Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran

rooftopromancehappy

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | Chapter 29 | [NOW] Chapter 30

“Keep smile. It just one more heatbreak, sweety.” 

 

 

-Chapter 30-

 

In Author’s Eyes

 

“Kalian berdua saling mengenal?” pertanyaan Proffesor Jang segera membuat Chanyeol—atau yang sekarang dikenal sebagai Proffesor Peter—menoleh dan melupakan eksistensi Wendy yang masih menangis tanpa sebab.

“Ah, iya Proffesor Jang. Wendy ini adik kelasku ketika masih SMA,” jawab Chanyeol sambil tersenyum tipis. Detik berikutnya dia langsung menatap Wendy lagi tanpa peduli bagaimana raut kebingungan Proffesor Jang dan dokter-dokter lainnya di ruangan VVIP itu.

“Jangan menangis. Aku tau kau sedih karena ayahmu seperti ini,” ucap Chanyeol kemudian menenangkan Wendy dan mengelus surai gadis itu pelan. Hal yang membuat takjub para kumpulan dokter naif itu, sedang Wendy hanya menyimpan umpatannya lagi-lagi di dalam hati. “Diamlah Wen, untuk apa kau menangis? It just one more little heartbreak.”

Chanyeol tersenyum lebar lagi. “Karena kau sudah disini dan kita saling mengenal, bukankah itu lebih bagus? Saya ingin membicarakan mengenai keadaan ayah kamu secara empat mata, Nona Son.”

 

 

Wendy mendengus. Sekarang dia berjalan mengekori Chanyeol yang dengan langkah cepatnya melewati padatnya kerumunan pasien dan staff rumah sakit yang sibuk lalu-lalang. Maklum, rutinitas rumah sakit pada umumnya tentu saja sibuk, terlebih saat masih jam kerja normal seperti sekarang.

Gadis itu benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa dia menelan bulat-bulat ucapan ayahnya kalau sosok tegap yang berjalan di depannya sekarang ini sudah menghadap Yang Maha Kuasa 11 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil? Sungguh, jika Wendy mengingat bagaimana frustasinya ia sebelas tahun lalu, gadis itu ingin merutuk saja.

Nyatanya Chanyeol sehat-sehat saja, yah, meski Wendy masih merasa aneh kenapa Chanyeol menjadi seorang dokter dengan nama Proffesor Peter dan bukannya menjadi Detektif Polisi seperti cita-citanya padahal setau Wendy mantan kekasih pura-puranya itu sudah diterima menjadi siswa baru di akademi polisi dengan nilai sangat memuaskan.

Sialnya, dia bertemu Chanyeol seperti sekarang. Dia yang tidak tau apa pun sama sekali, sedang Wendy sangat yakin Chanyeol pasti tau siapa pasien yang dia tangani selama beberapa tahun terakhir ini. Di dalam hati Wendy ingin tertawa, meski sebenarnya ia meringis pula. Kenapa takdir begitu mempermainkannya?

“Kita sudah sampai.” Suara berat itu mengenyahkan semua lamunan Wendy ketika berjalan mengekori Chanyeol. Oh, gadis itu bahkan tidak sadar kalau dia sudah sampai di depan ruangan Chanyeol, terbukti dengan pria itu yang kini membuka pintu dan segera mempersilahkannya masuk.

“Duduklah dimana pun kau mau. Tidak usah terlalu formal. Ehm, sofa ruangan ini empuk, lebih baik duduk disitu saja daripada berhadap-hadapan canggung seperti dokter dan wali pasien semestinya.”

Dia masih banyak omong, batin Wendy, namun gadis itu tetap menurut dan duduk di sofa berwarna hitam di ruangan itu. Maskulin. Wendy bahkan tidak yakin berada di dalam ruangan seorang dokter di rumah sakit. Kenapa semua perabot dan interior ruangan ini berwarna gelap—campuran hitam dan putih—dan terlihat sangat berkelas seperti di ruangan CEO ayahnya di Washington?

