GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2Level 3Level 4 — Level 5 — Level 6 — Level 7 — Level 8 — [PLAYING] Level 9

The crumbling wall

Your star already fall

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 9 — After Effect

In Jiho’s Eyes…

“Aku datang untuk memberitahumu rencana mereka.”

Tidak ada kata terucap dari bibir Baekhyun kala aku menyelesaikan kalimatku. Aku sendiri, hanya bisa terdiam, menunggu reaksinya. Sementara Baekhyun masih bergeming, aku kembali memutar otak. Apa dia mencurigaiku?

“Oh, ya? Apa mereka masih punya rencana untukku?” pertanyaan Baekhyun membuatku berpikir jika ia tengah berusaha meledek player-player tersebut.

“Apa kau bisa mengatasinya kali ini?”

Baekhyun mengangguk singkat, ia memandang sekeliling kami sebelum berucap.

“Kenapa? Kau mengkhawatirkanku? Seharusnya kau khawatir pada dirimu sendiri. Bagaimana jika mereka berhasil meretas akunku dan menemukan jejakmu di dalamnya?” aku terkesiap saat mendengar ucapan Baekhyun.

“Bagaimana kau tahu? Aku bahkan belum—”

“—Bukankah aku sudah tahu apa yang kau lakukan bahkan saat kau offline?” Baekhyun memotong.

“Tapi kau katakan kau hanya meretas CCTV di tempat tinggalku. Tidak berarti kau bisa mendengar apa yang—mungkinkah kau… meretas semua PC yang ada di tempat tinggalku?” kini Baekhyun tersenyum simpul.

“Kenapa? Kau ingin marah lagi padaku?”

Melihat bagaimana ia bisa meretas semua yang ada di sekitar kehidupanku dengan mudah, bisa kusimpulkan kalau Taehyung bukan seorang rival yang akan memberatkan Baekhyun atau menghambatnya.

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” aku tersadar saat Baekhyun berucap.

Segera, aku menggeleng cepat. “Aku pikir aku sudah mengkhawatirkanmu karena alasan yang konyol. Jika kau sudah tahu rencana mereka, lalu mengapa kau masih menemuiku?”

“Apa kau tidak ingin bertemu denganku?” ia balik bertanya.

“Tidak, bukan berarti begitu.”

“Lalu, apa kau marah karena aku sudah tahu rencana mereka?”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku tidak punya alasan untuk tidak menemuimu.”

Aku tersenyum kecil. Baekhyun tidak marah, kutarik kesimpulan kecil itu saat mendengar ucapannya. Meski aku mengakhiri perdebatan kami secara sepihak, tapi melihatnya masih mau menemuiku berarti bahwa ia masih menganggapku ada.

“Jiho-ya,”

“Ya, Baekhyun?”

“Andai saja, benar-benar pengandaian, jika aku nanti terjebak dalam keadaan yang tidak bisa kuatasi, apa kau akan datang untuk menolongku?”

“Mengapa kau menanyakan hal itu? Apa sesuatu terjadi?” tanyaku terkejut.

Baekhyun tersenyum.

“Kukatakan ‘andai saja’ tidak berarti sesuatu terjadi padaku, bukan? Karena aku tidak mau mereka tahu aku telah mengetahui rencana mereka, aku menerima file bugs yang temanmu kirimkan padaku. Meski aku bisa mengatasinya, tetap saja human wealthku masih kacau. Jika situasi terburuk mungkin terjadi, apa kau akan menolongku?”

Ia seolah tengah menanyakan pertanyaan retoris. Bagaimana aku bisa muncul di depan semua orang sementara yang mereka kenal hanyalah aku? Tidak, Baekhyun juga tidak mungkin begitu saja melepaskan diri pada umpan yang Taehyung berikan jika ia tidak menyimpan rencana cadangan.

Benar, dia tidak terkalahkan. Aku terus teringat bahwa Baekhyun tidak terkalahkan. Dan walaupun kemungkinan buruk itu terjadi, apa yang akan aku lakukan? Aku bahkan tidak punya keberanian untuk memberitahu orang-orang terdekatku tentang Baekhyun.

