[Oneshot] Umanoide Straniero – HyeKim

| Umanoide Straniero |

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Kim Jongin x OC`s Kim Haneul  as the main cast

Special appearance Lu Han x OC`s Kim Hyerim

Story with Dystopia, Sci-fi, Romance, Drama  rated by Teenagers  type in Oneshot

`Landas alasan Haneul hanyalah satu, ia mencintai Jongin sepenuh hati. Tak ingin Sang Tunangan menjadi makhluk menyeramkan ditengah Bumi yang sedang diporak porandakan. Maka  dirinya rela menggunakan ilmunya sebagai mantan ilmuan guna memodif Jongin sedemikian rupa`

standart disclaimer applied, copy-paste without permission and plagiat are prohibited


Dedicated to HaneulKim’s (not Haneul Kang, my eenie minie) late birthday ❤


HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Jikalau ingin mengutar tanya akan 2030 yang merealisasikan kehidupan dystopia, maka penjabaran tersebut akan terjawab kala ini. Well, seperti penjabaran barusan, tahun 2030 dimana eksitensi alien berkembang di Bumi. Usut punya usut, para alien tersebut berasalkan dari planet terpencil bernamakan Xenos. Landas alasan tentu menjadi sebab start kedatangan makhluk asing tersebut, mereka ingin menguasai Bumi dalam genggam tangan lantaran akan Xenos yang berada diujung kerapuhan.

Lantas jua para manusia menentang hal tersebut. Teknologi-teknologi baru lekas dikeluarkan, berusaha menyeimbangi para alien Xenos nan memiliki alat lebih maju. Ilmuan bak merajalela di segala penjuru terkhusus di negara maju selayak Korea Selatan. Humanoid, cyborg, under water robot, flying robot, microrobots telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi alat peperangan antar manusia dan alien.

Akan tetapi, masalah tetap pula timbul. Alien Xenos sangat serupa dengan manusia. Bentuk rupa, tubuh, juga dapat merasakan cinta kasih, pun benci. Bahkan udara di Bumi pun tak beda jauh dari Xenos. Tak segilintir manusia terkecoh akan alien Xenos yang dikira manusia normal. Atau mungkin perkara parahnya malahan terjelit asmara dengan salah satu alien Xenos.

║█║♫║█║— Umanoide Straniero —║█║ ♪ ║█║

Singsingan cahaya pagi kian bersinggasana. Angka delapan tertera di jam digital yang sekon ini membiaskan cahaya nan melayang menyajikan angka; 8.00—tiap jam bergulir, hal tersebut karap terjadi dan biasan cahaya dari jam kotak digital tersebut pun akan hilang setelahnya. Retunitas pagi terjalin selayak biasa. Tidak berbeda sebagaimana pagi lainnya, wanita nan lahir dengan nama Kim Haneul tersebut tengah duduk di sofa sembari menyeruput teh dengan tablet transparan yang melihatkan bait-bait kata yang ia selami tuk dipelajari.

“Sayang,” sebuah vokal pria menyentil telinganya, lekas atensi Haneul terengut ke arahnya dengan kepala otomatis menoleh pada oknum pemanggilnya.

Sunggingan kurva Haneul mengembang, figur Kim Jongin—tunangannya yang tinggal bersamanya selama tiga bulan terakhir, terbingkai di hadapannya. Ketampanan kekasihnya makin hari kian pula bertambah, apalagi dengan setelah suit putih membaluti tubuhnya.

Nampak Jongin mengalami kesulitan pada dasinya. Refleks Haneul berdiri dari duduknya dan mengayunkan tungkai mendekat. Tatkala berpijak sah di hadapan tunangannya ini, tangan Haneul menyambar dasi yang lantas ia pasang dengan lihai dileher Jongin. Dalam geming, Jongin mengulum senyum melihatnya.

Aktifitas pada dasi jaka Kim ini selesai, Haneul pun menatapnya dengan pandang agak sarkas. “Selalu sulit memasang dasi sendiri, huh?” pun alisnya ikut berjungkit.

Kekeh lolos dari ranum Jongin, gemas jua menyarangkan cubitan dipipi Haneul yang refleks memejamkan netra dan mengaduh pelan. “Selama dirimu sukarela memasangkannya, kenapa harus repot?” alis Si Pemuda terangkat satu dengan senyum miring.

Ranum mengerucut Haneul terpampang sekarang ketika menyadari sesuatu, sorot obsidiannya menatap Jongin seakan memelas—tepatnya itulah yang ia aksikan kala ini.

