[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 2)

|| Married by Accident [Chapter 2] ||

by ariana kim

|| Kim Jongin – Park Hana ||

Romance – Married Life – Sad

Multi Chapter

PG – 17 (berubah tiap chapter)

Summary :

Ini memang bukan kisah baru dalam kehidupan manusia. Namun pernahkah kau berpikir sebuah kecelakaan mampu membuat dua orang bersatu? Kau tidak akan pernah menduga apa yang terjadi sebenarnya.

Disclaimer :

Fanfic ini asli buatanku. Ide cerita berasal dari khayalanku yang tidak pernah terealisasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, alur dan setting, itu hanyalah ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t be a plagiator. Sorry for typos ☺

*

*

*

Crazy Idea #2.

Untuk sesaat ruangan nampak hening. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk bicara setelah mendengar apa yang Jongin katakan. Mereka – pria-pria berjas hitam – yang bekerja sebagai bodyguard dari Jongin, nampak sibuk mencerna. Sedangkan Kyungsoo, yang notabene sahabat serta sekretaris Jongin, hanya terdiam. Sepertinya ia belum sepenuhnya percaya.

Hana menatap lelaki yang kini sudah menjatuhkan dirinya di lantai. Lututnya membentur lantai cukup keras hingga menimbulkan bunyi debuman yang mampu membuat Hana sedikit terlonjak. Dalam pandangan mata Hana, lelaki ini nampak begitu kacau. Rambut cokelatnya berantakan dan sedikit basah, mungkin karena keringat. Ia juga tidak sekeren tadi pagi saat mereka tak sengaja bertemu di hotel. Pasti lelaki itu begitu terpukul.

“Sajangnim, bagaimana bisa – “

Kyungsoo mencoba berbicara, namun ia tidak bisa meneruskannya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Ia pikir Hyerin akan baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. Ia pikir –

“Kyungsoo-ya, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Jongin menatap Kyungsoo, matanya terlihat berair, “Satu-satunya orang yang mampu membuatku hidup, kini sudah pergi. Bagaimana aku akan menjalani hidupku selanjutnya?”

Jongin menundukkan kepalanya saat perlahan-lahan air mata itu menyeruak keluar dari sudut matanya. Ia ingin menyekanya, namun tangannya seolah tak sanggup untuk melakukannya. Tubuhnya seolah mati rasa. Sama seperti hatinya yang diam-diam membeku. Ia benar-benar terpukul.

Hana masih tetap diam di tempatnya. Ia bisa melihat Kyungsoo yang mendekati Jongin dan membimbing lelaki itu untuk berdiri lalu memapahnya keluar dari ruangan. Matanya terus menatap kedua lelaki itu hingga mereka menghilang di balik pintu. Beberapa bodyguard yang sejak tadi ditugaskan oleh Jongin untuk menemani Kyungsoo dalam melakukan penyelidikan mengenai kecelakaan yang menimpa Hyerin juga ikut keluar, meninggalkan Hana yang mematung di tempatnya.

Pikiran Hana melayang. Melihat Jongin yang begitu terpukul saat mengetahui bahwa kekasihnya sudah meninggal, membuatnya teringat akan luka lamanya. Memori yang sudah lama terkubur di sudut terdalam otaknya mulai menguar. Satu persatu potongan adegan mengenai kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya mulai berputar layaknya sebuah film pendek.

Ia juga dulu seperti itu, menangis pilu mengetahui jika kedua orangtuanya sudah meninggal. Ia yang saat itu masih berusia dua belas tahun, harus menghadapi kenyataan pahit ditinggalkan oleh dua orang yang begitu berpengaruh dalam hidupnya, membuatnya dan kakaknya – Chanyeol – menjadi yatim piatu saat itu juga. Hana tahu betul bagaimana rasanya kehilangan. Tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya ditangisi oleh orang lain.

Diam-diam Hana mempertanyakan itu pada hatinya sambil menatap selembar cek yang ada dalam genggaman tangannya.

“Hana-ya, bagaimana keadaanmu?”

Terdengar suara Chanyeol saat pintu terbuka. Lelaki jangkung itu langsung menampakkan dirinya dan berlari kecil mendekati Hana. Ia menatap adik semata wayangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut wajah khawatir. Ia baru saja akan memulai pekerjaannya di restoran saat pihak rumah sakit meneleponnya dan memberitahukan jika adiknya dirawat disana. Tentu saja Chanyeol langsung meninggalkan pekerjaannya itu.

“Seseorang meneleponku dan mengatakan kau masuk rumah sakit.” Chanyeol mulai bercerita sambil memeriksa setiap inchi tubuh Hana, “Apa yang kau pikirkan saat menolong orang itu? Dan bagaimana bisa kau begitu bodoh? Kenapa juga kau ada di lokasi kejadian? Apa yang kau lakukan di Tongyeong? Bukankah seharusnya kau ada di reuni?”

