Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran

rooftopromancehappy

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life? Work Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | Chapter 29 |Chapter 30 |Chapter 31 |Chapter 32 |[NOW] Chapter 33

Video Trailer

 

 

“Father in Law.”

 

 

-Chapter 33-

In Author’s Eyes

Sudah seminggu lebih Wendy rutin datang ke rumah sakit. Hari ini Taeil yang sudah tiba di Korea pun turut menemani gadis itu untuk datang berkunjung ke rumah sakit. Dan dalam keadaan seminggu itu, Son Jung Hwan—ayah Wendy—masih dalam keadaan koma.

“Kau sudah membicarakannya lagi dengan Proffesor Peter? Ku dengar Tuan Son masih belum menunjukkan perkembangan sama sekali.” Ucapan Taeil yang tengah menyetir mobil itu merusak fokus Wendy yang tengah mengecek e-mail laporan proyek di ipad-nya. Gadis itu berdecak, lalu menatap Taeil dengan pandangan setengah marah.

“Proffesor Peter? Come on Taeil, kau benar-benar mau menyembunyikannya sampai sekarang?” sarkas gadis itu sambil menutup i-padnya dengan cukup kasar dan meletakkan benda elektronik itu begitu saja ke atas dashboard mobil.

“Jangan memngalihkan pembicaraan, Nona Son.”

“Justru kau yang membuatku harus mengalihkan pembicaraan Sekretaris Moon.”

Taeil menghela nafasnya pelan, lalu perlahan ia menurunkan kecepatan mobil Wendy yang tengah ia bawa sekarang. Dengan masih fokus ke arah jalan raya, Taeil kembali membuka suaranya untuk mendebat CEO muda itu.

“Aku berbicara seperti ini karena para pemegang saham semakin tidak karuan di Amerika sana. Mereka mulai mempertanyakan keberadaan Tuan Son.”

“Bilang kalau ayahku sedang liburan berkeliling kutub utara.”

“Mereka tidak percaya lagi, Son Wendy. Tolong mengertilah posisiku ketika menggantikanmu mengurus semuanya selama seminggu kau berada di Korea. Para orang tua itu benar-benar menyebalkan.” Decak Taeil yang hanya dibalas Wendy dengan senyum kecut. Gadis itu menatap keluar kaca mobil, “Aku percaya kepada Chanyeol,” katanya dengan yakin.

Wendy menunggu reaksi Taeil. Tapi sudah hampir semenit namun sekretarisnya itu masih belum juga membuka suara. Malah Taeil sekarang hanya memasang wajah datar sambil menatap fokus ke jalan raya. Akhirnya Wendy memangku tangannya di depan dada, dia sudah terlalu lelah untuk mengulur-ulur waktu seperti ini. Rasa penasarannya harus segera tuntas.

“Kenapa kau diam? Kau pikir aku tidak tau kalau Proffesor Peter itu Chanyeol sunbae?”

Taeil masih diam, tidak menunjukkan reaksi apapun selain sebuah gumaman ‘oh’ panjang.

“Taeil, kau sebenarnya sudah tau sejak lama kan kalau Chanyeol itu hidup dan bahkan dia menjadi dokter ayahku, aren’t you? Kenapa kau tidak memberitahuku sama sekali? Ah, atau kau malah menikmati masa ketika aku duduk terpuruk karena berpikir dia mati, iya kan?!”

Tidak ada jawaban dan itu makin membuat kekesalan Wendy naik drastis.

“Moon Taeil, jawab aku!”

“Aku sudah ingin memberitahumu, tapi aku tidak bisa. Ini bukan wewenangku, Nona, tolong mengerti posisiku.”

Wendy mengacak rambutnya kasar usai mendengar satu kalimat panjang yang meluncur mulus dari mulut sekretaris sekaligus sahabatnya itu.

“Kau bisa memberitahuku sebagai Taeil sahabatku, kan? Kau bisa memberitaku sebagai seorang teman secara diam-diam dan bukan sebagai Moon Taeil orang yang bekerja untuk ayahku.”

“Tapi dua-duanya tetap aku kan? Aku tidak bisa. Sudah ku bilang tolong mengerti, Nona.”

“Brengsek!” umpat Wendy tanpa sadar ketika mendengar jawaban Taeil yang membuatnya super gondok itu. Mata Wendy pun langsung melebar ketika menemukan Taeil malah mengulum senyumya.

“Kau menertawaiku?” sinis Wendy kemudian, dan Taeil hanya langsung menggeleng.

“Entahlah, hanya saja aku menebak kau akan berterimakasih karena aku sudah menyembunyikan kebenaran ini selama sebelas tahun terakhir.”

Wendy menatap penasaran ke arah Taeil yang kini tersenyum penuh arti. “Tanya pada Chanyeol, dia yang punya wewenang penuh untuk memberitahumu semua kebenaran karena Tuan Son yang memiliki perjanjian dengannya.”

“Apa maksudmu?”

Bukannya menjawab, Taeil malah membuka sabuk pengamannya dan menatap Wendy sambil tersenyum tipis. “Kita sudah sampai di rumah sakit, Nona.”

“Moon Taeil!”

Namun naas, sekeras apapun Wendy berteriak Taeil malah sudah berjalan memasuki rumah sakit dan meninggalkan Wendy di parkiran. Gadis itu mencak-mencak sendiri. Rasanya dia ingin mengancam Taeil akan memecat lelaki itu jika tidak memberitahu kebenarannya sekarang, tapi Wendy sadar kalau Taeil tidak akan buka mulut meski dia memecatnya. Dan Wendy pun tidak mungkin tega memecat seorang Moon Taeil.

