[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 5)

es

 

ENDING SCENE

Author :

Angeline

Main Cast :

Park Chanyeol x Wendy Son

Additional Cast :

Kim Saejong| Do Kyungsoo| (OC) Yoon Rae Na| Yook Sungjae a.k.a Park Sungjae|Amber Liu| Etc~

Rating : PG-17 |Length : Series Fic

Genre : Romance|AU|Angst|Sad|Adult

Disclaimer :

Ff ini murni karya tulis author. Jika ada kesamaan dalam cerita, tokoh atau apa pun, Itu semua bukan unsur plagiat melainkan ketidaksengajaan. Don’t copas without permission. Thankyou

Summary :

Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu bukan hanya untukmu? Melainkan kau harus rela membaginya dengan seorang gadis lumpuh?. Dan peranmu yang tadinya sebagai korban harus terganti menjadi peran penjahat yang seakan-akan telah merebut kebahagiaan seseorang.

-Chapter 5-

Incheon Airpot 14.00 p.m

Nampak tuan Son bersama istri juga Amber–sahabat Wendy– tiba di bandara Incheon pukul 2 siang. Mereka memang sengaja tidak menelfon Wendy jika merencanakan keberangkatan mereka ke Seoul. Katakanlah ini sebuah kejutan kecil untuk puteri mereka.

Tuan Son melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Harusnya seorang supir Hotel sudah menjemput mereka saat ini, namun dimana supir itu sekarang?.

Hosh Hosh

Seseorang dengan kemeja hitam tengah berlari dengan memegang sebuah kertas putih dengan tulisan nama Son Jin Young. Lantas tuan Son yang melihat itu, langsung mengangkat tangannya kea rah orang dengan kemeja ala pegawai hotel itu, dan secepat kilat orang tersebut langsung menghampiri tuan Son. Tidak lupa ia menundukkan kepalanya, meminta maaf atas keterlambatannya menjemput tuan Son dan sekeluarga.

“Maaf tuan, tadi sangat macet.” Ujarnya dengan jujur sambil menundukkan badannya berulang kali. Tuan Son menghela nafasnya.

“Tidak masalah, kau hanya terlambat 3 menit.” Ucap nyonya Son tersenyum ramah.

Terlepas pegawai hotel itu meminta maaf atas kesalahannya, tidak menunggu lama mereka semua mengikuti langkah pegawai hotel itu menuju mobil jemputan dari hotel, yang sudah tuan Son pesan jauh-jauh hari. Sungguh, semua ini sudah direncanakan sejak awal.

“Jadi Wendy tinggal bersama Chanyeol?” Tanya tuan Son sambil memainkan jemarinya di atas ponsel miliknya, yang sibuk mengirimkan pesan pada sekretarisnya di Canada.

“Mm.” jawab Amber dengan sebuah Headphone yang menutupi telinganya, meski begitu, lagu yang gadis tomboy itu dengarkan hanya bervolume kecil, hingga mmebuat Amber masih bisa dengan jelas mendengar suara-suara percakapan.

“Kau tidak khawatir puterimu tingga bersama seorang pria?” Ujar sang istri menatap suaminya, yang baru saja memasukkan ponselnya dalam saku kemejanya.

“Untuk apa? Lagi pula mereka sudah besar, dan mereka akan menikah. Jika pun Wendy hamil, semua akan baik-baik saja.” Jawab tuan Son dengan gampangnya membuat sang istri mencubit perut suaminya itu.

Bukankah perkataan tuan Son barusan, tidak menunjukkan seorang sosok ayah bagi puterinya? Ucapan macam apa itu, yang menggampangkan masalah puterinya hamil di luar nikah? Terkadang beberapa orang juga berpikir, apakah tuan Son memang adalah seorang ayah yang baik untuk Wendy?

“Astaga Jina-ah, aku juga yakin mereka tidak akan melakukannya sebelum menikah. Aku kenal puteriku, mengerti? Sudahlah, lagi pula Chanyeol pemuda yang baik dan bertanggung jawab.” Ujar tuan Son.

Sontak membuat Amber mencibir pelan, namun cukup terdengar di telinga kedua orang tua Wendy itu. Mereka menatap Amber bersamaan, membuat Amber terkejut, jika ia baru saja mencibir ucapan tuan Son mengenaik Chanyeol yang dibilang ‘pemuda yang baik dan bertanggung jawab’.

Really?

Jujur Amber sangat tidak setuju akan hal itu, Amber tidak membenci Chanyeol.

Tidak! tidak sesimple itu sayang!.

Hanya saja ia merasa Chanyeol bukan pria seperti yang disebutkan tuan Son barusan. Apakah memiliki 2 orang kekasih sekaligus adalah pria yang baik dan bertanggung jawab? Amber tahu, alasan Chanyeol memiliki 2 kekasih karena apa. Namun tetap saja, ia bukanlah pria yang baik di mata Amber.

“Mengapa kau mencibir ucapanku barusan?” Tanya tuan Son membuat Amber menggeleng secepat mungkin. Gadis ini tengah berbohong pada ayah sahabatnya itu.

“Aku tidak mencibir, Uncle salah dengar.” Ucap Amber tersenyum. Sesungguhnya, tuan Park mencurigai sesuatu dari Amber. Namun ayah Wendy itu merasa jika Amber tidak ingin mengatakannya. Dan tuan Son sendiri tidak berniat mencari tahu apa yang disembunyikan gadis itu darinya.

“Kita ke Hotel dulu, setelah itu ke tempat tuan Park.” Kata tuan Son, sontak membuat Amber menatap pria bermarga Son itu, sambil melepaskan earphonenya.

“What?” Ucap Amber mencelos.