Pertanyaan Chanyeol datang bertubi-tubi seperti hujan yang turun deras malam itu. Sepatu dan pakaian Chanyeol sedikit basah dan Hana bisa tahu jika lelaki itu pasti menerjang hujan demi menemuinya ke sini. Hana tahu jika dirinya begitu penting dan berarti di mata kakaknya, tetapi bukan berarti kakaknya ini bisa melakukan apa saja seenaknya ‘kan? Jika Chanyeol sakit karena hujan-hujanan, siapa yang akan repot mengurusnya? Tentu saja dirinya. Apalagi ia harus mengeluarkan uang untuk membeli obat jika Chanyeol sakit. Tentunya akan sangat merugikan bukan?

“Bukankah sudah kubilang untuk memakai jas hujan, Oppa?” Hana membuka suaranya setelah lama terdiam. Ia menatap kakaknya tidak suka.

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar, “Lupakan itu. Kau lebih penting saat ini, Hana.” Ucapnya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari tubuh Hana. Matanya menangkap sesuatu yang dipegang Hana lalu mengambilnya. “Oh, lihatlah apa ini!” Ia bersorak. Suaranya sedikit meninggi.

Hana mengalihkan tatapannya pada cek yang dipegang Chanyeol, “Mereka memberiku itu. Bukankah itu cukup untuk membawar sewa apartemen kita?”

“Tentu saja. Kita bahkan bisa berlibur beberapa minggu di luar negeri!” sambungnya. Senyum mengambang di wajah tampannya dan ia seratus persen melupakan tujuan awalnya datang ke rumah sakit ini – memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.

Jika kau berpikir Chanyeol akan berbeda dengan Hana, maka kau salah besar. Bak sebuah pepatah ‘Darah lebih kental daripada air’, maka itu cukup untuk menggambarkan bagaimana Chanyeol dan Hana. Mereka kakak beradik yang sama-sama menyukai uang, tentu saja. Siapa yang tidak menyukai uang? Hanya orang bodoh yang melakukannya.

Hanya saja, Chanyeol sedikit lebih terkontrol. Jika Hana melakukan segala cara, salah satunya berkencan dengan orang-orang kaya untuk mendapatkan uang dengan mudah lalu menghabiskannya secepat membuang sampah, maka Chanyeol akan bekerja dengan giat. Dulu ia memang sering memanfaatkan beberapa gadis yang ia kencani untuk membelikannya ini itu, namun karena ia merasa semua itu tidaklah cukup, maka ia akan berusaha sendiri.

Dan begitu ia mendapatkan uang dengan hasil jerih payahnya, ia akan menyembunyikannya serapi mungkin dari tangan nakal adiknya. Asal kau tahu saja, Chanyeol itu pelit. Benar-benar pelit hingga ke tingkat tertinggi. Hana saja sampai hampir gila karena kelakuan kakaknya. Ia yang belum bekerja, tentu saja akan menggantungkan hidupnya pada kakaknya. Parahnya, Chanyeol akan menganggap semua yang telah ia keluarkan untuk Hana sebagai hutang. Bukankah Chanyeol kakak yang ‘baik’?

“Kembalikan. Aku akan ke bank setelah aku sembuh dan melunasi semua hutangku padamu.” Ucap Hana. Ia bangkit berdiri dan berniat mengambil cek itu dari tangan Chanyeol namun lelaki itu malah memasukkannya ke dalam saku celananya.

“Jangan berpikir untuk mengambilnya dariku, Hana.” Chanyeol memperingatkan. Wajahnya terkesan menyebalkan saat mengatakan itu, “Kuanggap hutangmu lunas dan biarkan aku yang mencairkannya di bank besok.” Sambungnya dengan senyum puas.

“Sialan.” Hana mengumpat. Ia mendudukkan pantatnya kembali ke kasur. “Jika saja dia bukan kakakku, aku pasti sudah membunuhnya.” Sambungnya dengan suara yang lebih rendah.

“Aku bisa mendengarnya, adikku sayang.” Ucap Chanyeol yang sedang membaringkan tubuhnya ke sofa. Ia menutup matanya dan berniat untuk tidur selama beberapa menit sebelum membawa adiknya pulang.

.

.

.

.

“Pelan-pelan jalannya, Oppa.”

Hana sedikit berteriak saat Chanyeol sudah berjalan beberapa meter di depannya. Kakinya yang keseleo gara-gara pingsan tanpa menata tubuhnya terlebih dahulu masih terasa sakit dan menyebabkannya sedikit kesusahan untuk berjalan.

Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia berkacak pinggang sambil menatap adiknya sebal. “Jangan berpura-pura. Kau tidak separah itu hingga harus berjalan terpincang-pincang. Aku sudah tahu trik licikmu, bodoh.” Rutuknya yang membuat Hana berdecak sebal.

