[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married – (Chapter 7)

poster When I Must be Married chapter 7.jpg

When I Must be Married (Chapter 7)

By El Byun

Chaptered

Romance, Comedy, Married Life, Angst, Adult

Rating  (PG-17)

Main Cast:

Baekhyun EXO | Song Hyohwa (OC)

Adittional Cast:

Taeyeon SNSD

Sehun EXO | Song Shimin (OC)

Jinji (OC)

EXO’s member, SNSD’s member and etc

Summary:

Nasib kehidupan pernikahan kami selalu ditentukan oleh orang lain. Tapi perasaan yang kami miliki tidak bisa ditentukan oleh orang lain.

Disclaimer:

FF ini asli dari jerih payah pikiran author. Jika ada kesamaan cerita, alur dan tokoh itu hanya kebetulan. Tidak ada niat untuk meniru atau menjiplak karya orang lain. Sebaliknya, don’t be plagiarsm please! Be good readers! Lanjutan fanfic ini belum pernah dipost di manapun.

Let’s read!!

“Aku pulang ke rumah sebentar. Akhir-akhir ini kondisi appa menurun. Nanti aku pasti kembali. Bye!” pamit Baekhyun sambil mengecup kening Hyohwa sesaat.

“Aku juga mengkhawatirkannya. Hati-hati di jalan.” Sahut Hyo lalu Baekhyun membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil kemudian pergi meninggalkannya sendiri di apartemennya.

Baekhyun yang dilanda kekhawatiran melajukan mobilnya dengan cepat. Ia tak mau permintaan appanya untuk segera datang tertunda. Seminggu yang lalu ayah baekhyun sempat dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung ringan. Ia dirawat kurang lebih 3 hari. Dan sejak kemarin ayahnya tidak diperkenankan beraktifitas berlebih karena kondisi kesehatan jantungnya yang lemah.

@Baekhyun’s Home

“Nde? Apa maksud appa yeoja lain?” Baekhyun mengelak. Ternyata itu salah satu permintaan appanya yang tengah berbaring sakit di ranjangnya. Tn Byun meminta Baekhyun untuk mencari wanita lain untuk menjadi pendampingnya menggantikan hyohwa. Memutuskan berpisah dengan hyohwa saja rasanya berat, apa lagi baekhyun mengganti posisi hyohwa padahal ia tahu sendiri mantan istrinya sedang hamil sekarang.

“Sebenarnya appa kecewa karena batal mendapatkan cucu. Itu semua salah Tn Song yang sok tahu dan berkuasa itu. Aku kesal sekali dengannya.” Ungkap Tn Byun mengungkapkan kekesalannya. Baekhyun sebenarnya kesal. Ia menyesali keputusannya waktu itu. Seharusnya ia lebih egois dengan pernikahannya, bukan malah melepaskannya begitu saja.

“Appa, jangan begitu. Yang memutuskan untuk bercerai adalah aku, bukan salah mereka. Berdoa saja supaya cepat sembuh dan cucu appa datang dengan secepatnya.” Bujuk Baekhyun menasehati. Kenyataan bahwa terjadi kontrak saat terjadinya pernikahannya yang dulu tidak diketahui oleh ayahnya. Bahkan ia rela menyalahkan dirinya sendiri walaupun sebenarnya bukan sepenuhnya baekhyun yang bersalah. Ia yakin suatu hari nanti ayahnya akan menerima cucu darinya dan hyohwa. Tapi bukan sekarang. Ia ingat kesehatan ayahnya mengancam.

“Yeobo, kau jangan begini. Kasihan anak kita. Kau tidak tahu bagaimana rasanya bercerai seperti Baekhyun.” Kini giliran Ny Byun membujuk. Sang eomma sejak awal memang menyayangkan perceraian anaknya. Dalam keluarganya tidak pernah terjadi perceraian seperti yang baekhyun alami. Ia tahu anaknya tidak sebahagia wajahnya sekarang. Perasaan orang tua tidak pernah berbohong. Memang sikapnya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan sering kali tersenyum, namun bukan senyum yang menampakkan kebahagiaan. Tapi senyum yang lebih menyembunyikan sesuatu. Kerutan-kerutan di dahinya lebih mendominasi raut wajah baekhyun saat ini. Ia tahu baekhyun sedang tertekan.

“Baekhyun-ah, kenapa kau tidak kembali pacaran saja dengan Taeyeon? Kau dulu kan pernah menyukainya.” Tiba-tiba permintaan sang appa yang membuat Baekhyun kembali tercekat. Ia diingatkan lagi dengan asmaranya yang telah lalu. Sudah lama baekhyun melupakannya, dan semenjak hyohwa hadir dihidupnya rasanya kisah itu terlupakan. Tapi baekhyun merasa ayahnya akan memaksanya untuk memilih Taeyeon menjadi pasangannya. Ia tahu arah pembicaraan ayahnya akan seperti itu. Sulit saat ia mencoba belajar menerima hyohwa dulu. Waktu itu Baekhyun memang lebih banyak dituntut daripada berusaha sendiri. Walaupun dipaksakan, tetap hyohwa-lah wanita ternyaman saat ini.

“Appa, sebaiknya kau istirahat saja. Aku ingin kembali ke kamarku.” Sulit rasanya baekhyun menjawab pertanyaan appanya, ia mencoba mengelak dengan mengalihkan pembicaraan lalu pergi meninggalkan appanya. Ia tak ingin membicarakan Taeyeon lebih banyak yang akan mengingatkan kenangan masa lalunya. Ia sudah mengunci hyohwa di hatinya.

Chapter 7: “Other Yeoja”

Baekhyun keluar dari kamarnya membawa tas berisi baju tambahan untuk ia pakai di apartemennya bersama Hyo. Tak segan ia juga membawa beberapa makanan dari dapur rumahnya. Mengingat eommanya sering kali menyimpan banyak makanan. Bahkan sejak kecil ia selalu menghabiskan makanan yang disimpan eommanya diam-diam. Dan sekarang ingin rasanya baekhyun mengulang itu lagi.

“Baekhyun-ah, untuk apa kau bawa makanan sebanyak itu??” Tanya sang eomma yang memergokinya di dapur. Sekarang bukan saatnya menjadi anak kecil. Baekhyun terang-terangan mengambil makanan dari dalam lemari. Tentu saja ia tahu tempatnya.

“Aku merindukan rumah, jadi kubawa beberapa baju dan makanan buatan eomma.” Kilah Baekhyun menutupi kenyataan karena makanan itu sebenarnya untuk Hyo yang tengah menunggunya di apartemen.

“Kalau begitu bawalah lebih banyak.” Usul sang Eomma menambah daftar bawaan Baekhyun. Senyuman manis terpasang dibibir baekhyun. Ia begitu menyayangi eommanya di saat-saat seperti ini.

“Gomapta, eomma.” Balasnya.

Kini baekhyun tidak hanya membawa ransel pakaiannya, tapi juga membawa hand bag yang penuh dengan masakan eommanya.

Begitu anaknya akan berangkat, Ny Byun menahannya sesaat.

“Baekhyun-ah! Apa kau masih berhubungan dengan Hyohwa? Maksud eomma berkomunikasi.” Pertanyaan itu seketika menyudutkan Baekhyun, apakah ia harus berbohong atau tidak pada eommanya sendiri?

Dengan sedikit tergagap baekhyun mencoba tenang untuk menjawabnya. “Aku sibuk dengan kegiatanku, mungkin sudah jarang.” Namun kenyataannya ia terus berhubungan baik dengan mantan istrinya itu. Bahkan mereka akan tinggal bersama.

“Eoh, sayang sekali. Padahal eomma merindukannya, serasa memiliki anak perempuan.” Ungkap Ny Byun mendesah.

“Jeongmal?” sahut Baekhyun senang. Seperti mendapatkan kupon, Baekhyun merasa memiliki malaikat yang suatu hari nanti akan membantunya menyelesaikan masalahnya dengan Hyohwa. Tapi tidak untuk sekarang, baekhyun harus menyimpan kuponnya sampai di waktu yang tepat.

Wajah baekhyun kembali termenung melihat tampang memelas eommanya yang begitu khawatir yang tersirat diwajahnya.

“Baekhyun-ah, akhir-akhir ini eomma memikirkan sesuatu. Eomma mohon kau jangan tersinggung…” Bicaranya menggantung membuat anaknya bingung.

“Katakanlah eomma!” Ny Byun terhenyak sesaat. Ia menunggu.

“Apa selama pernikahanmu dengan Hyohwa, kalian pernah berhubungan suami… istri?” Baekhyun tercekat dengan pertanyaan tersebut. ‘Apa-apaan eomma ini? Ini seharusnya privasi’ pikir Baekhyun.

