[VIGNETTE] A MURDERER’S PERSPECTIVE — IRISH’s Tale

|   a murderer’s perspective   |

|   Sehun x Irene    |

|   Crime x Psychology x Riddle   |

|   Vignette   |   Teenagers   |

2017 © A MURDERER’S PERSPECTIVE created by IRISH

“Sebenarnya, apa yang ada dalam pikiran seorang pembunuh?”

moodboard cr: google

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

“Bagaimana mereka bisa mengatakan kalau kami adalah pembunuh?”

Irene sekarang terkurung, di balik kuasa seorang pemuda bermarga Oh yang beberapa menit lalu memperkenalkan diri padanya dan mengatakan bahwa dia adalah seorang pembunuh yang berniat menculik Irene untuk kemudian membunuh gadis bermarga Bae tersebut.

Demi Tuhan, Irene tidak pernah sekalipun memimpikan adegan mengerikan ini akan terjadi pada dirinya. Tapi mengapa sekarang? Mengapa saat dia merasa hidupnya adalah panggung sempurna yang membuat semua orang berdecak kagum sekaligus merasa iri padanya, mengapa hal mengerikan ini justru terjadi padanya?

“Karena kau membunuh orang-orang, tentu saja. Mengapa kau menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas?” Irene berkata, berhubung si penculik tidak membekapnya, atau menutup bibirnya dengan selotip, Irene jadi bisa leluasa bertukar kata dengan si pemuda.

“Selama ini kau sudah hidup dengan pembunuh, apa kau tidak sadar?” si pemuda—Oh Sehun, namanya—berkata.

“Apa maksudmu?” Irene menyernyit tidak mengerti. Bagaiamana bisa pemuda di hadapannya dengan sok tahu mengatakan kalau selama ini Irene—yang kehidupannya luar biasa sempurna itu—hidup bersama dengan pembunuh?

Sehun, memainkan pisau lipat di jemarinya dengan sebuah senyum terukir di wajah. Mungkin dia merasa kasihan karena korbannya kali ini sangat naif.

“Kau sudah hidup di tengah-tengah pembunuh yang sesungguhnya, Nona Bae. Orang-orang yang kau sebut sebagai teman, sebenarnya tidak lebih dari sekumpulan pembunuh yang menunggumu terjatuh, sehingga mereka bisa menginjak-injakmu sampai kau mati.

“Orang-orang yang kau sebut keluarga, bukankah mereka terkadang berubah menjadi psikopat paling mengerikan yang memaksakan kehendak mereka kepadamu? Menginginkanmu menjadi apa yang mereka suka dan memperbudakmu dengan uang yang mereka miliki?

“Lalu… bagaimana dengan pria-pria yang kau katakan mencintaimu? Bukankah yang mereka inginkan hanya tubuh dan hartamu? Tanpa kecantikan itu, dan tanpa uang yang kau miliki, mereka akan memperlakukanmu layaknya sampah.”

Mau tidak mau, telinga Irene memanas juga mendengar kalimat si pemuda yang terlampau mengintimidasi. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit lalu itu mengatakan hal tidak masuk akal tentang kehidupan Irene dan orang-orang di dalamnya?

“Yang kau katakan sekarang sungguh tidak masuk di akal. Menurutku, kau lah yang sebenarnya sudah gila, menuduh semua orang yang ada di dekatku sebagai pembunuh, psikopat, memangnya kau pikir kau sudah sebaik mereka?” Irene bertanya dengan nada meninggi, tidak terima juga terhadap pendapat yang Sehun lontarkan padanya barusan.

“Ya, aku pernah hidup sebaik itu, bahkan, lebih baik daripada dirimu, Nona Bae. Aku sudah merasakan bagaimana mereka yang disebut sebagai teman, terus menempel padaku seperti benalu. Mereka yang kusebut sebagai keluarga, menjadi psikopat yang memaksakan kehendak mereka kepadaku.

“Kemudian gadis-gadis yang katanya mencintaiku, yang mereka ingin hanya kekayaanku, dan rasa bangga sebab menggandengku yang tampan ini sebagai kekasih. Aku tidak sombong, tapi memang kenyataannya begitu. Itulah mengapa aku memberitahumu, Nona Bae. Sebab, kehidupanmu cepat atau lambat akan menjadi sepertiku.”