“What’s wrong?” Tanya tuan Son menatap gadis itu dengan raut wajah bingung.

Kini Amber mencari sejuta alasan untuk membuat tuan Son tidak ke  rumah tuan Park. Bukankah sudah jelas alasannya?, di rumah tuan Park ada Rae na, dan akan bahaya jika sampai Rae na berbicara yang tidak-tidak pada ayah Wendy.

Oh, Amber cukup tahu sifat licik gadis itu.

“Wouldn’t it be better to go to Chanyeol’s Apartement first? We Should meet Wendy at least.” kata Amber berusaha membuat tuan Son merubah pikirannya yang bertujuan pergi ke rumah kediaman tuan Park.

“kita tidak akan menemui Wendy saat ini Amber. Remember? We’re come to surprise her. Dan juga membicarakan hubungannya dengan Chanyeol.” Kata tuan Son menyudahi permintaan Amber.

Hubungan katanya? Hubungan apa yang mau tuan Son bicarakan sekarang? Tidakkah ia tahu jika hubungan puterinya dan Chanyeol sedang berada di ujung jurang? Meski ada secercah harapan untuk mengembalikannya, namun bukankah lebih baik, salah satu dari mereka menghilang saja? Itu akan lebih baik sejujurnya. Dari pada mengusahakan memperbaiki semuanya, namun salah satu dari mereka tersakiti.

Amber hanya menghela nafasnya pasrah, entah apa yang terjadi nanti di rumah tuan Park,  yang jelas perasaannya sangat tidak enak saat ini. Sepertinya ada sesuatu yang buruk.

Mungkinkah hanya perasaannya saja?

Tidak! Selama ini perasaannya selalu benar jika menyangkut Wendy.

Chanyeol merasa tubuhnya lunglai seketika, setelah mendengar pemaparan tuan Son mengenai pernikahan Wendy, yang bukan dengannya melainkan bersama adiknya sendiri–

Park Sungjae.

Apa ia tidak salah mendengar nama pria yang menjadi adik kandungnya itu?. Ataukah mungkin ia sedang bermimpi buruk? Jika ia, seseorang tolong bangunkan Chanyeol. Rasanya terlalu sakit dan membunuhnya, bahkan ia tidak memikirkan image seorang lelaki yang harus kuat dan tidak boleh meneteskan air mata. Yang ia tahu saat ini, air mata adalah hal yang cocok untuk mendekripsikan perasaannya yang sudah tidak hancur rasanya.

Mengapa semua menjadi kacau seperti ini? Salahkah jika Chanyeol menyalahkan semua ini pada Rae na? Atau, apakah Chanyeol juga ikut bertanggung jawab di dalamnya?

Ya, itu benar.

Namun jika bukan karena keegoisan Rae na yang memintanya untuk menikah dengannya, saat ini semua tidak akan menjadi sesulit ini. Chanyeol masih memiliki gadis Son itu, dan perasaannya akan baik-baik saja. Namun sekarang, Tuhan tidak memihak padanya lagi. Dan takdir menentang keinginannya, yang memang terdengar

Egois.

Ia ingin Wendy menjadi miliknya, namun tidak bisa melepaskan Rae na. Bukan karena mencintai Rae na, melainkan karena sebuah janji ‘sialan’ yang ia sanggupi hanya untuk bertanggung jawab. Chanyeol kehilangan gadisnya dan cintanya, rasanya hidupnya tidak akan baik-baik saja dengan semua ini. Chanyeol akan hancur pasti, dan hidupnya akan lebih berantakan dari sebelumnya.

Wendy juga tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi tidak! Tidak hanya Chanyeol dan Wendy yang kaget dengan solusi tuan Son itu yang sampai sekarang tidak bisa dicerna oleh otak mereka. Rasanya solusi menikahkan keduanya –Sungjae dan Wendy–terdengar seperti solusi mengerikan, mungkin? Bahkan itu tidak bisa dibilang sebuah solusi yang bisa memperbaiki semuanya, melainkan terlihat lebih kepada sebuah

Pemaksaan.

Tentu hal itu membingungkan, apakah tuan Son menunjukkan rasa cintanya dengan menjadi seorang tuan atas puterinya sendiri? Ataukah memang ia terlalu maruk akan sebuah kekuasaan? Sehingga mengharuskan Wendy menikah dengan salah satu dari anak tuan Park, yang memang masuk dalam golongan Chaebol di Korea.

“Appa, aku tidak bisa.” Ucap Wendy menatap sendu pada sorot mata ayahnya.

“Kenapa? Baik Chanyeol atau pun Sungjae, sama saja. Mereka pemuda yang tampan, dan juga anak tuan Park.” Ujar tuan Son pada Wendy, dan membuat puteri satu-satunya itu menangis

“Kita tidak bisa memaksanya untuk menikahi pria yang tidak ia cintai.” Kata nyonya Son sambil memeluk Wendy dengan sayang.

“Jina-ah, kau tahu berapa banyak rekan bisnisku yang sudah kuberitahu tentang ini huh? Aku tidak ingin keluarga kita menanggung malu. Ini juga keinganan Eomma.” Ucap tuan Son dengan sedikit memekik pada istrinya, membuat Wendy semakin sakit rasanya.

‘Appa, hentikan! Aku mohon padamu’. Batin Wendy.

Kini ayahnya menyinggung tentang halmeoninya, Wendy sangat tahu tentang pesan halmeoninya yang menginginkan Wendy menikah dengan anak tuan Park, karena keluarga tuan Park sangat baik. Tapi tidak dengan pria yang notabene adik Chanyeol itu, Wendy tidak mencintai Sungjae, bagaimana bisa ia menjalani kehidupan pernikahan yang indah, jika mereka menikah tanpa dasar–

Cinta?

