[EXOFFI FREELANCE] The Twins Promise (Prologue)

the-twins-promise-req.jpg

Title : The Twins Promise

Author : Rainalee17

Length :Chaptered

Genre : Romance, Hurt/Comfort, School Life, Supernatural, Friendship, Family and Fantasy.

Rating : PG15

Main Cast :

Lee Rinah Or Kim Rinah (Kim Sae Ron) | Lee Minah (Kim Sae Ron) | Oh Sehun (EXO) | Lee Taeyong (NCT127) | Jeon Woowoo (Seventeen) | Jeon Somi (IOI) | Kang Seulgi (Red Velvet) ) | And other you can find in the story|

Diclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, alur cerita adalah hak author dan para Main cast Milik Tuhan yang Maha esa

Summary : Kim Rinah dan Lee Minah adalah saudari kembar yang terpisah oleh orang tua asuhnya. Mereka bertemu hampir 15 tahun kemudian bersamaan dengan peringatan kematian kedua orang tua kandung Mereka. Tanpa diduga sebuah ramalan dari seorang oracle, mengubah hidup Mereka kedalam situasi berbahaya dan tak terduga.

Don”t BASH !

Don”t PLAGIATSM !

.

.

.

Poster By : Kyoung©Poster Channel [link hidup]

.

.

.

 

Prologue Time

.

.

.

Author POV

Vampire dan Werewolf.

Sang Pemburu Darah Segar dan Sang Penguasa Malam Purnama.

Entah sejak kapan –mungkin beribu-ribu tahun yang lalu, kedua spesies makhluk itu bermusuhan. Tak hanya bermusuhan, tapi sangat sangat sangat saling membenci satu sama lain. Jika jaman dahulu, saat mereka bertemu, pasti salah satu ada yang mati. Entah dengan kehabisan darah, patah lehernya, tubuh yang hangus terbakar, atau kepala yang terlepas dari tubuhnya.

Namun, seiring berjalannya masa, mereka sedikit menyadari kalau perbuatan membunuh tanpa alasan itu tidak etis atau membuang buang tenaga saja. Bukannya membuahkan hasil sebuah kemenangan diantara satu pihak, tapi malah membuat kedua pihak sama sama dirugikan baik dalam berkurangnya anggota, terciptanya bekas luka, maupun kerugian kerugian lainnya.

Tetapi bencana kembali datang pada akhirnya.

Berawal dari meletusnya perang besar antara kaum Werewolf dan kaum Vampire 20 tahun yang lalu.

Perang yang membuat kaum Werewolf terdesak dan membuat sang Queen Alpha Red Blood pack, Clementine terpaksa mengeluarkan pedang Red Dragon. Pedang yang hanya bisa memperoleh kekuatan maksimalnya jika dipegang langsung oleh keturunan Queen Alpha murni.

Clementine kemudian mengeluarkan pedang itu dan membunuh bangsa vampire sendirian dan membakar Mereka dengan sadis. Membuat keadaan berbalik. Dan kemenangan berpihak pada sang Queen Alpha walaupun Dia kehilangan suaminya, George.

1 bulan kemudian, tanpa terduga Clementine diserang kembali oleh bangsa vampire namun sayangnya karena peluru perak, Clementine meninggal. Sebelumnya, Clementine menyembunyikan pedang Red Dragon dan keberadaanya sampai saat ini menjadi misteri.

Sayangnya, Matthew yang adalah seorang oracle dan salah satu anggota yang tersisa tak bisa memanggil arwah Clementine dan membuatnya kesusahan menemukan pedang itu.

Dan Matthew dan sisa anggota Red Blood pack lain memutuskan untuk pergi ke Seoul, memulai hidup dan bergabung dengan Silvermoon pack.

Silvermoon pack yang dipimpin oleh Moon Joo Won sebagai Alpha dan Kwon Boa sebagai Queen Alpha. Silvermoon memiliki banyak anggota yang membuat Matthew dan lain merasa lebih aman kini.

Namun ramalan itu kembali membuatnya khawatir.

Reinkarnasi Queen Alpha Clementine akan lahir menjadi seorang manusia dan ternyata ada 2 atau kembar. Dan parahnya, salah satu dari Mereka ditakdirkan menjadi zing putra mahkota kaum vampire.