Tsk, awas saja si sialan itu!” umpat Wendy kemudian sambil berjalan menghentak-hentak ke dalam rumah sakit.

●﹏●

“Sepertinya kau harus memberitahunya.”

Seorang jangkung berpakaian dokter yang tengah memeriksa pasien itu segera berbalik dan menatap tamu tak diundang yang masuk ke kamar VVIP itu dengan berkacak pinggang.

“Kita baru bertemu lagi sekian tahun dan kau hanya main masuk saja? Tunggu, kau bahkan tidak mengucap salam, tidak menanyakan kabarku dan lain-lain tapi langsung saja bicara dengan aneh, Tuan Moon. Kau pikir aku ini siapa, hah?” sarkasnya sambil meletakkan sebuah papan yang dia gunakan sebagai alas untuk menulis sejak tadi. Taeil berdecak, lalu memperhatikan Chanyeol secara teliti dari ujung rambut hingga ujung sepatu putih yang tengah dikenakan lelaki Park itu hari ini.

“Untuk apa menanyakan kabarmu, hyung? Setiap malam kita bahkan bertelfonan sampai-sampai aku jenuh. Heol. Pacarku di Amerika sana bahkan berpikir aku punya kekasih lain karena aku selalu mengangkat telfonmu dan bicara lama sekali ketika kami tengah berkencan.”

Chanyeol terkekeh, tapi Taeil masih saja melanjutkan kalimatnya.

Kau siapa? Ah, kau itu orang yang tiap malam mengirimiku pesan perintah untuk menceritakan apa saja yang Nona Wendy lakukan hari ini dan bahkan dengan sialannya menghubungiku tengah malam hanya untuk menanyakan Wendy sudah tidur apa belum.”

Ya! Tidak usah serinci itu juga, sialan.” Gemas Chanyeol sambil menghampiri Taeil yang tengah duduk di sofa itu.

Hm, tidak sampai disitu. Kau juga orang yang memperkerjakanku sebagai paparazzi gratis tanpa bayaran setiap hari agar kau bisa mendapat foto terbaru Wendy.”

“Taeil-ah…,”

“Tunggu, aku belum selesai berbicara. Ah, benar juga. Karena ada banyak sekali foto Wendy di ponselku, pacarku bahkan berpikir kalau aku menyukai Nona Son,” lanjut Taeil masih menggerutu.

Tsk, kau pikir memangnya siapa yang membuatmu pacaran dengan kekasihmu itu, eoh? Aku yang mengenalkannya padamu dan aku juga yang menjadi mak comblang kalian berdua. Jangan berlagak, Taeil-ah.” Kali ini Chanyeol yang tidak mau kalah. Taeil menatap lelaki yang lebih tua darinya itu sambil mencebik bibir, namun akhirnya tawa keduanya pun lepas beberapa detik kemudian.

“Dasar hyung brengsek,” ucap Taeil di tengah tawanya dengan nada bercanda.

“Yah, aku tau. Maafkan aku membuatmu kesulitan selama beberapa tahun ini karena harus menjadi mata dan telinga rahasiaku Taeil.”

“Mata dan telinga apa?”

Kedua lelaki itu segera menatap horror ke arah pintu ruangan dimana sosok mungil Wendy yang menggunakan kemeja biru muda dan rok span selutut berwarna hitam itu tengah berdiri sambil menatap keduanya dengan bingung.

“Kenapa diam?” tanya gadis itu lagi kemudian sambil menutup pintu dan mendekati sofa putih tempat Chanyeol dan Taeil duduk.

“Itu, mata dan telinga pasien Son jung Hwan bisa mengalami efek samping jika operasinya dilakukan ketika pasien masih dalam keadaan koma,” ucap Chanyeol kemudian dengan yakin dan tersenyum lebar. Lelaki itu menepuk paha Taeil dan menatap Taeil dengan pandangan meminta bantuan. “Benar kan Moon Taeil?”

“Ah, iya, benar hyung.”

Wendy hanya mengangguk-angguk paham dengan penjelasan kedua pemuda itu. Wendy ingin berbalik untuk mendekati ranjang persakitan ayahnya, tapi langkah gadis itu seketika berhenti ketika mengingat sesuatu yang janggal. Wendy menatap Taeil dengan tatapan memicing. “Hyung?” ulangnya sekali lagi dengan penekanan penuh akan sebutan yang diberikan sekretarisnya itu kepada Chanyeol beberapa detik lalu.

“Aku tidak tau kalau kau dan sunbae cukup dekat sehingga kau bisa memanggilnya hyung dengan sangat akrab. Oh, dan tadi kalian juga saling tepuk paha dan astaga, kenapa kalian duduk sedekat itu?” cerca Wendy kemudian yang membuat keringat seukuran jagung jatuh menetes dari pelipis Taeil. Tentu saja pemuda bermarga Moon itu gugup karena Wendy mengintrogasinya sekarang ini.

“Oh, benar juga. Kalian berdua main di belakangku, benar kan? Aku pernah berpikir kalau Chanyeol sunbae itu sudah mati tapi kau tau kalau Chanyeol sunbae masih hidup dan bahkan menjadi dokter yang menangani ayahku. Moon Taeil, bisa kau jelaskan itu semua sebelum aku berubah pikiran dan memilih mengetik surat pemecatanmu sekarang juga?” alih-alih menunggu Taeil menjawab, Wendy sudah dulu memotong dengan berbagai hipotesisnya yang mungkin menjadi alasan kedekatan kedua pria dewasa di depannya.

