[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 19 END-Part 2)

Poster Secret Wife6

Tittle    : SECRET WIFE

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol, Kim Jung Hae (Alissa)

Support Cast :

Kim Jung Ra, Oh Se Hun (Mickle), Byun Baekhyun, Kim Jong In, Kim Jong Dae, Cho Young Rin, and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 19 (END)  – 사랑해 (Part 2)

Chanyeol tertidur setelah semalaman dia terjaga. Bukan keinginannya untuk tidur, namun tubuhnya yang tak bisa diajak berkompromi. Dia terlelap meski posisiya sebenarnya tak menguntungkan. Dia duduk di kursi dengan kepala di sandarkan pada tepian ranjang tempat istrinya terbaring. Tangannya terus menggenggam erat tangan istrinya, seolah tak ingin terpisah darinya.

Ya, hari ini adalah hari dijadwalkannya operasi untuk bayinya. Hari dimana mungkin dia akan melihat istrinya untuk yang terakhir kali. Dia sudah menata hati serta pemikirannya untuk situasi ini. Sejak wanita itu datang dalam mimpinya, dia seolah mendapat kekuatan baru untuk melanjutkan hidupnya. Setelah selama enam bulan terakhir dia seperti orang yang tak punya semangat hidup.

Inilah hidup. Tak selamanya akan selalu seperti yang kita rencanakan bukan. Selalu ada hal-hal tak terduga yang terjadi. Dan semua itu tak lepas dari campur tangan Tuhan. Ya, dia percaya itu. Sejak kecil dia sudah didik untuk percaya adanya Tuhan. Dan dia juga percaya jika Tuhan memiliki rencana yang indah untuknya.

Pintu ruangan itu terbuka, menampakan seorang perawat. Dia tersenyum saat melihat pemandangan indah di ruang tersebut. Itu bukan kali pertama dia melihat pemandangan tersebut, sudah hampir setiap hari dia melihatnya semenjak wanita itu terbaring lemah disana. Dia kadang merasa iri pada wanita tersebut yang sangat beruntung memiliki suami seperhatian pria itu.

Perawat itu masih diam dalam posisinya. Dia ingin memeriksa ulang keadaan pasien sebelum masuk meja operasi. Tapi dia tak tega membangunkan pria itu. Apa yang harus dilakukannya? Perawat itu sepertinya bingung. Dia mengambil nafas panjang dan berjalan mendekat menuju ranjang pasien. Tangannya terulur ingin menepuk punggung pria itu, tapi dia berhenti sebelum tangannya menyentuh pungguh pria tersebut.

Dia melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Mata wanita yang terbaring itu terbuka. Ya, benar. Wanita itu telah membuka matanya kembali setelah enam bulan.

“Dokter, pasien membuka mata”, perawat itu berteriak sangat lantang. Dia bahkan secepat kilat pergi memanggil dokter yang menanganinya.

Chanyeol membuka mata mendengar teriakan perawat tersebut. Dengan malas dia mengangkat wajahnya. Matanya membulat seketika melihat istrinya membuka mata. Dia juga dapat merasakan gerakan tangan istrinya yang digenggamnya.

“Junghae, kau sudah bangun. Kau bisa mendengarku?”, Chanyeol mencoba berkomunikasi dengan istrinya.

Tapi sepertinya gadis itu masih belum sepenuhnya sadar. Hanya kedipan mata yang bisa dilakukannya untuk membuat pandangannya menjadi jelas.

Pintu ruangan itu kembali terbuka menampakan seorang dokter dan perawat yang tadi datang. Mereka mendekat menuju sisi ranjang Junghae. Chanyeol mundur beberapa langkah, memberikan ruang lebih banyak pada dokter tersebut.

Dengan cekatannya dokter tersebut memeriksa keadaan istrinya. “Nona, anda bisa dengar saya?”, tanya dokter tersebut. Terlihat anggukan kecil dari istrinya. “Bisakah anda mengatakan sepatah dua patah kata”, ucap dokter itu kembali.

“Iya, dokter”, ucap Junghae meski itu terdengar lirih.

“Anda mengingat nama anda?”, tanya dokter itu kembali.

Junghae mengangguk. “Iya. Alissa Kim”, jawabnya.

Dokter itu mengangkat alisnya. Setahu dia nama gadis itu adalah Kim Junghae. dia melirik Chanyeol minta penjelasan. Chanyeol hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

“Baiklah, anda bisa menggerakkan tangan anda”, dokter itu kembali bersuara.