“Jangan sungkan. Mau teh atau kopi?” tanya suara berat itu lagi yang membuat Wendy segera menghela nafasnya dengan sangat teramat kasar. Tidak, ini jelas salah. Mereka tidak seharusnya terlihat akrab seperti teman lama, mereka harusnya canggung dan saling gugup untuk berbicara setelah sebelas tahun berlalu tanpa kabar. Tapi kenapa begini? Apa hanya Wendy saja yang hatinya masih berdegup hingga gadis itu kesal sendiri.

“Air putih.” Ketus Wendy kemudian.

Ah, tentu saja Chanyeol bersikap biasa saja. Dia tidak menaruh rasa pada gadis mungil itu. Dia hanya sebatas bekas rekan dalam hubungan pura-pura gadis itu selama sebelas tahun yang lalu kan? Beda dengan Wendy yang terlanjur terbawa arus dan menaruh perasaan hingga menggila selama lebih dari satu dasawarsa. Wendy yang cintanya bertepuk sebelah tangan untuk sunbae-nya cassanova itu sungguh menyedihkan.

“Americano dua.” Wendy memutar matanya malas seiring dengan bunyi ‘trak’ pelan yang dihasilkan Chanyeol ketika menutup gagang telefon kantornya itu.

“Aku bilang air putih, Proff,” kata Wendy formal—namun nada ketusnya tidak bisa dikondisikan—pada Chanyeol yang sekarang duduk santai di atas meja kerjanya. Wendy menganga. Chanyeol sudah menanggalkan jas putih dokternya dan hanya mengenakan kaos putih oblong saja.

Tiba-tiba gadis itu meringis. Sekelebat bayangan di kafe tadi siang terputar jelas di otaknya. Dia sudah bertemu Chanyeol sebelum ini, di kafe, saat tabrakan klasik itu terjadi. Diam-diam Wendy semakin meringis. Untung saja dia tidak melihat wajah lelaki biadab itu di kafe, kalau tidak mau ditaruh dimana mukanya karena menangis histeris melihat laki-laki yang teramat dia rindukan selama 11 tahun ini di dalam kafe secara tidak sengaja dan dengan cara paling drama yang pernah ada? Lebih baik bertemu di rumah sakit dalam keadaan formal, dan tangis Wendy bisa disamarkan sebagai tangis untuk ayahnya yang terbaring koma. Oh, maafkan Wendy karena menggunakan ayahnya yang sakit keras untuk urusan hati.

“Dari tatapanmu saja aku sudah menduga. Kita bertabrakan di kafe kan?” Rupanya Wendy salah. Chanyeol mengenalinya. Tapi darimana Chanyeol tau kalau Wendy tengah memikirkan insiden tabrakan di kafe? Tidak mungkin kan selain sebagai dokter Chanyeol juga berprofesi sebagai cenayang?

“Oh, jangan salah paham. Aku awalnya memang tidak mengenalimu Wen, dan tadi aku juga sedang buru-buru karena pasienku kritis. Aku hanya menduga saja, dan dari tatapanmu sepertinya tebakanku benar. Iya kan Nona Wendy?”

Yah, memang begitu kan takdir mempermainkan mereka?

“Sayang sekali, tapi sepertinya memang iya,” jawab Wendy sambil membuang muka. Satu kekehan pelan masuk ke pendengaran gadis itu. Chanyeol pasti tengah menertawainya.

“Aku tidak menduga akan bertemu denganmu lagi seperti ini. Aku dengar wali pasien sangat sibuk, jadi saya pikir mungkin ibu tirimu yang sudah pensiun yang akan datang untuk membahas operasi pasien. Tapi ternyata malah kau sendiri.”

Wendy menatap Chanyeol yang kini sudah tertawa renyah dan mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk tepat di depan gadis itu. ‘Aku dengar?’ Ah, jadi hanya aku yang bodoh di sini? Chanyeol ternyata tau kehidupanku, rutuk gadis itu membatin untuk kesekian kalinya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah?” tanya Chanyeol kemudian dengan bingung. Wendy menggeleng. “Tidak, hanya saja kau cukup hebat untuk tau aku sibuk atau tidak,” jawabnya dengan sinis.

“Wajar saja. Tuan Son sudah menjadi pasienku sejak dipindahkan ke Korea, dan aku juga pernah menjadi asisten Proffesor David yang dulu menangani beliau di John Hopskin. Rumor tentang putrinya di rumah sakit pun sungguh banyak, jadi tentunya aku bisa tau sedikit kalau kau sibuk menggantikan ayahmu menjadi CEO sementara di perusahaan raksasa itu.”

