[EXOFFI FREELANCE] Like a Cat (Chapter 1)

Like A Cat.png

Like A Cat

A fanfiction written by Shiraayuki

Maincasts

Oh Sehun with Bae Irene

Others

Kang Seulgi, Park Chanyeol, etc.

Genres

Romance, comedy, work-life, friendship, AU, etc.

Length Chaptered | Rating PG-17

Disclaimer

This fanfiction pure from my imagination.

Don’t copy-paste my story without permission. Sorry for typos, happy reading^^

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

  1. Meet Again?

“Ehem.. yang baru meninggalkan status pengangguran memang beda, ya.” Seulgi menaik-turunkan kedua alisnya seraya menatap Irene yang kini tengah mengoleskan makeup tipis di wajah cantiknya. Iya, hari ini memang menjadi hari pertama Irene bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Korea sebagai salah satu anggota tim manajemen. Tiga hari yang lalu gadis itu diterima bekerja disana.

“Jangan menggodaku terus, lebih baik kau fokus mempersiapkan dirimu untuk wawancara nanti.” Irene berucap seraya memandang Seulgi melalui cermin, Seulgi yang mendengar hal itu hanya mengomat-amitkan bibirnya jengkel.

“Ah iya, Seulgi-ah, ngomong-ngomong mantan kekasihmu itu presdir di perusahaan mana?” tanya Irene yang kini sudah selesai dengan make-up-nya gadis itu lantas berjalan mendekati kasur lalu duduk di sebelah Seulgi yang masih mengenakan piyama tidur.

“Mana aku tahu. Aku hanya tahu kalau dia seorang chaebol dan bekerja sebagai presdir itu saja,” jawab Seulgi cuek, entah kenapa dia mendadak bad mood kalau Irene membahas mantan pacarnya itu, lagi.

Ah, mengenai kejadian dua hari yang lalu, Irene dan Seulgi tak henti-hentinya mengucap syukur. Karena mereka berdua selamat dari kejaran pasukan pria berbaju hitam itu. Mereka berdua sembunyi di toilet wanita sehingga para pria itu tak bisa menemukan mereka.

“Kau ini bagaimana, sih? Masa kau tidak mengetahui latar belakang kekasihmu?” cibir Irene yang seketika membuat gadis bermarga Bae itu mendapat delikan tajam dari sahabatnya.

“Kami berkencan tanpa saling mengenal terlebih dahulu. Ah, sudahlah, tidak usah membahas dia lagi! Aku mau mandi dulu!” Seulgi beringsut turun dari kasur kemudian berjalan kesal keluar dari kamar. Irene hanya menggeleng heran melihat sahabat sekaligus teman satu apartemennya itu.

Irene selama ini tinggal di Daegu, seminggu yang lalu ia pindah ke Seoul dan menumpang di apartemen Seulgi, sahabatnya semenjak kuliah. Pergi ke Seoul bertujuan untuk mencari pekerjaan dan betapa beruntungnya gadis itu bisa bekerja di induk perusahaan Gidae Grup yang bergerak di bidang jasa.

“Irenee!!”

Irene yang tadinya tengah asyik dengan bayangan kantor barunya tersentak kaget karena teriakan cetar milik Seulgi yang sudah berada di dalam kamar mandi. Gadis itu lantas mengelus-elus dadanya kemudian menyahut Seulgi dengan sebal.

“Apaa?!!” balas Irene tak mau kalah.

“Pakaian dalammu masih menggantung disini bodoh! Cepat ambil!” Irene berdesis jengkel kemudian dengan langkah menghentak-hentak ia menuju kamar mandi.

Arasseo!”

Irene menyebrangi jalan seraya bersenandung kecil. Wajahnya terlihat sangat cerah, membuat dirinya terlihat semakin cantik dan imut. Rambut sepunggungnya yang digerai cantik melambai-lambai pelan karena ditiup angin pagi yang cerah.