“Te..tentu saja, apa Eomma meragukan kelelakianku? Sebenarnya apa yang Eomma pikirkan, eoh!” Baekhyun benar-benar dibuat salah tingkah hingga ia harus menghabiskan segelas air mineral di tangannya.

“Eomma tidak bermaksud begitu. Begini, beberapa hari yang lalu eomma memimpikan seorang bayi tiba-tiba muncul dari depan pintu rumah. Cahayanya begitu terang tetapi bayangannya gelap dan menyeramkan. Jadi aku takut membayangkannya lagi.” Ny Byun tergidik ngeri sendiri menceritakannya. Baekhyun tak bisa membayangkan apabila yang diimpikan oleh eommanya suatu saat nanti terjadi pada anaknya yang tengah dikandung Hyo.

“Mengerikan sekali. Mungkin Eomma sedang kelelahan jadi memikirkan yang aneh-aneh dan terbawa oleh mimpi.” Baekhyun seperti mendapatkan pertanda. Tapi ia tidak tahu tanda apa itu. Ia mengira eommanya hanya bermimpi buruk biasa saja.

“Jadi, eomma pikir jika saja kalian masih bersama mungkin saja hyohwa….”

“Malam sudah semakin larut, aku sebaiknya pergi. Eomma, jaga dirimu baik-baik dan appa. Aku menyayangi kalian.” Untuk menghindari pertanyaan lain, Baekhyun segera pamit pergi. Baekhyun mencium kening eommanya lalu melambaikan tangan dan pergi. Baekhyun sepenuhnya menghentikan eommanya berbicara tadi. Dalam pikirannya baekhyun takut eommanya memiliki indera keenam yang bisa melihat kehamilan hyohwa sekarang.

@Apartemen

Hyohwa tampak menikmati makanan yang dibawa baekhyun dari rumahnya. “Ya, pelan-pelan saja makannya.” Ungkap Baekhyun khawatir melihat nafsu makan Hyo yang luar biasa itu. Tak sedetik pun ia mengalihkan pandangan dari yeoja tercintanya, bahkan dengan tingkah laku yang tidak bisa dibilang manis. Sesekali ia membersihkan sisa makanan yang belepotan di sudut bibirnya.

“Oppa, kau juga harus mencicipinya, masakan eomma-mu benar-benar lezat. Aa..!” Hyo menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Namja tercintanya. Walaupun sedikit canggung ia berusaha untuk menurutinya. Ini karena baru pertama kali mereka saling suap dan mesra saat makan. Di tengah keromantisan mereka, entah apa yang dipikirkannya Baekhyun mulai menggombal.

“Chagi, kau cantik!” senyum manis terpampang dibibirnya.

“Ne? Jangan membual.” Hyo meremehkan gombalan yang dianggapnya biasa itu dan melanjutkan sesi makan malamnya.

“Kata orang-orang wanita hamil itu lebih sexy, ternyata ada benarnya.” Baekhyun menatap Hyo seduktif dan membuatnya salah tingkah, sesegera mungkin hyohwa menghindar dari tatapan itu. Ia bahkan sudah meletakkan sumpitnya kembali di atas piring sejak baekhyun mengucapkan kata pertamanya.

“Bwo? Apa maksudmu berkata seperti itu dan menatapku?” ditengah hyohwa mengomel, secepat kilat Baekhyun mendekatkan wajahnya tepat di muka Hyo hingga membuatnya tak berkutik. Nafasnya seakan berhenti dan kupu-kupu di perutnya mulai berdatangan.

“Ani, aku hanya ingin memastikan perkataan orang-orang itu tidak berbohong.. Emh..” Hyo tiba-tiba saja membungkam mulut Baekhyun dengan kedua tangannya dan melarikan diri.

“Orang-orang siapa? Andwae! Ya, byuntae!” sementara Hyo celingukan mencari tempat persembunyiannya, Baekhyun berdiri dan melangkahkan kaki pelan untuk menggodanya.

“Kau tak bisa bersembunyi di mana pun di rumah sekecil ini Hyo. Kita bahkan hanya berdua disini.” Goda Baekhyun. Karena tingkah Hyo yang ketakutan dan menggemaskan itu membuat Baekhyun semakin tidak bisa melihatnya menghindar. Dengan sekali tarikan di lengan Hyo, Baekhyun berhasil membopong Hyo ala bridal.

“Eungh.. apa berat badanmu bertambah banyak?” umpat Baekhyun. Padahal ini pertama kalinya ia membopongnya. Hyohwa meronta sekuat wanita hamil yang tidak menghasilkan apapun.

“Oppaa..” rengek Hyo sambil memukul-mukul dada Baekhyun.

“Ck! Diamlah, nanti kau bisa jatuh!” sekali bentakan ia tercekat. Kata ‘jatuh’ itu membuatnya tergidik. Baekhyun menunjukkan smirk-nya lalu mengantar mereka berdua ke kamar. Hyo tampak meronta kecil namun sebenarnya ia pasrah saja, toh apapun yang akan dilakukan Baekhyun padanya di ranjang tidak akan merubah keadaan apapun selain cinta mereka yang semakin besar.

@Morning day

Pagi yang masih gelap, sosok Baekhyun tengah sibuk di dapur menghangatkan air minum. Dengan pakaian seadanya, em… maksudnya dengan kaos longgar dan celana pendek beserta rambut yang masih berantakan. Setengah mati ia merasa cemas karena hal ini ia alami sendiri.

Setelah ia rasa airnya sudah cukup hangat, segera saja ia menuangkannya pada gelas. Langkahnya terburu menghampiri sumber masalah.

“Oppa, kenapa kau meninggalkanku lama sekali?” umpat Hyo kesal dengan wajah yang pucat dan lelah duduk di pinggir tempat tidurnya.

“Mianhae, minumlah air hangat ini!” suruh Baekhyun menyodorkan gelas airnya. Dengan perhatian yang diberikan, Hyohwa menurut saja.

“Apa sudah baikan?” Baekhyun kembali memastikan.

“Ne, gomawo!” mengangguk kemudian menegak habis sisa air pemberiannya.

Situasi seperti ini membuat Hyo teringat kesendiriannya mengatasi mual muntahnya dan saat itu ia hanya bisa menelfon Baekhyun untuk meredakannya. Tapi kali ini berbeda, ia tengah berhadapan langsung dengannya dan mencoba mengatasi masalah bersama.

Dalam keheningan Hyohwa menangis, “Eoh, Uljima! Gwaenchana?” Baekhyun memeluknya. “Ne, nan gwaenchana.” Jawabnya sambil mengusap air mata di balik punggung Baekhyun. “Jinja? Kenapa menangis?” Tanya Baekhyun meragukannya. Hyo mengeratkan pelukannya dan menggeleng.

“Oppa, aku takut kehilanganmu.” Akhirnya keraguan Baekhyun terbukti. Wanita memang memiliki intuisi yang kuat. Terlebih jika mereka sedang hamil. Hyohwa membayangkan bagaimana orang-orang awam di luar sana menghabiskan waktu bersama suami di saat-saat berat kehamilan istrinya. Namun keadaan mereka terasa terjungkir balik. Hyohwa hamil, dan mereka sama sekali tidak terikat pernikahan. Terlebih baekhyun adalah seorang public figure. Tidak mungkin ia terang-terangan mengatakan bahwa ia hamil anak baekhyun, bukan? Di tengah popularitas dan padatnya jadwal EXO, terlebih lagi pekerjaan baekhyun terlalu dekat dengan banyak orang. Hyohwa tidak tahu seberapa dekat baekhyun dengan orang-orang di luar sana. Entah itu pria ataupun wanita. Maka dari itu, ketakutan kehilangan baekhyun menjadi momok besar baginya.

“Demi aegy kita, aku tak akan meninggalkan tanggungjawabku sebagai appanya.” Balasnya. Hyohwa sedikit lega dengan jawaban baekhyun padanya. Setidaknya ia sudah berjanji. Baekhyun melepas pelukannya lalu mengecup keningnya tetapi Hyo justru mempoutkan bibirnya.

“Lalu kapan kau akan bertanggungjawab sebagai suamiku?” tanyanya meragukan kesungguhan Baekhyun. Baekhyun tercekat dan berpikir sejenak. Benar saja, wanita mana yang tidak mengharapkan pinangan dari seorang yang dicintainya? Wajar jika hyohwa menuntut hal itu.

“Kapan kau akan melamarku?” Hyo sudah tak sabar menunggu jawaban.

“Igo, mungkin kita harus mencari moment yang tepat saat…” belum selesai Baekhyun menjelaskan, Hyo bertanya dengan menyilangkan tangannya di dada,

“Onje?” nadanya ketus.