Sungjae juga terdiam dengan pikirannya sendiri, kepalanya pusing dan ia tidak lagi bisa mengatakan sesuatu pada mereka. Entahlah. Perihal menikahkan Wendy dengannya membuatnya termangu, dan batinnya tidak menentu. Rasanya aneh dan tidak jelas.

Sekilas Sungjae menatap Amber yang juga sedang menatapnya. Dari raut wajah Amber, seakan Sungjae mengerti arti pandangannya, bahkan Sungjae sangat tahu apa arti pandangan Amber padanya. Dan hal itu semakin membuat Sungjae gelisah tak menentu, ia kalut dan takut dalam mengambil keputusan. Otaknya buntu, dan ia kekurangan banyak kosakata. Padahal sebelum ini terjadi, banyak yang ingin ia katakan pada semua orang.

Meski kini ada sebuah hal yang terlintas di pikirannya, namun ia ragu dengan keputusannya. Ia takut akan membawa sebuah permainan baru lagi. Bukankah selama ini, Sungjae hanya ingin menjadi seorang penengah di sini? Tapi hal yang terlintas di kepalanya, benar-benar membuatnya tergiur untuk menyetujui itu. Hatinya terasa bergejolak karena sebuah perasaan yang bercampur menjadi satu.

Haruskah ia mencobanya?

 “Appa yakin, cepat atau lambat kalian bisa saling mencintai.” Ujar tuan Son pada Wendy dan Sungjae.

“Lagi pula, Sungjae sudah memiliki seseorang.” Ujar Wendy masih menangis dalam pelukan ibunya. Entah ucapan apa lagi, dan penjelasan apa lagi yang bisa ia katakan pada ayahnya, untuk tidak menikahkan ia dan Sungjae. Kata-kata dalam buku kamusnya sudah semakin menipis, bahkan sangat menipis.

Tolong jangan buat Wendy berpikir dengan keras untuk mencari-cari alasan, karena kepalanya sudah terlalu banyak berpikir selama 4 tahun ini. Bisakah kalian mengurangi bebannya? Kini semua menatap Sungjae untuk mencari tahu, apa benar anak bungsu tuan Park itu memiliki seseorang? Namun seakan semakin membingungkan mereka, karena yang mereka dapatkan dari Sungjae adalah, pria itu hanya menunduk.

Sebenarnya gadis itu adalah mantan kekasihnya, Kim Saejong. Namun saat ini, mereka dalam hubungan pendekatan kembali. Pasangan itu memilih untuk memulainya dari awal, dengan sebuah pertemanan lagi.

“Appa, aku mohon hentikan semua ini.” Ucap Wendy sambil menggenggam tangan sang ayah dengan lembut. Gadis itu masih memikirkan perasaan Chanyeol, pasti akan sangat sakit melihat dirinya menikah dengan Sungjae. Bahkan disaat seperti ini, kau masih memikirkan perasaan Chanyeol? Astaga Wendy! Sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa huh?

Wendy menoleh sekilas menatap Chanyeol, dan bisa dilihat gadis itu bahwa prianya dengan wajah memohon menggelengkan kepalanya pada Wendy. Chanyeol memohon pada Wendy untuk tidak melakukan hal ini, tolong jangan menyetujui ucapan ayahnya. Bahkan bisa saja Chanyeol berlutut di depan gadis itu, atau pun yang lebih parahnya lagi. Chanyeol bersedia mencium kaki tuan Son agar membatalkan usulnya itu.

“Aku mau– menikah dengan Wendy.” Ujar Sungjae tiba-tiba, membuat seluruh pandangan beralih atensi padanya.

Wendy melongo mendengar ucapan adik Chanyeol itu, bahkan sang kakak –Chanyeol– ikut termangu mendengar jawaban Sungjae. Apa pria ini bodoh? Atau memang ia sudah tidak waras? Dia sedang menginggau atau apa sebenarnya?

Semua nampak terkejut dengan jawaban Sungjae, tidak ada yang menyangka pria itu akan menyetujui ucapan tuan Son. Apa Sungjae itu sadar, jika yang akan ia nikahi itu adalah wanita kakaknya? Apa pria itu tidak sadar, jika ia baru saja menyetujui menikahi Wendy yang selama ini tidak pernah menganggap Sungjae sebagai pria? Melainkan sebagai seorang sahabat baiknya. Demi Tuhan Park Sungjae, apa yang kau pikirkan sebenarnya? Dan apa yang sebenarnya kau rencanakan?

Meski mereka semua terkejut, namun tuan Son nampak bernafas lega. Tapi bisakah setidaknya tuan Son berpikir, jika ia sedang membuat puterinya itu semakin terluka dan terpuruk? Menikah bersama seseorang yang tidak ia inginkan. Mengapa ayahnya begitu tega, hanya karena sebuah kata ‘malu’ yang nanti ia dapatkan dari rekan-rekannya, jika Wendy tidak jadi menikah dengan salah satu chabeol di negeri Gingseng itu.

Nyonya Son juga nampak tertegun, mengapa suaminya memaksakan kehendaknya pada Wendy, yang jelas-jelas tidak ingin menikah dengan Sungjae.

“Baiklah, Sungjae sudah setuju. Bagaimana denganmu Wendy?”

Gadis itu menggeleng sambil terus menangis, sejujurnya ia lelah terus menangis sedari tadi. namun ayahnya terus membuatnya kembali mengeluarkan cairan bening miliknya. Tidakkah saat ini, ayahnya juga adalah orang yang jahat?

“Aku tidak bisa.” Ucap Wendy menolak.

Chanyeol lantas bernafas lega mendengar gadis itu menjawab tidak. Ya, Wendy tetap pada pendiriannya, ia tidak mau menikah dengan Sungjae. Bisakah tuan Son mengerti hal itu?

