Surrounded! (Chapter 05) – Shaekiran

surroundedposternew.png

Surrounded!

A Fanfiction By Shaekiran

 

Main Cast

Park Chanyeol & Son Wendy

 

Other Cast

Lee Donghae, Kim Jinwoo, Bae Irene, Kim Yeri, Kim Jongdae, Byun Baekhyun and others.

Genres

Romance? Action? Family? Frienship? AU? Dark? Mystery?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Cerita ini merupakan sebuah hasil pengembangan ide yang tercipta di neutron otak manusia ambigu (Re:Shaekiran) yang anehnya sedang bekerja waktu itu. Hanya karangan fiksi yang jauh dari kata sempurna dan sarat akan cacat baik dalam penulisan, frasa, diksi dan banyak lagi. Selamat Membaca~

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

 .

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 |Chapter 3| Chapter 4 | [NOW] Chapter 5 |

 

– 

Kau ketahuan berbohong, lagi.

Kapan kau akan pernah jujur padaku, huh?

 

 .

 

— Chapter 05 —

 

“Yuhuuu, my best friend is comeback!” Baekhyun berteriak heboh di kantin seperti biasanya tanpa ada yang berniat menghentikan aksi lelaki bermarga Byun yang naik ke atas meja kantin itu. Toh Baekhyun memang selalu bersikap semena-mena pada siapa pun dan apa pun itu. Sikapnya memang sudah seperti pemilik kantin saja—secara teknis memang Baekhyun adalah pemilik kantin karena sekolah ini adalah milik ayahnya. 

“Aish, Byun Baekhyun, kau membuat malu saja,” ringis Chanyeol sambil menutup mukanya dengan sebelah tangan. Oh, harusnya kalau dia tau Baekhyun masih sama hebohnya seperti dulu, Chanyeol mestinya menolak ajakan sahabat karibnya sejak taman kanak-kanak itu untuk pergi ke kantin. 

“Wae? Ini menyenangkan,” ucap santai Baekhyun. “Kajja, kemarikan tanganmu. Ayo naik ke atas meja juga dan aku akan memperkenalkanmu.” kekeh Baekhyun yang membuat Chanyeol geleng-geleng kepala. Ayolah, Baekhyun sepertinya sudah membuat kantin menjadi hutan mendadak saja.

“Tidak-tidak, jangan pikir aku mau menerima tangan sialanmu itu dan mengikut menjadi manusia gila sepertimu,” jawab Chanyeol yang segera dibalas cebikan dari Baekhyun. Mau tak mau pria bermarga Byun itu pun turun dari meja dan duduk di sebelah Baekhyun sambil mengguman tidak jelas—sepertinya menyumpah-serapahi teman baiknya itu.

“Baek, kau mar—“

“Ahjumma, tolong lap mejanya!” tanpa memperdulikan Chanyeol, Baekhyun memotong begitu saja sambil berteriak sangat keras. Detik selanjutnya seorang ahjumma penjaga kantin segera berlari tergopoh-gopoh sambil membawa kain untuk mengelap meja yang di tempati kedua pemuda itu—juga meja yang tadi diinjak oleh Baekhyun.

“Baekhyun, kau marah?” ulang Chanyeol sekali lagi ketika ahjumma kantin itu pergi karena meja yang ditempati Tuan Muda pemilik sekolah itu sudah kinclong. Baekhyun masih memangku tangannya di depan dada dan memilih diam. Bahkan sekarang Baekhyun membuang muka dari Chanyeol. 

“Cih, biarkan saja. Dia memang selalu begitu kan? Lihatlah, si pendek ini pasti tengah pura-pura ngambek Chanyeol.” suara kekehan Jongdae terdengar dan mencuri atensi Chanyeol dengan cepat. Dengan cepat pula Chanyeol segera ber-high five ria dengan sahabatnya di masa SMP itu yang sekarang duduk di depannya. Jika Baekhyun dan Chanyeol bersahabat sejak taman kanak-kanak, maka Jongdae menjadi sehabat keduanya ketika masuk SMP.

