Caramelo pt. 4

Carameloo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: Shuutory

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1 2 3 4

Shuu’s Present this story

“The ignorant of Caramelo”

Hari sudah gelap saat Kyungsoo tengah menghentikan sepeda motornya di depan rumah Chaerin. Bukannya apa Kyungsoo mengantar Chaerin sampai ke rumah, tetapi gara-gara anggota Caramelo yang lain memaksa Kyungsoo untuk mengantarkan Chaerin sampai ke rumah dengan selamat. Pada awalnya Chaerin enggan, tetapi ia menganut ajaran ‘kalau rezeki tidak boleh ditolak’ membuatnya setuju-setuju saja. Hitung-hitung menghemat uang jajan, daripada harus pulang naik taksi atau bus.

Chaerin menyerahkan helm kepada Kyungsoo yang masih duduk di atas motor sport-nya itu. Kemudian Chaerin memastikan jika benar ayahnya belum pulang atau sudah tidur dengan memencet bel. Sedangkan Kyungsoo menunggu Chaerin hingga benar-benar masuk ke dalam rumah.

Chaerin menuggu balasan dari interkom beberapa detik. Kemudian terdengar suara wanita dari interkom. “Ne. Agassi?”

Ahjumma, Apakah Appa sudah pulang?” tanya Chaerin.

“Eumm…-

Terdengar suara pria dengan samar-samar yang membuat mata Chaerin terbelalak, “Appa tahu kau menhendariku ‘kan? Siapa lelaki di belakangmu itu?”

“E- Appa,” kata Chaerin sambil menyeringai.

“Bawa masuk lelaki itu menghadap Appa.” Kata Ayahnya dengar suara tegas.

Chaerin mengumpat di dalam hati, dan menyesalkan tindakannya yang ceroboh. Ia lupa jika tepat di belakangnya masih ada Kyungsoo. Pati sosok Kyunsoo tertankap kamera interkom. Lelaki itu memandangnya dengan tatapan bertanya. Kemudian Chaerin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dengan brutal.

Sunbae! Ah… molla.” Katanya frustasi.

Wae geuraeyo?” kata Kyungsoo.

“Ikut aku ke dalam.” Kata Chaerin memberi aba-aba dengan jari telunjuknya.

—-

Saat Chaerin masuk kedalam rumah, ia melihat ayahnya sedang duduk sambil membaca koran di ruang tamu. Sedangkan Kyungsoo mengekor di belakangnya. “Aku pulang,” kata Chaerin setelah menghadap kepada ayahnya. Saat ini Kyungsoo berdiri di sampingnya dengan perasaan canggung.

“Kwon Chaerin,” kata ayahnya setelah melipat kembali koran yang baru saja ia baca. Kemudian mengambil tongkat kehormatannya itu lalu di arahkan tongkatnya itu kepada Chaerin.

Ne.” Kali ini Chaerin mengubah posisinya menjadi sikap sempurna.

Nuguya? Kenapa kau membawa lelaki lemah kesini?” kata ayahnya sambil menunjuk Kyungsoo dengan tongkat. Membuat Kyungsoo kikuk sendiri ingin melakukan apa. Chaerin di sebelahnya hanya mencuri pandang kepada Kyungsoo yang ikut bersikap sempurna sepertinya. Ia terlihat menahan tawa. “Kau siapa?” tanya ayah Chaerin.

“Apa kau yang dipukul Chaerin? Kalau kau kena pukul anakkku, tenang saja aku akan memukulnya dengan sepenuh hati. Tetapi, sepertinya dirimu tidak terluka.” Kata ayah Chaerin sambil berjalan memutari Kyungsoo dan Chaerin.

Jeoneun-“

“Apakah kau orang yang memukul Chaerin kemarin?” tanya ayah Chaerin membuat kedua alisnya menyatu.

Aanimnida,” jawab Kyungsoo. Chaerin tetap bersikap sempurna sambil melihat lurus ke depan. Kyungsoo beberapa kali melihat kepada Chaerin, berusaha meminta bantuan. Tetapi Chaerin kelihatan enggan.

