[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 6)

[Oh Sehun, Seravina (Oc), Park Chanyeol]

[Another Cast : Bae Joohyun/Irene, Park Bogum, Daren (Oc), Lee Dongwook as Park Dongwook, Park Sena(Oc), Do Kyungsoo]

[Cameo:  Jung Chanwoo(ikon) & Shannon Arrum williams (solo)]

[Romance, Drama, AU, Hurt/Comfort]

[PG-17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Summary : Kisah biasa di antara sejuta kisah klasik lainnya.

Tentang seorang adik yang mengingkar janjinya.

Tentang seorang gadis yang tidak dapat melindungi apa yang harus dilindungi.

Dan juga, tentang seorang pria yang menaruh dendam sekaligus cinta.

Semua itu, perjalanan hidup yang mereka tempuh … hanyalah buah dari penyesalan.]

[Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

.

.

“Vina, jaga Sehun. Ayah harus kembali ke mobil.”

Gadis berumur lima tahun itu terisak dengan memeluk adiknya erat. Dia terduduk di trotoar sementara pria yang merupakan ayahnya berjongkok mengelus surai pirang anaknya.

“Hubungi paman Bogum. Beritahu agar paman ke sini. Kamu mengerti, Vina?” Pria itu menyerahkan ponselnya pada anaknya.

Dennis Oh namanya. Pria itu lantas bangkit dan segera pergi menuju mobil yang terbalik dengan kondisi mengenaskan. Api-api kecil mulai melahap bagian mobil.

“Ayah!”

Dennis menoleh sekilas dan tersenyum kecil sebelum masuk ke bagian depan mobil.

“Ayah pasti kembali!” teriak Dennis. Kemudian ia mencabut pintu depan yang memang sudah tidak berbentuk. Lebam-lebam di tangannya semakin bertambah saat ia meninju engsel pintu yang tidak mau lepas.

Darah dan keringat mengucur di pelipisnya, ia hiraukan begitu saja. Keselamatan istrinya lebih penting.

Boom!

Bagian belakang mobil meledak. Dennis semakin panik. Ia membabi buta meninju benda apapun yang memerangkap tubuh istrinya.

Deru napasnya semakin memburu. Tinggal melepas sabuk pengamannya. Ia melangkah masuk ke dalam mobil demi menangkap tubuh istrinya yang menggantung karena mobil dalam kondisi terbalik.

Tangkap!

Istrinya telah berhasil ia dekap. Binar asa muncul dalam manik hitam Dennis. Istrinya masih hidup meski pingsan dengan darah mengalir dari dahinya.

Dennis terbatuk ketika asap mulai memasuki rongga hidungnya. Matanya pun mulai berkunang tapi ia berusaha bertahan. Satu langkah Dennis lakukan. Namun naas nasib buruk terjadi. Bensin yang mengucur dari aki memancing api yang berkeliaran di sisi mobil. Dalam hitungan detik, api mengikuti jejak bensin hingga membakar mesin dan terjadi ledakan dahsyat. Dennis yang belum sempat keluar terperangkap dalam mobil. Api semakin berkobar melahap mobil, menelannya hingga habis.

Gadis bocah di ujung sana menjerit meneriakan kedua orang tuanya. Adik dalam dekapannya pun menangis seakan ikut merasakan kesedihan keluarga kecil itu.

“APPA, OMMA!”

Seravina bangun terduduk. Keringat mengucur di suluruh tubuhnya. Napasnya memburu seakan kembali ke kejadian masa lalu.

Mimpi itu lagi.

Seravina mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Akhir-akhir ini kejadian tragis itu membayanginya dalam mimpi. Tidak membiarkan Seravina beristirahat sedikit pun.

Pikirannya masih rumit mengingat masalah yang menimpa dirinya kemarin-kemarin. Dimulai dari teror yang tidak juga berhenti, Sehun yang jarang menjawab panggilan darinya, dan juga … Chanyeol yang selalu mengusik pikirannya.