“Ya! Kim Jongdae, kau tidak punya cermin, huh? Kau bahkan lebih pendek dariku!” pekik Baekhyun tidak terima. Satu tawa meluncur dari bibir Chanyeol, disusul dengan tawa Jongdae yang super hambar karena sekarang pemuda Kim itu menepuk kepala Baekhyun tanpa segan.

“Kau bilang apa tadi? Berani menghinaku, huh?!” tegas Jongdae sambil bangkit berdiri dan mulai memelintir leher Baekhyun. Tanpa diduga pertengkaran Jongdae dan Baekhyun pun terjadi meski sebenarnya mereka hanya bercanda. Yah, mereka berdua memang selalu bertindak konyol. Kembalinya Chanyeol ke Mokpo pun tentunya membuat trio konyol itu semakin menjadi-jadi.

“Ya ya ya! Lepas tangan biadabmu itu wahai bebek,” rengek Baekhyun sambil memukuli lengan Jongdae yang mengukungnya, pun Jongdae tidak mau kalah karena sekarang dia makin memperat lengannya yang melingkar di leher Baekhyun.

“Ya! Keparat!” ucap Baekhyun lagi sambil berusaha lepas dari Jongdae yang benar-benar kuat. Akhirnya setelah Chanyeol melerai keduanya yang berkelahi karena permasalahan tinggi badan, Jongdae dan Baekhyun pun berbaikan dan mengambil satu kesimpulan, ‘mereka tidak pendek, yang salah hanyalah Chanyeol dan beberapa pria jangkung lainnya yang tumbuh terlalu tinggi’

“Jongdae-ah, aku punya jurus baru. Namanya naga terbang, kau mau lihat jurusku?” Baekhyun yang sekarang duduk di sebelah Jongdae menyenggol pelan bahu pemuda Kim itu lalu tersenyum miring. “Ahh, naga terbang ya? Aku juga punya jurus baru, namanya…”

“Ya ya! Apa yang—“ gugup Chanyeol karena kedua temannya itu nampak mendekat ke arahnya sambil menampilkan smirk yang membuat Chanyeol tau kalau ada sesuatu yang tidak beres di sini. 

“…gelitikan maut gembala bebek, hahaha…” lanjut Jongdae sambil menggelitiki Chanyeol yang sekarang pasrah dikerumuni dua teman konyolnya itu. Baekhyun dan Jongdae berteriak puas ketika Chanyeol hampir menitikkan air mata karena terharu—tidak, lebih tepatnya menitikkan air mata karena merasa geli dan perutnya sakit akibat tertawa sangat keras.

“Duh, astaga, ampun, hahaha….ampun…” ucap Chanyeol ditengah-tengah tawanya yang makin menjadi-jadi namun Baekhyun dan Jongdae tidak peduli dan tetap menggelitiki Chanyeol.

Ketiga pemuda itu bagai punya dunianya sendiri, tidak peduli sama sekali dengan tanggapan mata siswa lain yang mungkin terganggu dengan teriakan mereka bertiga yang sudah seperti tarzan lepas. Mereka tertawa bersama, bahagia bersama, bercanda bersama dan tidak peduli yang lain. Mereka hanya ingin menikmati masa SMA mereka yang bahagia bersama para sahabat yang selalu ada untuk mereka. Mereka saling melengkapi, dan itu sudah cukup untuk membuat ketiganya bahagia.

 

“Duduklah, kita perlu bicara. Jangan mencoba kabur atau aku akan membunuhmu Chanyeol. Dengar, kita harus menyelesaikan masalah sialan itu sekarang. Suka atau tidak suka, kau harus duduk dan membiarkanku menjelaskan semuanya. Titik. Aku tidak menerima penolakan.”

Chanyeol meringis, merasa sakit karena sempat-sempatnya dia teringat kenangannya bersama Baekhyun dan Jongdae ketika menjadi tiga sekawan konyol semasa SMA. Ya, itu benar-benar masa yang membahagiakan. Matanya memerah. Kalau saja tidak ada para petinggi drama dan gadis itu di sini, mungkin Chanyeol sudah menarik kerah kemeja Baekhyun dan tanpa segan membentak pemuda Byun itu.