Beberapa saat kemudian, gadis itu telah berdiri di depan sebuah gedung tinggi dan megah yang berdiri angkuh di tengah kota Seoul yang ramai. Gadis itu tersenyum senang, kemudian menarik nafas panjang. Setelah dua tahun menganggur dan tiap hari menerima amukan kemarahan dari eomma-nya, Irene akhirnya memiliki pekerjaan yang menurutnya luar biasa. Gadis perantauan seperti dia langsung diterima dilamaran pertama merupakan suatu keajaiban besar dalam hidupnya.

“Kau bisa Irene-ah, semua pasti akan berjalan dengan baik.” sepersekian menit kemudian—setelah mata indahnya puas menatap kemegahan gedung itu—gadis itu melangkah masuk. Sesekali melempar senyum pada orang yang berpapasan dengannya meski ia tidak mengenal satupun diantara mereka.

Gadis itu mendadak berlari kecil menuju lift yang pintunya hendak tertutup, merasa malas kalau dia harus menunggu lift lagi.

“Aaaaa!! Tunggu aku!!” dengan segera tangan Irene menahan pintu lift agar tetap terbuka sehingga dia memiliki ruang untuk masuk. Dan akhirnya, gadis dengan kemeja berwarna biru pastel itu mampu bernafas lega ketika dirinya sudah berada di dalam lift itu. Gadis itu menekan tombol lantai yang ingin ditujunya seraya mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat berlari kecil barusan.

Disisirnya rambutnya yang terlihat sedikit berantakan karena kejadian barusan dengan menggunakan jemarinya, lalu dia membuka sling bag yang menggantung di pundaknya kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam sana. Irene menggunakan layar ponsel yang mati sebagai cermin untuk memastikan penampilannya. Namun, ia menjadi salah fokus. Bukannya memperhatikan wajahnya, dia malah memperhatikan sosok pria yang ternyata sedari tadi berdiri di belakangnya.

Irene sontak menoleh, memandang takjub pria berwajah tampan dengan ekspresi datar yang mengisi lift ini bersamanya. Kedua ujung bibirnya tertarik, membentuk lengkungan manis yang lebih menjurus ke arah lengkungan menggoda. Diperhatikannya sosok pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Satu kata yang cocok untuk pria itu, sempurna. Dan akan semakin sempurna jika wajah tampan itu tidak memasang ekspresi memuakkan itu.

Woahhh tampan sekali, tapi aku seperti pernah melihat si tampan ini sebelumnya.” Irene bergumam dalam hati tanpa melepas pandangannya dari sosok pria tampan itu, namun tangannya bergerak untuk memasukkan ponselnya kembali ke dalam sling bag-nya.

Merasa diperhatikan, pria itu lantas memandang dingin gadis yang tengah tersenyum menggoda padanya itu. Irene berjalan mundur—berusaha mensejajarkan dirinya dengan tubuh tegap pria itu—seraya bersiul pelan. Dan ketika tubuh mungilnya sudah sejajar dengan pria itu, Irene tersenyum senang, gadis itu kemudian melirik pria yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan genit.

“Anu… ruangan tim manajemen di lantai berapa, ya?” Irene bertanya modus, padahal jelas-jelas dia sudah menekan tombol ‘5’ setelah masuk ke dalam lift tadi.

Irene memandang pria di sebelahnya penuh harap, namun pria itu sama sekali tidak menggubris gadis itu. Sadar kalau dirinya dicueki, Irene berdehem. Tetapi gadis itu tidak mau menyerah, ia tengah memikirkan sesuatu yang mungkin mampu mencuri perhatian pria dingin ini.

Irene tersenyum simpul saat sebuah ide laknat muncul di kepalanya.

“Astaga! Ada serangga! Aku benci serangga!” Irene tiba-tiba memeluk tubuh atletis itu dengan erat, hidungnya mengendus-endus aroma tubuh pria itu. Mendapat perlakuan yang sebenarnya agak tidak pantas membuat rahang pria itu sedikit mengeras.

