STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) C- by AYUSHAFIRAA

STRAWBERRY KISS

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Oh Sehun, Kim Yoojung as Seol HanaPark Chanyeol.`

`Supported by Ryu Sujeong as Shin HeeraByun Baekhyun, Kang Mina as Choi Hyunhae, Kim Dahyun as Lee Haejoo.`

|| Hurt/Comfort, Romance, School-life ||

// Teen // Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Judul terinspirasi dari salah satu merek permen :v Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Special appearance :

Kim Junmyeon as Teacher Kim

|| Playlist : First Kiss (1/2)First Kiss (2/2)Second Chance (1/2)Second Chance (2/2)The Third Person (1/2)The Third Person (2/2)The Fourth Reason (1/2)The Fourth Reason (2/2)The Fifth Semester (1/2) AThe Fifth Semester (1/2) B ||

Now Playing

Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) C

♬ Recommended Song : Taeil – Because of You ♬

♥♥♥

Penjagaan ketat diberlakukan pihak kepolisian di lantai khusus kamar rawat kelas VIP yang sudah disterilkan dari pasien-pasien lain untuk melindungi Seol Hana. Tak sembarang orang bisa menjenguk putri semata wayang pemilik perusahaan raksasa paling berpengaruh di Korea Selatan itu. Hanya keluarga-keluarga terdekat seperti keluarga Oh Sehun, Choi Hyunhae, dan Lee Haejoo-lah yang diperkenankan menjenguk gadis itu. Kejadian yang menimpa Hana kemarin telah membuat orang tua Hana berusaha menjauhkan putri mereka dari siapapun yang mencoba menyakitinya.

Ayah Choi Hyunhae merupakan kepala kepolisian Seoul. Peristiwa dugaan pembunuhan seorang siswi dari sekolah tempat putrinya menuntut ilmu itu langsung menarik perhatiannya karena melibatkan putri rekannya yang juga sahabat putrinya sendiri. Terlebih malamnya, Ayah Seol Hana mendatangi ruang Ayah Choi Hyunhae setelah mendapat bocoran kabar kalau sang putri tercinta-lah yang justru terekam CCTV keamanan sekolah terlihat mendorong siswi bernama Shin Heera yang pada akhirnya jatuh dari lantai teratas sekolah itu setelah gagal diselamatkan oleh seorang guru.

“Kau harus bisa menjamin putriku tidak akan terlibat lagi dengan kasus ini. Seperti yang kau lihat sendiri! Dia hanya mencoba membela dirinya! Dia juga hampir terbunuh oleh siswi gila itu!”

“Rasanya akan sulit. Meskipun begitu kenyataannya, buktinya terlalu kuat. Hana pasti akan tetap terseret dalam kasus ini.”

“KALAU BEGITU KAU HANYA HARUS MENGHILANGKANNYA!” ucap Ayah Hana, murka. “Kau juga tahu sendiri bagaimana putriku telah menjadi sahabat putrimu sejak lama. Hyunhae pasti tidak akan tega melihat sahabat baiknya masuk penjara!” lanjutnya.

Ayah Hyunhae masih diliputi keraguan. Di satu sisi, ia tak tega juga melihat putri rekannya harus terlibat dalam kasus pidana seperti ini, tapi di sisi lain, ia tidak mau mencampuri urusan hukum. Tapi sedetik kemudian, ia teringat akan posisinya saat ini. ia tidak akan mungkin bisa sampai seperti sekarang kalau bukan karena bantuan Ayah Hana.

“Kalau begitu, kau mau melimpahkan kesalahan itu pada siapa?”

“Guru dalam CCTV itu, dia rela menggantikan posisi putriku. Bukankah dia juga sudah mengarang cerita kalau dirinya-lah yang bersalah?”

“Jadi-“

“Kau tinggal menjebloskan dia ke penjara dan setelah itu putriku bisa kembali ke kehidupan remajanya tanpa perlu merasakan dinginnya tembok sel tahanan.”

.

♥♥♥

.

Seusai menjenguk Hana di Rumah Sakit, Sehun datang berkunjung sendirian ke tempat sang guru ditahan untuk sementara waktu sebelum terbukti bersalah. Lelaki itu duduk menunggu lumayan lama sebelum akhirnya ia dapat melihat sosok yang dicarinya di seberang kaca pembatas.

