[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür – 5 – Nona dalam Cerita

die geheime tur- cover.jpg

Tittle : Die geheime Tür

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Campus Life, Friendship, Night life

Rating : PG-17

Cast : Jonathan Virgio S (OSH) (main cast)

Additional Cast

  • Guntur Putra Mandala (KAI)
  • Keynal Mahesa (PCY)
  • Antares Praditya (BBH)
  • Alandio Fazzikri Mulhaq (DO)

Akan ada pemeran wanita pastinya yang nantinya akan muncul seiring berjalannya cerita~

 

Summary : Aku tidak pernah memikirkan jika aku mulai membuka pintu itu akan ada ledakan dahsyat yang terjadi di kehidupan ku.

Disclaimer : Cerita ini merupakan murni hasil pemikiran dari author mulai dari yang bener sampai yang agak rusak sedikit(?) tapi masih batas wajar, jika ada kesamaan tokoh atapun latar, itu semua terjadi atas ketidak sengajaan.

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   : Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

 

Lima – Nona dalam Cerita

 

Beberapa hari yang lalu Ares baru saja menceritakan soal hantu wanita yang belakangan ini katanya terlihat di gedung fakultas teknik. Nathan bukan orang yang penakut, tetapi berhubungan dengan hal yang bersifat astral tetap saja mengerikan.

Konon katanya, hantu itu adalah mahasiswi yang bunuh diri karena dikhianati pacarnya yang pindah begitu saja ke universitas lain. Dan pacarnya adalah mahasiswa fakultas teknik dan katanya memiliki tubuh yang tinggi bak model dan tampan pastinya. Dia mencari sosok pacar tampannya itu dan targetnya adalah mahasiswa yang memiliki wajah diatas rata-rata.

Meskipun gossip-gosip dari Ares tidak jarang adalah salah dan berlebihan, apa salahnya untuk kali ini mencoba mewaspadai. Apalagi dengan fakta yang jelas bahwa Nathan memenuhi kategorinya. Mahasiswa teknik, memiliki tubuh yang semampai, dan yang sudah sangat pasti. Tampan.

Mengingat kisah yang diceritakan Ares beberapa waktu itu membuat Nathan bergidik ngeri. Nathan pun mulai berjalan perlahan sedikit demi sedikit dan mulai mendekati tempat itu. Mau bagaimana lagi karena tidak ada jalan lain untuk menuju ke area parkir.

Ada satu jalan lain, tapi itu bukanlah ide yang bagus, karena jalan itu lebih gelap, lebih baik melewati jalan ini lalu berlari langsung menuju ke mobil dan menggas mobilnya maksimal. Natahn sudah menyiapkan strateginya.

Jarak semakin dekat dan mendekat, Nathan terus berkomat-kamit seperti dukun. Sebodoh-bodohnya Nathan soal agama, dia masih menghafal ayat kursi dan surat pendek untuk mengamankan diri dari gangguan apapun, kecuali tukang begal. Kalau soal yang itu, Nathan mungkin akan memilih pura-pura mati. Terlihat tidak gentle memang.

Hanya tersisa tiga langkah Nathan menyalakan senter dari handphonenya dan mengarahkan ke arah sosok itu. Perlahan-lahan menyorotkan dan akhirnya sampai pada wajahnya dan selanjutnya yang terdengar hanyalah teriakan kaget.

“Gue kira siapa. Lo ngapain nyenterin muka gue kaya gitu?! Seram tau nggak.”

“Ya lo ngapain berdiri disitu malam-malam?! Lo dari belakang kaya setan tau gak?”

Mereka berdua terdiam untuk mengembalikan napas mereka yang sempat terhentikan seketika dan menyesuaikan ritme jantung mereka kembali.

 

Wanita yang berdiri dan menyeramkan itu adalah Kirana. Cukup mengagetkan bertemu Kirana disituasi yang tidak enak seperti itu, tapi Nathan jauh lebih bersyukur berteme Kirana ketimbang bertemu dengan sosok berinisial K juga yang ada di gosip Ares.