“Tolong menyingkir dari tubuh saya, nona.” pria itu berucap dingin membuat Irene tersadar, gadis itu lantas menarik tubuhnya menjauh kemudian mengerucutkan bibirnya kesal. Taktiknya gagal. Sudah lama Irene tidak menemukan pria yang memenuhi tipe idealnya—seperti pria ini—dan kali ini sebuah tekad muncul di dalam hati gadis itu.

Aku harus menaklukkan pria ini!” jeritnya dalam hati. Lagi-lagi ia tersenyum simpul saat ide tak berguna muncul di kepalanya.

“Aduh, ada debu di jasmu. Debu sekarang benar-benar genit.” Irene mengusap-usap lengan kekar pria itu, Pria itu menarik nafas panjang, kesabarannya juga memiliki batas.

“Tolong, singkirkan tangan kotormu dari lenganku, sialan.” pria itu berucap lebih dingin dari sebelumnya bahkan dengan sebuah kata makian, Irene yang mendengar hal itu bahkan terngaga tak percaya. Gadis itu tiba-tiba berdiri di hadapan si pria.

“Astaga! Kau benar-benar tipe idealku! Aku harus mendapatkanmu!” ucap Irene semangat, kemudian kedua tangannya terulur untuk mencubit gemas pipi si pria. Mendapat perlakuan seperti itu, pria dengan setelan berwarna biru dongker itu menatap gadis di hadapannya itu dengan tatapan maut.

“Singkirkan tangan kotormu dari pipiku, jal*ng.” pria itu berucap pedas membuat Irene kaget bukan main. Mata gadis berambut kecoklatan itu sempat melebar sebelum akhirnya dia menjauhkan kedua tangannya dari pipi si pria. Bukannya tersinggung atau bagaimana, gadis itu malah tertawa bahagia.

Ting!

Suara pintu lift mengalihkan atensi Irene. Ternyata gadis itu sudah mencapai lantai tujuannya. Dengan langkah malas ia berjalan keluar dari lift. Dirinya seakan enggan untuk meninggalkan si pria.

“Hei, tampan, aku Irene, Bae Irene. Kau harus ingat namaku baik-baik.” sebelum pintu lift itu tertutup, Irene sempat mengedipkan sebelah matanya genit lalu memberi kiss-bye pada si pria.

Irene tersenyum senang saat pintu lift tertutup. Gadis itu merasa hari ini adalah hari keberuntungannya, bertemu dengan pria tampan dan berduaan di dalam lift membuat level kebahagiaannya meningkat.

“Aku harus mendapatkan nomor ponselnya sebelum aku mendapatkan hatinya!”

Pria itu menutup pintu dengan keras, membuat pria yang tengah duduk bersantai di atas sofa itu mengerutkan dahinya heran.

“Ada apa denganmu?” pria yang duduk di atas sofa itu bertanya, namun hanya dibalas dengan dengusan kesal dari si pria dengan setelan biru dongker itu.

Ya! Oh Sehun, aku bicara denganmu!” pria bernama Sehun itu sama sekali tidak peduli dengan pria yang duduk di sofa itu. Ia malah sibuk melepas jasnya kemudian melemparnya dari jendela ruangan yang terletak di lantai sepuluh itu. Setelah itu ia ikut duduk di atas sofa dengan wajah merah padam karena menahan amarah.

“Kau ini kenapa, sih?” tanya pria jangkung yang sedari tadi sibuk memperhatikan tingkah Sehun itu.

“Kau ingat wanita yang menyiramku dengan segelas air dingin di café kemarin?” Sehun berucap dengan nafas tersenggal-senggal, pasalnya lelaki bermarga Oh itu tengah emosi.

“Iya, kenapa memangnya?” pria jangkung bernama Park Chanyeol itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, lalu menatap Sehun dengan geli. Jarang-jarang dia melihat Sehun yang terkenal dengan istilah ‘pria tanpa ekspresi’ emosi seperti ini.