Ia memilih untuk diam dan tetap berjalan. Sesampainya di samping Chanyeol, lelaki itu menggandeng tangan Hana dan menariknya untuk berjalan sejajar dengannya, membuat Hana meringis. Ia memang tidak berbohong mengenai keadaan kakinya, dan Chanyeol yang bodoh mengira jika ia sedang berakting. Sialan sekali dia.

“Oh, itu dia.”

Segerombolan wartawan yang sejak tadi menunggu di lobi rumah sakit langsung berduyun-duyun berlari ke arah Hana dan Chanyeol yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit. Beberapa wartawan langsung menangkap momen saat keduanya berjalan bergandengan tangan dengan kamera yang selalu mereka bawa sambil terus berlari mendekat ke arah mereka.

“Apa itu?”

Chanyeol yang lebih dulu menyadari jika ada yang mengikuti mereka. Ia menghentikan langkahnya, membuat Hana juga ikut berhenti, dan menatap segerombolan orang aneh dengan kamera yang memancarkan blitz dan berlari ke arah mereka.

“Tidak ada artis ataupun politisi disini.”

Hana yang tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi, mengedarkan pandangan dengan bodohnya ke sekeliling dan menengok ke kanan ke kiri. Namun ia tidak menemukan seseorang yang terkenal yang sering keluar masuk televisi (?).

“Lee Hyerin!”

Gerombolan wartawan itu sudah semakin dekat jaraknya dengan mereka dan beberapa dari mereka mulai memanggil nama itu, karena mengira jika Hana adalah Hyerin, si model yang luar biasa terkenal di negara mereka.

“Nona Lee Hyerin, kudengar kau kabur saat pemotretan berlangsung.” Seorang wartawan yang sejak tadi berlari, sampai lebih dulu di depan Hana dan menodongnya dengan pertanyaan. “Dan siapa lelaki ini? Dia seperti bukan Kim Jongin. Kau tidak berselingkuh ‘kan”

Seolah tahu jika yang dimaksud oleh wartawan itu adalah dirinya, Hana langsung tersadar dan menarik Chanyeol untuk pergi. Chanyeol yang juga mengerti, mengeratkan genggaman tangannya pada Hana dan mereka berduapun berlari, menghindari kejaran wartawan yang salah mengira jika adiknya adalah seorang artis. Beberapa wartawan masih berusaha mengejar mereka berdua dengan terus memotret mereka, hingga akhirnya mereka kehilangan keduanya saat Hana dan Chanyeol masuk ke dalam taksi.

.

.

.

.

BREAKING NEWS

MODEL CANTIK LEE HYERIN TERTANGKAP BASAH KELUAR DARI RUMAH SAKIT BERSAMA SEORANG PRIA ASING. KABARNYA IA BARU SAJA MEMERIKSAKAN KANDUNGANNYA YANG DIDUGA HASIL HUBUNGAN GELAPNYA DENGAN PRIA TERSEBUT. LALU BAGAIMANA HUBUNGANNYA DENGAN CEO KIM?

Jongin melempar surat kabar yang memuat berita panas mengenai kekasihnya di halaman utama. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Semalaman ia tidak bisa tidur karena begit terpukul ditinggalkan oleh Hyerin. Jika saja Ayahnya tidak mendesaknya untuk masuk kerja hari ini, ia lebih memilih menemani Hyerin di ruang persemayaman daripada berkutat dengan angka dan tulisan yang memusingkan. Ia masih harus mengurus pemakaman Hyerin yang akan dilaksanakan keesokan harinya.

Matanya menatap foto yang dicetak besar-besar di halaman surat kabar tersebut. Disana terlihat seorang gadis dengan wajah mirip Hyerin, bergandengan tangan dengan seorang lelaki jangkung yang lebih tinggi darinya. Jongin berdecak kesal. Wartawan pasti salah mengira jika gadis itu adalah Hyerin. Salahkan wajah mereka yang terlampau mirip hingga Jongin pun sempat berpikir jika mereka itu kembar.

“Aku tidak menyangka jika masalahnya akan semakin runyam seperti ini.” Kyungsoo mendesah. Ia sama pusingnya dengan Jongin.

“Ini benar-benar diluar kendali kita, Kyung.” Jongin berucap, melarikan beberapa anak rambutnya ke belakang. Jangan ditanya betapa kacaunya di saat ini. “Kau sudah mendapatkan apa yang kuinginkan?” Jongin mengalihkan pikirannya, ia menatap lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA dengan teliti.