“Mau balik bareng?” Nathan memecah keheningan dengan menanyakan secara spontan kepada Kirana.

Belum sempat Kirana menjawab, Nathan melanjutkan kata-katanya yang terhenti tadi. “Ya kalau nggak mau ya nggak apa-apa, gue hanya terbiasa untuk nggak meninggalkan perempuan pulang sendiri malam-malam, apalagi sekarang jaman begal kan.”

“Gue hanya menjelaskan, barangkali lo berniat mau jual mahal. Lagian gue nggak mau aja nyusahin sahabat gue si kabem yang nanti pusing gara-gara ada mahasiswi kena begal.”

Nathan mengedikkan bahunya dan berjalan santai menuju mobilnya meninggalkan Kirana. Kirana yang mendengar kata-kata Nathan menjadi ngeri.” Ya-Yaudah. Gue ikut.”

“Yaudah ngapain berdiri disitu? Ikut gue ke mobil, nanti gue antar sampai rumah.” Nathan berjalan menajuh dari ujung selasar menuju ke lokasi mobilnya di parkir.

Kirana mengikuti dibelakang Nathan menuju ke arah mobil Nathan. Nathan tiba-tiba terhenti dengan sengaja untuk membiarkan Kirana berjalan didepannya.

Merasa Nathan tidak berjalan lagi membuat Kirana berhenti juga dan menoleh ke belakang. “Kenapa lo berhenti?”

“Lo jalan didepan gue, biar kalau ada apa-apa lo bisa gue lindungi.” Nathan menjawab santai dan masih tidak beranjak dari tempatnya.

“Dih, dasar pujangga kesiangan.” Kirana kembali berbalik dan memutarkan bola matanya kesal. Kirana heran. Bisa-bisanya ada laki-laki seperti Nathan yang sifatnya tidak bisa ditebak dan mudah berubah. Dasar orang labil.

“Terserah.” Nathan membalas dengan malas untuk berdebat lagi. Dan mereka berdua pun kembali berjalan ke arah parkiran.

Sesampainya diparkiran Nathan dan Kirana masuk ke mobilnya dan Nathan menyalakan mesinnya untuk dipanaskan sesaat dan mengecek pesan di handphonenya. Terlihat notifikasi pesan Line CALON SUAMI IDAMAN (5) 120 unread. Dan pesan terkahir yang terbawah adalah dari Keynal.

Nathan memutuskan untuk membukanya saat sampai dirumah. Saat sedang mengembalikan handphone ke kantongnya Nathan melihat sosok dari balik spionnya. Seketika napasnya terhenti dan segera menginjak pedal koplingnya dan bergegas meninggalkan tempat itu tanpa melihat kemana-mana lagi.

oOo

“Lo gila ya?”

Adalah kata pertama yang keluar dari mulut Kirana setelah masuk kedalam mobil dan memasang seatbeltnya. Bahkan sabuk pengamannya belum sempat terpasang dengan benar. Kirana hanya mengirimkan tatapan tajam dan heran pada Nathan yang sedang fokus dibalik kemudinya.

“Nggak ada kata yang lebih bagus gitu? Kalau gue gila, gue nggak dapat SIM dan nggak nganterin lo sekarang.” Suaranya datar dan tanpa menoleh sedikitpun.

“Oke gue ganti, lo nggak waras. Lebih bagus kan kata-katanya?” Kirana memperbaiki posisi duduknya menghadap kedepan dan menyilangkan tangan didepan dadanya.

Nathan menoleh sedikit ke arah Kirana lalu kembali menatap kedepan sambil memutar bola matanya. “Iya tuh, bagus banget.” Balasnya dengan nada sarkas.