“Dan aku tidak tau secuil pun tentangmu, Park Chanyeol? Adil sekali.”

Rasanya ingin Wendy mengatakan itu, tapi dia menahan diri. Dia tidak mungkin bersikap kekanak-kanakan dan menunjukkan kepada Chanyeol betapa dia merasa sangat bodoh karena tidak tau bahwa mereka menghirup udara yang sama selama sekian tahun belakangan ini. Universitas Harvard, John Hopkins, dan Amerika, oh, Wendy ingin mengumpat. Dia berada di negara yang sama dan bahkan di kampus yang sama dengan lelaki jangkung itu, tapi Wendy tidak tau dan malah menganggap Park Chanyeol sudah tenang berada di sebalah kanan Allah Bapa yang di Surga.

“Benarkah? Ternyata aku cukup terkenal juga.” Wendy berusaha bersikap biasa saja. Oh, ini benar-benar sulit untuk bersikap biasa-biasa saja. Tau kenapa? Karena Wendy ingin menghambur dan memeluk paksa lelaki yang meski sangat brengsek tapi sudah menanamkan rindu mendalam di hatinya itu. Wendy ingin merengkuh Chanyeol, tapi dia sadar, dia tidak akan bisa.

“Itu—“

Tok tok tok.

Ucapan Chanyeol terhenti ketika tiga ketokan tidak sabaran terdengar memenuhi ruangan. Dengan cepat dia bangkit dan membuka pintu dengan kasar.

“Ada apa?” tanyanya ketus, dan seorang gadis berpakaian jas dokter itu menatap Chanyeol dengan takut-takut.

“Proffesor, apa yang harus dilakukan? Pasien Jung—“

“Cih. Kau berlari ke sini dan meninggalkannya? Harusnya kau suruh suster jaga saja menghubungiku! Kembali ke pasien itu sekarang dan jaga agar nadinya tetap normal. Aku akan segera ke sana!” bentak Chanyeol hingga gadis itu mau tak mau segera berlari meninggalkan Chanyeol yang kini masuk kembali ke dalam ruangannya dan meraih jas dokter yang ada di atas meja.

“Wendy, aku tau ini tidak sopan setelah sebelas tahun, tapi ada keadaan mendesak. Terserahmu saja. Kau bisa menunggu di sini atau pergi jika ada keperluan lain. Aku akan menghubungi sekretarismu untuk mengatur ulang jadwalmu lagi agar kita bisa berkonsultasi mengenai operasi Tuan Son.”

Selesai mengucapkan kalimat panjang itu dengan kecepatan diluar nalar Wendy sakin cepatnya, Chanyeol segera berlari keluar keluar ruangannya dan meninggalkan Wendy yang masih melongo di tempat.

“Aku akan menunggu,” gumam Wendy sambil menatap pintu ruangan yang tertutup. Oh, Chanyeol bahkan tidak membiarkan Wendy untuk menjawab dan pergi begitu saja.

 

 

“Sudah ku bilang pantau keadaannya, dan kau sama sekali tidak mendengarkan perintahku, huh? Kau ingin membunuh pasienmu?!”

“Anu Proff, saya—“

“Tidak ada tapi-tapian, Nona Im! Tetap saja kau hampir membahayakan nyawa pasien. Bisa-bisa kau makan di ruanganmu dan meninggalkan pasien yang perlu dipantau setiap jam! Dia dalam keadaan kritis karena jaringan syarafnya rusak selepas kecelakaan, dan juga dia memiliki riwayat gagal jantung. Kau tau bagaimana resikonya jika kau lalai sedikit saja? Dia bisa saja mati!”

Gadis itu diam, tidak berani menjawab lagi teriakan kesal Chanyeol yang menggebu-gebu. Chanyeol mengepalkan tangannya. Untung saja dia masih bisa menahan diri dan untung saja dia tidak terlambat barang sedetik pun karena jika tidak, pasien bermarga Jung itu sudah pasti tinggal nama saja.

“Suster Kim, tolong panggil Proffesor Choi dari divisi penyakit jantung!”