“WENDY!” bentak tuan Son pada puterinya itu.

“AKU TIDAK BISA APPA!” Teriak Wendy Histeris.

Kini mereka kembali mendengar pertengkaran ayah dan puterinya.

“KAU HARUS BISA! AKU TIDAK PEDULI APA PUN ALASANNYA!” Bentak tuan Son pada Wendy seketika.

“SON JIN YOUNG!” Bentak sang istri pada sang suami. Namun percuma rasanya membentak, atau pun berteriak. Karena hal itu tidak akan pernah digubris oleh tuan Son. Ayah Wendy itu sudah memutuskannya, dan ia tidak mau ada seseorang yang membantahnya.

Siapa pun.

“Kita akan kembali besok! Untuk membicarakan pernikahan mereka.” Seru tuan Son dengan tegas. Secepat itu? Tuan Son masih waras kan? Hal ini sangat tiba-tiba, dan ia sudah mau membicarakan pernikahan Sungjae dan Wendy besok?

“Apa kalian keberatan?” Tanya tuan Son sambil mengedarkan pandangnya pada tuan dan nyonya Park, yang sedari tadi diam tak bersuara.

“Ti –dak, tuan Son.” Tuan Park berucap sangat pelan, bahkan suaranya terdengar bergetar. Sejujurnya tuan Park tidak menyetujui hal ini, bahkan ayah Chanyeol dan Sungjae itu, memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, yang mau ia utarakan pada putera bungsunya.

Bisa-bisanya Sungjae menyetujui hal konyol itu? Apa Sungjae gila?

Jawabannya tidak!

Sungjae tidak gila. Pria itu sangat waras saat mengatakan, jika ia setuju menikah dengan Wendy.

Tapi kenapa?

Semua semakin sulit untuk Wendy maupun Chanyeol, entah bagaimana dengan perasaan mereka yang senang dengan perpisahan Chanyeol dan Wendy saat ini.

Mengapa mereka –tuan dan nyonya Park– menyetujui ucapan sang ayah? Wendy hanya mau ia kembali ke Canada dan hidup layaknya orang biasa selamanya. Ia tidak mau dibayangi oleh Chanyeol. Namun menikah dengan Sungjae, sama saja ia akan terus dibayangi oleh pria yang sudah mencuri seluruh hatinya tanpa tersisa untuk orang lain.

Chanyeol.

Apa selamanya Wendy harus terikat dengan pria brengsek itu?

“Ayo Wendy! Kau ikut Appa ke hotel sekarang!” Suara tuan Son meninggi sambil menggenggam jemari Wendy dengan erat. Namun saat tuan Son hendak membawa puterinya itu, Wendy melepaskan tangan ayahnya dengan pelan.

“Aku–“

“– Aku akan mengantarnya abeonim.” Seru Sungjae tersenyum pada tuan Son. Wendy sontak menatap Sungjae.

Apa-apaan Sungjae ini?

“Baiklah.” Kata tuan Son lalu berjalan keluar dari rumah tuan Park.

Sepeninggal tuan Son, serta istri dan juga Amber, pandangan Chanyeol tidak berhenti tertuju pada sosok pria yang berdiri tidak jauh darinya. Tangan pria itu sudah mengepal cukup erat. Sorot matanya bagaikan pandangan seekor elang yang begitu tajam. Pikirannya tidak memikirkan lagi hubungan darah yang menayatu diantara mereka.

Ia tidak lagi berpikir akan sosok laki-laki yang selalu ia gendong di punggungnya waktu kecil, dan bermain layangan bersama dengan bahagianya. Saat ini, yang Chanyeol pikirkan hanyalah sebuah ‘pengkhianatan’ yang telah dilakukan oleh Sungjae padanya.

Ia tidak habis pikir, seorang Sungjae akan mengkhianatinya seperti ini. Sungguh sangat sakit mengetahui jika itu adiknya sendiri. Adik yang ia sayangi tengah mengkhianatinya, dengan merebut wanitanya.

Atmosfir antara Sungjae dan Chanyeol bahkan sangat terasa dingin dan diliputi kemarahan. Chanyeol sudah tidak bisa menahan gejolak amarahnya, pria tinggi itu langsung mendekati Sungjae dan–

BUGH!

Sebuah pukulan keras mengenai pipi Sungjae. Chanyeol baru saja mendaratkan tinju kerasnya pada sang adik, sontak hal itu mengejutkan semuanya. Sungjae terjungkal ke bawah, dan darah segar mengalir dari ujung bibirnya yang robek.

Sakit.

Tapi tidak sesakit perasaan Chanyeol yang telah dikhianati oleh sang adik. Chanyeol sendiri tidak bisa membaca atau pun menebak maskud Sungjae menyetujui hal mengerikan ini. Yang Chanyeol lihat hanyalah, Sungjae adalah pria brengsek sekarang.

Tuan Park yang melihat Chanyeol hendak memukul Sungjae kembali, lantas memegangi Chanyeol dengan cepat, agar pria itu tidak kembali menghajar Sungjae. Sang adik meringis kecil sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah, lantas Sungjae menatap pria yang selalu ia panggil hyung itu dengan disertai sebuah gelengan kecil.

Apa maksud Sungjae sebenarnya?

 “Kau sudah gila? Dia adikmu!” Bentak tuan Park pada anak sulungnya itu. Namun Chanyeol seakan tuli dan tidak mau mendengar bentakan sang ayah. Meski bentakan pria yang sudah hampir mencapai kepala 5 itu terdengar menggema di rumah tersebut. Chanyeol bahkan tidak peduli dengan sebuah kata ‘adik’ lagi.

