Job’s Goal : Finding Love [Chapter 9] -anneandreas

kak-anne-job-goals-by-irish

JOB’S GOAL : FINDING LOVE

.

a chaptered fiction with Romance feel in Family and Works life rated by T

staring by

EXO’s Byun Baekhyun, Kim Minseok, Kim Jongdae and Do Kyungsoo
INFINITE’s Lee Howon and Nam Woohyun
OC’s Do Kyungrin and Do Ahrin

.

Poster @ IRISH
I own the plot
all cast except OC belong to their real life

.

⇓⇓ PREVIOUS CHAPTER ⇓⇓

Teaser – Chapter 1 [Kembali]  – Chapter 2 [Perkenalan] – Chapter 3 [Laporan Keuangan] – Chapter 4 [Pabrik Kebarakan (1)] – Chapter 5 [Pabrik Kebakaran (2)] – Chapter 6 [Audit Internal] – Chapter 7 [Undangan Sosialisasi (1)] – Chapter 8 [Undangan Sosialisasi (2)]

-9-

LONG WEEKEND

©anneandreas2k17

Pagi menjelang siang yang santai, seperti biasa Kyungsoo masih dengan pakaian tidurnya berada di dapur apartemen, memanggang roti untuk kedua kakak kembarnya yang sedang menikmati long weekend dari pekerjaan mereka. Tidak seperti biasanya dimana Kyungsoo akan mendengar derap langkah kaki terburu-buru atau celotehan sibuk, kali ini kedua gadis kembar itu masih terlelap di atas ranjang dan ia enggan untuk membangunkan kedua pekerja keras itu. Namun baru saja Kyungsoo mengambil sepotong sandwich untuk dirinya, bel apartemen mereka berbunyi. Siapa yang datang?

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Reen sesungguhnya sudah bangun sejak tadi. Tidak, sebenarnya ia bahkan nyaris tidak bisa tidur semalaman sebab panggilan telepon mendadak dari Minseok tadi malam.

“Aku besok akan pergi trip ke Pulau Jeju dengan teman-teman kampusku, ya salah satunya ada Sehun yang kemarin bertemu denganmu di undangan sosialisasi. Apa kau mau menemaniku? Hanya menginap semalam, dan itu hanya sejenis acara reuni santai, ada beberapa teman wanita juga jadi kau bisa tidur dengan mereka. Kalau kau tidak keberatan, Reen.”

Butuh beberapa detik untuk Reen mencerna kalimat Minseok, berusaha keras untuk menjadi peka seperti saran Junmyeon namun ia justru merasa otaknya kosong. Bahkan Reen baru bersuara lagi ketika Minseok di ujung telepon memanggil namanya lagi, “Reen? Sungguh tak apa kalau kau keberatan. Maaf aku merepotkanmu, ya?”

Dan kini ganti rasa bersalah menghantam ulu hatinya tiba-tiba. Haruskah ia ikut saja? Atau tidak? Ah, persetan Reen. Cepat jawab saja apa yang terlintas di otak.

“Begini, maaf kurasa aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Arin dan Kyungsoo untuk berlibur bersama.”

Oh, bagus. Itu kebohongan yang seharusnya tidak terdengar seperti dibuat-buat. Namun tetap saja jantung Reen mencelos kala terdengar desah napas kecewa dari pihak Minseok di ujung telepon sana. Walaupun pada akhirnya ia tetap mengatakan ‘tak apa’ lalu berharap liburan Reen menyenangkan sebelum memutuskan sambungan telepon mereka.

Dan sesudah panggilan telepon yang terputus itu, Reen justru uring-uringan sampai pagi. Dan sialnya ketika ia baru mulai merasa mengantuk, sebuah panggilan telepon masuk ke handphonenya, dari Woohyun.

Good morning putri penerus Do Company. Apa hari ini ada acara?”

Reen menjawab sekenanya, “Tidak. Aku hanya ingin tidur di long weekend ini.”

“Kau bukan putri tidur, kau putri penerus Do Company. Gadis macam apa yang tidur sepanjang long weekend? Lagipula ini sudah jam sepuluh pagi. Kau tunggu di apartemen, aku akan ke sana.”

Eooh.”