“Tapi Proff, Proffesor Choi tidak bisa dihubu—“

“Aku tidak peduli, panggil dia sekarang!”

Dengan terbirit suster yang sudah cukup berumur itu segera berlari secepat mungkin membelah kerumunan menuju divisi spesialis jantung.

“Dan kau Nona Im, kau tidak bisa aman setelah lalai makan delivery food di ruanganmu dan melalaikan tugasmu. Ingat, kau tidak aman. Bagaimana jadinya kalau tidak ada suster Kim yang menyadari kalau pasien mulai kejang-kejang? Kau pasti sudah menjadi seorang pembunuh karena melalaikan tugasmu.”

Dokter muda itu menggigit bibirnya. Matanya memerah menahan tangis. Dia tidak berani mengangkat kepalanya satu senti pun karena Chanyeol yang sedari tadi membentaknya. Bagaikan boomerang yang siap tembak, Chanyeol benar-benar marah.

“Nona Im, kau—“

“—ADA APA INI?!”

 

Wendy berjalan keluar ruangan Chanyeol bersama dengan dua buah cup Americano dari café ternama yang setengah jam lalu diantarkan oleh seorang office boy suruhan Chanyeol. Dia belum menyentuh kopi itu sedikit pun sejak tadi, masih berharap Chanyeol akan datang secepat mungkin setelah selesai memeriksa pasien. Tapi sudah satu jam lebih, Chanyeol tidak kunjung kembali ke ruangannya.

“Apa pasiennya segawat itu?” pikir gadis itu akhirnya sambil bangkit berdiri. Dan dengan tekat bulat beserta dua buah Americano di tangan, Wendy pun keluar dari ruangan Chanyeol. Tujuannya? Tentu saja menemui Chanyeol. Gadis itu hanya takut si empunya ruangan tidak berani kembali karena sudah menduga dirinya masih ada di sana. Klise memang, tapi Wendy sangat tahu kalau Chanyeol pastinya membencinya dan keluarganya.

Fakta bahwa Chanyeol adalah proffesor yang akan merawat ayahnya pun sedikit mengusik Wendy. Tidak, dia sama sekali tidak meragukan kemampuan Chanyeol. Dia hanya ragu apa Chanyeol ikhlas merawat ayahnya yang dulu bersikap sangat buruk pada Proffesor muda lulusan Harvard itu semasa SMA. Wendy hanya ragu akan isi hati kecil lelaki itu dan sama sekali tidak berpikiran negatif mengenai profesionalisme seorang Park Chanyeol. Wendy hanya tidak mau Chanyeol semakin menderita karena harus merawat orang yang dia benci.

Terus berjalan tanpa tentu arah, Wendy pun melewati sebuah ruangan yang lumayan ramai pengunjung, ehm, lebih tepatnya ramai orang yang berkerumun.Wendy tidak ambil pusing, dia hanya berpikir mungkin korban kecelakaan, artis, atau sesuatu hal yang lain yang membuat heboh sehingga ruangan itu sangat ramai. Penampakan seorang suster bersama seorang dokter yang tergesa-gesa pun pun segera mencuri atensi Wendy. Setelah hanya berjalan tanpa tentu arah, sepertinya sudah waktunya untuk Wendy bertanya.

“Anu Sus,” tapi Wendy harus meneguk ludah kasar. Sepertinya suster itu sangat sibuk sehingga hanya menundukkan badan meminta maaf dan segera melanjutkan jalannya. Wendy sempat melirik, suster dan dokter itu masuk ke dalam ruangan yang penuh kerumunan tadi.

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” Wendy meneguk ludahnya kasar. Saat dia berbalik seorang suster yang nampaknya kebetulan lewat dan mengetahui kebingungan Wendy kini tersenyum ramah padanya. Taapi tunggu, untuk apa Wendy gugup? Tidak ada salahnya kan dia menanyai keberadaan dokter ayahnya?

“Bisa saya tau dimana keberadaan Proffesor Chan—ah maksud saya Proffesor Peter dari divisi Neurologi?” tanya gadis itu sambil menyunggingkan senyum tipis yang sedikit canggung.