Sepuluh menit berlalu dan tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Yang ada hanya alunan suara radio dengan musik malam hari yang mengiringi perjalanan mereka. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana ribuan kendaraan ramai melintas. Jutaan manusia yang berbeda kepentingan dalam sekejap memiliki keinginan yang sama yaitu untuk pulang. Menyebabkan peningkatan jumlah kendaraan yang signifikan. Macet.

Mereka berdua masih berada dalam antrian kemacetan malam hari. Indah sebenarnya. Melihat ribuan binar cahaya dari lampu mobil dan lampu jalanan. Namun tidak untuk Nathan. Dia tidak bisa menikmati karena harus merubah persneling mobilnya dari netral ke gigi satu dan begitu terus setiap dua menit dan bergerak tidak sampai 300 meter. Cukup melelahkan memang mengemudikan mobil berpedal tiga di ibukota.

“Rumah lo dimana?”. Tiba-tiba Nathan berbicara memecah keheningan. Sebetulnya tidak tiba-tiba. Masa iya Nathan mengantar orang tanpa tau rumahnya dimana.

“Dikit lagi kok, itu di depan ada Sederhana abis lampu merah belok kiri, nggak jauh dari situ sebelah kanan udah masuk komplek kok.”

Nathan tidak menjawab dengan kata-kata tapi hanya mengangguk. Sejak di mobil, mereka berdua memiliki waktu yang cukup untuk memperbaiki hubungan. Atau dengan terpaksa berbaikan karena situasi yang sempit lingkupnya. Mereka belum cukup mengenal, bahkan kesan pertamanya pun tidak terlalu bagus.

Nathan menyalakan lampu sign nya ke arah kiri, namun bukannya belok ke belokan setelah lampu merah, Nathan justru masuk ke parkiran restoran Sederhana. Kirana yang semula diam menatap jendela menoleh kea rah Nathan bingung.

“Lah, Nat? Kok belok ke sini?”

“Gue laper. Gue butuh makan kali, emangnya lo mau gantiin gue nyetir kalau gue tiba-tiba pingsan kelaperan?” Nathan keluar dari mobilnya, Kirana yang masih terdiam didalam mobil membuat Nathan kembali melongoh kedalam mobil.

“Gamau turun? Gue kunci dari luar nih atau enggak.”

Kirana tidak menjawab apapun, hanya dengan raut wajah kesal dan dia keluar dari mobil Nathan. Dalam hatinya kalau bukan karena Nathan mengantarnya pulang, dia pasti sudah menjambak rambut boybandnya itu.

Nathan masuk kedalam restoran dan memesan makanan kesukaannya. Rendang dan sambal hijau menjadi pilihannya untuk menu makan malam saat ini. Tidak lupa dengan jeruk panas untuk menetralisir lemaknya. Mereka duduk di salah satu meja dekat meja kasir menghadap ke kaca.

“Lo nggak mesan makanan?”

“Nggak. Lagi nggak pengen makan padang.”

Kirana kembali meminum jus alpukat dengan toping eskrim diatasnya. Aneh memang restoran padang menjual minuman modern seperti ini.

Kalau dipikir, sebenarnya mereka berdua bisa saja berteman secara normal setelah mereka pulang bersama hari ini, hanya dilihat dari sifat mereka berdua sepertinya mereka akan mempertahakan kealotan hubungan mereka.

Aneh memang siang masih bersarkas ria lalu malam seperti biasa layaknya teman yang memiliki first impression yang baik. Setidaknya mereka harus membiasakan diri untuk tidak menggunakan nada sarkasme dalam percakapan mereka.

Waktu semakin malam, dan akhirnya Nathan sampai di depan gerbang kompleks perumahan Kirana. Kirana sempat tertidur saat perjalanan pulang dari rumah makan padang itu, sebelum Kirana tertidur Nathan sempat menanyakan alamat lengkapnya. Beruntung Nathan menanyakan tepat waktu membuat dia tidak perlu membangunkan Kirana.

