas pergi.

“Jae Ra kau mau kemana? Habiskan dulu makanmu.” ucap Sehun yang sedikit heran melihat tingkah Jae Ra yang berubah dengan seketika.

“Aku kenyang Appa.” teriak Jae Ra yang kini sudah tak terlihat dihapan mereka.

“Kenyang? Bukannya dia baru makan dua sendok?” ucap Hye Ra heran.

Sehun mengerutkan keningnya. Ia juga dibuat terheran akan sikap Jae Ra tadi.

 

 

“Jae Mi!! Jae Mi aku mohon!! Jae Mi, tolong beri dia nama Sean.. aku mohon Jae Mi.”

Jae Mi terdiam saat netranya asik menilik wajah putra satu-satunya yang tengah memasukan beberapa sendok makanan kedalam mulutnya tepat dihadapannya ini.

Wajah Sean berhasil mengingatkannya pada Sehun yang 15 tahun lalu meneriakinya saat telah berada didalam taksi. Jae Mi masih ingat, saat itu ia kelelahan dan ingin segera bertemu dengan bayi laki-lakinya yang tengah ia titipkan sebentar pada Jong In.

Dulu saat Sehun berusaha menggedor-gedor kaca jendela taksi yang tengah ia tumpangi, Jae Mi bersikap acuh karna memang dirinya terlalu kelelahan dengan keadaannya yang hampir tumbang. Mungkin Sehun beranggapan bahwa dulu wanita ini tak menghiraukan teriakannya, namun nyatanya salah.

Jae Mi tersenyum. ’Sean’, nama yang Sehun titipkan untuk bayi mereka yang kini telah tumbuh besar.

Sean, yang berarti menginginkan kebahagiaan dalam bahasa karakteristik. Atau yang berarti hadiah dari Tuhan dalam bahasa Unisex.

Jae Mi tak begitu peduli tentang arti nama dari anak laki-lakinya ini. Ia benar-benar bersyukur karna dulu Sehun masih bisa sedikit membuatnya tersenyum tipis saat indra pendengaran Jae Mi menangkap bahwa Sehun ingin memberikan nama untuk bayi mereka. Setidaknya ini membuat Jae Mi sadar bahwa Sehun cukup peduli pada mereka.

“Mom?” ucap Sean memecah lamunan Jae Mi.

Jae Mi sedikit mengangkat alisnya seraya menatap Sean yang kini terlihat kebingungan karna diamnya.

Jae Mi kembali tersenyum melihat ekspresi wajah Sean yang menurutnya lucu.

Sepindahnya mereka ke Seoul, Jae Mi lebih memilih untuk tinggal di Apartemen bersama Sean. Ia hanya ingin mendidik Sean untuk tak terlalu bergelimang harta menikmati fasilitas mewah yang diberikan oleh ibunda Jae Mi pada cucu kesayangannya ini. Ia ingin anak laki-lakinya tumbuh dengan mandiri.

“Bagaimana sekolahmu, Sean?” tanya Jae Mi seraya mengambil beberapa sendok sayur yang tersaji dihadapannya.

 “Not bad!” jawab Sean singkat.

Cup!

Sean langsung mengarahkan pandangannya pada Jae Mi karna dengan sangat tiba-tiba sang ibu mencium pipinya tanpa permisi.

“Itu hukuman jika kau masih pake bahasa inggris.” ucap Jae Mi.

“But my language it’s so bad, Mom!” keluh Sean.

“Kau tetap harus coba!”

Cup!!

Lagi-lagi kini Jae Mi mendaratkan bibirnya dipipi kanan Sean. Kali ini dengan cepat Sean langsung menghapus bekas ciuman Jae Mi dari pipinya dengan punggung tangan kanannya.

“Mom, please.. there‘s gravy soup on your lips.” keluh Sean karna kini dipipinya tertinggal bercak kuah sup yang berasal dari bibir Jae Mi.

 “Aku tak peduli” ucap Jae Mi tersenyum seakan ia menang.