“Tentu.” Kyungsoo mengambil map yang saat masuk tadi ia bawa, “Aku sudah mencari tahu mengenai gadis itu,” Kyungsoo memulai laporannya, “namanya adalah Park Hana, lahir dan dibesarkan di Seoul. Usianya dua puluh dua tahun, lulusan dari Kyunghee University jurusan manajemen bisnis, kampus yang sama dengan adikmu.”

“Lalu bagaimana dengan silsilah keluarganya?” Jongin kembali bertanya.

“Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Park Chanyeol. Kedua orangtuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Saat ini mereka tinggal di Yonsan Apartment nomor 245.”

Jongin mendengarkan dengan cermat. Sesekali ia menganggukkan kepalanya. Sahabatnya ini memang benar-benar hebat bisa mendepatkan informasi mengenai diri seseorang hanya dalam waktu tak kurang dari dua puluh empat jam. Ia tidak menyesal mempekerjakan lelaki itu sebagai sekretaris pribadinya.

“Bagaimana dengan DNAnya?” Kembali Jongin bertanya. Kemarin ia menyuruh Kyungsoo agar dilakukan tes DNA antara gadis bernama Park Hana itu dengan Hyerin.

“Laporannya baru kudapatkan beberapa saat yang lalu.” Kyungsoo menimpali, membuka amplop yang baru beberapa menit sebelum ia masuk ke ruangan Jongin diberikan kepadanya, “Sayangnya tidak ada kecocokan DNA antara Park Hana dengan Lee Hyerin. Artinya mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.”

Jongin mengernyitkan keningnya. “Gadis itu pasti melakukan operasi plastik untuk meniru wajah Hyerin ‘kan?”

“Menurut Dokter Shin, wajah Park Hana asli sejak lahir. Dia sudah memeriksanya dan tidak ada bekas jahitan maupun transplantasi pada wajahnya.” Jelas Kyungsoo. Dokter Shin adalah dokter ahli bedah paling hebat di Seoul.

“Tidak mungkin.” Jongin terperangah. Jelas-jelas tidak puas dengan laporan Kyungsoo untuk hal yang satu ini. “Bagaimana bisa dua orang yang tidak memiliki hubungan darah bisa memiliki wajah yang sama persis? Kau pikir aku gila?”

Kyungsoo mendesah panjang. Ia tahu bosnya itu akan bereaksi seperti ini. “Memang begitu hasil pemeriksaannya. Kau tidak boleh meragukan kemampuan mereka, Jongin.” Kini ia melupakan formalitasnya dan berbicara pada Jongin sebagai seorang sahabat. “Laporan ini seratus persen akurat.” Tutupnya.

“Tapi – “ Jongin masih berusaha mengelak.

“Kau pernah mendengar pernyataan bahwa manusia kemungkinan memiliki tujuh kembarannya di dunia ini, ‘kan?” Kyungsoo menyela dan dijawab anggukan oleh Jongin.

“Aku hanya tidak mengerti, Kyung. Ini terlalu aneh.” Jongin kembali memijat pelipisnya.

“Aku berpikir untuk membuat gadis itu tutup mulut atas kematian Hyerin. Aku memang sudah memberinya sejumlah uang, tapi bukan berarti jika dia akan menjaga rahasia ini ‘kan? Sebaiknya kita menemuinya dan membicarakan detailnya. Aku punya nomor gadis itu.” Saran Kyungsoo. Jongin mulai memikirkannya.

.

.

.

.

Setelah hampir dua hari istirahat di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, Hana memutuskan untuk keluar hari ini. Ia memakai pakaian yang dibelikan oleh Baekhyun akhir bulan lalu dan tersenyum simpul menyadari jika ia akan selalu cantik saat memakai pakaian apapun. Tak lupa ia memoles wajahnya dengan make up yang membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih cantik. Hana memang terlahir dengan kecantikan abadi di dunia ini.

Berjalan seorang diri di mall sebesar ini bukanlah hal baru lagi bagi Hana. Gadis itu sudah sering wara wiri dari satu butik ke butik lain dan mengitari mall ini hingga ke sudut terkecilnya hanya untuk mencari barang-barang branded yang akan menunjang penampilannya dan membuat dirinya disanjung serta disegani oleh semua orang. Kau pasti tahu ‘kan jika pakaian yang kau kenakakan akan menunjukkan seberapa tinggi derajatmu di dunia ini?

Hana berhenti di salah satu butik langgannya selama dua tahun teakhir ini. Ia melangkah masuk dengan anggunnya dan tersenyum pada beberapa pelayan di sana yang mengenalnya. Hana berjalan ke deretan pakaian keluaran terbaru dan mulai memilih-milih. Berkali-kali ia keluar masuk kamar ganti, dan setelah hampir dua jam berada di butik itu, ia akhirnya membawa dua buah pakaian ke kasir.

“Semuanya satu juta lima ratus empat puluh ribu won, Nona.” Kata kasir setelah ia menjumlah harga pakaian yang dibeli Hana.