“Nona Wendy, bukan begitu. Ah, harusnya kau menanyakannya saja pada hyung sialan ini daripada kau mengintrogasi dan mengancam akan memecatku.”

Mwo?!” gugup Chanyeol tiba-tiba sambil menatap tajam Taeil yang melimpahkan semua kesalahan padanya. Taeil tidak menjawab, dia hanya memadang Chanyeol seakan berkata aku tidak bisa melindungimu selamanya, hyung.

“Chanyeol sunbae?” kali ini giliran Chanyeol yang mengeluarkan keringat sebutiran biji jagung. Berusaha tenang, Chanyeol pun mulai memasang senyum manisnya.

“Aku tidak tau kalau kau berpikir selama ini aku sudah mati, Wendy.” Jawabnya dengan yakin, masih seratus persen berbohong.

“Tapi sunbae, apa Taeil tidak pernah cerita kalau—”

“—Jari-jarinya bergerak.” Ucapan Wendy segera terhenti ketika satu buah kalimat meluncur cepat dari bibir tebal Chanyeol. Taeil pun kini menatap seorang yang terbaring di ranjang rumah sakit itu dengan tatapan tidak percaya. Tidak tinggal diam, Chanyeol segera bangkit berdiri dan mulai menuju ke arah ranjang pasien koma itu.

“Pasien Son, anda bisa mendengarku?” ucapnya cepat sambil mengeluarkan senter kecil dari saku jas dokternya, dan mulai mengarahkan sumber cahaya itu ke pupil mata pasien yang terbujur kaku di atas ranjang. Wendy bahkan hampir jatuh terduduk karena kaget jika saja Taeil tidak menahan tubuh gadis itu agar tetap berdiri.

“Ba-bagaimana?” tanya gadis itu gugup sambil berjalan terseok-seok ke arah ranjang ayahnya dengan bantuan Taeil. Chanyeol berbalik dan langsung menunjukkan ekpresi yang tidak bisa ditebak oleh gadis itu sama sekali. Pupil Chanyeol memerah dan lelaki Park itu seperti hampir menangis.

“Dia…dia sudah bangun dari koma, Wendy.”

Dan detik itu juga tangis Wendy pecah. Gadis itu segera menyingkirkan tangan Taeil dari atas bahunya dan segera berlari ke arah ayahnya yang kini menatap sang putri dengan susah payah karena pengaruh tubuh yang kaku selepas koma selama beberapa bulan.

Titttt…….

Chanyeol menekan bel merah di ruangan itu dan segera menghubungi suster, “Masuk ke ruangan VVIP dan bawa peralatanku. Pasien Son sudah sadar dari koma,” perintahnya dengan tegas.

●﹏●

“Ba-bagaimana keadaan appasunbae?” tanya Wendy yang tengah memegangi jemari rapuh ayahnya setelah Chanyeol selesai memeriksa sang ayah yang kini tersenyum tipis pada putri semata wayangnya itu. Chanyeol tersenyum, lalu segera memberikan sapu tangannya kepada Wendy.

“Hapus air matamu, Tuan Son akan baik-baik saja, Wendy.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum hangat dan membungkuk sebentar ke arah pasien yang kini menatapnya—membungkuk hormat kepada Tuan Son.

“Suster, tolong buat laporan dan minta diadakan rapat sesegera mungkin. Hubungi Proffesor Jang dan laporkan kalau pasien sudah sadar.”

Dua orang suster itu menganguk dan segera pergi dari ruangan untuk menjalan perintah dari Chanyeol. Proffesor ahli itu kemudian menatap Taeil yang kini nampak lega bukan main. “Taeil-ah, hubungi Kim Jinwoo serta Nyonya Kim istri Tuan Son dan beritahu kalau pasien sudah sadar dari koma. Bilang kalau mungkin operasi beliau akan dilaksanakan besok dan selambat-lambatnya lusa.” Sama dengan kedua suster tadi, Taeil pun menganggguk dan segera ijin keluar ruangan untuk menghubungi kedua orang sanak keluarga yang dimaksud Chanyeol.

Setelah hanya bersisa mereka bertiga di dalam ruangan mewah serba putih itu—Chanyeol, Wendy, dan Son Jung Hwan—sang proffesor segera mendekat dan membungkuk hormat ke arah pasien yang baru sadar dari koma itu.

“Saya akan membicarakan keadaan anda dengan beberapa proffesor lainnya hari ini. Tenang saja, mungkin besok semua alat bantu anda bisa dilepas dan kita bisa melaksanakan operasi seperti yang dulu sudah pernah kita rencakan ketika masih di John Hopkins.” Ucapnya dengan tenang, pelan dan perlahan, seperti mengerti kalau Tuan Son baru saja bangun dari keadaan tidur panjangnya itu.

Chanyeol lantas menatap Wendy yang kini masih menangis sambil memegangi tangan sang ayah yang semakin kurus. “Kau bisa mengajak bicara beliau, tapi tolong jangan paksa beliau untuk membicarakan hal-hal berat. Hal itu akan mempengaruhi kondisi psikis dan kesehatan beliau sendiri, Son Wendy.” Lanjut Chanyeol kemudian dengan sangat formal. Wendy hanya mengangguk sebentar sambil menyeka air mata.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan.” Pamit Chanyeol kemudian sambil membungkuk hormat untuk kesekian kalinya.