Matthew atau kini berganti nama menjadi Shindong tak bisa mengubah takdir Mereka. Dan kini ke khawatirannya terbukti.

.

.

.

Musim panas Tahun 19XX

“Bae Yong Joon-ssi, istrimu sebenarnya masih dalam keadaan lemah tapi dia tetap ingin melahirkan normal. Kami benar-benar meminta bantuan anda untuk tetap memberinya dukungan.” Dokter berbicara sebelum Bae Yong Joon masuk ke ruangan khusus bersalin.

Pria itu hanya mengangguk tegang kemudian mengikuti langkah sang dokter. Matanya kemudian melebar saat melihat tubuh Istrinya, Park Soojin di sebuah ranjang tengah dikelilingi beberapa perawat. Kedua kakinya sudah mengangkang disangga dengan sebuah alat.

Yong Joon berlari cepat dan berhenti tepat disampingnya lalu menggenggam erat satu tangan Soo-jin. Wanita itu tersenyum lemas dengan wajah penuh keringat dingin.

“Aku disini, sayang. Kau bisa! Kau akan menjadi ibu setelah ini!” ujar Yong Joon.

Soojin hanya mengangguk sekali sebelum meringis kesakitan.

” Soojin -ssi, kami akan melakukan proses persalinannya. Bisa tarik nafasmu dalam-dalam?” tiba-tiba dokter memberikan instruksi.

Kerumunan perawat juga sudah siap siaga di sisi ranjang. Hal ini membuat Yong Joon secara otomatis mengeratkan genggaman tangannya dan satu tangan lain tak henti mengusap puncak kepala Soojin .

Rupanya menjadi calon ayah itu tidak hanya harus siap mental, tapi juga siap fisik. Beberapa menit lamanya dokter menyuruh Soojin untuk menarik nafas, mengejan, sampai menjerit

Soojin melampiaskan kesakitannya pada Yong Joon. Tiap kali ia menjerit, Yong Joon juga menjerit karena kulitnya tertancap kuku Soojin dan tiap kali istrinya itu mengambil nafas, Yong Joon juga akan melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya sampai membuat beberapa perawat menahan tawa melihat kelakuan calon ayah muda ini. Tapi Yong Joon tidak menyingkir atau mengeluh sampai telinganya mendengar tangis nyaring dari bawah sana.

Salah satu perawat menggendong bayi perempuan mungil berlumuran darah dan senyum cerah seketika melambung di wajah Yong Joon. Tapi sayangnya, itu tak berlangsung lama.

“Kau masih kuat kan, Soojin -ssi? Tarik nafasmu kembali seperti sebelumnya. Hana…dul…set…

Mwo?Lagi?!” pekik Yong Joon.

“Aaaaaarrrgggggghhhh!” Soojin berteriak semampu yang ia bisa.

Yeoja ini juga mencengkram erat kemeja Yong Joon, membuat penampilannya berantakan dan menancapkan kuku-kuku tangannya ke kulit sang suami.

“Selamat, Soojin -ssi! Kau melahirkan sepasang anak kembar! Keduanya perempuan!” suara dokter bagai terdengar jauh di telinga Yong Joon.

“Kau ayah yang sempurna.” lirih Soojin .

Saat itu Yong Joon baru menoleh ka arah dua perawat disana yang menggendong kedua buah hati mereka. Wajah-wajah mungil tak berdosa itu adalah makhluk yang akan memenuhi hari-harinya nanti sebagai ayah.

Rengekan nyaring mereka membuat semua rasa sakit bekas kuku-kuku tangan Soojin tidak terasa. Bahkan Soojin sendiri sekarang sudah tertawa pelan melihat ekspresi wajah Yong Joon. Jelas tak ada yang bisa menandingi rasa bahagianya menjadi ibu dari si kembar.

“Kami akan membawa bayi kalian untuk dibersihkan. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua.”

Yong Joon tidak bisa menjawab, melainkan membungkuk sesopan mungkin sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Setelah itu, ia kembali meraih tangan Soojin dengan kedua mata berair.