Memangnya, mengenal Baekhyun adalah sebuah kesalahan? Dia juga seorang player di dalam WorldWare, hanya saja keadaan tengah membuatnya tersudut dan akhirnya berdiri di sisi minoritas yang ingin dilenyapkan.

“Kurasa aku sudah tahu jawabannya.”

“Apa?” aku terkesiap mendengar ucapan Baekhyun.

“Jangan khawatir, aku hanya berandai-andai saja. Aku ingin tahu seperti apa reaksimu, itu saja.” ia berucap.

“Aku bahkan belum menjawab apapun.”

Bodoh, ucapan tolol macam apa itu Jiho? Dia bahkan tidak perlu jawaban apapun saat kediamanku saja sudah bisa ia jadikan sebuah jawaban.

“Sejujurnya, apa kau menganggapku seorang yang baik, Jiho?”

Aku menatap Baekhyun saat ia lagi-lagi bertanya. Mengapa ia terus menanyakan hal-hal aneh seperti ini? Apa sesuatu benar-benar terjadi padanya? Atau ia memberiku pertanda bahwa sesuatu akan terjadi nanti?

“Ya, bagiku kau seorang yang baik.” jawabku akhirnya.

“Jika turbulence malam ini mengakibatkan sesuatu yang buruk, apa kau akan tetap memandangku sebagai seorang yang baik?”

“Apa kau berencana untuk menyerang mereka habis-habisan?” lagi-lagi aku balik bertanya pada Baekhyun, padahal aku belum menjawab pertanyaannya.

“Jawab dulu pertanyaanku.”

Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang.

“Aku tidak tahu. Kupikir, aku tidak bisa memutuskan semua hal dengan benar, aku bisa memihak seseorang, dan kemudian tiba-tiba menganggapnya salah. Jadi aku tidak tahu, bagaimana aku akan memandangmu jika kau melakukan sesuatu yang buruk.”

Helaan nafas kudengar lolos dari bibir Baekhyun.

“Kalau begitu, jangan hadir di turbulence nanti.”

“Mengapa?”

“Kau sudah tahu jawabannya, Jiho.” Baekhyun tersenyum tipis. “Jika esok hari kau masih punya keinginan untuk bicara padaku, aku akan menunggumu di tempat ini seharian.”

“Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu? Apa yang kau rencanakan, Baekhyun?”

Baekhyun menatapku, sebelum ia memamerkan sebuah senyum kecil.

“Aku tidak merencanakan apapun. Semuanya akan terjadi begitu saja, nanti. Dan after effectnya tidaklah seperti yang kau duga, Jiho.”

Aku baru saja membuka mulut untuk menyahuti ucapan Baekhyun saat tiba-tiba saja koneksiku terputus. Secara otomatis, aku terbangun dalam mode kehidupan normalku.

Apa yang terjad—ah, koneksi.

Aku menatap layar berisikan tombol-tombol transparan yang sekarang menyambut netraku. Aku bisa saja menekan tombol ‘on’ lagi untuk login ke dalam mode survival, tapi ucapan Baekhyun membayangiku.

Bagaimana jika aku membencinya saat aku melihat apa yang ia lakukan nanti?

Ia telah menaruh sedikit kepercayaannya padaku, bukankah aku seharusnya melakukan hal yang sama? Baekhyun memberiku kesempatan setelah semua kebohongan yang aku lakukan, tidakkah aku juga harus memberinya kesempatan yang sama?

Aku percaya, tiap orang di dunia ini punya sisi baik dan buruk dalam diri mereka. Di kesehariannya, mereka menunjukkan satu sisi secara dominan pada orang-orang di sekitarnya, dan suatu hari, sisi tidak dominan mereka akan mendominasi dalam kurun waktu yang tidak lama.

Baekhyun juga seperti itu, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku terbangun saat jam menunjukkan angka sembilan lewat. Sengaja, semalam aku menenggak dua buah pil obat tidur, mengingat aku tidak banyak menghabiskan waktu untuk tidur, tubuh ini terasa jauh lebih baik ketika aku terbangun.