“Memangnya apa pedulimu, sialan? Jangan pikir karena pekerjaanku aku tidak bisa balas membunuhmu juga,” sinis Chanyeol dengan mata memerah. Oh, dia benar-benar emosi sekarang. Dia ingin menghajar Baekhyun, tapi kenapa tatapan pemuda Byun itu membuatnya melemah? Baekhyun masih seperti dulu, tidak ada yang berubah kecuali parasnya yang semakin menawan dewasa dan tubuhnya yang semakin tegap. Satu yang sangat Chanyeol ingat adalah tatapan pemuda itu kepadanya yang masih selau sama seperti dulu—masih tatapan seorang sahabat. Dan Chanyeol sangat membenci itu.

“Ah, aku sangat percaya kau bisa membunuhku. Sudah ku bilang duduk, dan kita harus berbicara,” balas Baekhyun tak gentar meksi ia tau ada pistol berpeluru dibalik pakaian lusuh yang Chanyeol pakai. Baekhyun sangat mengenal Chanyeol. Pria itu sahabatnya, dan Chanyeol tidak mungkin menyakitinya.

Terbukti, sekarang Chanyeol meremas rambutnya gusar. Matanya memerah dan sekarang dia berkacak pinggang. Suasana kian memanas karena Baekhyun yang masih kukuh menyuruhnya untuk duduk, sementara empat orang yang duduk di meja yang sama dengan mereka kini saling menatap keduanya dengan bingung, kecuali Wendy yang sekarang menunduk dalam-dalam dan tidak mau memandang satu pun di antara kedua pemuda itu.

Shit.” Chanyeol menggumam, hampir tanpa suara meski Baekhyun tau sahabatnya itu tengah menyumpahinya.

Sedetik kemudian Chanyeol tertawa hambar, lalu senyum tipis tercetak di bibirnya, senyum dengan posisi sedikit miring.

“Mungkin lain kali? Haha…” kekehnya lagi dan Baekhyun masih tidak bergeming. “Sampai jumpa Byun Baekhyun-ssi, sepertinya aku cukup sibuk dan tidak bisa berbicara denganmu.” Selesai mengucapkan itu, Chanyeol dengan kedua kaki jenjangnya segera melangkah cepat-cepat keluar dari dalam restoran.

Melihat Chanyeol sudah pergi, Wendy pun mau tidak mau segera beranjak dari duduknya juga. Ini semua salahnya, jadi dia segera menunduk dalam-dalam dan meminta maaf. Setelah itu Wendy segera berlari keluar restoran, mengejar Chanyeol yang mungkin dengan emosi meledak-ledak mengamuk di suatu tempat.

Kepergian Wendy juga menjadi tanda tanya besar bagi ketiga orang yang tidak mengerti permasalahan di sana. Baekhyun hanya tersenyum tipis, lalu meminta maaf karena sudah membuat suasana menjadi canggung di meja itu menjadi canggung.

“Hanya masalah lama. Tidak, kami tidak bermusuhan. Hanya terjadi kesalahanpahaman di masa lalu dan dia sedikit egois tidak mau mendengarkan penjelasanku. Hanya itu saja, tidak usah khawatir.” jelas Baekhyun sambil menyunggingkan senyum palsu kepada ketiga kolega kerjanya itu.

Baekhyun sempat melirik meja Chanyeol. Terdapat beberapa lembar won dalam jumlah banyak—yang tidak hanya cukup untuk membayar makanan Chanyeol dan Wendy tapi juga pesanan satu meja besar itu—yang pria jangkung itu sisipkan di bawah asbak rokok sebelum pergi dari restoran. Baekhyun meringis di tempat. Fakta bahwa Chanyeol memang sudah berniat pergi sedari tadi karena dirinya muncul tanpa diundang sedikit mengusiknya dan diam-diam meninggalkan sebuah luka mendalam yang menggores hati rapuh seorang Byun Baekhyun.

 

 

Wendy celingak-celinguk mencari keberadaan Chanyeol selepas keluar dari restoran dengan tergesa-gesa. Beruntung Wendy masih menemukan sosok jangkung itu masuk ke dalam mobil Range Rover gelap milik Chanyeol dan duduk di balik bangku kemudi. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Wendy pun dengan bergegas segera mengejar Chanyeol dan dengan gerak cekatan ia membuka pintu penumpang mobil milik detektif polisi itu.