“Apa kau kekasih Chaerin?” tanya ayahnya.

Animnida,” jawab Kyungsoo.

“Jangan mau kepada Chaerin. Jika kau suka kepada Chaerin itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kau buat selama hidupmu. Anak ini tidak bisa bersikap baik di sekolah ‘kan? Lihat saja satu bulan sekali aku harus pergi ke sekolah karena harus menghadap Kepala Sekolah. Kalau kalian pacaran, kau anak muda putuslah dengan anakku. Kau sepertinya terlalu baik untukknya. Lihatlah roknya pendek sekali. Pasti itu dipotong sendiri olehnya. Untuk apa kau potong jika kau mengunakan celana olahraga seperti itu bodoh?” kata ayah Chaerin. Kyungsoo mendelik karena pengakuan ayah Chaerin. Biasanya ayah lebih membela anaknya, tetapi disini ayah Chaerin malah menjelekkannya kepada orang lain.

“Permisi,” kata Chaerin. Ayah Chaerin memandang Chaerin. “Apa Anda tahu? Anda menjelekkan anak anda sendiri kepada orang lain? Harga diriku terluka Appa. Awuh… Appoyo.” Kata Chaerin mengaduh. “Dan untuk rok, eomma yang memotongnya tanpa sepengetahuanku. Kata eomma supaya mengikuti zaman. Aku tidak melakukannya Appa,” tambahnya kali ini sambil merengek.

Kyungsoo memandang bergantian anak dan bapak itu dengan tatapan heran. Tidak seharusnya ayah menjelekkkan putrinya seperti itu ‘kan? “Bahkan dia tidak sempat memperkenalkan dirinya apadamu Appa. Jangan memotong pembicaraannya terus.” Tambah Chaerin gemas.

“Siapa namamu?” tanya Ayah Chaerin kemudian berhenti tepat di depan Kyungsoo.

Jeoneun Do Kyungsoo imnida.” Kata Kyungsoo.

“Jabatan disekolah? Ketua club Fisika?” tanya ayah Chaerin. Asalkan kalian tahu ayah Chaerin yaitu Tuan Kwon menanyai Kyungsoo seperti mewawancarai calon menantu.

Animnida. Ketua OSIS.” Kata Kyungsoo.

“Ketua OSIS? Sebaiknya kau jangan mau dengannya. Aku jamin kau akan menyesal seumur hidup!” kata Ayah Chaerin memperingatkan sekali lagi.

Appa! Geumanhae! Aku bisa-bisa jadi perawan tua jika semua lelaki yang datang ke rumah kau racuni dengan omong kosongmu itu!” rengek Chaerin.

“Berarti kau suka dengannya?” kata ayah Chaerin.

Ani!”

Bunga sakura yang ada di pekarangan rumah Chaerin telah mekar. Beberapa dari mereka yang rapuh terbang memasuki kamar Chaerin melalui jendela. Semilir angin musim semi menerpa wajahnya yang tengah terlelap. Kebiasaan Chaerin jika tidak menutup jendela dengan rapat. Berebeda dari kelakuan sehari-harinya, saat tidur Chaerin malah terlihat kalem.

Ia terlihat menggosok hidungnya karena beberapa anak rambutnya memasuki lubang hidungnya. “Wae?” gumam Chaerin yang tak rela tidur nyenyaknya terganggu. Kemudian matanya terlihat mencari sesuatu di dinding. Jam telah menunjukkan pukul  dua belas. Tiga jam yang lalu gerbang sekolah pasti telah tertutup rapat.

Kalian pasti ingat mengapa ia tidak masuk sekolah hari ini. Ia sedang di skors selama 7 hari karena insiden perkelahiannya dengan dua bocah berandal kemarin lusa. Sudah biasa bagi Chaerin dihukum, tetapi selama ia berada di sekolah menengah, baru pertama kali ia di skors.