Usai menyegarkan diri pasca tidur panjang selama hampir dua belas jam semalam, aku akhirnya keluar dari kamar, melangkah ke ruang tengah mess untuk mencari keberadaan Taehyung dan Ashley.

“Ash?” aku memanggilnya, gumaman terdengar sebagai jawaban.

Perlahan, aku melangkah mendekati sofa yang ada di ruang tengah dan kutemukan Taehyung juga Ashley sama-sama tertidur di sofa dengan kaleng-kaleng bir kosong tersisa di meja.

“Ashley?” aku bergerak menyenggol Ashley saat aku berdiri di dekatnya.

Ashley membuka mata sedikit, menatapku dengan raut mengantuk sebelum ia tersenyum lebar.

“Kupikir kau akan online tadi malam, kau harusnya lihat bagaimana kami membantai Invisible Black.”

“K-Kau apa?” sontak aku terkesiap saat mendengar ucapan Ashley, meski ia berucap di tengah keadaan mabuk, tapi kuyakini ia tidak berbohong.

“Kami menang, Jiho-ya, kau tidak lihat aku dan Taehyung merayakan kemenangan kami?” Ashley berkata lagi, sementara ia tertawa kecil sekarang.

Aku menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Berusaha menetralisir ketakutan aneh yang mencubit batinku saat mendengar ucapan Ashley. Aku tak ingin percaya, tapi tidak juga percaya jika Ashley berbohong.

Ashley bahkan tidak cukup sadar untuk menjawab pertanyaanku sekarang. Ia sudah kembali menggulung diri di balik selimut tebal yang ia gunakan di sofa, sementara aku dikejar kepanikan.

Apa Baekhyun baik-baik saja?

Lekas aku membawa tungkaiku ke deretan PC yang ada di ruang bermain, menyalakan PC milikku sementara kupikir aku bisa mendengar bagaimana kini jantungku bertalu-talu.

Segera setelah aku berhasil login, aku membuka server utama, dan kutemukan ada belasan rekaman turbulence malam tadi. Aku ingin langsung berkelana di survival mode dan mencari Baekhyun untuk melihat keadaannya, tapi aku tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran yang menekanku.

Lima belas menit lebih kuhabiskan untuk menyaksikan turbulence semalam. Bisa kulihat bagaimana human wealth Baekhyun masih kacau, meski ia menyerang dengan begitu sempurna tapi di menit ketujuh ia tiba-tiba saja limbung.

Melihat bagaimana ia tidak mengelak dari serangan yang player-player berikan, dan melihat lapisan plasma—yang tempo hari digunakannya untuk menciptakan jarak serang agar player lain tidak bisa terlibat—menghilang, aku tahu ia sedang diretas.

Dimenit kesebelas, ia kembali menyerang dengan lihai, menjatuhkan beberapa player kuat dengan sword dengan ledakan plasma sebelum tubuhnya tiba-tiba ambruk. Ia tidak diretas, kurasa, karena Taehyung sudah offline. Aku melihat Taehyung offline di sudut terjauh arena.

Lalu apa yang terjadi?

Selama dua menit terakhir turbulence Baekhyun habiskan dengan menerima semua serangan yang player lain berikan padanya sebelum akhirnya ia benar-benar terjatuh, kalah.

Baekhyun dikalahkan.

Bagaimana bisa? Mengapa?

Aku segera memeriksa keberadaan Ashley di dalam friend list milikku, dan tatapanku membulat ketika melihat bagaimana Ashley telah naik tiga level. Apa mengalahkan Baekhyun membuatnya menaikkan level sebanyak itu?

Lalu bagaimana dengan player lain?

Masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi, aku akhirnya mematikan PC dan melangkah kembali ke kamar. Sengaja menguncinya untuk menghindari interupsi tiba-tiba dari Taehyung maupun Ashley—karena mereka pernah beberapa kali menarikku secara paksa dari mode survival.

Tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam tabung, membaringkan diriku dan mengatur nafas. Dimana Baekhyun mungkin berada? Ia katakan jika ia akan menungguku di Tacenda, tapi itu jika ia menang.

