Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran

rooftopromancehappy

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life? Work Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | Chapter 29 |Chapter 30 |[NOW] Chapter 31

“Date?”

 

 

-Chapter 31-

 

In Author’s Eyes

 

Pagi hari pukul 7, Chanyeol sudah sampai di Rumah Sakit Universitas Seoul. Tidur singkatnya tadi malam harus terganggu karena sebuah panggilan operasi darurat. Kesal? Tentu saja. Tapi Chanyeol tau ini adalah resiko pekerjaan yang sudah dia pilih. Dihubungi pukul 4 pagi tentunya bukan hal yang mengenakkan, tapi bagaimana pun itu Chanyeol harus lapang dada.

Setelah memerintahkan untuk melakukan operasi darurat dan bersiap, Chanyeol berangkat dari apartemennya pukul lima pagi. Sialnya, sebuah kecelakaan terjadi di perjalanan menuju rumah sakit dan mengakibatkan kemacetan yang cukup parah. Klise, pengemudi mabuk dan menabrak seorang pengendara motor. Akhirnya mau tidak mau Chanyeol harus turun dari mobilnya setelah menghubungi pihak rumah sakit agar menunda operasi sekitar satu jam karena keadaan mendesak dan memastikan pasiennya itu dalam kondisi stabil.

“Aku dokter,” ucap Chanyeol memecah kerumunan dan mulai memeriksa dua orang yang menjadi korban kecelakaan itu. Si pengemudi mabuk hanya mengalami luka ringan, sementara si pengendara motor mengalami keadaan yang cukup parah. Dengan hati-hati Chanyeol membuka helm dan mulai memeriksa keadaan korban berusia sekitar 30 tahunan itu.

“Dia gegar otak,” simpul Chanyeol singkat setelah memeriksa keadaan kepala pengendara motor itu dan memasangkan penyangga leher tepat setelah ambulance datang.

“Bawa pasien ke Rumah Sakit universitas Seoul dan bilang kalau Proffesor Peter sudah melakukan pertolongan pertama. Beritahu Proffesor Kim dari bagian ortopedi kalau kemungkinan kakinya mengalami patah dan beberapa ototnya robek, dan soal kepala, serahkan ke dokter Kang untuk sementara, aku akan segera memeriksa setelah melakukan operasi pagi ini. Untuk pengemudi mobil itu, masukkan saja dia ke unit gawat darurat dan dokter jaga di sana pasti tau tugas mereka,” perintah Chanyeol kepada petugas lalu segera masuk ke dalam mobilnya setelah ambulance itu mengangkut kedua korban tadi dan keadaan jalan mulai sedikit terbebas dari kemacetan.

Karena kejadian itu, Chanyeol baru bisa tiba di rumah sakit pukul 7 lebih beberapa menit.

“Proffesor, ruang operasi sudah siap.” Dan tanpa sempat bernafas atau membersihkan bekas darah di tangannya akibat menolong korban kecelakaan tadi, Chanyeol sudah harus berlari ke ruang operasi untuk menyelamatkan pasien lain yang sekarat.

Resiko pekerjaan? Mungkin. Tapi itu sudah menjadi pilihan Chanyeol menjadi seorang dokter.

●﹏●

“Saya ingin bertemu dengan Proffesor Peter. Saya Son Wendy, wali dari pasien Son Jung Hwan.”

Wendy menunggu sebentar saat suster jaga itu memeriksa layar monitornya sebelum akhirnya beberapa detik kemudian tersenyum ke arah Wendy.

“Maaf nona, tapi sekarang Proffesor Peter sedang melakukan operasi di ruang operasi nomor 2B.”

Wendy menghela nafasnya pelan. Setelah mengucapkan terima kasih pada suster itu, Wendy yang hari ini hanya menggunakan jeans hitam, kaos oblong berwarna putih dan topi hitam itu segera pergi. Awalnya gadis itu ingin ke kantor saja karena dia tau operasi pasti membutuhkan waktu yang lama dan dia terlalu lelah menunggu. Tapi langkah Wendy segera terhenti ketika melewati lorong yang membuatnya bisa melihat dengan jelas pintu ruang operasi.

Langkah Wendy otomatis berhenti ketika melihat seorang dokter jangkung berpakaian hijau khas ruang operasi yang tersenyum ketika seorang wanita tua menggenggam tangan dokter muda itu dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Senyum Wendy pun entah kenapa otomatis melengkung ketika dokter itu menunduk dan mengelus puncak kepala gadis kecil yang bersama dengan wanita tua itu. Samar-samar Wendy bisa mendengar apa yang diucapkan lelaki itu karena sekarang Wendy berjalan mendekat tanpa sadar.

“Tenang saja, appa Nara akan baik-baik saja.”

“Benarkah? Ahjussi serius kalau appa baik-baik saja?”