Baru saja Reen memutuskan sambungan telepon, ia mendengar seseorang memencet bel apartemen mereka. Reen langsung terlonjak dari kasur dan berlari keluar dari kamarnya. Apa Woohyun oppa datang secepat itu?

Namun segera setelah ia berada di luar kamar, ia menyadari bahwa bukan Woohyun yang datang.

“Kenapa kau berlari seperti itu?” Kyungsoo menatap Reen dengan mengangkat sebelah alisnya.

Annyeong Reen noona. Baru bangun tidur ya?” sapa Sungjong ramah setelah membungkuk singkat.

“Oh, Sungjong yang datang rupanya. Kalian mau pergi bersama?” sapa Reen salah tingkah.

“Tidak, main di apartemen saja. Lagipula long weekend seperti ini jalan raya pasti padat sekali.” jawab Sungjong.

Reen mengangguk.

“Jadi kenapa kau berlari-lari?” tanya Kyungsoo lagi.

“Tadi Woohyun oppa juga bilang ia mau datang. Sudah, aku mau tidur lagi. Bangunkan aku saja kalau Woohyun oppa sudah sampai.” kata Reen sambil melenggang ke dalam kamarnya.

“Makan dulu sandwich strawberrynya baru tidur lagi.” jerit Kyungsoo masih dari ruang tengah, yang hanya dibalas lambaian tangan Reen dari belakang.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Satu jam kemudian Reen keluar lagi dari kamar, kali ini dengan handuk yang melilit kepalanya. Melewati Kyungsoo dan Sungjong yang sedang bermain playstation lalu berbelok ke pintu apartemen tepat sebelum bel berbunyi.

“Aku tidak membiarkanmu menunggu di depan pintu kan?” sapa Reen cuek.

“Lepas dulu handuk di kepalamu itu, putri penerus Do Company.” jawab Woohyun asal lalu melenggang masuk dalam apartemen.

“Untuk apa? Lagi pula hanya kau yang datang.” sahut Reen tak kalah cueknya.

“Oh, hyung kau datang.” sapa Kyungsoo lalu mengalihkan pandangnya pada Sungjong yang tiba-tiba menekan tombol pause pada stick game lalu bangkit.

Annyeonghaseiyo, saya Sungjong teman Kyungsoo.”

“Oh, aku sudah sering mendengar namamu dari cerita mereka. Lanjutkan saja mainnya, anggap saja aku tidak ada.” Woohyun tertawa.

Setelah bertukar salam singkat, Woohyun melenggang ke dapur dan mengambil sepotong sandwich buatan Kyungsoo. Sementara Reen berjalan ke balkon guna menjemur handuk yang tadi melilit kepalanya seraya berkata, “Yang selai strawberry punyaku!”

“Aku tahu nona bawel. Aku makan yang selai nanas kok. Omong-omong Arin mana?”

“Berisik sekali pagi-pagi di apartemen ini.” Arin melangkah keluar dari kamar sembari menggosok handuk di kepalanya yang masih basah.

“Wow, kau mau pergi kencan ya? Tumben bangun pagi di hari libur.” Reen menoleh dari arah balkon lalu duduk di sofa, sementara Kyungsoo lagi-lagi menghela napas akibat Sungjong yang kembali memencet tombol pause hanya untuk membungkuk di depan Arin, “Arin noona annyeonghaseiyo.”

Annyeong, kenapa kau kaku sekali denganku? Anggap aku dan Reen sama saja.” komentar Arin.

“Bagaimana bisa sama? Kau tampak menakutkan baginya.” sahut Reen disusul pekikan singkat akibat handuk basah yang terlempar tepat di atas ubun-ubunnya, tentu saja pelakunya Arin.

“Nah. Inilah yang selalu kau lakukan di depan temanku, bagaimana ia bisa santai padamu?” Kali ini Kyungsoo berkomentar. Setelah membalas Kyungsoo dengan delikan mata kesal, Arin menatap Sungjong sambil tersenyum manis, “Ini tanda sayangku pada mereka, Jong.”

Sungjong mengangguk sambil tertawa.

“Omong-omong kau mau kencan dengan Jongdae?” kali ini Woohyun yang bertanya, sembari mendudukkan dirinya di sofa samping Reen setelah menelan habis sandwich yang tadi ia ambil di dapur.

