[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 6)

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 6-

JEPRET!

Suara kamera berbunyi di sebuah ruangan kamar. Nyatanya, semua suara yang terdengar itu adalah, ulah tangan ahli Chanyeol yang sedang bermain dengan kameranya pagi ini. Apa yang sedang Chanyeol lakukan?

Pria itu sedang memotret Wendy saat tidur. Ia bahkan tersenyum dikala memotret Wendy yang cantik luar biasa meski tanpa polesan make up. Selimut putih yang menutupi tubuh gadis itu, pasalnya seperti menambah kesan indah bagi Chanyeol. Entahlah, hanya pria Park itu yang mengerti mengenai seni keindahan dalam potret memotret seperti ini. Lantas, sang gadis yang sudah merasa terganggu dengan suara-suara jepretan kamera, juga flash dari kamera tersebut, kini membuka matanya dan mulai mengedarkan pandangannya pada pria yang tidak memakai kaos, sehingga menunjukkan beberapa tubuh berototnya yang terlihat atletis.

Wendy menegakkan tubuhnya sambil mengucek kedua matanya, sekilas gadis Son itu melirik jam yang berada di meja samping tempat tidur. Ini masih pukul 6.30 pagi, dan Chanyeol mengganggu ketenangan tidurnya. Chanyeol yang tersadar jika gadis itu sudah bangun, lantas memposisikan dirinya untuk duduk di samping Wendy, dan memperlihatkan beberapa hasil jepretan fotonya.

“Kau tidur nyenyak?” tanya Chanyeol sembari mencium bibir Wendy dengan sedikit melumatnya. Gadis itu menggeleng lemah, sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Chanyeol.  Sontak pria yang melihat manjanya gadisnya itu tersenyum senang, lalu mencium puncak kepala Wendy dengan lembut.

Kini aroma khas pria itu, benar-benar tercium pada penciuman Wendy. Sebuah aroma yang menjadi aroma favoritnya selama 4 tahun. Namun nyatanya, semua mungkin tidak lagi ia nikmati seperti pagi ini. Mungkin, aroma tubuh yang menjadi aroma favoritnya itu, tidak akan ia cium lagi.

Chanyeol pun memperlihatkan beberapa hasil foto itu pada Wendy, dan gadis itu tersenyum manis melihat foto dirinya sendiri. Wendy melingkarkan tangannya pada lengan Chanyeol, sambil menyandarkan kepalanya pada lengan kekar pria itu. Bahkan terkadang Wendy mencium lengan Chanyeol dengan lembut.

Nyaman.

Chanyeol menolehkan kepalanya pada Wendy, dan gadis Son itu mendongak ikut menatap wajah Chanyeol. Keduanya saling pandang dalam diam. Mereka tahu isi perasaan masing-masing, dan apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. “yeol–“

Wendy terkejut, saat merasakan sesuatu yang kenyal mendarat di bibirnya. Ini masih pagi, dan Chanyeol sudah menciumnya dengan sedikit bergairah. Wendy kesulitan membalas setiap ciuman Chanyeol untuknya. Ia tahu, jika Chanyeol mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya saat ini. Namun Wendy juga tidak berniat menghentikan kegiatan mereka saat ini. Hingga…

Ring ring.

Terdengar suara ponsel milik Wendy yang bordering, menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Wendy melepaskan tautan bibir mereka, membuat Chanyeol kesal dan hendak menarik Wendy untuk kembali berciuman lagi dengannya. Namun dengan sigap Wendy menyentuhkan telunjukknya pada bibir Chanyeol, sambil menggesekkan hidungnya pada Chanyeol dengan sayang. “Sebentar saja.” Ucap Wendy, kemudian mengambil ponselnya dari atas meja.

Wendy sedikit tertegun melihat siapa penelfonnya saat ini. Ya, Park Sungjae tengah menelfonnya saat ini. Melihat expresi wajah Wendy yang sedikit aneh, Chanyeol tahu siapa yang tengah menelfonnya. Dengan sigap Chanyeol merebut ponsel Wendy dari tangan gadis itu, dan menatap geram layar ponsel tersebut, saat pemikirannya benar tentang siapa yang menelfon gadisnya ini.

“Yeolie, berikan padaku.” Ucap Wendy sambil memintanya dengan lembut.

“Tidak.” ucap Chanyeol dengan tegas.

“Aku mohon. Berikan padaku sayang.” Ucap Wendy sekali lagi, kemudian mengambil ponsel itu dari tangan Chanyeol.

Wendy tersenyum pada Chanyeol, lalu dengan cepat menggeser symbol hijau di layar ponselnya, dan menempelkan ponsel itu pada telinganya. Tidak mau kalah, Chanyeol mengubah posisi Wendy, hingga saat ini gadis itu tengah berada dalam pangkuan Chanyeol. Bahkan, Chanyeol dengan sengaja mengecup gemas lehernya. Gadis itu hanya bisa menghela nafasnya, sambil menggeleng kecil.

“Yeobeoseyo?” seru Wendy dengan lembut.

“Kau masih bersamanya?”

“Mm.” Wendy tahu siapa yang Sungjae maksudkan

“Bersiaplah, aku akan menjemputmu satu jam lagi.”

“Bisakah kita bertemu di café Kyungsoo?”

“Baiklah.”

“Apa appaku–“

“Aku bilang jika kau menginap di rumah Saejong.”

“Saejong? Baiklah, terimakasih.”

Beep.

Sambungan itu terputus. Wendy menghela nafasnya berat.

“Yeolie, aku harus pergi.” Ucap Wendy sambil menggenggam tangan Chanyeol yang melingkar pada perutnya.