“Dia berada di dalam lift yang sama denganku.” jawaban Sehun membuat Chanyeol mengangguk mengerti, namun tiba-tiba matanya membelalak.

“Apa kau bilang?! Dia di lift yang sama denganmu? Berarti dia bekerja disini?!” pekik Chanyeol tertahan, lelaki bermarga Park itu bahkan bangkit dari duduknya.

“Tidak usah berlebihan.” Sehun mencibir, pemuda Oh itu lantas menggulung lengan kemejanya ke siku tangannya.

“Dia tidak mengenalmu?” tanya Chanyeol tiba-tiba seraya kembali mengambil posisi yang nyaman di sofa ruang Presdir itu.

“Aku tidak tahu tapi gadis itu harus membayar perbuatannya.” Sehun berucap dingin yang seketika membuat Chanyeol merinding. Sahabat sekaligus sekretaris pribadinya itu memang memiliki aura yang sangat menyeramkan. Sehun mirip malaikat pencabut nyawa jika diperhatikan baik-baik.

“Ya, terserahmu. Tapi, aku belum pernah melihatnya selama ini. Apa dia pegawai baru?” Sehun melirik Chanyeol lalu menaikkan kedua bahunya acuh. Chanyeol hanya mendesis sebal kemudian memutuskan untuk kembali ke kursi kerjanya.

“Sehun, telepon ketua tim Han. Perintahkan dia untuk menyuruh semua pegawai baru ke ruanganku. Aku ingin mengetahui skill mereka.” tanpa menyahut, Sehun segera meraih telepon kantor yang berada di atas meja Chanyeol. Melaksanakan perintah boss-nya itu dengan cepat.

“Suruh semua pegawai baru ke ruangan Presdir Park, segera.”

Irene merapikan pakaiannya sebelum mendorong pintu kaca itu. Setelah yakin dengan penampilannya, dia segera memasuki ruangan tim manajemen itu dengan satu tarikan nafas.

Yang Irene dapatkan adalah ruangan dengan beberapa kubikel kecil yang sangat kentara dengan kesibukan. Gadis berjalan pelan, bingung hendak kemana. Dia belum mengetahui dimana letak meja kerjanya. Dan sepertinya tidak ada yang berniat menyambutnya disini, ah, bahkan kehadirannya tidak disadari sama sekali.

“Oh, kau si pegawai baru itu ‘kan?” Irene menoleh mendapati sosok wanita yang berbalut setelan berwarna krim.

“Ah, iya, saya Bae Irene, pegawai baru disini.” Irene menunduk singkat kemudian tersenyum ramah, wanita tadi membalas senyumannya kemudian berucap, “Selamat datang di tim manajemen, Irene-ssi, meja kerja-mu yang terletak di dekat jendela sana, ya.” wanita itu menunjuk ke arah kubikel yang terletak di dekat jendela besar.

“Ah terima kasih… ehm… saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?” Irene memandang ceria wanita itu, “Kau boleh memanggil-ku unnie kalau kau mau.” wanita tersenyum kemudian segera beranjak dari posisinya.

Irene tersenyum lebar, pasalnya meja kerjanya terletak di posisi yang sangat bagus. Dengan langkah semangat, gadis itu berjalan menuju kubikel kerjanya. Sempat ia melempar pandang ke luar jendela besar yang berada di sebelah kubikel-nya. Setelah itu, Irene menarik kursi kerjanya kemudian duduk dengan manis disana setelah meletakkan tasnya. Sejurus kemudian, kedua ujung bibirnya terangkat ketika mendapati tanda pengenalnya di atas meja.

“Hehehe…” Irene terkekeh seraya mengalungkan tanda pengenal itu ke lehernya. Ia menatap kembali tanda pengenal itu kemudian tersenyum senang.

“Hei, kau juga pegawai baru disini?” Irene menoleh, mendapati seorang pria tersenyum ramah padanya.