Sudah satu bulan dirinya tinggal di apartemen ini. Yang artinya, sudah satu bulan juga ia menjalin hibungan dengan Chanyeol. Ia selalu membuat kejutan-kejutan kecil tetapi  berkesan hingga membuat Seravina melayang. Di lain waktu, Chanyeol juga seperti menjaga jarak dengan dirinya. Ia hangat namun terasa dingin. Ia dekat namun terasa jauh. Ia tersentuh namun terasa tidak tersentuh. Seravina dibuat penasaran akan kepribadian Chanyeol yang misterius. Anehnya, rasa cinta Seravina semakin bertambah dan itu membuat Seravina khawatir. Ia takut terlalu jatuh dalam pesona Chanyeol.

“Vina, jaga Sehun….”

Suara ayahnya lagi dan lagi terngiang di kepalanya. Terputar otomatis bagai kaset rusak. Tertancap di otak dan hatinya. Tidak mau lepas. Seravina … terikat janji ayahnya. Ia terobsesi untuk melindungi Sehun, meski artinya dia harus mengorbankan nyawanya. Seperti yang dilakukan ayahnya yang rela ikut mati bersama ibunya.

Perasaan sesak tiba-tiba menggerogoti Seravina. Hatinya terasa tercabik dan amat perih. Pada ayahnya yang berjanji untuk kembali. Pada pamannya yang juga berjanji akan datang dalam lima menit nyatanya limabelas menit. Atau pada ibunya yang menyuruh ayahnya untuk lebih dahulu menyelamatkan Sehun dan Seravina. Katanya, dengan begitu ibunya pun akan selamat karena bisa bertahan lebih lama. Semua itu tidak terpenuhi. Semua itu hanya janji kosong. Semua itu hanya kebohongan. Kalimat busuk yang dibungkus janji manis.

Seravina menyeka air mata yang tidak sadar telah mengalir deras. Ia benci saat dirinya seperti ini. Ia benci ketika dirinya lemah dihantui oleh perasaan menyakitkan. Ia benci ketika kenangan pahit tidak enyah dalam pikiran meski ia berusaha. Ia benci dirinya sendiri hidup dalam topeng belaka. Ia juga benci ketika harus menutupi segala kesedihan dengan senyum hangatnya. Ia~ mulai lelah.

**Kupu-Kupu Malang**

“Namanya Park Sooyoung, dia pegawai baru kita. Jadi jangan segan untuk mengajarinya, mengerti?”

“Mengerti!” Semua pegawai menjawab serentak. Kyungsoo—pemilik kafe—mengangguk puas. Dia kemudian berbalik dan pergi ke lantai atas ruangan kerjanya. Para pegawai segera menegakkan tubuhnya yang membungkuk setelah Kyungsoo tak terlihat. Salah satu dari mereka mengajak Sooyoung menjelaskan apa saja tugas yang harus diemban.

Seravina linglung begitu masuk ke kafe dalam suasana riuh. Mereka duduk mengerubungi seseorang yang duduk manis dengan senyum tak kalah manis. She’s still young and fresh.

Kedua kaki Seravina melangkah mendekati kerumunan itu. Ia bertanya pada salah satu pegawai di antara mereka, “Ada apa ini?”

Hera, pegawai yang ditanya menoleh sekilas dan tersenyum kecil. “Ada pegawai baru. Sepertinya ia istimewa, sama sepertimu. Bedanya dia lebih muda.”

Mengernyit. Seravina tidak paham pada kalimat Hera. Pegawai baru? Memangnya salah jika Kyungsoo menambah pegawai baru? Kyungsoo mungkin membutuhkannya, selain itu kan dia bosnya. Wajar dong Kyungsoo berbuat semaunya.

Dan istimewa? Lebih muda?

Mengapa kalimat itu seperti Kyungsoo menikahi gadis?

Merasa tidak ada hal untuk dipertanyakan lagi, Seravina pamit pada Hera untuk pergi ke ruangan Kyungsoo. Ia tidak ingin mencari tahu lebih tentang pegawai baru itu. Ada tugas yang harus ia kerjakan.