“Don’t try to kiss my cheek again, please.”

Jae Mi terkekeh melihat putranya sedikit kesal karna ulahnya.

“Last.. ok, this is the last.. When we are going to meet up with Daddy? You’re trying to contact him?” tanya Sean dengan sedikit serius memperhatikan wajah ibunya.

“No kiss, no answer!” ucap Jae Mi.

Cup!!

Jae Mi yang langsung melemparkan pandangannya pada Sean karna kini giliran bocah tengik itu mencium pipinya.

“Kyaa!!” ucap Jae Mi kesal menyadari dipipinya ada kuah sup dari bibir Sean.

“I told you!” ucap Sean sambil tertawa kecil dan berlalu pergi setelah makanan dimangkuknya habis.

Jae Mi tersenyum, ia menyadari semakin hari Sean semakin berhasil membuatnya jengkel karna sifat jahilnya.

Jae Ra kini tengah kembali sibuk dengan pikirannya didalam kamar seorang diri. Ia baru menyadari sesuatu akan hal janggal yang beberapa saat lalu terlintas dikepalanya setelah melirik wajah sang ayah.

“Sean..wajahnya benar-benar mirip Appa.” ucap Jae Ra dimana kini pikirannya tengah berusaha membandingkan wajah pemuda yang tadi pagi berpas-pasan dengannya dengan wajah sang ayah.

“Dia kaku seperti baru datang ke korea. Bahasa koreanya juga belum terlalu bagus.” ucapnya seraya mengingat cara bicara Sean tadi pagi.

“Oppa?” ucap Jae Ra tanpa sadar.

“Yaa?”

Jae Ra sedikit terperejat saat menyadari sang ayah yang kini tengah berusaha menutup kembali pintu kamarnya dari dalam. Sehun selalu masuk kedalam kamar putrinya ini dengan tiba-tiba.

“Appa mengagetkanku!!” keluh Jae Ra.

“Bukankah tadi kau memanggil Appa?” ucap Sehun seraya berjalan menghampiri putrinya yang tengah duduk ditepi ranjang.

Jae Ra terdiam. Oppa aku panggil Oppa!, ucap batin Jae Ra.

“Kenapa kau tak menghabiskan makananmu? Omma mu sudah masak dari sore tapi kau hanya makan dua sendok nasi?” ucap Sehun yang tengah berusaha menegur lembut Jae Ra.

“Nee, maafkan aku Appa!” ucap Jae Ra sedikit menunduk, memberi tahu sang ayah bahwa ia menyesal meninggalkan piringnya yang masih penuh dengan makanan.

“Sarapanmu tadi pagi memang habis, tapi satapan makan malammu …-”

Jae Ra langsung meluk Sehun, “Iya, maafkan aku. Nanti aku akan meminta maaf pada Omma.” ucapnya.

“Apa ada masalah di sekolahmu?” tanya Sehun yang kini mencoba melepaskan pelukan Jae Ra agar ia bisa menatap mata putrinya ini.

“Tidak.” jawab Jae Ra seraya menggeleng pelan.

“Lalu kenapa?”

“Eumm, aku.. tak apa!” ucap Jae Ra sedikit gugup dengan pernyataannya sendiri.

Sehun dibuat terdiam kembali akan sikap Jae Ra yang kali ini benar-benar membuatnya kebingungan. Biasanya Jae Ra akan bercerita tentang segala hal yang berputar dikepalanya pada Sehun, sekalipun itu hanya hal kecil seperti permen karet yang menempel disepatu baru Jae Ra, namun sepertinya kali ini Jae Ra memilih memendam masalahnya sebentar.

Pagi ini suasana koridor sekolah sudah cukup terlihat ramai. Para murid baru saja berdatangan dan tengah berusaha berjalan menuju kelas mereka masing-masing.

Namun gadis dengan rambut ikat kudanya ini tak segera masuk kedalam kelas saat langkah kakinya tertahan diambang pintu. Ia tengah berusaha menunggu seseorang yang dirasa akan segera datang beberapa saat lagi, Young Sun, yang tak lain adalah teman sekelasnya.

