GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2Level 3Level 4 — Level 5 — Level 6 — Level 7 — [PLAYING] Level 8

A bite of that sweet temptation

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 8 — Girl In The Mousetrap

In Jiho’s Eyes…

“Kenapa? Kau ingin memberikan Wild Rose milikmu padaku? Bukankah kita masih ada di tengah perang dingin dimana seharusnya aku mengabaikanmu?”

Aku tidak bisa berkata-kata, sungguh. Ketika Baekhyun mengatakan hal itu aku bahkan hanya diam mematung. Sebagian dari diriku begitu ingin menyahutinya dengan kata-kata meremehkan atau semacamnya, tapi sebagian lagi dari diri ini ingin bungkam dan menerima semua ucapannya.

Kenyataannya, kami memang masih ada di tengah perang dingin. Dan sebersit—hanya sejenak—sempat terpikir olehku tentang kemungkinan dan keuntungan apa yang akan aku dapatkan jika aku memiliki pair sekuat Baekhyun.

“Jadi aku ada di dalam black labelmu?” aku akhirnya berucap, merasa tidak nyaman jika terus berdiam karena kupikir Baekhyun mungkin mengira jika aku kehabisan kata-kata karena ucapannya.

Dan ya, aku tidak ingin kalah darinya. Kalah dari Baekhyun dalam battle saja kurasa sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin kalah ucapan darinya.

“Hampir,” ia menyahut ringan, “tapi kupikir-pikir lagi, kita selalu bertemu dengan cara yang unik. Kau selalu—hampir selalu—melihat sisi lemahku, dan membuatku tidak bisa menolakmu.”

Senyum kecil muncul di wajahku saat mendengar perkataannya. Meski ia terkesan tengah berusaha membangun benteng perang dingin lagi, tapi kupikir ia sudah tidak dikuasai emosi yang sama seperti hari itu.

“Aku minta maaf, Baekhyun. Sungguh.” ucapku, mengutarakan kata maaf tulus yang belum sempat aku utarakan karena kami tempo hari sudah terlanjur berdebat.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Baekhyun membuatku menyernyit.

“Melakukan apa?” kupikir, kesalahanku di dalam listnya sudah cukup banyak. Aku perlu memastikan kesalahan apa yang sekarang tengah dibicarakannya. Mengapa aku tiba-tiba bersikap baik padanya? Atau mengapa aku membohonginya?

“Menyembunyikan rencana mereka dariku. Kukira, kita ada di pihak yang sama. Tapi hari itu, entah mengapa aku merasa seolah telah dikhianati. Semua orang berbalik menyerangku dan menertawaiku karena aku tidak tahu apa-apa. Apa kau tahu bagaimana marahnya aku saat itu?”

Aku mengangguk pelan. “Aku tahu. Sejujurnya, aku tahu tentang rencana itu dari salah seorang teman, dan saat aku bertemu denganmu di Spring Hall, kupikir… ada kalanya aku lebih baik menyimpan rahasia yang kuketahui dalam diam daripada mengungkapkannya.

“Aku masih ingat bagaimana bersemangatnya kau saat menunjukkan upgradingmu, saat itu kupikir… ‘ah, jika aku memberitahunya dia mungkin akan kecewa pada player lain yang sudah ditolongnya’ seperti itu. Aku tidak tahu jika menyembunyikannya darimu justru berujung pada kemarahan yang lebih mengerikan.

“Maafkan aku, karena telah mengambil keputusan yang salah saat itu. Sama seperti saat aku menuduhmu sebagai seorang player kejam, aku terlalu sering mengambil keputusan yang salah dan tergesa-gesa.”

Aku menghentikan ucapanku, memperhatikan ekspresi Baekhyun sementara ia masih menatapku dalam diam dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Entah sejak kapan, mode survival terasa begitu nyata dalam pandangan dan anggapanku.

Aku tahu, tempat ini tidak nyata, perang virtual yang menjadi sumber perdebatan kami juga sebenarnya sangatlah tidak penting dan tidak merugikan siapapun. Tapi mengapa aku menganggapnya seolah dunia di dalam WorldWare benar-benar ada?

“Jangan pernah salah mengambil keputusan lagi.” aku menatap Baekhyun saat ia akhirnya buka suara. “Jangan terlalu tergesa-gesa saat mengambil keputusan.” lagi-lagi ia berkata.

“Aku tahu,” sahutku pelan.

“Dan jangan pernah membohongiku.”

“Apa?” aku menatap Baekhyun tidak mengerti. Sementara ia masih memandangku dengan ekspresi yang sama seriusnya seperti tadi saat ia pertama kali berucap.

“Aku bisa menerima saat player lain yang tidak kukenal menyerangku setelah aku menolong mereka. Aku juga bisa menerima kebencian player-player dari Country karena aku terus mengusik kegiatan curang mereka dalam game. Tapi aku tidak suka dibohongi, terutama oleh seseorang yang kupercaya.”

“Apa kau… percaya padaku?” tanyaku kemudian. Menyadari bahwa ia baru saja mengatakan bahwa sumber kemarahannya bukan karena orang-orang menyerangnya tapi karena aku telah berbohong padanya dengan bersikap pura-pura tidak tahu, entah mengapa aku merasa terkejut.