“Kau menangis?” tanya Soojin heran.

“Aniya, Aku hanya terharu.”

Tawa pelan berderai dari bibir Soojin kemudian satu ibu jarinya mengusap lembut kedua ujung mata Yong Joon.

“Maaf. Istri anda masih harus menjalani perawatan pasca melahirkan. Anda boleh menunggu diluar, Yong Joon -ssi.” seorang perawat datang ke samping Yong Joon dengan membawa beberapa peralatan.

“Ne, algeuseumnida.”

Dengan senyum simpati, perawat itu undur diri dan menutup tirai hijau yang menyelubungi ranjang Soojin .

Setetes air mata bahagia meleleh ke pipi kanannya.

“Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak.” kata Yong Joon masih dengan bibir menempel ke kening Soojin .

Yeoja itu tersenyum lalu mengecup kilat pipi Yong Joon.

.

.

.

Sesosok pria yang kemejanya kusut seperti habis terlibat perkelahian dengan rambut berantakan di segala sisi dan bekas cakaran di kedua tangannya itu membuat sepasang suami istri didepannya menatap heran.

Yong Joon berhenti tepat didepan keduanya itu dengan nafas terengah.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau lusuh seperti ini?” tanya So Yeon.

Namja itu menarik nafas panjang kemudian melonggarkan dasi yang sudah tak berbentuk di kerah kemejanya. Sedetik kemudian, ia menjawab lemas.

“Soojin sudah melahirkan…”

So Yeon memekik gembira.

“Sungguh? Laki-laki atau perempuan?!” So Yeon bertanya lagi.

Kali ini Yong Joon diam sebentar, menelan ludah dan menatap wajah So Yeon sebelum memberikan jawaban tegasnya yang diselingi dengan sebuah senyum bangga.

“Perempuan. Kembar.”

“MWOOOOO?! Argghh… Chukkae… So Yeon memekik keras.

.

.

Dan empat jam kemudian, So Yeon dan Sang Woo mengunjungi Soojin untuk menemui dua makhluk menggemaskan yang baru saja hadir menyapa dunia. Mereka semua puas hanya menatap si kembar di ranjang itu terlelap damai.

“Harus ku panggil siapa para putri cantik ini, hm?” Tanya Sang Woo menggoda.

“Ne?”

Sang Woo hanya tersenyum tenang sambil melipat dadanya.

“Aaah…” Soojin itu mengerjap linglung.

“Mwoya?Jangan bilang kalau kau tak menyiapkannya.”

“Tapi memang tidak.” Soojin menjawab polos.

“Ne?

So Yeon langsung terkikik saat Soojin menggelengkan kepalanya dengan wajah bersalah.

“Aku hanya fokus ingin melahirkan normal. Jadi selama ini aku tak pernah kepikiran soal nama. Mian..

Yong Joon menerawang ke tembok kamar selagi pikirannya berkelana pada deretan alphabet.

“Bagaimana? Terpikirkan dua nama?” tagih Soojin.

“Bagaimana jika Bae Rinah dan Bae Minah?”

“Rinah dan Minah?” Tanya So Yeon.

“Kau tahukan jika Kita akan pergi ke Jepang. Rinah dan Minah, nama yang mudah diucapkan oleh Kita saat Kita nanti di Jepang. Kita tidak perlu repot mengganti namanya karena Nama Mereka sangat mudah dilafalkan. Eotte?”

Sang Woo hanya mengelus dagunya.

“Jadi Kita akan memanggil Mereka, Rinah untuk kakaknya, Aku harap Dia bisa jadi panutan untuk Adiknya. Dan Minah untuk bungsu Kita, Aku harap bisa Dia bisa membuat mengayomi semua orang, termasuk Kita semua.”

Soojin hanya memeluk suaminya sayang.

.

.

.

6 bulan kemudian

Dalam perjalanannya ke bandara, Yong Joon benar-benar pelan karena dia ingin keselamatan istrinya dan juga kedua putrinya. Karena akan sangat berbahaya jika Dia lengah menyetir.

“Tenang saja So Yeon – ah. Kami akan menghubungimu setelah sampai di Yokohama. Sampai jumpa nanti” ujar Soojin memutus telepon.