Apa ia juga ada di Tacenda sekarang?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Baekhyun!”

Tanpa bisa menahan diri, aku terpekik saat mendapati Baekhyun benar-benar ada di Tacenda. Tidak dengan keadaan kacau yang kubayangkan, ia berdiri tegap membelakangiku, menatap dinding tinggi yang membatasi Tacenda dengan wilayah lain.

“Baek—” aku terhenti saat sebuah lengan menarikku.

“Jangan mendekatinya. Starmu hancur, HongJoo.” aku berbalik, tatapanku membulat saat melihat Wendy berdiri dalam keadaan mengerikan.

“Apa yang terjadi padamu? Siapa yang—apa Baekhyun…”

Wendy menghela nafas panjang saat mendengar nama Baekhyun lolos dari bibirku. Health bar miliknya kacau, dan ia bahkan terluka—mengingat mode survival bisa memberi efek visual yang lebih nyata, kupikir aku benar-benar melihat seorang manusia terluka di dalam mode survival.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Dia datang dini hari tadi dan menyerangku tanpa ampun, saat health barku kritis dia lantas masuk ke Witch’s Area, tentu saja aku langsung menguncinya di dalam sana. Sudah berjam-jam dia berusaha mengeluarkan diri dengan menyerang dinding Witch’s Area milikku.”

“Dia menyerangmu terus? Mengapa dia tidak logout saja jika memang ingin mengalahkanmu?” tanpa sadar aku berucap.

“Mana bisa aku tahu? Dia tampaknya mempermainkanku. Ingin terus mengakses Tacenda tapi juga ingin menyerang seseorang sebagai pelampiasan. Kau tidak lihat? Dia sudah berubah.”

“Berubah?” ucapku bingung.

Wendy menghela nafas panjang.

“Lihat baik-baik, HongJoo. Apa dia terlihat sama seperti terakhir kali kalian meminjam tempat tinggalku untuk bicara?”

Aku melangkah perlahan mendekati dinding—yang terlihat berwarna merah muda—yang sekarang membatasiku dengan Baekhyun. Kabut berwarna hitam kulihat menyebar di sekitar tubuhnya, dan tangannya terkepal.

“Baekhyun?” kuberanikan diriku menyebut namanya meski kemudian aku dengar Wendy mendesah tidak nyaman. Kurasa ia cukup kewalahan karena keberadaan Baekhyun di sini.

“HongJoo.” aku terkesiap saat Baekhyun menyebut ID-ku—bukannya namaku, ia lantas berbalik, menatapku dengan sebuah senyum mengerikan yang—tunggu, apa yang terjadi pada Baekhyun?

Ia masih memiliki level yang sama, heatlh barnya baik-baik saja begitu juga dengan human wealthnya. Ia tidak terlihat seperti baru saja dikalahkan dalam sebuah turbulence tapi ia terlihat menakutkan.

“Kenapa kau di sini? Tidak merayakan kemenanganmu bersama mereka?”

Aku menatap Baekhyun saat lagi-lagi ia berucap. Kusadari, kedua manik kelam yang biasa kulihat dimiliki Baekhyun kini berubah. Warna silver mendominasi irisnya, membuat Baekhyun terlihat berbeda.

“Apa yang terjadi padamu?”

Apa ini after effect yang Baekhyun bicarakan semalam? After effect yang justru terjadi padanya bukannya pada player yang telah berusaha menyerangnya.

“Larilah.”

“Apa?”

“Batas yang penyihir ini ciptakan sudah begitu rapuh, sekali aku melempar plasmaku batas ini akan hancur, dan kupastikan aku akan menghancurkanmu. Larilah.”

Aku terdiam. Baekhyun tidak pernah terlihat semarah ini. Tapi apa salahku? Aku bahkan offline dan menurutinya. Lantas mengapa ia ingin menyerangku sekarang?

“Apa aku melakukan kesalahan lagi? Bukankah kau yang memintaku untuk offline semalam? Aku juga sudah menanyakan padamu, apa kau bisa mengatasi turbulencenya? Kau katakan kau bisa mengatasinya. Lalu mengapa sekarang kau marah padaku?”