“Aku benci saat kau menyaksikan semua pengkhianatan itu sementara di dalam benakmu kau merasa kasihan karena aku tidak tahu apa-apa sampai kau memutuskan untuk online di tengah turbulence. Aku… bukan seorang player yang kaupikir tidak bisa mengetahui segalanya, Jiho. Kemarahan yang kemarin kuluapkan pada mereka juga bukan sekedar kemarahan tidak beralasan.” Baekhyun berucap, keseriusan yang ia selipkan dalam suaranya sejemang berhasil membuat perasaan takut menyikut batinku.

Entah mengapa, di saat-saat seperti ini kuharap Wendy tiba-tiba kembali. Lagipula, kemana juga dia pergi sejak tadi? Kupikir dia hanya akan memeriksa kedatangan yang bisa diketahuinya. Tapi sekarang kurasa ia sengaja meninggalkanku berdua bersama Baekhyun dan keadaan dingin yang kembali Baekhyun ciptakan.

Apa ini kemampuan Baekhyun? Membuat seseorang merasa takut dan ingin berlari darinya, tapi saat orang tersebut berlari menghindari Baekhyun mereka justru tanpa sadar membawa diri mereka kembali pada Baekhyun?

“Memang, saat itu ada rasa kasihan yang muncul di dalam benakku. Tapi aku tidak offline karena aku enggan melihat bagaimana turbulence berlangsung. Kau juga pasti ingat, keadaanku saat itu sangat menyedihkan—karena flu—dan saat terbangun, aku sangat terkejut karena tahu aku terlambat.”

Baekhyun mengangguk-angguk pelan saat mendengar penjelasanku.

“Benar… kau memang sakit saat itu, aku saja yang terpengaruh oleh emosi. Kau tahu, kau tidak pandai berbohong, terutama membohongiku.”

“Apa maksudmu?” aku kini menatapnya tidak mengerti.

Baekhyun melejitkan bahu. “Entah aku yang begitu mudah mengetahui kebohonganmu, atau kau yang tidak pandai berbohong. Tapi saat itu aku tahu kau membohongiku. Dan kemudian, aku tahu tentang rencana mereka.”

Ah, benar. Waktu itu Baekhyun mengatakan jika ia juga bisa membayar dengan jumlah pouch yang sama seperti White Tiger keluarkan. Dan jelas, ada seseorang yang memberitahunya tentang rencana turbulence saat itu.

“Aku ingat kau pernah mengatakan jika kau tidak dekat dengan banyak player. Tapi hari itu, kau katakan jika seseorang mengatakan tentang rencana WhiteTown dan Enterprise padamu. Player itu… siapa?” tanyaku penasaran.

“Mengapa aku harus memberitahumu?” Baekhyun malah balik bertanya.

Lihat? Ia pandai membuat seseorang menyesali ucapannya. Dan itu juga terjadi padaku sekarang. Saat kupikir perang dingin di antara kami mulai mencair, ia justru mengucapkan kalimat yang membuatku mengira jika ia masih mengibarkan bendera perang.

“Ah, tidak. Kau tidak harus memberitahuku. Aku hanya penasaran… apa dia salah seorang dari WhiteTown atau Enterprise?” ucapku masih berusaha memancing jawaban darinya.

Baekhyun, tersenyum simpul sebelum ia menjawab. “Dia adalah seseorang dari Enterprise.” jawabnya membuatku terkesiap. Seseorang dari Enterprise? Tunggu, seseorang dari Enterprise selain aku juga mengenal siapa Baekhyun? Bagaimana bisa? Siapa?

“Siapa orangnya? Augusteen? Song Song? Qian Yu—tidak, Qian Yuan tidak mungkin. Oh, Aoiryu? Atau—”

“—Seseorang yang tidak sadar kalau dia sudah ada di dalam genggamanku.” Baekhyun memotong ucapanku, aku bahkan belum selesai mengabsen anggota Enterprise saat ia berkata.

Genggamannya? Hah, lihat bagaimana ia bicara sekarang. Sepertinya gosip tentang Invisible Black yang tidak ingin mengenal siapapun itu hanya gosip belaka.

“SelynMa?” tebakku kemudian, mengingat konversasi SelynMa dengan beberapa player wanita Enterprise seketika membuatku merasa kesal sekarang.

“Kenapa? Kau khawatir tentang ucapannya yang mengatakan bahwa ia pernah beberapa kali bicara denganku?” aku menatap Baekhyun terkejut.

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Sudah kukatakan aku punya mata dan telinga yang lain, bukan?” Baekhyun tersenyum simpul. Dan ya, sekarang melihat senyumnya lah yang membuatku merasa kesal.

“Lalu siapa orang itu? Apa dia punya hobi menguping pembicaraan orang lain?”

“Bukankah kau yang punya kebiasaan itu?”

“Apa?”

“Kau orangnya.” Baekhyun berucap.

“Aku kenapa?” tanyaku tidak mengerti.

“Kau—HongJoo dari Enterprise, adalah mata dan telingaku.”