“Ah, maaf, tapi saya—ah, itu dia nona.” Ucap suster itu kemudian sambil menunjuk ruangan yang tadi ramai orang berkerumun. Mendengar itu Wendy segera menoleh dan tersenyum lega ketika menemukan Chanyeol dan jas dokternya berjalan kembali ke arah kantor.

“Terima kasih Sus,” ucap Wendy ringan lalu segera mengekori kemana gerak Chanyeol. Wendy sangat yakin pria itu akan kembali ke ruangannya, namun ternyata Wendy salah. Lelaki itu berbelok dan mulai menaiki tangga.

 

 

“—ADA APA INI?!”

“Ah, Proffesor Jang. Beruntung anda ada di sini. Dokter magang ini membuat kesalahan besar dengan—“

“Kesalahan?” belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, seorang wanita berusia kisaran 40 tahunan muncul dengan gaya angkuh. Dia menatap gadis di belakang Chanyeol yang sedikit menunduk sambil terisak. Oh, sekarang gadis itu benar-benar menangis.

“Nyonya Im? Pas sekali anda di sini.” kata Chanyeol tanpa takut sedikit pun padahal suster yang ada di sana sudah bergidik ngeri. Chanyeol bahkan sempat tersenyum pada Nyonya Im itu.

“Proffesor Peter? Bisa saya tau kenapa anda membuat seorang dokter magang menangis?” tanya Nyonya itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tanpa di duga gadis yang berada di belakang Chanyeol kini segera berlari dan memeluk Nyonya itu sambil menangis sesegukan.

“Cih, inilah kenapa semua anak orang kaya itu manja.” Celoteh Chanyeol sinis, sarat akan sindirian secara terangan-terangan.

“Anda mengatakan apa tadi, Proffesor Peter?!” tanya Nyonya itu lagi, namun kali ini nadanya sedikit tinggi dan membentak. Bukannya takut, Chanyeol malah makin menyunggikan senyum mautnya.

“Saya hanya bilang putri tunggal anda yang nantinya akan mewarisi rumah sakit ini tidak becus bekerja padahal dia hanya saya perintahkan untuk mengawasi satu pasien. Saya peringatkan kepada putri anda, jangan pesan delivery food yang sudah jelas-jelas melanggar aturan rumah sakit dan makan di kantornya yang sangat jauh dari ruangan ini. Tapi pesan saja makanan kantin dan makan di ruangan ini agar tetap bisa sambil mengawasi keadaan pasien. Kalau dia tidak kompeten, mau dia putri tunggal pemilik saham terbesar rumah sakit ini, ataupun cucu dari menteri kesehatan, saya tidak peduli.”

“KAU!”

“Ada apa ini?” Chanyeol makin mengembangkan senyumnya ketika melihat Proffesor Choi datang dengan Suster Kim sambil berlari tergopoh-gopoh. Tanpa memperdulikan bentakan Pemilik Rumah Sakit itu, Chanyeol mulai menjelaskan keadaan pasien kepada Proffesor Choi.

“Saya sudah menstabilkan semuanya. Saya hanya ingin anda memeriksa apa mungkin terjadi gagal jantung untuk kedua kalinya karena kelalaian seorang dokter magang, Proffesor Choi. Karena menurut sudut pandang saya, kejang-kejang dua kali dalam sehari dan hanya berkisar waktu beberapa jam tentunya membuktikan ada yang tidak beres dengan jantungnya.” Jelas Chanyeol sambil melirik sinis Nyonya Im dan putrinya Im Nayeon—dokter magang yang tidak beres itu.

“Baiklah, saya akan memeriksa dengan teliti dan memberikan laporannya kepada Proffesor.” Chanyeol tersenyum paham kepada Proffesor Choi, sedikit mengangguk lalu ia berbalik menghadap ibu dan anak bermasalah itu.

“Im Nayeon-ssi, anda akan tetap dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Selesaikan merengek dengan ibumu dan temui aku di kantor.” Chanyeol lantas melirik sinis ke arah Nyonya Im. “Kalau begitu saya permisi, Nyonya.” Pamitnya lalu segera pergi membelah kerumunan yang hanya bisa melongo dengan tingkah seorang Park Chanyeol.