Junghae mengikuti perintah dokter itu. Dia mencoba menggerakan tangannya. Dan itu berhasil. Begitu juga dengan tangan yang satunya.

“Bagaimana dengan kaki anda”, ucap dokter itu kembali.

Junghae mencoba menggerakan kakinya, namun sepertinya dia terlihat kesusahan. Dia menggeleng sebagai jawaban.

“Tak apa, nanti anda bisa ikut terapi. Ini sudah enam bulan sejak anda tak sadarkan diri, jadi ini wajar”, dokter itu tersenyum ramah.

“Perawat Jung. Tolong panggilkan dokter Song untuk memeriksa kandungannya”, ucap dokter itu kembali.

“Iya, akan saya lakukan dokter”, perawat itu pergi meninggalkan ruang setelah menunduk hormat.

“Anda mengenal pria itu?”, tanya dokter kembali setelah kepergian perawat tadi. Dia menunjuk ke arah Chanyeol.

“Iya”, Junghae mengangguk. Dia dapat melihat senyum khas yang menurutnya hanya dimiliki pria itu, sangat manis. “Dia suamiku”, lanjutnya.

“Syukurlah! Aku sempat berfikir anda akan mengalami amnesia”, ucap dokter itu kembali.

Tak lama setelahnya, dokter Song datang yang diikuti perawat tadi. Dia mendekat ke ranjang Junghae, memeriksa keadaan kandungannya. Seulas senyum tersungging dari bibir manis dokter perempuan itu. “Bayinya baik. Kita tak perlu melakukan operasi. Dia bisa lahir secara normal”, kata dokter Song.

Terlihat raut lega dari wajah Chanyeol. Dia benar-benar sangat bersyukur. Setelah enam bulan menunggu, akhirnya dia dapat melihat istrinya kembali terbangun. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya. Entah itu lega, senang , gembira, bahagia, semuanya ada bercampur menjadi satu dalam hatinya.

“Selamat tuan Park, istri anda akhirnya terbangun. Ini benar-benar keajaiban”, ucap dokter pria itu.

“Terima kasih dokter”, hanya itu kata yang bisa Chanyeol ucapkan.

“Kami permisi dulu”, ucap dokter itu kembali. Dia, dokter Song juga perawat tadi menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang inap tersebut.

“Jadi, sudah selama itu aku disini?”, kata Junghae. Dia mengusap pelan perutnya.

Chanyeol mengangguk. Dia menarik kursi sebelum mendudukinya. Dia menggenggam erat tangan istrinya.

Oppa, maafkan aku”, ucap Junghae kembali. Setitik air mata jatuh begitu saja dari pipinya.

“Tidak”, Chanyeol menggeleng. “Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku Junghae”.

***

Sudah seminggu sejak wanita itu bangun. Setelah melakukan beberapa terapi, tubuhnya sudah dapat berfungsi dengan normal. Tak ada momen bahagia bagi mereka selain terbangunnya wanita itu. Ya, setelah selama enam bulan mereka tak mendapat kepastian apakah wanita itu akan terbangun atau tidak. Ini adalah hal yang benar-benar mereka harapkan.

“Dokter Song, apa aku belum belum pulang?”, tanya Junghae setelah dokter itu selesai memeriksanya.

Dokter itu tersenyum. Dia tahu jika wanita yang tengah mengandung itu sudah bosan disana.

“Kenapa dokter tersenyum? Tidak bolehkah! Aku sudah baik-baik saja”, ucap Junghae kembali karena dokter itu tak segera menjawabnya. Bahkan nada bicaranya terdengar seperti anak kecil yang meminta permen kapas pada ibunya.

“Kandugan anda memang sehat. Anda bisa pulang”, jelas dokter Song.

“Ah, terima kasih dokter”. Junghae tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Ya, dia tak henti-hentinya tersenyum.

“Tapi ingat, anda harus benar-benar menjaga diri. Jangan melakukan sesuatu yang cepat membuat anda lelah. Datanglah untuk check up sesuai jadwal yang sudah saya buat”, jelas dokter Song kembali.

Junghae menggaguk. “Baiklah. Terima kasih dokter”, ucapnya.

“Apa tidak ada keluarga anda yang kemari?”, tanya dokter Song. Memang Junghae sedang sendiri saat itu. tak ada anggota keluarganya yang menjaga. Mereka bilang sedang ada urusan. Dan suaminya, dia sudah tak melihatnya sejak semalam.