“Terimakasih sudah mau mengunjungiku, Oh Sehun. Kau adalah muridku yang pertama datang.” Ucap pria 30 tahunan itu, tersenyum paksa.

“Apa kau baik-baik saja, Saem? Hana tidak pernah berhenti mengkhawatirkanmu.” Ujar Sehun.

Mendengar Hana mengkhawatirkannya, senyuman paksa Guru Kim berubah menjadi senyuman bahagia. Meski Hana tak hadir bersama Sehun hari ini, rasanya energi gadis itu tersampaikan begitu saja untuk menguatkannya.

“Aku baik-baik saja. Di sini aku tidak dipusingkan oleh ulah anak-anak lagi.”

Saem…” Sehun sedang tidak dalam mood ingin bercanda di saat seperti ini.

“Bagaimana dengan Hana? Apa kondisinya sudah lebih baik?”

Lelaki yang lebih muda memberi gelengannya, “Kurasa dia hanya akan membaik setelah kau mengaku pada polisi bahwa memang bukan kau pelakunya, Saem. Dia terus mengatakan itu dengan yakin. Aku percaya padanya, aku percaya padamu.”

Sesaat, Guru Kim tak bersuara, sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Rasanya tidak mungkin ia bisa mengaku demi Hana sedangkan pengakuannya itu dapat membuat Hana justru berada dalam kesulitan. Seperti Hana yang tidak mau melihatnya menderita dalam penjara, ia juga tidak mau Hana menderita.

“Sehun-ah…”

“Ya, Saem?” sahut Sehun pada panggilan gurunya.

“Aku pernah mendengar cerita Hana tentang kau yang begitu penasaran dengan hubungan kami. Melihatmu dulu pernah berkata kasar pada Hana seolah dirinya memang benar tengah berkencan dengan guru sepertiku, kau jelas telah salah paham.” Ucap Guru Kim. Pria matang itu kemudian memberi Sehun sebuah kertas berfotokan gadis yang tampak sudah tak asing lagi.

“Ini foto Hana.” Sekilas tak ada yang spesial. Hanya sebuah potret Seol Hana yang dicetak tak berwarna serta kertas fotonya yang mulai rusak.Kerutan di kening Sehun baru tampak setelah lelaki itu membalik kertas foto dalam genggamannya tersebut.

“Kim Myunjung? 2004?” tatapan penuh tanya Sehun langsung tertuju pada dua manik Guru Kim. Jelas sekali gadis di foto itu adalah kekasihnya, tapi kenapa tahun yang tertulis di kertas foto yang sudah sedikit pudar itu adalah 2004? Ia dan Hana mungkin baru menginjak usia 4 tahunan saat foto itu diambil. “Siapa Kim Myunjung, Saem?”

“Adikku.” Jawab Guru Kim. Seulas senyuman pahit terukir di bibirnya begitu nyata. “Kau mau mendengar sedikit cerita tentangnya?”

Rasa penasaran Sehun akan sosok Kim Myunjung yang memiliki wajah mirip bagaikan kembar identik dengan kekasihnya mendorong Sehun untuk mengangguk.

“Saat aku mengambil fotonya 13 tahun yang lalu, aku duduk di kelas 3 SMA, dan dia baru saja menjadi salah seorang siswi baru di sekolah yang sama denganku.”

.

♥♥♥

.

[13 tahun yang lalu]

Bunga-bunga di tepian jalan bersemi dengan indahnya seolah ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini tengah melanda diri kakak-beradik, Kim Junmyeon dan Kim Myunjung. Sang kakak, Kim Junmyeon, tak henti-hentinya mengabadikan momen pertama sang adik mengenakan seragam sekolah sebagai siswi SMA pagi itu dengan kamera lawas milik keluarga mereka. Sebuah senyuman tak pernah hilang dari paras cantik gadis 16 tahun itu yang begitu berbahagia bisa menyusul kakaknya yang telah lebih dulu masuk ke SMA sejak 2 tahun lalu.