“Pa..Park…Chan..Yeol…,”

Langkah Chanyeol seketika berhenti ketika pria yang terbaring di atas kasur itu memanggil namanya dengan terbata-bata. “Ya, ada yang bisa saya bantu, Tuan Son?” tanyanya kemudian dengan sopan.

“Te..terima…ka..sih…,”

Chanyeol hanya tersenyum tipis. “Sudah tugas saya, Tuan.” Ucapnya lalu segera keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan sangat pelan.

●﹏●

“Kalian bisa melihat sendiri, tumor milik pasien Son berada di jalur yang sangat sulit dijangkau dan rentan bahaya karena sangat dekat dengan syaraf.” Ucap Chanyeol kepada sekitar 20 orang proffesor di ruangan rapat khusus itu sambil menunjuk ke arah layar lebar yang kini menunjukkan hasil scan organ otak milik Son Jung Hwan.

“Karena inilah saya menunda melakukan operasi kepada beliau selama beberapa bulan terakhir ini karena membandingkan kondisi koma yang dihadapi pasien yang pastinya sangat menimbulkan efek samping negatif selepas operasi nanti.” Lanjut Chanyeol kemudian dengan sangat yakin.

“Jadi, sekarang anda sangat yakin untuk mengoperasi pasien, Proffesor Peter?” Chanyeol tersenyum tipis ketika mendengar pertanyaan sederhana milik salah satu rekan proffesornya itu.

“Tentu saja. Saya sudah menunggu sangat lama dan menerima tekanan dari anda semua, jadi bukankah ini kesempatan emas untuk melakukan operasi karena pasien baru saja sadar dari koma?” sinis Chanyeol karena beberapa proffesor berumur cukup lanjut disana seringkali menyindirnya yang seperti menunda operasi.

“Lalu bagaimana dengan besarnya tumor? Anda sudah memperkirakan itu semua, Proffesor?” Chanyeol hanya balas tersenyum lagi. “Tentu saja tumornya membesar, tapi saya optimis saya masih bisa menangani pasien dalam operasi ini. Saya sangat yakin pasien bisa sembuh seperti keinginan anda semua.”

“Baiklah, kalau begitu kapan kau akan melaksanakan operasi untuk beliau?”

Chanyeol menghela nafasnya. “Saya akan memeriksa keadaan terkini beliau sekali lagi besok pagi, dan jika hasilnya prima dan memungkinkan, saya akan melakukan operasi pada malam harinya.”

“Baiklah, kalau begitu kami mempercayakan pasien VVIP ini pada anda, Proffesor Peter. Kami tidak ingin hasil yang mengecewakan dari proffesor muda berbakat seperti anda.”

“Tentu saja anda semua akan menerima kabar baik, proffesor.” ucap Chanyeol mengakhiri rapat itu dengan percaya diri.

●﹏●

“Taeil, kau di sini?” kaget Chanyeol ketika dia memasuki ruangannya sudah ada Taeil yang duduk si sofa hitam miliknya sambil menyesap kopi.

“Bagaimana? Kapan operasinya akan dilaksanakan, hyung?” tanya Taeil dengan penasaran. Chanyeol melepas jas dokternya, lalu duduk di sebelah pemuda bermarga Moon itu.

“Besok akan dilaksanakan check up keseluruhan kondisi terkini Tuan Son, dan jika semuanya prima, aku akan mengoperasi Tuan Son besok malam.”

Taeil menghela nafasnya kasar ketika mendengar jawaban santai dari pemuda bermarga Park itu. “Kau benar-benar serius ingin menjadi orang yang mengoperasi Tuan Son?”

“Tentu saja. Kalau bukan aku memangnya siapa lagi? Mentorku Proffesor David di John Hopkins bahkan sudah mempercayaiku bisa menangani Tuan Son.”

Chanyeol diam sebentar, lalu menatap Taeil lagi dengan tatapan memicing.

“Kenapa? Kau meragukanku?” selidiknya sambil tersenyum jenaka.

“Bukan begitu hyung. Aku tidak meragukan kemampuanmu, hanya saja aku takut sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi. Kau sendiri tidak bisa menyakini operasi ini akan berjalan lancar seratus persen kan? Bahkan aku mendengar kalau sebenarnya peluang berhasilnya operasi ini ada di bawah lima puluh persen sehingg aku harus berbohong kepada Wendy agar dia tidak khawatir.”

Chanyeol diam, tidak menjawab sama sekali pertanyaan yang ditujukan Taeil kepadanya.

Hyung, aku tau bagaimana sifatmu. Aku tau kalau sesuatu yang buruk terjadi di ruang operasi kau akan menyalahkan dirimu sendiri dan tidak mungkin berani bertatap muka lagi dengan Wendy. Aku tau dan aku tidak ingin itu terjadi, hyung. Aku sudah menjadi saksi kisahmu selama sebelas tahun ini dan aku tidak bisa membayangkan sama sekali jika itu benar-benar terjadi, hyung.”

Chanyeol tertawa kecil. “Terima kasih sudah menjaga rahasia ini selama sebelas tahun Taeil-ah. Aku tau ini pasti sulit, terima kasih banyak.”

Hyung!”

“Tapi aku tidak akan mundur. Apa pun yang terjadi aku akan tetap mengoperasi Tuan Son dengan semua kemampuan yang aku miliki. Justru ini adalah masa yang sudah aku tunggu sejak dulu.”