“Bukan kencan, dan tidak dengan Jongdae. Aku hanya pergi biasa, dengan teman.” jawab Arin sambil melenggang masuk ke dalam kamarnya.

Tidak berapa lama setelah Arin masuk ke dalam kamar, bel pintu apartemen mereka berdenting lagi.

“Sepertinya rumah ini kedatangan banyak tamu hari ini.” Kyungsoo berkomentar, sementara Reen hanya mendengus singkat pada adiknya yang enggan bangun lantas berjalan dan membuka pintu apartemen.

“Kau?” Reen jelas kaget.

“Siapa noona?” tanya Kyungsoo, akhirnya ia berdiri juga akibat kakaknya yang mematung di depan pintu.

“Bagaimana kau bisa tahu nomor apartemen kami?” Reen masih membeku.

“Tentu saja Arin yang memberi tahu, aku bukan stalker kau tahu. Ah, annyeonghaseiyo.”

Reen tiba-tiba memutar badannya dan melihat Kyungsoo yang sedang berdiri bingung di belakangnya, namun untuk menghormati si tamu yang mengucap salam, ia ikut membungkuk singkat.

“Jangan bilang bahwa kau yang akan pergi dengan Arin.” kata Reen lagi, masih enggan mempersilahkan tamunya masuk.

“Tapi memang begitu. Lagipula ini bukan kencan, aku tahu ia punya pacar.”

Oh my God, Byun Baekhyun!” Reen melengos.

Baekhyun mendelik mendengar namanya diucapkan dengan nada begitu menyebalkan, sementara Kyungsoo yang berdiri di belakang Reen tampak melebarkan matanya.

“Setidaknya tamu tetap harus dipersilahkan masuk, Reen.” Woohyun akhirnya berdiri dan menengahi, setelah sebelumnya membungkuk singkat pada Baekhyun.

“Masuklah, tunggu sebentar. Omong-omong aku tidak akan memperlakukanmu seperti manager karena ini hari libur.” Reen menjawab ketus, disambut anggukan setengah peduli dari pihak Baekhyun.

“Duduklah di sofa itu. Omong-omong kau si Byun Baekhyun anak CEO sialan itu ya? Aku mengenal ayahmu. Ehm, ya tepatnya ayah kita bertiga bersahabat.” Woohyun mengucap sembari mempersilahkan Baekhyun duduk di sofa ruang tengah. Yang lagi-lagi harus membuat Sungjong dan Kyungsoo menghentikan sementara permainan mereka.

“Sepertinya imageku di rumah ini jelek sekali.” Baekhyun tersenyum kecut lantas duduk di sofa, namun matanya tak lekat memandang Reen dengan tatapan kesal, seolah Reen lah penyebab dari semua image buruknya.

Tanpa memerdulikan Baekhyun yang melempar tatapan kesal tak kentara di hadapannya, Reen malah berlari ke dalam kamar lalu berkacak pinggang di belakang Arin yang sedang duduk di meja rias.

“Kau mau pergi dengan Baekhyun sialan itu? Serius? Oh, God! Kau selingkuh?” omel Reen panjang.

“Oh, dia sudah datang?” Arin berkomentar, membuat Reen mendengus kasar.

“Ini bukan kencan, dia tahu aku sudah punya pacar.” sahut Arin lagi, berusaha membenarkan dirinya.

“Oh, ya kalian berdua sama saja. Dia juga bilang begitu tadi. Tapi bagaimanapun kalian itu mantan pacar.” Reen mengoceh.

“Memangnya mantan pacar tak boleh berteman dan pergi bersama? Kau saja pergi ke Busan berdua dengan si Howon itu.” Arin berdiri, ikut berkacak pinggang di hadapan kembarnya.

“Oh yeah! Itu perjalan dinas wahai Do Ah Rin yang sangat kuhormati.” Reen meledak, ia sudah siap bergelut dengan saudara kembarnya itu. Namun jantungnya justru mencelos karena dilihatnya Arin malah menunduk, tak biasanya saudara kembarnya itu merasa kalah.