 

Chanyeol mendudukan dirinya di atas sebuah kursi panjang di rooftop rumah sakit. Dia meletakkan kakinya di atas kursi, lalu segera mengubah posisinya menjadi posisi tidur meski sedikit sulit karena lebar bangku itu tidak seberapa dibanding tubuh besarnya. Chanyeol meletakkan kedua tangannya di atas kepala lalu menutupi kedua matanya yang memerah. Dia benar-benar kesal.

Chanyeol marah, bukan karena dia akan segera mendapat surat peringatan untuk kesekian kalinya karena bersikap arogan atau suka marah-marah pada dokter magang. Im Nayeon hanya satu dari segelintir dokter magang yang dia bentak karena tidak becus bekerja. Padahal dia hanya menugaskan Nayeon mengawasi satu pasien, tapi gadis itu selalu lalai akan tugas. Hanya saja gadis itu punya orangtua kaya pemilik rumah sakit dan kakek tersohor sehingga Chanyeol makin membencinya saja. Nayeon baru saja hampir melayangkan sebuah nyawa karena melanggar peraturan rumah sakit, tapi dia masih dibela mati-matian. Chanyeol tidak menyukai itu. Chanyeol tidak suka anak orang kaya yang manja dan bergantung pada orangtua.

Kalau semua dokter seperti Nayeon, mau berapa nyawa yang melayang setiap hari?

Akh.” Chanyeol memekik kaget ketika sebuah rasa dingin menjalar di pipinya dengan cepat. Tanpa aba-aba Chanyeol segera bangkit duduk dan menatap kesal siapa gerangan oknum yang baru saja menempelkan benda dingin di saat dia tengah emosi seperti ini.

“Sepertinya kau ada masalah.” Chanyeol terdiam. Dia menatap gadis yang memegang cup Americano itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Rasa kesalnya yang ingin membentak siapa yang menggangu aktifitas tidur sorenya itu pun sudah menguap entah kemana.

“Hei, kenapa matamu mmerah? Kau tidak menangis, kan? Eh, kenapa tidak menjawabku, huh? Kau marah?” tanyanya panik. Gadis itu segera meletakkan cup Americano-nya ke lantai rooftop dan memegang pipi Chanyeol yang tadi dia tempelkan cup dingin itu, berusaha menghapus sisa dingin yang tertinggal di sana.

“Aduh, maafkan aku,” ucapnya sambil terus mengusap pipi kanan Chanyeol. Bukannya marah, Chanyeol malah semakin ingin menangis saja.

“Wen, boleh aku memelukmu?” dan entah sejak kapan, kini bibir sialan Chanyeol mulai lancang berbicara.

 

 

“Kau cengeng. Kenapa tidak memberitahuku apa masalahmu?”

Pertanyaan Wendy masih terngiang-ngiang di otak Chanyeol meski sudah sekian jam berlalu. Lelaki itu melirik jam di atas meja kerjanya, sudah hampir pukul sepuluh malam. Dia menghela nafasnya pula, seharusnya dia sudah pulang sejak tadi, tapi kenapa dia malah betah merenung di kantornya?

“Cukup memalukan menangis di depanmu Wen.” Gumam Chanyeol sambil terus membayangkan bagaimana tubuhnya merengkuh tubuh mungil Wendy beberapa jam yang lalu di rooftop rumah sakit tempatnya bekerja. Ketika matahari tenggelam dan langit mulai berwarna jingga kemerahan, angin bergerak sepoi-sepoi dan suara kemacetan lalu lintas yang padat khas kota metropolitan terdengar, saat itu Chanyeol merasakan kembali kehangatan gadisnya setelah sebelas tahun lamanya merindu.

Oh, Chanyeol tidak mungkin mengakui kenapa dia menangis kan? Jelas saja bukan perkara Nayeon dan ibunya. Hal itu terlalu kecil untuk membuat seorang Chanyeol yang sekeras baja menitikkan air mata. Chanyeol bahkan sering menemukan contoh yang lebih parah dari dokter magang manja itu di Amerika, jadi tidak mungkin karena si lalai Nayeon.