“Setelah liburan ini jadwal EXO padat sekali. Mianhae! Emm… berikan aku waktu 3 bulan, otte?” bujuk Baekhyun sambil menggoyangkan lengan Hyo manja. “Nan yaksokkae!” tambahnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Dengan terpaksa sebenarnya ia malu untuk mengatakan iya, Hyo membalas kelingkingnya. Lagi-lagi, hyohwa tersihir dengan janji baekhyun. Ia terlalu senang berada di dekat baekhyun saat ini.

“Eoh, jam berapa ini?” umpat Baekhyun gelagaban.

Waktu terasa begitu cepat, sekarang sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan matahari sudah menyeruak keluar.

“Aku hampir lupa dengan janjiku bersama dokter Choi.” Gerutu Baekhyun melirik jam dindingnya. Sebenarnya ia sedang memberi tanda pada Hyo.

“Oppa, apa kau sedang sakit?” tanyanya khawatir. Hyohwa menilik wajah baekhyun, siapa tahu sesuatu yang salah menimpa padanya.

“Sakit? Aku tidak sakit.” Jawabnya pura-pura tidak tahu.

“Lalu untuk apa kau ada janji dengan dokter?” Tanya Hyo lagi dengan polosnya. Ia masih belum menyadari kode yang diberikan baekhyun padanya.

“Apa kau lupa dengan janjimu sendiri?” Baekhyun mencoba mengingatkan. Sebenarnya ia akan memberikan surprise, tapi ia tidak tahu ternyata respon hyohwa begitu lamban.

“Jinja?” Hyo memiringkan kepalanya mengingat sesuatu. Memang butuh waktu untuk Hyo mengingat teka-teki yang dibuat Baekhyun.

“Oppa, gomawo!!” teriak Hyo kegirangan dan langsung memeluk Baekhyun hingga ia terkejut. Baekhyun mendesah kecewa, mengingat usahanya untuk memberikan kejutan tidak sesuai dengan ekspetasinya. Tapi ia bahagia karena hyohwa juga bahagia. Begitulah seharusnya yang dirasakan oleh pasangan.

“Eotte? Aku sudah memenuhi janjiku yang pertama.” Ungkap Baekhyun membanggakan dirinya. Namun tidak dengan hyohwa, ia belum puas dengan apa yang dilakukan baekhyun padanya.

“Nde, tapi belum berarti kau sudah menjadi Appa yang baik.” Hyo menyanggah pernyataan Baekhyun sebelumnya.

“Ya, kenapa kau kejam sekali padaku?”

Hyo yang keras kepala itu hanya melengos saja. Baekhyun merasa dipermainkan. Sepertinya usahanya sia-sia kali ini. Baekhyun yang terabaikan beranjak menuju kamar mandi.

“Ya, Oppa! Apa kau akan mandi?” Tanya Hyohwa menebak.

“Nde..” jawabnya santai.

“Gidaryeo, aku ikut..” pekik Hyohwa manja. Ia berlari kecil menghampiri baekhyun yang tengah berdiri terpaku mendengar permintaannya barusan. Baekhyun melebarkan matanya, bahkan ia masih diam saat Hyo menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan pintu di tutup untuk dunia yang lain.

@Hospital

Dengan penyamaran sempurna, mereka berhasil menemui Dr. Choi di ruang prakteknya. Hasil USG menyatakan bahwa bayi yang dikandung Hyo baik-baik saja. Hal ini membuat mereka semakin kegirangan. Bagaimana tidak, ini adalah bagian dari hidup mereka.

“Kenapa kabar gembira ini kalian rahasiakan? Lalu status hubungan kalian ini sebenarnya apa? Ada apa sebenarnya dengan pernikahan kalian?” Dokter yang bermarga Choi dan berperawakan Siwon itu menanyai mereka bertubi-tubi.

“Aish.. Dokter hanya perlu menyembunyikannya saja. Ini urusan kami berdua. Oke?” umpat Baekhyun yang kurang sopan, karena dokter itu yang dikenalnya saat memeriksakan keperawanan Hyo waktu itu.

“Og..” dokter terpaksa mengiyakan permintaannya.

Sebelum mereka pergi Baekhyun mengeluarkan dompetnya dan meminta hasil tes USG-nya.

“Chagi, bolehkah kuminta foto aegy kita untuk kupasang disini?” pinta Baekhyun. Hyohwa dengan mudahnya langsung memberikannya.

“Geurae, dengan begitu Oppa harus lebih giat untuk bekerja. Nde?” Hyo menyemangatinya dengan mengacungkan kepalan tangannya.

“Nde, aku sudah tidak sabar untuk menggendong mereka.” Ungkap Baekhyun dengan penuh keyakinan. Mereka? Yah, karena bayi yang dikandung hyohwa kembar. Kebahagiaan mereka bertambah berkali-kali lipat tentunya.

“Nn Song, Anda harus lebih banyak mengonsumsi makanan berkalsium dan bervitamin, seperti susu, sayur dan buah. Aku khawatir janin Anda yang kecil nanti kalah tumbuh kerena perkembangan mereka tidaklah sama.” Jelas dokter mengingatkan.

“Baik dokter.” Jawab Hyo singkat tak lupa ia memberikan senyum ramahnya.

Mereka mengakhiri kunjungannya dengan jadwal check up untuk 3 bulan ke depan.

Hari terakhir liburan Baekhyun, ia habiskan untuk berdua saja dengan Hyo. Ia terlalu malas untuk berpergian ke suatu tempat, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang bintang besar yang menyembunyikan hubungan gelapnya.

Baekhyun menatap mata Hyo kagum sambil memainkan rambutnya yang terurai di tempat tidur mereka. Kepala baekhyun tertahan oleh telapak tangannya nyaman. Dengan posisi miring baekhyun menikmati pemandangan indah di depan wajahnya. Namun, hyohwa merasakan risih dengan sentuhan yang baekhyun berikan. Untuk mengusir perasaannya yang tidak tenang, hyohwa memulai percakapan.

“Oppa..!” panggilnya. Hyohwa ikut memiringkan badannya menatap baekhyun serius.

“Wae?” Baekhyun membalas tatapan itu. Nafas hangat diterima hyohwa ketika wajah mereka bertemu. Ia teringat masa-masa dimana setelah pernikahan mereka, appanya mengurungnya dengan baekhyun dalam satu atap apartemen. Suasananya persis seperti saat itu, namun sayangnya mereka hanyalah berstatus mantan. Betapa lucunya ia mengingat pertengkaran kekanak-kanakan mereka yang cenderung tidak penting itu. Bahkan seharusnya mereka menggunakan 3 hari berharga mereka dengan baik. Hingga malam pertama yang gagal, itu adalah moment yang paling menggelikan baginya.

“Apa kau tidak bosan begini terus?” Tanyanya heran. Manik mata mereka bertemu dengan tenangnya. Namun tiba-tiba baekhyun memberikan smile eyes miliknya karena ia merasa pertanyaannya begitu lucu.

“Bosan? Kenapa aku harus bosan menatap wanita yang sangat aku cintai?” Baekhyun mulai menggombal. Entah kenapa walaupun hyohwa merasa gombalan baekhyun ini begitu murahan tapi dia menyukainya.

“Cheh..engh,…” umpat Hyo sembari melenguh. Sesuatu sedang bersentuhan di bawah sana. Bukan, bukan itu… readers Byuntae!!

Kedua kaki Hyo dikunci oleh kaki Baekhyun dan dijadikannya guling, ia sedikit sensitive ketika kaki pria ini mulai nakal dengan menyentuhnya secara intens.

“Bwo, jangan menatapku seperti itu dan hentikan yang kau lakukan sekarang!” pinta Hyo yang merasa di sudutkan dengan tatapan seduktifnya.

“Wae?” balas Baekhyun menguji ketangguhan lawannya, baekhyun tidak ingin melepas hyohwa begitu saja. Tangan-tangan lentiknya mulai meraba pinggul wanitanya yang tertutup celananya hotpants. Dengan sentuhan halus itu, membuat tubuh hyohwa meremang luar biasa. Beberapa kali pori-pori kulitnya membesar ketika baekhyun mencapai syaraf sensitifnya. Pelan, namun begitulah seharusnya sang pria lakukan untuk menggoda wanitanya. Baekhyun tersenyum geli melihat ekspresi hyo yang berubah-ubah, bahkan terkesan menggoda. Ia tahu sebentar lagi ia akan menjadi pemenangnya.