“MENGAPA KAU MELAKUKANNYA HUH?! BRENGSEK!” Maki Chanyeol pada Sungjae dengan volume suara yang meninggi. Bahkan pria Park itu berusaha melepaskan tahanan sang ayah di tubuhnya, untuk mengajar Sungjae kembali.

Jujur, ia masih sangat ingin menghajar Sungjae sampai ia puas. Sampai perasaannya kembali tenang, meski itu tidak mungkin. Yang benar saja perasaanmu akan tenang, disaat kau mengetahui Wendy akan menikah dengan adikmu sendiri?

Wendy yang diam saja dari tadi karena hanyut dengan perasaan hancurnya, lantas memilih mendekati Chanyeol sekarang. Wendy sudah cukup berpikir kali ini, dan ia ingin mengakhiri semua kesakitan ini.

Kini pandangan Chanyeol melembut saat melihat wajah sedih Wendy di depannya. Demi Tuhan, ia ingin membawa Wendy kabur saat ini. Lari ke tempat yang jauh, dan hanya ada mereka berdua di sana. Bisakah ia melakukannya? Chanyeol tidak akan siap dengan pernikahannya dengan Rae na, dan juga tidak akan siap melihat Wendy menikah dengan Sungjae.

Pria itu tidak akan pernah siap, melihat Wendy menyandang status istri dari– orang lain.

Mengapa kisah cinta mereka sepahit ini? Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang benar-benar tidak bisa mereka tanggung? Apa mereka memang tidak berjodoh? Apa mereka memang tidak ditakdirkan bersama?

Wendy menggenggam tangan Chanyeol dan tersenyum pada pria di hadapannya itu. Wendy juga menggeleng lemah, dan membuat likuid bening gadis itu kembali menetes tanpa ia inginkan. Tapi air mata bukanlah sesuatu yang penting sekarang. Bukankah, air mata adalah teman dekat Wendy selama 4 tahun ini?

“Hentikan Yeol.” Ucap Wendy mengusap lembut tangan prianya itu, masih sambil menunduk.

Ataukah harus ia sebutkan jika, Chanyeol sekarang adalah pria Rae na satu-satunya? Dan bukan lagi prianya.

“Aku tidak ingin kehilanganmu sayang, tidak–“ Chanyeol menggeleng sambil ikut menundukkan kepalanya lemah. Bahkan air matanya ikut mengalir, mengikuti perasaan hancurnya saat ini.

“Mungkin akan lebih baik jika semua seperti ini.” Ujar Wendy mengangkat wajahnya. Sontak ucapan Wendy itu, langsung disanggah sebuah gelengan dari Chanyeol. Pria Park itu terlihat seperti seorang anak kecil yang begitu takut kehilangan hal berharganya.

Cukup.

Hati Wendy tidak mampu melihat wajah Chanyeol yang terlihat memohon untuk tetap berada di sisinya. Rasanya ia mau mati melihat wajah sedih pria itu. Hatinya tidak kuat menampun penderitaan yang semakin berat dipikulnya. Ia hanya ingin menangis saat ini, menuangkan segalanya dalam pelukan Chanyeol.

“Yeolie, terimakasih.” Kata Wendy memberikan sebuah pelukan untuk Chanyeol. Namun pria Park itu tidak membalas pelukan Wendy dan hanya diam dengan menangis.

“Aku tidak mau.” Lirihnya terdengar seperti sebuah bisikan di telinga Wendy. lantas Wendy hanya bisa menghela nafasnya sambil meremas jemarinya sendiri.

Ini menyakitkan, sangat menyakitkan.

“Aku mencintaimu Yeol. Dan itu berlaku untuk selamanya.” Bisik Wendy sambil memejamkan matanya, dan meremas kemeja Chanyeol. Gadis itu takut, saat melepaskan pelukannya, seakan Chanyeol akan menghilang dari pandangannya.

Semua hanya diam dan tertunduk dengan sedih, namun tidak dengan Sungjae dan Rae na. Jika Sungjae hanya menatap datar pada Chanyeol dan Wendy, Rae na yang melihat itu nampak menyunggingkan senyuman manisnya. Oh, kini Chanyeol adalah miliknya sepenuhnya. Tidak ada lagi Wendy, dan tidak ada lagi perhatian yang terbagi menjadi dua. Semua atensi Chanyeol akan sepenuhnya ia dapatkan. Batin Rae na bersorak kemenangan.

‘Ya, ini sangat bagus. Selamat Yoon Rae na, kau berhasil menjadi juaranya.’

Wendy melepaskan pelukannya, yang sebenarnya enggan ia renggangkan. Bahkan jika boleh, Wendy masih ingin memuaskan hasratnya memeluk tubuh pria itu. Atau mungki, ia tidak mau melepaskannya.

Wendy tersenyum tipis, meski bibirnya bergetar menahan tangisnya. Dadanya begitu sesak, dan gadis itu sulit bernafas rasanya. Entah saat ini, Wendy sedang mengurangi penderitaannya, atau membuat penderitaannya semakin berat?

“Bisa antar aku sekarang Sungjae-ah?” Tanya Wendy dengan suara bergetarnya.

Sungjae yang mendengar itu, langsung berjalan mendekat pada Wendy, dan menggandeng tangan gadis itu. Namun belum sempat beberapa langkah menuju pintu keluar, langkah keduanya terhenti karena seseorang menahan tangan Wendy dengan erat.

Ya, Chanyeol.

Pria itu tidak bisa merelakan Wendy pergi begitu saja. Sungjae dan Wendy menatap Chanyeol bersama, rasanya hati Wendy tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Bagaimana bisa ia pergi dengan gampangnya, jika melihat Chanyeol yang sekarang sedang berlutut di depannya sambil menggenggam tangan gadis itu dengan erat, dan begitu erat.