Sungguh, aku bisa mengerti jika aku memang tidak pandai, dan tidak pernah pandai. Tapi ucapan Baekhyun agaknya terlalu bertele-tele sehingga kemampuanku untuk menyerap makna tersembunyi di balik ucapannya juga berkurang.

“Mengapa aku?”

“Karena kau sudah ada di dalam genggamanku.”

“Dan apa maksudnya itu?”

Baekhyun tersenyum kecil, menahan tawa—kurasa. Aku tahu ia sekarang menganggapku sebagai orang paling tolol yang pernah ia temui.

“Itulah keuntungannya menjadi seorang Invisible. Selain punya dua ID—ID invisible mode dan ID sebenarnya—aku juga bisa tahu banyak hal. Ah, selain itu, kurasa itu juga karena kau punya history yang menarik, sehingga aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak—”

“—Apa kau meretasku?”

Baekhyun menatapku saat aku memotong perkataannya. Senyum kecil ia sunggingkan sebelum ia mengangguk pelan.

“Kau benar-benar meretas akunku?” tanyaku tidak percaya.

“Tidak hanya akunmu, PC, gaming set, bahkan ponselmu juga.” tuturnya membuatku mendesah kagum sekaligus kesal.

“Mengapa tidak sekalian kau retas juga semua CCTV yang ada di mess tempatku tinggal?” ucapku sarkatis, penjelasannya sekarang entah mengapa terdengar begitu mengerikan tapi sialnya terdengar sangat keren.

Baekhyun lagi-lagi tersenyum. “Kau pikir aku tidak melakukannya?”

“Wah, hebat. Kau seorang cracker?” kusadari, jika ia sudah meretas semua hal yang terlibat dengan kehidupanku tapi hanya menyebutkan beberapa saja. Lihat bagaimana dia mempergunakan kecerdasannya untuk mengintip kehidupan orang lain.

“Aku tidak senang ketika kau mengatakannya seperti itu. Aku bukan cracker, aku seorang hacker, white hat hacker. Dua istilah itu berbeda, Jiho. Kita sebut saja, aku membuatmu ada di dalam genggamanku. Bagaimana?”

“Dan apa bedanya istilahmu dengan istilahku?” tanyaku, tidak mengerti dengan apa yang sekarang ada di dalam benak Baekhyun sehingga ia pikir bahwa meretas semua yang ada di kehidupanku adalah sesuatu yang benar sementara aku menilainya salah.

“Saat aku meretas—benar-benar meretas—aku hanya akan mengambil keuntungan sebelum menghancurkan apa yang kuretas. Tapi jika aku katakan aku membuat sesuatu ada di dalam genggamanku…” Baekhyun menggantungkan kalimatnya, tatapannya seolah menunggu reaksi dariku.

“Apa? Kau bisa langsung menghancurkanku bahkan tanpa harus mengambil keuntungan karena aku sama sekali tidak menguntungkan?” tebakku dijawab Baekhyun dengan sebuah gelengan pelan.

“Anggap saja, selama kau ada di dalam genggamanku, kau tidak berlari kemana pun. Kau tidak bisa membohongiku, atau bicara sementara bertindak berbeda. Ah, mungkin lebih baik jika kukatakan kau adalah milikku. Bukankah begitu?”

“Dan sejak kapan aku menyetujui tindakanmu? Kau bahkan mengatakannya seolah meretasku tidaklah menjadi masalah. Bukankah sekarang kau sedang mencuri privasiku?” komentarku ketus.

“Mengapa? Aku memang tidak membuat masalah. Aku hanya membuatmu ada di dalam genggamanku, Jiho. Tidak bisakah kau lihat perbedaannya dengan meretas? Aku tidak sedang berusaha menghancurkanmu, aku hanya menandaimu sebagai milikku, itu saja.”

“Apa keuntungan dari tindakanmu bagiku?”

Baekhyun—lagi-lagi—tersenyum.

“Bukankah aku adalah tipe pair idealmu?”

“Dan apa maksudnya itu sekarang?” aku menatap Baekhyun tidak mengerti.

Baekhyun, mengusap dahinya pelan saat mendengar pertanyaanku. Tarikan dan hembusan nafas panjang terdengar lolos dari bibirnya sementara ia masih membuatku menunggu jawaban darinya.

“Baekhyun?”

“Jangan membuatku mengatakannya dengan terlalu jelas, Jiho. Kupikir kau adalah seorang player yang cerdas—jika melihat bagaimana kau sering mengambil keuntungan dari player lain dengan cara tidak kentara—tapi ada apa denganmu sekarang?”

“Kau mengatakannya dengan terlalu bertele-tele.” bantahku, berkeras tidak ingin kalah darinya meski sudah jelas aku sama sekali tidak memahami maksud ucapannya. Aku tak mau mengorbankan harga diri demi rasa ingin tahu.

“Dengan mengetahui kalau aku bisa melakukan apapun, bukankah sudah jelas jika kau tidak akan bisa menemukan pair yang serupa denganku di luar sana? Karena kau ada di dalam genggamanku, tentu aku juga tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja.”