“Itu.. itu.. emmh..” kata-kata Hyohwa tertahan. Ia menggigit bibirnya sendiri, terasa sentuhan baekhyun begitu menyiksanya. Ia merasakan benda asing menyentuh permukaan perutnya, jari-jari baekhyun sedang bergerilnya mencari tonjolan di bawah pusarnya. Ia tahu apa yang dicari baekhyun. Walaupun kehamilannya baru menginjak 3 bulan alias 12 minggu, tonjolan perut hyohwa bagian bawahnya memang lebih besar. Ingatlah, anak mereka kembar. Ruangannya harus luas bukan?

“Itu? Apa kau sudah menyerah?” Baekhyun memastikannya lagi.

Secara otomatis mata Hyo terpejam saat Baekhyun mendekatkan wajahnya. “Santailah hyo, demi aegy kita!” Ia mengaku kalah kali ini. Hyohwa tidak bisa berkutik, ia di bawah kendali baekhyun lagi. Hey, ini masih siang bolong!

Kebersamaan mereka tidak bertahan lama. Bahkan malam harinya Baekhyun harus kembali ke Dormnya. Melanjutkan tugasnya sebagai member EXO dengan skenario kesibukan yang menunggunya.

~~~

Setelah perpisahan selama lebih kurang 2 bulan, keromantisan mereka tidak berwujud lagi. Hyo tidak bisa menghubungi Baekhyun selama hampir 3 minggu lamanya. Dia hanya bertahan menunggu didampingi oleh sahabatnya Jinji. Hari-harinya hanya ditemani oleh jinji. Walaupun tidak setiap hari dan juga tidak setiap saat. Karena memang sahabatnya memiliki kepentingan pribadinya sendiri di luar tugasnya menemani hyohwa.

“Ya, apa Oppa lupa mengirim uang bulan ini? Aku tidak bisa menggunakannya saat berbelanja di apotik tadi. Jadi terpaksa kugunakan uangku sendiri.”

Gerutu Jinji sembari memilah barang belanja yang ia bawa di meja dapur. Setiap minggu, kadang 2 hari sekali jinji berbelanja untuk kebutuhan sahabatnya. Kadang-kadang jika sembakonya habis, jinji menyempatkan diri meninggalkan aktivitas hariannya untuk membeli. Bahkan jika sampai larutpun ia melakukannya. Kadang-kadang dia juga menginap, itupun jika ia sempat. Karena setiap hari hyohwa selalu merengek untuk ditemani. Tapi kembali lagi pada aktivitas real life-nya jinji terpaksa menolak ajakannya.

“Molla.. Mian Jinji-ya, aku berhutang padamu.” Ungkap Hyohwa merengek seakan ia sudah menyerah dengan janji baekhyun yang ditawarkan padanya. Ia duduk manis di kursi pantry memperhatikan jinji yang sibuk.

“Wae? Apa dia tidak bisa dihubungi lagi?” tanya Jinji jengah dan Hyohwa hanya menggeleng.

“Jinja? Oppa keterlaluan sekali. Apa susahnya hanya menelfon atau sms?” Umpat Jinji kesal.

“Mungkin dia benar-benar sibuk.” Balas Hyo santai. Sebenarnya hatinya sakit, ketakutan akan kehilangan baekhyun muncul lagi. Dan hal itu membuat nafsu makan hyohwa sedikit berkurang akhir-akhir ini. Untuk mengatasi kekhawatirannya, Hyohwa mulai membantu jinji untuk membuka barang belanjaannya.

“Bagaimana kau bisa se-santai itu?” Tanya Jinji kesal dengan sikap sabar sahabatnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Pergi ke dorm dan memarahinya?… “ Hyo menunda perkataannya dengan menunjuk-nunjuk perutnya yang buncit. Jinji hanya diam memandang Hyohwa iba.

“Mereka akan tahu aku wanita murahan dan EXO akan dimasukkan daftar hitam oleh fans.” Lanjut Hyo dengan nada tinggi. Ia sadar, posisinya benar-benar tidak nyaman saat ini. Ia sungguh lebih mengkhawatirkan pamor baekhyun daripada dirinya sendiri.

“Mianhae, tapi aku kasihan padamu. Lihatlah, sikapmu benar-benar seperti seorang simpanan. Diabaikan setelah dimanfaatkan, lalu mereka mencari lagi saat dibutuhkan.” Jinji benar-benar menjadi saksi hidup kisah mereka. Ia sahabat yang baik, tapi terkadang kata-katanya sedikit pedas.

“Kau benar. Aku benar-benar bodoh Jinji-ya. Mianhae..” ungkap Hyo menyesal. Ia membenarkan semua perkataan sahabatnya.

“Sudahlah, aku akan membantumu. Kkok jeongmal.” Balas Jinji menggenggam tangan Hyo untuk menguatkan hatinya. Hyo membalasnya dengan tersenyum agar sahabatnya juga tidak mengkhawatirkannya lagi.

“Gomawo”

Dua wanita ini berjuang untuk menjaga rahasia sang bintang. Tapi, di manakah sang bintang berada? Dan apa yang sedang ia lakukan? Kenapa ia tidak menghubungi kekasih hatinya?

~one month before~

“Hyung, apa kau yakin dengan keputusan ini?” Tanya salah seorang temannya.

“Ya, bagaimana dengan Hyo? Apa dia diberitahu?” seorang lagi memojokkannya.

“Molla..” jawabnya resah.

Seorang wanita paruh baya mendekati mereka dan menarik baekhyun keluar.

“Baekhyun-ah, mereka sudah datang. Ayo temui mereka!” ajak eomma Baekhyun.

“Eomma, aku…” belum selesai Baekhyun menjawab, tangannya di tarik menjauh dari gerombolan itu.

“Aigoo, jangan kecewakan tamu istimewa kita. Hormati appa-mu yang menginginkan hal ini.” Ungkap eomma Baekhyun.

Sebuah acara sederhana dan tertutup, bahkan tanpa pers. Ini adalah permintaan khusus appa baekhyun karena keinginan yang tertunda dari orang tuanya. Mempunyai seorang menantu dan cucu dari baekhyun. Yah, appanya memaksanya untuk bertunangan dengan salah satu mantan kekasih Baekhyun, Taeyeon. Mereka ingin pernikahan ini tidak main-main dari sebelumnya dilakukan. Baekhyun ingin sekali menolak, tapi sungguh melihat keadaan ayahnya sekarang penolakan itu rasanya tertelan kembali.

“Ommo, neomu yeppo. Ya, kau seharusnya tidak menyia-nyiakan gadis secantik dia.” Ungkap sang eomma kegirangan.

Taeyeon datang bersama kedua orang tuanya. Acara pertunangan ini diadakan di kediaman Tn Byun. Taeyeon memang benar-benar anggun dengan dress malam merah mudanya. Lekukan pinggulnya bahkan menukik menunjukkan kemolekan tubuhnya. Semua orang memang mengelu-elukan kecantikan wanita ini. Tapi entah kenapa baekhyun malam ini tidak melihat hal itu. Padahal dulunya ia sungguh mengagumi wanita ini. Benar-benar seperti pasangan yang sedang kasmaran. Kegiatan pacaran mereka bahkan menjadi sorotan publik. Akhirnya netizen berulah hingga menekan taeyeon dan baekhyun untuk segera putus. Taeyeon benar-benar tertekan saat itu. Dan akhirnya mereka berpisah, sehingga mereka memiliki hubungan yang canggung sekarang.

“Khamsahamnida, eommoni.” Balas Taeyeon anggun. Sambutan hangat keluarga Byun diterima baik oleh orang tua taeyeon.

Baekhyun hanya diam dan gelisah. Di detik-detik sakral ini ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Di dalam hati baekhyun ingin menolak, tapi di sisi lain ia tidak ingin appa-nya collapse lagi.

“Cepat saja acara ini dimulai, hari sudah semakin larut. Hehe.. selamat datang.” Appa menyambut keluarga Taeyeon dengan sedikit bergurau.

Akhirnya Baekhyun dan Taeyeon bertukar cincin tunangan mereka. Baekhyun tampak tidak tenang, ia terus mengecek handphone-nya. Seharian ia tidak menghubungi Hyo, ia mengkhawatirkan keadaannya, apalagi perasaannya jika ia tahu hal ini. Hingga sampai berminggu-minggu lamanya Baekhyun tidak berani menghubungi Hyo lagi. Ia tak sampai hati pada Hyo setelah pengkhianatan yang ia lakukan.

Flashback end

@Dorm’s EXO

Tampak Do, chanyeol, dan baekhyun sedang bersantai di ruang tv setelah menyelesaikan sesi latihan mereka. Jadwal mereka padat dengan show sehingga sampai selarut ini mereka baru menyelesaikan konsep baru untuk kreasi dance mereka yang akan datang.

“Ya, kita beli buble tea di persimpangan jalan kompleks ini. Otte?” ajak Do.

“Geurae, aku titip saja.” Ungkap Chanyeol tersenyum licik.

“Aish, kau ini. Lalu siapa yang akan menemaniku?” umpat Do merengek. Lalu Baekhyun berdiri diantara mereka.

“Aku akan pergi denganmu.” Ungkapnya datar dan santai.

“Kajja!” ajak DO bersemangat dengan menggandeng tangan Baekhyun untuk mempercepat langkahnya.

Diperjalanan, Baekhyun memperhatikan sebuah tempat, tempat yang tidak asing. Sebuah apartemen cinta miliknya. Baekhyun merindukan saat-saat bersama hyo di apartemen itu. Bayangan-bayangan bahagia kebersamaan mereka terlintas di memorinya. Ia merindukan wanitanya, dan juga merindukan aegy-nya.

“Wae, ada apa kau memandangi tempat itu.” Tanya DO penasaran.

“Eobseo, aku hanya lupa untuk pergi ke ATM.” Jawab Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

Karena terus memikirkan pertunangannya yang tidak ia kehendaki itu, Baekhyun lupa untuk mengirim uang untuk keperluan Hyo pada jinji.

Dalam perjalanan pulang, Baekhyun mengajak DO untuk berhenti di apartemen. “Chakkaman, aku ingin memberikan ini untuk seseorang.” Ungkap Baekhyun. Ia menyuruh DO menunggu di lobby.

Baekhyun benar-benar pria payah, dia tidak memberikan bungkusan buble tea itu langsung pada orangnya. Ia menaruhnya di bawah pintu dan berharap seseorang yang tinggal di sana baik-baik saja.