Jae Ra kini tengah mengarahkan pandangannya pada suatu sudut koridor, dimana orang-orang akan menampakan dirinya setelah mereka keluar dari dalam lift sekolah gedung ini.

Young Sun ternyata masih belum juga terlihat oleh netra Jae Ra, namun tak lama ada seseorang yang langkahnya berhasil menyita pandangan gadis ini.

Sean. Pemuda yang kemarin bertanya tentang keberadaan kelas B yang merupakan kelas disebelah kiri Jae Ra.

Sesaat Jae Ra terus memperhatikan langkah Sean yang lewat dihadapannya sampai pemuda bertas merah itu masuk kedalam kelasnya.

 Wajahnya benar-benar hampir mirip Appa!, ucap Jae Ra dalam hati.

“Hyaa!!”

Jae Ra begitu kaget saat menyadari seseorang berhasil membuat jantungnya hampir copot karna caranya memecah lamunan Jae Ra sama sekali tidak elite.

“Kau mengagetkanku!!” keluh Jae Ra setelah kini ia tahu siapa yang  berhasil mengagetkannya dengan cara berteriak tepat didepan telinganya.

“Kau melirik siapa? Sean? Pemuda yang kemarin menanyakan kelas?” goda Young Sun yang mengarahkan pandangannya pada pintu kelas samping mereka.

“Young Sun!” ucap Jae Ra mencoba memberi radar pada temannya ini agar ia berhenti menggoda.

“Kau menyukainya?” tanya Young Sun dengan begitu tidak pekanya atas ucapan Jae Ra tadi.

“Tidak sama sekali, bagaimana bis..-“ Jae Ra langsung menggantungkan ucapannya saat dirasa ia mulai gila dengan teory dikepalanya tentang miripnya wajah Sean dengan sang Ayah.

“Aku menunggu jawabanmu Jae Ra!” ucap Young Sun menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

“Ah, sudahlah ayo kita masuk” ucap Jae Ra frustasi yang langsung menyeret Young Sun untuk segera masuk kedalam kelas.

Waktu telah menunjukan pukul 9.45 pagi. Kini Sehun tengah bergegas memasuki sebuah ruangan dimana rapat perusahaan akan segera dimulai dalam waktu 15 menit lagi.

Pandangan Sehun langsung tertuju pada sebuah benda bertulis ‘Jung Comp’ disudut meja yang tak terlalu jauh dari posisi meja yang ia tempati.

Perusahaan keluarga Jae Mi!, itulah yang langsung terbesit dikepala Sehun.

“Siapa yang akan mewakili Jung Comp untuk menghadiri acara rapat ini?” tanya Sehun pada Asistennya yang duduk tepat disamping kanan Sehun.

“Sepertinya Jung Jae Han, Tuan.”

Sehun terdiam saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Asistennya ini. Kakak laki-laki Jae Mi lah yang ternyata akan menghadiri rapat pagi ini.

Benar, tak lama seorang pria masuk dengan menggunakan Jas Grey yang terlihat pas ditubuhnya. Pandangan Sehun terus tertuju pada pria yang merupakan kakak dari istri keduannya tersebut.

Jae Han. Pria ini sadar akan keberadaan Sehun yang tengah menatapnya dari jauh, ia hanya ingin terlihat bodoh dengan tak menggubris pandangan Sehun meskipun hal itu telah membuatnya sedikit risih.

Beberapa menit kemudian rapat segera dimulai saat seorang pria paruh baya memasuki ruangan yang telah penuh dengan para pemimpin perusahaan ini.

Ternyata rapat kali ini berjalan dengan baik dan menghasilkan beberapa perjanjian kerja sama yang baik pula.

Sehun langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang rapat setelah melihat Jae Han sedikit terburu-buru pergi. Tak diduga, ternyata Tuhan memberikan Sehun sedikit kesempatan untuk mengobrol dengan Jae Han saat mereka berada didalam lift yang sama.