“Sera,” panggil Hera. Seravina menghentikan langkah dan berbalik, “kamu tadi dari mana?”

“Kyungsoo menyuruhku ke toko bunga. Ia ingin aku memilih beberapa bunga untuk diletakkan di halaman kafe.” Seravina menjawab polos.

Hera mengangguk mengerti dan membiarkan Seravina melangkah kembali. Dia terus memperhatikan Seravina menaiki anak tangga sampai tubuhnya tidak terlihat lagi. Seravina tidak pernah menyadari dirinya diperlakukan istimewa. Dia tidak pernah merasa di atas walau bosnya meringankan bebannya. Dia terlalu jujur dan polos. Hera, iri dengan hidup Seravina. Baginya, Seravina terlalu beruntung dalam menjalani hidup ini. Tugas sederhana, gaji sama rata dengan pegawai lain, wajar jika wajahnya selalu tersenyum hangat. Kebahagian tepat di depan matanya. Hera tidak tahu saja bahwa senyum Seravina bukan berarti bahagia. Seravina hanya terlalu pintar menyembunyikan luka.

“Tadi itu siapa?” Hera menoleh pada pegawai baru yang bertanya. Rupanya dia melihat Seravina.

“Namanya Seravina. Dia sahabat bos. Jangan pernah macam-macam dengannya atau kau akan dipecat,” jawab salah satu dari mereka. Meski Sooyoung kerja ke kafe ini tanpa tes dengan segala persyaratan lainnya, tetap saja Seravina nomor satu di mata Kyungsoo. Sooyoung harus tahu batasan antara Seravina dengan pegawai biasa seperti lainnya. Kyungsoo membuat jarak antara Seravina dengan pegawai, walau Seravina selalu bersikap biasa bahkan tidak memberi jarak sedikit pun. Ia menganggap sama.

Sooyoung mengernyit. Ia penasaran mengapa Seravina diperlakukan lain. “Mengapa Kyungsoo melakukan itu?”

Nana-pegawai yang sebelumnya menjawab-memberi tanda agar Sooyoung mendekat. Ia berbisik pelan agar tidak terdengar telinga tajam bosnya. “Katanya, bos kita itu jatuh hati pada Sera. Sayangnya Sera menganggap sahabat. Bos memang tidak pernah menyatakan cintanya, tapi percayalah pada binar matanya setiap kali menatap Sera. Uh … sungguh dalam sedalam dasar samudra.”

Mata Nana menerawang jauh membayangkan adegan Kyungsoo menatap Sera. Dasar pengagum.

Suara dehaman dari belakang mengambil seluruh atensi. Para pegawai-sebenarnya hanya berjumlah lima saja-terkejut mendapati bos mereka berdiri di belakang mereka seraya bertolak pinggang. Oh, jangan lupakan keberadaan Seravina di belakangnya.

“Kalian menggosip atau menjelaskan tugas pada Sooyoung?”

Nana, Hera, Rajin, Sana dan Sooyoung menunduk. Bosnya ini seperti jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Datang dan pergi secara tiba-tiba tanpa permisi.

Tidak ada yang menjawab. Mau menjawab pun ngeri. Jika jujur bosnya pasti marah. Jika bohong bosnya pasti akan lebih marah, karena percuma saja berbohong. Bosnya akan langsung mengetahuinya entah bagaimana caranya?

“Tadi mereka menjelaskan tugas, Kyungsoo. Aku dengar sendiri, kok.” Tentu saja benar, itu sebelum Sera pergi ke ruang kerja Kyungsoo. Seravina membantu menjawab. Ia pikir teman-temannya itu pasti takut melihat mata bulat Kyungsoo.

Kyungsoo tidak bereaksi. Matanya memicing memindai seluruh pegawainya. Ia mendengus pelan. Tanpa berkata lagi, ia melengos begitu saja diikuti Sera.

