[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 1)

MBA1

 

|| Married by Accident [Chapter 1] ||

by ariana kim

|| Kim Jongin – Park Hana ||

Romance – Married Life – Sad

Multi Chapter

PG – 17 (berubah tiap chapter)

Summary :

Ini memang bukan kisah baru dalam kehidupan manusia. Namun pernahkah kau berpikir sebuah kecelakaan mampu membuat dua orang bersatu? Kau tidak akan pernah menduga apa yang terjadi sebenarnya.

Disclaimer :

Fanfic ini asli buatanku. Ide cerita berasal dari khayalanku yang tidak pernah terealisasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, alur dan setting, itu hanyalah ketidaksengajaan. Don’t bash and copas. Be a good reader!

*

*

*

The first meeting #1.

“Sudah ku bilang jika aku yang melihatnya duluan. Berani-beraninya kau merebutnya dariku!!”

“Yak!! Kau yang justru merebutnya setelah aku mengambilnya!”

“Dasar gadis sialan!”

“Kau brengsek!”

Perdebatan antara dua orang perempuan itu masih terus berlanjut walau kini mereka sudah digandeng dan didudukkan di kantor keamaan mall. Beberapa petugas yang sejak tadi ada di ruangan itu hanya geleng-geleng kepala dan tak mampu melerai kedua perempuan itu atau mereka akan terkena akibatnya – ikut-ikutan terkena pukulan. Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap diam, sembari menunggu keluarga ataupun orang yang akan menjamin mereka.

Kedua perempuan yang sejak tadi beradu mulut, nampaknya masih belum merasa lelah ataupun kesakitan walaupun penampilan mereka sudah cukup mengerikan. Rambut yang berantakan bak singa baru bangun tidur, make up yang luntur di sana sini dan membuat wajah cantik mereka bak badut karnaval, dan jangan lupakan beberapa bekas cakaran maupun pukulan yang menghiasi lengan mereka yang terbuka. Para pertugas tersebut juga sampai bingung, bagaimana bisa dua orang perempuan yang tampak lemah lembut tersebut bisa menyakiti satu sama lain hanya karena berebut sepatu. Catat itu. Hanya karena sepatu.

Park Hana, gadis berambut cokelat yang duduk di sebelah kiri, mulai jengah. Berkali-kali ia melemparkan tatapan tajamnya pada Kim Ara, gadis di sampingnya yang sejak tadi mengoceh – menjelek-jelekkan dirinya. Ia melihat jam tangannya, dan mendesis saat tak menemukan sosok yang tadi ia telfon untuk segera menjemputnya.

“Apa lihat-lihat? Kau iri dengan kecantikan abadiku?” Sungut Ara dengan nada kasar. Ia balas menatap Hana tajam dan sedikit menaikkan sudut bibirnya – mencibir.

Hana tenang-tenang saja ditatap seperti oleh musuh bebuyutannya. Ia tak gentar sama sekali dan tak berniat untuk menurunkan pandangannya, “Maskaramu luntur.” Katanya acuh tak acuh.

Ara yang mendengar hal tersebut, langsung melonjak dari kursinya dan mengobrak-abrik isi tasnya. Diambilnya sebuah cermin kecil dan ia langsung menjerit histeris melihat tampilan dirinya.

“Kya~~ kau sialan, Park Hana.” Ara kembali mengumpat sambil membersihkan bagian bawah matanya dengan tissue basah.

“Kau yang sialan, Kim Ara.” Hana tak mau kalah, “Kenapa aku harus selalu bertemu denganmu di mall sebesar ini.” Sambungnya.

“Permisi.”

Dari arah belakang, masuk seorang lelaki jangkung dengan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Seorang petugas menghampirinya dan lelaki itu mengatakan jika ia adalah salah satu penjamin dari dua perempuan yang berkelahi tadi. Mendengar suara yang begitu familiar baginya, Hana berbalik dan senyum cerah langsung terbit di wajahnya yang cantik.

“Chanyeol Oppa..” Panggilnya manja. Ia langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan lelaki itu, mengabaikan beberapa orang yang hampir jantungan melihat tingkahnya.

“Yak, lepas!” Chanyeol mendorong Hana menjauh darinya dan bisa Hana dengar suara Ara yang cekikikan melihat ia ditolak mentah-mentah oleh kakaknya.

“Kali ini apa lagi yang adik saya lakukan, Miss?” Chanyeol bertanya pada petugas perempuan yang sejak tadi duduk di depan Hana dan Ara.

Petugas itu untuk sepersekian detik nampak terpesona melihat wajah Chanyeol yang mulus dan rupawan. Namun buru-buru ia berdehem agar tetap terlihat berwibawa dan melihat lelaki jangkung bak tiang listrik tersebut. Masih dengan mata yang berkilau. “Adik Anda ketahuan berkelahi dengan Nona muda ini untuk memperebutkan sepatu. Dan sayang sekali harus mengatakan hal ini, Anda sebagai penjaminnya harus membayar denda atas kerusakan sepatu ini, Tuan.”

Chanyeol melongo melihat sepatu mengenaskan yang salah satu haknya patah. Mungkin karena ulah dua perempuan ini. Ia memperhatikan sepatu berwarna peach dengan hiasan kerlap-kerlip yang mengelilinginya.

“Oppa, jangan bayar. Aku tidak merusaknya.” Hana bersuara, mengalihkan perhatian Chanyeol dari sepatu itu.

“Berapa semuanya, Miss?” Chanyeol mengabaikan ucapan Hana dan bersiap mengeluarkan dompet dari saku celana jeansnya.

“Karena sepatu ini dirusak oleh dua orang, masing-masing harus membayar seratus ribu won, Tuan.”

Chanyeol hampir terkena serangan jantung dan pingsan di tempat mendengar seberapa banyak ia harus mengganti kerugian tersebut. Jika dihitung-hitung, itu artinya ia harus merelakan gajinya selama enam belas jam kerja di restoran Italia – tempatnya bekerja. Haruskah ia membuang uangnya hanya untuk barang rusak yang bahkan tidak akan pernah ia rasakan nilai gunanya?