“Tentu, kan ahjussi sudah melakukan yang terbaik untuk appa-nya Nara. Nara percaya kan kepada ahjussi?”

Gadis kecil itu kemudian mengangguk, membuat senyum Wendy terkembang lagi, terlebih sekarang Chanyeol juga ikut tersenyum gemas kepada gadis kecil nan imut itu. Pintu ruang operasi pun terbuka dan beberapa orang berpakaian hijau nampak mendorong tempat tidur pasien berisi seorang pria yang masih belum sadarkan diri akibat bius.

“Kalau begitu dokter, terima kasih banyak sudah menyelamatkan putraku. Nara-ah, ayo pergi ke kamar appa,” ucap wanita tua itu yang membuat Chanyeol segera berdiri. Gadis kecil bernama Nara itu pun melambai ke arah Chanyeol sembari mengikuti langkah sang nenek menuju kamar pasien yang baru saja selesai di operasi itu.

Wendy terdiam. Kemarin seingatnya Chanyeol disebut sebagai ‘Peter Galak’ karena memang galak—lebih tepatnya sangat tegas dan perfeksionis sehingga kadang beberapa staff kesal karena Chanyeol menganggap hasil kerja mereka kurang becus dan memarahi mereka—saat menjadi dokter. Tapi melihat bagaiman ramahnya Chanyeol memperlakukan pasien, mungkin Wendy harus tidak setuju dengan anggapan para staff rumah sakit itu. Dia cukup mengenal Chanyeol sebelas tahun lalu dan sepertinya Chanyeol memang masih ramah dan suka dengan anak kecil, tidak seperti anggapan para staff rumah sakit selama ini.

“Ekhm,” Wendy berdehem pelan, membuat Chanyeol yang asyik membalas lambaian gadis kecil itu segera menoleh dan terkaget ketika menemukan Wendy sudah berada di sebelahnya.

“Aku mengganggu, ya?” tanya Wendy ragu, dan Chanyeol yang masih sedikit membulatkan matanya itu segera menggeleng pelan. “Tidak, tidak sama sekali Nona Son.”

Entah Wendy harus merasa bahagia karena jawaban Chanyeol. Bahagia karena kehadirannya tidak menggangu, tapi tidak bahagia juga saat Chanyeol memanggilnya dengan nama ‘Nona Son’ mungkin? Wendy jauh lebih suka Chanyeol memanggilnya sebagai Wendy seperti biasanya, bukan dengan panggilan formal semacam orang asing seperti itu.

“Omong-omong kenapa kau,” Chanyeol menatap Wendy dari atas ke bawah, “berada di rumah skait sepagi ini?” lanjutnya lagi yang membuat Wendy tersenyum canggung.

“Membicarakan operasi Pasien Son Jung Hwan,” jawab Wendy dengan cepat lalu menundukkan wajahnya. “juga menemuimu,” lanjutnya di dalam hati.

“Ah, benar juga,” jawab Chanyeol seakan baru saja mengingat hal penting sembari menggaruk tengkuknya. “Tidak keberatan menungguku sebentar kan? Aku perlu mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum membicarakan hal penting itu. Ehm, kau bisa menunggu di kantin?”

Wendy membulatkan matanya. Kantin?

“Ah, omong-omong aku belum sarapan karena pergi sangat pagi ke rumah sakit. Tidak apa kan kalau membicarakannya sambil sarapan di kantin?” lanjut Chanyeol dengan cepat seakan menyadari kebingungan Wendy. Mendengar itu tentu saja Wendy segera menganggguk setuju.

“Tentu, aku akan menunggumu di kantin, Proffesor Peter.”

●﹏●

Wendy duduk di dalam kantin yang cukup ramai. Gadis itu melirik jam tangannya, hampir pukul 10 pagi tapi kantin rumah sakit masih saja ramai. Tak berselang lama, sosok jangkung Chanyeol yang datang dengan menggunakan sweater biru tua dan jeans seperti biasanya—untung saja Chanyeol menggunakan jas dokternya kalau tidak Chanyeol lebih mirip seorang keluarga pasien yang menjenguk daripada terlihat sebagai dokter.

“Sudah menunggu lama?” basa-basi Chanyeol sambil duduk di depan Wendy. Tiba-tiba suasana kantin menjadi hening. Wendy baru sadar kalau sejak Chanyeol datang para staff mulai berbisik-bisik.

“Tidak, santai saja.” jawab Wendy sambil tersenyum canggung.

“Oh, kalau begitu aku akan memesan makanan sebentar. Kau mau pesan sesuatu? Atau kau belum sarapan juga? Tidak enak kalau aku makan sendiri sementara kau hanya duduk diam,” jelas Chanyeol sambil bangkit berdiri. Wendy nampak menimbang-nimbang.

“Kopi, mungkin?” katanya, dan Chanyeol segera mengangguk sembari pergi memesan.