Para pegawai itu mengembuskan napas yang sejak tadi ditahan. Aura Kyungsoo terkadang tidak sedap hingga orang di sekitarnya dibuat menahan napas.

Nana menoleh pada Sooyoung yang sedang mengelus dadanya, sepertinya masih syok. Ia berkata, “Kau lihat sendiri ‘kan, Sooyoung?”

**Kupu-Kupu Malang**

Bel pulang sekolah berbunyi limabelas menit yang lalu. Ratusan kepala berjejal memenuhi koridor utama hingga gerbang. Dengan suasana riuh, berbaur dalam satu halaman sekolah. Peluh mengucur di setiap bagian tubuh, bau tak sedap tercium dari setiap badan. Biasanya berasal dari kaum adam. Maklum, kaum adam memang terkadang tidak begitu peduli. Berbeda dengan  kaum hawa yang akan segera mengusir bau tak sedap jika menguar darinya.

Ada yang berjalan lunglai, lelah bahkan lega karena aktivitas sekolah hari ini berakhir. Ada juga yang tertawa riang masih semangat walau tenaga terkuras habis untuk belajar. Tapi … ada satu wajah yang paling mencolok di antara komplotan kaum adam yang rata-rata mempunyai smirk mematikan. Wajah datar dilapisi raut dingin yang sebenarnya menyembunyikan kekosongan itu semakin membuat para fans-boleh dikatakan seperti itu-menjerit tertahan tak karuan. Pasalnya, aura misterius dalam tubuh lelaki itu setiap detiknya menambah pesona di mata kaum hawa.

Sehun, si wajah datar itu tenggelam dalam pikiran. Kalimat bibi dan pamannya masih terngiang di benaknya. Sehun sampai jenuh dibuatnya. Bukannya ia tidak bisa mengambil kesimpulan, hanya saja … Sehun tidak ingin menerima sakit dari kesimpulan itu. Ia tidak akan pernah mau menerima fakta kesimpulan itu.

“SEMUA MASUK KE GERBANG!”

Sehun tersentak begitu menyadari seruan keras dari temannya. Sehun melihatnya, dia … masih terlibat dalam masalah yang tidak berguna. Berlarian ke sana kemari, berteriak mentransfer semangat juang salah kaprah, Sehun bahkan dapat melihat uratnya berkedut-kedut. Sisi garang temannya itu mulai bangun.

Sehun menghela napasnya dalam keributan. Gempar dan panik menguasai suasana. Orang-orang yang tidak ‘berpengalaman tempur’ berlarian kembali ke sekolah agar selamat. Sehun mengernyit mendengar jeritan kaum hawa yang menyakiti telinganya. Panik sih panik, tapi tolong mulutnya jangan ikut panik, dumal Sehun dalam hati. Ia melirik sekitarnya dimana para kawannya telah bergabung dalam pertempuran di depan sana. Sehun sedang malas, ia tidak bergabung dalam pertempuran.

Hendak berbalik ke sekolah, telinga Sehun mendapati lagi-lagi seorang siswi yang menjerit melengking. Sehun berdiri beberapa meter dari gerbang. Kepala Sehun menoleh ke berbagai arah, nalurinya sebagai lelaki sejati yang akan selalu melindungi kaum hawa segera berfungsi. Jelas ini bukan sekedar jeritan takut yang tidak jelas seperti sebelumnya, jeritan ini berisi caci dan maki yang Sehun duga sebagai pengalihan dari rasa takut. Apa lagi saat dijumpainya siswi sekolahnya yang sedang menendang, memukul, mencubit, atau meninju pada lelaki berseragam-yang Sehun yakini bukan siswa sekolahnya-di trotoar jauh dari serangan hujan batu. Benar-benar menyerang asal dan membabi buta. Sehun menggeleng. Ia berlari mendekati siswi tadi karena si lelaki berseragam itu menariknya paksa bahkan hendak melakukan pelecehan.