Tatapan Baekhyun berubah lembut, hanya sesaat, sebelum aura mengerikan lagi-lagi menguar dari dirinya.

“Aku adalah seorang monster sekarang, jadi pergilah.”

“Kenapa? Bagaimana bisa kalah dalam sebuah turbulence mengubahmu menjadi monster? Kemarin kau bertanya padaku apa aku masih akan tetap menganggapmu seorang yang baik jika kau melakukan hal buruk. Aku sekarang ada di sini, mengkhawatirkanmu dan terus menyalahkan diriku atas apa yang terjadi padamu. Apa kau tidak tahu? Aku meminum obat tidur agar aku bisa benar-benar tidur tanpa harus mengkhawatirkan turbulence semalam. Tapi kau malah—”

“—Apa kau masih akan berdiri di sisiku?” aku tersentak saat Baekhyun memotong ucapanku. Ia kini melangkah mendekat sementara aku masih bergeming.

Ugh, aku tahu dia pasti berencana untuk menyerangku lagi.” Wendy berucap. Sekon kemudian kudengar Wendy melangkah pergi, begitu cepat sampai aku bahkan tidak sadar jika Baekhyun sudah berdiri di hadapanku, sangat dekat hingga kupikir ia telah keluar dari Witch’s Area.

“Bagaimana kau bisa berubah seperti ini?” tanyaku saat aku kembali menatap Baekhyun. Ia tidak lagi memamerkan ekspresi dingin seperti tadi, tapi kabut gelap dan sepasang netranya masih dalam keadaan yang sama.

After effect, aku memberitahumu semalam.”

“Tapi kau bahkan tidak kehilangan level satupun.”

After effect ini yang akan melakukannya.”

“Apa maksudnya itu?” aku menatap Baekhyun tidak mengerti sementara ia mengulurkan tangannya padaku.

Beberapa amulet yang dikenakannya di lengan telah berubah juga. Jika kuperhatikan lagi, penampilan Baekhyun telah sepenuhnya berubah. Ia memang masih mengenakan semua perlengkapan berwarna gelap, tapi ia punya aura mengerikan yang terlihat mengancam sekarang.

“Kenapa? Sekarang kau sadar kalau aku benar-benar telah berubah menjadi seorang monster karena turbulence semalam?” tanya Baekhyun saat aku tidak kunjung meraih uluran tangannya.

Ia tidak ingin bicara dalam batasan seperti ini. Melihat keadaan Baekhyun sekarang, aku tersadar jika ia berubah menjadi seperti ini karena kekalahan yang ia dapatkan. Bisa kusimpulkan kalau Baekhyun juga tahu hal seperti ini akan terjadi, itulah sebabnya ia bertanya padaku kemarin.

Untuk memastikan jika aku akan tetap memandangnya dengan cara yang sama meski ia berubah menjadi seseorang yang lebih mengerikan. Meski sekarang, kupikir aku tengah berhadapan dengan Baekhyun yang berbeda, tapi aku tahu ia masih menganggapku sama.

Baekhyun juga seorang player, walau ia telah membuat sebuah dinding pelindung yang membuatnya tidak tersentuh, suatu hari ia juga bisa hancur dan dikalahkan. Seperti yang Wendy katakan, ia sekarang hancur.

Kuyakini, Baekhyun pernah mengalami after effect ini sebelumnya, dan aku juga yakin dia bisa menghadapi after effect ini sendirian. Tapi aku memilih untuk berada di dekatnya, bukankah aku tidak seharusnya menciptakan jarak?

Baekhyun masih mengulurkan tangannya padaku, dan aku akhirnya meraih uluran tangan Baekhyun. Perlahan, ia melangkah mundur dan menarikku masuk ke dalam Witch’s Area. Aku tahu satu-satunya cara untuk keluar dari tempat ini adalah dengan logout, dan Baekhyun tampaknya ingin membuatku ada di dekatnya.