“Nan bogoshipda, aegy. Gwaenchana, eoh?” ia hanya bisa bergumam sendiri.

Akhirnya ia meninggalkan pintu itu dan menemui rekannya di bawah. Berat hati ia meninggalkannya. Ia sungguh rindu, rindu sekali. Ingin rasanya membuka pintu itu dan berhambur ke pelukan wanitanya. Mengelus perutnya dan mendengarkan ocehan bayinya yang belum bisa bicara itu. Baekhyun hanya membayangkan seberapa besar bayinya sekarang, mengingat ia sudah lama tidak berjumpa dan menyapanya. Desahan keras terus didehamkan pria berleher jenjang itu. Jiwanya seperti tertinggal di sana, namun kakinya memaksa raganya untuk pergi.

“Kajja..” tidak sengaja Baekhyun mengagetkan DO yang sedang asik bersandar menunggunya.

“Ya, kau mengagetkanku. Memangnya siapa yang kau kunjungi?” Tanya DO masih penasaran.

“Eobseo..” lagi-lagi ia hanya bisa menjawab itu.

“Ya, apa orang yang kau temui itu namanya ‘Eobseo’? Apa dia tidak punya nama lain?” umpat DO kesal.

“Ya, aku benar-benar tidak menemuinya. Aku hanya meninggalkannya di sana. Namanya bukan eobseo. Eobseo, ya artinya bahasa korea. Pabbo.!” Ungkap Baekhyun kesal.

“Aku hanya kesal kau terus menjawabnya dengan kata itu. Kau memberikan Buble tea pada seseorang, tapi seseorang itu tidak ada. Mana mungkin aku tidak penasaran?” Balas DO kesal juga.

“Diamlah, ini hanya rahasia kita. Ok?” pinta Baekhyun memaksa.

“What ever!!!” celetuk DO lebay.

@Apartemen

Hyo dengan perut besarnya bangun dari tempat tidur, ia merasa ada seseorang yang hadir di sekitarnya.

“Perasaan apa ini?” gumam Hyo. Dia berjalan mendekati daun pintu apartemennya. Dilihatnya di lubang pintu, namun tidak kelihatan. Karena penasaran ia berniat untuk membuka pintu. Begitu pintu dibuka, tak ada siapapun yang berada di sana.

“Eoh?” desahnya kecewa. Ia merasa kesepian sekarang. Jinji hari ini tidak bisa menemaninya karena mengerjakan tugas kelompok. Hey, hyohwa bahkan telah meninggalkan kuliahnya. Memang sebelum ia pindah, hyo melayangkan surat cutinya ke kampus.

“Bwo-nde?” Hyo tidak sengaja melihat kebawah dan menemukan sesuatu.

“Buble Tea??” ia penasaran dengan temuannya. Dibawalah masuk minuman itu dan membuka bungkusannya mencari petunjuk.

Aegy, Appa merindukanmu. Cobalah buble tea ini, kau pasti menyukainya. Mianhae!

Seutas senyuman mengiringinya menyelesaikan membaca tulisan itu. “Bwo, apaan ini? Kenapa dia tidak menemuiku saja sekalian?” ekspresi bahagia itu seketika berubah ekspresi kesal. Drrtt.. Drrtt.. ponsel Hyo berdering.

<Jinji>

“Yeobseo?” sahut Hyo.

“Daebak, Oppa mengirimkan banyak uang untuk kita.” Teriak Jinji kegirangan.

“Jinja?” Hyo memastikan informasi itu.

“Og, aku baru saja mengeceknya. Dugaanku ternyata salah. Mian Hyo!” Jinji mengungkapkan penyesalannya.

“Nde, tidak semuanya kau salah. Gwaenchana. Kau tahu, aku baru saja menemukan Buble Tea di depan pintu. Kurasa itu dari Oppa, karena aku menemukan sepucuk pesan.” Hyo menceritakannya pada sahabat terbaiknya.

“Jinja?.. tapi kenapa oppa masih belum menemuimu?” Tanya Jinji sangsi.

“Molla, kuharap tidak ada masalah besar yang menimpanya.” Ungkapnya pasrah. Sebenarnya hyohwa mencurigai baekhyun sedang menutupi masalahnya sekarang.

“So Poor, my friend. Nanti malam aku akan datang membawa makanan yang enak untukmu, tunggu aku!” Pesan Jinji dan pada akhirnya menutup telepon.

“Eo..” Hyo juga menutup sambungannya.

Hyo mengendus kasar, “Apa yang sebenarnya pria itu (Baekhyun) lakukan padaku? Hubungan ini semakin tidak jelas saja. Eotteokhae?…. Aish!!!” ia kembali mengacak rambutnya kasar. Hyo mengecek kembali ponselnya. Ia melihat jadwalnya minggu ini dan terhenyak sejenak. Lalu tercengang kemudian.

“MWO?? Aku tidak sadar sudah secepat ini.” Teriaknya lalu bergumam sendiri.

@Dorm EXO

Baekhyun tampak mengistirahatkan dirinya pada kasur empuk miliknya. Dia sedang bermain dengan ponselnya, terutama pada kotak masuk pesannya.

<eomma>

-Baekhyun-ah, akhir pekan ini kau harus ikut kami mengantar abojhi-mu check up di rumah sakit. Sekali saja, ia pasti senang.-

Baekhyun mengernyit membaca pesan itu. Keragu-raguan tampak di wajahnya.

-Nde, eomma.- Akhirnya baekhyun meng-iyakannya.

-Kau sudah mengecek jadwalmu?-

-Nde. Aku akan datang.-

-Istirahatlah!-

-Eomma juga istirahatlah. Kau pasti sangat lelah-

Baekhyun mengganti posisi tidurnya. Tak lupa ia melihat dompetnya seperti biasa. Di keluarkannya selipan yang selama ini disembunyikannya. Memandangnya saja, namun sesaat hatinya tampak damai dan tenang seperti mendapatkan obat rindu.

“Baekhyun-ah!” seseorang meneriakinya dari arah pintu. Tidak salah lagi, pasti Chanyeol.
Dengan terburu ia menyembunyikannya di balik bantal.

“Wae?” sahutnya.

“Ku dengar kau bertemu dengan ‘Eobseo’ hari ini. Siapa dia?” lagi, pertanyaan konyol itu.

“Bwo?” sahut Baekhyun tidak percaya.

“Nde, kau mau selingkuh dari Taeyeon kan? Mengaku sajalah!” tuduhnya

“Apa maksudmu? Selingkuh? Sebaiknya kau pahami dulu kata-katamu itu, jangan asal menuduh!” Tanggapan Baekhyun terdengar kasar.

“Bwo? Apa maksud… mu?” Tanya Chanyeol lagi tidak yakin. Dia bingung, seharusnya dia yag marah karena baekhyun menyembunyikan sesuatu darinya, tapi justru chanyeol-lah yang dimarahi. Ini benar-benar membuatnya aneh.

“Diamlah dan istirahat. Apa kau tidak lelah?” Suruh Baekhyun yang menghiraukan pertanyaannya. Dengan tenang, Baekhyun memposisikan dirinya untuk tidur kembali. Ia tak ingin berdebat dengan masalah ini. Apa lagi kalau sampai dia keceplosan mengatakan bahwa hyohwa-lah yang tinggal di sana. Dan hal itu justru membuatnya dalam posisi yang sulit.

@Pagi hari

Suasana pagi yang cerah walaupun udara sudah mulai dingin karena beberapa minggu lagi akan memasuki musim dingin dan bersalju. Kondisi dorm tampak seperti biasanya, ramai. Hari ini sangat spesial, para member SNSD berkunjung ke dorm EXO. Tak ketinggalan, Taeyeon, tunangan Baekhyun juga ikut meramaikan suasana.

“Ciiiyyeeeee… hahaha..” teriakan dari banyak orang diterima oleh pasangan Baekhyun dan Taeyeon.

“Ya, hentikan!” hanya kata itu yang bisa diucapkan untuk menghentikan mereka.

“Aku dengar bulan depan kalian akan mengumumkan pertunangan kalian? Benarkah itu?” Tanya Tiffany memojokkan pasangan itu.

“Nde.” Jawab Taeyeon dengan malu-malu. Baekhyun bahkan hanya tersenyum kaku mendengarnya.

“Ya, lalu kapan pernikahan kalian?” Suho menambahi daftar pertanyaan privasi mereka.

“Mungkin setelah tahun baru. Benarkan Oppa?” jawab Taeyeon sembari bertanya.

“Nde, mungkin saja.” Jawab Baekhyun tersenyum getir.

“Bwo, apa maksudmu Hyung?” Tanya Sehun yang masih belum paham. Sebagai suami dari saudara mantan istri rekannya, ia merasa tidak adil dan ragu dengan rencana pernikahannya.

“Ya, mungkin saja setelah tahun baru atau mungkin dipercepat. Haha..” celetuk Kai girang kemudian mendapat hujatan dari member lain.

“YA.. YA..!” akhirnya Kai mendapatkan imbasnya dengan dilempari makanan oleh rekan-rekannya sendiri.

Saat kebersamaan mereka selesai, Sehun menemui Baekhyun yang sedang sendirian di balkon atap gedung itu. Baekhyun tengah menikmati indahnya langit malam penuh bintang sebelum awan dan salju menutupinya

“Hyung!” panggil Sehun. Baekhyun tercekat dan menoleh ke arahnya. Seolah tidak perduli baekhyun kembali melempar wajahnya ke langit-langit.

“Wae?” sahut Baekhyun dengan santai sambil menyeruput kopinya.

“Apa sebenarnya maksud perkataanmu tadi?” Tanya Sehun to the point.

“Bwo, perkataanku?” Baekhyun memperjelas pertanyaannya.

“Nde, ini tentang pernikahanmu. Tadi kau bilang ‘mungkin’ dengan ekspresi seperti tadi. Apa kau tidak serius dengan Taeyeon.” Sehun memperjelas pertanyaannya dan terus memojokkan Baekhyun.

“Heh…” ia hanya menunjukkan smirk-nya.

“Hyung, jawab pertanyaanku atau aku bertanya tentang hal lain yang menyangkut kakak iparku?” ancam Sehun geram. Ia merasa sesuatu sedang disembunyikannya.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Kau begitu perhatian padaku?” Baekhyun masih terheran dengan sikap Sehun padanya.

“Sebenarnya banyak sekali kecurigaanku yang selama ini aku simpan. Shimin juga terus mendesakku.” Ungkap Sehun yang masih penuh dengan teka-teki.

“Jinja?… aku…” belum selesai Baekhyun menjawab seseorang memanggilnya.

“Oppa, kemarilah.” Tiba-tiba Taeyeon muncul dan memecah sesi tegang mereka. Baekhyun terselamatkan karena ajakan Taeyeon. Ia menurut saja dan pergi meninggalkan sehun. Akhirnya pembicaraan Sehun tertunda untuk sementara. Ia tidak sabar ingin memastikan sesuatu.

