[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class – Is it the beginning? (Chapter 4)

Cover

A(+) Class –Vol. 04 (Is it the beginning?)

Author : jjehxi

Length : Chaptered

Genre : School life, Family, Slight romance.

Rating : PG-15

Main cast & additional cast : Started by Oh Sehun & OC.

Summary :”… Kebetulan dia adalah rekan satu timku.”

Disclaimer : Cerita ini murni milik saya, tidak ada unsur kesengajaan apabila ada beberapa adegan yang sama. Dilarang keras untuk mengcopy-paste. Don’t be plagiator! Sorry for typo(s) and happpy reading^^

Previous :

(00) Prologue (01) Change? (02)Poetry

(03)What if?

-Vol. 04 (Is it beginning?)

Saat ini koridor yang ditempati jejeran loker-loker siswa terlihat sepi dari jamahan penghuninya. Tentu saja, mengingat waktu masih menunjukkan pukul 07.15 pagi yang artinya masih ada waktu sekitar 45 menit lagi menuju bel pelajaran pertama. Ah, namun sepertinya suasana koridor yang sepi tak membuat perhatian pemuda berkulit putih pucat itu untuk berhenti mencari sesuatu di loker miliknya. Tentu saja dia adalah Oh Sehun.

“Ah! Dapat!” Ucapnya bermonolog seraya menggenggam benda kecil di tangannya yang berupa flashdisk,  kemudian kedua kaki panjangnya itu menciptakan  langkah teratur menuju ruangan dengan pintu tinggi yang terlihat tertutup. Dengan plang berukuran sedang bertuliskan ‘LIBRARY-III’,  yang artinya ruangan tersebut merupakan perpustakaan khusus SMA. Sehun  pun memutuskan untuk masuk mencari tempat duduk yang dirasanya akan nyaman. Dan segera membuka laptop hitam dari dalam tas punggungnya.

Setelahnya, suasana hening pun tercipta. Hanya suara jemari panjang milik Sehun yang tengah mengetik, bergerak lincah diatas keyboard yang mendominasi keheningan . Tak mengindahkan suara keributan kecil yang ditimbulkan satu, dua, atau bahkan lebih siswa-siswi yang mulai berdatangan memasuki ‘gudang’ buku tersebut. Nyatanya pemuda itu masih setia dengan kegiatan mandirinya itu. Ah, jika kalian bertanya apa yang tengah ia kerjakan, maka jawabannya adalah tugas kelompok pertamanya bersama Im Seyoo -Si Pewaris Kedua.

Iya, kini Sehun hanya tengah merampungkan sedikit tugas kelompok pertamanya yang telah ia dapatkan tadi pagi melalui salah satu akun media sosialnya. Tentu saja ini mudah, karena nyatanya Im Seyoo itu terlihat seperti seseorang yang hanya memepercayai kemampuannya sendiri, tanpa mementingkan rekan satu timnya tentu saja. Apa Sehun keberatan? Tentu saja tidak. Notabenenya, Oh Sehun itu pemuda yang anti dengan segala sesuatu yang rumit. Jadi rasanya, sedikit membantu saja sama sekali tidak membuat dirinya keberatan. Jika kalian tidak percaya, maka lihatlah ekspresi senangnya sekarang yang telah selesai merampungkan tugas peertamanya itu.

“Jadi kau sudah menyelasaikannya?” Sayang, setelah pertanyaan singkat itu terdengar di rungunya, seketika senyum senangnya pun luntur digantikan dengan ekspresi sirat akan kebingungan. Tentu saja, pasalnya ada apa gerangan Im Seyoo menghampirinya disini? Maksudnya, bukankah tidak ada yang perlu di koreksi lagi mengenai tugas mereka?

Ah, jika dipikir-pikir apa mungkin Im Seyoo peduli padanya? Ya, mungkin saja gadis di depannya ini hendak menanyakan tingkat kesulitan tugas mereka. Sial, kenapa dia berubah menjadi manusia dengan khayalan yang tinggi? Dan lebih sialnya lagi, kalimat selanjutnya yang terlontar dari gadis itu yang lagi-lagi membuatnya terpaku bingung.

“Biar aku saja yang mengumpulkannya.”

“Aku hanya membantu sedikit.” Ya, dia rasa sedikit menjaga image didepan Im Seyoo itu tidak buruk.