Suara pintu yang terbuka lalu menutup menyadarkan Chanyeol yang sedari tadi memejamkan matanya itu. Dia menoleh, lalu mendapati Wendy kini sudah duduk manis di sebelahnya sambil tersenyum. Satu gumaman lolos dari gadis itu, lebih mirip sebuah cicitan karena hampir tanpa suara.

“Maafkan aku.”

Hanya dua buah kata, tapi mampu membuat Chanyeol ingin menumpahkan air matanya sekarang juga kalau saja pria itu tidak punya malu menangis di depan seorang gadis. Untungnya Chanyeol masih bisa menahan diri. Dia hanya diam, tidak membalas satupun kalimat Wendy dan lebih memilih menghidupkan mesin mobilnya.

“Sekarang kau mau kemana? Gedung agensi lagi?” tanya Chanyeol datar tanpa ekspresi. Wendy menggigit bibirnya pelan, lalu menggeleng lemah.

“Tidak, hari ini aku sudah selesai bekerja,” bohong Wendy setengah merutuk di dalam hati. Dia hanya berdoa semoga penulis Kim tau dan maklum dirinya absent karena sedang punya masalah genting yang perlu untuk segera diselesaikan sebelum menjadi tambah buruk.

“Jadi kemana? Kau mau pulang ke rumah?” tanya Chanyeol lagi masih tambah ekspresi. Wendy menggeleng, lalu setelah memberanikan diri dia berucap dengan pelan. “Antar aku ke suatu tempat, sunbae.”

 

 

“Kenapa kau pergi ke Seoul lalu balik lagi, sih?” tanya Baekhyun kepada Chanyeol setelah selesai meminum sekaleng soda miliknya. Sekarang mereka bertiga ada di lapangan basket, memilih membolos dan berpanas-panas ria memantulkan bola setengah jam yang lalu sebelum akhirnya kelelahan dan memilih duduk di tribun sambil meminum soda.

“Kau tidak betah di Seoul?” tanya Jongdae hati-hati yang segera dibalas gelengan dari Chanyeol. “Tentu saja tidak. Aku betah di sana,” jawabnya sambil tertawa lebar. 

Jongdae dan Baekhyun hanya saling bertatap-tatapan, tau kalau Chanyeol pasti sedang berbohong kepada mereka berdua. 

“Kau tidak betah dengan ibumu?” Chanyeol diam. Dia memilih membasahi tenggorokannya lagi dengan soda untuk menghindar dari pertanyaan mematikan yang kini dilontarkan oleh Baekhyun.

Memang, setahun lalu Chanyeol pindah ke Seoul karena ayahnya yang seorang pengusaha yang cukup tersohor di Mokpo itu meninggal dunia karena workaholic—gila kerja. Tuan Park ditemukan meninggal di ruang kerjanya karena kelelehan bekerja tanpa istirahat yang cukup. Faktanya Tuan Park memang mengalami insomnia selama beberapa tahun belakangan ini dan membuat keadaannya semakin buruk. 

Karena itu pula Chanyeol yang baru saja naik kelas sebelas harus pindah ke Seoul, ke tempat ibunya yang sudah bercerai dengan sang ayah ketika Chanyeol masih berumur 5 tahun. Canggung dan tidak nyaman tentu saja menjadi momok utama kenapa Chanyeol tidak betah di Seoul. Bukan karena dirinya tidak nyaman dengan sang ibu, toh ibu dan ayah tirinya sangat baik hati dan memberikan semua fasilitas yang diperlukan Chanyeol secara cuma-cuma dan bisa dibilang mewah. Chanyeol pun disayang seperti anak sendiri karena sang ayah tiri hanya memiliki seorang putri yang lebih muda daripada Chanyeol—yang otomatis menjadi adik tirinya Chanyeol—sedang sang ibu tidak mempunyai anak lagi.