“Iya, namaku Bae Irene, dan kau?” Irene menyodorkan tangannya kepada pria itu lalu disambut dengan baik oleh pria itu.

“Aku Chittaphon Leechaiyapornkul, senang berkenalan denganmu.” pria itu berucap ramah lalu melepas jabatannya tangannya dengan Irene. Irene hanya mengerjapkan matanya bingung, apa itu tadi benar-benar sebuah nama?

“Maaf, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?” tanya Irene hati-hati karena takut membuat pria bernama aneh itu tersinggung.

“Hahaha.. namaku terlalu ribet, ya? Kau boleh memanggilku Ten, Irene-ssi.” pria itu tertawa kecil lalu kembali menyibukkan diri dengan komputer yang berada di atas mejanya.

“Ah..” Irene lantas ber-ah-ria, gadis itu pun memutuskan untuk memandang keluar jendela karena dia tak tahu harus melakukan apa.

“Oh, Ten-ssi, apa hanya kita berdua yang merupakan pegawai baru disini?” Ten menelengkan kepalanya, terlihat sedang berpikir sejenak.

“Eumm… sepertinya, iya.” jawaban Ten membuat Irene mengangguk paham, gadis itu pun meraih tasnya lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Ternyata ada sebuah pesan masuk yang belum sempat ia baca.

from: beruang-kelaparan

bagaimana rasanya berada di dalam gedung mewah itu?

Irene hanya terkekeh membaca pesan dari Seulgi itu. Gadis itu pun mulai mengetikkan balasan untuk sahabatnya itu.

“Bae Irene, Chita—ah apapun namamu, kalian diminta Presdir Park ke ruangannya sekarang.” masih dua buah kata yang Irene ketik, suara seorang pria dengan kacamata bundar menghiasi wajahnya itu terpaksa membuat Irene memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.

Irene melirik tanda pengenal pria itu, ternyata pria itu adalah ketua tim manajamen perusahaan ini.

“Baik, Ketua Han!” Irene dan Ten segera beranjak dari posisi mereka dan langsung menuju ruangan Presdir.

“Anu, Ten-ssi, bisakah kau menungguku sebentar? Aku ingin ke toilet.” Irene menatap Ten memelas, mendadak ia ingin buang air kecil tepat saat mereka berdua telah berada di depan pintu bertuliskan ‘Presiden Direktur’ itu. Satu-satunya ruangan yang berada di lantai sepuluh.

“Apa kau tidak bisa menahannya dulu? Kita—”

“Aku sudah tidak tahan lagi, aku ke toilet dulu!” Irene berlari terbirit-birit menuju toilet yang berada di lantai sepuluh itu.

“Astaga, aku bahkan tidak tahu toiletnya dimana!” gadis itu merutuk, kepalanya menoleh kesana dan kemari karena tak tahu hendak kemana. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengikuti instingnya saja, ia pun kembali berlari.

“Ten-ssi, maaf sudah membuatmu menunggu.” Irene berucap menyesal, sedang Ten hanya mampu tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa, ayo, kita masuk.” Irene mengangguk, gadis itu lantas mengetuk pintu setinggi dua meter itu dengan pelan.

Masuk.”

Irene segera membuka pintu itu dengan perlahan, lalu masuk ke dalam dengan sopan disusul Ten di belakang gadis itu. Mereka berdua segera berdiri di hadapan Presdir perusahaan tempat mereka bekerja.

“Coba perkenalkan diri kalian.” Irene dan Ten saling melirik, akhirnya Ten memutuskan untuk memperkenalkan dirinya duluan.

“Saya Chittaphon Leechaiyapornkul.”

“Saya Bae Irene.”

Pria yang duduk di kursi kerja yang mewah itu mengangguk seraya tersenyum tipis.

“Berhubung karena kalian pegawai baru disini, maka aku akan memperkenalkan diriku juga. Aku Park Chanyeol dan yang duduk disana adalah sekretarisku, Oh Sehun.”