“Aku tidak ingin kau menikah dengannya sayang. Aku mohon jangan lakukan ini.” Ucap Chanyeol memohon sambil memeluk Wendy dengan erat. Lantas, Wendy tersenyum sedih sambil mengelus tangan Chanyeol dengan lembut, “Maafkan aku.” Ujar Wendy lirih.

Chanyeol yang mendengar paparan Wendy, langsung melepaskan pelukan itu dengan kasar kemudian mengganti posisinya menghadap Wendy dengan gelutan amarahnya, “Mengapa kau terlihat pasrah menikah dengan Sungjae huh? Apa memang kau sudah tidak mencintaiku lagi?!” Bentak Chanyeol, membuat Wendy melebarkan matanya tidak percaya. Gadis Son itu menangis dan menggeleng dengan cepat, “Apa yang kau bicarakan? Tidak seperti itu. Kau tahu sendiri jika appa–“

“BOHONG! PASTI KAU SUDAH TIDAK MENCINTAIKU!” Teriak Chanyeol sambil berdiri dan membanting kameranya. Sontak membuat Wendy terkejut. Chanyeol sekarang berubah menjadi pemarah, setelah kemarin tuan Son mengatakan akan menikahkannya dengan Sungjae.

Wendy menghela nafasnya, kemudian berdiri dan memeluk pria itu dari belakang. Wendy memeluk tubuh pria itu dengan erat, seperti Wendy ingin Chanyeol tahu, jika Wendy sampai detik ini, masih sangat mencintai Chanyeol. Dan itu akan berlaku sampai kapan pun. Meski sebenarnya Wendy ingin sekali menghilangkan perasaan ini. Namun nyatanya, semua hanya sia-sia.

“Yeolie, aku mohon jangan seperti ini.” Ujae Wendy lembut, kemudian mengubah posisinya menatap Chanyeol dari depan. Wendy tersenyum sambil menggenggam tangan Chanyeol, kemudian mencium telapak tangan Chanyeol dengan lembut. Wendy menggelengkan kepalanya, dan mengusap wajah Chanyeol dengan sayang, “Kau tahu dengan jelas, aku hanya mencintai pria pemarah yang sedang berdiri di depanku saat ini.” Wendy mengumbar senyumnya, sambil mengalungkan tangan kecilnya pada leher Chanyeol.

“Dan kau tahu, jika aku tidak bisa menerima kau menikah dengan adikku sendiri. Demi Tuhan sayang, aku ingin kabur bersamamu.” Ucap Chanyeol frustasi sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Wendy.

Chanyeol menepikan mobilnya di depan sebuah Café, dimana Café itu adalah milik Kyungsoo. Wendy menatap sebentar Café itu, lalu menatap Chanyeol yang masih diam tanpa mau menatap Wendy. Dengan perlahan Wendy membuka seat beltnya, lalu menaupan tangannya pada wajah Chanyeol agar menatapnya. Kini keduanya saling bertatap, meski Chanyeol terlihat sangat enggan menatap Wendy saat ini, mereka seperti ingin berpisah dan tidak akan bertemu selamanya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Wendy sambil mengusap lembut rambut Chanyeol. Namun pria itu menggeleng sambil menahan tangan Wendy, yang digunakan untuk mengusap rambutnya.

“Aku mohon. Aku tidak bisa berpisah denganmu sayang.” Ujar Chanyeol sekali lagi, sambil memeluk tubuh Wendy dengan erat.

“Begitu juga denganku.” Kata Wendy tersenyum di dalam pelukan hangat Chanyeol.

Lagi-lagi Chanyeol harus menghela nafas panjang, meratapi jika ini adalah akhir segalanya. Segala cinta rumitnya dengan Wendy akan berakhir sekarang, mungkin? Sungguh, Chanyeol tidak akan pernah rela melepaskan Wendy untuk pria lain, meski itu adiknya sendiri.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Wendy dengan lembut, kemudian menarik dagu gadis itu dan mencium bibir Wendy dengan penuh kelembutan. Tentu, Wendy akan membalas ciuman itu dengan senang hati. Seperti tidak akan puas mencium Wendynya. Dan Chanyeol selalu kehilangan akal sehatnya saat memagut bibir Wendy. Jika saja Wendy tidak sadar, jika mereka berada di dalam mobil dan sedang berada di tempat umum, mereka akan terus berciuman tanpa memikirkan semua itu. Lantas Wendy menjauh kepalanya duluan, dan tersenyum pada Chanyeol dengan tulus. Wendy mengusap wajah Chanyeol.

“Aku mencintaimu Sayang.” Ujar Chanyeol mencium kening Wendy dengan sayang.

“Aku juga. Terimakasih, aku pergi dulu.” Jawab Wendy kemudian keluar dari mobil Chanyeol, dan berlari masuk ke dalam Café Kyungsoo itu.

Wendy duduk sambil memainkan tangannya pada mulut gelas, ia tidak nafsu makan saat Kyungsoo memberikannya sepotong roti bakar, dan juga susu cokelat panas. Gadis itu tidak sekali pun menyentuh makanan ringan itu. Hanya terkadang memandanginya dengan enggan, dan kembali melamun. Kyungsoo dan Amber yang berada di depan gadis itu, lantas hanya duduk memangku tangan sambil menatap Wendy dalam diam. Kyungsoo bingung harus berkata apa, dan begitu juga Amber. Mereka tidak bisa mengatakan sesuatu pada gadis Son itu, karena mereka tahu Wendy sedang bersedih.

Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Sebuah paksaan yang dilakukan oleh ayahnya, membuatnya hampir gila, dan benar-benar frustasi rasanya. Hatinya sakit setiap kali memikirkan Rae na dan Chanyeol yang akan segera menikah, begitu pula dirinya. Bagaimana nanti ia menatap Chanyeol yang adalah suami Rae na? Dan Chanyeol menatapnya sebagai istri Sungjae? Wendy tidak bisa membayangkan, bagaimana hatinya akan hancur saat itu juga. Semua di luar kendalinya. Lantas Wendy berpikir, apa memang semua ini sudah dituliskan dalam buku hidupnya?

Mencintai seseorang hingga seperti ini, namun ujung-ujungnya kau tidak menikah dengannya, melainkan bersama orang lain yang sama sekali tidak kau cintai. Parahnya lagi, orang itu adalah adik dari pria yang kau cintai. Apa ada kisah cinta yang begitu rumit seperti ini? Wendy merasa, Tuhan tidak adil padanya. Mengapa Tuhan hanya sayang pada Rae na, dan memberikan Chanyeol untuknya? Bukan untuk Wendy?

“Wendy-ah, makan rotimu.” Ucap Kyungsoo sambil memotongkan roti bakar itu, menjadi potongan kecil-kecil, lalu menusuknya dengan garpu, dan hendak menyuap Wendy. Namun Wendy menggeleng lemah, dan kini air matanya mengalir tanpa ia sadari.

“Kau tidak bisa seperti ini terus, Wen.” Ujar Amber sembari menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.

“Aku tidak bisa merelakannya. Apa yang harus aku lakukan? Hiks.” Ucap Wendy dengan lirihnya, dan kini semua air matanya menumpah keluar.

“Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir.” Jawab Kyungsoo mengusap rambut Wendy dengan lembut.

Ting

Suara  bel Café kyungsoo berbunyi, sontak mata Amber dan Kyungsoo menjelajah menatap siapa yang datang. Terlihat di sana, sang calon suami Wendy –Sungjae– telah tiba, dengan sedikit berlari terburu-buru. Pasalnya Sungjae sedikit terjebak kemacetan. Dan kini Sungjae tersenyum pada Kyungsoo dan Amber, lalu segera mengambil tempat di sebelah Wendy. Sekilas, Sungjae melirik gadis itu yang hanya diam, meski Sungjae sudah merebahkan bokongnya pada bangku di samping Wendy. Tapi tidak ada reaksi dari gadis itu, untuk menyambut kedatangan Sungjae di sini. Malah gadis itu terlihat menangis, dalam kepalanya yang tertunduk. ‘Dia menangis lagi. Apa kau sangat mencintainya Wen?’ Sungjae berbicara dalam hatinya.

”Wendy-ah, appamu menyuruh kita untuk menuju restaurant sekarang. Keluargaku dan keluargamu sudah berkumpul di sana.” Ujar Sungjae dengan pelan. Seketika Wendy mendongak menatap Sungjae dengan linangan air matanya. Jujur, Sungjae tidak bisa melihat tangisan gadis ini semakin tercurah, apalagi itu karenanya. Karena pernikahan bodoh ini. Sungjae lantas menghapus air mata gadis itu sambil tersenyum.

Tapi setidaknya, Sungjae ingin Wendy memberikan kesempatan padanya. Sungjae ingin memperlihatkan jika ia bukanlah lelaki seperti yang Wendy pikirkan. Bisakah Wendy memberikannya kesempatan?

“Ayo Wendy.” Ucap Sungjae sambil menggenggam tangan Wendy dengan lembut. Gadis itu tidak menolak saat Sungjae menggandengnya. Bahkan ia ikut menurut untuk berdiri. Amber juga ikut berdiri untuk ikut bersama kedua pasangan itu. “Kami pergi dulu.” Ucap Sungjae tersenyum pada Kyungsoo, dan hanya di sertai sebuah senyuman tipis dan anggukan kepala dari pria tampan itu.

Lantas saat mereka berbalik hendak keluar, Sungjae sedikit terkejut, karena menemukan kehadiran Saejong di sana. Wendy ikut terkejut melihat gadis yang sudah menjadi teman sekolahnya dulu itu, berada di sini. Sungguh, ia sedikit gugup melihat Saejong yang terkejut Sungjae menggandengnya seperti ini. Tapi dari raut wajah Saejong, gadis itu sudah tahu sepertinya.

“Kalian mau kemana?” Tanya Saejong berpura-pura tersenyum tulus pada mereka.

“Aku dan Wendy mau membicarakan pernikahan kami. Kalau begitu, kami duluan Saejong-ah.” Kata Sungjae tersenyum, kemudian berjalan melewatinya begitu saja. Wendy diam, dan tidak bisa bersuara. Meski ia ingin memaki Sungjae rasanya, bisa-bisanya ia bersikap santai di depan Saejong, yang terlihat begitu hancur di depan mereka?

Selepas Sungjae, Wendy dan Amber pergi. Air mata Saejong mengalir, dan gadis itu masih mematung di tempatnya. Kyungsoo menghela nafas, kemudian berdiri dari tempatnya, lalu membawa Saejong untuk duduk di tempat sehabis Wendy. Kyungsoo mengeluarkan sapu tangannya, dan memberikannya pada Saejong. Gadis Kim itu menerimanya, dan segera menghapus air matanya yang mengalir deras.

Hiks.

Batin gadis itu menjerit sakit, bahkan sangat sakit saat melihat Sungjae bersama Wendy. Dan apa ia bilang? Pernikahan mereka? Apa Sungjae tidak lagi memikirkan perasaan Saejong yang sudah kacau balau akibat perbuatan brengseknya itu? Tapi bukankah lebih baik melepaskan yang satu, dari pada mengambil keduanya? Tidak seperti, seseorang yang mereka kenal.