“Oppa.” Hana menyentaknya, menyentuh tangan Chanyeol. “Kubilang gadis sialan itu yang merusaknya.” Sambungnya sambil menatap Ara tajam.

“Yak! Kau yang mematahkan haknya, bodoh!” Ara tak mau kalah. Ia berdiri dan kini berkacak pinggang.

“Sudah-sudah.” Chanyeol melerai perkelahian dua perempuan yang sama sekali tidak penting itu. “Ini, Miss. Kupastikan dia tidak akan pernah datang kesini lagi.” Katanya pada petugas perempuan itu.

Segera setelah ia meletakkan uang itu di atas meja dengan perasaan bercampur aduk antara sedih, marah, malu dan tidak rela, ia menarik tangan Hana dan membawa gadis muda itu keluar dari ruang petugas keamanan. Ia tak menghiraukan omelan dan teriakan gadis itu yang meminta untuk dilepaskan tangannya. Namun karena Chanyeol sudah terlampau marah, ia terus saja menyeret tangan gadis itu hingga mereka sampai di tempat parkir.

“Masuk!” Perintahnya bak raja yang mau tak mau dituruti oleh Hana. Ia memutari mobil box yang mengangkut bergalon-galon air mineral di belakangnya dan duduk di samping kursi kemudi.

“Aku akan mengganti uangmu.” Ucapnya setelah Chanyeol menyalakan mesin dan mobilpun berjalan menjauh dari mall.

Chanyeol tak mengalihkan pandangannya dari jalanan di hadapannya. Ia fokus menyetir, “Kau memang harus melakukannya.” Jawabnya ringan. “Hanya saja aku tidak mengerti denganmu.”

Hana menoleh mendengar kalimat terakhir Chanyeol. Keningnya berkerut.

“Ini sudah tiga kali dalam setahun kau bertengkar dengan gadis itu hanya karena hal-hal sepele – “

“Itu bukan hal sepele, Oppa. Aku menginginkan sepatu itu untuk acara reuni besok.” potong Hana cepat.

Chanyeol menghela nafas panjang. Ia nampak menggeram menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya. “Biarkan aku menyelesaikan kalimatku, oke?” sentaknya. Hana hanya terdiam mempersilakan lelaki itu meneruskan, “Dan selama itu pula aku harus datang menjemputmu dan menjaminmu, dengan mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya. Kau tahu seperti apa aku bekerja ‘kan?”

Hana mengangguk. Ia tahu kakak lelakinya itu bekerja keras membanting tulang. Di siang hari ia mengantar galon berisi air mineral dan di sore hari hingga larut ia bekerja di restoran Italia. Hampir tak ada waktu bagi lelaki itu untuk sekadar bersenang-senang. Diam-diam Hana merasa bersalah.

“Ne. Mianhae, Oppa.” Ucapnya lirih. Ia tak berani menatap lelaki itu.

“Bukankah sudah kubilang untuk tetap fokus pada tujuanmu?” Sepertinya Chanyeol belum mau berhenti, “Kau akan mengikuti ujian masuk PNS tahun ini dan kau malah menyia-nyiakan waktumu berkelahi dengan gadis dari antah berantah itu?”

Yah. Chanyeol menjadi menyebalkan lagi. Pikir Hana kesal.

“Kau pikir gampang mencari uang? Ini sudah hampir setahun kau lulus dari universitas dan kerjamu hanya bersenang-senang menghabiskan uang pacarmu. Kau pikir mau jadi apa kau nanti?” Chanyeol mengomel tidak jelas. Membuat Hana jengah.

“Tentu saja aku ingin menjadi PNS.” Jawabnya acuh. Ia lebih memilih memperhatikan kukunya yang sedikit tergores akibat perkelahiannya dengan Ara tadi. Mungkin ia harus meminta uang pada Baekhyun untuk biaya ke salon.

“Itupun jika kau masuk.” Sela Chanyeol enteng. “Kau tahu ‘kan betapa sulitnya menjadi PNS? Kau menolak semua tawaran kerja dari teman-temanku dan malah membiarkan dirimu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.” Keluhnya. Memang Chanyeol sudah sering merekomendasikan Hana kepada teman-temannya yang memiliki beberapa perusahaan yang cukup bonafit mengingat nilai Hana yang tidak jelek-jelek amat. Gadis itu cukup berprestasi saat di universitas dan Chanyeol berharap banyak padanya. Namun gadis sialan yang tidak tahu diri itu malah menolaknya mentah-mentah, menggantungkan hidupnya pada beberapa pacarnya yang kaya dan playboy itu.

“Turunkan aku di perempatan jalan, Oppa.” Ucap Hana tak menggubris kalimat panjang Chanyeol yang seperti kereta api listrik.

Chanyeol hanya menurut, sepertinya mulutnya sudah lelah marah-marah tidak jelas dan ia hanya membuang-buang tenaganya saja. Apalagi gadis yang ia marahi nampak tak tertarik sedikitpun mendengarkan ocehannya. Ia menghentikan mobilnya di perempatan jalan, sesuai keinginan gadis itu, dan Hana pun keluar sambil menjinjing tasnya.

“Mau kemana kau?” teriaknya saat gadis itu hanya berjalan melewatinya.

“Tentu saja ke tempat bimbingan belajar.” Jawabnya tanpa menoleh.

Chanyeol mengangguk walaupun Hana tidak melihatnya. Sudah hampir setahun ini Hana hanya menghabiskan waktunya di tempat bimbingan belajar, berharap agar ia bisa mengerjakan soal ujian masuk PNS yang katanya tingkat kesulitannya hampir menyamai ujian masuk ke IVY.

.

.

.

.

“Kau membuatku malu, Ara.”

Seorang lelaki dengan setelan rapi khas pakaian kantor nampak menatap Ara dengan wajah lelahnya. Ia berkali-kali melarikan tangannya pada anak rambut yang mencuat keluar hingga mengenai matanya. Menghidupkan mesin mobilnya, ia menginjak pedal kencang-kencang hingga mobil berjalan bak dikendari orang yang kesetanan.