“Apa yang—Baekhyun, apa yang kau lakukan?” aku terkesiap saat health barku tiba-tiba saja berkurang hanya karena Baekhyun menyentuhku.

Sontak, aku melepaskan diri darinya, sementara ia kini menatapku dengan kekecewaan yang sarat di sepasang matanya.

“Sudah kukatakan aku berubah menjadi monster bukan?”

Diam-diam, aku menyesali tindakanku barusan. Meski health barku tidak berkurang banyak, tapi sikapku sudah memberi Baekhyun jawaban jika aku enggan untuk ia rugikan.

“Maaf,” akhirnya aku berucap.

Baekhyun tidak menjawabku, ia justru menghela nafas panjang dan akhirnya berbalik, melangkah meninggalkanku.

“Lebih baik aku logout.” ucapnya membuatku sontak mengejarnya, mencekal lengannya meski aku tahu health barku kembali berjalan mundur. Satu menit saja aku menyentuhnya seperti ini, kupastikan aku akan game over tanpa sebab yang jelas.

“Lepaskan, Jiho. Keadaanku hanya akan melukaimu.” Baekhyun berucap, lengannya yang lain bergerak melepaskan cekalanku sementara ia lagi-lagi berbalik, menatapku.

“Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?” tanyaku pada Baekhyun.

“Resiko yang harus aku ambil saat menjadi invisible, kurasa. Sejak aku masuk ke dalam invisible mode, aku akan mengalami after effect seperti ini saat kalah dalam turbulence.

“Semua orang sekarang sudah tahu, jika menyerangku dan mengalahkanku akan menghasilkan keuntungan bagi mereka. Setidaknya, mereka akan naik dua atau tiga level, bahkan bisa empat level, hanya dengan menyerangku dan membuatku game over atau menginjak give up.”

“Lalu kau akan jadi seperti ini?”

“Hmm,” Baekhyun mengangguk, “Di saat aku ada di after effect, aku sadar aku jadi lebih mengerikan daripada sebelumnya. Aku akan berusaha membunuh semua player yang ada di dekatku untuk mengurangi after effectnya, tapi di saat yang sama health barku akan dengan mudah dihancurkan.”

“Ah…” aku mendesah pelan saat mendengar penjelasan Baekhyun.

Benar, bukan? Ia sudah pernah mengalami after effect sebelumnya, itulah mengapa ia paham benar tentang apa yang harus ia lakukan.

“Dan bagaimana caranya menghilangkan after effect ini?”

“Seratus level.”

“Apa?”

Baekhyun tersenyum kecut. “Dalam satu minggu aku harus mendapatkan seratus level dari player lain.” jelasnya membuatku menyernyit bingung.

“Bagaimana caranya kau mendapatkan—ah, apa maksudmu, dalam seminggu kau harus menyerang player lain dan membuat mereka kehilangan beberapa level, lalu jika dijumlah, semua level yang hilang itu harus berjumlah seratus, begitu?”

Anggukan pelan Baekhyun berikan sebagai jawaban.

“Ya, seperti itu. jika aku tidak berhasil, aku harus mengulang dari awal di pekan selanjutnya, dan begitu seterusnya.”

“Tapi bukankah sekarang akhir pekan? Bagaimana kau bisa mendapatkan seratus level itu dalam beberapa hari yang tersisa?”

Baekhyun kini menatapku. “Kau bicara seolah mendukungku untuk menghancurkan level milik player lain.” ucapnya membuatku terkekeh.

Bisa dibilang, aku sekarang mendukungnya. Ia bisa menantang player-player tersebut dalam battle, untuk mendapatkan satu atau dua level. Tapi tetap saja, ia harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mendapatkan seratus level tersebut.

“Aku memilih untuk ada di sini dan menemanimu daripada berpesta dengan mereka yang semalam mengalahkanmu. Apa aku masih tidak terlihat mendukungmu?” pertanyaanku berhasil membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Berbahaya untukmu, Jiho. Dalam keadaan seperti ini aku mungkin bisa menyerangmu juga.” ucapnya.

“Benarkah?”