“Aku heran, mengapa setiap gadis yang dekat dengan kedua pria Park itu, selalu berakhir menyedihkan seperti ini.” Ujar Kyungsoo menggeleng pelan. Sambil menyuapkan roti Wendy yang tidak tersentuh itu, ke dalam mulutnya.

“Termasuk aku kan?” Tanya Saejong tersenyum perih.

“Ya, tidak perlu aku jelaskan siapa gadis itu.” Ucap Kyungsoo sedikit acuh.

“Apa aku bodoh, jika marah pada Wendy?” Tanya Saejong menatap Kyungsoo, yang sedang menyuruput susu cokelat di depannya. “Ya, mungkin.” Kata Kyungsoo tersenyum.

“Kenapa?” Saejong mengerutkan keningnya bingung.

“Karena, kau tahu jelas siapa yang Wendy cintai. Dan jika kau masih marah pada Wendy karena berpikir merebut Sungjae darimu, bukankah sama saja kau bodoh?” Jelas Kyungsoo dengan singkat, lalu mengacak surai Saejong dengan lembut, “Move on. Hanya itu yang bisa ku anjurkan.” Kata Kyungsoo terkekeh dan hendak pergi meninggalkan saejong. Namun Saejong menahan tanga Kyungsoo untuk tetap tinggal di sana.

“Apa kau keberatan untuk memelukku?” Tanya Saejong sambil menangis sesenggukan. Kyungsoo tersenyum dan segera mendekap tubuh Saejong dalam pelukan hangatnya.

“Kau akan baik-baik saja.” Kata tulus dari Kyungsoo membuat hati Saejong menghangat.

Wendy nampak diam di dalam mobil, pandangannya hanya kosong ke depan. Sungjae tahu apa yang gadis itu pikirkan dan rasakan. Hanya saja, ia memilih untuk tidak mengusik hati yang sedang terluka itu. Ia tahu Wendy mungkin tidak ingin bicara padanya, atau mungkin hanya menatapnya. Sungjae sangat tahu apa yang Wendy butuhkan memang. Namun bisakah gadis itu menatap sejenak Sungjae yang berusaha membuatnya tersenyum dengan caranya sendiri?

“Kenapa kau melakukannya?” Tanya Wendy seketika. Sontak membuat Sungjae tersenyum, dan menatap Wendy. Bersyukur, gadis Son itu membuka suaranya, meski hanya bertanya pertanyaan seperti itu, “Untuk mendapatkan sesuatu yang harusnya aku miliki sejak dulu.” Wendy lantas menatap Sungjae dengan melongo. Apa katanya barusan? Apa Wendy tidak salah dengar dengan ucapan ceplos Sungjae itu? Apa pria itu semakin gila disetiap harinya?

“Jangan bercanda Park Sungjae!” Tegas Wendy setengah memekik. Sungguh, ia tidak bisa menebak arti dari setiap perkataan Sungjae. Mengapa pria itu, gencar menyiksa batinnya juga?

“Aku tidak bercanda.” Kata Sungjae menggeleng pelan dengan serius. Wendy mengepalkan tangannya, ia benar-benar marah sekarang, entah itu pada Sungjae atau mungkin sang ayah. Mungkin ia juga marah pada takdir.

“Aku mencintaimu.” Ujar Sungjae. Membuat Wendy mengalihkan tatapannya ke arah Sungjae dengan melotot. Apa barusan ia tidak salah dengar lagi? Sungjae mencintainya? Rasanya semakin sesak saja dada gadis Son itu. Entah mengapa, semua akan menjadi sangat rumit.

“Kau –jangan bercan-da.” Wendy terbata, sungguh ia shock setengah mati dengan hal yang baru saja ia dengar ini. Bisakah Sungjae menghentikan setiap ucapan gilanya. Wendy, hampir muak mendengarnya.

“Aku berharap jika aku sedang bercanda saat ini, namun nyatanya tidak. Aku serius, aku mencintaimu Wendy Son.” Sungjae memperdalam kalimatnya. Pria itu tidak sedang mengungkapkan bualan semata. Sungjae bersungguh-sungguh mengucapkan ucapan itu. Mengapa bisa ia mencintai Wendy?

“Sejak kapan?” Pertanyaan frontal dari Wendy, membuat Sungjae mendesah pelan.

“Sejak Chanyeol hyung membawamu ke rumah!” Tegas Sungjae, membuat Wendy menatap Sungjae dengan pikiran kosong. Gadis itu melebarkan matanya, dan tidak tahu harus merespon bagaiman ucapan Sungjae barusan. Bukankah itu sama saja, Sungjae mencintainya selama 4 tahun? “Ya! 4 tahun. Sudah 4 tahun Wendy!“ Ucap Sungjae penuh penekanan.

Beberapa pasang mata, nampak dalam kecanggungan, pasalnya mereka sedang berada di ruang VIP dalam sebuah restaurant. Dimana mereka sibuk merangkai beberapa kalimat, untuk di ucapkan dalam rangka membicarakan pernikahan Wendy dan Sungjae. Tuan Son sibuk menilik tanggal pernikahan yang cocok.

Ya, mereka akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat ini, entah mengapa tuan Son ingin segala sesuatu dipercepat. Ia tidak mau menunggu lebih lama. Tuan Park juga nampak sibuk memilih gedung pernikahan, sedang nyonya Park sibuk mengurusi makanan, dan nyonya Son mengurusi gaun pengantin. Mereka membagi tugas. Nampak Rae na di sana, dan sibuk melihat nyonya Park memilih beberapa restaurant terkenal. Ah mereka juga akan membahas pernikahan Rae na dan Chanyeol. Namun berhubung orang tua Rae na di busan, dan tidak bisa hadir karena sibuk dengan pekerjaan mereka di sana, mereka sepakat memilih untuk menyiapkannya sendiri. Namun tentu saja, kedua orang tua Rae na sudah dihubungi, dan mereka bersedia untuk membayar sebagaian biaya pernikahan yang sudah ditentukan.