~~~

Hari ini Hyo tengah bersiap, ia akan pergi ke rumah sakit untuk menjalankan misi penting. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Walaupun harus sendirian, ia akan menyamar seperti biasanya.

“Aigoo, aku benar-benar akan mengatasi ini sendirian.” Ia mengendus kasar.

Hyo sudah siap berangkat dengan busana serba hitam andalannya. Mantel yang menutupi seluruh badannya, walau hanya sampai bawah lutut tapi mantel ini cukup membantu karena area perutnya tidak terlalu kentara. Masker dan rambut terurai untuk menyamarkan wajahnya.

“Baiklah, aku akan datang dokter.” Ia menyeringai sejenak memantapkan dirinya.
ia berangkat dengan mengendarai taksi yang sudah ia pesan.

@Hospital

“Baekhyun, tolong bantu Abojhi-mu berjalan. Tangga rumah sakit ini terlalu curam.” Pinta sang eomma. Mereka sampai di pintu masuk. Baekhyun kukuh dengan seragam penyamarannya.

“Nde.. hati-hati abojhi.” Ungkapnya sambil memegangi lengan ayahnya sabar.

Di sisi lain parkir mobil keluarga Byun, datanglah sebuah taksi. Taksi itu ditumpangi oleh Hyo, tetapi mereka tidak mengetahuinya karena sedang sibuk memperhatikan Tn Byun. Akhirnya Hyo berjalan duluan masuk ke dalam rumah sakit menuju klinik kandungan.
ini adalah jadwalnya yang kedua di usia kandungannya yang sedang berjalan 6 bulan. Walaupun tengah memasuki masa-masa berat, Hyo tetap santai. Baekhyun dan keluarganya tengah melakukan pemeriksaan untuk Tn Byun. Kebetulan klinik mereka berseberangan lorong.

“Eomma, berapa lama biasanya abojhi melakukan pemeriksaan?” Tanya Baekhyun yang sepertinya sudah sedikit jenuh untuk menunggu.

“Mungkin sekitar 1 jam. Banyak tes yang harus di jalani Appa-mu. Kau tahu sendiri, akhir-akhir ini kondisinya semakin lemah.” Ungkap Ny Byun menjawab kegelisahan anaknya.

“Eoh…” baekhyun memasang tampang bahagia, namun dalam hatinya bergejolak mengkhawatirkan sesuatu. Sejenak kemudian eomma Baekhyun pamit untuk membeli sesuatu di apotik.

“Eomma akan pergi ke apotik sebentar.”

“Eoh, tapi untuk apa? Hasil tes appa bahkan belum keluar.”

“Hanya untuk membeli vitamin, stok eomma di rumah sudah habis. Sebaiknya kau berjaga di sini.” Jelas sang eomma.

“Ne..” jawab Baekhyun mematuhinya.

Di apotik terlihat ramai sekali, banyak orang mengantri untuk membeli obat. Setelah mengambil kupon antrian, Ny Byun duduk di salah satu bangku yang kosong di dekatnya.

“Aigoo, antriannya akan lama sekali.” Gumamnya.

Ia melirik salah seorang pengantri di sebelahnya. Dia memperhatikannya dengan seksama. Kecurigaannya mulai muncul.

‘Aigoo, kenapa ke rumah sakit menggunakan pakaian yang seperti ini. Seperti orang yang sedang menyamar.’ Pikirnya dalam hati. Objek yang ia amati ini tidak melihat ke arahnya, jadi ia tidak bisa mengenalinya dengan baik. Bahkan maskernya membuat matanya setengah tertutup.

‘Omo, sepertinya wanita ini sedang mengandung. Perut dan cara duduknya benar tidak bisa ditutupi. Apa dia anak muda yang hamil di luar nikah? Kasihan sekali. Sampai disembunyikan seperti ini.’ Gumam Ny Byun dalam hatinya.

Antriannya sudah selesai, ia berjalan menuju klinik suaminya. Setelah setengah perjalanan, ia baru menyadari bahwa wanita tadi yang duduk disampingnya sedang berjalan ke arah yang sama di depannya. Ia tampak sedang memegang ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ny Byun mengikuti alurnya. Sesaat sebelum ia sampai, ia mendapatkan pesan.

Drrtt.. Drtt..

-Eomma, aku pergi sebentar. Jangan khawatir, aku akan segera kembali.-

Di depan ia melihat wanita itu bertemu dengan seorang pria, bermasker pula. Perasaannya sedikit janggal melihatnya. Bukan karena kecurigaannya hamil di luar nikah, tetapi lebih pada pria yang berada di sampingnya.

“Omo, pria itu terlihat seperti Baekhyun. Andwae!… tidak mungkin? Itu tidak mungkin anakku kan? Eohh…” gumam Ny Byun meyakinkan dirinya. Mana mungkin seorang ibu tidak mengenali anaknya sendiri.