“Hmm, sudah kukatakan, aku seperti seorang monster sekarang. Menyerang player lain adalah sebuah keharusan, naluri yang tanpa sadar akan ada saat aku berada dalam after effect. Aku tidak ingin menyerangmu, kau satu-satunya yang berdiri di sisiku sekarang.”

Aku terdiam. Membayangkan Baekhyun selama bertahun-tahun menjalani permainan ini sendirian sekarang membuatku mengerti jika ia tidak mudah percaya pada orang lain. Mempercayaiku, baginya adalah sebuah pilihan. Meski aku terperangkap dalam jebakan mematikan yang ia ciptakan, tapi sesungguhnya Baekhyun juga takut jika aku lolos dari perangkap itu.

Ia mungkin tidak tahu, jika aku telah dengan senang hati membiarkan diriku berlari-lari di dalam perangkapnya. Aku tidak tahu separah apa keadaan Baekhyun semalam sampai-sampai ia harus mengalami after effect seperti ini. Tapi yang jelas, sekarang semua player memburunya.

Semua orang tahu jika mengalahkan Baekhyun akan membuat mereka naik beberapa level dan tentu saja, tiap player akan berusaha menyerang Baekhyun. Bagaimana jika mereka tiba-tiba saja menyerang Baekhyun secara bersamaan lagi?

Ah, benar!

“Baekhyun, bagaimana jika player lain berencana untuk menyerangmu lagi?” tanyaku membuat Baekhyun menyernyit.

“Kupikir aku tidak dalam situasi yang baik untuk menghadapi mereka. Tubuhku mungkin akan bergerak menyerang membabi-buta hanya untuk membunuh, bukannya berpikir untuk menyerang mereka secara bersamaan.”

“Tapi itu adalah kesempatan yang baik untuk mendapatkan seratus level yang kau butuhkan.” ucapku.

Baekhyun terdiam sejenak.

“Memang benar, tapi terlalu beresiko. Aku mungkin akan menyerang player lain yang tidak terlibat dalam penyerangan itu, Jiho.”

“Aku akan membantumu.”

“Dengan membuat semua orang tahu jika kau ada kaitannya denganku?” Baekhyun memamerkan senyum meledek sekarang, padaku.

Tentu ini adalah jawaban dari pertanyaan retoris yang kemarin ia utarakan padaku. Aku tidak ingin orang-orang tahu tentang keterlibatanku dengan Baekhyun. Tapi ia sekarang membutuhkan bantuan.

“Pasti ada cara yang sama-sama menguntungkan kita.” akhirnya aku berkata.

Baekhyun hanya menjawab dengan sebuah helaan nafas.

“Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri, tenang saja. Sudah dua, atau tiga kali, entahlah, kupikir aku sering mendapat after effect.” ucap Baekhyun membuatku menyernyit bingung.

“Kupikir kau tidak pernah dikalahkan.” tuturku.

“Memang tidak dikalahkan, tapi dibuat dalam keadaan kritis.” jawabnya.

“Lalu apa bedanya, kau tetap saja dikalahkan.”

Baekhyun tidak menjawab, ia malah mengedarkan pandang sebelum akhirnya kembali menatapku dengan pandang menantang.

“Apa kau menantangku untuk mengambil beberapa level darimu?”

Hey! Apa yang sedang kau pikirkan? Aku di sini untuk menolongmu.” ucapku, melangkah menjauh dari Baekhyun saat kurasakan aura mengerikan miliknya kembali mendominasi.

Kekehan pelan akhirnya lolos dari bibir Baekhyun, ia baru saja akan melangkah pergi saat ekspresinya tiba-tiba saja berubah serius.

“Jiho.”

“Apa? Kenapa tiba-tiba kau berubah serius?” tanyaku.