“Ini benar-benar bukan kencan. Aku tidak selingkuh. Sungguh.” Arin mengucap pelan, masih menunduk membuat Reen jadi tak enak hati akibat dirinya yang meledak-ledak. Apakah ia terlalu ikut campur pada urusan pribadi Arin?

“Pergilah. Tapi ingatkan dia kalau aku akan menampar laki-laki itu dengan gagang sapu jika ia macam-macam denganmu.” Reen mengalah, lantas berjalan keluar dari kamar.

.

.

.

“Kalian mau pergi kemana?” tanya Reen blak-blakan setelah keluar dari dalam kamar lalu duduk di samping Woohyun, menghadap Baekhyun. Sementara Kyungsoo yang sudah melanjutkan permainan dengan Sungjong diam-diam ikut mendengarkan.

“Ke Namsan Tower. Mau ikut?” tawar Baekhyun asal.

Oppa. Kau tahu ‘kan sekarang betapa menyebalkannya anak Byun ahjussi?” Reen melempar tatapan pada Woohyun, yang ditatap hanya tertawa.

“Yang pasti sama menyebalkannya dengan anak tertua Do ahjussi.” Baekhyun membalas, kali ini membuat Woohyun dan bahkan Kyungsoo serta Sungjong yang sedang sibuk bermain pun ikut tertawa.

“Kau sudah siap? Ayo berangkat.” kali ini Baekhyun mengucap setelah dilihatnya Arin berjalan keluar dari dalam kamar. “Kami pergi dulu.” lanjutnya sambil menyapu pandang pada orang-orang yang ada di ruang tengah, dijawab dengan ucapan ‘Ya’ dari semua laki-laki yang ada di sana.

“Jangan pulang terlalu malam. Dan jangan macam-macam.” pesan terakhir Reen sebelum kedua manusia itu menghilang di balik pintu apartemen.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Sepeninggal Arin dan Baekhyun, jam demi jam berlalu namun suasana apartemen lebih tenang. Kyungsoo dan Sungjong semakin terlarut dengan pertandingan playstation mereka, sementara Woohyun merecoki dapur dan membuat ramyeon untuk dirinya sendiri. Tidak memerdulikan ketiga laki-laki yang ada di dalam apartemennya, Reen justru berkutat dengan koleksi masker siap pakai milik Arin di dalam kulkas, sepertinya saudara kembarnya itu tidak akan menyadari jika Reen mencuri selembar atau dua lembar maskernya.

“Kau mau masker-an? Aku juga mau, ambilkan untukku juga satu.” Woohyun menginterupsi di sela-sela kegiatannya mengunyah ramyeon yang baru matang.

Heol. Tamu paling tak tahu malu sejagat raya. Sudah memasak ramyeon sendiri tanpa ditawari, lalu meminta masker gratis. Nih, pilih sendiri mau yang mana, tapi itu semua punya Arin omong-omong.”

Heol. Kau juga saudara kembar tak tahu malu. Memakai masker gratisan tanpa meminta izin lebih dahulu dari pemiliknya.” Woohyun meledek, sementara Reen malah tertawa.

“Mereka akan baik-baik saja ‘kan?” Reen yang seluruh wajahnya kini sudah tertutupi masker menoleh ke arah Woohyun, laki-laki itu juga sedang membuka lembaran masker siap pakai.

“Seharusnya begitu. Santai saja, nikmati long weekendmu sendiri.” Woohyun menenangkan.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Berbeda dengan kedua saudaranya yang menghabiskan long weekend dengan bersantai di apartemen, Arin berharap pilihannya untuk menghabiskan long weekendnya dengan sang mantan ini bukanlah pilihan yang salah. Jadi mantan kekasih bukan berarti tidak bisa berteman lagi ‘kan? Sejauh ini juga Arin merasa perjalanannya baik-baik saja, toh ia juga masih yakin kalau pemilik hatinya adalah Jongdae.

Memang ada sekali dua kali suasana romantis yang seharusnya bisa saja tercipta kalau-kalau Arin tak menguasai diri. Apalagi tempat dan lingkungan sekitar juga mendukung suasana romantis yang bisa tiba-tiba timbul, seperti remaja laki-laki yang merangkul erat sang kekasih di dalam kereta gantung tadi misalnya –karena si gadis takut ketinggian. Atau lihat saja pasangan remaja yang memakan permen kapas bersama itu, bahkan segumpal kecil permen kapas menempel di hidung si gadis bisa berbuntut panjang, si lelaki akan menyentuh dengan lembut hidung gadisnya dan boom! atmosfer romantis tiba-tiba menyelubungi pasangan itu.