“Mereka pasti sedang sibuk”, jelas Junghae.

“Bagaimana bisa mereka meninggalkan anda sendirian! Ini bahkan baru seminggu sejak anda terbangun”.

Gwenchanayo”.

Dokter itu terlihat membuang pasrah nafasnya. “Baiklah! Saya permisi dulu. Jangan lupa makan makanan anda”, dokter itu menunduk hormat sebelum pergi.

Junghae menatap lekat jendela ruang inapnya setelah mendengar suara pintu tertutup. Dia menutup sebelah matanya tengan telapak tangannya untuk menghalangi sinar matahari menerpa wajahnya. Matahari sudah mulai meninggi di ufuk timur.

Dia mengingat kejadian demi kejadian sejak dia kembali ke negara itu. Mulai dari pertemuan tak sengajanya dengan pria itu. Saat secara tak sengaja mereka bertabrakan. Jika diingat lebih dalam pertemuan mereka seperti sebuah takdir. Pernikahan tak sengaja yang mengubah hidupnya. Dia bisa merasakan indahnya menjalin hubungan setelah sekian lama menyendiri. Awalnya tanpa dasar cinta, tapi seiring berjalannya waktu rasa itu tumbuh dengan sendirinya.

Semua peristiwa indah bersama pria itu terlitas begitu saja di kepalanya. Ya, pria itu bernama Park Chanyeol. Pria yang sudah mengikatnya dalam pernikahan. Pria baik yang sangat bertanggung jawab. Dia sangat berterima kasih pada Tuhan sudah dipertemukan dengan pria sebaik pria itu.

Pintu ruang inapnya terbuka menampakan pria yang sedang difikirkannya. Junghae menoleh untuk melihat siapa yang sedang mengunjunginya. Dia tersenyum mengetahuinya. “Oppa, kau datang”, sapanya.

Pria itu melihat nampan berisi makanan yang masih utuh. “Kau belum memakan sarapanmu?”, tanyanya. Dia beralih mengambil nampan tersebut.

Junghae menggeleng.

Pria itu menbuang pasrah nafasnya. Dia duduk di sebelah Junghae kemudian. “Kenapa kau belum memakan sarapanmu!”, pria itu kembali bertanya.

Junghae hanya tersenyum.

“Apa ini tidak enak?”, tanyanya kembali.

Junghae menggeleng kembali.

“Makanlah! Apa mau aku suapi”, ucap pria itu kembali.

“Tidak usah. Aku bisa makan sendiri”, Junghae merebut nampan yang dibawa pria itu. dia mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya. Dengan lahap, sangat lahap malahan. Dia terlihat seperti orang yang tak makan sebulan.

Pria itu tersenyum melihat tingkah istrinya. Sangat lucu pikirnya. “Pelan-pelan. Nanti kamu tersedak”, jelas pria itu.

“Ini sangat enak oppa. Kau mau!”.

Pria itu menggeleng. “Tak usah, untukmu saja”.

Oppa sudah makan?”, tanyanya di sela-sela makan. Dia kini terlihat lebih tenang saat mengunyah makanannya.

“Iya”, pria itu menggangguk. “Maaf aku meninggalkanmu begitu saja semalam”, lanjutnya.

“Tak apa. Aku tahu kau pasti sibuk”, jelas Junghae. Dia tak menatap pria itu, dia tengah terfokus pada makanannya.

Pria itu terdiam. Dia sedang menatap lekat istrinya. Semua yang dilakukan Junghae tak luput dari penglihatannya. Seulas senyum tersungging begitu saja di wajahnya. Dia sangat bersyukur bisa melihat tingkah lucu wanitanya. Ya, dia ingin melihat itu sampai tiba saatnya dia harus meninggalkan dunia ini.

“Ah”, Junghae kini menoleh ke arahnya. Dia sedikit tersentak tadi. “Aku sudah boleh pulang kata dokter Song”, jelas wanita itu, mulutnya masih terlihat penuh dengan makanan.

“Pulang! Secepat itu”.

Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal demikian. ‘Pulang! Secepat itu’, apa dia tak menyukainya jika istrinya pulang. “Jawaban macam apa itu!”, ada nada kesal di ucapannya. “Apa oppa tak senang jika aku pulang?”. Raut wajah Junghae terlihat benar-benar kesal.