Wendy nampak menunggu dan kira-kira 5 menit kemudian Chanyeol sudah kembali sambil membawa senampan sarapan pagi super sehat—nasi, sayur, lauk kaya protein dan juga segelas susu—di tangan kiri dan secangkir kopi di tangan kanannya.

“Sehat sekali,” gumam Wendy tanpa sadar, dan Chanyeol yang sudah mengambil posisi duduk itu ternyata bisa mendengar gumaman pelan gadis di depannya.

“Tentu saja. Aku ini dokter, ingat? Pekerjaanku sibuk dan aku harus tetap sehat agar bisa bekerja.” Wendy tersenyum canggung ketika mendengar jawaban Chanyeol. Di dalam hati Wendy merutuk karena Chanyeol bisa mendengar kalimat tidak sengajanya itu.

“Omong-omong, kau sarapan apa pagi ini?” tanya Chanyeol lagi sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Wendy meminum kopi yang dibawa lelaki jangkung itu untuknya seteguk, lalu menjawab pertanyaan Chanyeol. “Selembar roti dan air putih. Ah, aku malas makan.”

Langsung saja Chanyeol berdecak dan segera mengarahkan sendoknya ke arah Wendy.

“Itu artinya kau belum sarapan. Buka mulut cepat. Aaaa…” kata Chanyeol berniat menyuapi Wendy dan tiba-tiba saja pipi gadis itu bersemu merah. Wendy segera menatap sekeliling dan benar saja, mereka semua semakin berbisik-bisik.

Gwenchana, tidak usah sunbae,” jawab Wendy canggung, namun Chanyeol tidak peduli dan tetap menyuapi Wendy dengan paksa karena gadis itu terus menolak.

“Mereka melihat ke arah kita Chanyeol,” lirih Wendy segan, tapi Chanyeol masa bodoh dan terus menyuapi Wendy. “Memangnya kenapa?” balasnya cuek dan sekarang menyuapi dirinya sendiri lagi dengan sendok yang sama dengan yang dia pakai untuk menyuapi Wendy.

“Tapi—” ucapan Wendy terhenti karena sekarang jemari Chanyeol bergerak mengusap ujung bibirnya. “Nasinya belepotan,” ucapnya sambil tersenyum tipis sementara Wendy kini tidak bisa menghentikan jantungnya yang berdegup sangat cepat. Tolong, sepertinya jantung Wendy mulai bermasalah karena melihat tatapan Chanyeol yang begitu teduh.

“Te—terima kasih,” ucap Wendy dan Chanyeol hanya balas sambil tersenyum dan memakan sarapannya lagi.

“Kau masih lapar? Perlu ku suapi lagi atau perlu ku pesan sarapan juga untukmu?” Wendy menggeleng, masih menahan degupan jantungnya yang tidak bisa dikontrol itu. Ah, kenapa Chanyeol membuatnya menjadi serba salah? Bahkan sampai sekarang duduk berdua dengan Chanyeol pun masih seperti mimpi saja bagi Wendy.

Tsk, karena itu kau bertambah mungil dan tidak juga bertambah tinggi. Lihatlah betapa kurusnya kau Son Wendy,” ceramah Chanyeol lagi sambil meneguk habis susu pesanannya tanpa sisa.

“Tidak usah mengejekku pendek. Sunbae saja yang tumbuh terlalu tinggi,” awalnya Wendy tidak mau membalas ucapan Chanyeol, tapi ucapan sarat ejekan itu membuat Wendy sedikit tidak terima. Tanpa diduga, Chanyeol pun tertawa dan mulai mengacak-acak rambut Wendy.

“Bercanda, jangan seperti itu. Kau terlihat lucu sekali,” kata Chanyeol dengan gemas. Astaga, habis sudah pertahanan Wendy selama ini!

●﹏●

“Jadi, appa-mu harus melakukan operasi di bagian sini,” ucap Chanyeol sambil menunjukkan layar i-pad-nya kepada Wendy dan menunjukkan hasil rontgen pasien Son yang adalah ayah Wendy itu.

“Kau lihat bagian yang sedikit hitam ini kan? Itu tumor yang menghambat kinerja otak appa-mu dan membuatnya koma seperti sekarang. Sebenarnya tumornya belum terlalu parah, hanya saja tumornya tumbuh di bagian yang sedikit berdekatan dengan saraf dan sulit untuk melakukan operasi jika appa-mu belum sadar juga.” jelas Chanyeol lagi yang membuat Wendy terdiam.

“Tapi kata Proffesor Jang—”

Chanyeol tiba-tiba menggengam tangan Wendy dengan erat dan meletakkan i-pad-nya di atas meja kantin begitu saja hingga membuat Wendy menghentikan kalimatnya. Gadis itu tentunya tidak menyangka mendapat perlakuan demikian dari seorang Park Chanyeol.