“Awal bulan lalu aku ke London mencari keberadaan Jae Mi dan Sean.” terang Sehun yang tengah berusaha bicara pada Jae Han yang berdiri disamping kananya tanpa berniat memandang wajah pria itu barang sedetikpun.

Jae Han menyeringai saat mendengar ucapan Sehun. Ada sedikit jeda yang Sehun ciptakan disana.

“Namun tak dapat kutemukan. Kau tau dimana mereka sekarang?” tanya Sehun yang kini mengalihkan pandangannya pada pantulan diri Jae Han dicermin sekeliling lift.

“Jangan menyusahkan dirimu sendiri, Tuan Oh. Kau hanya perlu teliti!!” ucap Jae Han yang berlalu keluar saat pintu lift telah terbuka.

Sehun terdiam, ia merasa sedikit kesal atas respon Jae Han yang ia terima. Sudah jelas pria itu menyelipkan sebuah pesan yang sebenarnya sangat sulit untuk Sehun sadari.

Jae Mi kini tengah berjibaku dengan beberapa dokumen yang berserakan diatas mejanya. Ia terlalu pusing untuk menyelesaikan pekerjaannya yang mati satu tumbuh seribu.

Tak berapa lama seseorang berhasil masuk kedalam ruangannya. Seseorang yang sangat enggan mengetukan tangannya pada pintu. Jung Jae Han, yang tak lain adalah kakak laki-lakinya.

“Kenapa?” tanya Jae Mi saat sang kakak hanya diam mematung memperhatikannya dengan menyelipkan senyum menyebalkan dibibir tipisnya.

“Aku bertemu dengannya. Dia menanyakanmu.. dan juga Sean.” ucap Jae Han seraya sedikit melangkahkan kakinya menghampiri Jae Mi yang masih duduk dibalik meja hitamnya.

Jae Mi terdiam. Kini tatapan sang kakak terlihat seperti sedikit memohon sebuah harapan yang tak dapat ia mengerti maksudnya.

“Yahh.. aku yakin kau sudah sangat dewasa Jae Mi, nasib Sean benar-benar ada ditanganmu” ucap Jae Han tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Jae Mi untuk kembali berkutat dengan banyaknya dokumen.

‘.. Nasib Sean ada ditanganmu’       

Jae Mi merasa bahwa dirinya bukanlah Tuhan, namun kakaknya benar bahwa kini nasib putra satu-satunya ada ditangannya. Bukan, bukan hanya nasib Sean, tapi juga nasib Sehun yang mungkin sangat ingin bertemu dengan anak laki-lakinya itu.

Drttt.. Drttt..

Lamunan Jae Mi terpecah saat menyadari ponsel diatas mejanya bergetar menandakan sebuah panggilan masuk yang harus segera ia jawab. Sean, nama yang tertara pada layar ponsel miliknya.

“Hallo?” ucap Jae Mi membuka pembicaraannya dengan Sang Putra.

“Mom akan pulang lebih awal?”

“Kau merindukan Mom?”

“Ahh, aku kelaparan, dirumah tidak ada makanan.”

“Pergilah ke restoran cepat saji, aku sudah memberimu jatah uang bukan?”

“Aku masih asing dengan kota ini.”

Jae Mi tersenyum tipis menyadari kini anak laki-lakinya sedikit payah, “Jika kau tersesat. Mom baru akan turun tangan!” Jae Mi langsung nutup telponnya.

Diseberang telpon, Sean hanya terdiam saat Sang Ibu berhasil menutup sambungan telponnya, ia sedikit mengerutkan keningnya menyadari bahwa kini ibunya sudah mulai sedikit menyebalkan.

“Ahh, really? She is my Mom?” keluh Sean seraya menghembuskan nafasnya kasar.

Sore ini sebuah kedai kopi bermerk ternama tengah begitu sibuk melayani beberapa pembeli yang berdiri dihadapan kasir untuk memesan apa yang mereka inginkan.