Rae na begitu senang saat orang tuanya menyetujui pernikahannya dan Chanyeol, yang memang sudah mendapatkan lampu hijau sejak 4 tahun lalu, Rae na mengatakan jika ia memiliki kekasih. Bahkan Chanyeol pernah pergi ke busan untuk mengunjungi orang tua Rae na. Itu pun karena desakan Rae na.

Namun gadis itu tidak ikut dengan alasan sedang sibuk dengan ujian prakteknya di rumah sakit. Namun faktanya, ia memang tidak mau jika orang tuanya tahu ia tidak melanjutkan kuliahnya karena cacat.

Kriet

Pintu dibuka, membuat mereka mengedarkan pandangan mereka pada pintu itu, dan nampak Chanyeol di sana, yang tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Rae na memberikan senyuman terindahnya, untuk kekasihnya itu. Namun Chanyeol hanya memasang wajah datarnya, dan duduk di samping Rae na dengan wajah di tekuk. Rae na sadar itu, namun baginya itu hanya sementara. Chanyeol hanya sedang emosi, dan ia yakin tidak lama kemudian, pria itu akan kembali lembut padanya.

Benarkah?

Kriet

Pintu kembali terbuka, dan kini mereka melihat kedua pasangan itu –Wendy dan Sungjae– berdiri di sana bersama Amber. Wendy yang hendak tersenyum pada keluarganya, nampak terkejut dan seketika menegang melihat Chanyeol duduk di samping Rae na. Dan yang semakin memanaskan hati Chanyeol adalah, gadis itu tengah bergandengan dengan Sungaje. Lantas, Sungjae menarik Wendy untuk duduk berhadapan dengan Rae na dan Chanyeol. Sedang Amber duduk di sebelah Wendy.

Wendy menggigit bibirnya, ia ingin menangis lagi rasanya. Bisakah ia berteriak dengan keras? Ini adalah suasana yang tidak ia harapkan. Kini ia tidak bisa berbicara dengan puas dengan Chanyeol, dan semua gerak geriknya akan dibatasi.

“Kami sudah menentukan tanggal yang bagus untuk pernikahan kalian. “ Ujar tuan Son, membuat pandangan Sungjae dan Wendy menatap pada ayah Wendy itu, “Minggu depan.” Kata tuan Son lagi. Wendy meremas tangannya dengan erat. Itu sangat cepat rasanya. Ya Tuhan, apa ayahnya sudah kehilangan akal sehat?

“Kami juga sudah mendapatkan gedung, Restaurant, dan juga butik.” Ucap Nyonya Park tersenyum.

“Tapi, appa–“

“Tidak ada tapi-tapian sayang.” Kata tuan Son menolak, bantahan Wendy.

“Kau setuju kan Sungjae?” Tanya tuan Park.

“Ne Abeonim. Aku sangat setuju.” Kata Sungjae, sambil menatap Chanyeol. Demi Tuhan, Chanyeol rasanya ingin menghabisi adiknya itu. Apa ia sengaja melakukannya?

Brengsek.

“Ah dan Chanyeol juga Rae na. kalian akan menikah seminggu setelah pernikahan Sungjae dan Wendy.” Ucap tuan Park.

“Semua juga sudah dipersiapkan untuk pernikahan kalian.” Jawab nyonya Son tersenyum.

“Kalian setuju?”

Ne abeonim.” Ujar Rae na antusias. Chanyeol hanya mendesah berat. Menikah dengan Rae na? Ini bukan yang Chanyeol harapkan selama ia hidup di muka bumi.

“Bisa aku ke toilet sebentar?” Tanya Wendy, yang merasa dadanya sangat sesak. Ia pun menahan tangisnya, mendengar Chanyeol akan menikah dengan Rae na pada akhirnya. Tuan Son mengangguk mengijinkan Wendy.

Wendy menggeser kursinya sedikit ke belakang, lalu berdiri dan segera berjalan keluar dari ruangan itu. Chanyeol yang melihat itu, menghela nafasnya. Lantas terlintas ide di otak kecil Chanyeol. Segera pria itu mengambil ponsel dari dalam sakunya, “Maaf, aku harus mengangkat telfon ini sebentar.” Ucap Chanyeol, lalu berdiri dari sana, dan segera pergi meninggalkan ruangan.

Sungjae nampak tersenyum tipis. Ia tahu, jika Chanyeol tidak sedang menerima sebuah panggilan apa pun. Itu hanya sebuah akalannya, untuk bertemu Wendy. Sungguh, Sungjae sangat tahu akan hal itu. Namun tidak dengan Rae na, yang tidak sedang memikirkan suatu hal yang negative pada Chanyeol.

Wendy mencuci wajahnya dengan air dari keran. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar namun teratur. Kepalanya pusing sekali, dan ia juga sangat lelah secara batin. Wendy pun mengelap wajahnya dengan sebuah handuk bersih di kamar mandi itu. Setelah selesai, Wendy berjalan untuk membuka pintu kamar mandi. Namun beetapa terkejutnya Wendy saat membuka pintu itu, Chanyeol berada di depannya. Sekilas Chanyeol mengintip ke arah kamar mandi yang terlihat sepi, lalu kembali mendorong Wendy untuk masuk ke dalam kamar mandi lagi. Sungguh Wendy terkejut setengah mati atas apa yang Chanyeol lakukan ini.