“Pak tua itu pasti bilang kalau appa-mu bisa dioperasi dalam keadaan koma kan?” Wendy ragu-ragu mengangguk dan Chanyeol hanya tersenyum sembari menggenggam jemari Wendy semakin erat. Bukannya menolak genggaman Chanyeol, Wendy justru menerima sentuhan Chanyeol itu dengan senang hati karena jujur dia juga sangat merindukan jemari Chanyeol yang dulu selalu menggenggamnya erat.

“Ya, memang bisa dan seharusnya aku memang melakukan operasi sekarang juga sebelum tumornya semakin ganas.” Wendy membulatkan matanya. “Lalu kenapa kau tidak melakukannya sunbae?” katanya bingung dan nada bicara Wendy sedikit naik.

“Itu…aku hanya tidak bisa mengambil resiko Wen. Operasinya terlalu bahaya.”

“Tapi jika semakin lama tumornya semakin ganas. Kau bilang begitu tapi kau selalu menunda operasi ayahku, kenapa huh?”

Chanyeol menundukkan kepalanya pelan. “Aku tidak mau mengambil resiko Tuan Son nantinya bangun dalam keadaan cacat Wen. Operasinya mungkin berhasil dan tumornya bisa diangkat saat operasi, tapi siapa yang tau efek samping yang mungkin diterima Tuan Son setelah bangun, huh? Aku hanya tidak mau Tuan Son tiba-tiba tidak bisa berbicara lagi dengan putrinya tersayang atau tidak bisa lagi berjalan.”

Wendy terdiam. Matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca.

“Aku sudah bilang, tumornya berada dekat dengan saraf inti dan itu bisa membahayakan dan menambah efek samping jika menimbang keadaan Tuan Son yang masih dalam keadaan koma. Dengar, efek samping bukan kesalahan dokter karena memang setiap operasi menimbulkan efek samping, terlebih lagi ini operasi besar di bagian otak, pusat dari segala organ tubuh. Aku hanya ingin meminimalkan sesedikit mungkin kemungkinan efek samping itu jadi aku menyuruhmu untuk menunggu sampai Tuan Son sadar dari keadaan koma-nya.”

Chanyeol menggigit bibir bawahnya pelan. “Para Proffesor berpengalaman di sini sudah mendesakku agar melakukan operasi, tapi aku terus menolak. Posisiku sedang tidak bagus Wen, aku bisa saja mendapat peringatan karena terus menunda operasi yang sebenarnya mungkin untuk dilaksanakan hari ini juga. Tapi aku menunggu keputusanmu. Aku harap kau percaya dan membiarkan aku melakukan operasi sesuai dengan analisisku.”

Wendy menatap mata Chanyeol dengan intens. Dia sebenarnya bingung. Dia harus mempercayai siapa? Dia sama sekali buta mengenai hal medis dan yang dia inginkan sekarang hanyalah kesembuhan ayahnya secepat mungkin.

“Aku…”

Chanyeol nampak menunggu dengan harap-harap cemas.

“…bingung Chanyeol.” lanjut Wendy kemudian dengan berkaca-kaca. Chanyeol pun kini menghela nafasnya kasar.

“Dengar, aku tau ini salah karena aku membeda-bedakan pasien. Tapi jika saja itu bukan ayahmu, aku tidak mungkin mengambil keputusan seperti ini Wendy.”

Wendy membulatkan matanya, mencerna kalimat Chanyeol barusan. Tunggu, tidak mungkin kan maksud Chanyeol menunda operasi karena membenci ayah Wendy dan tidak ingin Tuan Son sembuh?

“Ma-maksudmu?” tanya Wendy takut-takut. Takut apa yang dia pikirkan selama ini kalau Chanyeol membenci ayahnya benar.

“Dengar Wendy. Prosedurnya memang melakukan operasi secepat mungkin dan hukumnya memang begitu, tapi aku menunda karena dia adalah ayahmu. Dia adalah orang penting untukmu dan aku tidak mau mengoperasinya dengan kemungkinan besar sembuh dengan cacat karena efek samping. Pasien adalah orang penting untukmu dan juga untukku, jadi aku ingin dia sembuh dan beraktifitas normal seperti biasanya tanpa ada efek samping. Aku tidak membenci ayahmu seperti yang kau pikirkan sekarang sehingga aku menuda-nunda operasinya, tapi ini murni karena aku juga menyanyangi ayahmu. Dia orang penting yang harus aku selamatkan.”

Wendy masih diam sementara Chanyeol makin memperatkan genggaman tangannya. “Jangan khawatir dengan tumor yang semakin membesar dan segala aspek negatif lainnya. Aku sedang berusaha dengan keras agar ayahmu sadar dari koma secepat mungkin dan menyiapkan operasi terbaik. Aku hanya perlu kau percaya kalau aku bisa menyelamatkan ayahmu dengan caraku.”