Arin merasa dirinya bisa menguasai diri. Bahkan setelah duduk berdampingan di kursi kayu sambil menatap matahari terbenam yang sudah pasti memberikan efek romantis pun Arin merasa dirinya tidak goyah. Seharusnya tidak goyah.

“Saat di Jepang kita tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini.” Baekhyun berucap.

Arin tersenyum lantas menunduk sambil memainkan kaki, “Waktu itu kita berdua hanya sibuk menjadi mahasiswa teladan.”

Baekhyun tertawa sebentar lantas memalingkan wajahnya menatap Arin, “Dan itu membuatku menyesal.”

“Kenapa?” Arin mengangkat kepalanya.

“Seandainya aku seperti anak laki-laki pada umumnya. Oh sial, melihat remaja laki-laki jaman sekarang aku merasa iri setengah mati.” Baekhyun tertawa.

“Kenapa harus iri? Kau belum serenta itu. Carilah wanita dan jalani hubungan romantis dengannya. Selesai.” Arin mengangkat bahunya.

“Tidak semudah itu. Masalahnya wanita yang kuinginkan sedang dimiliki laki-laki lain.” Nada bicara Baekhyun berubah serius, dan sialnya didukung oleh temaram oranye senja yang entah mengapa tampak seperti background yang cocok untuk suasana melodrama.

Arin terdiam, tapi diam-diam hatinya gemetar juga. Sekuat tenaga otaknya mengirim sinyal bahwa Jongdae lah satu-satunya lelaki di hatinya, namun jantungnya malah berdetak kencang tanpa kendali. Bahkan dirinya masih diam pasrah ketika tangannya digenggam oleh sang mantan pacar.

“Berikan aku kesempatan.” Baekhyun mengucap lagi. Namun kali ini Arin memenangi pertarungan batinnya. Ia menarik tangannya lantas menggeleng kasar, “Ini sudah lewat batas pertemanan, Baek.”

Baekhyun mengalah, tapi raut wajahnya jelas kecewa. “Araso, maafkan aku.”

“Aku mau pulang.” Tanpa menunggu jawaban Arin berdiri dan melangkah menjauhi kursi kayu romantis sialan itu. Baekhyun menurut, ia ikut bangkit dan mengikuti langkah si gadis.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

“Matahari sudah terbenam tapi mereka belum pulang. Tidakkah mereka terlalu lama? Haruskah kutelepon mereka?” Reen mengintip keluar balkon kemudian duduk lagi di sofa ruang tengah, mengambil handphonenya yang tergeletak di sana.

“Tak usah. Omong-omong Kyungsoo dan Sungjong pergi membeli makan malam dimana? Kenapa mereka lama sekali.” Woohyun menjawab.

“Entahlah. Memangnya kau tak nyaman hanya berdua denganku di sini ya? Takut suasananya berubah romantis ya?” Reen menggoda, membuat Woohyun terpingkal.

Heol, puas sekali tertawanya. Memangnya aku ini bukan gadis juga?” Reen pura-pura marah.

Baru Woohyun hendak menjawab, bel pintu apartemen berbunyi membuat kedua orang di dalamnya saling melempar pandang singkat. Kemudian Reen mengambil langkah lantas membuka pintu apartemen dan rahangnya nyaris jatuh ke lantai kala melihat tamu yang sedang berdiri di ambang pintu apartemen mereka itu.

“Jongdae?” Reen sungguh menahan diri untuk tidak memekik.

Annyeong Reen. Ah, ada Woohyun hyung rupanya.” Jongdae tersenyum.

“Hoy, lama tidak bertemu. Sibuk sekali peneliti kita ini.” Woohyun mengambil kendali, sorot matanya sempat mengirim sinyal untuk Reen supaya gadis itu cepat menghubungi Arin diam-diam.