Karena sang ayah tidak percaya adik tirinya itu bisa memegang perusahaan, Chanyeol yang pintar dan cakap pun sudah digadang-gadang akan menjadi penerus perusahan besar milik ayah tirinya yang memperlakukannya seperti anak kandung. Adik Chanyeol pun sangat baik dan menganggapnya seperti oppa sendiri. Hidup Chanyeol harusnya sempurna karena dia diberi kasih sayang dan materi—tidak seperti ayahnya dulu yang hanya memberi materi dan tidak punya waktu untuk Chanyeol karena sibuk bekerja hingga meninggal dunia juga karena kelelahan bekerja.

Hanya saja Chanyeol merasa Seoul bukan tempatnya. Rumah itu bukan miliknya dan semua barang-barang mewah yang dia dapat bukan haknya. Mokpo adalah hidupnya, begitu pikir Chanyeol hingga dia memutuskan kembali dan hidup bersama pamannya yang seorang polisi—adik dari ayahnya yang kini sudah tiada.

“Ya! Kalian ini. Aku kembali ke Mokpo karena rindu tingkah konyol kalian berdua. Anak di Seoul tidak konyol, mereka bertingkah sok keren semua,” celoteh Chanyeol yang memang sebagian benar. Salah satu alasannya kembali juga karena kedua sahabat konyolnya itu. 

“Astaga, aku tidak menyangka kau se-mellodrama ini,” ucap Baekhyun sambil pura-pura menitikkan air mata, sementara kini Jongdae memeluk Chanyeol dengan sangat erat. “Pasti sangat sulit untuknya, sini hyung peluk,” ucap Jongdae yang segera membuat tawa Chanyeol meledak. 

“Eits, jangan berlebihan,” kekeh Chanyeol kemudian di tengah tawanya karena sekarang Baekhyun juga ikut memeluknya dengan sangat erat.

Drtttt….. 

Suara penyanyi kondang John Legend dengan lagu anyarnya membuat Jongdae segera melepas paksa pelukan teletubbies itu. “Kenapa?” tanya polos Baekhyun sementara Jongdae kini menatap layar ponselnya dengan kesal.

“Ah, aku pergi dulu. Kami ada ujian katanya, dan ketua kelasku menyuruhku untuk masuk kelas sebelum dia mencoret namaku dari daftar siswa,” kekeh Jongdae sambil bangkit berdiri. Lantas dia segera melambaikan tangan dan berlari secepat mungkin ke kelasnya yang memang terpisah dari Baekhyun dan Chanyeol yang kebetulan sekelas. 

“Duh anak itu, kenapa sih ketua kelasnya? Sirik saja Jongdae bolos dengan kita,” ucap kesal Baekhyun sambil kembali memeluk Chanyeol dengan erat. 

“Iya, tapi ini lepas dulu, Baek. Aku sesak nafas,” kata Chanyeol, namun Baekhyun menggeleng. “Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Saranghae, Chanyeol-ah~”

BRAKKK! 

Refleks, kedua orang itu segera menoleh ke bawah tribun dimana seorang gadis nampak menjatuhkan tumpukan buku yang dia bawa hingga berserakan di atas lapangan. Gadis itu nampak gugup sekaligus pucat.

“A..aku ti…tidak me…melihatnya su..sunbae, se…serius,” ucapnya gugup lalu segera mengambil bukunya dengan cepat. Mendengar itu Chanyeol dan Baekhyun segera berpadangan dan menayadari sesuatu.

“Ya! Jangan pergi kau!” teriak Baekhyun, namun malang, gadis itu sudah lari terbirit-birit sambil membawa bukunya keluar dari arena lapangan basket. 

“Aduh, bagaimana ini?” heboh Baekhyun sambil menuruni anak tangga diikuti Chanyeol yang juga berlari panik turun ke bawah. 

“Kau mengenalnya? Astaga Baek, kau harus membungkam—akh,“ pekik Chanyeol tiba-tiba karena dia salah menginjak anak tangga dan berakhir jatuh dengan cara yang tidak elit sama sekali. Baekhyun mau tidak mau mengurungkan niatnya mengejar gadis itu dan segera menolong Chanyeol.

“Makanya hati-hati,” kesal Baekhyun sambil menolong Chanyeol berdiri dan membawa tubuh besar Chanyeol agar duduk di salah satu bangku tribun di deretan terbawah.

“Baek.” 