Chanyeol menatap intens gadis di depannya. “Kau percaya kepadaku kan, Son Wendy?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

●﹏●

Wendy duduk di rumahnya sembari mengecek beberapa file yang dikirimkan Taeil dari Amerika melalui e-mail. Tiba-tiba saja pikirannya tidak fokus dan melanglang buana mengingat percakapannya dengan Chanyeol tadi pagi di kantin rumah sakit.

Kau percaya kepadaku kan, Son Wendy?

Gadis itu menghentikan pergerakan jemarinya di atas keyboard laptop lalu menggigit kuku jarinya sendiri. Entah dia harus menyesal atau senang dengan keputusannya tadi pagi. Entah bagaimana kata ‘aku percaya’ meluncur begitu cepat dari bibirnya dan membuat Chanyeol tersenyum senang.

Ah, seharusnya aku mengerti sedikit tentang medis, rutuk gadis itu kepada diri sendiri. Sungguh, dia benar-benar bingung siapa yang harus dia percayai sekarang ini. Tapi dia sudah memantapkan diri mempercayai Chanyeol, dia sudah menggantungkan harapannya pagi lelaki yang menggantung hatinya selama 11 tahun ini. Salah atau justru benar?

Ting!

Tiba-tiba suara denting ponsel itu membuat Wendy melirik ponsel berlogo apel gigit berwarna emasnya. Dia menatap benda itu sebentar sebelum akhirnya menyerngit bingung karena ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Besok datang ke rumah sakit. Ada yang ingin kubicarakan denganmu?” ucap Wendy sembari membaca pesan masuk itu dengan bingung. Ini siapa? batinnya penasaran lalu segera membalas pesan itu dengan cepat.

‘Ini siapa?’

Drttttttt…..

Wendy kaget bukan main. Sedetik setelah tanda terkirim muncul di pesannya, bukannya pesan balasan malah sebuah panggilan masuk muncul di layar ponselnya. Gadis itu meneguk ludahnya kasar. Angkat atau tidak? batinnya bingung sekaligus takut karena tidak sekali dua kali dia mendapat telfon dari orang iseng atau orang yang berniat jahat padanya karena dia pewaris tunggal perusahan besar.

Suara panggilan telfon itu pun berhenti. ‘Satu panggilan tidak terjawab’ muncul di layar ponsel gadis itu hingga membuat Wendy bisa bernafas lega meski dia masih penasaran siapa yang baru saja mengirim pesan dan menelfonnya itu.

Drtttttttt…..

Wendy menarik nafasnya kasar. Orang itu menghubunginya lagi. Akhirnya setelah memberanikan diri, Wendy pun menggeser tanda hijau di layar ponselnya dan mulai mendekatkan benda elektronik itu ke telinganya.

“Yeo-yeoboseyo?” jawab gadis itu gugup.

“Ini aku. Kenapa tidak mengangkat panggilan telfonku barusan, huh?”

Wendy menarik nafasnya kasar. Dia mengenali suara berat ini. Tidak mungkin kalau ini…Chanyeol?

“Astaga, kenapa tidak menjawabku ? Ini aku, Chanyeol. Kau tidak mengenali suaraku lagi?”

Damn! Itu benar-benar Chanyeol. Chanyeol menghubungi Wendy lagi setelah sebelas tahun!

“Simpan nomorku. Besok ingat datang ke rumah sakit. Kalau kau sudah sampai kirim pesan atau hubungi aku saja, takutnya aku tidak ada di ruanganku dan sebagainya, arraseo?”

“A-arraseo.” Jawab Wendy gugup dan terdengar sebuah kekehan dari seberang sana.

“Belum tidur?” tanya Chanyeol yang membuat Wendy harus menyengirkan keningnya karena bingung. Ini benar Chanyeol kan? batinnya gugup.

“Be-belum.” Jawab Wendy kemudian masih tergagap.

“Tsk, ini sudah hampir pukul sembilan. Kenapa belum tidur?”

“Masih ada file yang harus ku cek, sunbae” jawa Wendy akhirnya sedikit berani. Terdengar nada ‘oh’ panjang dari seberang sana. Ayolah, Wendy tidak ingin panggilan ini cepat-cepat berhenti.

Euhm, kau sudah pulang dari rumah sakit?” tanya balik Wendy kemudian memberanikan diri.

“Belum, aku masih di rumah sakit.”

“Kenapa? Kan sudah malam. Bukannya dokter juga butuh istirahat?” terdengar nada tawa lagi dari Chanyeol.

“Memang, tapi masih ada urusan sebentar. Ada satu pasien yang masih harus ku urus. Mungkin sebentar lagi pulang.”

“Ah, begitu ya? Ternyata berat juga jadi dokter. Kerja dari pagi sampai malam tidak pulang-pulang,” kekeh Wendy lagi sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Memang, aku sendiri bingung kenapa dulu aku memilih jadi dokter.”

Wendy menyerngitkan keningnya bingung dengan jawaban Chanyeol. Tunggu, bukannya dulu Chanyeol ingin jadi polisi?

