[EXOFFI FREELANCE] The Twins Promise – (Chapter 1)

the-twins-promise-req.jpg

Title : The Twins Promise

Author : Rainalee17

Length :Chaptered

Genre : Romance, Hurt/Comfort, School Life, Supernatural, Friendship, Family and Fantasy.

Rating : PG15

Main Cast :

Lee Rinah Or Kim Rinah (Kim Sae Ron) | Lee Minah (Kim Sae Ron) | Oh Sehun (EXO) | Lee Taeyong (NCT127) | Jeon Woowoo (Seventeen) | Jeon Somi (IOI) | Kang Seulgi (Red Velvet) ) | And other you can find in the story|

Diclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, alur cerita adalah hak author dan para Main cast Milik Tuhan yang Maha esa

Summary : Kim Rinah dan Lee Minah adalah saudari kembar yang terpisah oleh orang tua asuhnya. Mereka bertemu hampir 15 tahun kemudian bersamaan dengan peringatan kematian kedua orang tua kandung Mereka. Tanpa diduga sebuah ramalan dari seorang oracle, mengubah hidup Mereka kedalam situasi berbahaya dan tak terduga.

Don”t BASH !

Don”t PLAGIATSM !

_

Poster By : Kyoung©Poster Channel [link hidup]

.

.

Previous Chapter

Prologue|

.

.

Chapter 1

The Twins is Back

Author POV

12 tahun kemudian…

Suasana riuh mewarnai stadion tempat berlangsungnya pertandingan final cabang olahraga lompat jauh.

Semua atlit yang berjumlah 6 orang berbaris rapih yang keseluruhan berjumlah , begitupun Kim Rinah yang sudah menggunakan kaos olahraga berwarna hijau putih dan celana pendek senada juga dengan sepatu olahraga berwarna hitam berada di barisan belakang.

Kemudian setelah nama Mereka dipanggil satu persatu, Mereka melakukan warming up.

Rinah memilih untuk warming up ditemani musik bertempo up beat untuk memberikan semangat untuk dirinya.

.

.

.

Tiba saatnya pertandingan akan segera dimulai.

Semua atlit sudah bersiap untuk bertanding. Begitupun Rinah tampak begitu gugup.

“Kau pasti bisa. Hwaiting…” begitu Rinah menyemangati dirinya sendiri.

.

.

.

Pada lompatan pertama, wasit mengangkat bendera merah, artinya lompatan pertamanya gagal.

Rinah hanya bisa mendesah pasrah. Semua atlit di lompatan pertamanya gagal.

Tapi tak membuatnya patah arang.

Di lompatan kedua, ketiga dan keempat, Rinah berhasil meraih hasil positif. Masing – masing dengan 6.34 m, 6.43 m dan 6.46m.

Di lompatan ke lima, Rinah sempat gugup ketika pesaingnya Kim Sejeong berhasil meraih lompatan 7.01 m

Tapi ketika itu lompatannya yang kelima hanya berbeda tipis, 7.04m dan membuatnya berada di posisi puncak klasemen.

Namun pesaingnya yang tak kalah kuat, Kim Dahyun meraih lompatan 7.19m.

Sementara Kim Sejong hanya bisa meraih lompatan 7.13m yang berarti Dia ada di posisi ke 2 klasemen.

Harapan satu – satunya jika Dia ingin meraih emas adalah di lompatan terakhirnya ini.

.

.

.

Rinah sudah bersiap untuk lompatan terakhir.

Dia mengambil nafas panjang lalu berlari perlahan lalu Dia berlari kencang.

Lalu tolakan dikaki kanannya, Dia jadikan tumpuan untuk di papan tumpuan dan Dia menggunakan teknik walk in air yaitu dengan berlari di udara dan ayunan di lengan.

Lalu Rinah mendarat dengan mencondongkan kedua kakinya menuju bak pasir.

Hap…

Rinah mendarat sempurna di bak.

Hakim mengangkat bendera putih yang artinya lompatan itu sah.

Dan Rinah hanya menarik nafas panjang.

Dan ternyata hasilnya adalah 7.23m dan artinya Rinah meraih medali emas.

.

.

.

Rinah hanya bisa menangis ketika Dia berhasil meraih emas, akhirnya usahanya tak sia – sia.

Setelah upacara penyerahan medali bersama Dahyun dan Sejeong, Rinah langsung berlari menghampiri pelatih.

“Chukkae, Rinah-ya.” ujar pelatih Lee Joo Yeon, pelatihnya begitu Rinah memeluknya.

“Gomawo.” balasnya singkat.

Lalu ada seorang namja datang menghampiri Mereka.

“Taehyungieee…”

Sontak Rinah memeluk namja bernama Taehyung itu.

“Bee… Chukkae…”

Rinah hanya mengulas senyumannya.

.

.

.

Lee Minah Side…..

Minah menyeret kopernya dengan tidak bersemangat, membuat Ayahnya yang berada disampingnya itu menatapnya cemas. Pesawat mereka akan lepas landas sebentar lagi, jadi mereka harus segera pergi.