“Kau tidak lihat jam? Kurang dari 10 menit lagi bel pelajaran pertama akan dimulai. Kau tidak lupa’kan sekarang adalah jam olahraga? Dan kurasa seharusnya kau mengganti seragammu itu secepatnya. Jadi, berikan saja flashdiskmu padaku.” Jelasnya membuat Sehun tersadar akan penampilan gadis didepannya yang memang telah siap dengan seragam olahraga yang terlihat pas di tubuh rampingnya. Dan gadis itu terlihat… cantik? Ya, Sehun memang tengah memujinya tanpa suara tentu saja.

“Jadi, kau mau memberikannya padaku?” Sontak pertanyaan itu membuat Sehun tersadar akan lamunannya beberapa saat yang lalu. Segera, dia pun memberikan benda kecih itu kepada gadis didepannya. Dan setelahnya, pandangannya pun tergantikan oleh punggung kecil yang mulai menjauh dari pandangannya.

Setelah puas melihat punggung itu menjauh, Sehun pun bergegas membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas punggung hitamnya. Dirasa semuanya sudah benar-benar beres, dia pun beranjak pergi dari ‘gudang buku’ tersebut menuju lokernya berniat menyimpan barang-barangnya, dan segera mengganti baju seragamnya dengan seragam olahraga yang seingatnya selalu tergantung rapi di loker miliknya.

Ya, seingatnya seperti itu. Namun, sepertinya kenyataannya sekarang berbeda.

Seragam olahraganya… hilang?!

2ddd431cd464d1269dbe933a3deb69c9[1].jpg

Seperti yang telah kita tau sebelumnya, jam pertama bagi murid A-Class adalah jam olahraga. Maka sekarang, hampir seluruh murid A-Class sudah memenuhi Gymnasium dengan setelan seragam olahraga mereka tentu saja. Benar, belum semua murid berkumpul. Karena ada seseorang yang mereka tunggu sedari tadi untuk bergabung. Dan kini, orang itu terliht sedang berjalan pelan ke arah mereka dengan seragam musim dingin mereka. Tunggu, jadi dimana seragam olahraga milik siswa itu?

“Dimana seragam olahragamu, Oh Sehun?” Sepertinya pertanyaan yang terlontar dari pria awal 30-an itu sudah mewakili mereka yang tengah menunggu Sehun sedari tadi.

“Maaf, Choi seonsaengnim. Ada masalah dengan seragamku.”

“Apa maksudmu? Apa kau sedang mengatakan seragam olahragamu hilang tiba-tiba?” Sehun hanya terdiam dengan kepala menunduk.

“Kau tau bukan, kau tidak akan bisa mengikuti pelajaranku sebanyak 3x berturut-turut jika kau dengan sengaja tak mengenakan seragam olahragamu pada jam pelajaranku? Kau tidak mengkhawatirkan nilaimu? Atau kau memang mengabaikan peraturanku?” Tanya guru Choi dengan tatapannya yang tajam, yang membuat Sehun menunduk semakin dalam, dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Begitupun dengan mereka -teman-temannya yang hanya bisa menatapnya diam. Hingga sebuah suara menginterupsi semuanya.

“Maaf, saem? Bolehkah aku menyampaikan sesuatu pada Anda?” Im Seyoo. Gadis itu yang berbicara, membuat seluruh mata menatap kearahnya tak terkecuali Sehun sekalipun.

“Silahkan.”

“Sehun-ssi belum bergabung ke dalam obrolan grup kelas. Maksudku, dia menggunakan akun baru yang kurasa hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Dan kurasa aku termasuk orang yang mengetahui akun barunya. Karena tadi malam dia mengirimkan file yang berisi tugas kelompok. Kebetulan dia adalah rekan satu timku.”

“Jadi maksudmu  informasi jadwal pelajaran yang baru, baru kalian bagikan tadi malam?”

“Tidak seluruhnya, hanya beberapa yang mengalami perubahan. Bukankah jam pelajaran Anda termasuk kedalamnya? Jadi, kurasa disini Sehun-ssi  tidak sepenuhnya bersalah. Bukan begitu, saem?” Pembelaan yang terbilang singkat itu, sedikit banyak membuat Guru Choi bimbang. Ya, Oh Sehun memang tak salah sepenuhnya. Tapi bukankah aturan tetaplah aturan? Jadi, dengan menghela nafasnya yang terdengar berat, dia pun memutuskan untuk mengucapkan keputusan finalnya.