Kenakalan Chaerin sebenarnya tidak dipengaruhi faktor-faktor yang mendasar. Seperti yang biasa kalian lihat di televisi. Ia dilahirkan untuk menjadi Kwon Chaerin yang seperti itu. Mungkin sikap berandalnya muncul karena pada saat kecil ia di didik dengan model militer. Saat berbuat salah waktu kecil ia dan kakak laki-lakinya harus sit up berpuluh-puluh kali. Jatah makan di pangkas dan lain-lain. Tetapi bertambah umur Chaerin, ayahnya sudah lelah memberikan hukuman karena Chaerin tak jera sekalipun.

Kring…. kring…. kring…

Telepon di atas nakas berbunyi, Chaerin dengan mata setengah terpejamnya terlihat menggapai-gapainya. Ia kemudian menggeser tombol hijau tanpa memandang layarnya. Kemudian benda pipih itu ia letakkan di telinganya.

Yeoboseyo?” ucap Chaerin dnegan suara yang sedikit serak.

“Chaerin, ayahmu dirumah tidak?” kata seorang wanita di seberang.

Eomma?” gumam Chaerin.

“Memangnya kau dimana? Kenapa denganmu?”

“Bangun tidur. Aku dirumah. Ayah pergi ke Iran untuk kunjungan negara. Wae?”

“Kau tidak sekolah?”

Ani. Aku di skors selama seminggu.” Kata Chaerin.

“Dasar kau ini bandel sekali! Awas kau ya akan kupukul pantatmu! Apa yang kau lakukan sehingga bisa di skors selama itu Aigooo. Mengurusi satu dirimu saja seperti mengurusi lima orang anak lelaki.” Kata ibu Chaerin. Chaerin yang kena semprot dari ibunya menjauhkan teleponnya dari telinganya. “Aku akan tiba di rumah 5 menit lagi!” tambah ibunya.

Arraseo, Arraseo!!!” ucap Chaerin kemudian segeran mematikan sambungan teleponnya. Ia terlihat enggan untuk beranjak dari singgasananya, ia malah menyelubungi badannya dengan selimut.

Karena teriakan dari ibunya beberapa menit yang lalu ia tidak dapat melanjutkan acara hibernasinya untuk hari ini. Mau tak mau ia melangkahkan kakinya menuju dapur yang berada di lantai bawah. Sendal rumahnya yang berbentuk Tazmania itu tidak dipakainya dengan benar. Karet gelang sudah berada di sebelah tangannya, kemudian ia menggulung rambutnya ke atas.

Ia menganbil air dari dalam kulkas kemudian meneguknya dengan perlahan. Matanya yang masih setengah terpejam mengerjap beberapa kali. Ia terlihat menarik kursi lalu duduk diatasnya sambil memandang kompor dengan tatapan kosong. Sepertinya ia hendak mengumpulkan semua nyawanya.

Ia masih berpikir, terlihat dari bola matanya yang bergerak-gerak. Beginilah Chaerin jika nyawanya belum terkumpul. Ia akan menjadi orang yang sangat linglung untuk beberapa waktu. Ia menghela nafasnya dengan kasar kemudian kembali bangkit menuju laci untuk mengambil ramen.

Seperti biasa Kwon Chaerin ditemani ramen ukuran jumbo. Tidak ada hari tanpa ramen di kamus Chaerin. Mungkin beberapa bulan atau hari lagi ususnya akan pecah karena memakan ramen setiap hari. Ia menggigit ujung sumpit sambil memandangi air yang tak kunjung mendidih di dalam panci kuningan itu.

“Chaerin! Chaerin!” suara memkakkan itu membuat Chaerin berjengit. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut akan suara misterius itu. bagaimanapun juga nyawanya belum seratus persen terkumpul.

“Di dapur!” ucapnya dengan keras namun masih dengan suaranya yang terdengar serak.