“Tapi dulu bukannya sunbae ingin jadi polisi? Kau bahkan sudah lulus menjadi siswa di akademi polisi,” tanya Wendy kemudian memberanikan diri.

“Penasaran ya?” Wendy mengangguk meski Chanyeol tentunya tidak bisa melihat anggukan gadis itu. “Aku beritahu besok, jadi kau harus ke rumah sakit.” lanjut Chanyeol sambil terkekeh lagi.

Arraseo.” Jawab Wendy sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Ah, dia kehabisan topik.

“Pekerjaanmu masih banyak, ya?” terdengar suara berat Chanyeol lagi dari seberang sana.

“Euhm, begitulah sunbae,” jawab gadis itu seadanya.

“Jangan bekerja terlalu banyak, pikirkan kesehatan juga. Jangan tidur terlalu malam, arraseo?”

Diam-diam pipi Wendy bersemu merah. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga mendengar penuturan Chanyeol. Bukankah itu artinya lelaki itu menaruh perhatian padanya?

“Iya, kau juga jangan terlalu workaholic sunbae. Dokter juga bisa jatuh sakit.” Terdengar nada tawa lagi. Ah, kenapa mendenar nada tertawa renyah milik Chanyeol saja sudah membuat hati Wendy dag dig dug tidak menentu?

“Iya, tenang saja, aku ini tahan banting.” Duh, Wendy ingin terbang saja rasanya!

“Terserah,” balas Wendy sambil mempoutkan bibirnya pura-pura kesal.

“Tsk, kalau begitu sudah dulu. Aku harus memeriksa pasien lagi. Pokoknya kau tidak boleh tidur terlalu malam.”

“Iya,” jawab Wendy lagi sedikit murung. Sebenarnya dia tidak rela panggilan telfon ini selesai.

“Sudah dulu, telfonnya ku tutup. Good night.”

Tutt..tutt…tuuttt…

Wendy menghela nafasnya. Padahal Wendy belum membalas salam Chanyeol, tapi lelaki jangkung itu sudah mematikan panggilan telfon mereka begitu saja.

Ting!

Wendy kaget bukan main ketika sebuah pop up pesan dari Chanyeol muncul di layar ponselnya. Dengan cepat gadis itu membuka pesan dari Chanyeol.

Unknow send you a picture.

Unknow : Ingat, jangan tidur terlalu malam

Unknow : Ingat, jangan tidur terlalu malam. Good night.

Seketika Wendy melompat-lompat kesenangan karena mendapat pesan dari Chanyeol, plus foto selca pria yang namanya bahkan tidak pernah terhapus barang sedetik pun di hati Wendy selama sebelas tahun ini.

Boleh terbang tidak? Kalau Wendy bisa, mungkin gadis itu sudah terbang ke langit ketujuh dan menari hula-hula di sana.

Tapi Wendy tiba-tiba teringat sesuatu. Gadis itu berhenti memasang senyum cerahnya. “Tapi bukannya dia sudah tunangan?” gumamnya mengingat cincin di jari manis Chanyeol dan rumor-rumor yang beredar di kalangan rumah sakit.

Sekedar informasi, setelah tau Chanyeol masih hidup dan bekerja di rumah sakit Universitas Seoul, Wendy segera memerintahkan bodyguard-nya untuk mencari tau apa saja yang terjadi pada Chanyeol selama sebelas tahun ini dan salah satu hasilnya adalah pengakuan Chanyeol kalau dirinya sudah bertunangan.

“Dia sudah tunangan dan masih sok perhatian seperti ini, dasar player brengsek. Sekali playboy ya tetap playboy,” gumam Wendy lagi dengan kesal sambil meletakkan ponselnya kasar begitu saja ke atas meja.

Tapi meski kesal tapi toh Wendy bahagia Chanyeol menghubunginya. Ibarat kata, Wendy hanya tidak mau diberi harapan palsu saja oleh Chanyeol, terlebih fakta bahwa ayahnya pasti tidak merestui meski Wendy meraung menangis mengatakan dia mencintai Chanyeol. Faktanya Chanyeol hanya akan kembali terluka jika bersama Wendy. Gadis itu hanya lelah untuk sakit hati untuk kesekian kalinya.

●﹏●

“Wah, dia datang lagi.”

Tsk, siapa sih dia? Tunangannya Proffesor Peter?”

Wendy menghela nafasnya. Dia baru saja duduk di bangku tunggu dan sudah mendengar gosip dari dua orang suster resepsionis di bagian administrasi. Ah, sepertinya dia salah memilih duduk di sini untuk menunggu Chanyeol yang katanya masih memeriksa pasien.

“Tidak tau juga sih. Tapi sepertinya gadis itu tidak pakai cincin, jadi mungkin bukan tunangannya Proffesor Peter.”