“Jika bukan karena gadis sialan itu, aku juga tidak mau repot-repot menjatuhkan harga diriku, Oppa.” Jawab Ara acuh. Ia masih memperhatikan penampilannya dan mengecek keadaannya yang masih kacau seperti di ruang keamaan tadi.

“Sebenarnya siapa yang kau maksud? Aku belum pernah melihat gadis yang berkelahi denganmu.” Tanya lelaki itu. Namanya Kim Jongin, kakak lelaki Kim Ara.

Ara menghembuskan nafasnya yang terdengar sangat berat. Ia sedang tidak mau membahas gadis itu sebenarnya. “Kau tahu ‘kan musuh bebuyutanku di universitas yang lebih dulu lulus dariku?”

Mendengar hal itu Jongin tertawa. Ya, ia ingat bagaimana marahnya adiknya ini karena teman yang ia anggap sebagai musuh bebuyutannya itu lebih dulu lulus darinya. Ara sudah empat tahun lebih kuliah namun ia tak kunjung lulus. Bukan karena ia tidak pandai. Gadis itu suka sekali bepergian ke luar negeri hanya untuk membeli barang-barang bermerk yang tak berguna dan melupakan pendidikannya. Namun sepertinya, setelah dikalahkan oleh musuhnya, Ara berambisi untuk lulus tahun ini dengan nilai yang lebih tinggi dari gadis itu. Entah siapa namanya. Ara tidak pernah mau menyebutkannya dan Jongin juga tidak ingin repot-repot melihatnya.

“Aku ‘kan sudah menyuruhmu untuk kuliah dengan benar. Bukannya mengejar baju dan tas tak berguna itu.” Omel Jongin, memarahi adiknya.

“Oppa jangan menghina mereka. Mereka itu anak-anakku, harta berhargaku bla bla bla”

Dan mendengar hal itu untuk kesekian kalinya, membuat Jongin serasa ingin menjedotkan kepalanya pada kemudi kemudian membawa mobil yang mereka tumpangi meluncur hingga jatuh ke sungai Han. Setidaknya itu lebih baik daripada mendengar ocehan tidak berguna yang keluar dari mulut adik semata wayangnya.

Untungnya Tuhan sedang berbaik hati padanya. Ponselnya berdering dan menghentikan ocehan gadis itu. Ia melirik ponselnya sebentar, dan senyum cerah mengembang di wajah tampannya.

“Hai, Hyerin.” Sapanya pada gadis di seberang yang meneleponnya. Mendengar nama itu disebut, Ara serasa ingin muntah dan memilih menutup telinganya dengan earphone.

“Kau dimana?” Tanya gadis bernama lengkap Lee Hyerin itu pada Jongin, tunangannya.

“Di perjalanan pulang. Seseorang mengacaukan hariku lagi.” Ucapnya, dengan ekor matanya melirik pada Ara.

“Kenapa lagi dengannya?” Hyerin sudah bisa menebak maksud perkataan lelaki itu. Ini bukan hal baru lagi karena Ara sudah sering berulah dan menyusahkan kakaknya.

“Bertengkar di mall, dengan musuh bebuyutannya.”

Terdengar suara tawa renyah yang begitu merdu dari seberang, membuat Jongin serasa melayang ke angkasa.

“Aku penasaran seperti apa gadis yang berani melawan adikmu. Dia pasti sama kuat dan menyeramkannya seperti adikmu, Jongin.” Ucap Hyerin, diakhiri dengan tawanya yang tidak bisa berhenti.

“Ya, aku juga penasaran.” Balas Jongin singkat. Matanya masih terus tertuju pada jalanan, dan kini melupakan makhluk mengenaskan yang duduk di sampingnya.

“Baiklah. Aku harus melakukan pemotretan lagi sekarang.” Hyerin mencoba menutup pembicaraan, “Aku akan meneleponmu begitu pekerjaanku berakhir hari ini.”

“Baiklah. Sampai nanti, Hyerin.”

BIIP

Sambungan terputus dan Ara bisa bernafas lega. Ia melirik kakak lelakinya yang masih merona akibat percakapan tidak pentingnya dengan gadis yang sebulan lagi akan ia nikahi itu. Ara mencibir. Ia tidak suka jika kakaknya berdekatan dengan perempuan lain.

.

.

.

.

Berkali-kali Hana mendesah kecewa. Ini sudah sepatu ke sepuluh yang ia coba untuk memantaskannya dengan seragam SMA yang ia pakai namun tidak ada satupun yang cocok. Hana sedikit sedih. Harusnya hari ini ia bisa menghadiri reuni SMAnya dengan sepatu yang ia pilih kemarin, jika saja si sialan Ara itu tidak merebutnya dan membuat sepatu itu rusak. Hana kembali mendesah, dan matanya menangkap sepatu sneakers berwarna putih di sudut rak.

Ia mengambilnya dan mengamatinya. Ia tidak ingat kapan tepatnya ia membali sepatu itu, namun saat ia iseng mencobanya dan mematut dirinya di depan cermin besar, ia merasa penampilannya sudah sempurna kali ini. Seragam SMA empat tahun lalu yang masih muat di tubuhnya, rambutnya yang sudah ia tata sedimikian rapi, make upnya yang minimalis namun masih membuatnya cantik, dan jangan lupakan sneakers yang membuat penampilannya bak gadis berusia delapan belas tahun lagi.

Hana mengerucutkan bibirnya sebal. Ia tidak tahu kenapa ia masih cocok memakai seragam itu walaupun usianya sudah dua puluh dua tahun. Mungkin karena wajahnya yang sedikit baby face dan kecantikan yang diturunkan dari Ibunya, membuatnya hampir-hampir tidak sanggup untuk hidup. Pasalnya dengan wajah secantik ini, banyak sekali lelaki yang berdatangan merayunya dan mengajaknya berkencan. Tentu saja Hana hany akan memilih lelaki tampan dan kaya saja.