“Mengapa? Mengapa kau tidak akan membiarkanku pergi?”

“Bukankah kau yang lebih dulu memilih untuk melemparkan dirimu padaku? Kau bahkan sudah beberapa kali melakukannya. Sekarang, jika aku memilih untuk tidak melepaskanmu, apa aku melakukan hal yang salah?”

Aku terdiam. Baekhyun benar-benar pandai bermain kata. Dia bahkan bisa membuat seseorang merasa bersalah meski jika dipikir-pikir lagi, Baekhyun juga tidak ada benarnya. Secara logis, aku tidak melemparkan diri padanya, aku hanya menawarkan bantuan padanya dan—ya, memang, dia mengatakan padaku jika dia mendapat banyak tawaran bantuan tapi dia memilihku.

Sekarang, ia pasti merasa jika aku ada di dalam genggaman dan pengawasannya karena ia sudah meretas semua properti yang berhubungan dengan kehidupanku. Tentu saja, aku seharusnya sadar jika dia tidak meretasku hanya untuk bermain-main.

Meski sekarang ia bicara seolah ia tidak akan melakukan hal yang membahayakanku, aku tahu sebenarnya ia pasti sudah menyimpan rencana yang bahkan tidak bisa aku tebak.

Aku lah yang sudah melibatkan diriku ke dalam kehidupannya. Aku tidak tahu seperti apa sebenarnya sosok Baekhyun, kepribadiannya, bagaimana kehidupannya di dunia nyata, apa dia orang yang baik atau justru sebaliknya, tapi yang jelas aku yang pertama kali menunjukkan diriku ke hadapannya.

Sekarang, tidaklah salah jika ia memilih untuk mengikatku pada aturan permainan yang ia ciptakan sendiri. Tidak juga salah jika ia enggan melepaskanku. Tapi mengapa ia mengatakannya seolah kami tengah menjalani kehidupan nyata?

“Aku hanya tidak mengerti,” akhirnya aku berucap, “Mengapa kau melakukannya? Memang benar, aku yang lebih dulu berusaha mengenalmu, tapi tidak berarti bahwa kau harus mengetahui segalanya tentangku, bukankah begitu? Saat kudengar kau meretas kehidupanku, rasanya seolah aku tidak bisa lepas darimu secara online maupun offline. Tidakkah itu berlebihan?”

“Apa yang menurutmu berlebihan?”

“Tindakanmu, Baekhyun. Kau tidak harus berbuat sejauh itu untuk mengawasiku. Kita hanya sekedar hidup di dalam game, bukankah tindakanmu berlebihan?”

Ekspresi Baekhyun kembali berubah kaku. Entah, kupikir aku lagi-lagi telah salah berkata, tapi aku tidak mengerti di mana letak kesalahanku. Aku hanya mengutarakan apa yang ada di dalam benakku dan apa yang logisnya harus terjadi.

“Kau tidak mengenalku, Jiho. Kau tidak tahu batas mana yang kuanggap normal atau berlebihan. Aku bisa menghancurkanmu jika aku memang ingin, dan jika aku memang seorang yang keji. Tapi aku memilih untuk mengawasimu. Kenapa? Karena aku ingin mengenalmu.”

“Tapi tidak seperti ini cara untuk mengenal seseorang. Kau harus—”

“—Setiap orang berbeda. Mana bisa kau menyamakanku dengan orang lain? Ini, adalah caraku mengenal orang yang ingin aku kenal. Selama aku tidak membahayakan kehidupanmu, bukankah tindakanku tidak bisa kau katakan berlebihan?”

Tidak. Tetap saja dia berlebihan. Keterikatan semacam ini adalah hal yang tidak wajar, bagiku. Karena aku tidak pernah menemukan hal-hal seperti ini terjadi pada orang lain. Atau, aku yang terlalu menutup diri pada kehidupan sosial sehingga aku tidak tahu jika ada orang-orang yang hidup seperti ini?

“Kupikir kita bisa mengakhiri perang dingin kita tempo hari. Tapi sepertinya kau memilih untuk meneruskannya. Aku tidak mengerti, mengapa kau selalu bersikap baik padaku jika pada akhirnya kau justru membuatku begitu kesal dan marah?”

Aku menatap Baekhyun saat ia lagi-lagi berucap. Aku bahkan belum membuka mulut dan menjawab pertanyaannya ketika Baekhyun sudah bangkit dari tempatnya duduk sedari tadi.

“Baekhyun, aku hanya—”

“—Lupakan saja. Kau tidak akan mengerti bagaimana orang-orang sepertiku hidup. Kau hanya berpikir tentang apa yang wajar dan tidak wajar di dalam pandanganmu tanpa kau coba untuk mengerti, Jiho. Setiap orang berbeda, dan kau tidak bisa menyamakan mereka dengan persepsi yang ada di dalam benakmu, ingatlah itu.”

Baekhyun menatap sekeliling, sebelum ia lagi-lagi buka suara.

“Sampaikan terima kasihku pada temanmu karena sudah meminjamkan Witch’s Area pada kita untuk bicara. Ucapanmu benar, meski dia seorang NPC, kupikir dia bisa lebih berperasaan.”