“Aku cantik sekali memakai seragam ini, bukan?” tanya Myunjung pada Junmyeon, penuh percaya diri.

“Memakai baju apapun, adikku akan selalu terlihat cantik.” puji Junmyeon, menepuk-nepuk pipi Myunjung yang merona karenanya.

Kakak-beradik itu bukanlah berasal dari keluarga berada. Mereka mulai tinggal berdua di sebuah rumah kecil di tengah hiruk pikuk kota besar sejak orang tua mereka yang merupakan penjual sayuran meninggal karena kecelakaan saat Junmyeon duduk di kelas 1 SMA dan Myunjung di kelas 2 SMP. Dengan mengandalkan uang beasiswa hasil dari kecerdasan otak merekalah, mereka berdua bisa terus melanjutkan hidup.

Tak seperti Junmyeon yang mendapat hak setara dengan siswa-siswi lain yang bukan penerima beasiswa, nasib Myunjung justru menyedihkan. Myunjung selalu mendapat diskriminasi sosial dari pihak sekolah entah itu dalam pelajaran, nilai, maupun dalam interaksi sehari-hari. Tak hanya itu, teman-temannya pun tak kalah sering memojokkannya.

“Siswi miskin jangan pernah berharap bisa mendapat nilai sempurna di sini.” Ucap seorang siswi teman sekelas Myunjung yang tampaknya berasal dari keluarga kaya raya.

Kata-kata jahat serta sikap angkuh siswi tersebut pada Myunjung secara tak sengaja tertangkap oleh kedua mata dan telinga Junmyeon yang saat itu memang hendak menemui sang adik di depan kelasnya ketika jam istirahat makan siang.

“Kenapa temanmu bisa sampai berkata seperti itu?”

“Biasa saja, Oppa. Aku mendapat nilai 80 saat ulangan matematika kemarin. Ya, mungkin memang jawabanku banyak salahnya.” Di depan Junmyeon, Myunjung berusaha terlihat tegar. Tapi tampaknya sang kakak tidak serta merta percaya begitu saja padanya.

“Coba kulihat kertas ulanganmu!”

Netra Junmyeon membulat. Jawaban adiknya yang seharusnya dinilai benar terlihat mendapat coretan merah. “Apa-apaan ini?! Jawabanmu betul semua, Jungi-ah! Ini tidak bisa dibiarkan!”

Tak ada yang berubah. Bahkan setelah nilai ulangan matematika Myunjung berubah menjadi 100 karena protes keras  Junmyeon terhadap guru pengajar, Myunjung mendapat perlakuan yang lebih parah lagi dari sebelum-sebelumnya. Setiap hari tanpa sepengetahuan kakaknya, Myunjung menjadi korban bully teman-temannya yang mayoritas berasal dari keluarga kaya dan membenci orang miskin yang dianggap tak selevel dengan mereka. Tak hanya itu, guru-guru tak membiarkan Myunjung mengikuti jam pelajaran penuh seperti teman-temannya yang lain. Gadis itu selalu dipersilakan untuk keluar kelas ketika pelajaran mulai memasuki menit kesepuluh, dan tanpa memiliki upaya untuk melawan, gadis itu menurutinya begitu saja.

“Jungi-ah!”

Junmyeon berlari menghampiri adiknya di kelas 1-1. Seisi tong sampah sengaja ditumpahkan oleh seorang siswa ke sekujur tubuh adiknya hingga bau menyengat tercium menusuk pernafasan sementara teman-teman adiknya yang lain menatap adiknya dengan pandangan jijik dan tawa tanpa henti.

“APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA ADIKKU?!” amarah Junmyeon memuncak. Kepalan tangannya berhasil menghajar siswa si pembuli adiknya habis-habisan hingga babak belur.

Myunjung bangkit, tubuh kotornya tampak begitu menjijikan. Tanpa berniat memisahkan sang kakak, langkah gontay Myunjung berlalu mengambil tasnya yang juga dipenuhi sampah dengan airmata berlinangan membasahi pipinya.

“Kakaknya tampan, tapi kenapa mau-maunya membela seekor babi?” kurang lebih kalimat seperti itulah yang tertangkap indera pendengaran Myunjung dari teman-temannya untuk terakhir kali. Permohonan maaf? Dalam mimpi pun ia tidak pernah mengharapkannya.