Penuturan Sehun sekarang membuat Irene terdiam. Lambat-lambat dia berusaha memahami situasi di hadapannya, dimana seorang pemuda tiba-tiba saja menariknya dengan paksa ke dalam mobil mewah, membuat Irene tidak sadarkan diri dan kemudian terbangun di atas sebuah tempat tidur dengan tangan dan kaki terikat.

Sementara si penculik itu sendiri tengah duduk santai di ujung tempat tidur dengan memainkan pisau lipat di tangan kiri, dan tangan kanan yang sejak tadi sibuk membimbing rokok untuk disesap.

“Jadi, kau depresi karena kehidupanmu yang hancur, kemudian kau menculik orang-orang yang kau anggap mempunyai nasib yang sama sepertimu, untuk membunuh mereka sehingga mereka tidak akan mengalami kehidupan sepertimu sekarang ini?” Irene sampai pada satu konklusi.

Jika tadi Sehun katakan bahwa dia ingin membunuh Irene, dan sekarang dia katakan kalau Irene punya kehidupan yang sama sempurnanya seperti Sehun dulu, hanya ada dua kemungkinan logis yang bisa Irene terima.

Pertama, pemuda itu ingin mengenyahkan orang-orang yang kemungkinan besar akan berubah menjadi seorang ‘gila’ sepertinya jika nanti dunia mereka berputar. Kedua, Sehun merasa iri dan marah pada mereka yang kehidupannya sempurna sedangkan dia tidak lagi bisa menikmati kehidupan itu.

“Iya, aku ingin mengenyahkan mereka. Sehingga, pembunuh-pembunuh sepertiku tidak akan semakin banyak.”

“Memangnya menurutmu semua orang yang mengalami kehancuran, akan berubah menjadi seorang pembunuh sepertimu?” tanya Irene membuat Sehun menatapnya.

“Semua manusia pada dasarnya adalah seorang pembunuh, Nona. Kau hanya belum melihat bagaimana mereka membunuh manusia lainnya.”

“Benarkah? Coba ceritakan pembunuhan macam apa saja yang pernah kau lihat dari manusia-manusia yang menurutmu semuanya adalah pembunuh.” Irene menantang, diam-diam rasa takut yang tadi sudah memenuhi rongga dadanya sekarang berubah menjadi rasa iba, dan tidak terima.

Penyebab dia diculik seperti ini adalah perihal yang kelewat sepele, namun nyawa Irene justru jadi taruhan. Bagaimana bisa Irene diam saja saat hidupnya dipertaruhkan karena hal konyol?

“Wanita adalah pembunuh yang cerdas, kalau kau mau tahu. Mereka tidak pernah membunuh orang lain dengan tindakan, atau senjata tajam, tapi wanita bisa membunuh seseorang dengan kata-kata.

“Mereka begitu pandai melontarkan pisau tajam dari bibir cantik mereka untuk digunakan menyerang pertahanan seseorang secara psikologis, membuat mereka yang awalnya hidup baik-baik saja, jadi terpuruk, hanya karena gunjingan dan perkataan yang mereka ucapkan.

“Perkataan yang terlontar dari bibir wanita, terkadang bisa berubah menjadi racun mematikan yang membunuh secara perlahan, menghancurkan benteng pertahanan seseorang sampai kemudian orang tersebut menyerah dan membiarkan harga dirinya diinjak, membiarkan dirinya dibunuh oleh orang lain.”

Kembali, Irene temukan dirinya terdiam. Perkataan Sehun bukannya sulit untuk dimengerti, tapi kalimat pemuda itu menyimpan begitu banyak makna implisit yang tidak bisa langsung Irene pahami.

Ya, dia mengerti pembunuhan macam apa yang Sehun maksud. Irene pernah mengalaminya, bahkan kalau boleh jujur, Irene pernah menjadi salah satu pembunuh itu. semasa sekolah, Irene pernah memperlakukan salah seorang teman sekelasnya dengan cara mengerikan, menggunjing dan meledeknya setiap hari, sampai-sampai seisi sekolah ikut menggunjingkan murid tersebut dan berakhir pada insiden bunuh diri yang membuat Irene sampai detik ini menyimpan sebersit rasa bersalah.