Satu tinju Sehun lepaskan, mendarat di rahang si lelaki menyebabkan tubuhnya terjungkal ke samping. Sehun segera menyambar lengan si gadis begitu cekalan paksa si laki-laki terlepas.

Lelaki itu tidak mudah tumbang, satu tinju dari Sehun tidak akan membuatnya tepar walau terasa sangat menyakitkan. Satu detik setelah insiden itu, si lelaki bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga tidak jadi bersentuhan dengan panasnya aspal. Sayang, gadis incarannya telah direnggut dan bersembunyi di punggung Sehun.

Lelaki itu mendengus seraya menyeringai. Kepalanya melongok ke belakang punggung Sehun, mengintip si gadis yang mencengkeram ujung seragam Sehun. “Hey, bung. Bisa kau tidak ikut campur? Gadis ini milikku, kau keberatan?” Si lelaki bertanya dengan mata tertancap ke gadis di balik punggung Sehun. Baginya keberadaan Sehun hanyalah pengganggu yang sangat tidak penting, jadi dia tidak mau repot menatap Sehun, tidak peduli sikapnya tidak sopan.

“Jung Chanwoo sialan! Kau pikir aku milikmu? In your dream! Mati saja kau!”

Sehun mengernyit. Ia menoleh ke belakang untuk melihat si gadis yang ketakutan. Sehun bisa merasakan tangan yang mencengkeram ujung seragamnya bergetar hebat. Wajah si gadis pun pias. Tapi mulutnya berani melawan. Ck, gadis ini gila, batin Sehun. Sudah tahu kondisinya berbahaya, ia malah mencaci seakan menantang lelaki di hadapan mereka.

Tawa kecil si pemuda membuat Sehun mengalihkan atensi. Sehun lagi dan lagi mengenyit untuk yang kesekian kalinya. Well, dia seperti terjebak di antara makhluk gila.

“Kumohon bawa aku pergi,” bisik si gadis di punggung Sehun. Sehun yang sempat ragu keberadaannya di sini langsung membulatkan tekad. Ia harus menyelamatkan gadis ini.

Dan ketika Sehun menelisik wajah si laki-laki yang masih tertawa sinting, baru ia sadar ternyata si laki-laki di hadapannya ini adalah Jung Chanwoo musuh bebuyutan Chanyeol. Meski tidak tahu dengan jelas permusuhan antara mereka berdua, Sehun yakin itu adalah masalah serius bukan sekedar ego yang mengatas namakan sekolah. Dan Sehun menyimpulkan gadis ini akan dijadikan sandera sebagai tebusan.

“Jadi…,” Chanwoo melirik nametag di dada Sehun masih dengan sisa tawa, ia kemudian menyatukan pandang pada netra Sehun, “Sehun? Ah, kau temannya si brengsek itu, ‘kan?” Chanwoo menganggukkan kepala, ia mengabaikan cacian si gadis ataupun kediaman Sehun dan gadis yang bersembunyi di punggung Sehun.

Chanwoo mendengus, tahu bahwa rencana penculikannya gagal. Terpaksa ia eksekusi rencana cadangan. “Kalian ini menyusahkan, ya? Ikut campur masalah orang lain tanpa tahu kebenarannya seperti apa.” Chanwoo berbicara sembari mengutak-atik ponselnya. Tidak sadar bahwa dirinya sendiri yang melibatkan orang lain ke dalam masalahnya, bukan sebaliknya. Ya, si gadis hanyalah pion yang akan sangat melukai musuhnya, licik memang.

Sehun awalnya tidak mengerti pada apa yang dilakukan Chanwoo. Terutama kalimatnya yang ambigu. Namun pergerakan Chanwoo yang mengetik entah apa di ponselnya, membuat Sehun dibawa dalam firasat buruk. Tanpa ba-bi-bu lagi, Sehun menarik lengan si gadis untuk berlari bersamanya. Bukannya ia takut ataupun tidak sanggup berjibaku, hanya saja Sehun memilih jalan pintas agar tidak kerepotan. Orang-orang di rumah akan khawatir jika melihat satu memar di wajahnya. Apalagi jika kakaknya tahu. Ugh, Sehun tidak ingin membuat kakaknya lelah pulang pergi.