@sebelumnya

Baekhyun mengacak ponselnya gugup. Ia tak punya kegiatan selain menunggu. Bahkan eommanya sudah pergi meninggalkannya selama 30 menit.

“Membosankan! Kapan ini akan selesai. Aku menyesal telah melakukan cara ini demi menemui Hyo. Aish!!” gerutu Baekhyun kesal.

Drtt.. drrtt..

<Mrs B>

-Aku sudah di RS. Chakkamannyeo, aku sedang mengambil vitaminku. Aku takut nanti lupa mengambilnya setelah pemeriksaan.-

Pesan itu membuatnya kesal sekaligus gemas. Bagaimana tidak, ia merasa dirinya diduakan daripada vitamin.

-Ne, lakukanlah sesukamu.-

-Boggopa?- Tanya Hyo apakah ia sudah makan.

-Ajik. Eoh, perutku!! Palliwa…- Baekhyun beralasan. Ia sudah tidak sabar menemuinya.

-Ne?? Jangan membodohiku.- Balasnya sengit.

-Bwo? Awas kau!!!- ancam Baekhyun. Sejenak tidak ada balasan. Baekhyun semakin resah. Ia berniat untuk mencari keberadaannya.

To <eomma>

-Eomma, aku pergi sebentar. Jangan khawatir, aku akan segera kembali.-

Baekhyun mengirim pesan pada Eommanya untuk pergi. Tak lupa ia mengenakan masker penyamarannya seperti biasa ia lakukan ketika berada di tempat umum.

-Eodiga?- Tanya Baekhyun lewat sms.

-Aku akan sampai.- Balas Hyo. Waktu itu ia tidak sadar kalau di belakangnya hadir Ny Byun.

“Oppa!!” sapa Hyo ketika bertemu dengan Baekhyun. Ia membalasnya dengan melambaikan tangan lalu memeluk Hyo dipundaknya,

“Eoh. Tubuhmu semakin berotot.” Ungkap Baekhyun merasakan sentuhannya.

“Kau mau mati? Jangan mengejekku.” Balas Hyo tak terima. Ia memukul dada Baekhyun kesal.

“Hajima! Hyohwa-ssi..” Baekhyun mencoba merajuk. Mereka berdebat sembari menuju ruangan dokter spesialis kandungan.

Ketika di dalam ruang pemeriksaan, Hyo mendapat perlakuan tidak menyenangkan (menggelikan) dari Baekhyun. Saat itu Hyo sedang USG kandungannya. Seperti biasa, Baekhyun mendampinginya di dalam. Tentu saja dengan dokter.

“Ya, apa maksudmu berkata seperti itu?” celetuk Hyo tidak terima.

“Permisi, bolehkah….” Dokter ingin menengahi perdebatan ini.

“Geurae, kau memang akan sulit kembali langsing seperti sebelumnya.”

“Neo! Aish.. benar-benar menyebalkan. Aku akan kembali seperti sebelumnya, arrasseo!” bentak Hyo kesal.

“Ah, ye. Sudah, tak perlu berdebat lagi. Kapan kita akan mulai USG kalau kalian tidak bisa diam. Keumanhaera!” Dokter benar-benar jengkel dengan kelakuan mereka.

“Nde..” akhirnya mereka mengerti dan mematuhi perintah sang dokter.

Pemeriksaan USG sudah menjadi jadwal rutin bagi wanita hamil, termasuk Hyo. Hamil, tidak menuntut seseorang itu harus menikah atau tidak, bukan? Seperti halnya yang mereka berdua lakukan saat ini. Walaupun dalam hukum hubungan mereka ilegal, namun tetap mereka jalani.

“Geurae, kau bisa lihat kondisi keduanya sangat sehat. Walaupun memang yang satu ini kurang mendapat asupan yang cukup. Mungkin karena harus berbagi ruangan. Jadi..” Jelas sang dokter panjang lebar.

“Apa maksud perkataanmu dokter?” Tanya Hyo yang masih belum mengerti.

“Igo, kau harus banyak makan yang bergizi seperti sayuran dan vitamin yang cukup. Rahimmu kurang lentur untuk wanita yang hamil bayi kembar. Arasseo? Dan lagi…” jawab sang dokter lebih spesifik.

“BWO? Dokter menyuruhku untuk lebih gemuk lagi? Berapa banyak nanti aku menurunkan berat badan setelah melahirkan, eoh?” gerutu Hyo tidak setuju.

“Arra, aku setuju denganmu dokter.” Sahut Baekhyun.

“Bwo??” Hyo tercengang.

“Geurae. Chagiya, kenapa kau keras kepala sekali. Kau lebih mementingkan dirimu sendiri dari pada bayimu? Jadi, aku minta padamu untuk menjaganya. Ne?” pinta Baekhyun halus. Setelah lama ia pergi, baekhyun kerap mengkhawatirkannya.

“Kenapa kau tidak mengandung bayimu sendiri. Kau juga keras kepala mementingkan dirimu sendiri, eoh?” Hyo menyanggah. Semenjak ditinggal baekhyun rasanya hyohwa ingin mengunggkapkan kekesalannya. Sekarang mereka bertemu, dan hyohwa tidak ingin menyimpannya lagi. Hubungan yang tidak jelas dan terkesan ditarik ulur ini membuatnya jengah.

“BWO?” Baekhyun terkejut.

“Ya, kau tahu. Berapa lama kau meninggalkanku? Kenapa kau mengabaikanku dengan tidak menghubungiku? Kau tak ada kabar dan aku kalut sendiri, arro?” Hyo seluruhnya menyalahkan Baekhyun. Dan memang benar baekhyun yang bersalah. Ia mengkhianati hyohwa dengan bertunangan dengan wanita lain dan menyembunyikan status barunya itu. Mengabaikan hyohwa dan anaknya karena ketakutan akan menyakiti mereka seperti pria pengecut.

“Mianhae, keugae…” Berat bagi Baekhyun untuk mengatakannya.

“Neo? Aku curiga sesuatu terjadi padamu? Marhaebwa!” tuduh Hyo.

“……” tak ada respon.

“Bwo, kau tak mau menjawabnya? Aish, jinja..” umpat Hyo kesal. Karena kesal Hyo beranjak dan akan membuka pintu keluar ruangan dokter dengan cekatan.

“Gidaryeo!” Baekhyun menyusulnya. Namun terlambat, pintu sudah terbuka. Mereka terdiam sejenak di depan pintu karena sesuatu menghalangi jalan mereka.

Tanpa diduga oleh pasangan baek-hyo, rumah sakit yang mereka kunjungi juga mendapat kunjungan dari reporter. Bukan karena mencari berita tentang mereka, tetapi artis lain yang senasib dengan mereka.

“Chansook-ah, kapan terakhir mereka datang ke klinik kandungan?” ungkap salah satu reporter.

“Molla, tapi kantor kami mendapat informasi hari ini jadwal check up-nya.” Jawab salah seorang yang dimaksud. Orang-orang sedang berada tepat di depan pintu mereka mempersiapkan kamera dan bahan wawancaranya.

“Tak disangka, aktor dan aktris itu memiliki hubungan yang semacam ini. Memalukan sekali.” Ungkap salah seorang reporter yang sedang sibuk menyalakan power on pada kameranya.

“Geurae. Ku dengar mereka tidak mendapat ijin dari orang tua mereka karena masalah latar belakang keluarga.” Ungkap salah seorang lagi yang sedang membenahi penampilannya.

KREEK… pintu terbuka.

“Nuguseyeo?” teriak seorang dari mereka yang melihat Hyo keluar dari dalam ruangan.

Tiba-tiba saja, seorang pria datang dari belakang dan memasangkan masker yang lupa dipakai Hyo. Pria itu juga memakai masker yang sama. Dengan cepat Baekhyun menarik lengan Hyo menghindar dari keramaian.

“Ya.. apa mereka artis? Palli, rekam mereka!” titah seorang reporter.

“Gidaryeo, berhenti. Siapa kedok kalian sebenarnya?” Tanya seorang yang dengan gigih membuntuti mereka.

Hyo diam seribu bahasa mendapat perlakuan seperti itu. Ada rasa takut dan khawatir menghantuinya. Tapi, genggaman tangan Baekhyun merubah segalanya, ia merasa tenang di pegangannya.

“Ya! Mereka datang! Ambil gambarnya!” seseorang berteriak dari lokasi sebelumnya dan menghentikan pengejarannya. Tapi, salah seorang yang memegang kamera berhasil mengambil gambar Hyo dan Baekhyun walaupun tak terlihat jelas sosok mereka.

Akhirnya, Hyo dan Baekhyun berhasil terhindar dari masalah publik. Nafas mereka tersengal dan berusaha menenangkan diri.