Chanyeol tersenyum. Dia sangat suka melihat wanita itu kesal. Ya, menurutnya dia akan bekali lipat cantiknya jika sedang kesal. “Tentu saja aku senang. Ini belum lama sejak kau terbangun. Apa benar-benar tak apa?”, ucapnya. “Ah, aku tahu. Kau masti memintanya untuk memulangkanmu kan?”, lanjutnya.

“Tidak. Aku hanya bertanya apa aku boleh pulang atau tidak? Dan dia menjawab boleh dengan syarat aku harus menjaga diri dan tak boleh terlalu lelah”, jelas Junghae.

“Benarkah!”.

“Iya, oppa”. Owh, nada bicaranya benar-benar terdengar manis, setidaknya itu yang Chanyeol fikirkan. “Aku sudah selesai”, Junghae menyerahkan nampan itu pada suaminya.

“Apa aku mengganggu?”, terdengar suara dari pintu. Mereka menoleh bersama. Disana terlihat Jungra mengintip, badannya belum sepenuhnya masuk dan hanya kepalanya yang terlihat.

Eonni”, sapa Junghae. “Tidak sama sekali”, lanjutnya.

Chanyeol berdiri, dia bermaksud menaruh nampannya di meja.

Setelah mendengar penuturan adiknya, Jungra memasuki ruang inap itu. Dia berjalan mendekati ranjang adiknya. “Bagaimana keadaanmu?”, tanyanya.

Eonni seperti orang yang sudah lama tak bertemu saja. Padahal baru semalam tak bertemu. Apa kau begitu merindukanku”, terdengar nada menggoda dari Junghae. dia mengedipkan matanya cepat sambil menatap kakaknya.

“Apa?”, ada raut terkejut di wajah Jungra. “Aku hanya bertanya, apa itu tak boleh!”, lanjutnya.

“Hei, aku hanya bercanda. Aku baik, sangat baik. Bahkan dokter sudah memperbolehkanku pulang”, jawab Junghae. Dia tahu jika kakaknya tak punya selera humor, karena itu dia menghentikan tingkah konyolnya sebelum kakaknya marah.

“Secepat itu!”, jawab Jungra.

Kenapa kakaknya juga mengatakan kosakata itu. Dia sama saja dengan suaminya. “Kenapa memangnya kalau aku sudah boleh pulang. Apa kau tak senang? Kau sama saja dengan Chanyeol oppa”, Junghae membuang mukanya. Dia kelihatan kesal.

“Hei, bukan seperti itu Junghae. Hanya saja ini belum lama sejak kau terbangun, apa benar-benar tak apa?”, jelas kakaknya kembali.

“Terserahlah! Jika kau tak percaya tanyakan saja pada dokter”, jawab Junhae. Dia lalu menarik selimut dan menenggelamkan dirinya disana. “Kita pulang setelah aku terbangun”, teriaknya dari balik selimut.

“Hei, kau marah”, tanya Jungra. Dia menyentuh Junghae, mencoba membangunkannya.

“Tidak. Aku hanya mengantuk”, suara Junghae terdengar lirih namun masih dapat mereka dengar.

“Biarkan saja noonim. Dia hanya kesal karena semalam tak ada yang menjaganya”, jelas Chanyeol. Dia memilih duduk di sofa.

Noonim!”, kata Jungra dengan lantang. Tatapan kini beralih ke arah Chanyeol.

“Iya, noonim. Kenapa? Bukankah memang seharusnya begitu!”, jelas Chanyeol kembali.

“Kau sedang bercanda kan Chanyeol oppa”, wajah Jungra terlihat aneh. Dia memang belum paha mengapa Chanyeol memanggilnya seperti itu. Secara umur, dia lebih muda dari pria yang sudah menikahi adiknya.

“Tidak. Kenapa harus bercanda”, ucap Chanyeol kembali.

Junghae tersenyum dari balik selimutnya. Kakaknya sedang bingung sekarang. Dia membuka selimutnya dan beralih duduk. “Kau tak tahu kenapa dia memanggilmu seperti itu, eonni?”, ucap Junghae.

Jungra kini menatap Junghae. Dia sedikit terkejut karena adiknya sudah terduduk. “Memangnya kau tahu?”, tanyanya.

“Tentu saja. Hanya orang bodoh yang tak tahu”.

“Hei, apa kau sedang menghinaku”, protes Jungra. Ingin sekali dia memukul adiknya itu, tapi dia harus menahannya. Dia ingat jika adiknya sedang hamil dan baru beberapa hari terbangun dari komanya.