“Kau ada urusan kerja lagi?” anggukan ialah respon Jongin. Mengembunglah pipi Haneul sekon ini, pun mimiknya tersapu menjadi merengek. “Tapi bukannya, katanya hari ini libur? Kenapa kau harus kerja?” aksi menggoyang-goyangkan badannya terlaksana dengan bibir cemberut.

Lagi, kekehan Kim Jongin mengudara hingga kepala jaka satu ini mendongak. Kembali fokusnya terjatuh pada Haneul, serta jua menyarangkan kembali cubitan dipipi Sang Dara. “Tidak usah kekanak-kanakan, Haneur-ah. Tahu sendiri, kadang aku memiliki kerjaan mendadak.”

Finalnya, Si Gadis bernamakan Kim Haneul tersebut mengganguk setelah sebelumnya mendesah. Seraya melekatkan tatapan dalam, bibir Haneul melafal, “Jangan terlalu over berkerja. Aku tahu pekerjaan di Laboratorium Nasional itu menyiksa apalagi para makhluk Xenos yang makin sulit dideteksi, aku pernah menjadi ilmuan di sana, jadi aku paham sekali kerjaan di sana.”

Mendengar lafalan tunangannya, Jongin menyilipi senyum tipis bersirat penuh makna tatkala menyelipkan jari-jari ditengah surai gadisnya, memberikan belaian kasih sayangnya. Cetus angguk Jongin terlaksana, menyebabkan kuluman senyum Haneul terbingkai.

“Iya, iya. Aku pergi dulu, sayang.”

Spasi keduanya dibabat oleh Jongin yang menghadiahi kecupan didahi Haneul sebagai retunitas rutin sebelum ia menginjakan kaki pergi tuk berkerja. Kecupan tersebut diaksikan seraya memejamkan dwimanik guna mendalami hantaran rasa dari skinship kecil tersebut.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Semerbak anyir mengelitik pangkal hidung. Gudang nan suram kian suram lantaran penerangan nan minim. Tergeletak seongok tubuh yang nampak miris dengan sekujur luka ditubuh. Sebuah tungkai menderap memecah hening, memenggal spasi tuk mendekati seongok tubuh nun miris tersebut. Seongok tubuh pria yang menyedihkan dengan obsidian tak dapat memandang jernih, pun tubuhnya mengkaku. Persetan dengan itu, namun makhluk biadad yang tengah melangkah mendekatinya, sekon ini sudah sah berada di depannya dan berjongkok.

“Luhan,” lafalnya dengan suara brengsek ditelinga Luhan—lelaki yang dengan mirisnya tertahan di gudang ini bersama kukungan borgol dipergelangan tangan.

Si Makluk biadab ini mengangkat dagu Luhan, mengaksi paksakan Si Pria Lu untuk menatapnya. Luhan pun hanya mengkilatkan netra berapi-api disertai gigi menggertak, amarah membuncah namun tak dapat meledak. Tubuhnya mati rasa, tetapi makhluk biadad dari Xenos ini malah menyungging senyum miring brengseknya.

“Maksudku detektif kepolisian, Luhan,” koreksinya dengan seringaian sialan hingga tak menahan Luhan untuk membuang ludah dan menatapnya tajam. “Harusnya kau diam karena istrimu adalah teman gadisku. Tetapi karena kau terus menyelidikiku, maka aku menggunakan microrobots buatanku untuk menyerang sel otakmu dan bagian-bagian tubuh dalammu sampai kau lumpuh seperti ini, Lu. Sorry not sorry, kau mengetahui rahasiaku. Maka kau…”

Ayat kata makhluk sialan ini tergantung. Paras serta sorot netra Luhan mengkilatkan penantangan tanpa adanya getar rasa takut, ia tak boleh mati, setidaknya demi Kim Hyerim—istrinya. Sementara, makhluk biadab ini malahan melihatkan seuntas kelicikan diranumnya, kemudian mendekat ketelinga Luhan seraya membisikan kata.

“… maka kau harus mati.”

Lekas dirinya menghentak pegangan didagu Luhan dan menstir tubuh berdiri. Setia pula Luhan menatapnya penuh hasrat benci, namun semua lafalan yang ia keluarkan tercekat dalam runggu. Microrobots sialan yang menggergoti tubuh Luhan lah alasan kelunya bibir Si Pria. Makhluk yang Luhan berikan titel biadab ini, membalik badan setelah melempar smirk bajingannya. Kemudian, Si Makhluk Biadab mengeluarkan sebuah remote control dan menekan tombol bertulisan ‘death’ di sana.

Sekon kedepan, tubuh Luhan mengenjang dengan obsidian membelalak. Tubuh jaka Lu itu kejang-kejang tak karuan, microrobots yang ada ditubuhnya sedang mengaksikan serangan dalam tubuh Luhan.