Tepat pukul sepuluh pagi, ia sampai di tempat acara reuni. Acara tersebut diadakan di sebuah hall hotel berbintang lima yang katanya harga sewanya saja selangit. Untung saja SMA tempat Hana sekolah dulu adalah SMA bergengsi dengan banyak siswa kayanya, jadi ia tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk iuran reuni.

Di sana, Hana kembali bertemu dengan teman-teman SMAnya. Kebanyakan mereka sudah bekerja di beberapa perusahaan besar, ada juga yang meneruskan pendidikannya ke luar negeri dan sisanya sudah berkeluarga. Bahkan ada yang membawa anak.

Hana tidak habis pikir, bagaimana bisa teman-temannya itu mau menikah di usia muda begini? Memang bagi kebanyakan orang, usia dua puluh dua tahun adalah usia dimana orang sudah siap untuk menikah dan membangun rumah tangga. Namun bagi Hana, menikah hanya akan menghambat langkahnya untuk meraih apa yang ia inginkan. Terlebih jika sudah punya anak. Ugh, rasanya begitu menyebalkan apalagi harus mendengar tangisannya setiap hari selama bertahun-tahun dan berujung tidak bisa memanjakan dirinya sendiri. Hana rasa, menikah adalah tujuan hidupnya yang ke seratus sekian.

Acara baru berjalan satu jam dan Hana sudah merasa bosan. Pasalnya berkali-kali ia menghindari beberapa lelaki yang dulu pernah menjadi pacarnya saat SMA saat mata mereka tak sengaja bertemu. Hana tidak berniat untuk bertemu lagi dengan mereka, walaupun hanya untuk sekadar bertukar kabar. Bagi Hana, masa lalu adalah masa lalu dan tak perlu diungkit lagi. Ia terbiasa mencampakkan orang-orang dan tak sadar jika hal itu nantinya akan berbalik menimpanya.

Merasa jengah, Hana memutuskan untuk keluar dari tempat acara berlangsung. Tak lupa ia membawa tas jinjingnya jika ia berubah pikiran untuk segera pulang. Sambil memainkan ponsel di tangannya, ia berjalan tak tentu arah. Karena tidak fokus pada jalanan di depannya, Hana menabrak seseorang dan membuat ponselnya jatuh ke lantai. Hana mendesis karenanya.

“Sial.” Rutuknya dengan suara rendah yang masih bisa di dengar oleh orang di dekatnya.

Hana ingin memungut ponselnya yang tergeletak mengenaskan di lantai namun tangan seseorang lebih dulu mengambilnya. Mata Hana mengikuti pergerakan tangan tersebut dan bersitatap dengan seorang lelaki, pemilik tangan tersebut. Jangan ditanya apakah Hana akan marah-marah atau tidak, karena ia sudah sepenuhnya lupa akan ponselnya. Salahkan lelaki tampan nan rupawan yang ada dihadapannya ini.

“Maafkan aku.” Ucap lelaki itu, yang tak lain adalah Jongin. Ia mengembalikan ponsel Hana, namun tak kunjung diterima oleh pemiliknya hingga mau tak mau Jongin mengambil tangan gadis itu dan meletakkan ponselnya di atasnya.

“Oh.” Seakan tersadar, Hana merasakan sengatan kecil di tangannya saat tangan hangat lelaki itu bersentuhan dengan kulitnya. Ia merasa seolah melayang, dengan beribu kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Lelaki di depannya ini, seperti mengeluarkan sinar menyilaukan dari sisi tubuhnya yang membuat Hana silau. Silau akan pesonanya yang mematikan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Jongin yang untuk sesaat tertegun saat ia mengamati wajah Hana. Gadis di depannya ini yang memakasi seragam SMA yang terlihat imut sekaligus menggemaskan.

“Ah, ne.” Jawab Hana tergagap. Walau ia terbiasa dengan lelaki tampan yang wara-wiri menjadi pacarnya, namun lelaki yang satu ini luar biasa dengan pesonanya. Mungkin ia bukan yang tertampan, namun ada daya tarik tersendiri yang membuat lelaki ini nampak istimewa. Seistimewa hartanya mungkin. Pikir Hana, terlebih saat melihat betapa keren dan mahalnya pakaian yang dikenakan lelaki itu.

“Ini masih jam sekolah. Tidak seharusnya kau berada di sini, bukan?” Tanya Jongin akhirnya, setelah lama terdiam. Semakin lama ia mengamati wajah cantik gadis itu, justru mengingatkannya akan seseorang. Dan ia tahu siapa yang ia maksud.

Hana terdiam mendengar pertanyaan lelaki itu. Jam sekolah? Hahaha.. Hana rasanya ingin tertawa sambil jungkir balik mendengarnya. Apa lelaki ini pikir dirinya adalah siswa SMA? Di usianya yang sudah dua puluh dua tahun? Oh. Hana tidak bisa berhenti memuji dirinya sendiri. Ia memang masih nampak muda, dan cocok sekali memakai seragam ini. Tidak heran akan ada orang yang salah paham mengenai dirinya.

“Maaf, tapi sepertinya kau salah paham.” Ucap Hana mengoreksi. Namun sepertinya lelaki di depannya ini tidak menggubrisnya karena kini ia memegang ponselnya setelah dering yang terdengar.

“Maafkan aku sekali lagi. Aku harus pergi.” Ucap Jongin saat melihat ponselnya – Hyerin meneleponnya. Ia segera berlari menjauh dari Hana dan mengangkat panggilan Hyerin, sebelum gadis itu marah.

“Ya, Hyerin.”

“Kenapa lama sekali menjawab teleponnya?”

Tuh ‘kan. Hyerin selalu marah-marah hanya karena Jongin terlambat mengangkat telepon. Gadis itu memiliki temperamen yang buruk. Benar-benar kekanakan.

“Mian, ada insiden kecil tadi.” Jongin beralasan. Yah, alasan yang sebenarnya memang.