“Apa kau tidak senang sayang? Jika tidak, kau bisa tinggal disini, di New York.”

Gadis manis itu mendongak, membuat matanya menatap langsung kearah Ayahnya. Dia lantas menggeleng.

“Nan gwaenchana, Appa. Aku hanya sedikit..sedih harus meninggalkan rumah dan teman-temanku.” Lirihnya.

Lee Sang Woo jadi sedih, dia lalu memeluk putrinya dengan erat.

“Nan jeongmal mianhae. Tapi kau akan mendapati ingatanmu kembali.”

“Ne, nan gwaenchana.”

Minah melepas pelukan Ayahnya lantas mengajaknya agar cepat bergegas masuk ke dalam pasawat atau mereka akan terlambat. Ya, hari ini mereka berdua akan terbang menuju Seoul setelah sekian lama tinggal di New York.

.

.

.

Penerbangan dari New York ke Seoul sangat melelahkan. Minah keluar dari bandara bersama Ayahnya.

Sang Woo lalu mengajak Anaknya meninggalkan bandara. Dia lalu mencegat taksi meninggalkan bandara menuju tempatnya tinggal.

“Sebentar lagi Kita akan segera sampai.”

Minah tersadar dari lamunannya, lalu mengangguk pelan.

Taksi itu membawanya menuju rumahnya. Gadis manis itu lantas turun dari mobil dan menatap rumah barunya atau lebih tepatnya Rumah lama yang Mereka tinggalkan 12 tahun.

Sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar, namun berwarna coklat kayu dan minimalis.

Lalu sekelebat bayangan dari masa lalunya muncul.

“Minah – ya. Ayo kejar Aku.”

“Ya! Kemari Kau Rinah-ya.”

Minah hanya memengangi kepalanya yang nyeri. Hampir saja Minah terhuyung ke belakang jika Ayahnya tak menahannya untuk jatuh.

“Gwaenchana?” ujar Ayahnya khawatir.

Minah hanya mengangguk pelan.

“Hong Ahjussi….” Panggil Ayahnya kepada pengurus Rumah ini.

Seorang lelaki tua datang dengan tergopoh – gopoh.

“Selamat datang kembali, Tuan Besar, Nona Muda.”

“Bisakah Kau mengambil barang – barang kami didalam taksi? Aku akan mengantar Minah untuk istirahat.”

“Ne, algeuseumnida.”

Sementara Minah diantar Ayahnya masuk kedalam rumah.

Kriettt…

“Sang kakak akan selalu menjaga adiknya sampai kapanpun.”

Brukk..

Minah pun ambruk pingsan

.

.

.

Malam harinya, Minah meringis kesakitan saat dia berbalik di tempat tidur. Baru sadar jika dirinya sudah berada di kamarnya.

Kamarnya tidak terlalu luas, namun karena tatanannya yang rapi membuat kamarnya terlihat bagus. Ranjang yang Dia tempati berukuran queen size bersprai orange dengan boneka teddy bear pemberian Ayahnya, Disebelah kiri tempat tidurnya ada jendela, yang mengarah ke balkon. Di sebelah kanan tempat tidurnya ada sebuah lemari besar berdiri kokoh dan disebelahnya ada meja belajar.

Sudah berapa lama aku tidur?

Minah melihat ke arah pintu didepan tempat tidurnya dengan tatapan kosong.

Cklekk…..

“Rupanya Kau sudah bangun sayang.”

Ayahnya datang sembari membawa nampan yang berisi bubur dan segelas susu.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Ayahnya perhatian.

Minah hanya mengangguk pelan.

Nampannya Ayah letakkan diatas paha Minah yang tertutup selimut floral berwarna baby orange.

“Bagaimana Kau menyukainya, kamar barumu?”

“Well, I think it’s not bad.” Minah menjawab santai.

“Appa sudah mendaftarkanmu sekolah.” Ayahnya membuka laci disamping tempat tidurnya dan mengambil dengan sebuah berkas serta bangkit mengambil seragam sekolah dari lemari ditangannya. Dan menyerahkannya pada Minah.

“Kau bisa mulai bersekolah besok.”

Minah merengut.

“Aku bahkan baru sampai dan kau menyuruhku langsung bersekolah. Tidak bisakah ditunda dulu?” Ayahnya menggeleng, menolak keras rengekan putrinya tersebut.

“Bukankah Kau ingin masuk ke Oxford University. Sekarang fokuslah pada Sekolahmu. Ayah akan berada disisimu.” Ujar Ayahnya sembari mengelus kepalanya sayang.

“Sekarang makanlah dan minum obatmu. Istirahatlah, besok Kau masuk sekolah.” Ujar Ayahnya sembari mengambil berkas dan seragam sekolahnya. Menyimpannya kembali ke tempatnya.

“Ne,Appa.” Jawab Minah singkat.