Taeil balik menatap Chanyeol yang kini menatapnya dengan tatapan sangat yakin, lalu menghela nafasnya kasar.

“Aku akan menyelamatkan Tuan Son, lalu mengakui semua yang terjadi selama sebelas tahun ini kepada Wendy.” Putus Chanyeol sambil tersenyum tipis. “Jadi tolong dukung aku, Taeil-ah.”

●﹏●

Appagwenchana?” tanya Wendy pelan sambil terus mengusap jemari-jemari ayahnya yang sudah seperti mayat hidup. Hanya seperti tulang yang berlapis kulit, dan itu membuat hati Wendy sedikit ngilu.

Gwengwenchana, ma..maaf…kalau…appa…mem…membuatmu…kha…khawatir…,”

Tangis Wendy kembali pecah ketika mendengar suara lemah sang ayah. Gadis itu mengelus rambut ayahya yang kian memutih sambil menggeleng pelan. “Tidak, appa harus baik-baik saja sehingga aku tidak khawatir,” jelasnya yang membuat senyum tipis sang ayah mengembang sempurna.

“Maaf…maafkan..apppa…sayang. Appa…su…sudah…mem…membuat…mu…men..derita…selama..sebe..las….ta..tahun…ini…,”

Wendy menggeleng pelan. “Gwenchana appagwenchana.”

Bohong, Wendy berbohong. Sebenarnya ada bertubi-tubi pertanyaan yang ingin gadis itu tanyakan pada sang ayah, tapi mengingat keadaan ayahnya yang sekarang Wendy tidak tega. Wendy mengingat apa yang tadi diucapkan Chanyeol padanya, jangan memaksa membicarakan hal-hal berat yang bisa mempengaruhi kondisi psikis pasien.

“Kau…kau…bo..hong…pa..da…a..appa…,”

Wendy tersenyum pahit. Ya, dia memang berbohong.

“Ma…maaf..kan..a..appa…Wen…Wendy…,” ucap Tuan Son lagi dengan terbata, dan tanpa sadar kini tangis pria tua itu meleleh.

●﹏●

“Apapun yang terjadi, jangan salahkan Chanyeol. Ini semua salah appa. Dia lelaki yang baik.”

“Suster, bisa saya tau dimana keberadaan Proffesor Peter?” tanya Wendy kepada seorang suster jaga karena dia tidak bisa menemukan Chanyeol di ruangan lelaki itu. Tidak, Wendy tidak bisa menemukan Chanyeol dimana pun juga di rumah sakit itu. Tidak hanya itu, Chanyeol juga tidak bisa dihubungi.

“Maaf Nona, tapi sepertinya Proffesor Peter sudah pulang ke rumahnya. Hari ini Proffesor sudah tidak punya jadwal lagi dan biasanya jika Proffesor tidak ada di ruangannya dia sudah pulang ke apartemen.”

Wendy menghela nafasnya pelan. Sudah kuduga, batinnya.

“Kalau begitu, bisa saya minta alamat rumah Proffesor Peter?” Suster itu nampak kaget dengan pertanyaan gadis mungil di depannya. “Ma-maaf Nona, tapi saya—”

“Jangan bilang tidak tau karena pasti alamat dokter itu ada di data server kalian.” Sarkas Wendy sambil menatap tajam sang suster yang kini hanya bisa menunduk dalam-dalam, takut kepada Wendy yang gosipnya sudah menyebar di seisi rumah sakit kalau gadis itu adalah chaebol dari para chaebol yang punya kekuasaan melimpah.

“Han Ga Eun-ssi? Bisa saya minta alamat dokter yang bertanggung jawab atas ayah saya, Son Jung Hwan?” lanjut Wendy lagi sambil membaca name tag suster yang kini tengah bimbang itu.

●﹏●

Ting tong!

Wendy menatap pintu di depannya dengan kesal. Sudah puluhan kali dia menekan bel, tapi belum ada juga tanda dari sang pemilik apartemen akan membukakan pintu untuknya.

“Chanyeol sunbae, aku tau kau ada di dalam!” pekik Wendy sambil tetap menekan bel hingga membabi buta dan kini bahkan gadis itu sudah mengetok pintu begitu keras seperti orang gila. Untung saja Chanyeol tinggal di apartemen elit yang hanya berisi satu apartemen di tiap lantainya, kalau tidak Wendy mungkin sudah kena umpat sana sini oleh tetangga Chanyeol karena berteriak-teriak di malam hari.

“Chanyeol sunbae, keluarlah!”

“Aku akan menunggu di sini sampai kau membukakan pintu!”

“Aku tau kau ada di rumah, Chanyeol!”

“Ada yang harus kubicarakan denganmu malam ini juga!”

Sunbae!”

“Wendy?” ketokan kasar Wendy segera berhenti ketika sebuah suara lelaki mampir di telinganya. Bukan, bukan suara Chanyeol karena Wendy tau benar bagaimana suara lelaki pujaan hatinya itu.

“Taeil? Bagaimana bisa kau ada di sini?” cerca Wendy karena sekretarisnya itu sudah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menatap Wendy seakan tidak percaya kalau gadis itu benar-benar nekat datang ke rumah Chanyeol.

“Aku mendengar dari bodyguard kalau kau memaksa seorang suster untuk memberi alamat rumah Chanyeol hyung dan aku berpikir kau pasti sedang berada di rumahnya sekarang.”

