[Vignette] The Reason – by Gxchoxpie

thereason-gxchoxpie

THE REASON

.

Romance, Angst, Drama || Vignette || PG-13

.

Starring
EXO’s Chanyeol, Dyvictory’s OC Yoo Minjae

.

“Aku membayangkan apabila suatu hari nanti kita bisa berduet biola bersama.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made as a birthday present for Dyvictory. Happy birthday, my dear best friend! ❤

.

I only own the plot. Credit poster to luxie @ Story Poster Zone

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“My head is filled with thoughts of you. Your face, the sound of your laughter. You are my everything, because I was so sure.”
–My Answer (EXO)

.

Pada dasarnya Chanyeol bukanlah tipe pria pengeluh. Segala sesuatu akan ia kerjakan dengan senang hati, apalagi bila hal tersebut menyangkut orang yang amat ia kasihi. Selain itu, ia dikaruniai talenta musik yang hebat. Tak heran bila ia mahir dalam memainkan beberapa alat musik.

Namun, dari sekian alat musik yang bisa ia mainkan, dari mulai drum, gitar, bass, piano, rasa-rasanya tidak ada yang sesulit mempelajari biola. Chanyeol adalah tipe orang yang dapat belajar dengan cepat. Tak butuh waktu lama baginya untuk menguasai sebuah alat musik hingga benar-benar mahir. Namun, tampaknya menaklukkan biola tak semudah yang ia kira.

Sudah menjelang delapan bulan sejak pertama kali Chanyeol mengikuti kursus biola. Satu-satu alasannya belajar biola adalah karena permintaan – Oh, mungkin lebih tepatnya paksaan – Yoo Minjae, sang kekasih. Well, Minjae tidak secara terang-terangan memaksa, sih. Hanya saja, apa namanya jika bukan memaksa apabila hampir setiap hari selalu bercerita bagaimana ia membayangkan seandainya suatu hari Chanyeol memainkan biola untuknya, atau kerap mengatakan bahwa pria yang mahir bermain biola itu memiliki charming point tersendiri?

Baiklah, kembali ke topik awal. Ini sudah menjelang delapan bulan sejak pertama kali Chanyeol mengikuti kursus biola, dan menurutnya, ia belum memberikan sebuah progress yang berarti. Memang ia sudah paham betul teknik-teknik dasar dalam bermain biola, bagaimana ia harus menggesek ke atas atau ke bawah, bagaimana ia harus menempatkan jari-jari, bahkan bagaimana ia harus memetik senar biola jika diminta. Ia sudah bisa memainkan nada-nada dasar, bahkan sebuah lagu simpel. Namun, apa bedanya ia dengan anak balita yang ia temui di tempat kursusnya? Gadis kecil yang kerap datang saat jam kursus Chanyeol hampir berakhir itu pun bisa memainkan lagu yang sama dengan yang ia mainkan. Apa istimewanya seorang Park Chanyeol kalau begitu?

Hal tersebut yang membuat Chanyeol hampir frustrasi. Bahkan ketika ia telah mencoba untuk berlatih lebih keras lagi di rumah pun, ia tidak membuat sebuah perubahan yang berarti. Permainan biolanya hanya begitu saja, tidak ada yang spesial. Jarinya terasa masih kaku, gesekan biolanya juga terkadang terdengar aneh saat melenceng. Chanyeol adalah tipikal orang yang perfeksionis, yang merasa harus menyelesaikan segala sesuatu yang telah ia mulai. Menyadari bahwa ia payah dalam bermain biola padahal ia amat bertalenta dalam musik menyebabkan Chanyeol putus asa.

“Jangan menyerah. Kau pasti bisa!”