“Kenapa? Kau jatuh? Kau ditabrak orang? Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Hyerin bertubi-tubi membuat Jongin tersenyum. Ia tahu Hyerin begitu khawatir padanya dan begitulah cara gadis itu menunjukkan perhatiannya.

“Tepatnya aku yang menabrak.” Jongin menimpali, diakhiri dengan kekehan kecil yang membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih tampan. “Aku tidak sengaja menabrak seorang gadis SMA.” Sambungnya.

“Oh. Itu buruk. Tapi dia baik-baik saja ‘kan?” Hyerin nampak khawatir.

“Ya.” jawab Jongin cepat, “Kau tahu, gadis itu begitu mirip denganmu. Kurasa.”

“Maksudmu?”

“Wajahnya benar-benar mirip denganmu. Postur tubuh dan siluetnya juga mirip denganmu, Hyerin. Bahkan untuk sesaat kupikir itu kau yang sedang pemotretan dengan seragam SMA. Dia terlihat seperti kembaranmu.” Jongin menjelaskan pemikirannya, membuat Hyerin tertawa.

“Hei, banyak sekali gadis korea yang ingin memiliki wajah sepertiku.” Ucapnya, membuat Jongin juga ikut tertawa. Hyerin adalah salah satu model terkenal dan pernah berpartisipasi dalam ajang pemilihan Miss Korea tahun 2015. Sayangnya ia hanya menjadi runner up.

“Benar juga. Hanya saja terlalu dini bagi gadis seusianya melakukan operasi pada wajahnya. Aku kasihan pada masa depannya.” Jongin menimpali. Kepalanya menoleh ke belakang, namun ia tak menemukan Hana di sana. Gadis itu sudah pergi entah kemana.

“Kau tetap tidak berubah, Jongin.” Hyerin berkata, membuat Jongin tertawa lagi. Entah kenapa, hanya karena ucapan dari Hyerin yang tidak begitu lucu, mampu membuat seorang Kim Jongin tertawa. Yah, itulah yang dinamakan the power of love.

“Omong-omong, kau sudah di Tongyeong?” Tanya Jongin. Semalam Hyerin bilang ia ada jadwal pemotretan di Tongyeong hari ini.

“Yap. Kami hampir sampai.” Balas Hyerin cepat.

“Oh. Hati-hati di jalan. Aku akan meneleponmu nanti.”

Dan Jongin pun menutup teleponnya.

.

.

.

.

Hana tidak tahu kenapa ia harus berakhir mengenaskan dengan tanpa uang dan tujuan yang jelas di Tongyeong. Saat ia memutuskan untuk pulang ke rumah karena bosan dengan acara reuni, Cho Kyuhyun – salah satu pacarnya – menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumahnya yang ada di Tongyeong.

Mungkin Hana sedikit mabuk saat itu karena gadis itu dengan gampangnya mengiyakan dan dengan uang terakhir di dompetnya, ia berangkat naik kereta bawah tanah ke Tongyeong masih dengan seragam SMAnya. Hanya membutuhkan perjalanan sekitar dua jam dan ia sudah sampai di rumah Kyuhyun. Namun bukan Kyuhyun yang saja yang ia dapati, karena di rumah yang begitu besar itu ada seorang wanita yang jauh lebih tua darinya, dengan dua anak lelaki yang mungkin berusia sekitar sepuluh dan lima tahun.

Hana bertanya, ada apa gerangan?

Dan jawaban datang begitu cepat saat wanita itu tiba-tiba saja menyiramkan air bekas cucian beras padanya, membuat pakaiannya basah kuyup. Ia hampir membalas perlakuan wanita itu dengan cacian yang sudah sampai di ujung bibirnya, saat wanita itu mengatakan bahwa ia adalah istri Cho Kyuhyun. Hana merasa ia dibodohi selama ini. Cho Kyuhyun yang ia pikir pemuda kaya raya banyak harta dengan pesona yang mampu bertanding dengan pria lainnya, nyatanya sudah beristri dan memiliki dua anak. Apa ia hanya dijadikan selingkuhan saja?

“Nona, kau tidak malu ya menjadi selingkuhan dari pria ini?”

Pertanyaan dari wanita itu masih terngiang-ngiang di telinganya, bahkan saat Hana mencoba untuk menghapusnya. Ia merasa benar-benar bodoh selama ini. Bagaimana bisa ia yang seorang ahli dalam menjalin hubungan dengan banyak lelaki bisa dijadikan selingkuhan oleh lelaki yang bahkan hanya ia manfaatkan saja uangnya?

“Dia sudah meninggalkan kami selama enam bulan, dan kembali ke rumah saat usahanya hampir bangkrut.”

Oh. Ternyata itulah alasan mengapa Kyuhyun menghindarinya akhir-akhir ini. Hana sudah merasa ada yang tidak beres dengan pria itu. Namun ia hanya tidak tahu. Dan sebenarnya tidak terlalu peduli. Ia masih memiliki kantong ajaib lain yang masih mampu menuruti segala keinginannya. Katakalah itu Byun Baekhyun, seorang pengusaha properti yang sukses sekaligus teman SMA Chanyeol, Kim Joonmyeon, seorang dokter bedah yang tampan dan Zhang Yixing, pria keturunan China yang memiliki sebuah teater di daerah Dongdaemun. Uh, Hana tidak merasa rugi kehilangan pria seperti Kyuhyun.

“Maafkan aku, Hana. Kita tidak usah bertemu lagi.”

Dan begitulah Kyuhyun menutup hubungan mereka yang sudah hampir dua bulan berjalan ini. Hana merasa sedikit malu, ia tidak pernah dicampakkan oleh seorang lelaki. Biasanya ia yang akan membuang mereka begitu ia merasa lelaki itu sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Namun kali ini, ia merasa kecolongan.

“Baiklah, Hana.” Ia mulai bicara pada dirinya sendiri. “Lupakan Cho Kyuhyun bodoh itu. Lagipula apa yang kau harapkan dari pria beristri yang sudah tidak kaya lagi?”