Wendy menghela nafasnya lalu memangku tangannya di depan dada. “Lalu? Sekarang cepat bantu aku agar Chanyeol sunbae segera membuka pintu sialan ini, Taeil-ah.”

Taeil nampak menatap Wendy dengan tatapan tidak percaya. “Kau benar Wendy yang ku kenal? Setauku Wendy bukan orang yang tidak sabaran dan suka memaksa seperti ini. Kau bahkan mengancam suster, Wendy.”

Wendy memutar bola matanya jengah. “Kau memang tidak pernah mengenalku, Taeil. Lupakan saja, aku memang bisa menjadi gadis gila jika kondisinya seperti ini. Aku gila karena mendengar jawaban yang aku cari dari appa! Kau tau, aku ingin mendengar kebenaran itu sekarang juga dari mulut Park Chanyeol!”

Taeil menghela nafasnya pelan. “Aku tau Wendy, tapi lupakan niatmu sekarang. Chanyeol perlu fokus untuk operasi ayahmu besok malam. Kau tidak mau kan terjadi sesuatu yang buruk dengan ayahmu di ruang operasi besok?”

“Moon Taeil!”

“Wendy, seperti yang kau bilang, aku memang menjadi dekat dengan Chanyeol hyung selama sebelas tahun terakhir ini dan membohongimu. Aku menyesal sudah membohongimu, tapi karena sebelas tahun itu juga aku menjadi sangat mengenal Chanyeol hyung. Lupakan niatmu sekarang, Chanyeol hyung tidak ada di rumah. Dia selalu menghilang jika ingin melakukan operasi besar, Nona. Dia perlu waktu menyendiri untuk mempelajari dan menyempurnakan operasi besok. Dia selalu menghilang dan tidak pernah ada yang tau kemana dia menghilang sehari sebelum operasi. “

Wendy terdiam mendengar penjelasan Taeil, terlebih ketika Taeil tersenyum dan menariknya untuk pergi dari apartemen Chanyeol. “Jadi, lebih baik kita pulang saja dan menunggu untuk operasi Tuan besok, benar kan? Biarkan Chanyeol hyung untuk fokus satu hari saja.”

●﹏●

“Dia belum datang?” tanya Wendy was-was, dan Taeil hanya menggeleng. Sekarang mereka sudah berada di dalam ruangan VVIP tempat Son Jung Hwan dirawat, begitu juga Nyonya Kim ibu tiri Wendy dan Kim Jinwoo oppa tiri gadis itu yang baru tiba tadi siang.

“Proffesor Jung mengatakan kalau Chanyeol sudah menerima file check up kondisi appa-mu Wendy, tenang saja, dia pasti datang.” Ucap ibu tiri Wendy kemudian sambil menenangkan gadis itu. Ya, Wendy sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa Chanyeol membiarkan Proffeor Jung yang juga proffesor spesialis neurologi untuk melakukan check up scan menyeluruh kepada sang ayah sementara Chanyeol masih menghilang tanpa kabar. Sudah hampir 24 jam dan Wendy tidak tau menahu dimana dan apa yang sedang Chanyeol lakukan sekarang ini.

Tidak, sebenarnya Wendy sedang kesal. Katanya Chanyeol membalas kiriman file dari Proffesor Jung itu dengan ucapan ‘terima kasih’ tapi pesan Wendy yang mungkin jumlahnya sudah mencapai ratusan itu tidak mendapat balasan apapun sama sekali. Oh, jangankan balasan, pesan spam Wendy bahkan tidak di-read sama sekali oleh Chanyeol.

“Permisi, kami akan membawa pasien ke ruang operasi.”

Mata Wendy melebar. “Apa Proffesor Peter sudah datang?” tanyanya pada kumpulan suster dan asisten dokter yang masuk ke dalam ruangan VVIP itu.

Ne, dan Proffesor Peter memerintahkan kami untuk segera membawa pasien ke ruang operasi.”

●﹏●

Appa akan baik-baik saja kan? Iya kan, appa?” kata Wendy sambil menggenggam erat tangan tangan sang ayah sebelum ranjang tempat ayahnya berbaring itu memasuki ruang operasi. Son Jung Hwan mengangguk perlahan sambil tersenyum, dan itu sedikit membuat hati Wendy tenang.

Appa harus baik-baik saja,” pesan Wendy sebelum akhirnya para suster mendorong ranjang rumah sakit itu memasuki ruang operasi.

Wendy, Nyonya Kim, Jinwoo, dan Taeil hanya menunggu dengan harap-harap cemas di bangku luar ruang operasi. Beberapa detik kemudian nampak kumpulan dokter yang berstatus sebagai Proffesor rumah sakit elit itu datang beriringan menuju ruang operasi dan membungkuk serentak ke arah keluarga Son.

“Anda pasti sudah menunggu operasi ini sejak lama, Nyonya Kim. Tenang saja, Proffesor Peter akan melakukan yang terbaik untuk menyelematkan Tuan Son Michael.” Ucap Proffesor Jang sebagai direktur rumah sakit mewakili para dokter itu.

Nyonya Kim hanya tersenyum tipis sambil membalas singkat. “Ne, tolong selamatkan suamiku.” Katanya penuh harap.

“Proffesor Peter? Anda sudah dengar kan? Anda harus menyelamatkan pasien.”

Ne Proff—”

Plakkk!