“Aku mohon, jangan pergi.” Ucap Chanyeol dengan menggelengkan kepalanya.

Nyonya Park menutup mulutnya dengan tangannya, sungguh ia tidak menyangka putera sulungnya akan melakukan hal yang begitu merendahkan dirinya sendiri. Rae na juga begitu shock melihat Chanyeol yang bertingkah berlebihan di matanya.

Tidak! Chanyeol bukan berlebihan, hanya saja ia terlalu mencintai Wendy melebihi dirinya sendiri.

Wendy menatap Chanyeol dengan air mata yang menetes untuk kesekian kalinya. Bahkan Chanyeol menggenggamnya semakin erat saat Wendy berusaha melepaskan genggaman itu darinya.

“Chanyeol– aku mohon. Ini sudah berakhir. Hiks, jangan seperti ini.” Ucap Wendy dengan tangisannya yang kembali memecah

Chanyeol menggeleng cepat, bahkan ia memeluk kaki Wendy dengan erat saat ini. Chanyeolnya rapuh, dan gadis itu ingin mati rasanya melihat prianya berlaku layaknya seseorang yang sudah tidak memiliki kehidupan. Tapi memang benar, hidup Chanyeol adalah Wendy. Dan jika Wendy pergi darinya, maka hidup Chanyeol tidaklah lagi beruguna.

“Aku tidak bisa.” Ucap Wendy sambil berusaha melepaskan tangan Chanyeol dari kakinya, dengan sedikit memaksa.

Bahkan Wendy kini sudah memukul-mukul punggung Chanyeol untuk melepaskannya. Demi Tuhan Chanyeol, jangan membuat Wendy semakin berat melepaskanmu. Gadis itu sudah cukup menderita melihatmu hancur seperti ini, jangan memberatkannya dengan menahannya seperti ini. Chanyeol semakin menahan kaki Wendy dengar erat. Batin pria itu berteriak sekuat tenaga, agar Wendy tidak meninggalkannya sekarang dan selamanya.

Sungjae menghela nafasnya, ia tidak mengira jika hyungnya akan berubah menjadi sosok pria yang memalukan seperti ini. Bukankah seorang Chanyeol benar-benar memalukan saat ini? Dimana harga dirinya sebagai seorang pria? Untuk Chanyeol saat ini, tidak ada yang namanya harga diri yang ternodai jika menyangkut Wendynya.

“PARK CHANYEOL! DASAR BODOH! BRENGSEK! LEPASKAN AKU.” Teriak Wendy sambil berusaha menarik kakinya untuk terlepas dari pelukan pria itu. Namun sang pria tidak kunjung mengindahkan permintaannya untuk melepaskan pelukannya pada kaki Wendy.

“Pergilah dengannya.” Wendy segera menoleh pada Sungjae, saat pria itu mengatakan kalimat nan singkat, namun dapat membuat perasaannya sedikit lebih baik. Sejujurnya, ia ingin memiliki waktu terakhir dengan Chanyeolnya. Syukurlah Sungjae mengerti hal itu.

“Kau serius?” Tanya Wendy pada pria itu. Dan Sungjae mengangguk tanpa menatap Wendy. Sungjae hanya berjalan masuk ke kamarnya dengan langkah cepat, ia juga memilliki banyak pikiran saat ini.

Wendy menghela nafasnya, dan ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Chanyeol yang masih setia memeluk kaki gadis itu, dengan wajah frustasinya. Kini Wendy tersenyum sambil mengusap pipi Chanyeol.

“Ayo pulang– sayang.” Bisik Wendy dengan mata sembabnya menatap Chanyeol yang terlihat seperti orang gila di depannya. Lantas Chanyeol mengangguk persis seperti seorang anak kecil. Ya, Chanyeol hanya seorang bocah saat ini.

BRUGH!

Badan Wendy terbentur keras pada lemari kamar apartement Chanyeol. Pasalnya, pria Park itu sedang mencumbunya dengan kasar dan menutut. Wendy hanya mengikuti gerakan bibir Chanyeol, yang sebenarnya tidak mampu ia imbangi. Bahkan Chanyeol kini membawanya ke atas ranjang mereka. Namun ia merebahkan Wendy dengan hati-hati. Rasanya tidak ada kesempatan mencium Wendy besok lagi. Tapi bukankah itu benar? Hari ini seperti hari terakhir mereka memiliki waktu berdua. Dan Chanyeol seakan menggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin.

Chanyeol melempar dengan kasar tas Wendy yang merupakan penghalang kegiatan mereka. Tangan yang memeluk pinggang Wendy dengan protektif itu, seakan menjadi sebuah pagar yang mengunci Wendy untuk bergerak. Ya, Wendy terkunci di bawah kurungan pria itu, kepala mereka sedari tadi berputar ke kiri dan kanan hanya untuk mencari posisi lebih baik dalam memagut bibir masing-masing.

Chanyeol menyudahi kegiatannya mencium bibir Wendy dan membaringkan kepalanya pada dada gadis itu, air matanya kembali terjatuh tanpa ia sadari. Wendy menghembuskan nafasnya dan membelai lembut rambut Chanyeol, bahkan tangan kecil gadis itu sedikit meremas sayang rambut pria Park tersebut.

Sebuah isakan terdengar, kali ini dari pria itu.

“Ayo kabur Wendy.” ucap Chanyeol dengan suara frustasinya.

Wendy tersenyum masam, dan menahan sakit di hatinya yang kembali terasa lagi. Bahkan ia dengan cepat mengusap air mata yang menuruni pipinya.

“Itu bukan jalan keluarnya, sayang.” Ucap Wendy menggeleng.