Keesokan harinya…

Kim Rinah Side

Kring…. Kring…kring…

Jam weker berbunyi, tanda waktu sudah pukul 06.00 pagi.

Kim Rinah terpaksa terbangun dari mimpi indahnya, menjemput pagi yang akan melelahkan baginya. Dengan langkah malas, Dia langsung menuju kamar mandi. Menjalani ritual mandi paginya.

Setelah siap dengan semua perlengkapan Sekolahnya termasuk seragam dan tasnya, Rinah turun menuju ruang makan. Di ruang makan, hanya ada Bibi Bang yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.

“Apakah Eomma tadi malam pulang terlambat?” tanya Rinah penasaran.

“Ne, Aggashi. Kim Samonim tadi malam pulang terlambat. Apakah Anda ingin menemuinya di kamarnya?”

“Animida, Aku akan langsung berangkat.” Ujar Rinah sembari menghabiskan susu strawberrynya tanpa berniat menyentuh sarapan paginya.

“Apakah Aggashi tidak sarapan?” tanya Bibi Bang khawatir.

“Gwaenchana, Ahjumma. Hakkyo danyeo ogessemnida.” Pamit Rinah dengan nada malas.

Bibi Bang hanya menggelengkan kepalanya. Merasa begitu kasihan kepada Nona mudanya ini.

Hubungan Kim Rinah dan Ibu asuhnya, Kim So Yeon sempat buruk karena Kim So Yeon meminta Kim Rinah berhenti menjadi atlit dan fokus untuk masuk ke Harvard University. Hal itu membuat Rinah marah besar dan lebih sering menghindari Ibunya.

Kim So Yeon yang juga adalah pegawai Blue House juga tidak peduli akan Rinah karena So Yeon selalu sibuk.

.

.

.

Lee Minah Side

Sebuah mobil melaju membelah jalanan Seoul yang padat di pagi hari. Dibalik kemudi, Lee Sang Woo focus menjalankan mobilnya menuju Sekolah putrinya. Sementara itu, putrinya terlalu sibuk mengoleskan lip balm strawberry dan sesekali mencek smartphone miliknya. Lee Minah, putri bungsunya kini berubah menjadi sangat antusias mengunjungi sekolah barunya.

“Minah-ya, Appa harap Kau menyukai Sekolah barumu. Oh, apakah Kau masih menginggat Choi Jin Hyuk Ahjussi?” ujar Ayahnya sembari menyetir mobil.

“Choi Jin Hyuk Ahjussi?” Minah mengalihkan pandangannya penasaran.

Choi Jin Hyuk Ahjussi bukankah adalah sahabar karib Ayah saat Dia di Amerika.

“Ne, Kau tahu. Dia menjadi Kepala Sekolah di Sekolahmu yang baru.” Ujar Ayahnya antusias.

“Appa sengaja memasukkanku kesana karena ada Jinhyuk Ahjussi?” mata Minah memicing curiga.

Reaksi Ayahnya hanya tertawa pelan.

“Kau sudah tahu rupanya. Appa hanya memastikan jika Kau bisa belajar dengan baik di Korea.”

Minah hanya berdecak kesal. Jadi Ayahnya menggunakan koneksinya lagi. Dan untuk mengawasinya selama di Sekolah. Oh Ayolah Minah bukan anak usia 9 tahun lagi. Dia sudah 18 tahun.

“Apa Kau ingin masuk bimbingan belajar? Di Korea, Appa akan masukkan Kau ke bimbingan belajar untuk persiapanmu ke Universitas.”

Minah berdecak sebal. Ayahnya seorang dosen sejarah di Columbia University. Bahkan Dia bisa ikut meminjam koneksi Ayahnya untuk masuk Universitas. Tapi mengapa Minah harus tetap ikut bimbingan belajar?

“Bukankah Appa berjanji untuk tidak akan memasukkan ke bimbingan belajar? Appa tahu bukan Aku akan ikut program beasiswa di Oxford? Bahkan jika Aku tidak masuk bimbingan belajar takkan memperkecil peluangku masuk kesana.” ujar Minah angkuh.

“Karena itu, Appa akan memasukkanmu ke bimbingan belajar. Agar Kau meraih program beasiswa itu. Appa hanya ingin Kau mendapatkan beasiswa itu.”

Minah hanya bisa menghela nafas pasrah.

Minah lebih memilih membuka kaca jendela. Dan menikmati hembusan angin yang sejuk menerpa wajahnya.

.

.

.

To Be Continued…

Anyeonghasseyo….

Rainalee17 its back

Ini adalah chapter 1

Hari pertama si kembar back to School

Yeeeyyyye!!!!

Untuk Chapter 2 akan dibagi menjadi part A dan B…

Part A untuk Kim Rinah

Part B untuk Lee Minah

jadi jangan ketuker yahhhh

Jangan lupakan tinggalkan komentar anda kawann….

Ide agak mandet lagi…….. tapi semoga ajah akan lancar lagi

See you next chapter kawan…

Rainalee17 2017 Copyright

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Twins Promise – (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s