Termasuk Hye Ra, wanita ini tengah berdiri didepan kasir saat menunggu seorang wanita yang tadi sempat melayaninya tengah membuatkan kopi yang ia pesan.

“Boleh saya tulis nama anda?”

Samar-samar Hye Ra dapat mendengar seorang pelayan kasir disebelah kirinya tengah melayani pembeli yang memesan secangkir Ice Coffe.

“Ah, Sean!” ucap seorang pemuda yang berdiri sejajar tak jauh dari samping kiri Hye Ra.

Hye Ra langsung mengalihkan pandangannya pada pemuda yang baru saja menyebut namanya Sean. Ia sedikit menilik wajah sang pemuda saat figur yang tengah ia perhatikan begitu asik memainkan ponselnya seraya menunggu pesanannya.

Hye Ra terdiam sejenak saat menyadari wajah sang pemuda cukup mirip dengan wajah suaminya, Sehun.

“Sean?” ucapnya tanpa sadar dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Maaf, Nona.. kau mau mengganti Caramel Macchiato nya? Ternyata kami sudah kehabisan.”

Wanita yang tadi melayani pesananya membuyarkan lamunan Hye Ra akan pemuda disampingnya. Ia langsung mengarahkan kembali pandangannya pada sang pelayan untuk mengganti pesanannya.

“Ahh, baiklah tolong ganti dengan Skinny Vanilla Latte” ucap Hye Ra.

“Baiklah Nona”

Sesaat Hye Ra kembali mengarahkan pandangannya kesisi kiri, mencoba menilik kembali wajah yang berhasil menyita perhatiannya. Namun sayang, ternyata pemuda yang menyebutkan namanya Sean itu telah tergantikan oleh orang lain yang sibuk menyebutkan pesanan coffe nya dihadapan kasir.

-To Be Continue-

#Note: Wahh, Hye Ra ketemu Sean ya? *muka lempeng*

Untuk yang beranggapan bahwa Sean sama Jae Ra BAKALAN JATUH CINTA SATU SAMA LAIN, TOLONG HAPUS PIKIRAN ITU!! Karna itu terlalu mainstream dan cerita After The Wedding gak bakalan kayak gitu :’).

Terimakasih untuk #TeamHyeRa yang atas amukannya, :’) *eh. Sebenernya –belajar dari The Wedding, banyak yang ngeluh kalo part Hye Ra sangat sedikit, *aku juga menyadari itu ko, I don’t wanna do the same mistake, jadi part SEMUA pemeran di After The Wedding lagi dalam proses ‘PENYAMARATAAN’, *mohon ditunggu yaa :D. *TeamHyeRa, aku mendengar keluhan kalian ko.. 🙂

Terimakasih juga atas kritikan, masukan dan koreksi dari kalian semua diberbagai part cerita.. huhu aku seneng, I will try to be better :’)

*Btw, aku gak bisa bales semua komentar, tapi yang pasti aku selalu baca even untuk yang suka komentar ‘Next thor’ doang, beneran aku baca ko :’).  #Bonus, sebenernya aku selalu ketawa ngakak tiap TeamHyeRa ngamuk bahkan kemarin aku liat sempet ada yang berantem sama TeamJaeMi, haha.. tolong sabar, ini hanya sekedar Fiction 😀

Tolong tinggalkan komentar komentar kalian, guyss.. 🙂

Thanks for reading this story yaa..

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 3)

  1. Aku berharap mereka ketemu kaaa, kasian 😟😟😟😟😟 semangat kaaaa. Aku sempet mikir dulu buat nginget nama pemeranya. Abisnya udah lama engga baca 😅😅😅😅 makasih loh kaa udah mau update 💕💕💕💕

  2. Ayolah jae mi.. pertemukan anak dan bapaknya. Masa sih km jg gamau ketemy jae ra ☺️☺️
    Senang baca kelanjutan the wedding.. u did a great job 👍🏻👍🏻 Salut sama cerita yg kamu buat.. semangat ya ngelanjutin ceritanya.. ga sabar kelanjutan ceritanya 😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s