Sial memang tidak pernah di duga. Segerombolan laki-laki berseragam menghadang mereka. Lantas Sehun kembali menyembunyikan si gadis di punggungnya. Sehun sepertinya harus merelakan wajahnya memar, ia hanya bisa berharap kakaknya tidak mengetahui bahwa ia ketahuan suka berkelahi.

Sehun menatap seringai-seringai menjijikkan di wajah siswa bertampang preman. Jumlahnya sekitar tujuh, Sehun bisa mengendalikan. Jumlahnya masih kecil, hanya akan menghabiskan satu menit untuk membuat mereka tumbang.

Melirik si gadis sekilas, Sehun memberi intruksi agar si gadis dapat selamat. “Pada hitungan ketiga kau harus lari ke depan menuju gerbang, aku akan membuka jalan untukmu. Lari sekencangnya jangan sekali pun menoleh ke belakang. Mengerti?”

Gadis itu tanpa sadar mengangguk pada Sehun yang berbisik, masih syok dengan kejadian yang menimpanya. Sehun menarik bibirnya sedikit. Ia merenggangkan ototnya yang terasa kaku karena jarang ia gunakan untuk adu tinju seperti ini. Sekali lagi ia lirik gadis di belakangnya. Pada wajah cantik yang Sehun yakini bukan asli keturunan korea, mata almond-nya mengingatkan Sehun pada kakaknya. Ah, kakaknya ya?

Jerit histeris si gadis membangkitkan pikiran Sehun. Juga tubuhnya yang hampir terjungkal ke belakang karena serangan tiba-tiba siswa preman tadi.

Hanya seperkian detik sebelum si gadis ikut terjatuh hampir tertimpa tubuh Sehun, tangan Sehun langsung menyambar pinggang si gadis, membalikkan posisi hingga Sehun membentur kerasnya aspal dan tertimpa si gadis.

Punggung dan tempurung Sehun nyeri luar biasa. Ia mengernyit merasakan cairan yang merembes di bagian belakang tubuhnya sembari melindungi gadis yang ia dekap. Karena demi apapun, ia tidak akan membuat luka fisik pada seorang perempuan, meski ia tidak mengenalnya sama sekali. Sehun berusaha untuk segera bangkit.

“Ambil gadis itu atau kalau perlu siksa saja dia di sini.” Perintah itu segera diterima oleh tujuh siswa preman tadi. Sontak Sehun yang tadinya baru bangkit, berjongkok segera mendekap si gadis yang masih terduduk di aspal. Satu-satunya cara yang bisa Sehun lakukan karena ia sadar tidak bisa melawan dan berlari menghindari mereka.

Tendangan dan tinjuan di sekujur tubuh tidak membuat Sehun melepaskan rengkuhan sedikit pun, bahkan melonggarkan se-inchi pun tidak. Ia akan melindungi gadis ini sampai mati. Meski babak belur, Sehun tetap kukuh. Ia tidak ingin menerima kehancuran seorang gadis yang kehilangan kehormatan padahal ia bisa menolongnya.

“Shannon, datanglah padaku. Berhenti membuat orang mengasihimu.” Samar, Sehun mendengar Chanwoo berujar pada gadis yang sedang di dekapnya. Jerit histerisnya terhenti berganti kekakuan. Chanwoo berhasil menjebak Shannon.

Sesaat Sehun menyadari sikap Shannon yang berubah. Sehun menjulingkan mata jengah pada Shannon yang mudah percaya pada Chanwoo yang sudah jelas berniat buruk. Sekon kemudian Sehun mengerang dan terbatuk mengeluarkan cairan merah yang sejak tadi ia tahan. Napasnya mulai tercekik, kepalanya pening, tangan yang merengkuh sedikit merenggang, Sehun hampir di ambang batas kesadaran.