Begitulah Hana mengobati dirinya dari kekecewaan yang masih belum bisa pergi dari hatinya. Ia mencoba berpikir jernih. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya ia pulang? Ia sudah tidak punya uang sepeserpun dan ia tidak bisa menghubungi Chanyeol. Terakhir kali berhubungan dengannya, Chanyeol masih marah akibat insiden perkelahian kecil itu dan terus menuntut Hana untuk membayar hutangnya. Uh, dasar kakak yang jahat.

.

.

.

.

“Kau tidak harus melakukannya jika tidak mau. Masih banyak model lain yang lebih cantik dan lebih muda darimu yang mau melakukannya. Jangan berpikir kau yang terbaik, Nona. Hanya dengan menjentikkan jariku saja, karirmu akan hancur.”

Hyerin tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak memikirkan kata-kata dari PDnim yang seminggu lalu menawarinya kontrak kerja pemotretan hari ini. Kata-kata itu begitu tajam dan menghunus hatinya yang paling dalam. Pasalnya selama ia menjadi model, tidak pernah sekalipun ia diperlakukan begitu kasar hanya karena ia tidak mau melakukan apa yang orang itu suruh.

Tentu saja Hyerin tidak mau. Ia yang seorang model baik-baik, yang selama ini dikenal karena imagenya yang polos dan suci, dipaksa untuk berfoto telanjang di dekat air terjun. Apa ia sudah gila? Tentu saja ia tidak mau. Walaupun ia sudah berusia dua puluh tiga tahun – usia yang sudah dewasa, tetap saja itu melanggar prinsip dalam berkarirnya di dunia modelling. Lagipula, sebentar lagi ia akan menikah dengan Jongin, CEO Big Company, sebuah perusahaan raksasa yang mengelola department store, hotel dan resort mewah serta sebuah agensi hiburan yang cukup besar – dan ia tidak mau mencoreng wajah keluarga besar Kim hanya karena ia pernah berfoto telanjang untuk sebuah majalah populer.

PDnim tidak pernah mengatakan konsep pemotretan ini sebelumnya sehingga Hyerin hanya menyetujuinya tanpa berpikiran yang tidak-tidak. Ia pernah bekerja sama dengannya hingga tidak pernah terbersit dalam pikirannya pria itu akan mengambil konsep demikian. Namun saat ia menolaknya, pria berperawakan tinggi sedang dengan proporsi tubuh yang hampir gendut itu langsung menyerangnya dengan kata-kata kasar dan tajam. Dan ia berencana untuk menghancurkan karir Hyerin di dunia permodelan. Yang benar saja?!

Menjadi model adalah impian Hyerin sejak kecil dan ia tidak suka ada orang yang berniat menghancurkan hidupnya. Ia tidak bisa. Meskipun itu harus mengorbankan nyawanya sekalipun.

Ponselnya berdering saat mobil yang Hyerin kemudikan berjalan melewati jembatan panjang. Ia berniat untuk mengambil ponselnya namun karena tangannya yang basah terkena keringat, ponsel itu lolos dan jatuh ke bawah. Hyerin mendesah sebal. Itu adalah panggilan dari Jongin dan ia harus segera menerimanya. Ia ingin segera meluapkan amarah dan kekecewaan yang tengah menderanya. Jongin adalah lelaki yang istimewa, yang membuatnya nyaman untuk diajak bertukar pikiran.

Akhirnya, Hyerin melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya karena tangannya tak kunjung meraih ponselnya. Ia sedikit membungkukkan badannya dengan satu tangan yang masih memegang stir kemudi. Hyerin berhasil mendapatkan ponselnya. Saat ia kembali ke posisi awalnya, seekor kucing nampak berdiri di tengah jalan dan Hyerin yang tidak siap, terlonjak kaget hingga ia membanting stir ke kanan.

Panik dengan keadaan, tak sengaja ia menginjak pedal gas membuat mobil itu berjalan tidak terkendali hingga akhirnya menabrak pembatas jembatan dan jatuh ke dalam sungai beraliran cukup deras. Sebelum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Hyerin merasa semuanya gelap. Ia pingsan dengan ponsel yang masih menyala dalam genggamannya.

.

.

.

.

DUUUUMMMMM

Hana terlonjak dari tempatnya berdiri saat mendengar bunyi debuman yang cukup keras tak jauh dari tempatnya berada. Ia melihat sekeliling yang nampak sepi karena jarang sekali orang melewati area jembatan ini. Dengan perasaan was-was sekaligus penasaran, Hana berjalan ke arah kiri, menuju ke sungai. Baru beberapa langkah, ia melihat sebuah mobil ramping berwarna merah tercebur ke dalam sungai dengan posisi terbalik. Membuat Hana terkejut berkali-kali lipat.

Ia berlari menuruni undakan dan sampai di tepi sungai. Mobil itu jatuh tepat di tengah sungai. Hana menimbang-nimbang apakah ia harus menolongnya atau tidak. Sungai disini tidak begitu dalam. Mungkin di bagian tengahnya hanya sebatas dadanya saja. Namun mengingat ia tidak bisa berenang dan mengkhawatirkan keselamatannya, membuatnya mengurungkan niatnya untuk berlari menolong korban yang mungkin terjebak di dalam mobil.

Dengan tangan bergetar karena takut, syok dan panik – ini kali pertama Hana melihat kecelakaan secara langsung – ia menekan 119, berniat memanggil pertolongan.

“Tolong… a-ada kecelakaan. Sebuah mobil jatuh ke sungai Bomun (?). A-aku tidak bisa menolongnya. Tolong..” Ucap Hana terbata-bata. Bahkan ia hampir menangis dan menahan air matanya agar tidak tumpah. *nama sungainya author cuma ngarang*

Setelah seseorang di seberang mengatakan akan segera kesana, Hana menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia tidak peduli bagaimana pasir setengah basah di pinggiran sungai akan membuat pakaiannya kotor ataupun hewan-hewan kecil yang tak kasat mata diam-diam akan masuk ke tubuhnya. Hana benar-benar tidak peduli. Satu hal yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya menolong orang di dalam mobil itu. Dia juga pasti menjerit meminta tolong jika Hana bisa mendengarnya.