Reen yang paham lantas mengambil langkah dan merenggut handphonenya dengan cepat kemudian nyaris berlari ke dalam kamar dan melakukan panggilan telepon untuk Arin. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun sialnya si saudara kembar tidak mengangkat panggilan.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Arin keluar dari dalam mobil Baekhyun setelah sebelumnya sempat berdebat tentang menjemput di dalam apartemen maka harus mengantar sampai ke dalam apartemen juga. Setelah menghabiskan waktu terbuang percuma akhirnya Arin mengalah juga, membiarkan si lelaki berjalan mengekorinya. Arin terus melangkah fokus, bahkan dirinya terus mengabaikan dering telepon yang terdengar dari dalam tasnya, ia ingin cepat sampai di apartemen sehingga laki-laki ini juga cepat pulang. Ia baru mulai tenang ketika pintu apartemen sudah di depan matanya dan dirinya menekan sandi pintu masuk, namun jantungnya justru terasa jatuh ke lantai ketika pintu terbuka dan ia mendapati Jongdae sedang duduk di ruang tengah apartemen mereka.

Reen yang mendengar bunyi pintu apartemen berdenting pun langsung berlari keluar kamar sambil merapal doa bahwa bukan Arin yang baru saja sampai di apartemen. Namun jantungnya juga mencelos kala mendapati saudara kembarnya itu tengah mematung di ambang pintu, beberapa meter di depan Jongdae yang juga berdiri mematung, sementara si Baekhyun sialan malah masuk dan mencoba menjelaskan situasi pada Jongdae yang terlihat menahan amarah.

“Biar aku jelaskan.” Baekhyun mengucap.

Tidak butuh waktu lama bagi Jongdae menjawab ucapan Baekhyun. Bukan dengan kalimat melainkan dengan tinjuan tepat di pipi Baekhyun, membuat laki-laki itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Baekhyun melenguh singkat sebab pukulan pacar Arin itu terasa sangat kuat, sedang Arin memekik dan Woohyun bergerak sigap menahan Jongdae, kalau-kalau lelaki itu akan melayangkan tinjuan lanjutan.

“Jongdae, maaf.” Arin mengucap gemetar sambil melangkah mendekati si lelaki. Namun Jongdae justru melepaskan tangan Woohyun yang menahannya lalu mengambil langkah keluar dari apartemen tanpa menjawab sama sekali. Air mata Arin tumpah dan ia mengejar Jongdae, meninggalkan apartemen yang masih membisu.

“Sudah kukatakan padamu bahwa aku akan menamparmu dengan gagang sapu kalau sesuatu terjadi pada saudaraku!” Reen melangkah dan membentak Baekhyun tepat di depan wajahnya.

“Aku pun tak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Aku hanya berniat mengantarnya pulang dengan sopan.” Baekhyun menjawab, sebelah tangannya masih mengusap wajah yang lebam.

“Sabar, Reen.” Woohyun menarik Reen menjauh dari Baekhyun kemudian ia mengucap lagi, “Kau juga sebaiknya pulang saja, Baekhyun-ssi. Nanti setelah semua lebih tenang, kau dan Reen bisa berdebat soal ini lagi.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Arin menangis di dalam mobil Jongdae sementara si lelaki yang duduk di kursi kemudi terlihat dingin. Awalnya Jongdae memang merasa sangat marah namun ia tak tega juga melihat gadisnya terus menangis saat mengejarnya hingga ke basement, bahkan si gadis masih menangis saat Jongdae membuka pintu mobil dan membiarkan gadis itu duduk di sampingnya sampai saat ini.

“Pulang dan istirahatlah.” Jongdae akhirnya mengucap.

Arin menggeleng kasar, ia tetap menunduk tak berani menatap wajah Jongdae.

“Kau sudah menangis terlalu lama, dan aku sudah ingin istirahat di rumahku. Jadi, pulanglah.” ucap Jongdae lagi.

Arin masih menggeleng kasar bahkan napasnya sampai tersengal-sengal karena tangisan yang tak kunjung henti, hingga akhirnya Jongdae mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala si gadis, “Arin, lihat aku. Jelaskan jika kau ingin menjelaskan, dan putuskan jika kau ingin mengakhiri hubungan ini.”