Pelan-pelan, Junmyeon mengobati luka lecet di wajah Myunjung. Sudah 3 bulan berlalu sejak lelaki itu melihat senyuman terakhir sang adik di hari pertama masuk sekolah, karena nyatanya setelah itu, adiknya tak pernah tersenyum seceria dulu lagi. Tubuh Myunjung bahkan terlihat lebih kurusan, mungkin karena terlalu lama menahan penderitaannya seorang diri.

“Mianhae, Jungi-ah.” Junmyeon benar-benar menyesal mengetahui masalah yang dihadapi adiknya begitu terlambat. “Aku bukan kakak yang baik untukmu.”

“Aku lelah.” Ucap Myunjung.

Junmyeon mengangguk, “Kau harus istirahat.”

Sebelum gadis itu benar-benar masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menyempatkan diri untuk memeluk erat tubuh sang kakak untuk merasakan kehangatannya. Junmyeon tak pernah tahu, bahwasannya pelukan itu akan menjadi pelukan terakhir Kim Myunjung padanya. Saat Junmyeon mengetuk kamar Myunjung di pagi hari, tak pernah ada lagi sahutan dari dalam sana.

.

♥♥♥

.

“Adikku bunuh diri. Dia menggantung dirinya dengan lilitan selimut yang dia ikatkan ke langit-langit kamar. Dalam surat tulisan tangannya, dia meminta maaf padaku karena tak sanggup menahan derita batinnya lebih lama lagi.” pipi putih Guru Kim banjir oleh airmata. Hatinya kembali terluka ketika harus mengingat nasib malang yang menimpa sang adik tercinta.

“11 tahun kemudian, aku bertemu Hana di sekolah. Aku tak kuasa menahan rasa rinduku pada Myunjung setiap kali aku melihatnya. Aku bersyukur, sangat bersyukur karena Tuhan membuat nasib Hana lebih beruntung. Apa-apa yang dulu tak Myunjung miliki, Hana memilikinya. Aku senang melihat Hana selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, aku senang melihat senyuman cerianya, dan aku tidak mau melihat Hana menderita seperti Myunjung-ku.”

Kini Sehun mengerti, mengapa hubungan antara Guru Kim dan Seol Hana sangatlah dekat. Seperti takdir, Guru Kim dipertemukan kembali dengan adiknya dalam diri dan garis hidup yang berbeda. Perhatian-perhatian serta kasih sayang Guru Kim dulu pada adiknya kini tercurahkan seluruhnya hanya pada Seol Hana seorang. Sehun juga menyesal baru mengetahui fakta menyedihkan ini, karena bagaimana pun ia sempat membenci kedekatan Hana dengan guru kesiswaan di sekolahnya tersebut.

.

♥♥♥

.

Melihat ayahnya terus bekerja semalaman tanpa sedikitpun beristirahat, Hyunhae merasa khawatir. Kasus pembunuhan Shin Heera pasti sangat menyita waktu sang ayah hingga ayahnya tak kunjung beranjak dari ruang kerja sejak kemarin lusa. Sebagai anak yang baik, Hyunhae berinisiatif membuatkan secangkir teh hangat untuk melepas penat ayahnya barang sebentar saja.

Appa? Hyunhae sudah buatkan teh.” Gadis manis itu melangkah masuk setelah ketukan pintunya tak dibalas sahutan sang ayah.

Beberapa tumpukan berkas yang semula acak-acakan di atas meja kerja ayahnya Hyunhae rapikan tanpa perlu disuruh. Cangkir berisi teh hangat kesukaan ayahnya sudah gadis itu simpan lengkap dengan tutupnya. Sebelum beranjak keluar, video di layar monitor sang ayah yang terpause menarik perhatiannya, menahannya untuk tidak buru-buru pergi.

Klik!