Irene yakin dia tidak membunuh, sungguh, dia yakin dia bukan penyebab bunuh diri yang dilakukan murid tersebut. Tapi di satu sisi, ucapan Sehun menyadarkannya, memperingatkannya bahwa dia dulu pernah menjadi si pembunuh cerdas.

“Pria adalah pembunuh yang obsesif. Mereka cenderung membunuh orang-orang dengan cara monoton yang sebenarnya bisa dihindari tapi tanpa sadar membuat orang-orang terjebak kembali.

“Apa kau pernah bertemu dengan pria yang berulang kali menghancurkan kehidupan wanita hanya karena perkara sepele bernama cinta yang berujung pada perpisahan karena alasan yang sama? Itu adalah bukti kalau pria adalah pembunuh yang obsesif.”

Kali ini, lagi-lagi Irene tanpa sadar ingin mengiyakan ucapan Sehun. Karena jika dilogika bagaimanapun, pria memang seringkali membunuh hati wanita dengan cara begitu. Itu juga yang pernah Irene alami, kehancuran karena seorang pria yang membuatnya lantas menutup diri dari pria dan memilih untuk jadi wanita angkuh.

“Kau hanya berspekulasi dari kejadian yang pernah kau dengar, bukankah begitu? Penjelasanmu sekarang, semua orang juga pasti bisa menjelaskannya.”

Tatapan Sehun memicing saat mendengar ucapan Irene yang terkesan berusaha berargumen dengannya itu.

“Kau tidak percaya padaku? Semua manusia itu pembunuh, Nona. Teman-temanmu, kau pikir mereka apa? Mereka adalah pembunuh sosial. Sekali saja kau terjatuh di depan mereka, selamanya kau akan diinjak oleh mereka tanpa diberi kesempatan untuk terbangun dan menjejakkan kaki kembali.

“Mereka yang kau katakan keluarga? Semuanya adalah psikopat yang menyiksamu secara psikologis. Mereka memaksakan apa yang mereka inginkan terhadapmu, mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan semuanya berorientasi pada kebahagiaanmu di masa mendatang. Tapi apa yang terjadi apabila kau gagal? Bukankah mereka akan menjatuhkanmu dan menjadikanmu makhluk paling tidak berguna di bumi ini?

“Lantas, siapa lagi yang tidak kau kira sebagai pembunuh? Kita semua sudah hidup bersama pembunuh dan psikopat yang memakai topeng. Apa kau tidak sadar itu?”

Irene ingin sekali menggeleng keras-keras dan berkata bahwa dibandingkan pembunuh dengan makna implisit yang Sehun terangkan sejak tadi, di hadapannya sekarang sudah ada seorang pembunuh dengan makna harfiah, yang telah menjejerkan beberapa bilah pisau di meja rias cantik yang ada di sebelah Irene, membuatnya yakin bilah tersebut bisa saja menancap di tubuhnya apabila dia lengah barang sedikit saja.

Perspektif Sehun soal pembunuh sungguh tidak bisa Irene mengerti. Jika memang Sehun tidak ingin ada orang-orang yang berubah menjadi sepertinya, mengapa pula dia harus membunuh orang-orang tersebut?

Dan jika memang tujuannya begitu, apa semua orang dengan kehidupan nyaris sempurna seperti Irene, akan dibunuh?

“Kau tidak bisa menyamakan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain.” Irene memberanikan diri untuk bersuara.

“Apa?”

“Tidak semua orang akan berubah menjadi sepertimu jika mereka nanti hancur. Tidak semua pembunuh yang kau jelaskan tadi akan benar-benar menginjak-injak orang lain. Setidaknya, aku percaya kalau pembunuh yang ada di sekitarku tidak akan begitu.”

Sehun, menyunggingkan sebuah senyum kecil sebelum dia berkata.

“Itu menurutmu. Apa kau tidak tahu bagaimana aku memandangmu sekarang? Kau juga seorang pembunuh, Irene.” Sehun berucap.

“Ya, memang. Menurutmu semua orang adalah pembunuh, bukan?”

Sehun menggeleng pelan. “Kau benar-benar pembunuh. Bukankah kau pernah membunuh seseorang di masa lalumu? Saat ini, kau bahkan berencana untuk membunuh satu orang lagi.”