“Apa yang kau lakukan?” Bisik Wendy, namun sedikit terlihat marah. Chanyeol menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya. Membungkamnya, agar Wendy tidak banyak mengomel tidak jelas, “Apa hanya kau sendiri di sini?” Tanya Chanyeol setengah berbisik. Dan Wendy mengangguk cepat, namun masih shock melihat Chanyeol di dalam kamar mandi perempuan.

Apa pria ini sinting?

Chanyeol menghela nafasnya, dan segera mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam. Kini hanya mereka berdua di dalam kamar mandi itu. Chanyeol menyandarkan punggungnya pada pintu kamar mandi. Wendy masih tidak habis pikir dengan Chanyeol. Apa yang pria ini lakukan sebenarnya? Chanyeol menatap Wendy sambil tersenyum, dan segera merengkuh pinggang gadis itu mendekat padanya. Wendy sontak membulatkan matanya, dan berusaha meronta keluar dari dekapan Chanyeol. Namun Chanyeol menyuruh gadis itu diam.

“Yeol, bagaimana jika ada–“

“Ssst.” Chanyeol menempelkan telunjuknya pada bibir Wendy. Gadis itu menghela nafasnya. Ia pasrah pada kehendak Chanyeol ini. Gadis itu hanya diam dan menatap kesal pada Chanyeol.

“Demi Tuhan, Kau membuatku gila ingin meciummu sejak tadi.” Bisik Chanyeol sambil mencium hidung Wendy dengan gemas.

“Yeolie, aku mohon lepaskan aku.” Pinta Wendy pada Chanyeol.

“Hanya sebentar saja. Aku merindukanmu sayang.” Bisik Chanyeol, sambil mencium kening Wendy dengan sayang.  Wendy menghela nafasnya. Dan dengan kesal, Wendy menarik hidung Chanyeol hingga memerah. Chanyeol tersenyum, sambil menyatukan keningnya pada Wendy. Dan menggosokkan hidung mereka, “Aku tidak ingin berpisah denganmu.” Ucap Chanyeol. Sontak membuat Wendy menatap pria itu dengan mata indahnya.

“Yeolie –“ Wendy terkejut saat Chanyeol berhasil membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman hangat. Sayangnya, Wendy tidak bisa jika tidak ikut membalas ciuman itu. Berakhirlah keduanya berciuman di dalam kamar mandi, dengan sedikit bergairah.

Drrrt.

Chanyeol melepaskan tautan bibir itu, dan merogoh ponselnya. Nyatanya, Rae na mengirimnya pesan.

From Rae na: “Apa kau masih lama?”

Chanyeol tidak membalas pesan itu, dan kembali menarik dagu Wendy untuk berciuman dengannya. Wendy ikut membalas ciuman memabukkan itu, bahkan tangan mungil Wendy meremas kemeja yang Chanyeol gunakan. Ia pasalnya sangat merindukan pria ini. Meski dari semalam hingga pagi tadi, ia sudah menghabiskan waktu yang banyak dengan Chanyeol. Namun rasanya, semua itu tidak cukup. Wendy membutuhkan waktu yang lebih bersama Chanyeolnya, dan begitu juga dengan Chanyeol. Wendy yang sudah kehabisan nafas, lantas mendorong tubuh Chanyeol. Nafas keduanya tersengal-sengal.

“Kita tidak boleh seperti ini Chanyeol.” Wendy menggeleng takut.

“Aku tidak peduli. Bukankah aku bilang, tidak akan melepaskanmu?” Ucap Chanyeol menatap tajam pada Wendy. Bahkan, bisa Wendy rasakan, pelukan protektif Chanyeol pada pinggangnya.

“Tapi Yeolie –“

“Kau mau berpisah denganku begitu?” Chanyeol bertanya dengan menatap penuh arti wajah ketakutan gadisnya itu.

“Chanyeol! Aku mohon, jangan memberiku pilihan yang sulit.”

“Jawab aku! Apa kau menginginkan kita berpisah huh?” Kini suara Chanyeol sedikit meninggi. Wendy menghela nafasnya, dan menggeleng dengan lemah.

“Kalau begitu dengarkan aku sayang. Apa pun yang terjadi, aku mohon untuk tetap tinggal di sisiku, paham?” Sebuah perintah dari Chanyeol membuat Wendy menganggukkan kepalanya pelan. Chanyeol mencium kening gadis itu, dan melumat kembali bibir Wendy dengan lembut.

Apa bisa kau bayangkan? Seorang korban, yang berubah menjadi seorang penjahat? Tapi itulah posisi Wendy saat ini. Dari seorang kekasih untuk Chanyeol, ia telah berubah status menjadi seorang selingkuhan untuk Chanyeol.

Apa Wendy harus mengucapkan selamat untuk dirinya sendiri? Gara-gara pria brengsek bernama Chanyeol itu, ia merendahkan dirinya menjadi seorang perempuan rendahan, alias seorang selingkuhan untuk Chanyeol.

Seoul 7th June 2012

Chanyeol berjalan dengan beberapa buku di tangannya. Nampaknya, pria Park itu sedang sibuk. Chanyeol melangkahkan kakinya menuju kantin kembali, sebagai tempat keteduhannya. Semua buku-buku tebal mengenai photographer itu, ia letakkan di atas meja. Chanyeol mengeluarkan labtobnya dari dalam tas, dan mulai menyalakan labtob itu.

Tangan lihainya, mulai mengetikkan beberapa kata-kata, lewat buku tebal yang berada di sampingnya sebagai referensinya itu.  namun baru beberapa menit duduk di sana, dirasanya ponselnya bergetar, menandakkan sebuah pesan masuk. Chanyeol dengan gesit membuka pesan itu.