Sontak pria Park itu mendongak menatap wajah wanitanya dengan tatapan sendu, dan lagi-lagi Wendy bisa melihat wajah kacau milik Chanyeol, yang benar-benar terasa membunuhnya.

‘Jangan seperti ini Chanyeol-ah.’ Batin Wendy menjerit.

Chanyeol lantas,  mengubah posisi mereka. Dan kini gadis Son berada dalam pelukan hangat pria itu, Chanyeol mengecup puncak kepala Wendy dengan lembut, mengusap punggung Wendy dengan tangan kekarnya. Dan semakin ia rekatkan pelukan itu, untuk meyakinkan jika gadis ini masih berada di pelukannya.

“Bagaiman aku menjalani hidup tanpamu?” Ucap Chanyeol serak.

“Bukankah aku akan selalu di sini?” Tanya Wendy sambil menyentuh dada Chanyeol dengan telapak tangannya.

‘Itu benar sayang. Sampai kapan pun kau akan selalu berada di sana.’ Chanyeol bergumam di dalam hatinya.

“Chanyeol. Berjanjilah kau akan menjadi pria yang bertanggung jawab.” Ucap Wendy, dan Chanyeol menggeleng.

“Tidak.” Kata Chanyeol, dan mengeratkan pelukannya.

Bahkan rasanya Wendy sudah sesak dengan pelukan ini, namun gadis itu tidak berniat memprotes sedikit pun.

“Aku sangat mencintaimu sayang.” Lirih Chanyeol membenamkan ciumannya pada puncak kepala Wendy.

“Jadi maafkan aku.” Kata Chanyeol lagi sambil merenggangkan pelukannya.

“Maksudmu? kau–“

Sore ini, Sungjae sedang asik menyeruput minuman Ice Caramel Macchiato di depannya. Rasanya ia sudah melirik arah jam tangannya sebanyak 3 kali, namun kini ia kembali melirik jam tangannya lagi. Waktu baru lewat 10 menit dari janji yang ia buat. Sungjae menghela nafasnya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi berjenis sofa itu. Matanya baru menutup selama beberapa detik, namun ia sudah mendengar suara bel pintu café yang berbunyi, tanda seseorang memasuki café. Lantas pria itu menghitung mundur dari angka 3.

Tiga, dua, dan sa–

Hosh hosh.

Tu.

Sungjae tersenyum saat mendengar suara nafas tersenggal dari seorang gadis. Lantas pria Park itu membuka matanya, dan langsung bertemu dengan sosok gadis dengan hot pants dan sweater pink yang melekat di tubuhnya. Gadis itu menyeka keringatnya yang menuruni lewat pelipisnya. Sang gadis merebahkan bokongnya pada sofa di depan Sungjae, dan tanpa meminta ijin ia langsung menyeruput Caramel Macchiato milik Sungjae. Dan Pria itu hanya memangku tangannya di atas meja, dan menatap kegiatan gadis itu tanpa bosan.

‘Dia lucu sekali.’ Pikir Sungjae.

“Sudah selesai?” Tanya Sungjae sambil meraih kembali minuman miliknya, yang sempat berpindah pemilik tadi. Sungjae kembali menyeruput minumannya, namun ia meminumnya dari mulut gelas yang digunakan gadis itu.

Merona.

Ya, gadis itu merona dengan perlakuan Sungjae padanya, bukankah secara tidak langsung mereka berciuman? Gadis bernama Saejong itu hanya memandangi Sungjae yang tersenyum padanya.

“Kau mau memarahiku?” Tanya Saejong menghembuskan nafasnya.

“Tidak.” kata Sungjae menggeleng.

“Maaf aku telat, aku tad–“

“– Keasikan memberi makan Romeo –Anjing millik Saejong–?” Saejong mengangguk pasrah. Ya, Sungjae pasalnya sudah begitu menghafal mantan kekasihnya itu.

“Jadi Romeo masih lebih berharga dariku?” tanya Sungjae sambil menatap gelas di depannya, dan memberi penekanan pada kata ‘masih itu. Saejong menggeleng secepat kilat.

“Tidak. Maafkan aku–“ Ucapan Saejong terpotong saat melihat wajah Sungjae yang terangkat.

“Aku hanya bercanda.” Sungjae tersenyum sambil mencubit pipi gadis di depannya itu dengan gemas.

Kini mereka kembali terdiam, dalam suasana canggung. Belum berniat mengeluarkan frasa yang akan menjadi sebuah topic perbincangan untuk pertemuan mereka kali ini. Apa yang mereka tunggu kalau begitu?

Entahlah.

Sungjae hanya sibuk merangkai segala kosakata di dalam kepalanya, dan Saejong hanya menunduk dan memainkan jemarinya. Mereka selalu seperti ini saat bertemu, merasakan canggung satu sama lain.

“Aku akan menikah.” Ucap Sungjae membuat Saejong tertegun dengan paparan itu. Hatinya sakit, dan air mata itu mengumpul pada pelupuknya.

Ia masih menunduk dan belum mengangkat wajahnya menatap Sungjae di depannya. Dadanya sesak, dan ia ingin menangis sekencang-kencangnya, namun ia takut membuat perhatian orang lain tertuju padanya. Lantas, Saejong memaksakan mengangkat kepalanya, ia tidak peduli saat air matanya juga ikut keluar.

“Be– narkah? Well, selamat untukmu.” Kata Saejong tersenyum perih.

“Kau tidak penasaran siapa gadis itu?” tanya Sungjae yang tidak menggubris jabatan tangan Saejong.

“Siapa gadis beruntung itu?” kini Saejong berusaha sekuat tenaga agar ia tidak kembali menangis di depan Sungjae.