Tak beberapa lama kemudian terdengarlah bunyi gemerisik yang semakin dekat menghampirinya. Serta suara percakapan Koo Ahjumma dengan seorang wanita. Wanita itu terdengar memasuki dapur. Chaerin tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain selain air yang berada di dalam panci kuningan.

“Kau!” ucap wanita itu sambil menepuk pundak Chaerin.

Mwo?” kata Chaerin tanpa memandang kebelakang.

“Kau ya! Aku gemas!” kata wanita itu sambil menjewer kuping Chaerin yang membuatnya mengaduh. Chaerin membalikkan badannya sambil menunjukkan wajah yang tak bersahabat.

Wae eomma?” kata Chaerin kepada wanita cantik tersebut. Lihatlah penampilan ibu Chaerin yang begitu stylish dibandingkan anaknya. Rambut ibu Chaerin yang beruban ia cat dengan warna coklat gelap. Walaupun umurnya sudah empat puluh lebih gayanya  tetap stylish. Wajahnya yang pada dasarnya memang cantik dipolesi cream serta lipstick merah ceri.

“Apa yang kau berbuat sampai kau diskors?” tanya ibu Chaerin dengan wajah yang tak bersahabat sekali. “Wajahmu kenapa?” kata ibu Chaerin sambil menunjuk plester yang menempel di jidat dan sudut bibirnya.

“Bertengkar.” Kata Chaerin sambil memutar bola matanya. “Sebentar aku mau membuat ramen.” Tambahnya.

“Hentikan itu! setiap hari makan ramen. Kasihanilah perutmu itu! eomma membawa tobbeokki, nanti makan.” Ucap ibunya sambil berkacak pinggang. “Berhentilah muay thai. Fokuslah terhadap tenismu itu! kudengar sebentar lagi ada turnamen.” Kata ibu Chaerin.

Arraseo,” kata Chaerin kemudian meninggalkan ibunya setelah mematikan kompor. Ia menuju pantri, disana terdapat dua kotak besar dan beberapa bahan makanan lainnya. Ia membuka salah satu kotak, dari sana mengepul asap dan bau wangi dari tobbeokki.

Ibu chaerin meletakkan sebuah mangkuk dan sepasang sumpit di hadapan Chaerin kemudian ikut duduk di kursi tinggi sebelahnya. Chaerin mengambil beberapa potong tobbeokki dan meletakkannya ke dalam mangkuk.

Appa-mu kemana?” kata ibu Chaerin sambil menopangkan kepala pada sebelah tangannya.

“Nyonya Kwon, apa kau tak memerhatikanku di telepon tadi? Tuan Kwon sedang pergi ke Iran untuk kunjungan negara.” Kata Chaerin sambil memutar bola matanya. “Kenapa kau selalu menghindari ayah? Kau boleh tinggal disini lagi. Tidak ada yang melarangmu untuk itu,” kata Chaerin lalu menyuap tobbeokkinya ke dalam mulut.

“Kembalilah ke rumah. Kenapa kau harus tinggal di rumah nenek. Bahkan anakmu tinggal disini. Lagipula kalian berpisah juga tidak mencari pasangan yang lain. Sebenarnya apa yang dipikiran kalian?” Tambah Chaerin sambil memandang Ibunya.

“Kita sudah tak saling cocok,” kata ibu Chaerin kemudian membuka mulutnya memberi kode Chaerin untuk memberinya sesuap tobbeokki. Chaerin mengerti maksud ibunya kemudian memberikannya sesuap tobeokki besar.

“Kenapa tidak bercerai saja? sudah kukatakan jangan menjalani hunbungan yang setengah-setengah! Bercerai sajalah. Aku tidak akan menghalangimu. Kau juga selalu datang beberapa minggu sekali ke sini ‘kan untuk memberiku makanan.” Kata Chaerin sambil mengecap.