Itulah yang selalu Minjae katakan begitu melihat ekspresi putus asa kekasihnya. Minjae adalah orang yang sabar, yang tidak pernah mencela permainan biola Chanyeol meskipun tak ada ubahnya dengan permainan anak umur tujuh tahun. Padahal Minjae sendiri adalah pemain biola yang mahir. Sekalinya gadis itu menunjukkan permainan biolanya, dapat dipastikan seluruh mata akan tertuju padanya. Jemarinya yang lentik berpindah dengan anggun di sepanjang senar biola, sementara sebelah tangannya lagi akan menggerakkan penggesek biola dengan gemulai namun kuat, menciptakan sebuah melodi indah yang memanjakan rungu setiap pendengar.

“Mudah mengatakannya saat bermain biola adalah talentamu, Minjae-ya,” sahut Chanyeol. Diletakkannya biola di pangkuan, sementara ia duduk di lantai dengan kepala bersandar pada lutut sang kekasih yang memang duduk di kursi.

Minjae menggunakan tangan untuk mengelus surai kecoklatan Chanyeol. “Chanyeol-ah. Dulu, saat pertama kali belajar biola, aku pun merasakan apa yang kau rasakan. Bahkan lebih parah. Bayangkan seorang gadis umur empat tahun harus belajar memberi kekuatan saat menekan senar biola. Bahkan ujung jariku pernah luka karena terlalu sering digunakan untuk menekan senar. Tetapi aku berhasil melewatinya. Biola menjadi teman baikku sekarang.”

Gadis Yoo itu menyuruh Chanyeol untuk memutar posisi duduk dan menghadapnya. Setelah itu, sang dara tersenyum, seraya melanjutkan, “Kau adalah pria yang lahir dengan anugerah bakat musik yang hebat. Hanya sedikit lagi yang perlu kau pelajari. Aku yakin bukan masalah untukmu jika harus menekan senar biola, karena selama ini kau sudah sering menekan senar gitar, ya, kan? Aku tidak memintamu untuk menjadi pemain biola profesional. Hanya beberapa lagu kecil seperti yang sering kau mainkan selama ini sudah terasa cukup untukku.”

Kata-kata yang diucapkan sang gadis tak ayal membuat kedua sudut bibir Chanyeol terangkat. “Benarkah? Aku … tidak terlihat buruk?”

Minjae menggeleng dengan kuat. “Sebaliknya, kau malah terlihat keren!”

“Baiklah, aku akan mencobanya lagi,” ujar Chanyeol akhirnya. Ia kembali menyampirkan biola di bahu kiri, memosisikan dagu pada chin rest, dan meletakkan bow pada salah satu senar. Sekon kemudian, ia memulai kembali latihan lagu yang sudah sejak satu jam yang lalu ia pelajari: Winter’s Child.

Meski ada beberapa kesalahan karena Chanyeol salah memosisikan bow sehingga menyebabkan nada lagu menjadi lari dari yang seharusnya, namun Minjae tidak berkomentar apa-apa. Gadis itu bahkan bertepuk tangan ketika Chanyeol mengakhiri lagunya. Tak lupa diiringi dengan senyum manis.

“Kau tahu, Chanyeol-ah, apa yang kubayangkan saat kau memainkan lagu tadi?” tanya Minjae.

Chanyeol hanya memberi sebuah gelengan beserta tatapan penuh kuriositas akan jawaban kekasihnya.

“Aku membayangkan apabila suatu hari nanti kita bisa berduet biola bersama.”

Mendengarnya, spontan tawa Chanyeol menyembur. Ia bahkan harus meletakkan biolanya di lantai agar dapat menggunakan tangan untuk memegangi perut akibat terlalu keras tertawa. Minjae ikut mengeluarkan tawa kecil, meski tak mengerti alasan di balik tawa Chanyeol yang tiba-tiba.

Wae?” tanya Minjae di sela-sela tawa.

“Jangan terlalu berharap besar, nona Yoo,” sahut Chanyeol saat tawanya mulai mereda. “Masih sangat lama sampai aku pantas bersanding denganmu di panggung. Aku hanya akan merusak penampilan indahmu jika harus berduet denganmu sekarang, dengan permainanku yang amat pas-pasan ini.”