Aku masih bergeming ketika Baekhyun berucap. Benakku baru saja mendapatkan satu istilah baru tapi aku bahkan tidak berkeinginan untuk mengetahuinya. Ucapan Baekhyun membayangiku, tentang bagaimana dia hidup dan bagaimana selama ini aku hidup.

“Jangan online malam ini. Aku tidak mau kau lagi-lagi menuduhku sebagai seorang yang keji hanya karena melihatku meluapkan kemarahanku pada player yang hadir di turbulence malam ini.”

“Bagaimana jika mereka lagi-lagi merencanakan hal buruk padamu? Aku ada di sini bersamamu dan tidak tahu apa yang mereka bicarakan di Country jadi kau juga tidak akan tahu rencana mereka.” ucapanku kini membuat Baekhyun tertawa sarkatis.

“Mengapa kau peduli? Bukankah kau ingin hidup dengan tenang di dalam Enterprise? Berpura-pura saja kau tidak mengenalku, lalu semuanya akan baik-baik saja. Meski aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, aku bisa menghadapi mereka.”

“Tapi human wealthmu—”

“—Aku sudah terbiasa sendirian, Jiho. Aku hidup sendirian selama bertahun-tahun di dalam game ini dan bahkan tidak dianggap oleh player lain. Kau pikir menghadapi mereka akan jadi masalah hanya karena aku sendirian?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Petang mulai menginjak saat aku terbangun dari tidur yang kudapatkan saat aku logout dari survival mode. Masih ada beberapa jam sebelum turbulence dimulai dan kutemukan Taehyung juga Ashley sudah duduk manis di depan PC.

Diam-diam, aku hanya bisa menghela nafas panjang. Perang dingin yang lagi-lagi terjadi di antara aku dan Baekhyun entah mengapa jadi begitu mengganggu. Tanpa sadar, aku melirik ke arah CCTV yang terpasang di sudut dapur. Ingat jika Baekhyun pasti tahu seperti apa keadaanku sekarang, aku justru merasa bodoh.

Dia pasti tahu aku tengah murung karena perdebatanku dengannya. Dan lagi-lagi, dia menang. Ugh, aku bahkan baru mengenalnya beberapa hari dan sekarang rasanya seolah aku tengah bertengkar dengan Taehyung.

Alih-alih meneruskan kemurungan dengan meratap sendirian di dapur, kuputuskan untuk ikut dalam perbincangan kecil yang tengah Taehyung dan Ashley lakukan di ruang utama.

Dengan membawa segelas air, aku melangkah menghampiri dua orang itu dan duduk di salah satu kursi PC yang kosong.

“Mengapa kalian terlihat begitu serius?” tanyaku membuat Ashley melirik sekilas.

“Invisible Black akan diserbu lagi, kau tahu?” Ashley menyahut, tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Sudah bisa kuduga kalau Baekhyun pasti diserang lagi malam ini.

“Apa lagi yang mereka—” ucapanku terhenti, sekarang kupikir lebih baik aku benar-benar tidak tahu apa-apa daripada aku menderita lantaran tidak bisa memberitahu Baekhyun tentang rencana mereka.

“Kenapa? Mereka kenapa? Hey, kau tidak akan online? Mengapa penampilanmu sekacau itu?” tanya Ashley kemudian. Sebagai seorang ahli fashion kuyakini dia begitu merasa terganggu ketika melihatku muncul dalam keadaan yang kacau.

“Aku tidak online, tidak tertarik.” sahutku ringan.

“Tumben sekali, biasanya kau tidak pernah mau melewatkan turbulence besar seperti ini.” Ashley berkomentar.

“Kau juga akan ikut menyerang Invisible Black?” tanyaku sejurus kemudian.

Bisa kutebak, Ashley menjawab dengan anggukan. Dia bahkan mengangguk dengan begitu bersemangat. Jemari lentiknya kemudian bergerak menunjuk Taehyung.

“Taehyung juga ikut. Zeus bicara padanya melalui personal chat sore tadi, kau tahu? Zeus katakan dia akan membayar dua ribu dollar jika Taehyung berhasil meretas akun Invisible Black malam ini.”

“Meretas? Mengapa?”

“Strategi mereka.” Taehyung menyahut. “Player-player itu pikir dengan meretas akun Invisible Black malam ini, konsentrasinya akan terganggu dan ia akan dikalahkan dengan mudah.”

“Dan kau menyetujuinya?” tanyaku, tanpa sadar nada suaraku meninggi ketika mendengar bagaimana Taehyung menjelaskan tentang rencana mereka.

“Dua ribu dollar, Jiho-ya, bayangkan berapa banyak uang itu.” Taehyung tersenyum penuh makna. Meski dia putra dari seorang yang kaya raya, aku heran bagaimana bisa dia tergiur oleh tawaran semacam ini.

“Bukankah kau sudah mengusik kehidupannya?” tanyaku kemudian.

“Kehidupannya? Mengapa aku mengusik kehidupannya? Yang kulakukan hanya meretas akunnya dan mengacaukannya di dalam game, Jiho-ya. Memangnya kau pikir aku tertarik padanya sampai-sampai ingin mengusik kehidupannya dengan jari-jari jeniusku?”