From Unknown : “Park Chanyeol-ssi, ini Rae na. Kau masih ingat? Gadis yang meminjam hoodiemu, aku meminta nomormu dari salah satu temanmu. Bisakah kita bertemu?”

To Unknown : “Ne, kita bertemu di Restaurant depan kampus.” Ucap Chanyeol, kemudian menyimpan labtobnya dan semua buku-bukunya ke dalam tas. Setelah selesai, Chanyeol berdiri dan pergi dari sana.

Chanyeol menyumpitkan daging sapi ke mulutnya, sebenarnya ia juga lapar. Karena itu, ia meminta bertemu di sini, sekalian untuk mengisi perutnya. Chanyeol sedikit melihat sekeliling restaurant, namun gadis yang membuat janji dengannya belum nampak di sana.

PLAK

Chanyeol tertegun saat seseorang memukul kepalanya. Ia segera menoleh ke belakang dan menemukan Mino di sana yang sedang menatap kesal padanya.

“YAK!” Bentak Chanyeol.

“Ck. Kau makan sendiri dan tidak mengajakku. Sialan!” Umpat Mino pada Chanyeol dan duduk di sebelah pria itu.

Chanyeol kini menatap seorang gadis dengan hot pants, dan kaos berwarna hitam nampak berjalan ke arahnya. Chanyeol tersenyum seadanya pada gadis itu. Dan Rae na mendudukkan tubuhnya di depan Chanyeol. Mino hanya tersedak melihat Chanyeol bertemu dengan seorang gadis.

“Maaf aku terlambat.” Ujar Rae na menyesal, dan menatap Mino dengan senyuman kikuknya. “Tidak apa.” Kata Chanyeol menggeleng.

“Ah, ini hoodiemu.” Ucap Rae na sambil memberikan tas shoping pada Chanyeol. Lantas, Chanyeol mengerutkan keningnya, saat mendapati hoodie itu bukan miliknya yang lama, melainkan sebuah hoodie baru. “Apa ini?” Tanya Chanyeol bingung, sambil menyimpan kembali hoodie itu ke dalam tas.

“Aku mengganti hoodiemu, karena milikmu hilang. Maafkan aku.” Ucap Rae na jujur.

“Tidak usah. Jika hilang, tidak masalah.” Kata Chanyeol menolak pemberian Rae na padanya, “Aku mohon.” Ucap Rae na memohon dengan sangat pada Chanyeol.

“Baiklah.” Kata Chanyeol tersenyum, dan menerima hoodie itu.

“Hari ini ulang tahun temanku. Em, apa kau menemaniku ke pesta itu?” Tanya Rae na ragu-ragu.

“Maaf, aku tidak bisa.” Chanyeol menolak dengan sopan. Rae na menghela nafas. Ia kecewa dengan jawaban Chanyeol.

“Aku mohon? Pesta itu, menuntut untuk datang berpasangan. Dan aku tidak punya pasangan. Jadi maukah?” Lirih Rae na.

“Ia akan datang. Tenang saja.” Ucap Mino tiba-tiba sambil tersenyum yakin pada Rae na.

“YAK!”

Chanyeol menghela nafasnya. Lagi-lagi ia berada di tempat seperti ini dan semua karena sahabat brengseknya. Song Mino. Chanyeol sungguh mual melihat sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang bergairah. Mereka tidak peduli tubuh mereka saling berbenturan dengan lawan jenis. Menjijikkan untuk Chanyeol, karena ia ingin malam yang tenang sejujurnya. Chanyeol mencoba menikmati party malam ini. Namun masih sama, ia tidak bisa mengikuti suasana panas di rumah mewah itu. Rasanya ia ingin pulang dan menelfon Wendynya sampai puas.

Chanyeol duduk di kursi dekat kolam renang, sambil menatap minumannya dengan enggan. Ia juga sudah tidak melihat Rae na dari tadi. Masa bodoh juga dengan itu, toh ia juga tidak terlalu dekat dengan gadis Yoon itu.

PUK

Chanyeol melirik sekilas siapa yang menepuk pundaknya, dan melihat Rae na di sana. Chanyeol tersenyum kilat, dan menatap lagi ke depan.

“Kau tidak suka pestanya?” Tanya Rae na.

“Tidak. Hanya saja aku sedang tidak mood malam ini. Maaf.”

“Tidak masalah. Tapi bagaimana jika– kau lomba minum bersama yang lain?” Chanyeol menggeleng cepat. Ia tidak bisa mabuk malam ini, karena ia menyetir. Akan sangat bahaya jika ia mabuk sambil menyetir. Ia tidak mau berurusan dengan polisi. “Tidak terimakasih.” Kata Chanyeol menolak dengan sopan. “Ayolah pasti seru!” Kata Rae na semangat, sambil menarik lengan Chanyeol untuk masuk ke dalam rumah. Chanyeol benar-benar malas rasanya. Sungguh, jika saja ia tidak mengerti cara menghargai seorang wanita, ia akan menghempaskan tangan Rae na dengan keras.

Kini Rae na membawa Chanyeol ke ruang tengah, dimana beberapa orang sedang sibuk berlomba-lomba dalam meminum minuman berkadar alcohol itu. Chanyeol ingin muntah sejujurnya, bukan karena ia tidak biasa mabuk, hanya saja ia benar-benar tidak bersemangat hari ini.

“Ayolah, kau pasti bisa!” ujar Rae na penuh semangat. Sambil menuangkan minuman untuk Chanyeol.

“Tunggu Rae na-ssi aku–“

GLEK

Rae na berhasil meloloskan segelas minuman untuk Chanyeol, dan dengan terpaksa Chanyeol meminumnya. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Hingga dirasanya, kepala Chanyeol benar-benar berat dan semakin pusing. Dentuman musik keras yang menambah kebisingan yang membuatnya mual rasanya.