“AKHHHHHH!” pekikan Luhan melolong tragis dengan tubuh gemetar hebat. Dalam ingatnya masih dapat melihat siluet bayang Hyerim sampai nyawanya terpanen oleh Sang Mailakat Kematian.

Senyuman makhluk biadab mengembang sempurna dengan rasa kepuasan didalamnya. Robot-robot ukuran kecil keluar dari hidung, mulut, dan beberapa bagian tubuh Luhan. Robot-robot yang hinggap dirunggu Si Jaka Lu dan menyerang organ tubuh bagian dalamnya beberapa waktu lalu sampai ajal menjemput. Satu microrobots berlabuh dijari makhluk yang membunuh Luhan ini, lantas dirinya mengangkat tangan dan menaruh fokus lurus-lurus pada microrobots yang menyimpan suara hati Luhan yang membuat Si Pria mengalami kekeluan dilidah sampai tak bisa bercakap.

Kepala makhluk biadab ini dimiringkan menatapi microbotsnya yang tahu-tahu menyuakan lafal hati Luhan selama ini, “Akan kubunuh kau, Kim Jongin.”

Kim Jongin—makhluk yang Luhan klaim biadad serta makhluk yang merupakan alien Xenos, melolongkan tawanya dengan kepala mendongak. Tawanya mencapai finish diiringi dirinya menatapi microbots yang bervokal barusan. Lantas rahang Jongin mengatup dengan netra berapi-api. Persetan dirinyalah Sang Pencipta microbots tersebut, namun sebab akan amarah membelengungi, Jongin pun menghancurkan microbots tersebut dalam genggam tangannya yang keras-keras dengan tubuh agak gemetar.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kenapa Jongin belum pulang?” vokal khawatir Kim Haneul berkumandang, sesekali mengecek arlojinya dengan memencet tombol kecil di sampingnya yang langsung membentuk angka berhuruf robotik yang menunjukan pukul berapa sekarang di layar transparannya.

Desahan Haneul terdengar. Kepalanya terangkat dan melongok-longok resah. Meski sibuk, Jongin tak pernah melewatkan momen makan siang bersama di rumah dengannya. Tapi jam makan siang sudah terlewati semenjak dua jam lalu. Sebab lapar yang menerjangnya, Haneul mendesah lagi dan memberikan gigitan dibibir bawahnya, ragu.

“Kalau begitu aku makan duluan saja,” putusannya akhirnya ditetapkan. Tangannya mulai mengambil sumpit dan larut akan makan siang yang sudah dingin.

‘Ding! Nong!’

Sontak tubuh Haneul menegak seraya dengan dwimanik nan melebar tatkala buah bunyi bell rumahnya bergendang. Langsung jua Haneul menggeret tubuh ke titik pintu masuk rumahnya berada. Asa hanya asa, bukan nama Jongin yang tertera diinterkom rumahnya yang memiliki fungsi menyensor otomatis orang-orang yang berkunjung ke rumahnya, namun aksara nama yang tertera ialah; Kim Hyerim—karibnya dahulu dimasa Haneul masih menjadi ilmuan di Laboratorium Nasional.

Kerut pertanda bingung terlukis didahi Haneul. Otaknya terperas kuat tuk memikirakan sebab Hyerim bersinggah ke rumahnya. Tatkala dentang bell memasuki telinganya lagi, Haneul tersadar dan membukakan pintu meski bingung setia tersarang dalam dirinya.

Baru saja pembatas rumahnya dengan dunia luar menjeblak terbuka, tubuh Hyerim segera merangsek rapuh dengan lemahnya. Obsidian Haneul melebar apalagi tubuh Sang Karib nampak lemah diujung ajal.

“Hyerim!” pekik Haneul kala sadar apa yang menimpa Hyerim nan bermimik pucat pasi.

Nampak napas karibnya ini tak menentu, pun mimik Haneul cemas sembari mengecek kondisi Hyerim yang melayangkan binar mata lesu padanya. Baru lidah Haneul ingin menanyakan insiden apa yang menimpa, Hyerim lebih dahulu buka suara.

“Haneur-ah, kau pernah mengatakan bukan, bahwa eksperimen chip perekam memori diotak masih ilegal dan dapat menyebabkan kematian?”

Atensi Haneul lekas tertoreh pada paras Hyerim nan setia mengeluarkan napas terengahnya. Binar wajah, pun obsidian Haneul melihatkan kebingungan tuk meminta penjabaran rinchi.

“A… ku… melakukan… eksperimen….., i—leg—al itu pada… di.. riku—sen… diri,” frasa Hyerim mulai terpenggal-penggal.