Ibu Chaerin memukul kepala anaknya itu dengan keras yang membuat Chaerin langsung mengaduh karena kesakitan. “Kau mudah sekali saat bicara. Kau bicara seolah kau ini binatang peliharaan ayahmu. Kau tidak tahu perceraian yang dilakukan oleh prajurit itu melewati proses yang sulit. Bahkan terkesan dihalang-halangi.” Kata ibu Chaerin. “Lagipula jabatan Appa-mu itu sudah tinggi.”

Chaerin menghela nafasnya kemudian memutar kedua bola matanya. Ia tidak mengerti cara berpikir orang tuanya itu. Jika masih saling mencintai kenapa berpisah. Kenapa tidak bercerai jika sikap mereka sudah seperti orang yang bercerai? Apa mereka terlalu jual mahal terhadap satu sama lain?

“Masih berhubungan dengan kakak perempuanmu?” tanyanya sambil memandangi Chaerin yang tak berhenti melahap tobbeokki.

“Terakhir kali sebulan yang lalu. Itu lumayan panjang karena memakai skype. Dia sibuk dan aku tak berani merecokinya untuk hanya menanyakan kabarnya.” Kata Chaerin.

“Sohyun kemarin menelponku dia bilang ia akan pindah dari Jerman ke Paris.” Kata ibunya. “Joon, aku sungguh merindukannya. Dia masuk kamp militer dan intensitas berkumpul kita menjadi berkurang. Dia adalah anak lelaki yang paling mengertiku.” Tambah ibu Chaerin, matanya berkilauan. Seperti ada seseorang yang baru saja menaburkan glitter di matanya.

“Dia satu-satunya anak lelakimu eomma. Aku juga merindukan oppa-ku yang satu itu eomma. Sohyun eonni, aku ingin mengunjunginya lain waktu. Rasanya aku ingin mencuri uang di dompet ayah lalu pergi ke Jerman sendiri.” Kata Chaerin.

Jam makan siang telah berbunyi beberapa waktu lalu. Chanyeol, Baekhyun dan Seulgi sedang duduk di kantin. Mereka menunggu karib mereka yang tengah dsibukkan dengan festival musim semi yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Mereka berbincang ringan sambil berkutat kepada makanan masing-masing.

“Kurasa Kyungsoo bersikap berbeda dengan Chaerin.” Kata Baekhyun.

“Aku juga merasa seperti itu.” kata Seulgi.

“Mungkin lucu jika mereka berpacaran. Bagaimana dengan ide itu?” tanya Seulgi yang saat ini bersemangat.

“Jadi kau merencanakan menjodohkan mereka?” tanya balas Chanyeol sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

“Itu ide yang tidak terlalu buruk. Mereka salah satu jajaran siswa yang paling diincar sebagai kekasih.” Kata Baekhyun sambil memutar sumpitnya di udara.

“Setidaknya kita bisa membuat mereka dekat. Bukannya hubungan mereka terlihat canggung?” Kata Seulgi kini menimpali.

“Aku menyayangkan Kyungsoo yang jatuh cinta kepada wakilnya itu. Siapa namanya itu aku tidak peduli. Ia hanya baik kepada orang-orang tertentu saja. Sebenarnya dia benar-benar bermuka dua. Aku tidak apa merelakan Chaerin tersayangku untuk sahabatku Kyungsoo yang malang itu.” kata Chanyeol mendramatisir dengan memegang dadanya.

“Sadarlah Chanyeol. Sudah berapa lusin wanita yang kau dekati?” tanya Seulgi yang dibalas cibiran oleh Baekhyun.

“Tetapi Wakil Ketua OSIS itu memang memiliki muka dua. Di depan terlihat sangat manis tetapi di belakang seenak jidatnya saja.” kata Baekhyun. “Aku setuju jika Kyungsoo dan Chaerin berpacaran bagaimana?” tanya Baekhyun. Baekhyun mencondongkan badannya kedepan diikuti yang lain. Saat ini mereka membentuk formasi yang rapat berusaha menyembunyikan topik percakapan mereka yag agak sensitif ini.