Kening Yong Joon mengerut heran.

“Ada apa dengan So Yeon?” tanyanya penasaran.

“Eopseo.” jawab Soojin santai.

Mobil melaju dengan pelan namun petaka datang.

Sampai kemudian, sebuah truk besar tiba-tiba saja seperti kehilangan kendali, hampir menerjang ke arah mereka berdua tanpa ampun.

Yong Joon kehilangan kendali. Mobilnya membanting kesamping, dia sempat merasakan sengatan rasa sakit dan kilatan pedih di matanya.

Sementara Soojin berteriak, merasakan pedihnya ketika serpihan kaca menerpa kulitnya, dia masih meneriakkan nama anak – anaknya yang menangis kencang sampai kemudian kesadarannya tertelan oleh kegelapan yang pekat, menelannya mentah-mentah hingga kemudian dia tidak teringat apa-apa lagi. ,

Mobil Yong Joon menabrak pohon besar dengan begitu kerasnya sampai bagian depan mobilnya ringsek menekannya. Bunyi keras tabrakan itu membuat orang-orang berkumpul dan datang menolong, sementara Yong Joon dan Soojin tak sadarkan diri di dalam, terjepit di mobilnya sendiri, berlumuran darah.

Huweeekkkk…

Suara tangisan bayi makin mengencang.

“Ada bayi di belakang mobil. Cepat selamatkan, bayinya.” teriak seorang wanita muda.

Seorang laki-laki kemudian memecahkan kaca mobil dan mengeluarkan Rinah dari mobil. Lalu menepi dari mobil.

“Yakkk, cepat telepon ambulance. Bisakah kalian juga bawa bayi satunya?” Tanya lelaki itu.

Lalu seorang wanita sigap membawa Minah dari mobil.

“Ya, Tuhan apa yang terjadi sebenarnya?” batin wanita itu meringis.

.

.

.

“So Yeon tenanglah.” ujar Sang Woo menenangkan.

Kim So Yeon tak peduli, Dia berlari kencang menuju Kamar Mayat.

Tangisan bayi yang mengencang dan juga kepanikan So Yeon hampir membuat kepala Sang Woo hampir pecah.

Rinah dan Minah sedari tadi menangis kencang, meskipun sudah diberi susu dan juga ditimang oleh orang dan polisi yang membawanya dari tempat kecelakaan.

“Apakah Kau, Kim So Yeon?” tanya perempuan yang tengah menimang Minah.

“Ne.” jawab So Yeon singkat.

“Aku yang menelepon padamu berdasarkan catatan panggilan terakhir korban. Aku minta maaf, Aku juga turut berduka cita. Kami hanya bisa menyerahkan kedua bayi ini pada Kalian. Karena menurut Kami, Kalian lah yang pantas merawat Mereka. Mereka masih terlalu kecil untuk kehilangan kedua orang tua Mereka.” ujar seorang pria yang merupakan polisi yang tengah menimang Rinah dan memberikannya pada So Yeon.

“Kami tak bisa berlama – lama, maaf Kami tak bisa mengurus pemakamannya. Tapi Kami hanya berkata turut berduka cita.”

Lalu yeoja itu menyerahkan Minah kepada Sang Woo.

“Gwaenchaseumnida. Kami berterima kasih telah menjaga Mereka berdua. Biar kami urus pemakamannya.”

Lalu namja dan yeoja itu berpamitan meninggalkan Mereka.

“Biar Kita urus pemakaman Mereka.”

.

.

.

Di tempat upacara pemakaman,

Di rumah duka semua yang mengenal pasangan suami istri itu datang untuk ikut berbela sungkawa.

Sang Woo menyambut semua pelayat, sementara So Yeon memilih mengurus si kembar yang sedari tadi rewel.

Ketika Upacara pemakaman sudah selesai, Sang Woo memilih meletakkan Abu Bae Yong Joon dan Park Soo Jin di satu bilik yang sama di columbatorium.

“Aku akan menjaga Mereka dengan baik. Kalian tenanglah di alam sana.” batin Sang Woo.

Sang Woo memberi penghormatan terakhir dan meninggalkan bilik itu.

.