“Aku tak bermaksud menghina. Coba eonni fikir, dia menikahi adikmu. Bukankah memang seharusnya dia memanggilmu seperti itu”, jelas Junghae.

Sepertinya yang dikatakan adiknya benar. Kenapa dia tak berfikir sampai kesitu. Dia tersenyum mengejek kebodohannya sendiri. Tentu saja, hanya orang bodoh yang tak tahu itu. Pandangannya kini beralih ke arah Chanyeol. “Jadi karena itu?”, tanyanya.

Senyum dan anggukanlah yang Chanyeol lakukan sebagai jawaban.

Jungra memutar bolanya malas. Dia kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak, jangan pernah memanggilku seperti itu lagi. Aku terlihat seperti gadis tua”, jawabnya. Dia beralih menatap Junghae.

“Tapi aku suka, Jungra noonim”, ucap Chanyeol. Dia kini berdiri, berjalan mendekat ke arah dua kakak adik itu.

“Chanyeol oppa”, ucap Jungra. Nadanya naik satu oktaf. Dia bermaksud potres.

“Iya noonim”, jawab Chanyeol kembali.

Junghae hanya tertawa melihat kedua orang itu beradu argumen. Mereka benar-benar lucu. Kakaknya tidak suka dengan panggilan itu, tapi suaminya tetap bersikeras memanggilnya seperti itu.

“Sudahlah eonni! Terima saja”, sela Junghae kemudian.

“Terserahlah!”, pasrahnya akhirnya. Dia kemudian berbalik bermaksud pergi meninggalkan ruang inap adiknya. Dia akan menjadi gila jika lama-lama di tempat itu.

Eonni, kau mau kemana? Kau marah!”, kata Junghae sedikit berteriak, karena memang Jungra sudah akan membuaka pintu ruang inapnya.

“Aku harus pergi. Lama-lama aku bisa gila jika terus bersama kalian”, kata Jugra tan[a menoleh. Tangannya sudah terulur akan memutar knop pintu ruang itu, namun terhenti saat mendengar penuturan adiknya.

“Mau pergi kemana? Kau tak ingin membantuku berkemas?”.

Jungra berbalik. “Sudah ada adik ipar. Kau bisa meminta bantuannya”, tepat setelah mengatakan itu, dia berbalik kembali.

“Aku harus mengurus admistrasinya dulu…”, ucap Chanyeol yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Jungra. “… noonim”, lanjutnya.

Jungra hanya bisa membuang pasrah nafasnya. “Baiklah!”, pasrahnya akhirnya. Dia berjalan mendekati adiknya.

Chanyeol tersenyum sebelum meninggalkan ruang inap istrinya.

“Dimana tasmu?”, tanya Jungra.

“Bukankah ada di lemari itu”, Junghae menunjuk ke arah lemari dekat ranjangnya. Dia mencoba turun dari ranjang.

“Hari ini aku melihat sosok lain Chanyeol oppa”, kata Jungra di sela-sela kegiatannya mengeluarkan barang-barang adiknya dari lemari pasien. Ya, jika biasanya dia mengenal pria itu sebagai pria dewasa yang penuh wibawa, namun kali ini berbeda. Dia terilihat sebagai pria yang menyebalkan.

“Benarkah! Memangnya dia seperti apa biasanya?”, tanya Junghae. Dia berjalan mendekat ke arah kakaknya. Mencari baju ganti.

“Pria dewasa yang penuh wibawa. Tapi kenapa dia menjadi menyebalkan sekarang”, jelas Jungra.

Junghae hanya tertawa. Dia berjalan ke kamar mandi setelah mendapakan pakaian gantinya. Butuh sekitar lima menit sampai dia keluar kembali dari kamar mandi. Dengan langkah hati-hati dia kembali mendekati kakaknya. Membantunya melipat pakaiannya.

“Aku penasaran bagaimana bisa kalian menikah begitu saja. Apa kau pikir menikah itu lelucon?”.

“Dia tak menceritakannya?”.

“Iya, tapi tapi aku belum paham. Apa dia benar-benar menidurimu?”.

Junghae tertawa mendengarnya. “Tentu saja eonni. Bagaimana bisa aku hamil jika dia tak meniduriku? Kau ini”, dia mengusap pelan perutnya.

Adiknya benar. Dia terlihat seperti gadis bodoh lagi sekarang. “Iya, kalau itu aku tahu. Maksudku, saat pertama kalian memutuskan menikah”, jelas Jungra kemudian.