Manik Hyunhae hampir loncat dari tempatnya. Ia menutup mulutnya sebisa mungkin dengan telapak tangannya sendiri agar tak mengeluarkan suara. Video yang beberapa detik lalu ia putar atas dasar rasa penasaran malah membuatnya ingin berpura-pura tak pernah melihat itu seumur hidup. Dalam video tersebut, CCTV keamanan sekolahnya menangkap detik-detik sebelum Shin Heera jatuh dari atap sekolah dan meninggal. Hana jelas ada di sana, bersama Guru Kim dan seorang siswa yang tak dikenalnya. Hana dan Heera yang tampak saling mencekik kemudian berakhir dengan Hana yang mendorong tubuh Heera hingga hampir jatuh. Bukan Guru Kim yang membunuh Shin Heera. Guru Kim hanya tak berhasil menyelamatkannya. Hana-lah satu-satunya orang… yang mendorongnya.

Sayup-sayup, suara ayah Hyunhae terdengar dari balik pintu toilet yang ada dalam ruang kerja itu. satu langkah, dua langkah, Hyunhae mencoba mendekat. Hyunhae memasang telinganya, menguping pembicaraan sang ayah yang ia pikir tengah menghubungi seseorang, entah siapa.

Kalau kau ingin melimpahkan semua kesalahan ini pada guru itu, ada satu saksi lagi yang harus kau singkirkan.

Batin Hyunhae bergejolak. Akalnya tak bisa mempercayai ini semua.

Namanya Lee Jeno. Dialah satu-satunya saksi mata yang bisa memberatkan posisi putrimu.

.

♥♥♥

.

“Kita jadi kan menjenguk Hana ke rumah sakit lagi?”

Entah sudah yang keberapa kalinya, Haejoo merasa diabaikan oleh sahabatnya yang bermarga Choi itu sepanjang hari ini di sekolah. Sering Haejoo mendapati sahabatnya itu kehilangan fokus dan banyak melamun. Haejoo merutuk dalam hati, membenci keadaan menyedihkan yang telah merenggut setiap senyuman ceria orang-orang terdekatnya ini.

“Yak, Choi Hyunhae! Kau tidak mendengarkanku sedaritadi?!” kesal Haejoo.

“Ah, Haejoo-ya…” Hyunhae akhirnya berpaling ke arah Haejoo, tetapi pandangannya masih saja kosong. “Mianhae.”

“Aku tidak suka ini.”

“Apa?” tanya Hyunhae yang secara tidak langsung meminta pengulangan.

Haejoo menghela nafas dan menghembuskannya kasar, “Aku tidak suka dengan suasana aneh ini. Aku tidak suka dengan keadaan kita ini. aku merindukan-“

“Ah, tunggu sebentar, Haejoo-ya!” sela Hyunhae, memotong. Haejoo merapatkan kembali mulutnya yang belum selesai bicara.

“Ada seseorang yang harus kutemui. Kau duluan saja ke parkiran, sopirku sudah menunggu di sana.”

Hyunhae berlalu meninggalkan Haejoo bahkan sebelum melihat anggukan setuju dari kepalanya. Bibir Haejoo bergetar, tangannya mengepal, menahan tangis.

“Aku merindukan saat-saat ceria kita dulu.” gumamnya.

.

♥♥♥

.

Jaraknya tak terlalu jauh dari sekolah, sebuah rumah toko sederhana yang menjual berbagai macam sayuran terlihat ramai setelah sang pemilik kegirangan bukan main karena mendapat rejeki nomplok berupa selembar cek yang bisa ditukar dengan uang sebesar 86 juta won (kurang lebih 1 milyar rupiah) dari seorang pengusaha yang tak mau disebutkan namanya. Mobil mewah sang pengusaha masih terparkir tak jauh dari rumah toko tersebut dengan penjagaan dari para bodyguardnya, menunggu si putra bungsu pemilik toko pulang dari sekolah.

Melihat toko sayurannya begitu ramai dan sang ibu yang menangis sambil berteriak-teriak heboh membuat remaja lelaki berkacamata tebal yang baru mengenyam pendidikan SMA selama 5 bulan di sekolah yang sama dengan Seol Hana itu terkejut. Ia yang khawatir lantas mengambil langkah seribu menghampiri sang ibu yang kemudian memeluk dirinya begitu erat.

“Ibu, ada apa?! Apa yang membuat ibu menangis seperti ini?!” tanya remaja lelaki yang masih mengenakan seragam sekolah itu.