“Wendy Son.” Jawab Sungjae.

DEG!

Apa baru saja Sungjae mengatakan Wendy Son? Sungguh, Saejong terlalu mengenal gadis itu, dan Saejong bukannya tidak tahu jika gadis itu adalah kekasih Chanyeol, kakak Sungjae. Jadi bagaimana bisa mereka akan menikah? Saejong tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.

“Aku tahu kau terkejut, tapi aku bersungguh-sungguh. Semua terjadi begitu saja, dan ini semua permintaan appanya.” Ucap Sungjae tersenyum masam. Sambil memainkan jemarinya di atas bibir gelas.

“it-u bagus. We-ndy, gadis yang baik unt-ukmu.” Jawab Saejong sambil meremas ujung sweaternya.

‘Rasanya sangat sakit, Park Sungjae’. Batin Saejong berteriak.

“Maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.” Ucap Sungjae menggenggam tangan Saejong.

“Bukankah dari awal, kita memang memulainya dengan pertemanan? Jadi tidak masalah. Aku baik-baik sa-ja.” Kata Saejong tersenyum tipis menahan hatinya yang sudah hancur.

“Terimakasih, Saejong-ah.” Jawab Sungjae tersenyum. Saejong mengangguk, dan berdiri detik selanjutnya. Sungjae ikut menatap gadis itu.

“Aku lupa, jika hari ini Romeo harus ke salon. Aku- pergi dulu.” Ucap Saejong dan berlalu dari café itu secepat kilat.

Sungjae menghembuskan menghela nafas, namun ia terkekeh pelan detik selanjutnya.

“Masih sama. Kau selalu menggunakan alasan belum membawa Romeo ke salon, jika sedang berbohong.” Gumam Sungjae dengan tersenyum. Sambil meneguk minumannya sekali lagi

“Well. Congratulation!” Seru seseorang dari belakang Sungjae, yang sudah memposisikan dirinya di depan Sungjae. Sungjae hanya tersenyum tipis dan menaruh gelas itu di atas meja, sambil mengedarkan pandangannya ke luar café.

“Bukankah aku sudah bilang? Aku akan memiliki kesempatan untuk mendapatkannya?” Ucap Sungjae tersenyum.

“Dan kau berhasil begitu?” Tanya orang misterius sambil memainkan jemarinya pada ponsel miliknya.

“Ya.” Kata Sungjae mengidikkan bahunya acuh.

“Aku tidak berpikir jika Saejong menerima ini.” Ucap orang itu menghela nafasnya.

Sungjae lantas menyunggingkan senyumannya, dan memangku tangannya di atas meja.

“Tentu tidak.” kata Sungjae dengan santainya.

“Lalu?” Tanya orang itu penasaran, sambil memfokuskan pandangnya pada Sungjae.

“Bukankah drama ini semakin menarik –Amber?” Ucap Sungjae tersenyum.

-To Be Continued-

Angeline mengucapkan selamat idul fitri bagi yangmerayakan :). Mohon maaf lahir dan batin.  Dan Jangan lupa untuk berkomentar yah readers tercintahhh *Luvyu

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] ENDING SCENE (Chapter 5)

  1. PADA TERIAK BENTAK BENTAKAN EUY
    JADI PENGEN IKUTAN NIH 😦
    DRAMA APAAN SIH SUNGJAEEE 😦
    Fix gregetan loh ya wkwkwk.

    Ambyar sudah wenyeolku😢😢

  2. Jangan bilang sungjae jadi jahat juga disini? Dan semua udah direncanain dari awal sama sungjae?
    engga kan? engga lah yah :’D

  3. Sungjae sm amber kelyan?? -sekongkol ?
    Hfffttttt!!! Pengen ngumpat stiap baca ini
    Minal aidin juga ya angeline heheheh ~~ dan reader semuanyaa~~
    Lanjutannyaa ……. Bikin gue gedek lagi yakin bgt!

  4. Amber ?? Drama ?? Ini ada apa sbnarnya ?
    Asli gua penasaran bnget thor. Gua bhkan smpet kesel sma sungjae. Nextnya jan klamaan yah thor. Gua bsa frustasi. Smangat nulisnya.
    Minal aidzin thor, juga buat readers yg lain.

  5. Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir batin juga…itu sebenernya sungjae punya rencana apa sihh? Kayaknya bakalan rumit ya ceritanya. Semangat ya authornim tercinta

  6. Yaampun sumpah gw nangis 😢
    Jgn blang chanyeol mw mghamili wendy? Mw bawa kabur wendy kayanya lbih bgus deh, kawin lari gtu 😂
    Lah, kirain sungjae ada rasanya ama amber, hbis tatap”an gtu,,
    Apa sih yg direncanain sungjae ama amber?
    Raena? Buang laut aja!!!!
    Gasabar bgt nnggu next nya 😣 fighting!!!

  7. Minal aidin walfaizin juga 🙂 . Makin rumit konfliknya, sbnrnya apa sih yg direncana sungjae. Trs ntar kedepnnya kira” gimana Aishhh molla. Ditunggu chap selanjutnya, fighting

  8. selamat idul fitri juga!!!
    .
    .
    wkwkwk.. tp knp aku setuju klo wendy dengan sungjae? mian, itu hnya spekulasi belaka. (wah ngomong apa sih)
    kyaknya chapter selanjutnya bakalan rame nih.
    oke, still writing! figthing!!

  9. Uhuk uhuk!! Si sungjae sbnrnya ngerencanain apaan siiiih!!! Aaarrgh rumit bgt yaaa knfliknyaa!!! Next chapter pliiis jgan lama2 ya thor udh pnsran absnyaa. Btw minnal aidin walfaidzin ya thor… ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s