“Itu…”, Junghae terlihat sedang berfikir. Dia mengingat kejadian awal dimana dia terjebak bersama pria itu. “… aku mabuk saat itu. Jadi aku tak ingat persis”, jelasnya.

“Astaga, itulah kenapa aku tak suka mabuk. Nasib baik itu Chanyeol oppa, bagaimana kalau itu pria brengsek?”.

“Tapi, ada yang aneh saat itu. Bagaimana bisa kami berakhir di kamar yang sama? Aku bahkan tak bertemu dengannya malam itu”, jelas Junghae. Ya, sebenarnya dia masih merasa sedikit aneh dengan apa yang menimpanya malam itu. Sepertinya memang ada seseorang yang sengaja menjebaknya.

“Aku yang melakukannya”, terdengar suara dari arah pintu.

Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Terlihat Baekhyun berjalan mendekat ke arah mereka dengan tampang tak berdosanya.

“Apa?”, mereka berteriak bersama setelahnya.

“Kau yang menjebak mereka, Baekhyun”, kata Jungra.

Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Dia berdiri di samping Junghae. “Bagaimana mungkin aku tega melihat sahabatku yang sedang patah hati dan juga adikku yang masih bingung dengan perasaannya. Kalian benar-benar terlihat menyedihkan malam itu. Dan ide itu terlintas begitu saja di kepalaku”, jelasnya.

Mereka menatap tak percaya pada pria yang baru datang itu. Pria ini pasti benar-benar sedang gila saat itu, bagaimana bisa dia menjebak adiknya dan juga sahabatnya.

“Hei, aku hanya menempatkan kalian di kamar yang sama malam itu. Aku tak percaya kalian akan benar-benar melakukannya”, ucapnya lagi setelah melihat tatapan aneh dari dua wanita itu. Dia kemudian membuang muka.

Kedua sepupunya itu masih menatap tajam padanya. Baekhyun kembali menoleh, “Aku berkata benar”, ucapnya lagi yang melihat sepupunya masih menatap aneh padanya.

“Ya, ya. Terserahlah! Lagipula semua sudah lewat bukan”, jelas Jungra. Dia kembali melanjutkan aktifitasnya.

***

“Memangnya kalian mau pulang kemana?”, tanya Bekhyun yang duduk di samping kursi kemudi.

Mereka memang sedang dalam perjalanan pulang. Mereka memutuskan menggunakan mobil yanga sama. Karena memang Jungra tak membawa mobil begitu juga dengan Baekhyun. Chanyeol di kursi kemudi, Baekhyun disebelahnya, Jungra dan Junghae berada di kursi belakang.

“Tentu saja ke rumahku”, jawab Chanyeol. Pandangannya masih fokus pada jalan.

“Dan kau akan membiarkannya sendirian ketika kau bekerja. Tidak, aku tidak setuju. Ingat Chanyeol, Junghae sedang hamil tua. Dan dia juga baru sembuhkan. Dia harus banyak di perhatikan”, bantah Baekhyun.

“Baekhyun benar”, Jungra ikut menyela.

“Lalu aku harus membawanya kemana?”, Chanyeol kini bertanya.

“Tentu saja ke rumah imo. Disana Junghae tak akan sendirian. Dan lagi ada imo yang akan memperhatikannya”, ucap Baekhyun kembali.

“Bagaimana menurutmu Junghae?”, tanya Chanyeol. Dia melirik ke arah istrinya melalui kaca spion di depannya.

“Entahlah! Dimanapun tak masalah”, jawab Junghae.

“Jung~hae”, dengan penuh penekanan Baekhyun memanggilnya. Dia bahkan menoleh ke belakang ke arah wanita hamil itu.

“Iya, baiklah. Kita ke rumah eomma”, pasrah Junghae akhirnya.

Chanyeol segera memutar jalan. Jalan menuju rumah mertuanya dan rumahnya memang berbeda arah. Sebenarnya dia masih setengah hati menerimanya. Ini akan menjadi kala pertama dia tinggal di rumah mertuanya. Ah sebenarnya bukan, dulu sewaktu SMA dia sering menginap ke rumah itu, namun itu karena sahabatnya.

Tapi setelah difikirkan perkataan Baekhyun ada benarnya. Istrinya sedang hamil tua dan juga dia baru sembuh, jadi butuh perhatian ekstra untuknya. Dan lagi, dia tak akan selalu bisa terus berada di samping istrinya. Baiklah, sepertinya mengikuti permintaan sahabatnya tak masalah. Lagipula dia sudah sangat mengenal keluarga itu, jadi tak perlu merasa canggung.