“Kupikir Kyungsoo tipe yang pemalu saat didekati gadis. Dan Chaerin mempunyai sisi yang berani. Mereka bisa menjadi pasangan yang mempunyai jiwa tertukar. Seulgi, suruh saja Chaerin menggoda Kyungsoo, katakan kepada Chaerin itu akan membuat hubungannya akan lebih baik.” Kata Chanyeol sambil terkekeh.

“Mulutmu! Kau kira Chaerin pelacur apa?” bentak Baekhyun yang ditimpali dengan tatapan tajam Seulgi.

“Bukan menggoda seperti itu! Pikiran kalian kotor sih. Menggoda dalam artian menjahilinya dengan mengatakan suka kepada Kyungsoo. Mereka adalah pasangan yang tidak terduga. Maka dari itu kita memakai cara yang berbeda pula. Bagaimana?” tanya Chanyeol.

“Tidak masuk akal bodoh! Aku heran kenapa otakmu benar-benar tidak nyambung.” Kata Seulgi sambil menggeleng.

“Sebaiknya katakan kepada Chaerin bahwa dengan dirinya yang bersikap baik dengan Kyungsoo akan membuat ketua OSIS itu akan bersikap lebih baik. Atau bisa katakan padanya bersikap kepada Kyungsoo seperti cara dia bersikap dengan kita bagaimana?” kata Baekhyun panjang lebar. Mereka semua mengangguk menyetujuinya.

Chanyeol menimpali, “Baiklah misi pertama adalah membuat mereka dekat dulu ‘kan? Untuk urusan mereka jadi berpacaran atau tidak urusan belakang?” kata Chanyeol yang disambut anggukan dari Seulgi dan Chanyeol.

“Sebenarnya Chaerin terlihat mudah bergaul. Kyungsoo saja yang sulit didekati.” Kata Baekhyun sambil geleng-geleng kepala.

Tiba-tiba terdengarlah suara seseorang yang sangat familiar ditelinga mereka, “Ehem kalian membicarakan apa?”

Chanyeol, Seulgi beserta Baekhyun langsung memundurkan badan mereka sambil menoleh ke sumber suara. Saat mereka menoleh, Kyungsoo berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Mereka bertiga langsung tersenyum miris saat mendapati Kyungsoo melihat mereka dengan intens.

Chanyeol menggaruk tengkuk sedangkan Seulgi mengangkat tangannya berusaha menjelaskan kalau tidak ada apa-apa. Baekhyun meletakkan keningnya di atas meja sambil memejamkan matanya. Apakah Kyungsoo mendengar percakapan mereka sebenarnya?

To Be Continue…

Part 4…. Si Ajaib Chaerin kembali dengan semua tingkah ajaibnya wkwkkw… Bagi kalian yang sebelumnya penasaran sama pekerjaan ayah Chaerin, sudah terkuak nih pekerjaan ayahnya Chaerin apa. Sebenernya pangkatnya itu perwira tinggi. Ya gitu deh… Semoga rencana Caramelo untuk mendekatkan kedua makhluk itu berhasil ya ehehehhe….

Selamat membaca~ Jangan lupa komen, like dan promosiin ke temen-temen juga boleh. Sampai Jumpa minggu depan di Part 5 dan 6 ^^ Keep reading… Boo-bye~

Iklan

12 pemikiran pada “Caramelo pt. 4

  1. Ping balik: Caramelo pt. 12 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Caramelo pt. 11 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Caramelo pt. 10 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Caramelo pt. 9 | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Caramelo pt. 8 | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Caramelo pt. 7 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Caramelo pt. 6 | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Caramelo pt. 5 | EXO FanFiction Indonesia

    • Halo kamu lagi! wkwkwk… nanti di part tengah-tengah bakal muncul dia tunggu aja ya… mungkin dirimu akan sedikit gimana gitu wkwkwk… makasih udah baca dan komentar!

    • Iya ini sebenarnya udah hampir selesai ceritanya. Tinggal ngilangin typo sama tambahin plot2nya. Enjoy reading ya makasih udah baca dan komentar!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s