“Oh, pakai ini saja.” ucap Hana sambil memberikan kartu kredit dari dompetnya. Kasir itu menerimanya dan menggesek kartu itu pada mesin EDC.

“Maaf, Nona. Tapi kartu ini sudah limited.” Ucap kasir seraya memberikan kartu itu kembali pada Hana.

Hana terlonjak di tempatnya. Itu adalah kartu yang ia ambil dari dompet Joonmyeon dan baru ia gunakan beberapa kali. Dan sekarang sudah limited? Hana mulai meragukan kekayaan Joonmyeon.

“Kalau begitu pakai yang ini saja.” Hana memberikan kartu lain lagi yang ada di dompetnya. Itu adalah kartu milik Baekhyun yang pernah diberikan padanya jika ia ingin membeli kebutuhan hidupnya. Baekhyun memang pacar idaman semua gadis.

Kembali kasir menerimanya dan mulai melakukan hal yang sama. Beberapa kali hingga kasir itu mengembalikannya, “Kartunya sudah diblokir, Nona. Ada uang cash?” tanya kasir itu akhirnya. Ia paling malas berurusan dengan orang-orang pengguna kartu tidak berguna seperti itu. Terlebih beberapa orang mulai mengatri di belakang Hana untuk membayar.

Sialan. Hana mendumel dalam hati. Ia tidak memiliki sepeserpun uang tunai. Cek yang waktu itu sudah dicairkan oleh Chanyeol dan kakaknya yang super duper pelit itu tak memberikan sekoinpun uang pada Hana. Miris sekali hidup Hana. Dia yang sudah payah menolong orang namun justru kakaknya yang menikmati hasilnya.

“Permisi. Park Hana-ssi.”

Dari arah belakang, seorang lelaki memakai setelan kantoran berjalan mendekati Hana yang sedang kalut di kasir. Hana menoleh dan langsung mengenali lelaki itu sebagai Do Kyungsoo, sekretaris lelaki calon istri Lee Hyerin.

“Ne?” Hana menatap lelaki itu kebingungan. Apa yang dilakukan lelaki itu pada jam kerja seperti ini?

“Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi namun kau tidak mengangkatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarimu lewat GPS yang terpasang di ponselmu.” Jelas Kyungsoo, sedikit menjelaskan mengenai kemunculannya di butik ini, “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Sambungnya.

“Oh. Ada apa memangnya?” Hana penasaran. Perasaan was-was mulai menyelubunginya. Lelaki ini tidak berniat menarik kembali pemberiannya ‘kan?

“Bagaimana jika kita membicarakannya di suatu tempat?” tawar Kyungsoo.

“Tentu.” Hana akan berjalan keluar saat kasir memanggilnya.

“Nona, apa yang harus kami lakukan dengan pakaian ini?” tanyanya.

Hana memukul keningnya. Ia hampir saja lupa jika ia sedang bermasalah dengan pembayaraan saat ini. Hana berpikir sejenak, lalu ide brilian muncul di otak kecilnya.

“Permisi, Kyungsoo-ssi. Boleh aku meminta bantuanmu?” tanya Hana hati-hati pada Kyungsoo.

“Ne?”

“Bisakah kau membayarkan pakaian ini untukku? Aku akan menggantinya. Segera.”

Kyungsoo melongo di tempatnya. Hana selalu bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

.

.

.

.

“Maaf mengganggumu di jam sibuk seperti ini, Park Hana-ssi.” Jongin menjabat tangan Hana saat gadis itu menerima uluran tangannya. Ia menatap gadis yang begitu mirip dengan mendiang kekasihnya dengan seribu perasaan yang bercampur aduk di hatinya.

“Gwaenchana.” Hana memberikan seulas senyum mematikan. Ia meletakkan paper bag berisi pakaian yang sudah dibayar oleh Kyungsoo di bawah meja. “Senang melihatmu keadaanmu membaik, Tuan – “

“Kim Jongin. Panggil aku Kim Jongin.” Jongin dengan cepat menyela saat Hana kebingungan menyebut namanya. Ia ingat belum memperkenalkan dirinya secara resmi pada gadis itu. Tapi itu tidaklah penting sekarang.

“Oh, ya. Kim Jongin-ssi.” Hana kembali tersenyum. Siapapun akan tahu jika itu adalah senyum tergenit yang pernah ia punya. Sepertinya gadis penggila uang itu sedang melancarkan aksinya untuk menggaet lelaki-tampan-kaya-raya-yang-sedang-patah-hati-ditinggal-mati-kekasih. Siapapun akan tahu jika Jongin benar-benar sempurna. Secara fisik dan materi.

“Langsung saja pada intinya.” Jongin mengabaikan senyuman Hana yang jujur membuat jantungnya serasa ingin melompat dari tempatnya. Kenapa sangat mirip dengan Hyerin? “Ini tentang kejadian tempo hari.”