Satu kepalan Sehun terima di tempurung kepalanya menjadi batas toleran kesadaran Sehun. Ia memberikan beban tubuhnya, menjatuhkan gravitasi pada gadis di dekapannya.

Shannon menjerit histeris. Masih diingatnya nama laki-laki yang melindunginya tadi sempat Chanwoo sebut. Pada laki-laki yang mati-matian mendekapnya erat bahkan tanpa saling kenal, Shannon melengkingkan nama Sehun di tengah keributan di depan sekolah.

Sunyi. Semua aktivitas berhenti. Atensi mereka berada pada gadis yang menahan beban Sehun di pinggir jalan.

Teman-teman Sehun murka begitu mengenali tubuh yang menimpa si gadis adalah sahabat mereka yang sudah dianggap keluarga.

Kebrutalan dari kemarahan yang menggelegak itu tak lepas dari setiap netra di sana. Chanwoo segera menyadari posisinya yang tidak aman, ia mengintruksikan pasukannya mundur. Setidaknya, meski bukan target sebenarnya, Chanwoo merasa cukup. Anggap saja sebagai peringatan darinya.

Tatapan Chanwoo bertemu dengan Chanyeol. Kedua panglima dari sekolah masing-masing itu memancarkan raut kontras yang bertolak belakang. Chanwoo, dengan seringai kemenangan sementara. Dan Chanyeol dengan raut menahan amarah. Pion dari peperangan ini memang tidak berhasil menjadi sandera, tapi Chanwoo tahu bahwa ia telah melakukan lebih dari yang seharusnya, ia mengacaukan rencana Chanyeol.

**Kupu-Kupu Malang**

Getaran di saku celana yang berasal dari ponsel membuat Kyungsoo menjeda aktivitasnya. Keningnya mengerut saat nama pemanggil yang tidak diketahui. Ia menggeser ikon jawab dan menempelkan ponsel ke telinganya.

Suara seorang perempuan yang lembut bahkan tertata rapi seperti sudah terlatih menyambut pendengaran Kyungsoo. Sesekali Kyungsoo menjawab pendek, selebihnya ia membiarkan perempuan itu berbicara panjang lebar.

Setelah kata terima kasih dilontarkan, Kyungsoo menatap kosong ponselnya. Sambungan terputus.

Tuhan…

Cobaan apa lagi ini?

Dwimanik Kyungsoo berpaku pada Seravina yang ikut menata ulang bagian halaman depan kafe. Bagaimana cara Kyungsoo menyampaikan berita buruk untuknya?

.

.

.

.

.

To be Continued

Nano Note’s : halo para pembaca yang membaca ini note. Di chap ini tentunya kalian tahu bahwa ada cast baru yang muncul, cast yang sangat spesial. Siapa lagi kalo bukan Chanwoo Shannon!!! Beri tepuk tangan yang meriah(mulai gelo). Kenapa ada cast baru? Cast ini tentunya bukan sembarang masuk hanya karena itu couple legend kesayangan(yg baca ff chanwoo-shannon karya (saya lupa nama penulisnya) pasti tahu) tapi sayang disini mereka gak jadi couple*gaknanya*

Oh, oke. Sepertinya saya terlalu banyak cincong, maka dari itu mari menuju intinya. Cast baru terutama shannon akan sangat berpengaruh pada pengenalan konflik yang akan terjadi. Udah gitu aja. Siap menebak konflik yang akan terjadi?

 

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 6)

  1. Iya gpp channon gk jadi pasangan disini juga. Tapi… Ntar bikinin yang baru khusus pasangan itu HAHA /digaplok/
    hayooo tanggung jawab… Saya bacanya baper gara2 ada mereka. Kok malah bahas mereka sih, maafkan saya (bow)

    • -_- itu mah hayang maneh! Eh tapi mungkin bisa dipertimbangkan, mungkin aku bakal bikin shannon-Chanwoo, tapi di wattpad. Tapi itu masih kemungkinan, HAHA.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s