Memang bukan. Lah, saya sendiri penasaran siapa tunangannya Chanyeol, suster, batin Wendy dalam hati dan pura-pura mengecek ponselnya.

“Tapi kemarin Proffesor menyuapi gadis itu di kantin.”

“Iya juga, jadi bingung.”

“Kan dia juniornya Proffesor Peter dulu pas SMA,” timpal salah seorang suster yang baru saja bergabung di bagian resepsionis. Sekarang ada tiga suster yang bergosip ria karena tidak punya pekerjaan di sana.

“Benar cuma junior nih?”

“Dia cantik, aku jadi curiga.”

Wendy tertawa dalam hati. Makasih, ucapnya membalas ucapan suster yang memuji wajahnya itu, tentunya masih di dalam hati.

“Ah, tapi Proffesor Chanyeol kan selalu main sama cewek cantik sih. Ingat kan Dokter Eunji? Katanya dia pindah ke rumah sakit lain karena patah hati ditolak Proffesor Peter sebulan lalu.”

Eunji? Eunji siapa? batin Wendy mulai penasaran.

“Aduh, Dokter Eunji sih belum ada apa-apanya dibanding putri bungsunya Presdir Rumah Sakit ini.”

“Im Yoona maksudmu?”

Melihat suster itu mengangguk, Wendy pun makin memasang telinganya agar bisa semakin menguping pembicaraan ketiga suster itu.

“Iya, lihat sendiri kan Yoona sering datang ke kantor dan pura-pura ada urusan agar bisa bertemu dengan Proffesor Peter?”

“Iya juga ya. Kalau Proffesor Peter belum tunangan, Im Yoona cocok tuh. Udah cantik, kaya lagi,”

“Ih, tapi kan lebih tua setahun dari Proffesor Peter,”

Wendy menarik nafasnya kasar. Sepertinya dia harus tau siapa dan bagaimana hubungan Chanyeol dengan gadis yang bernama Eunji dan Im Yoona itu.

“Ya sudah, kalau begitu dengan Dokter Park Jiyeon si anak menteri kesehatan dari divisi bedah saja. kan lebih muda setahun dari Proffesor Peter. Lagian Dokter Jiyeon sering curi-curi pandang ke Proffesor Peter,”

Okay, sepertinya Park Jiyeon perlu masuk list, batin Wendy lagi masih menguping.

“Tapi sepertinya gadis itu masuk hitungan juga deh. Dia kan putri dari satu-satunya pasien VVIP di rumah sakit ini yang identitas pasiennya saja dirahasiakan.”

“Iya, aku juga sudah searching nama pasien itu dan hasilnya nihil. Sepertinya nama samaran atau bagaimana, indentitasnya sangat rahasia.”

Wendy tertawa dalam hati. Ya jelas nihil, orang nama appa disitu nama asli, coba cari nama Son Michael dan bukannya Son Jung Hwan, pasti banyak beritanya.

“Sepertinya kita perlu tau siapa nama gadis itu deh, ini rasa penasaran udah sampai ke ubun-ubun.”

Wendy berdecak pelan. Kesal juga dia lama-lama dijadikan bahan gosip oleh ketiga suster itu.

“Eh, itu Proffesor Peter datang. Stop gosip dulu, guys.” sela salah seorang dari mereka dan membuat Wendy otomatis melirik sosok jangkung Chanyeol yang sudah melambai ke arahnya. Melihat itu Wendy langsung berdiri dan tersenyum miring.

Pelan-pelan Wendy berjalan ke arah resepsionis dan langsung berdehem pelan. “Nama saya Son Wendy, Suster,” ucapnya sambil tersenyum manis dan segera menghampiri Chanyeol.

Sepeninggal Chanyeol dan Wendy yang sudah berjalan beriringan menuju ruangan Proffesor itu, salah satu dari ketiga suster tadi segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan nama ‘Son Wendy’ di mesin pencarian Google.

‘Putri Tunggal Son Minchael, pemilik Star Empire.’ ‘Son Wendy, si pewaris perusahaan raksasa.’ ‘Son Wendy masuk ke dalam list pengusaha muda yang perlu diantisipasi tahun ini.’ ‘Son Wendy resmi menggantikan ayahnya menjadi CEO Star Empire’ ‘Son Wendy, gadis 27 tahun pewaris Star Empire’ ‘Dispatch rilis interview dengan Son Wendy, calon CEO muda Star Empire’

' 'Son Wendy resmi menggantikan ayahnya menjadi CEO Star Empire' 'Son Wendy, gadis 27 tahun pewaris Star Empire' 'Dispatch rilis interview dengan Son Wendy, calon CEO muda Star Empire'

“OH MY GOD!”

“Gila. Dia sekaya ini? ASTAGA!”

“Tunggu, tadi dia bilang namanya berarti dia tau kita menggosip tentang dia? Shit!”

“Semoga kita tidak dipecat. Amin.”