Tak perlu menjadi pintar untuk tahu maksud perkataan Jongin. Hana sudah bisa menebak jika lelaki itu ingin menemuinya karena masalah ini. Itulah mengapa Hana mengeluarkan jurus penggoda lelaki andalannya yang tidak pernah gagal menggaet lelaki tampan dari jenis manapun. Tentu saja untuk membuat lelaki berubah pikiran jikalau ingin melakukan hal buruk padanya.

“Kau tidak berniat mengambil kembali uang yang sudah kau berikan padaku ‘kan?” Hana memasang tampang memelasnya, “Aku tidak melakukan sesuatu pada kekasihmu, Jongin-ssi. Tolong jangan tuntut aku. Aku masih muda dan belum mau mencicipi asam garam kehidupan.” Sambungnya. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat memelas. Oh, Park Hana benar-benar cocok menjadi aktris.

Jongin segera melambaikan tangannya. Tebakan Hana salah besar karena ia tidak berniat melakukan hal yang sudah disebutkan oleh gadis itu. Ia sudah mendengar detail kejadiannya pada polisi yang sudah menangani kasus itu dan tidak ditemukan unsur kesengajaan. Kecelakaan itu murni kelalaian pengemudi dan Hana hanyalah saksi mata sekaligus penolong.

“Bukan begitu, Hana-ssi. Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal.” Elak Jongin.

“Syukurlah.” Hana mendesah lega. Ia kembali tersenyum, “Tanyakan apapun padaku.”

Kau juga bisa bertanya apa aku mau berkencan denganmu. Tambahnya dalam hati.

“Sebelumnya aku ingin memintamu untuk tutup mulut mengenai kecelakaan Hyerin. Aku tidak ingin ada seseorangpun yang mengetahuinya.” Mulai Jongin. Ia menatap Hana dalam-dalam. “Kau benar-benar tidak mengenal Lee Hyerin?” Tanya Jongin hati-hati.

Itu adalah pertanyaan yang sejak awal ingin ia tanyakan pada gadis yang memiliki paras begitu mirip dengan mendiang kekasihnya. Ia terus bertanya-tanya, bagaimana bisa dua orang gadis yang tidak memiliki hubungan darah dan umur yang berbeda, bisa memiliki wajah yang sama? Ini bukanlah suatu kebetulan. Pasti ada penjelasan yang logis mengenai masalah ini.

“Tidak.” Jawab Hana tanpa berpikir panjang. Ia memang tidak mengenalnya. “Jika kau menanyakan mengapa wajah kami bisa begitu mirip, aku juga tidak tahu. Aku sempat mencari tahu mengenai Lee Hyerin di internet setelah kau mengatakannya malam itu. Dan sekilas, kami memang mirip. Tapi tidak benar-benar mirip. Kami berbeda, Jongin-ssi.” Jelas Hana.

Seperti yang bisa kita lihat dari gambar di atas, memang Hyerin dan Hana memiliki kemiripan. Sekilas wajah mereka nampak sama. Dari samping mulai dari bentuk mata, hidung, bibir maupun rahang mereka begitu mirip. Tapi jika dilihat lebih jelas dan lebih teliti, mereka tidaklah benar-benar sama. Serupa tapi tak sama. Mereka bukanlah saudara kembar, hanya struktur wajah wajah mereka memiliki beberapa kesamaan. Dan karena Jongin terhanyut dalam ilusinya akan Hyerin, mungkin lelaki itu sudah sepenuhnya jatuh dalam pesona Hyerin, ia tidak bisa membedakan keduanya.

“Yah, aku tahu. Aku memang bodoh.” Jongin menghela nafas. Ia tahu pemikirannya itu dengan menganggap bahwa Hyerin dan Hana mungkin memiliki sebuah hubungan yang dirahasiakan oleh Tuhan. Namun ternyata ia salah. Setelah dipikir-pikir, semua itu hanyalah ketidaksengajaan yang mungkin direncakana oleh Tuhan. Entah apa maksudnya.

“Jangan terus menyalahkan dirimu, Jongin-ssi. Aku juga turut sedih atas kematiannya.” Hana memulai jurus mautnya. Ia menunjukkan wajah berdukanya yang membuat Jongin langsung terpana.

Lelaki yang masih hanyut akan kesedihan ditinggalkan oleh Hyerin, kerinduan akan sosok gadis itu, membuat matanya gelap. Ia tidak bisa membedakan ilusi dengan kenyataan. Hingga sesaat, dalam pandangan matanya, Hana adalah Hyerin yang dikirim Tuhan untuk menjadi pengganti gadis itu.