“Apa maksudmu?”

“Wah, wah. Kau sudah mengenalku bertahun-tahun tapi tidak juga mengerti bagaimana seorang Epic-T hidup, rupanya.” Taehyung menggeleng-geleng tidak percaya saat aku tidak memahami maksud ucapannya.

Bagaimana tidak, yang Taehyung lakukan sekarang justru berkebalikan dari tindakan Baekhyun. Dan juga, bagaimana bisa ada sebuah kebetulan seperti ini? Taehyung pasti tidak tahu jika Baekhyun juga bisa meretas bukan?

“Tapi… bukankah kau seorang hacker, Taehyung?” tanyaku kemudian, mengingat bahwa Baekhyun sempat merasa tidak terima lantaran aku menuduhnya sebagai seorang cracker, sekarang tindakan Taehyung justru lebih terlihat tidak bermartabat.

“Ya, aku seorang hacker. Dengar, Jiho. Ada dua jenis hacker, black hat hacker, dan white hat hacker. Aku—” Taehyung menunjuk dirinya sendiri dengan bangga, “—grey hat hacker. Aku melakukan keduanya, hacker yang merugikan, dan menguntungkan. Keren bukan?”

Aku segera mengalihkan pandangan saat mendengar ucapan Taehyung.

“Di telingaku semuanya terdengar sama saja. Kau akan meretas akun milik orang lain dan merugikan mereka. Dia sudah susah payah mencapai ranknya dan kau akan menghancurkannya begitu saja?” tanyaku membuat Taehyung tergelak.

“Astaga, Jiho, sejak kapan kau peduli pada kehidupan orang lain? Lagipula, apa aku harus berteman dengannya dan lantas meretas akun miliknya agar aku punya akses ke dalam PC dan kemudian menjadi dekat dengannya, begitu?”

“Apa hacker melakukan itu?” tanyaku, tersadar jika Taehyung tanpa sengaja telah membuka konversasi mengenai hal yang tadi kubicarakan bersama Baekhyun.

“Hmm, kau juga tahu, aku selalu seperti itu pada kalian berdua. Ingat?”

Aku terkesiap. Ya, benar. Taehyung selalu seperti itu ketika dia peduli dan berusaha melindungi seseorang. Ketika Ashley membuat masalah dengan sosial media miliknya, Taehyung akan segera meretas akun Ashley dan membereskan masalahnya.

Taehyung bahkan beberapa kali pernah meretas CCTV studio tempat Ashley melakukan kegiatan lantaran Ashley mengadu jika dia melakukan hal memalukan yang mungkin bisa merusak imejnya jika orang-orang tahu.

Dia juga mengaku bahwa ia memasang sebuah aplikasi peretas di ponsel Ashley karena Taehyung pikir Ashley akan membuat masalah dengan ponselnya. Ketika aku terjebak dalam situasi sulit karena PC yang rusak atau sejenisnya, Taehyung akan dengan sigap duduk di depan PC dan menyelesaikan masalahku.

“Taehyung-ah…”

“Hmm? Kenapa?”

“Apa semua hacker seperti itu? Apa mereka meretas semua hal yang berhubungan dengan orang didekatnya sebagai cara untuk melindungi orang tersebut? Seperti kau yang meretas akun Ashley, atau kau yang membantuku membenarkan PC ketika terkenal virus?”

Taehyung terdiam sejenak sebelum ia ia menghela nafas panjang.

“Tidak semuanya seperti itu, Jiho. Hanya saja, kami—para hacker—punya pemikiran yang sedikit berbeda dengan orang lain, Jiho-ya. Contoh saja aku, kalau pria lain di luar sana bertingkah romantis dan memamerkan ketebalan dompet mereka untuk menyenangkan orang-orang yang berharga bagi mereka, maka jari-jari ini adalah andalanku.

“Mengawasi Ashley, membantumu, dan membantu perusahaan ayah dengan mengawasi tiap bugs yang ada di dalam sistem online perusahaan, adalah caraku melindungi kalian dan tetap berada di dekat kalian meski tidak disadari.”

Apa Baekhyun juga seperti itu? Apa dia meretas semua hal yang berhubungan dengan hidupku tidak dengan tujuan buruk tapi benar-benar berniat baik seperti yang Taehyung umpamakan mengenai dirinya?

“A-Aku…”

“Kau kenapa?” aku tersadar saat mendengar ucapan Taehyung. Sejenak, ada perasaan takut yang melingkupi batinku saat aku membayangkan kemarahan yang Baekhyun akan luapkan malam nanti jika ia tahu rencana player lain terhadapnya.

Tapi aku juga tidak bisa mengambil resiko dengan mengatakan pada Baekhyun tentang rencana mereka. Aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana cara Taehyung meretas seseorang, atau kapan ia memulai aksinya.

Bagaimana jika saat ini, akun Baekhyun sudah terkena umpan yang Taehyung berikan?

“Aku rasa aku harus segera online.” akhirnya aku berucap.