Mana mungkin Chanyeol mengaku kalau air matanya tadi untuk Wendy? Bisa-bisa dia malu karena ketahuan merindukan gadis itu selama ini. Chanyeol menangis karena sekarang dia bisa memiliki Wendy lagi jika gadis bermarga Son itu tidak keberatan akan rasa sakit yang sudah Chanyeol torehkan di hati gadis itu beberapa tahun lalu. Akhirnya masa ini tiba. Akhirnya penantian dan kesabaran Chanyeol selama ini tidak sia-sia.

“Wen, aku akan mengaku. Aku tergila-gila pada seorang gadis. Son Seungwan. Atau kau mungkin mengenalnya sebagai Wendy. Ya, aku tergila-gila padamu.”

 

 

“Apa yang terjadi? Kenapa Nona menelfon selarut ini? Bukankah Seoul sekarang—“

“Diamlah Taeil, biarkan aku berbicara.” Ketus Wendy kepada seorang yang ada dibalik sambungan telefon internasionalnya itu. Tidak ada suara lagi di seberang sana, tanda Taeil sekarang memutuskan mendengar apa yang akan majikannya itu ucapkan padanya meski Taeil sendiri sudah bisa menebak apa yang membuat Wendy menelfon selarut ini.

“Kenapa kau tidak memberitahuku…” hening sebentar, Wendy menarik nafasnya dalam-dalam. Rasanya dia ingin membentak, tapi amarahnya sudah menguap entah kemana. “Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Chanyeol masih hidup?” ucap Wendy kemudian dengan nada suara sangat rendah, bahkan hampir tanpa suara.

Di seberang sana Taeil menarik nafasnya panjang. Akhirnya waktu membongkar semua rahasia sialan yang membuat sesak banyak orang itu tiba juga—hari ini.

“Kenapa Taeil? Kenapa kau tidak jujur padaku kalau Proffesor Peter…” isak tangis Wendy terdengar samar sedetik kemudian, membuat Taeil mau tidak mau diserang rasa bersalah yang mendalam.

“Tuan merencakan semuanya Nona. Nona tidak tau apa yang sudah dilakukan Tuan Son selama ini demi Nona Wendy.”

“A—apa maksudmu?”

 

 

Chanyeol membuka sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya beberapa menit lalu setelah selesai memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemen tempatnya tinggal. Sedikit senyum cerah terpatri di wajah lelaki itu ketika melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya. Lalu cepat-cepat dia membuka pesan itu, melupakan rasa lelahnya dan keinginannya untuk segera masuk apartemen dan mandi air hangat sebelum tidur.

 

From Perantara: Aku menceritakan sebagian pada nona. Tidak semuanya, karena aku tau itu tugasmu untuk menceritakan kebenaran kepadanya. Temui dia dan jelaskan semuanya hyung, dia sama menderitanya denganmu selama sebelas tahun ini.

 

Chanyeol mengacak surainya pelan, lalu menggigit bibirnya dengan perasaan campur aduk. Tidak, dia tidak bisa. Dia tidak mungkin mengaku sekarang.

Akhirnya setelah berpikir baik dan buruk tindakannya setelah ini, Chanyeol mulai mengetikkan pesan balasan dengan hati-hati.

 

To Perantara : Kau tau bagaimana inginnya aku mengaku pada dunia sejak belasan tahun lalu kan? Aku sangat ingin Taeil, tapi ini belum waktunya. Belum saatnya Wendy mengetahui kebenaran bodoh yang membuatku hanya bisa memandangnya yang melamun di perpustakaan Harvard dari kejauhan. Belum saatnya dia tau kalau aku tergila-gila padanya hingga harus membiarkannya menganggapku sudah mati selama ini.

 

Chanyeol segera memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah kata terkirim muncul di ponselnya. Dia menarik nafas panjang lalu membuka pintu mobil. Setelah memastikan kendaraannya itu terkunci, Chanyeol segera berjalan perlahan menuju apartemennya yang ada di lantai sembilan. Ya, ini belum waktunya, ulangnya berkali-kali sambil menunggu lift dari basement berdenting dan membuka pintu besinya di lantai sembilan apartemennya.