“Jadi, siapa nama keponakanku?”, kata Baekhyun memecah keheningan. Ya, dia memang sedang bosan karena sejak Chanyeol memutar arah mereka hanya diam. Dia kini menoleh ke arah Chanyeol yang masih terfokus menyetir.

“Ah ya, bukankah dia laki-laki”, Jungra ikut menyela.

“Aku belum memikirkannya”, jawab Chanyeol enteng.

Berbeda dengan Junghae, dia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Sepertinya dia mencari nama yang tepat untuk putranya kelak. “Jason. Jason Park”, teriaknya begitu lantang. Wajahnya berbinar menemukan nama yang indah, menurutnya.

“Jason”, teriak mereka bertiga tak kalah lantang. Mereka menoleh ke arah Junghae.

“Emmh”, Junghae menggangguk. “Kenapa? Kalian tak suka?”, lanjutnya.

Baekhyun kembali menghadap depan. Dia sedang menimang-nimang pendapat Junghae, apa itu bagus atau tidak.

“Tapi itu bukan nama Korea Junghae. Orang lain akan susah mengucapkannya nanti”, Jungra kembali menyela.

“Benar yang dikatakan Ra-… maksudku noonim”, jelas Chanyeol.

Baekhyun tertawa mendengar sahabatnya menyebut kata noonim. “Noonim. Kau memanggil Jungra, noonim”, ucapnya sambil terus tertawa.

“Bukankah memang seharusnya seperti itu. Iyakan noonim”, Chanyeol melirik Jungra dari kaca spion. Dia dapat melihat wajah sebal kakak iparnya. “Ah, haruskah aku memanggilmu dengan sebutan hyungnim”, Chanyeol kini melirik ke arah Baekhyun.

“Ekmh, ekmh”, Baekhyun mencoba meredakan tawanya. “Tak usah, aku tak suka panggilan itu jika kau yang mengatakannya”, lanjutnya.

Junghae juga ikut tersenyum. Sepertinya suaminya sedang dalam taraf hampir gila sekarang. Sejak di rumah sakit tadi, dia suka sekali menggoda kakak iparnya. Sekarang giliran kakak sepupunya yang digoda. Dia hanya bisa menggelengkan kepala. Dia kini melirik kakak perempuannya. Dia dapat melihat wajah sebal kakaknya. “Eonni”, panggilnya sambil memegang tangan kakaknya. Dia mencoba meredakan kekesalan kakaknya.

Kakaknya menoleh. Dia melihat raut memelas adiknya. Dia tahu maksud dari tatapan adiknya. Tatapan meminta untuk tak mengambil hati perkataan suaminya. Dia membuang pasrah nafasnya akhirnya. Dia segera merubah raut wajahnya dan membuang muka menatap pemandangan dari jendela mobil.

Mereka kembali terdiam. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Chanyeol terfokus pada jalan. Baekhyun terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jungra yang sudah bad mood sejak di rumah sakit tadi memilih diam. Junghae, dia sibuk memperhatikan pemandangan jalan dari balik jendela. Dan sesekali dia mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri. Mungkin efek perjalanan yang di tempuhnya. Dia belum pergi jauh semenjak dia terbangun dari komanya.

“Haechan. Park Haechan. Bukankah itu nama yang bagus”, ucap Baekhyun tiba-tiba. “Bagaimana menurutmu Chanyeol?”, lanjutnya. Pandangannya kini beralih ke sahabatnya.

Chanyeol terlihat sedang berfikir. “Sepertinya bukan ide buruk. Park Haechan, ya itu cukup bagus”, tuturnya menyetujui.

Jungra hanya diam. Dia masih setengah kesal. Dia hanya diam, memperhatikan kedua sahabat itu saling beragumen.

“Bagaimana menurutmu, Junghae”, tanya Baekhyun. Dia menoleh ke belakang untuk mendengar jawaban adiknya.

“Terserah saja! Aku tak paham membuat nama Korea”, pasrahnya.

***

Junghae masih betah menatap langit. Dia kini terduduk di balkon kamarnya. Dia tadi terbangun dan tak bisa tidur lagi. Karena itu dia memilih ke tempat itu. Menatap langit malam yang indah menurutnya. Begitu terang karena sinar bulan purnama yang indah. Ditambah bintang yang bertaburan indah di langit tersebut. Udara dingin memang dia rasakan sejak tadi, tapi itu tak membuatnya lantas beranjak.