Arin sontak mengangkat wajahnya dan menatap Jongdae nanar. Kini ia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri karena mengecewakan laki-laki yang dicintainya itu. “Tidak, aku tidak..”

“Pikirkanlah, Arin. Kau hanya masih kalut. Jadi, pulanglah dan pikirkan lagi. Aku tahu siapa dia bagimu..”

“Dia bukan siapa-siapa.” Arin memotong.

“Jelas dia adalah siapa-siapa bagimu, haruskah aku menyebutkannya? Mungkin baginya, akulah yang seharusnya mengalah karena dia yang lebih dulu ada. Berikan aku juga waktu untuk merenungkan seharusnya siapa aku bagimu dan siapa kau bagiku.” Jongdae menjelaskan, ia berusaha dengan amat sangat untuk tidak terdengar emosi atau kecewa.

Sementara Arin diam, enggan menjawab dan enggan bergerak, Jongdae keluar dari dalam mobilnya dan berjalan memutar lantas membuka pintu mobil di sisi Arin duduk, mempersilahkan si gadis keluar dari mobilnya, “Pulanglah. Kita bisa bicara lagi nanti setelah masing-masing kita telah berpikir dan memutuskan pilihan.”

Akhirnya Arin melangkah keluar dari mobil Jongdae, ia menyerah. Namun ia masih berdiri di sana hingga si lelaki masuk kembali ke dalam mobilnya lalu meninggalkannya begitu saja di sana. Arin baru menguntai langkah lagi beberapa saat setelah ia yakin bahwa si lelaki tak akan kembali. Dan ketika ia sudah sampai kembali di apartemen, Baekhyun sudah tak ada di sana namun ada Kyungsoo dan Sungjong di sana, entah sejak kapan mereka ada di dalam apartemen. Ia berjalan melewati semua orang  yang masih tampak tegang di ruang tengah lalu masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mengucap, “Aku baik-baik saja dan ingin segera tidur. Aku tahu kau penasaran dan ingin mendengarkan ceritaku tapi tunggu sampai besok atau sampai aku ingin menceritakannya sendiri.”

.

.

.

to be continued.

AnNotes:

Chapter 9 yeaaayy!!
Jadi wacananya sih, kemarin pas libur Lebaran yang panjang itu pengen nulis sampe tamat, tapi wacana tinggalah wacana, buahahahahha~

Tapi kucoba tetap menulis di tengah segala ke-riweh-an pemeriksaan pajak + beacukai, dan audit internal + audit eksternal yang sialnya datang bersamaan.
/nangisbombay

So, sangat sangat sangat terima kasih buat semua readers yang setia nungguin cerita abal-abal yang updatenya ga tentu ini, terima kasih untuk semua like dan komen yang berharga. Cengar-cengir baca komen sambil ngerjain audit itu rasanya kaya disebor air es di tengah kehausan yang hakiki. /alaykamu /plak.
Udah gitu komennya belom pada dibales pula /plak lagi.

See you di chapter selanjutnyaaa!!
*bow

 

Iklan

4 pemikiran pada “Job’s Goal : Finding Love [Chapter 9] -anneandreas

  1. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 11] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 10] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ini gue bingung mau ship siapa? BaekReen apa BaekRin, JongdaeRin, Taulah.. Masih banyak yg gue bingung. I still waiting 😊 *Udah biasa, kok gue nunggu 😂. Lah, dia curhat :v

    Ditunggu next chapnya, kak.. Fighting 👊😄

  4. Knp reen nolak ajakan umin? 왜?? 😩 kshn umin. Reen jd insecure gt krn input dr junmen kmrn ya? Dsr junmen 😑
    Udah worry si woohyun bkl lbh berarti bwt reen dibanding umin 😟 tp spt’ny pure cm syng sbg 오빠 & shbt ja & smoga reen milih umin 😀 eventually.
    Kdatangan bnyk tamu kdiaman do bersaudara 😄 ky lg open house Lebaran. ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Hadeuh.. Ada drama triangle love pula 😬 첸 lngnsg maen ksh bogem mentah ja 😅 kshn 백. Udah mo tamat?? Moga happy ending ☺
    ps: brasa dikebut alur’ny yg scen 첸 jealous brsn

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s