Hampir lima belas menit menunggu namun pertolongan tak kunjung datang, akhirnya Hana memberanikan dirinya. Setelah melepas sneakers dan tas jinjingnya – meletakkannya di tempat yang aman, Hana adalah orang yang over protektif terhadap barang-barangnya, ia berjalan terseok-seok menuju tengah sungai. Tenaganya sudah terkuras habis akibat ketakutan hingga ia hampir tak kuasa menahan arus sungai yang cukup deras akibat hujan semalam.

Hana mencapai mobil tersebut, ia berniat membuka pintunya namun terkunci. Hana berpikir cepat. Ia mengambil sebuah kayu yang kebetulan berada tak jauh darinya dan memukulkannya ke arah jendela hingga kacanya pecah. Beberapa mengenai tubuh Hana dan menggores kulitnya. Namun perempuan ini belum sadar dan ia terus berjuang mengeluarkan seorang perempuan yang sudah tak sadarkan diri di dalam mobil. Darah segar mengalir dari kepala perempuan itu yang mungkin membentur kemudi dengan keras. Hana hampir pingsan melihat darah sebanyak itu, namun ia menguatkan dirinya.

Dengan tenaga yang tak seberapa, Hana mencoba mengeluarkan perempuan itu. Berkali-kali hampir gagal karena celah yang sempit untuk mengeluarkannya hingga akhirnya Hana berhasil walau kini ia merasa lengannya perih akibat tergores pecahan kaca yang masih menempel di jendela mobil. Hana menyeret perempuan yang sudah tidak sadarkan diri itu ke tepi. Ia sempat melihat ponsel yang masih menyala dalam genggaman tangan perempuan itu. Hana mengambilnya, berniat untuk menghubungi orang yang mungkin dikenal perempuan itu namun bunyi sirine ambulan mengangetkannya dan dengan gugup, Hana memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya.

.

.

.

.

Bagaikan disambar petir saat Jongin mendapatkan kabar bahwa Hyerin kecelakaan. Mobil yang dikendarainya tercebur ke dalam sungai dan kini keadaannya kritis. Jongin bahkan hampir memakan sendoknya karena terkejut dan tidak fokus. Ia menyuruh Do Kyungsoo – sekretaris pribadinya – untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini maupun besok dan bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud.

Begitu sampai di rumah sakit, Jongin langsung bertanya pada perawat bagaimana keadaan Hyerin. Perawat dengan sabar menjelaskan bahwa Hyerin sedang di operasi karena ada beberapa tulangnya yang patah dan syarafnya yang bermasalah akibat terkena benturan. Jongin serasa ingin pingsan. Namun, ia memutuskan untuk menunggu, berharap sesuatu yang baik akan terjadi pada Hyerin.

“Bagaimana kondisi Hyerin, Dok?” Tanya Jongin, begitu seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu menatap Jongin dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, kondisinya benar-benar kacau. Rambut yang berantakan dan basah karena keringat, pakaian yang sudah tidak rapi dengan dasi yang hampir terlepas dari kerah kemeja. Dokter yakin pasti lelaki ini begitu panik.

“Anda siapa?” tanya Dokter tersebut sopan.

“Saya tunangannya, Dok.” Jawab Jongin cepat.

Dokter tersebut masih menatap Jongin. Ia melepaskan masker yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya dan begitu terbuka, Jongin bisa melihat wajah sedih penuh penyesalan yang tercetak jelas disana. Jongin merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Maafkan saya, Tuan. Nona Lee Hyerin tidak dapat diselamatkan. Beberapa tulangnya patah dan benturan yang ia dapatkan begitu keras hingga mencederai otaknya. Kami sudah berusaha melakukan pertolongan semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain.”

Mendengar hal itu, harapan yang sudah Jongin tanamkan sejak tadi pupus sudah. Ia tidak ingin mempercayai semua ini. Namun saat melihat Hyerin yang sudah tidak bernyawa dibawa keluar ruangan menuju kamar jenazah, rasanya Jongin ingin mati saja. Bagaimana bisa Tuhan begitu jahat padanya? Ia dan Hyerin akan menikah sebulan lagi, undangan sudah disebar dan semua persiapannya pun sudah selesai, hanya tinggal menunggu waktunya. Tapi kenapa, kenapa Tuhan harus mengambilnya? Kenapa Tuhan harus mengambil Hyerin dari sisi Jongin? Wanita yang begitu dicintai oleh Jongin, yang begitu Jongin inginkan dalam hidupnya. Kenapa? Kenapa?

.

.

.

.

Hana masih merasakan pusing akibat membentur tanah berbatu saat pingsan tadi. Ia mencoba mendudukkan dirinya saat melihat beberapa orang terlihat di ruangan tempat ia dirawat. Hana tahu ia di rumah sakit. Entah ia harus bersyukur atau tidak, setidaknya karena kecelakaan itu ia bisa pulang ke Seoul tanpa harus mengeluarkan biaya, walaupun kini beberapa tubuhnya cedera.

“Namamu Park Hana, bukan?”

Seorang lelaki dengan kaca mata berbingkai besar langsung menanyai Hana begitu gadis itu sudah nampak sehat. Hana mengangguk singkat dan kemudian lelaki itu memberinya sebuah kartu nama.

Do Kyungsoo. BIG Company.

Hana membaca kartu nama itu dalam hatinya. Ia melirik sebentar pada lelaki itu, mencoba menebak apa yang ia inginkan dari Hana. Apa jangan-jangan lelaki ini sedang berniat untuk meminta pertanggung jawaban darinya? H-hei. Itu kecelakaan tunggal. Hana hanya saksi mata sekaligus penolong.

“Seperti yang kau tahu, namaku Do Kyungsoo. Aku bekerja untuk BIG Company. Sebelumnya aku berterimakasih karena kau sudah menyelamatkan tunangan CEO kami.”

Diam-diam Hana bersyukur dalam hatinya mendengar lelaki itu berterimakasih padanya. Ia tidak akan dituntut.