Jongin yang terpana melihat Hana, bangkit dari duduknya. Matanya berkaca-kaca. Ia berjalan mendekati Hana dan menatap gadis itu lamat-lamat. Wajah Hyerin terpampang nyata di sana, tengah tersenyum padanya. Kerinduan membuncah dalam dadanya, membuat setitik air mata jatuh di pipinya. Jongin mendekati Hana, menyentuh pipi gadis itu dengan sebelah tangannya.

“Kau cantik.”

Entah sadar atau tidak saat Jongin mengatakan hal itu, senyum di wajah Hana merekah bak bunga di musim semi. Gadis itu masih terus tersenyum, membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih cantik dan membuat Jongin terhanyut. Perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Hana dan tak lama bibir keduanya bertemu. Hana menutup matanya, merasa kemenangan ada di tangannya saat ini. Ia bisa membuat Jongin jatuh dalam pesonanya begitu mudah. Ini tidak sesulit yang sebelumnya pernah ia bayangkan.

Bibir mereka beradu. Jongin yang lebih dulu menggerakkan bibirnya. Ia melumat bibir Hana penuh perasaan. Menyalurkan kerinduan dan kasih sayangnya kepada gadis yang sudah ia mengisi hatinya selama beberapa tahun terakhir ini. Dapat menyentuh gadis itu lagi, serasa sebuah kehormatan bagi seorang Kim Jongin. Bibir gadisnya terasa berbeda, begitu manis dan membuatnya ingin terus mencecapnya. Sensasinya benar-benar berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya. Benar-benar menggelitik, seolah-olah ada sesuatu yang memukul kepalamu bertubi-tubi. Tidak menyakitkan, namun terasa nikmat. Sebuah desiran halus berhembus dalam hati Jongin.

“Eung~”

Hana mendesah begitu ia kehabisan oksigen. Ia melepaskan tautan bibirnya dengan Jongin dan memundurkan kepalanya. Jongin kelihatan kecewa, namun lelaki itu diam dan menatapnya. Dari jarak sedekat ini, Hana bisa melihat mata Jongin yang berkabut. Lelaki itu pasti berpikir jika dirinya adalah Hyerin. Yah, Hana sudah tahu. Namun ia tetap melancarkan aksinya untuk mendapatkan lelaki itu. Walaupun bukan hatinya. Sesuatu yang lain yang lebih berharga dari sebuah perasaan. Uang. Kekayaan.

“Hyerin, saranghae.”

.

.

.

.

“Apa ini?”

Tuan Kim Jonghoon, ayah Jongin, mengamuk saat ia datang ke ruang kerja anaknya pagi ini. Seseorang mengiriminya beberapa foto yang berisi kelakuan menjijikkan putranya bersama seorang gadis asing. Bayangkan saja, jika kau seorang ayah dan mendapati anakmu bermesraan dengan gadis lain sedangkan anakmu itu akan menikah sebulan lagi. Walaupun pernikahan itu terancam gagal.

“Rumor yang beredar menyebutkan jika kau bermain dengan wanita lain setelah dicampakkan oleh Hyerin. Bukankah ini memalukan?” Tuan Kim kembali berbicara. Nada bicaranya sekeras batu karang dan tak tergoyahkan oleh gelombang samudra.

“Aku sudah menyuruh Kyungsoo untuk menyelesaikan masalah ini. Berita ini akan menghilang seiring berjalannya waktu.” Jongin masih tetap tenang walaupun hatinya diliputi kegalauan luar biasa. Ia masih berduka atas kematian Hyerin dan cobaan datang bertubi-tubi kepadanya bagaikan gelombang tsunami di siang bolong.

“Kau tidak tahu jika berita sekecil apapun akan berakibat pada nilai saham perusahaan kita?” Tuan Kim mulai murka. Amarah yang ia pendam perlahan-lahan mulai naik ke permukaan. “Nilai saham kita turun 0,001% dan iki karena skandal bodoh yang tiba-tiba muncul setelah kematian gadis itu.” jelas Tuan Kim.

Agensi tempat Hyerin bernaung sekaligus milik Jongin memang belum memberikan pernyataan lebih lanjut. Mereka memilih bungkam dan menutup mulut rapat-rapat atas perintah pendiri perusahaan ini. Siapa lagi kalau bukan Tuan Kim. Bahkan kabar kematian Hyerin juga masih dirahasiakan dari masyarakat luas, takut jika berita itu akan membuat nilai saham perusahaan mereka turun drastis.

“Yah.” Jongin membenarkan. Ia tidak menutup mata akan hal itu. “Tapi kau juga menutupi kematian Hyerin. Sampai kapan, Ayah?”

“Sampai keadaan baik-baik saja.” Ucap Tuan Kim kini mulai tenang. “Tapi pernikahanmu tetap harus berjalan, Jongin.” Sambungnya.