Semua mata di lorong itu menganga hebat ketika tangan mulus Wendy menampar pipi Chanyeol. Masa bodoh Wendy harus menjinjit bahkan melompat sekali pun demi menampar si jangkung itu, dia hanya ingin memberi pelajaran pada lelaki yang membuatnya khawatir bukan main.

“Kau kemana saja, hah? Kenapa kau selalu membuatku khawatir, brengsek?” umpat Wendy sambil menangis. Chanyeol hanya menunduk, tidak marah sama sekali meski Wendy menamparnya di depan para proffesor rumah sakit atau bahkan di depan keluarga gadis itu.

“Kau menghilang begitu saja dan kau sama sekali tidak memberi kabar. Ku pikir mungkin terjadi sesuatu yang buruk, ku pikir—”

Grep!

Dan para proffesor kembali menganga ketika Chanyeol dengan lancang menarik Wendy dan mengukung tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya.

“Maafkan aku,” bisik Chanyeol sambil membiarkan Wendy menangis di dadanya.

Puk.

“Kau jahat.” Ucap Wendy sambil memukul dada Chanyeol.

Puk.

“Harusnya kau bilang kalau kau punya perjanjian dengan ayahku, hiks.” Ucap gadis itu lagi sambil masih memukuli dada Chanyeol.

“Maafkan aku.” Dan hanya kata maaf yang keluar dari bibir Chanyeol. Wajah lelaki itu bisa dibilang datar, tapi hatinya mungkin sudah terkoyak sejak tadi.

“Kau harus menyelamatkan ayahku agar aku tau apa isi perjanjian kalian.” Lanjut Wendy lagi yang hanya dijawab sebuah gumaman ‘serahkan padaku’ oleh bibir tebal Chanyeol.

Chanyeol melepas pelukannya pada Wendy, lalu mengusap air mata gadis itu sambil tersenyum hangat. “Maafkan aku, Wendy. Dan tenang saja, aku pasti akan menyelamatkan ayahmu.”

Cup~

Dan proffesor serta keluarga Wendy harus menganga untuk kesekian kalinya ketika Chanyeol dengan gerak cepat menempelkan bibirnya di permukaan bibir ranum milik Wendy. Gadis itu awalnya kaget, namun Wendy dengan cepat menutup matanya dan mulai menikmati lumatan-lumatan kecil yang diciptakan Chanyeol. Sungguh, Wendy merindukan bibir manis milik lelaki jangkung itu.

Ciuman kedua insan itu terlepas beberapa detik kemudian. Chanyeol pun dengan cepat mencium pipi kanan dan kiri gadis itu sebelum akhirnya berakhir mengecup kening Wendy cukup lama. Hal yang makin membuat para tetua proffesor rumah sakit tercengang bukan main dengan kedua insan muda di depan mereka.

“Aku akan menyelamatkan ayahmu bagaimana pun caranya Wendy. Jadi jangan khawatir dan tunggu saja dengan tenang.”

Selesai mengucapkan itu, Chanyeol pun melangkahkan kakinya dengan mantap ke dalam ruangan operasi, meninggalkan Wendy yang hanya bisa menatap punggung lebar Chanyeol sambil berdoa semua pasti akan baik-baik saja.

●﹏●

“Bius total, sudah?”

Ne, Proffesor. Pasien sudah dibius dan tanda-tanda vital pasien stabil.” Jawab dokter anestesi ketika Chanyeol yang sudah mengenakan pakaian hijau khas ruang operasi itu memasuki ruangan.

“Baiklah, sekarang kita akan memulai operasi pengangkatan tumor di dekat pembuluh arteri otak dan juga melancarkan pembekuan darah efek koma pasien selama beberapa bulan terakhir. Saya mohon jangan ada yang kehilangan fokus dan saya harap semuanya mengerahkan semua kemampuan terbaik yang kalian miliki. Apa kalian semua mengerti?”

Ne, Proffesor!”

“Ah, satu lagi. Pasien ini harus selamat karena beliau adalah calon ayah mertuaku.” Lanjutnya sambil tersenyum tipis.

To be Continued

————————————————————————–

CHANYEOL WENDY MAU COLLAB WOI. PUJI SYUKUR KEPADA NYAI SOOMAN UDAH BUAT DUA BIAS KESAYANGAN ANE COLLAB ‘STAY WITH ME’ DI KONSER SMTOWN SEOUL!!!

BLESS MY SOUL ❤

BLESS MY SOUL <3

TERKHUSUS UNTUK NYAI SOOMAN TERCINTA SEPANJANG MASA, KENAPA GAK SETELAH SMTOWN WENDY SAMA CHANYEOL DIBUAT COLLAB DI STATION AJA? KARENA DIRIKU YAKIN SUARA BERAT DAN RAP RAP SERAK-SERAK BASAH CHANYEOL PASTI COCOK BANGET SAMA SUARA CETAR WENDY

TERKHUSUS UNTUK NYAI SOOMAN TERCINTA SEPANJANG MASA, KENAPA GAK SETELAH SMTOWN WENDY SAMA CHANYEOL DIBUAT COLLAB DI STATION AJA? KARENA DIRIKU YAKIN SUARA BERAT DAN RAP RAP SERAK-SERAK BASAH CHANYEOL PASTI COCOK BANGET SAMA SUARA CETAR WENDY. KAN BAGUS TUH ADA PHOTOSHOOT BARENG TERUS ADA MV-NYA, YANG PASTI MV-NYA JUGA MEREKA YANG JADI MODEL SOALNYA MUKANYA VISUAL BANGET GITU YAKAN. HEHEHE, BOLEH YA NYAI SOOMAN? NYAI BAIK DEH, JADI MAKIN CINTA DEH :* : * ❤ ❤