Mendengar ucapan Sehun, Irene kini mengatupkan rahangnya, menahan kekesalan karena ucapan tidak logis yang sejak tadi Sehun paksakan untuk ia dengar.

“Apa yang membuatmu bicara begitu? Memangnya kau pernah melihatku membunuh orang lain, huh?” tantang Irene membuat Sehun menyunggingkan sebuah senyum kecil di paras rupawannya.

“Ya. Terang saja kau sudah sangat berbakat dalam membunuh, Irene.”

“Mengapa kau berpikir begitu?” tanya Irene.

“Karena kalau kau bukan seorang pembunuh, kau tidak akan bicara dengan penuh percaya diri di hadapanku. Bersikap seolah kau masih terikat padahal ikatan di kedua tanganmu sudah terlepas sejak sepuluh menit lalu. Dan sekarang, kau menggenggam sebilah pisau di tangan kananmu, menunggu waktu yang tepat untuk menghujamku dengan pisau tersebut dan membunuhku supaya kau bisa berlari dari tempat ini. Bukankah begitu?”

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Awalnya, kepengen ngejelasin POV seorang pembunuh—berhubung abis belajar sama kaka-kaka psikologi yang hobi main ke penjara /eh/ tapi kemudian belok dikit ke riddle /mana riddlenya Rish, mana/

Ya, pada intinya ambigu sih cerita di atas, engga tau siapa yang pembunuh dan mana yang mau dibunuh, siapa yang jadi pembunuh implisit dan jadi pembunuh secara harfiah, semuanya enggak jelas, LOLOLOL, dan aku bahagia karena bakat ngetik fanfiksi enggak jelas bin ngeselin kayak fanfiksi ini ternyata masih ada. MASIH ADA, KAWAN.

Random banget mau malem minggu gini malah ngetik yang berbau pembunuh, dasar jiwa-jiwa labil… ya, enggak apalah ngetik beginian, daripada ngetik romens mulu nanti pikiran anak-anak zaman sekarang ternoda sama cinta-cintaan mulu /EH TERUS MENURUT ENTE LEBIH BAIK TERNODA SAMA ADEGAN THRILLER, GITU?/ sama gabenernya juga doktrin yang daku berikan ~ syalalalala ~

Berhubung diriku udah enggak tau kudu ngejelasin apa lagi di sini, silahkan berspekulasi sendiri aja tentang apa yang terjadi antara HunRene di kejadian di atas. Berhubung sekuel/prekuel juga engga akan ada karena idenya cuma buat ngasih nasehat tersirat di atas sana /ECIEH, IRISH TUMBEN MAEN NASEHAT/ ya begitulah, semakin tuir diri ini semakin bertobat dan jarang berkata-kata kasar, biasanya hobi bermain kata-kata kasar, terutama ke cabe, ya kan?

Nah, mulai ini fingernotes jadi saingan sama isinya epep. Kuakhiri saja sampai di sini kalau begindang. Thanks for reading, salam kecup, Irish.

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Iklan

11 pemikiran pada “[VIGNETTE] A MURDERER’S PERSPECTIVE — IRISH’s Tale

  1. Eike prnh lho jd objek pnelitian tmn 1fanbase yg kul psikologi, luckily dy ga sk maen ke prison ky tmn2 bljr irish 😀
    wlw ambigu tp te2p keren. Wlw tak bertulang tp 👅 so damn true-lbh tajam dr pedang! analogi 세훈 emang ada bner’ny, especially di dunia krj bnyk yg doubled-face gt. klo tuntutan dr lngkngn klrg sih depends on msng2 jg, in reality ga se-xtreme ky yg di drama2 hopefully. Keep praying moga dibrikan lngkngn yg baik & diklilingi tmn2 yg tulus 😚
    Romens dislingi sm thriller/genre lain mlh bgs spy ga diabet, bgs bwt balancing 😀
    안촣아 sm pairing ini 😒 tp apa daya author’ny sk 😢

    • Mbb kak Nin, dan aduh… temen2 aku aja yang aslinya astral binggo kak XD wkwkwkwkwkwk lidah emang gitu, tajemnya masya Allah kalo enggak dijaga XD dan yes, kita yang sama2 kerja jadi udah tau bener kan karakter2 orang bermuka-dua yang dimaksud di sini XD wkwkwkwkwkwkwk makasih kak nin ~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s