●﹏●

“Ada apa Wendy?” tanya Chanyeol bingung karena sekarang Wendy tertawa tidak jelas sembari berjalan di sebelahnya. Jelas saja tertawa, toh sekarang Wendy tengah membayangan bagaimana reaksi ketiga suster tadi setelah tau siapa dirinya.

Gwenchanait’s okay sunbae, nothing special,” jawab Wendy sambil mengulum senyum, menghentikan tawanya karena takut Chanyeol makin bertanya yang tidak-tidak.

“Ya sudah tunggu sebentar, aku harus meletakkan jas dulu ke kantor, kau tunggu di sini saja.” kata Chanyeol tiba-tiba yang membuat Wendy menautkan kedua alisnya.

“Tunggu, bukannya kau ada yang perlu dibicarakan? Kenapa aku harus menunggu di sini, sunbae? Ku pikir lebih baik bicara di ruanganmu saja.” Chanyeol menghentikan langkahnya lalu mulai mengacak-acak surai Wendy dengan gemas.

“Aku free sampai nanti malam. Sekarang masih jam 11 siang. Kita bicara di luar saja sambil makan siang bersama. Kau tega aku selalu mendekam di ruangan serba putih rumah sakit?” Wendy menggeleng dengan cepat, membuat Chanyeol segera menghentikan aksinya mengacak-acak surai gadis itu lalu tersenyum penuh arti.

“Kalau gitu kita jalan-jalan keluar sambil bicara. Tunggu aku meletakkan jas. Hanya sebentar, arraseo?” Wendy mengangguk sembari melihat punggung Chanyeol yang menjauh karena sedikit berlari menuju ruangan milik lelaki jangkung itu.

Selepas kepergian Chanyeol, Wendy langsung memeriksa denyut jantungnya yang berdetak sangat cepat. Tunggu, bukankah itu artinya Wendy dan Chanyeol akan…kencan? Kan mereka hanya jalan-jalan berdua saja, benar kan?

Astaga Wendy, jangan berharap ke Chanyeol. Dia sudah tunangan. batin gadis itu agar detak jantungnya berdetak normal lagi, tapi jantungnya masih saja berdetak sangat cepat. Ayolah, gadis itu benar-benar serba salah sekarang. Sebenarnya, kencan dengan pria yang sudah bertunangan salah tidak sih? Wendy jadi gemas sendiri.

“Wendy, ayo jalan. Aku sudah siap.”

Sungguh, rasanya Wendy ingin mati saja sekarang!

Sungguh, rasanya Wendy ingin mati saja sekarang!

To be Continued

Iklan

21 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Wadaw daw daw
    Banyak kejutan!
    Thanks author!
    Oh iya sekedar review, yg bener tulisannya unknown bukan unknow hehe
    Udah gitu aja

  3. akhirnya….. dengan sekuat tenaga/eh/ aku bisa coment disini
    karena ak dh coba d next chap duluan, maafin ak kak, yg mgkn jd siders krn ga bs ngirim komentar ntah knp/mgkn krn ak kudet/
    ditunggu kak eki kelakuan2 manis ceye dan ceye harus mengungkapkan suatu fakta

  4. Kyaaa!! Dari tadi teriak2 mulu.. Geregetan ama chanyeol and wendy.. Date?? Gak sabar nunggu gimana date-nya nanti.. But wait, KENAPA CHANYEOL HARUS UDAH PUNYA TUNANGAN SIIIIIH?????!!! Ah! Aku harap itu cuma fake yang dibuat chanyeol sendiri, agar tidak ada yang mendekatinya.. Agar hatinya tetap milik Son Wendy..

    Next thooor… Keren bangeeet… 👍👍👍😁😁😁 next next next neeeeeext…. 😂😂

  5. Abang ceye emang paling jago buat ank gadis org klepek2, gak di ff gk di real life kkk
    penasaran kyk gmna kencan wendy sm chanyeol

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Giling….ceye beneran mau menampakkn perasaannya sama wendy yah…
    oh…it yah y namanya son wendy.
    Aku mlh baru tau…
    pdahal kenal redvelvet udah lama 😅😅😅😅
    huh….para wanita itu emang tukang gosip tpi…stelah tau dan pas bca “semoga aja kita ga dipecat…amin..”
    sumpah ngakak ching…
    lucu plus gokil…
    udah wen…percuma jaga pencitraan sama abang ceye mah… 😂😂😂😂😂😂
    adeh….sumpah….g sbar buat ngebc part selanjutnya

  8. Baper dah nii….
    Ahhh gara” ff ini gue nge-couple-in ChanWen ,senyum” sendiri sampe dikira gila sama abang sendiri

    Next ya kak fighting!!!

  9. Serius. Karena ff ini, gua jadi beneran nge-ship Chanyeol sama Wendy😂

    Sukak aku tuh thor😁😁👍

    Next nya ditunggu thor😊😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s