“Apalagi?” tanya Baekhyun dengan cepat karena sekarang dia sibuk mengotak-atik ponselnya untuk memerintahkan anak buahnya agar datang ke lapangan dan membopong Chanyeol yang sedikit pincang itu ke UKS. Yah, Baekhyun hanya merasa tidak sanggup saja membawa tubuh besar Chanyeol seorang diri.

“Itu…buku kan? Apa mungkin milik gadis tadi?” tanya Chanyeol sambil memegangi kakinya. Baekhyun nampak menyipitkan matanya, lalu setelah mendapati objek buku yang sahabatnya itu maksud, Baekhyun segera berlari dan memungut buku itu.

“Son Wendy?” gumam Baekhyun sambil membaca nama yang tertulis di atas buku bersampul coklat itu.

 

 

“Kau benar mau ke sini?” tanya Chanyeol datar sambil memarkirkan mobilnya. Sekarang mereka berada di sebuah taman bunga di tengah kota, tempat yang aneh untuk menjadi tempat yang ingin dikunjungi seorang Son Wendy.

“I-iya,” jawab gadis itu gugup lalu segera membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil Chanyeol. Wendy menatap pemuda jangkung itu yang masih setia di balik kemudi, lalu berdehem pelan.

“Kau tidak mau turun? Sebenarnya aku ingin datang ke sini untuk berbicara empat mata denganmu.” akui Wendy kemudian sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Ada rasa takut yang merayap di hati kecil Wendy, takut Chanyeol benar-benar marah dan semakin membencinya.

 

 

“Bagaimana dengan Wendy?” pemuda berpakaian serba hitam dan tengah mengunyah permen karet itu memandang sosok pria tua yang duduk di bangku kebesarannya di ujung meja panjang di tengah ruangan itu. Dia menghela nafasnya pelan.

“Harusnya kau tidak menyebut nama aslinya dengan begitu santai, Jack,” responnya sedikit tidak suka dan segera memecahkan balon berwarna merah muda hasil permen karet yang sedari tadi dia kunyah sedemikian rupa.

“Black, lalu aku harus memanggilnya apa? Blue? Dia sudah meninggalkan organisasi ini 5 tahun yang lalu.” jawab si pria tua yang membuat kekehan muncul di bibir pria yang disebut Black itu.

“Justru karena dia sudah keluar, untuk apa kau membahasnya di pertemuan besar seperti ini, huh?” katanya dengan nada tidak suka, untung saja dia bisa mempertahankan nada bicaranya agar tidak naik satu oktaf.

“Jack ingin dia kembali. Kau tau kan?”

“Diamlah, Grey!”

“Baik, aku diam,” respon gadis yang dipanggil Grey itu. Dia memanyunkan bibirnya kesal, sementara Black kini hanya memangku tangannya dengan angkuh.

“Kau sudah menemuinya sesuai perintahku?”

Black mengangguk pada pria tua yang bernama Jack itu. “Sudah, dan dia menjawab dengan pasti kalau dia tidak akan kembali.” ucapnya sembari mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Wendy malam itu di rumah sang gadis.

“Ah, begitu ya? Sepertinya dia tidak gentar meski kau sudah membunuh ayahnya.” Black hanya tertawa kecil. “Ayah? Si brengsek itu mana bisa di sebut ayah,” jawabnya yang membuat Jack tersenyum samar.

“Karena itu kau harusnya menariknya kembali bagaimana pun juga Black. Dia harus masuk ke dalam misi ini.” Black hanya menganguk singkat. Meski sedikit tidak setuju, namun apa dayanya? Dia harus turut perintah organisasi.

“Oh, dan satu lagi. Sepertinya polisi yang mengawasi Blue selama hampir 24 jam sehari itu perlu sedikit sentuhan. Dia akan menyulitkan kita.” lanjut Jack yang segera disambut gembira oleh Grey.

“Aku akan mengurusnya Jack.” Mendengar itu Jack segera tersenyum miring. “Benarkah? Tapi kenapa?” tanyanya curiga dan Grey hanya tertawa hambar.

“Kau sangat memilih-milih misi untukku dan aku sedikit bosan karena sedang tidak punya pekerjaan sekarang. Aku butuh mainan Jack,” jawabnya yang hanya mendapat tawa pelan dari Jack, tanda bahwa dia sebagai big boss setuju Grey yang akan mengurus detektif polisi itu.