“Kenapa tiba-tiba? Apa kau ketinggalan pertemuan di Country atau sejenisnya?” tanya Ashley tanpa menaruh curiga.

“Tidak, ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Taehyung menatapku sekilas dengan alis terangkat.

“Kau tampak begitu terkejut karena tahu aku akan meretas Invisible Black. Apa kau salah satu player yang pro terhadapnya? Ashley saja sudah berbelok.” Taehyung berkomentar.

“Kalau memang iya kenapa?” aku membalas ucapan Taehyung.

Ia hanya tersenyum kecil sambil mengedikkan bahu acuh.

“Tidak masalah. Apa aku sudah memberitahumu jika aku hanya tertarik pada uang yang Zeus tawarkan?” tanyanya membuatku terdiam sejenak.

Benar, Taehyung selama ini tidak pernah begitu peduli pada player-player di Country. Awalnya, cukup mengherankan bagiku ketika tahu Taehyung akan ikut dalam rencana player-player itu kali ini.

Jika dipikir lagi, Ashley bagian dari House of Zeus, pasti dia yang memberitahu anggota Countrynya mengenai Taehyung.

“Aku juga tertarik untuk melihat bagaimana battle kalian malam nanti. Yang lebih membuatku penasaran… apa seorang Epic-T berhasil meretas akun Invisible Black?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kudapati diriku kembali masuk ke dalam Witch’s Area milik Wendy—kutemukan maksud dari Witch’s Area, yang berarti sebuah area di dalam stage yang tidak terpengaruh pada apapun yang terjadi di stage tersebut.

Blind spot, agaknya Witch’s Area berfungsi seperti itu.

Wendy tidak terlihat dimanapun setelah ia menyapaku beberapa menit lalu. Aku juga sudah mengirimkan maps pada Baekhyun, dan sekarang aku tengah menunggunya.

Turbulence akan dimulai satu jam lagi, sudah bisa kupastikan Taehyung dan Ashley online demi membahas rencana mereka untuk menyerang Baekhyun kali ini. Aku juga tahu benar Baekhyun benci ketika ia tahu aku membohonginya. Ia mungkin memberi maaf untuk satu atau dua waktu, tapi bagaimana jika ia berpikir aku adalah seorang pembohong?

Ugh, membayangkan kemungkinan bahwa ia akan mendepakku ke dalam black labelnya dan mengbaikanku, menghapusku dari memori yang ada di dalam otaknya, entah mengapa membuatku merasa tidak nyaman.

“Aku ingat kita masih berdebat saat kau tiba-tiba offline.” aku berjengit saat mendengar suara Baekhyun.

Seperti biasa, ia bersandar di salah satu pohon dengan suits gelap miliknya—apa ia memang menyukai warna gelap?—dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan tatapan dingin.

“Maaf?” aku berucap, sedikit mempertanyakan kemungkinan jika saja ia bisa memaafkanku lagi kali ini.

Sejenak, Baekhyun menatapku dengan pandangan dingin yang sama. Sekon kemudian, ia menghela nafas panjang, memutar pandang sekilas sebelum akhirnya melangkah ke arahku—yang terduduk di tanah karena menunggunya.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Beberapa jam lalu kau jelas sengaja offline untuk menghindariku.” tuturnya membuatku segera bangkit dan berdiri menjajarinya.

“Ada yang perlu kubicarakan denganmu, Baekhyun.”

“Soal perdebatan tadi? Atau hal lain?” tanyanya, menatapku dari ujung kepala sampai kaki, seolah berusaha mengawa—apa dia sedang melancarkan aksi meretasnya dengan berpura-pura memasang sikap seperti itu?

“Hal lain, tentu saja. Anggap saja aku offline karena aku kalah denganmu, tadi.”

Senyum samar kulihat muncul di wajah Baekhyun. Ia lantas mengangguk-angguk menerima pengakuan kalahku sebelum netranya kembali bersarang padaku.

“Lalu, apa yang sekarang ingin kau bicarakan?”

Kini, aku yang terdiam. Masih berdebat dengan diriku, tentang memberitahu Baekhyun atau tidak. Aku terlanjur menemuinya, dan ia akan bisa tahu dengan mudah tentang kebohongan yang kulakukan sekarang, atau nanti.

Mulai kupahami, jika obsesiku untuk berada di dekat Baekhyun dan mengenalnya adalah gigitan kecil dari godaan manis yang ia suguhkan padaku. Berhasilnya Baekhyun meretas kehidupanku adalah bukti bahwa aku telah menjelma menjadi seekor tikus putih yang masuk ke dalam perangkap si jenius yang menyuguhkanku keju yang lezat.

Sekarang, seolah tanpa paksaan atau dorongan darinya, aku justru membuat diriku ingin tahu tentang apa yang orang-orang pikirkan mengenai dirinya. Aku benar-benar terperangkap, sementara ia bersikap seolah akulah yang membawa perangkap tersebut kepadanya dan kemudian dengan sukarela masuk ke dalam perangkap itu.

Tapi bukannya berusaha membebaskan diri, aku semakin ingin tahu tentangnya, lagi dan lagi. Ia memberiku seribu pertanyaan yang belum terjawab dan tiap kali kami bertemu, ia menambah jumlah pertanyaan tersebut.