Saat Kirana bangun yang pertama kali dia sadari adalah sebuah aroma parfum maskulin yang bercampur dengan wangi pelembut pakaian. Ternyata selama dia tertidur Nathan menyelimuti dengan jaketnya yang ada di mobil.

Nathan menyadari oergerakan dari tubuh Kirana, dan menengok sebentar sebelum kembali ke arah depan. “Udah sampe komplek nih.”

Tidak menjawab perkataan Nathan, Kirana justru membahas jaket yang menyelimutinya.

“Ternyata lo ala ala juga ya Nat. Udah berapa cewe yang lo giniin?” Kirana terkekeh.

Nathan mendapatkan satu fakta lain tentang Kirana. Lidahnya tajam. Tidak mengenal terlalu lama tapi dia berani berkata seperti ini. Dingin, Galak, Lidah tajam. Apa ada lagi? Ah ya, satu fakta lain. Dia cantik.

“Termasuk lo? Lo yang ke tiga.” Nathan memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan. “Tiga puluh.” Nathan mengalihkan pandangannya dan menaik turunkan alisnya seperti abang-abang tongkrongan yang menggoda mbak-mbak yang lewat dijalanann, dan lalu tertawa.

“Pantesan udah alus ya caranya, udah biasa sih.” Kirana tertawa pelan menimpali Nathan.

Nathan dan Kirana keluar dari mobil yang sudah terparkir didepan pagar rumah Kirana. Rumah itu tidak besar dibandingkan dengan rumah Nathan. Rumah minimalis dengan dihiasi taman hijau dan lampu temaram menyinari di malam hari dan terlihat hangat didalamnya.

“Nih jaketnya, makasih ya.”

“Tumben lo inget sama kata makasih.” Nathan terkekeh. “Nyokap lo mana? Gue mau pamit pulang. Nggak enak nganter doing tapi nggak pamit.”

“Nggak apa-apa nanti gue sampein aja ke nyokap gue. Makasih ya Nat.” Kirana tersenyum tipis tapi terlihat jelas. Salah satu yang belum pernah dilihat Nathan selama mengenal Kirana.

“Salam ya buat nyokap lo. Gue pamit ya.” Nathan kembali masuk ke mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu.

oOo

Hari ini Nathan memilih untuk pulang kerumah, karena sudah setengah jalan kerumahnya dan akan lebih jauh kalau dia memilih ke apartemennya.

Sangat tumben ayahnya sudah dirumah. Biasanya Nathan dirumah sendirian. Dalam satu minggu mungkin hanya tujuh jam ayahnya dirumah. Sisanya? Ayahnya pergi entah diluar kota, ataupun diluar negeri.

Saat Nathan masuk kedalam, Nathan melihat sosok laki-laki paruh baya itu sedang duduk di halaman belakang sambil membaca buku. Ayahnya menyadarinya, namun ayahnya memang bukan tipe ayah yang hangat. Namun diam-diam dia perduli dengan Nathan.

“Gio, di meja tengah ada surat, dari mama kamu.”

Nathan yang tadinya berjalan menuju tangga ke kamarnya seketika menghentikan langkahnya. Tidak berlangsung lama dan Nathan kembali melangkah tidak menjawab ayahnya.

“Gio, mau sampai kapan kamu kaya gini?” ayahnya mulai agak sedikit menekan nada bicaranya.

“ Gio capek Pa, besok Gio harus kuliah, nanti aja ngomonginnya.” Nathan menjawab sebelum masuk ke kamarnya.

Entah mau sampai kapan, ini sudah kelima kalinya Nathan mengabaikan surat-surat itu. Dia hanya butuh waktu. Waktu yang tidak tahu akan berlangsung sampai kapan.

oOo

 

A/N:

Hmm gausah panjang panjang. Semoga suka udah itu aja

Feedback kalian aku terima dalam bentuk apapun dan mohon maaf untuk segalanya dan terima kasih u.u

Btw kayaknya makin ngalor ngidul hm.. mohon maaf lagi yaa >.<

Babay~

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s