“Cosmic Rings yang kuberikan padamu, apa kau masih menyimpannya?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Tarik nafas-hembuskan-tarik nafas-hembuskan. Biarkan aku menetralkan batin dulu, soalnya Baekhyun dalam versi ‘gelap’ ini kenapa di imajinasiku justru keliatan semakin vangsat dan sarangable banget… kenapa cabe… kenapa… kamu itu cuma cabe melambai di eksoh tapi kenapa diriku begitu gampangnya senyum-senyum enggak jelas karena imajinasi berisikan dirimu… /ini fangirl alay abal-abal mode on/ /nangis dipojokan/

DAN YHA, DIRIKU SENENG KARENA LAGI-LAGI ENGGAK BUAT GLOSSARIUM, LOLOLOL. Nanti deh glossariumnya dijelasin secara pribadi sama Baekhyun, dan kawan-kawannya dari Game Over (eh tapi temennya Baekhyun cuma Jiho, ya) yah intinya dijelasin sama anak-anak Game Over deh, nanti, setelah level 10 kukasih bonus dikit, insya Allah, do’akan aja aku enggak lupa bikin part bonus itu /kemudian ditendang minggu depan kalo lupa/ /nangis part 2 dipojokan/

Btw, akhir-akhir ini diriku lagi jatuh cinta sama genre crime-mystery-thriller (plis, Rish, thriller udah jadi bagian dari idup yang sama mendarah dagingnya kayak fantasy sama sci-fi) dan ya… banyak storyline muncul diotak, pindah ke microsoft word dan pindah ke corat-coretan tangan dengan genre begitu (dan sedihnya, meja belajar yang separoan sama si adek justru enggak dipenuhi buku-buku berfaedah, malah dipenuhi ordner berisikan storyline yang disusun rapi selayaknya buku berfaedah, LOL).

Sedikit kepikiran karena Game Over udah nyampe tengah-tengah dan takutnya terkontaminasi sama dua—eh tiga genre itu sih, tapi semoga aja enggak keracunan, LOLOLOL :v /pamer dong kalo Game Overnya udah diedit-edit sampe duapuluhan, yang amburadul sih udah lengkap, amburadul, banget, sampe enggak layak baca/.

Nah, ini ocehan udah mulai berubah jadi ficlet, jadi harus segera disudahin aja. BTW, BTW, SPOILER DIKIT DONG KALO MINGGU DEPAN JIHO BAKAL MULAI BAPER, BUAKAKAKAKAKAKAKAK. KUBAHAGIA TIAP NGETIK PART 10 DAN KELIPATANNYA.

Oke, sekian dariku, selamat berlibur di hari minggu dan siap-siap menyambut Senin yang masih beraura libur (buat yang sekolah, ya, yang udah kerja de el el mah derita hari Senin itu). Salam kecup, Irish.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Iklan

12 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH

  1. Samaan dong kak.. Diriku juga gak berhenti senyum2 sendiri baca chap ini.. Sumpah deh kak Rish.. Ane sukaaaaaaa bangetttttttt ama ni ff.. Pokoknya lanjut terus deh kakkkkkkkk

  2. Ahahaha jiho mah bapernya udah keliatan dari part sebelumnya
    Apa karna baekhyunnya yg ngebawa bawa baper? Eeh itu si baper siapa? Temennya kamu rish?
    Iih jadi melantur
    Yesungdahlah aye tunggu lanjutannya minggu depaaaaan
    Mangat riiiisssh

  3. Pendek banget ff nya… Agak bingung juga sama apa yang di bahas sama mereka jadi harus berulang di baca baru ngerti wkwkwk.. Fighting lanjut author-nim ^^ di tunggu secepatnya update ff ini hehe..

  4. Yaallah kak kenapa tbc gasesuai tempat sih, aku sampe tereak-tereak gajelas karena harus nunggu lanjutannya 😦 ITU, ITU BEKYUN PASTI NGAJAKIN JIHO BUAT JADI PARTNER KAN YEKAN? KALO ENGGA, YAMASA BEKYUN NANYAIN COSMIC RINGS-NYA MASI ADA APA ENGGA. BURUAN KAK DI UPDATE BURUAN.
    BTW, tadi waktu aku buka email buat liat update-an Game Over masih belum ada. Lah, terus aku buka EXO FFI, eh kan kampret ya ternyata Game Over part 9-nya udah nongol T.T
    Tolong kak, siap-siap aja ini kolom komentar bakal aku jadiin tempat curhat gegara ini epep :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s