Jongin terlonjak di tempat duduknya. Ia mengernyit, apa ia tidak salah dengar? Memangnya ia harus menikah dengan siapa jika pengantin wanitanya saja sudah berada di akhirat? Haruskah ia menyusulnya kesana?

“Ayah, tentu saja pernikahan ini batal.” Jelas Jongin, meluruskan.

Tuan Kim menatap anaknya tajam, “Kau bodoh ya? Bagaimanapun pernikahan akan tetap berlanjut dengan atau tanpa Hyerin. Aku tidak bisa membiarkan perusahaan kita mengganti rugi inverstor yang sudah mensponsori pernikahanmu.” Jelasnya.

Yah, beberapa investor memang mensponsori pernikahan Jongin dan Hyerin. Mereka menganggap itu sebagai investasi mengingat hubungan Jongin dan Hyerin paling disetujui oleh masyarakat. Tak tanggung-tanggung, jumlah yang diterima hampir dua puluh miliar won dengan beberapa perjanjian. Jika dalam waktu tiga bulan pernikahan mereka berakhir (Jongin dan Hyerin memutuskan untuk bercerai) atau pernikahan mereka gagal, maka perusahaan harus mengganti rugi dua kali lipat. Dan kau bisa menebak seberapa banyak mereka harus mengganti.

Jongin terdiam. Ia tidak bisa melupakan fakta sekecil itu. Nyatanya, hal itulah yang ia takutkan selama ini. Tentu saja ia tidak mau mengganti rugi. Ia yang merupakan lulusan S2 di Amerika Serikat, tentu saja mengerti bisnis dengan begitu baik. Ia tidak mau rugi hanya karena hal-hal konyol seperti pernikahan. Lalu bagaimana solusinya?

“Nikahi gadis itu.” Usul Tuan Kim.

“Ayah! Aku tidak mengenalnya.” Jongin menolaknya dengan tegas. Memang ia sempat berbuai dalam pesona Hana yang kelewat mirip dengan Hyerin, tapi ia tidak bisa hidup dengan seseorang yang tak ia kenal.

“Tidak mengenal tapi sudah berani berciuman di tempat umum, hem?” Sindir Tuan Kim. “Hanya empat bulan dan kalian bisa bercerai.” Sambung Tuan Kim.

Bercerai? Yang benar saja! Pernikahan ini bukanlah pencitraan ataupun lelucon konyol.

“Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, Ayah. Kita bisa menemukan cara lain untuk tidak mengganti rugi.” Jongin berusaha mengelak. Ia benar-benar tidak mau dan tidak setuju dengan usul Ayahnya.

“Aku akan memberikan 30% saham yang kumiliki padamu. Dan perusahaan ini, seluruhnya, akan menjadi milikmu.” Ucap Tuan Kim serius.

Jongin terdiam di tempatnya.

Selama ini ia hanya memiliki 30% saham dari perusahaan ini. Dan untuk menjadi pemiliki penerus sekaligus pemilik yang sah, Jongin diwajibkan untuk mencari 30% persennya lagi dengan usahanya sendiri. Tapi kini Ayahnya dengan murah hati memberikan 30% itu secara sukarela asalkan ia mau menikah selama empat bulan? Lelucon konyol macam apa ini??!!

“Kau hanya perlu menikah dengan gadis itu dan katakan pada seluruh dunia bahwa Hyerin mengkhianatimu. Kau akan bercerai dalam bulan keempat dan seluruh perusahaan ini menjadi milikmu. Bukankah ini yang selalu kau inginkan, Putraku?”

.

.

.

.

TBC~

Holla~ ini adalah chapter keduanya. Maaf ya kalo ceritanya aneh dan berbelit-belit. Syukur kalo ada yang nungguin. Next chapter tungguin ya

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 2)

  1. Ceritanya kerennn👍👍 aku salah, kirain hana bakalan pake identitas hyerin, ternyata enggak haha hana mah pasti mau nikah sama jongin, wah gimana ya hana ntar ketemu sama adeknya jongin-,-

  2. Klo jongin menerima tawaran ayahnya,,,aq kok jadi merasa klo dia itu sama aja kayak jongin,,,,sama2 ‘matrealistis’ tapi dlam konteks yg berbeda haha

  3. Wah sumpah tambah keren aja nih ff…suukaaaa
    Maaf baru nongol sekarang. Di chap sebelumnya cuma ngelike 😆
    Btw ini update nya tiap minggu apa gimana ya??
    Ga sabar nungguin lanjutannya. Moga ampe kelar ya ffnya… Fighting 💪💪

  4. Hana matre banget sumpaaah
    Jadi kasian sama hyerin dia udh mati tapi namanya bakal jelek gara” saham -_-
    Suka saka ceritanya bikin penasaran, ditunggu next chapnya author
    Penasaran siapa yg bakal jatuh cinta duluan hana apa jongin

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s