Entah sudah berapa hari dia pulang ke rumah ibunya. Dia sangat menikmati kebersamaannya, ditambah sekarang dia bersama suaminya. Dan sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang hadir di tengah-tengahnya. Dia tersenyum sambil mengusap perutnya yang memang sudah membuncit.

“Kau disini”, suara seseorang terdengar. Dia menoleh untuk mengetahuinya. Dia kemudian tersenyum saata tahu siapa yang datang. Hanya anggukan yang dia lakukan.

Pria itu menyampirkan matel untuknya. “Bukankahkah disini dingin? Tak baik untuk kesehatanmu’, ucap pria itu kembali.

Junghae terdiam. Dia kembali menatap langit malam.

“Kau tak bisa tidur?”, ucap pria itu lagi. Dia ikut duduk di sebelah Junghae.

Lagi-lagi Junghae hanya mengangguk.

Pria itu membuang pasrah nafasnya. Ya, sejak wanita itu terbangun, dia menjadi sedikit lebih pendiam. Jika sebelumnya dia suka bercerita panjang lebar, kini dia hanya akan berbicara apa yang dibutuhkannya. “Apa pemandangan langit lebih indah dariku”, ucap pria itu kembali. Dia juga ikut menatap langit malam.

Junghae menoleh mendapat pertayaan itu dari suaminya. Dia tersenyum akhirnya. Dia mengulurkan tangannya untuk memeluknya. Menyandarkan kepalanya di pundaknya. “Tentu tidak oppa”, ucapnya akhirnya.

Pria itu tersenyum. Dia membalas pelukan itu. Dia juga mengusap lembut surai panjang istrinya. Merke terdiam beberapa saat. Menatap indahnya malam.

“Aku mencintaimu oppa”, ucap Junghae tiba-tiba. Dia menatap manik hitam suaminya.

Pria itu juga membalas tatapannya. Seulas senyum kemudian tersungging di wajahnya. “Aku juga mencintaimu Junghae”, jawabnya.

Mereka sama-sama tersenyum. Perasaan mereka tak bertepuk sebelah tangan. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Begitu bahagia. Beginikah rasanya memiliki cinta terbalas. Bahkan jantung mereka kini berdetak lebih cepat. Semakin cepat, hingga rasanya seperti akan terlepas. Mereka saling menatap. Perlahan wajah mereka saling mendekat, semakin dekat hingga mereka mampu merasakan deru nafas masing-masing. Dan kini kedua benda lembut itu menyatu. Pria itu melumat lembut, sangat lembut. Menyalurkan semua perasaannya. Menyalurkan kebahagian yang dirasakannya. Ya, dia sangat bersyukur dipertemukan dengan wanita ini. Wanita yang kini tengah mengandung putranya. Dia berharap semoga ini berlangsung lama. Semua kebahagiaan yang dialaminya, dia ingin merasakannya hingga tua. Hingga tiba saatnya dia dipanggil ke hadapan-Nya.

—THE END—

Hai, hai. Saya kembali lagi dengan chapter terakhir. Akhirnya aku bisa menyelesaikan ni ff. Hampir setahun kalau dihitung-hitung, hohoho….

Bagaimana menurut kalian? Semoga tak seburuk itu.

Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mendukung ff ini.

Sampai jumpa di karyaku selanjutnya……

Love you all.  ❤  ❤  ❤

Satu lagi, karena aku memberi prolog di ff ini, maka akan ada epilognya. Ditunggu saja ya, terima kasih.

Salam hangat: Dwi Lestari

Mumpung masih bulan syawal, mohon maaf lahir dan batin ya…

Saya rasa saya banyak salah sama kalian…..

Iklan

44 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 19 END-Part 2)

  1. akhirnya end juga yah… happy ending 🙂
    keren…

    klo… ada epilognya akan ku tunggu eonni. atau akan kutunggu karya2 eonni yg baru.
    fighting ya…. 😉

    • jangan sampai ketahuan orang ya, ntar dikira apaan senyum sendiri gak jelas, hohoho…..
      ditunggu saja,
      terima kasih… 🙂

  2. akhirnya setelah sekian lama junghae sadar… dan Chanyeol gak jadi ditinggal junghae 😊
    endingnya manis sekali di tunggu epilognya ..
    fighting author buat lanjutin ff nya ☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s