Minjae tersenyum. “Tak apa. Aku akan menunggu. Aku tak akan memaksamu, Chanyeol-ah. Aku akan menunggu sampai kau siap bersanding denganku.”

***

Chanyeol menggenggam biolanya dengan erat, seolah itu adalah satu-satunya pertahanan. Well, sebenarnya bisa dibilang demikian. Pemuda Park itu sedang berjuang sekuat tenaga untuk menahan tangis, untuk menahan agar tidak ada likuid bening lagi yang kembali menetes dari dwimaniknya. Dan Chanyeol rasa menggenggam biola dengan amat erat adalah cara terbaik untuk menahan diri dari serangan emosi.

Hari ini adalah acara penghiburan atas kepergian Yoo Minjae, yang telah menghembuskan napas terakhir sore kemarin, tepat saat di luar sedang turun hujan rintik-rintik. Serangan jantung. Minjae memang mempunyai kelainan jantung sejak kecil. Sempat terobati, namun siapa sangka rupanya penyakit tersebut bisa kambuh dan akhirnya menyebabkan sang gadis harus melepas nyawa?

Banyak orang lalu lalang di aula rumah duka tersebut. Seluruhnya mengenakan pakaian serba hitam – tanda berkabung. Orang-orang mengucapkan bela sungkawa kepada kedua orang tua Minjae, lalu ikut bersujud di depan foto sang gadis untuk memberi penghormatan terakhir. Chanyeol hanya menatap semua itu dengan tatapan nanar. Kantong air matanya sudah kering, tak dapat lagi diperas untuk mengeluarkan air mata. Ia sudah terlalu banyak menangis.

Chanyeol tak mengerti mengapa Minjae harus dipanggil pulang oleh Yang Kuasa. Gadis itu tampak baik-baik saja, tampak sehat-sehat saja. Tak ada yang salah pada kondisi Minjae selama ini yang berhubungan dengan penyakit masa kecilnya. Chanyeol tahu Minjae sudah berupaya untuk menjaga kesehatan, tidak melanggar pantangan yang diberikan untuknya. Tidak ada yang salah.

Semua terjadi begitu saja. Kepergiannya begitu mendadak. Tahu-tahu, sosok Yoo Minjae sudah tidak ada lagi di dunia.

Chanyeol tidak tahu harus menyalahkan siapa. Satu sisi ia ingin menyalahkan keadaan, ingin menyalahkan Tuhan yang mengambil nyawa Minjae. Chanyeol belum sempat membalas semua kebaikan sang gadis padanya. Chanyeol merasa belum cukup membahagiakan Minjae.

Bahkan Chanyeol tak punya kesempatan untuk mengabulkan permintaan kekasihnya; berduet biola.

Mengingatnya, air mata Chanyeol pun turun satu tetes, tanpa bisa dicegah.

Acara penghiburan pun akhirnya dimulai. Tak banyak ragam acara, hanya penyampaian ucapan bela sungkawa dan turut berduka cita kepada pihak keluarga, semoga diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi duka yang amat dalam. Selain itu kesan-kesan orang yang mengenal Minjae – yang mendengarnya bahkan dapat membuat air mata menitik.

Tibalah giliran Chanyeol berbicara. Pemuda Park itu berjalan menuju podium sambil memegang biola serta bow-nya dengan erat.

Butuh kekuatan besar agar Chanyeol dapat memulai kata-katanya tanpa diawali dengan tangis. Butuh beberapa dehaman dan tarikan napas panjang sampai akhirnya kata-katanya dapat keluar.

“Sudah banyak orang yang menyebutkan kesan-kesan terhadap Yoo Minjae, baik itu kesan menyenangkan maupun kurang menyenangkan, yang bila diingat sudah pasti akan membuat kita kembali menangis. Bila saya diminta untuk berkata-kata, saya pun pasti akan mengatakan hal-hal yang tak jauh beda dengan yang Bapak dan Ibu serta saudara sekalian sebutkan tadi.”