Anggap saja, aku menerima perangkap mematikan ini, dan menikmatinya. Mengabaikan apa yang mungkin terjadi padaku di kemudian hari, biar saja aku semakin membawa diriku untuk mendekat padanya.

Toh, tempat ini tidak nyata. Kami hanya memainkan peran kami di dalam permainan, yang sama-sama tidak kami ketahui bagaimana titik akhirnya.

“Aku datang untuk memberitahumu rencana mereka.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Halo :v kembali lagi kita berjumpa di hari jum’at setelah minggu kemarin Game Over kuskip karena mudik dan bulan Juli ini terpaksa jadi anak kost sebulan ini karena keluarga masih pada mudik sedangkan diri ini home alone :’

Anyway, mau coba-coba enggak nyertain glossarium kali ini ._.v pengen tahu istilah-istilah di Game Over apa ada yang masih diinget sama kalian atau udah pada lupa, LOLOL :v

Btw, maapin kalo mungkin mulai minggu depan Game Over harus dicut jadwal tayangnya jadi Jum’at doang ya :’v karena mood mengetikku sejak Mei kemarin ke NCT terus, tahu-tahu di bulan Juli mood ke EXO kembali (sama kepengen ngetik-ngetik fanfiksi Wanna One juga sih sebenernya) dan akhirnya semangatku buat ngelanjutin fanfiksi-fanfiksi chapterred lainnya juga lagi gas penuh ;v

Sekian dariku, minggu ini terakhir Game Over menyapa dalam dua level ya gaes, semoga fanfiksi astral ini masih mendapat perhatian dari kalian. Thanks for reading, salam kecup, Irish!

P.s: aw aw~ welcome new poster~

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

 

Iklan

28 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH

  1. Dear Irishnim,
    Iyahh, Baek itu memang tipe pair idealku /digampar Jiho/.
    Dan setauku, banyak orang memang bakal fall buat orang yang tau kelemahannya, tapi gak berusaha untuk mengekspos. Yah, itu, kayak si Jiho ke Bak.

    Himneyo,

    Shannon

  2. Salam kenal kak.. Maaf selama ini jadi silent reader.. Gak bermaksud seperti itu tapi apalah daya sinyal di rumah kaya siput.. 😭 BTW kak.. Ff ini adalah ff terkeren, terabsurd, terastral,teraneh, ter ter ter apalah pokoknya.. Lanjut terus ya kak.. Jangan sampe mandek di tengah jalan

    • Mbb ya sayangs :* haloooooo salam kenal juga yaaa, dan maaf karena aku juga baru bisa bales, biasanya sehari2 aku ngetik fanfiksi mulu mau bales komen jadi enggak sempet T.T dan terima kasih banyak karena udah berkenan nyasar ke tengah-tengah cerita astral ciptaankuu

  3. jiho, kam kok ga peka2 sih, pdhl kn udh jelas bgt baekhyun bilang “ingin mengenalmu” OMG baper
    maafkan reader yg baru komen ini

  4. Mantaaaaabbbb
    Chapter ini puaaasss banget bacanyaaaa
    Riiisssh imajinasimu warbiasyaaaaaaa
    Ak gak tau mesti komen apa lagi. Pokoknya semangat yaaa. Buat project yg lainnya juga!!!

    • Mbb ya sayangs :* buakakakakakakakkakakakakakkaka aku ketawa bahagia loh tiap kali ada yang puas sama satu chapter XD wkwkwkwkwkwk makassiiiiiiiiiii

  5. Akhirnya yang di tunggu update juga.. Ending partnya greget, pas lagi seru”nya di potong gitu aja.. Gapapa lah intinya mah udah terobati rindukj sama ini ff wkwkwk.. Semangat lanjut author-nim ^^

  6. KEBAYANG GA SIH COMEBACKNYA TGG 21 DAN SI CABE GA KELIATAN DIMANA DIMANA DAN KAK RISH MALAH MUNCUL TIBA TIBA BAWA NEXT CHAP GAME OVER DI TENGAH LIBURAN H-10 SEKOLAH (ASTAGFIRULLAH BANGET INI) AMBYAR SUDAH DIRI INI KAK RISH

    • Mbb ya sayangs :* KEBAYANG, DIA BANGSAT ABIS SUMPAH, MESKIPUN RAMBUT KAYAK LUPUS TAPI AKU TETEP TJINTAH, SAMPE PENGEN BERKATA KASAR SAKING CINTANYA T.T

  7. Yey update juga akhirnya… Btw pas liat poster jihonya kok mirip yeri jdi keinget one and only *kangen* hehe
    Wahh kak rish mau bikin wanna one jga? Yeee lagi nge stan wanna one juga ni aku utk 2 thn kedepan 😄
    Lanjut terus kak ris.. Fighting!!

    • Mbb ya sayangs :* cieh ada yang kangen cieh XD wkwkwkwkwkwk one and only sudah kembali ke peradaban jadi jangan galau lagi yaahh XD iyes, aku seneng wanna one looohh !

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s