“Oh Sehun, aku persilahkan kau untuk mengikuti jam pelajaranku kali ini. Dengan konsekuensi yang berlaku. Kau akan mendapatkan potongan poin dalam nilai tesmu hari ini.” Ucapnya menatap Sehun datar. Dan mengalihkan pandangannya kearah muridnya yang lain, hendak melanjutkan ucapannya. “Dan seperti yang telah aku katakan diawal, kalian semua akan melakukan pengambilan nilai tes kebugaran jasmani kalian. Karena potongan poin berlaku untukmu Oh Sehun, maka lakukan tes ini dengan semaksimal mungkin. Semakin besar nilai tesmu, maka semakin kecil potongan poin yang akan kau dapatkan nanti. Potongan poin maksimal adalah 10, dan paling kecil adalah 5. Lakukan tes ini secara berpasangan. Kalian semua mengerti?”

“Ya, kami mengerti.” Ucap mereka serempak, dan mulai membubarkan diri mencari pasangan untuk tes kali ini.

“Ah, Oh Sehun!” Guru Choi kembali bersuara, dan mereka serentak terdiam menunggu lanjutan kalimat yang akan guru muda itu katakan.

“Bukankah kau adalah rekan satu timnya Im Seyoo? Kenapa sekarang tidak kau ajak Im Seyoo saja untuk menjadi pasanganmu? Mungkin itu akan sedikit membantu nilaimu.” Ucap Guru Choi yang membuat Sehun terdiam sesaat mencoba mercerna ucapan guru muda didepannya ini. Di tengah keterdiamannya itu, gadis bermarga Im yang guru Choi maksud kembali berbica dengan lantang.

“Aku tak keberatan, Sehun-ssi .” Dan Sehun pun mengangguk pelan.

Setelah semua murid siap, kegiatan pengambilan nilai tes pun dimulai. Semua terlihat bekerja semaksimal mungkin, tak terkecuali pasanan Im Seyoo- Oh Sehun. Mengingat Seyoo yang berambisi akan posisi terbaik dan Oh Sehun yang tengah terancam oleh potongan poin. Dan tentu saja, dibalik usaha mereka semua yang terliha maksimal, mereka juga menginginkan posisi terbaik yang sering didapatkan oleh Im Seyoo.

Ya, seperti sekarang. Hasil akhir penilaian memang tak jauh dari ekspetasi mereka.

오세훈 = 90poin – 5poin = 85 poin

(Oh Sehun)

임세유 = 88poin – 0poin = 88poin

(Im Seyoo)

Jadi, tak perlu dijelaskan lagi bukan siapa yang mendapat posisi peringkat 1 pada tes kali ini? Tentu saja gadis bermarga Im yang tengah tersenyum senang dengan raut tenangnya. Apa Oh Sehun merasa kesal? Tidak juga, mengingat ini memang kecerobohannya. Ya, tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya yang membuatnya diam-diam mengikuti Im seyoo dengan langkah tenangnya.

Apa Im Seyoo menyadarinya? Kurasa, ya dia menyadarinya.

“Apa yang ingin kau katakan, Sehun-ssi?” Iya, karena saat mereka sampai di koridor yang cukup sepi, gadis bermarga Im itu melontarkan pertanyaan singkat tersebut tanpa menoleh barang sedikitpun.

“Mengapa kau menggunakan hitunganmu yang jelas-jelas salah pada saat tes lari bolak-balik tadi?”

“Aku tidak salah.”

“Kau salah.”

“Kau yang menggunakan teknik yang salah.”

“Apa maksudmu?”

“Kau lupa? Kau berlari sebelum aba-aba dimulai. Dan itu terjadi beberapa kali.”

“Itu hanya terjadi sekitar 1-2 detik saja sebelum aba-aba dimulai, Im Seyoo!”

“Kau tak terima kekalahan?”

“Kau juga tak terima dengan selisih 3′kan?”

“Jadi, jika kita sama serakahnya, kenapa harus di permasalahkan?” Skak mat. Sehun tak lagi dapat membalas ucapannya dan memilih berbalik badan seraya menggungam pelan.

“Ck, kekanakan.”

Namun sebelum Sehun benar-benar hilang di belokkan koridor, rungunya sempat menangkap percakapn singkat lewat telepon yang dilakukan Seyoo, dan membuatnya menghentikan langkahnya sejenak.

“Ada apa?”

“…”

“Aku penasaran, jadi ada apa?”

“…”

“Apa aku melupakan sesuatu?”

“…”

“Benarkah? Kalau begitu, Joyeux Anniversaire, La Mère.”

“Mère?”

TBC

Please leave comment(s) and/or like juseyo^^

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] A(+) Class – Is it the beginning? (Chapter 4)

  1. aku !!!!!!!! langsung aja curiga sm seyoo, kenapa seragam olahraga sehun hilang, dan kenapa im seyoo maksain untuk ngumpulin tugas mereka, benar2 mencurigakan..

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] A(+) Class -Vol.05 (Little Pieces) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s