——————————————————————————

betewe ini belum seharusnya update, cuma karena kesenengan wenyeol collab mana lagunya ost kesukaan pula, ya begimana, eki jadi ngetiknya cepet banget gitu :))

Iklan

36 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. aku baru nemu ff ini dan malah langsung baca chp 33 .
    gila ya tapi ceritaya keren banget author..

    izin baca dri awal ya boleh kah…
    salam kenal

  4. Thooor… Lu kemanaaaaaaa…???? HUUUAAAAA 😭😭😭 Gue frustasi nunggu in chap selanjutnyaaaa…. Cepet comeback dooong thooor… Lu dimanaaaa??? HUUUUUAAAAAA 😭😭😭 CHAAANYEOOOOL gimana nasib lu yeeeooool….

  5. woooah seru thoor semoga operasinya berjalan lancar dan wenyeol bisa langsung nikah wkwkwk
    mereka gk nampak terus sama BaekRon tunjukkin kek thoor kemaren Baekhyunnya cuman sedikit di nampakkan

  6. OMOOOOOOOO!!!! CHAAANYEEEOOOL…!! baper banget dah gue.. Akhirnya… Sampai pada waktu ini… Waktu dimana ceye dan wendy bersatu.. Wkwkwk 😂😂 aah gak sabar baca chap selanjutnya.. Kereeen thooor…!!! NEEEEXT…. Hwaiting thoor!!! 😁😁😁

  7. Akhirnya sampe chapter 33. Baru nemu ini ff dan sumpah keren abis. Aduh aku senyum2 sendiri bacanya. Baper banget. Next chapter next chapter. Jangan lama2 authornim 🔫🔫🔫😂😂😂

  8. Ciee…. udah ngaku ngaku itu calon mertua.. Akhirnya mereka mulai sweet lagi.. Semoga operasinya lancar biar Wendy sama Chanyeol bisa bersama…
    Next chapt jangan lama lama thor… ga sabar baca next chaptnya…
    Hwaiting…

  9. Cieee cieee mertua, ekheemm.
    Mkin sweet aj smpe bkin aku snyum2 sndiri lgi. Melting begeteee.

    Ni author pokoknya hrus tanggung jawab bkin aku baper,, lanjuuuuuut.

    Eh aku panggil authornya paan?? Biar akrab gtuu/plakkk/sok akrab. Hehehe

  10. OHH MY GOD? wenyeol collab? abis ni lgsung u tube an, lagu stay with me pulak, tiap hari aku dengerin sambil nyuci piring makk
    “father in law mu harus kau selamatkan setelah kau main nyosor aje d depan orang banyak! ingat itu nak!” cemungut kak, pasti meledak ledak rasa bahagia nya

  11. Aku ampe ngelongo loh….
    ga nyangka kalo didunia nyata wendy ama ceye disatukan 😅😅😅😅😅
    adeh dah…bagus banget deh couple ini makin cintalah aku sama couple in.
    wow…..bapa calon mertua….
    asik….
    adeh….abang ceye bikin dag dig dug aj deh…emang si operasi itu bukan hal gampang,hah….hampir kelar nih….
    bahagianya double

    Sllu smngat eki…
    apa lg kn didunia nyata wendy ama ceye udah dicouplein gitu 😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄

  12. WAAAAAAAAAAA~AAAAAAAAAAA….. SETELAH DENGER WENYEOL COLLAB TERNYATA NI FF UP 😍😍😍😍 GOMAWO YA THOR~ UP SELANJUTNYA DITUNGGU LHOO, HWAITING!

  13. Njay…camer ehehhh….sukses ya chan operasinya. Aku juga nunggu collab nya mereka koooo……aku suka mereka tu sejak awal colab di dream concert(?) Ya itu lah…ku tunggu part 34 nya heheheh

  14. Eh kirain becanda ternyata collab beneran 😃😃
    Btw, orang mau operasi masih sempet2nya tu dua insan dimabuk asmara ngedrama di depan para professor. Lumayan tuh mereka dapat tontonan ‘lumatan’ gratis 😂😂😂

  15. Eki,ega gak tahan pengen senyum terus gegara baper mana lagi ditempat umun,so sweet abisss,channnn kenapa kau slalu bikit kejut jantung hah…
    Omg chanweb colab stay with me,adeuh ditungu abiss nih,mesti…..
    Next eki..

  16. Omoooooooooo!!!!
    Guee teriakkk di ruang tamu, bodo amat sama emakkk😂😂
    Inii avaan cobaa! Ada kisssnyaaa anjerrr, gue seneng sampe guling2 di lantaii..😂😂
    The best chapterrrrr mahhhhh😍😍
    Tlong segera satukannn mereka dalam ikatan tali persaudaraan /abaikan/ maksudnya pernikahan😂 /plak/
    Oke fighting ekiiiii😘

  17. Bahagia banget ini mah tau ChanWen collab abis itu tau rooftop romance up “MAKA NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?”

  18. Bahagia banget ini mah tau ChanWen collab abis itu tau rooftop romance up “MAKA NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG AKMU DUSTAKAN?”

  19. Udah ketebak eki mah, kesenengann gara2 collabnya wenyeol jadi update deh, tapi seneng juga kok, mana bikin baper lg part ini,
    Seneng pokoknya…
    Semangat buat next chaptnya eki…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s