.

.

Ada banyak perubahan dalam Rumah Tangga So Yeon dan Sang Woo semenjak kehadiran 2 malaikat titipan Yong Joon dan Soo Jin. Biasanya Mereka akan bergantian mengurus Minah dan Rinah, dari bangun tidur, memandikan, memberi makan, sampai Mereka terlelap di malam hari.

Namun ternyata di balik itu So Yeon merasa hancur ketika tahu jika Dia tak bisa hamil. Maka dari itu, So Yeon memutuskan untuk mengadopsi Mereka secara resmi dan mengubah marganya menjadi marga Suaminya yaitu Lee Rinah dan Lee Minah.

.

.

.

7 tahun kemudian…

“Kita berpisah saja. Aku tak sanggup untuk menjalani hidup denganmu lagi.”

Saat itu So Yeon berteriak marah karena Sang Woo menduga Dia berselingkuh dengan salah satu temannya di Blue House.

“Arraseo, jika itu mau mu. Aku juga tidak sanggup hidup dengan wanita jalang seperti mu.”

Dengan cepat, Sang Woo berlari menuju kamarnya, mengemasi barang – barangnya kedalam koper.

“Aku akan menyiapkan surat cerainya besok.”

Setelah itu koper tertutup dan Sang Woo meraih kunci mobil.

Setelah itu, Dia menuju garasi.

Dan disaat bersamaan. Rinah dan Minah pulang dari Sekolah.

“Appa.” teriak Mereka bersamaan.

“Kalian berdua ikut dengan Appa.” Sang Woo langsung menarik Rinah dan Minah.

“Kau tak boleh membawa Mereka. Mereka bukan anak kita.” So Yeon datang mengintrupsi dengan panik.

“Tapi Aku tidak akan membiarkan Mereka diasuh oleh yeoja brengsek sepertimu.” Sang Woo berniat membawa Mereka pergi.

Tetapi So Yeon langsung menarik Rinah dan membuat Sang Woo juga ikut menarik Rinah.

“Eomma… Appa… Appoo…” ringis Rinah.

“Sudah kubilang jangan pernah membawa Mereka.” teriak So Yeon.

“Appa…” Rinah mulai ketakutan.

“Baiklah, kalau begitu biar Aku yang hanya membawa Minah. Kau boleh mengambil Rinah. Tapi Apakah Kau yakin jika Rinah bahagia hidup dengan Ibu sepertimu.” Ujar Sang Woo final.

Sang Woo kemudian menghempaskan tangan Rinah kasar dan mendorong So Yeon hingga terjatuh. Sang Woo membawa Minah keluar menuju mobil yang terparkir di garasi, tak peduli Minah menangis, berteriak minta dilepaskan.

Sementara So Yeon mencoba bangkit dan mengejar Sang Woo dengan menggendong Rinah.

“Ya! Lee Sang Woo, hentikan.”

Namun terlambat Sang Woo sudah masuk kedalam mobil dan pergi.

Meninggalkan So Yeon dan Rinah menangis histeris.

.

.

.

Dan semuanya telah berubah sejak saat itu.

 

 

To Be Continued…

Anyeonghasseyo….

Ini adalah Prologue

Akan ada banyak kejutan di Chapter Selanjutnya Bebbb…………

Jangan lupakan tinggalkan komentar anda kawann….

Selalu dukung fanfic ini agar ide lancar terus………

See you next chapter kawan…

Rainalee17 2017 Copyright

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Twins Promise (Prologue)

  1. WOAAH KERENN BANGET PROLOGUE-NYA! Aku sukaaaaa♥♥

    Aku suka banget cara penceritaannya, dan uwahh aku jadi penasaran jadinya nih, kelanjutannya gimana… Sayang banget ortu-nya kembar meninggal cepet banget 😥

    Semoga chapter ke depan makin seruu xD entah diri ini juga masi bingung dengan sedikit ‘sejarah’ yg ada di awal terus dikaitkan dgn Rinah-Minah (namanya keren btw xD)

    Hahaha, gak tau mau ngomong apa lagi nih, pokoknya selalu semangat ya, Raina-nim ♥ Keep writing and stay healthy!! ;D

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s