“Jeno-ya! kau harus menemui seorang dermawan yang telah memberi kita banyak uang ini! dia menunggumu.” jawab ibunya.

Jeno, ya, remaja lelaki berkacamata tebal itu mengerutkan kening saking bingungnya. “Menungguku? Memangnya ada apa?”

“Kau yang bernama Lee Jeno?”

Perhatian Jeno teralih ke dua orang tinggi tegap bersetelan jas rapih dengan earphone di sebelah telinga mereka. Ia kemudian mengangguk atas pertanyaan dua orang itu.

“Bos kami ingin berbicara empat mata denganmu. Mari ikut kami.”

“Ada apa sebenarnya, Bu?” tanya Jeno lagi, kali ini dengan perasaan was-was.

“Sudah, sudah! Temui saja, Jeno-ya! lagipula kau harus berterimakasih padanya karena telah memberi orang tuamu yang miskin ini uang yang begitu banyak!”

Jeno akhirnya pergi menemui seseorang tersebut yang memarkirkan mobil tak jauh dari rumahnya. Pertama kali masuk ke dalam mobil mewah seumur hidupnya, Jeno tampak sedikit kedinginan. Si pengusaha dermawan yang tak lain adalah ayah dari Seol Hana itu tersenyum kecil dan memberi mantel yang memang telah disiapkan untuk remaja lelaki itu.

“Jeno-ya, kau mau sekolah ke luar negeri? Jepang? Singapura? atau Amerika?” tanya Ayah Hana tanpa berbasa-basi.

“Luar negeri? Sa-saya ingin sekali sekolah di Amerika, tapi sayangnya saya tidak punya uang. Bisa sekolah di salah satu sekolah mahal terfavorit di sini saja, saya hanya mengandalkan beasiswa.” Ucap Jeno, menunduk gugup.

“Kalau begitu, pergilah ke Amerika bersama orang tuamu. Tinggal dan sekolah-lah di sana.”

“Ye?”

Ayah Hana menepuk bahu Jeno, menatapnya penuh keyakinan. “Kau tidak perlu khawatir soal biaya pendidikan dan biaya hidupmu di sana. Aku yang akan bertanggung jawab sampai kau lulus kuliah nanti.”

Tak jauh dari mobil Ayah Hana, Hyunhae berdiri mematung. Ia meremas tas gendongnya, berusaha meyakinkan diri dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menyimpan rahasia besar ini selamanya, sendirian.

.

♥♥♥

.

Seperti kata Sehun, Hana tidak pernah merasa dirinya baik-baik saja setelah hari itu. Berulang kali pun ia berusaha keras untuk mengingat semuanya, hasilnya nihil. Hana tidak pernah bisa mengingat kembali kronologi kejadian yang dialaminya 5 hari lalu. Hana terlalu banyak berharap pada ingatannya yang ia pikir akan dapat membebaskan Guru Kim dari segala tuntutan, tapi yang ada, ia hanya mengecewakan dirinya sendiri, lagi dan lagi.

“Hana-ya,” panggil Sehun lembut. Tangan besarnya membelai rambut panjang Hana yang terurai. “Heera sudah dikremasi, haruskah kita pergi ke rumah duka bersama-sama?”

“Tentu saja harus, Sehun-ah.” Balas gadis itu tersenyum lemah.

Sehun merengkuh hangat tubuh Hana, membiarkan gadisnya bersandar di dada bidangnya. Hana menyambut pelukan Sehun yang nyatanya memang mampu memberinya ketenangan lebih.

Neoui sesangeuro~ yeorin barameul tago… Ne gyeoteuro~ eodi eseo wannyago…♫

“Ah, Sehun-ah,” Hana melepas pelukannya saat ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di dekat jendela ruang rawatnya berdering menerima sebuah panggilan masuk. “Maaf, bisa tolong ambilkan ponselku?”

Lelaki itu menjawab permintaan tolong kekasihnya dengan bergerak langsung mengambil ponsel Hana. Nama kontak Park Chanyeol jelas tertera di layar ponsel gadisnya.