“Polisi sudah menjelaskan mengenai kronologinya dan aku tidak menyangka kau akan seberani ini, Nona.” Ucapnya, memberikan sedikit senyum pada Hana, “Sebagai ucapan terimakasih, biaya pengobatanmu akan kami tanggung sampai kau sembuh sepenuhnya.”

Wah, itu kabar bagus untuknya.

“Dan, kami akan memberikan ini sebagai ucapan terimakasih kami. Terimalah walau tidak seberapa.”

Kyungsoo menyerahkan selembar cek pada Hana yang langsung diterima oleh gadis itu. Mata Hana langsung berbinar-binar melihat berapa nominal dalam cek itu. Ia menghitung angka nol yang ada di belakang koma, dan ia terkejut. Seratus juta won. Jumlah yang fantastis hanya karena ia menolong orang.

Ini benar-benar keajaiban. Haruskah Hana mengabdikan dirinya dengan menolong korban kecelakaan agar ia mendapatkan imbalan sebesar ini? Ia pasti akan cepat kaya jika mengambil pekerjaan itu. Pikirnya histeris. Otaknya yang hanya terisi dengan uang dan uang, mulai mengkalkulasi.

“T-terimakasih.” Hana tidak mampu mengucapkan apapun selain ucapan terimakasih. Ia membungkuk dalam-dalam pada posisi duduknya dan lelaki itu hanya tersenyum.

BRAKKK

Tiba-tiba saja pintu terbuka begitu lebar hingga membentur dinding dan menimbulkan suara nyaring yang cukup mengganggu. Hana dan Kyungsoo serta beberapa orang yang ada di sana terkejut melihat Jongin masuk dengan wajah merah dan mata berair.

“Apa kau yang sudah menolong Hyerin?” Tanya Jongin to the point. Lebih kepada membentak daripada bertanya secara halus dan sopan.

“Hyerin itu nama gadis yang kau tolong.” Kyungsoo menjelaskan saat Hana menatapnya kebingungan.

“N-ne.” Hanya menjawab singkat. Sesaat ia tertegun melihat lelaki di hadapannya ini. Ia langsung ingat bahwa lelaki ini adalah orang yang bertabrakan dengannya di acara reuni tadi pagi.

Jongin mendekat. Tangannya berada di kedua bahu Hana, “Kau apakan dia hingga dia bisa separah itu?” Cecarnya. Hana kebingungan. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan lelaki ini. Jelas-jelas Hyerin sudah dalam keadaan seperti itu saat Hana menolongnya. Mau bagaimana lagi memangnya? “Kau – “

Jongin seolah tersadar dengan siapa ia berhadapan sekarang. Ia ingat. Hana adalah gadis yang ia tabrak di hotel tadi pagi, yang wajahnya sangat mirip dengan Hyerin.

“Kau pasti anti fans Hyerin ‘kan?” Tebak Jongin, “Kau pasti awalnya menyukai Hyerin hingga mengubah wajahmu menjadi sepertinya. Lalu saat kau tidak bisa menyalurkan ambisimu padanya, kau melukainya. Benar ‘kan?”

Dan kini Hana serasa ingin menjedorkan kepalanya ke dinding. Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi.

Pertama. Hana tidak tahu siapa itu Hyerin atau apalah namanya. Ia tidak tahu siapa gadis itu.

Kedua. Hana bukan anti fans dari siapapun. Katakanlah ia kurang update dan ketinggalan jaman, tapi ia benar-benar tidak tertarik dengan dunia seperti itu.

Ketiga. Hana tidak memiliki ambisi menyimpang. Ia hanya ingin menjadi PNS dan hidup dengan baik – dengan uang melimpah, tentunya.

Keempat. Wajahnya sejak bayi sudah seperti ini. Tanyakan pada Chanyeol ataupun orang tuanya yang sudah berada di surga mengenai hal itu.

Dan nyatanya Hana hanya mengatakan hal itu di dalam hatinya saja.

“Kenapa kau diam saja?” Jongin tidak sabaran. Ia menggoyangkan bahu Hana, membuat tubuh gadis itu terguncang dan untuk sesaat, Hana bisa melihat mata lelaki itu yang memerah. Ia terlihat menakutkan. “Kau apakan Hyerin hingga nyawanya tidak tertolong?” sambungnya.

Kyungsoo yang sejak tadi diam kini bereaksi mendengar apa yang dikatakan Jongin. “Apa maksudmu, Sajangnim?”

Jongin terdiam. Tangannya sudah tidak di bahu Hana lagi dan kini menggantung di sisi tubuhnya, “Lee Hyerin, tunanganku, dia meninggal.”

Hana langsung tersedak udara seketika.

.

.

.

TBC

Annyeong~ ariana kim imnida *bow*. Ini adalah fanfic terbaruku setelah sebulan lebih hiatus dari dunia perffan *waks*. Maaf untuk yang nungguin ff Love in Time, aku belum bisa meneruskannya karena ada beberapa hal. Dan sebagai ucapan permintaan maaf, aku persembahkan ff baru yang sama-sama gajenya.

Oke, chapter pertama yang panjang dan awal dimulainya konflik. Aku harap kalian menyukainya. Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca ff ini.

Ariana Kim :*

 

Iklan

12 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Married by Accident (Chapter 1)

  1. Sijongin ya dateng2 langsung nuduh2 org, udah baik calon tunangannya tadi dirolong, kalo enggak udah langsung meninggal tu tunanganmu jongin. Kaya nya seru ni ff nya. Menurut aku jongin dan hana nikah gara2 undangannya udah kesebar, trus hana make identitas hyerin hahah

  2. Huhu sedihh dehhh… hmm kok bisa mukannya sama yaa jangan jangan merekaa kembaarrr wahh ijin baca selanjutnya yaaaa thankss, semangttt!!

  3. Poor hana..
    Jongin dateng” lgsg nuduh gitu ya, jadi sebel sama jongin 😦
    Kakak adek bikin hana sengsara hehe
    Izin baca kak dan ditunggu next chapnya ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s