Irene dan Ten menoleh ke belakang, mendapati pria dengan kemeja putih tengah duduk seraya membaca beberapa berkas di sofa berwarna hitam itu.

Park Chanyeol? Oh Sehun? Tidak asing.

Mata dan mulut Irene terbuka lebar, gadis itu kaget bukan main saat menyadari siapa sosok yang duduk di sofa itu. Namun ia segera menetralkan raut wajahnya lalu tersenyum manis.

Bukankah dia si tampan? Jadi dia sekretaris Presdir?

Irene segera memalingkan wajahnya ketika Sehun hendak menoleh padanya. Gadis itu jadi deg-degan sendiri.

Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi nyaring, sehingga gadis kelabakan tak tahu harus bagaimana. Ia meringis pelan kemudian menundukkan kepalanya.

“Kau boleh mengangkat panggilan itu, Irene-ssi.” Irene mendongakkan kepalanya, mendapati Presdir perusahaannya itu tengah tersenyum. Gadis itu mengucapkan terimakasih kemudian mengambil posisi agak jauh dari posisinya yang sebelumnya. Ia segera meraih ponselnya lalu mengangkat panggilan tanpa melihat si penelpon.

Bae Irenee!”

Irene mendesis pelan menyadari siapa sosok yang sedang menelponnya.

Ya! Kang Seulgi, aku sedang sibuk! Nanti kita bi—”

Kau bekerja di perusahaan Chanyeol! Bosmu adalah Park Chanyeol! Dan pria yang kau siram kemarin adalah sekretaris pribadinya, OH.SE.HUN!”

“Iya, terimakasih sudah memberitahuku kalau—APA OH SEHUN?!” Irene sontak memekik setelah menyadari ucapan Seulgi. Gadis itu menoleh pelan ke arah sofa dengan keringat membasahi pelipisnya. Menatap pria yang tengah memandangnya dengan pandangan dingin itu. Irene menelan saliva-nya dengan penuh perjuangan.

Kenapa harus si tampan?!!

|to be continue|

Jangan lupa tinggalkan jejakkk~~

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Like a Cat (Chapter 1)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Like A Cat (Chapter 2) | EXO FanFiction Indonesia

  2. irene dimaki kok malah seneng sih?? ada2 aja hahaha. kira2 gmn y reaksi irene selanjutny? penasaran beut
    kak lanjut y cemungut 🙂
    kak unneeded masih lanjut?

  3. Njirrr irene ratunya modus kkkkk,, yaampun sumpah kak aku ngakak baca nih part, apalagi noh namanya si ten njirr susah aned yakk btw itu nama aslinya si ten? aduh kira2 apa yg bkal terjadi yh klo irene udh tau kalau namja itu adalah si tampan*eakk,, next kak, pokoknya harus dinext, inget HARUS,, TITIK!!!! *readermaksabgt

  4. Di tengah malam sunyi sepi yang menggigil ngeri, dirikoeh tanpa peduli kondisi suasana membaca ini fanfict seorang diri*abaikan geloan ini.

    Si irene jelalatan amat sih jafi cewek, kesandung masalah baru tau rasa maneh! Aih itu mamas ten kuh ternyata jadi pegawai baru bareng irene. Untung si irene gak centil dan tentunya mamas ten tidak kepincut sama kecantikan irene.

    Nah kan mampus dirimu ren kejebak dalam situasi yang tidak mengenakkan. Tapi kayaknya si irene bakal watados deh, ditilik dari sifatnya yang petakilan. Demi apapun itu seulgi ngapain dikasih nama beruang kelaparan???? Kan ngukuk jadinya😂
    Entah kenapa diri ini sangat mengharapkan adanya sedikit aja scene chanseul hahaha😂

    Salam sayang buat shira dari sehun tercinta*lopikirSehunSiapaLo?//gueEmaknya//gajebo//iyainAjaBiarPalli

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s