“Halo?” sapa Hana ragu. Demi menghindari Sehun dari rasa cemburu, Hana me-loudspeaker sambungan teleponnya agar Sehun pun bisa mendengar apa yang dikatakan Chanyeol selanjutnya.

HANA-YA! AKU BISA BUKTIKAN PADAMU BAHWA BUKAN AKU YANG MEMBUAT HEERA HAMIL! AKU BISA BUKTIKAN PADAMU SEKARANG JUGA!

Hana dan Sehun saling bertatap, terkejut penuh harap.

.

.

.

To be continued….

Iklan

15 pemikiran pada “STRAWBERRY KISS -Episode 5 : The Fifth Semester (1/2) C- by AYUSHAFIRAA

  1. aduhhh aku jadi takut nih kalo hana bakal masuk penjara. moga aja hyunhee gk bocorin masalah ny ke orang2*amin. tapi aku juga gk tega suho yg masuk penjara, dia kn gk salah apa2. ka author aku kangen juga nih ama kebersamaan mereka -__- semoga masalah cepat kelar baik hana maupun suho gk ada yg masuk penjara. knp tuh si yeoli pengen buktiin apa ya dia????
    di tunggu next part nya ka author ^√^

    • Hana masuk penjara gak yaaa? 😦 hehehe, amiin amiin diaminin nih xD hooh, mamassuhoku kasian amat ya nasib ooh nasib 😦 sama hiwhiw aku juga kangen kekocakkan mereka, tapi keknya di chapter ini masih susah buat mereka balik kayak dulu lagi :’v
      Yaa semoga aja yaa~~😅 Kenapa coba buktiin apa coba? wkwk 😂
      Siip siip, ditunggu aja yaaa~~~😚

    • tapi gabakal masuk penjara kan ka? suho juga gk bakal masuk penjara jjuga kan ka author??? penasarannnn!!! semoga happy ending…

    • tapi han gabakal masuk penjara kan ka? suho juga gk bakal masuk penjara juga kan ka author??? penasarannnn!!! semoga happy ending…

  2. hana merasa bersalah kasian, hana itu sudah tau blum kalau dia yg udah dorong heera ya,,
    kasian jga gru kim, dia hrus berfikir kalau dia brkata jujur maka dia harus melihat hana dipenjara dia kan gak mau lihat hana tersiksa
    kasian sekali
    next chapter eon
    fighting

    • Hana gak bisa inget kejadian itu huhuhu jadinya dia kayak gak tahu apaapa 😦
      Iyaaa semuanya kasihan disini hiks ㅠㅠ serba gak enak ada di posisi Guru Kim tuh 😦
      Yap, siip siip coming soon hehehe 😄
      Makasih unch 😍

  3. Akhirnya terbongkar jg alasan knp junmyeon syg bgt sma hana..kasihan adiknya junmyeon dibully smpe dia nekat bunuh diri 😥
    disatu sisi kasihan sm hana klau dia yg dituduh bersalah krn dia gk sengaja dorong heera tp disisi yg lain kasihan sm junmyeon krn dia gk salah apa2 😦
    pokoknya chapter ini bikin mood swing
    ditunggu next chapternya 🙂

    • Akhirnya yaaa setelah sekian lama misteri yg membuat semua orang salah paham itu terpecahkan juga /jiah/bahasaluyu😂 yoyoyyy, kasian banget terlalu tersiksa batinnya hiks 😭
      Nah bimbang kan bimbang 😦 pilih Hana atau Junmyeon hayooo 😦 kalo aku sih Junmyeon /plak/didemopecintaHana😂 Inilah ketidaksengajaan yang membawa petak umpet /eh/ petaka maksudnya bahahaha😂
      Siip siip, ditunggu aja yaa~~😍