“Gwaenchana?” Tanya Baekhyun mengkhawatirkan. Mereka melepas masker untuk menghirup oksigen lebih banyak.

“Ne, Gwaenchana. Oppa, kenapa kebetulan sekali mereka berada di sana? Apa kau sedang menjadi topik hangat mereka?” Tanya Hyo bertubi-tubi.

“Mollasseo. Tapi setidaknya kita terhindar dari masalah.” Ungkap Baekhyun lega.
Hyo merenung sejenak, ia merasa kurang setuju dengan pernyataan Baekhyun barusan.

“Oppa, kau menghindari masalah kita?” Tanya Hyo kemudian.

“Mwo? Bukankah begitu yang kita lakukan?” baekhyun tampak bingung dengan pertanyaannya barusan. Ia khawatir hyo mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan.

“Apa kau tak mau suatu saat hubungan kita akan dipublikasikan?” Tanya Hyo lagi.

“Ne?” kembali baekhyun memasang wajah linglung. Sebenarnya hal itulah yang ia takutkan salah satunya.

“Aku pikir setelah kejadian tadi telah membukakan mataku yang selama ini buta.” Ungkap Hyo kesal. Ia menjadi emosional semenjak baekhyun meninggalkannya tanpa kabar. Dan sering kali hyohwa memikirkan hal aneh-aneh. Termasuk baekhyun akan mencampakannya.

“Apa maksudmu?” Tanya Baekhyun balik. Ia menerka hyohwa akan menangis sekarang. Namun yang ia dapat hanya mata merah dan pelupuk mata yang setengah basah, menyiratkan seberapa kesalnya hyohwa saat ini.

“Aku sadar, ternyata statusku selama ini memang benar-benar sebagai kekasih simpanan. Simpanan seorang bintang besar sepertimu. Daebak!!” Hyo sedikit mendorong dada baekhyun yang mendekat. Ia bahkan merendahkan dirinya sendiri.

“Mwo? Simpanan? Kapan aku menganggapmu seperti itu?” Tanya Baekhyun yang masih belum mengerti. Dia memang tidak pernah menganggapnya begitu. Bahkan bingung dari mana asalnya wanita ini mendapatkan kata-kata itu untuk mendeskripsikan hubungan mereka.

“Nde, aku adalah kekasih yang tak bisa kau publikasikan, bukan? Kau malu memiliki kekasih sepertiku? Aku tidak cantik dan seksi. Aku bukan dari kalangan artis sepertimu. Bahkan aku belum memiliki gaji besar sepertimu karena kekayaanku hanya milik orang tuaku. Aku bercerai dengan suamiku karena urusan bodoh kontrak ayahku. Dan aku hamil di luar pernikahan!”

Hyohwa merasa kepalanya akan pecah jika semua itu tidak ia katakan. Ia sudah lelah dengan semua masalahnya. Ia tak tahu harus mengumpat pada siapa kecuali baekhyun. Hyohwa bingung dengan tujuan hidupnya. Bahkan bayangan-bayangan masa depan yang dijanjikan baekhyun padanya terasa buntu.

“Hyo…” sahut Baekhyun.

“Kau jahat. Nappeun namja!!” Hyo memukul kasar dada baekhyun, tidak perduli seberapa sakit yang baekhyun rasakan. Pria itu bertahan. Ia merasa gagal menjadi seorang laki-laki. Baekhyun tahu kesalahannya, ia salah membiarkan hyohwa menunggu terlalu lama. Bahkan bayangan pertunangannya dengan taeyeon membuat nyalinya kembali ciut.

Baekhyun berusaha untuk merajuk. Ia berusaha memegang tangan hyo namun ditepis olehnya.

“Hyo, aa.. aku tidak pernah berpikir seperti itu padamu. Ingat, kau masih menyimpan janjiku.” Rajuk Baekhyun mencoba meluruskan.

“Janji kepalamu?? Kau janji melamarku setelah 3 bulan. Ini sudah lebih dari batas yang kau buat, arra?” ungkap Hyo dengan nada kesal. Ia mendorong jauh baekhyun darinya.

“Igo, aku.. ada masalah lain yang menghambatku. Mianhae.” Akhirnya Baekhyun mengakui.

“Bingo! Kau berbohong padaku. Kenapa kau tak mengakui saja dari tadi, eoh?” Hyo mulai menyudutkan Baekhyun.

“Mi.. mian. Hyo, aku benar-benar mencintaimu. Sungguh!” ungkap Baekhyun.

“Jinja? Tapi kau terlalu pengecut untuk mencintaiku, eoh? Ughh…” tolak Hyo mendorong keras dada baekhyun kesal.

“Ah, jebal Hyo. Khajima!” pinta Baekhyun. Ia menarik tangannya saat Hyo akan melangkahkan kakinya pergi.

“Hajiman! Aku memahami posisiku sekarang. Dan aku minta kau jangan hubungiku lagi. JEBAL.” Hyo mengatakannya dengan bergetar menahan tangisnya. Penekanan keras ia sematkan di akhir kalimatnya.

“Hyo, andwae! Khajima…” teriak Baekhyun saat Hyo benar-benar melepaskan tangan Baekhyun. Bahkan dengan kasarnya hyo menghempaskan genggaman tangan hangat baekhyun begitu saja.

Hujan salju ringan mengiringinya pergi. Kristal-kristal hangat itu menyapu wajah dingin Hyo. Dan sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menghubungi baekhyun lagi dan mencoba menyelesaikan masalahnya sendirian.

TBC

Panjang kan? 7000+ kata, gila lu thor! Btw, matanya masih pada sehat nggak nih?

Author ingatkan kembali, alur dan ceritanya sudah ada sedemikian rupa di file author namun belum pernah dipublish. Author hanya merevisinya. Maaf jika ada perbedaan diksi, pemilihan kata, dan fill yang berbeda dari setiap chapter. Fanfic ini awalnya oneshot, kemudian jadi twoshot, lalu jadi threeshot, akhirnya terus berlanjut jadi chapter. Dan lagi, fanfic ini menjadi saksi bisu perjalanan tulis menulis ff. Kurang lebih 2 tahunan lah lupa, nulisnya juga nyolong-nyolong (mencuri-curi) waktu pas ngerjain tugas kampus. Jadi, tolong berikan respon kalian para readers untuk menghargai capek lemburnya author menyelesaikan chapter ini ya.. Makasih..

Oiya, selamat idul fitri yah! Maaf jika author salah kata waktu balas komen, cuap2, chatting, atau bales permintaan pw yang kurang berkenan di hati readers. Btw author juga maaf in para silent readers yang gentayangan entah siapa disana bahkan yang nge-block author sekalipun. Saya juga minta maaf dan makasih dengan para admin EXOFFI yang sudah direpotkan dengan ikutnya saya bergabung disini. Cieh..

Bye2, sampai ketemu di chapter 8 ^.^

CP:

Via Email         : ikaikhey21@gmail.com

Via Page FB    : Elisabeth Agustin (@byunelisabeth)

Via Line           : not available

 

Iklan

15 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] When I Must be Married – (Chapter 7)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Prologue) | EXO FanFiction Indonesia

  3. yaaah… sedih banget kak kasian pasangan baekhyo iih jd sedih. kok gini kali lah masalah mereka.

    taeyeon lg taeyeon lg… padahal aku juga suka ama taeyeon tapi disini diaa… ah sudahlah…

    pokoknya semangat terus yaa kak

  4. Wuhuuu akhirnya keluar juga 🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
    Yaaa Hyohwaa harus kuat eohhhhhhhh
    Baekhyun bener bener pecundangggggg :v
    Bokap Baekhyun jahattttttt
    Eomma Baekhyun kurang pengertian …….
    Apa lagi yah???

    Ahh yasudahlah author keep Jjang💪💪💪💪

  5. apaan sih bokap ny bekon, ko tega pengen nyuruh si baek cari wanita lain. kangen banget sama ff ny ka el , maaf ya ka waktu di chpt 6 aku gk sempet komen. kasian hyo moga aja mereka bisa kayak dulu lagi, next ka!! udah ga sabar nih baca lanjutn ny…

  6. Whieewwhhh /lap keringat/
    Puanjang yahh kak 😂
    Tapi puas banget bacanya…
    Sumpah, jangan pisahkan mereka jeball😢
    Taeyeon eonnie! Plis nagajuseyo..
    Jangan ada PHO kak el /masih manggil gitu/ 😂

    Dan itu, baekhyun tuh jdi cowok harus yg tegas dong, jangan buat hyo sedih trus, apalgi mau pnya dedek kembarr.. /hiks/
    Semoga lahirannya lancar yah hyo 🙄 /abaikan plis/
    Semangat kak❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s