“Baiklah, tapi jangan terlalu sadis padanya, Grey.”

 

 

“Jadi kau ingin membicarakan apa?” tanya Chanyeol to the point saat ia dan Wendy sudah duduk berdua dengan jarak kira-kira satu meter di atas sebuah kursi panjang taman yang menghadap ke sungai Han. Mendengar itu Wendy menarik nafasnya perlahan, berusaha memantapkan diri.

“Aku ingin mengaku padamu. Sebenarnya aku—“

“Kalau kau meminta maaf aku tidak perlu, Wen. Aku sudah terlalu kebal karena kau memang selalu berbohong padaku sejak dulu.” potong Chanyeol cepat yang membuat gadis mungil itu mencelos. Wendy nampak menundukkan wajahnya, merasa bersalah.

“Itu…maaf karena aku pura-pura tidak mengenalimu.”

Chanyeol tertawa hambar. Ya, Wendy tidak mengenalnya, tapi segera mengenali Baekhyun ketika bertemu pemuda Byun itu secara tidak sengaja di restoran. Hebat sekali.

“Sudah ku bilang kan kalau kau mau meminta maaf maka lupakan saja? Aku sudah terlalu kebal untuk menjadi objek yang selalu kau bohongi sejak SMA.”

Wendy meringis mendengar nada kesal dibalik cara bicara Chanyeol yang masih tetap tenang seperti biasanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya takut. Lagi-lagi dia membuat kesalahan besar kepada orang yang sama. Chanyeol tentunya sudah terlalu lelah sakit hati karena sikap gadis itu sejak dulu.

“Maaf.” Hanya itu yang lolos dari bibir Wendy untuk kesekian kalinya, namun Chanyeol masih saja tertawa hambar.

Kau ketahuan berbohong lagi, Wen. Sebenarnya kapan kau akan jujur padaku, huh? Batin Chanyeol di dalam hati di tengah tawa meringisnya itu.

“Lupakan saja. Memang aku tidak ada pentingnya kan? Jadi kau bisa pura-pura tidak mengenaliku begitu saja. Seperti dulu, aku tidak masuk hitungan sama sekali di matamu.” Lagi Chanyeol berucap sarkas, sementara Wendy hanya bisa menunduk dan menghindar dari tatapan lelah milik Chanyeol.

“Kau salah. Justru kau sangat penting sehingga aku berusaha tidak mengalmu, sunbae.”

Hanya saja Wendy cuma bisa membatin di dalam hati. Dia tidak akan berani mengucapkan kalimat itu pada Chanyeol yang sudah terlanjur kecewa padanya. Wendy tidak akan pernah sanggup untuk mengaku yang sebenarnya pada seorang Park Chanyeol.

 

 

To be Continued

Iklan

9 pemikiran pada “Surrounded! (Chapter 05) – Shaekiran

  1. Astagaa.. Ceritanya makin rumit, tapi pasti bakalan tambah seru nih..
    Di tunggu next chaptnya ya thor.. Fighting.. 👊👊
    Kalo bisa jangan lama”.. 😀😀

  2. Oh….tatian abang ceye deh…
    Adeh….ini sbnrx ap si alsan knp ceye ama abang bacin jdi bermusuhan,prnasaran bwanget….
    Aduh wendy apakah sebuah kesalahn kalau kamu berkata kejujuran???
    Tpi kalo kjujuran itu berbuah baik utk org lain mk kami akn mendukungnya.
    Tpi in mslhx kebohonganmu bikin abang ceye jdi makin g percy am kamu lo!!
    Hah….makkin pelik nih…
    Makin penasran
    Sellau ditunggu klnjutannya autjor eki
    Cintaku padamu sllu.😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍

  3. Aku kira masalah mereka akan terungkap di chapter ini, tapi masih belum juga. Organisasi apa sih yang dimasukkin wendy dan kenapa dia keluar dari organisasi ? Terus kenapa wendy gak mau ngaku yang sebenarnya sama chanyeol, kan kasihan chanyeol dia terlalu lelah dibohongin terus.
    Ditunggu chapter selanjutnya thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s