  4. Woahh..chapt kali ini seru, tentang pembunuhan heera. Eum…kalo menurut aku sih jika sikap ayah hana seperti itu terkadang memang wajar sih untuk anak semata wayangnya(?). ,,tapi kasihan guru kim-nya…T.T
    Betewe itu hana murungnya lama banget ya? Hampir seminggu. Nggk capek han? :v
    Oh..ternyata hana persis seperti adiknya guru kim, pantesan sayang. Btw sekolah SMA guru kim sama adiknya dulu benar-2 keterlaluan ya..,gurunya juga sama nyebelinnya! Tapi katanya emang korea banyak pembulian sih disekolah kalo setahuku.
    Ayah hyunhae juga gitu sih, harus adil dong, kebenaran ya kebenaran, bukan siapa yg membuat sekarang bisa menjabat! Tapi kalo hana dipenjara trs gmn nih lanjutan ff nya? Wkwkwk😂
    Awalnya aku pikir lee jeno harus disingkirkan itu mau dibunuh :v ,,ehh.. mau di asingkan diluar negeri toh agar nggk ngaku kebenaran. Ayah hana tajir oey~! 😂
    Dan baru tau kalo disini kim junmyeon jadi anak tukang sayur. Kyk beda banget sama kehidupan realnya ya😂?? /ok ini fiction/
    Btw,Itu gambar adik guru kim bisa kyk foto lama itu pakek editan thor? Mau tau dong pakek app apa ngeditnya..,
    Kok aku ngakak ya pas bagian akhir? 😆
    ,,bisa-bisanya chanyeol masih menjelaskan ttg kehamilan heera itu bkn karnanya disaat genting”nya masalah siapa pembunuh heera. Udh yeol..,hana udh punya sehun. Kamu sama hyunhae aja /entah kenapa kok aku suka jodoh”in yak..??😅/ atau sama aku? /plak😂/
    Kasihan haejoo dikacang😂
    ,, itu hyunhae mau ngasih tau siapa? Haejoo..???
    Udh sana hun nyelawat(?) ke rmh heera, nanti jemput aku dulu ya..? Mau bareng.., /plak😂/
    Ok thor aku rasa sdh cukup long commentnya😂😂. Sorry ya thor always banyak banget komennya kyk nyeritain balik😂😂😂.
    Fighthing..💪
    Anyeong~👋
    Betewe aku first comment ternyata! Huahh~😁 dapat hadiah nggk nih? /plakk/

    • Yap yap yap tentang kasus Heera, makasih udah dibilang seru hehehe 😂 Ya mau gimana lagi coba ya, kan punya anak cuma satu, gak rela dong dimasukin ke penjara gitu aja :” Heeum, kasian ma husband(?) /plak😂
      Hana mah jagonya sesedihan(?) XD apalagi yg kali ini ceritanya bukan akting :”
      Iyap, sayang sesayangsayangnya dia ke adeknya huhuhu ㅠㅠ Bukan keterlaluan lagi, pada gila status sosial orang2nya hiks ㅠㅠ Iya emang, akupun terinspirasi dari kasus2 pembulian di drama2nya wikwiw😂
      Ayah Hyunhae gak mau aja gitu lepas dari jabatannya sekarang, kan Ayah Hananya bisa ngelakuin apapun, sekaligus sebagai balas budi gitu deh 😦 Buakakakak kalo Hana dipenjara, aku yang gantiin /plak/didemo😂
      Ciyatciyatciyat, kalau ini sinetron mungkin iya bakal dibunuh wakakak 😂 jelas, keluarga Seol mah rich pisan seantero korea /lebay👊😂
      Tukang sayur lovers yuhuhuhuuu~~ Kan walaupun anak tukang sayur tapi akhirnya tetep jadi guru kaya 😍💰💵
      Iya diedit hehe, pake aplikasi photoscape di laptop^^
      Kenapa ngakak hiks 😦 Chanyeol kan ingin ngungkap biar Hana gak salah paham lagi sama dia 😦 Chanyeol berjuang terus pantang mundur buakakak xD wah HyunChan shipper detected 😂👏 Masih untung dikacangin, daripada makan kacang nanti jerawatan 😎
      Ngasih tau apa ._.a
      Ciyee ciyeee witwiw yang minta bareng ke tahlilan(?)nya Heera /plak😂
      Siip, gapapa gapapa aku suka banget kok balesin komen yang panjangpanjang hiwhiw, kalem aja 😂👍
      Siip, makasih banyak hehe^^
      Annyeong~😄
      Buahahah, jadi first comment 10 kali nanti dimasukin jadi cast deh /plak😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s