Setelah sampai di apartemennya dan memasukkan password, Chanyeol pun segera merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Niatnya dia ingin mandi, tapi rasa lelahnya membuatnya hanya sanggup untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia benar-benar lelah. Tidak hanya sekedar lelah, tapi lelah fisik dan pikiran. Oh, bahkan Chanyeol belum membuka sepatunya dan sekarang sebuah dengkur halus terdengar memenuhi kamar apartemennya. Chanyeol terlelap begitu cepat.

Dan tanpa Chanyeol sadari, sebuah pesan balasan masuk ke dalam ponselnya ketika dia sudah masuk ke dalam dunia mimpi. Menjelajah dunia buatannya bersama sang pujaan hati di negeri dongeng tanpa intrik dan hanya penuh suka cita tanpa dosa.

 

From Perantara : Kau ingin menunggu sampai kapan? Sampai dia bosan dan melupakanmu? Sebelas tahun bukan waktu yang singkat baginya untuk menuggu orang yang sudah mati. Kapan kau akan jujur kalau kau mencintainya hingga hilang akal seperti sekarang? Kapan dia tau kalau Park Chanyeol adalah lelaki yang membuat janji dengan Tuan Son sebelas tahun lalu? Ketika ada lelaki lain yang mulai menggetarkan hatinya? Hyung, Nona Wendy butuh kepastian.

 

 

To be Continued

Author’s Note :

Maaf kalau telat, tapi selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin 🙂

Maafin juga kalau eki banyak salah sama kalian selama ini, entah itu membuat kalian emosi, marah, kesel, dll karena cerita eki, tapi plis, cerita eki aja, eki-nya jangan diamuk :”)

Eits, ini mendekati ending nich. Soalnya eki tidak mau menyiksa wenyeol lebih lama lagi dan tydack mau membuat para readers setia eki semakin emosi kepada Papa Son ataupun si bangsad ceye :’)

Mau happy apa sad nich gaes?? :))

Eki minta saran. Nanti setelah end, eki mau buat bonchap, setuju tydack? Tapi bonchaptnya sedikit berating tinggi, jadi mungkin di private untuk menjaga kesucian mata :))

Iklan

25 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Selamat hari raya idul fitri

    Hmmmm ditunggu kelanjutannya, kirain bakalan sad ending
    Laa ternyata mash berlanjut,
    Bikin penasaran

  5. Hah…..adeh…..begitulh cinta…😍😍😍
    Aduh bang…knp si ga ngaku aj,lg pula appanya wendy bkln setuju aj deh Sepeertinya aj yah lo….
    Hah…..rasa y tak bisa ditahan itu susah…
    Rindu…
    Seperti mayat hidup lh khidupn mreka sdh
    Adeh….trnyata taeil adh perantara….agak lucu juga yah…
    Semoga aj deh ceye ama wendy bahagia.

    Aku mau ceye ama wendy HAPPY ENDING AUTHORNIM…..
    kan biar kami menangis haru atas usaha mereka selama berabad-abad…
    Lebay…
    Minal aidin walfaizin juga authornim….
    Maaf kalo aku pernah slah komen dan slah makna pengetikan diaat komen di ff nya author.

  6. Aahh udh lama ga baca ff, pas buka ffexoindo langsung baca yg rooptop romace udah nyampe chaptr 30. Makin seru thor ceritanya aku baca nonstop.

    Endingnya harus bahagia thor hehe

  7. Plis ki,harus dan harus happy ending,ma’af kalo maksa,tapi ini udah menyakitkan dari awal ki masa mau dibikin nyakit lagi,biar ke kita baper gegara yang happy2 bukan yang sad2 terus…
    And buat bonchap nya thanks,…..
    Dari awal baca aku udah ketawa2 sendiri ki…
    Jujurlah chan,jangan sampai telat dan wendy berpaling kelain hati dan para readers gak bakalan ikhlas….
    Next eki….

  8. Perjanjian apa yg dibikin chanyeol sama tuan son??
    Btw aku udah berharap dichapter ini ada kiss2nya ternyata engga 😜😜😜
    Mau donk bochapnya 😍😍😍

  9. Critanya keren dari awal intro smpe klimaks. Ending nya jgn gntung ato ngcwain ya thor.. 1 lagii updatenya jgn lma2 yaaa thor udah kepo garis keras inii. (Bnyak maunya) wkwk.. saranghae author.. dtggu next chap :-*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s