Chanyeol berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, seraya menatap hadirin di hadapannya. Ketika akhirnya pandangannya tertumbuk pada Tuan Yoo, ayah Minjae, dan beliau menyunggingkan sebuah senyum tipis, Chanyeol kembali mendapat kekuatan untuk melanjutkan kata-katanya.

“Karena itu, izinkan saya di sini mengabulkan permintaan Minjae yang belum sempat saya penuhi. Dulu, ia setengah memaksa saya untuk belajar biola, hanya karena imajinasinya untuk bisa berduet biola dengan saya. Meski saya menganggap idenya gila saat itu, namun saya tetap menurut. Saya mengambil kursus biola. Permainan biola saya sangat kacau, namun Minjae tidak kecewa. Sebaliknya, ia terus memberi saya semangat.”

“Maka dari itu saya ingin memainkan sebuah lagu, sekaligus sebagai rasa terima kasih saya padanya. Saya yakin, di sana ia pun sedang memandang saya, beserta sebuah biola yang tersampir di bahunya. Saya percaya, ia sedang menunggu permainan saya, dan ketika saya mulai bermain, ia pun akan ikut bermain, dan sesuai permintaannya, akhirnya kami berduet.”

Chanyeol menyampirkan biola di bahunya, memosisikan dagu pada chin rest, dan meletakkan bow di atas senar. Perlahan, tangannya ia gerakkan naik dan turun dengan lembut, jemarinya ia posisikan di atas senar biola seraya menekannya sesuai nada, membentuk sebuah alunan melodi yang indah.

Manik Chanyeol terpejam, membiarkan dirinya hanyut dalam alunan melodi, seraya membayangkan Yoo Minjae hadir di sebelahnya, juga sama-sama sedang menggesek biola, berduet menciptakan lagu yang indah untuk didengar.

Hello spring, you’re still so pretty
The scent, the wind is mixing with the warmth
Everything’s the same, time is colorless
But I’m still in last year’s spring
Tears are falling
Thanks for the sunlight that is hugging me brightly
You’re probably feeling this spring from somewhere too

 

.

The street I walked on like a habit only has the scent of the painful season.
I keep thinking about her. Only tears are falling, only tears are falling.”
–Remember That (BTOB)

.

PhotoGrid_1489248175248

-fin-

A/N

Astaga ini fic gaje banget hwhwhwhw… I tried to execute the plot more smoothly tapi hasilnya malah fail banget gini… Jeongmal miyane…

Anyway, untuk Dyva tercintaku… Selamat ulang tahun ya sayy.. Maafkan cuma bisa kasih ginian hahaha udah mah plotnya gaje, OCnya ooc banget… kacau dah… Semoga semua mimpimu tercapai, cita-citamu tercapai, dan semoga dirimu makin diberkati agar dapat menjadi berkat bagi orang lain… Wish you all the best, dear 😀 Kapan2 main bareng lagi yha XD

Tuh bonus moodboardnya sebagai tambahan hadiah. Maapkan kalo jelek whhwhww

Anyway, mind to review? 🙂

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “[Vignette] The Reason – by Gxchoxpie

  1. AAAAAAA CEEEEE
    Bagus:(
    Aku suka banget kamu bener-bener bikin poin yang perlu di karakter Minjae-nya…
    Aku bacanya senyum-senyun sendiri, mana aku udah lama gak bikin pair ini…
    Terima kasih sudah menghidupkan lagi pair ini, huhuhu
    Makasih juga hadiahnya, it’s more than enough:’)
    Ayo kita ketemu lagi! Maaciw Ce, Iwuffyou♡♡♡

    • hai cinta… hahahhaa iya entah kenapa dr semua OCmu yg kulihat di post interviewmu dgn mereka aku paling nyantol yg ini.. jd kueksekusikan saja dia sm mas ceye, itung2 udah lama ga nulisin anak eksoh hahahaha..
      glad that u like it 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s