Chanyeol sudah menghabiskan setidaknya 4 gelas kecil minuman itu, dan semua masih menyorakkinya untuk meminum lebih banyak, dan dengan semangatnya, Rae na yang meminumkannya untuk Chanyeol. Hingga gelas ke 10, Chanyeol sudah tidak bisa berdiri lagi, dan akhirnya jatuh ke lantai. Rae pun meminta beberapa orang utnuk membantunya membopong tubuh Chanyeol ke dalam mobil.

Rae na tidak tahu, dimana rumah Chanyeol. Jadi ia memutuskan untuk membawa Chanyeol ke rumahnya. Tidak akan masalah kan? Mereka juga tidak akan melakukan apa-apa.

Dengan susah payah, Rae na membopong tubuh Chanyeol untuk membawanya ke kamar miliknya. Tubuh Chanyeol benar-benar berat, untuk Rae na bopong. Untungya namja itu masih bisa sedikit berjalan, meski harus menyeret-nyeret kakinya sendiri.

BRUGH

Tubuh Rae na ambruk ke atas tubuh Chanyeol, seiring ia menjatuhkan tubuh pria itu di atas ranjang king size miliknya. Rae na segera berdiri dan menatap wajah itu dengan teliti. Sungguh, ia jatuh dalam pesona seorang Park Chanyeol rasanya. Wajahnya terlalu sempurna hanya untuk dilihat seperti ini.

Dengan berani, Rae na membelai wajah Chanyeol yang sedang tertidur, dengan penuh kelembutan. Menyusuri setiap inci wajahnya, tanpa ada yang ingin dilewatkan begitu saja dari tangan lincah Rae na. Hingga…

Ring Ring…

Rae na mendengar suara dering telfon dari ponsel Chanyeol, dan dengan berani, Rae na merogoh saku celana Chanyeol untuk melihat siapa yang menelfon pria tampan tersebut. Tertulis…

‘Kekasihku’ di sana.

Rae na menatap sedikit kecewa, karena Chanyeol nyatanya sudah memiliki kekasih. Bukankah Chanyeol lebih cocok dengannya ketimbang kekasihnya saat ini?

Rae na tersentak saat tangan Chanyeol menariknya, hingga terjatuh ke atas dada bidang pria itu.

-To Be Continued-

Jangan lupa komentar yah readers tercintahhhh -,- hayo yang jadi silent readers gak disayang bias loh /plak/

Iklan

27 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Ending Scene (Chapter 6)

    • Huuuhjh😭 author juga greget sama mbak rae na..happy ending atau sad ending, ditnggu aja yah😂.. biarlah takdir yg menjawabnya /digorok/

      Terimaksih sudh berkomentar❤

  1. raena!!!! pengen banget aku buang dia kesumur terus aku kubur hidup-hidup dan gk lupa aku masukin juga sungjae ke dalam ny. gk tahu diri banget sih raena”bukankah chanyeol lebih cocok denganny ketimbang kekasih ny saat ini?” emosi aku baca ny, udah kelewatan banget tu anak. wendy malang bangetsih nasib mu… ka author ak berharap ff ini happy ending ya.. gk kuat kalo harus sad ending, dan yeol jgn nikah sama raena terus sungjae juga jgn nikah ama wendy. gak tahan- gak tahan!!! udah deh sampai disini aja komen ny ^√^, di tunggu terus kelanjutan ny*penasarn. fighting aurhor!!!

    • Haduhhh kubur hidup2 😂😂 sadis banget yakk
      Maapkeun author yang menyakiti kalian :v /plak/
      Yah berdoa aja biar author diberikan pencerahan dari iching /plak lagi/ 😂

      Terimaksih sudh berkomentar❤
      Jangan bosen2 ninggalin jejak yah😊

  2. Ga tau lagi makian apa yg cocok buat raena dan sungjae. Please bikin wendy balikan sama chanyeol biar perasaan nyesek baca ff ini terbayar di akhir chapter.
    Bikin raena sadar kalo kelakuan dia tuh jahat banget selama ini…

    • Hehehehe…
      Yah, dinantikan dengan penuh kesabaran yah😀..
      Jangan bosan2 doakan authornya biar menemukan jalan yg benar :v /tolong diabaikan sja/ 😂
      Terimaksih utk komentarnya..

  3. Wahh ternyata sungjae udah suka sm wendy dari dulu??. Itu si re na gitu amatlah *eww. Kalo si re na ada di real life, gue pengen ceburin ke lautan :v , abisnya kesel bgt gue. Yah harapannya jan sad ending, ditunggu kelanjutannya eaps 😀

    • Iya yah,, author juga kaget sungjae suka sma wendy :v /abaikan tolong/ 🙄
      Lagi gesrek /jadi curcol/ 😂

      Aku jga berharap rae na ada di real life, biar aku bisa tnya hubungan di sama cy avaan? /sumpah sengklek banget/ 😂🔫

      Terimaksih sudh berkomentar 😊

  4. Maaf author-nim baru komen, soalnya baru baca dari chapter 1 😀 btw, gw kesel bat ama si Rae na! Pen gw maki kek pikiran amber pas chapter 5 :v Lanjut terus, fighting! Jangan sad ending sungs, eykeh gak suka akhir yg gk bahagia eaaps (y)

  5. wah flashbacknya nggantung nih. raena mau diapain yeol?? jgn biang mereka (?)…
    waduh pikirannya udah kemana2..
    seungjae itu beneran bilng jtuh cinta sm wendy ato pura2 aja?? gimana rencana amber kemaren??

    mian, pertanyaannku kok banyak banget.. wkwk..😂 lanjut!!! semangat!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s