Bukan main rasa sakit yang wanita bernamakan Kim Hyerim ini rasakan. Namun persetan dengan sakit yang membuncah dirunggunya, informasi yang hendak ia suakan belum pula tersampaikan pada Kim Haneul.

Manik Haneul membelalak terkejut mendengar lafal frasa Hyerim, dia pun merespon. “Kenapa kau melakukannya, Hyer?” pita suaranya agak meninggi, syok dan mulai paham akan sebab Sang Karib tengah merenggang nyawa.

Chip perekam memori otak dalam bentuk video masihlah belum sempurna. Ingat jelas ingatan Haneul tatkala masih menyandang profesi ilmuan di Laboratorium Nasional bahwa eksperimen tersebut dihentikan lantaran tak memungkinan untuk terealisasikan sebab fungsi otak akan terganggu, pun kematian menjadi kefatalan pertama. Tetapi, sekon ini, Kim Hyerim dengan gilanya menyatakan melakukan eksperimen yang berbahaya tersebut, pada dirinya sendiri pula.

Seketika, tangan milik Hyerim terulur menyentuh—bahkan tepatnya mencengkam erat lengan Haneul. Sorot mata dara satu ini menghunus netra Haneul tajam. “Jong… in,” penggalnya akan nama tunangan Haneul, Si Gadis pun melebarkan manik mendengarnya.

“Jongin, ini karena Jongin. Aku ingin kau percaya padaku, Haneur-ah. Aku membuat ingatan diotakku dalam bentuk chip video agar kau menontonnya dan percaya padaku.”

Ranum wanita bernama lengkap Kim Hyerim tersebut mulai bergetar, turut pula kurva tersebut pucat pasi. Obsidiannya berada dititik lemah untuk setia terekspos. Malaikat kematian siap memanen nyawanya. Sedangkan Haneul menanti dengan semburat pias diwajah jua mata nan melebar. Akan tetapi, sebelum Hyerim disapa ajal, dirinya meloloskan kata dengan kelirihan dalam intonasinya.

“Dia—Jongin, berbahaya, Haneul. Seharusnya kau tidak mencintainya. Dia membuat suamiku, Luhan, Luhan—Akh!”

Tak sanggup, jiwa berharga milik Kim Hyerim start berguncang dan runggunya mulai mati rasa. Perlahan pula obsidian sayunya menutup. Lekas sebagai oknum penyaksi, Haneul membuka mulut dengan ketakutan diambang batas, likuid hangat otomatis menyurusi pipi tirusnya. Mata keduanya bersibobrok dengan lirihnya, lalu Hyerim mengiring tangannya ke telapak tangan Haneul dengan gerak lemahnya serta meletakan sesuatu di sana. Dan hal naas terjadi, Kim Hyerim dibawa kepada kematian dengan tubuh yang berubah menjadi abu dan lantas terbang mengikuti semilir angin—keyakinan Haneul mengklaim sebab akan tubuh Hyerim yang menjadi abu ialah eksperimen chip memori otak bentuk video yang ilegal Hyerim lakukan.

Pipi Haneul telah menjadi sungai air mata detik ini. Runggunya kosong, begitupula dengan sorot obsidiannya. Lemas menerjangnya tatkala karib sesama marga Kimnya telah pergi. Perlahan, Haneul membuka telapak tangannya yang mengukung benda pemberian Hyerim dimasa-masa akhir hayatnya, dengan mata berair. Sebuah chip memori otak Hyerim, ialah benda yang berada ditelapak tangan Kim Haneul.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Waktu kian bergulir, pun sembab telah terlukis dikurva mata Kim Haneul. Entah sudah beberapa lama Sang Dara menumpah ruahkan tangisannya akan kepergian Hyerim. Dihapus kasar likuid nan hendak kembali merangsek kepipinya. Fokus Haneul terjatuh pada chip memori yang Hyerim tinggalkan, sorot dwimaniknya terbinarkan lekat-lekat. Setelah mempupukan keyakinan dengan cetus angguk mewakili, Haneul mengambil chip itu dan mulai menyambungkan dengan laptopnya yang terbuka.

Lekas dara bernama lengkap Kim Haneul ini terlarut serius pada laptopnya yang memutar ingatan otak Kim Hyerim. Netranya belum pula mengedip kala menelaah video yang terputar. Seketika juga kebekuan menyelimuti runggunya, aksara apapun rasanya tercekat untuk menjabarkan pendeskripsian Haneul sekarang.

“Jongin,” hanya bait kata itu yang lolos dari mulutnya, mukanya terlukis tak percaya.

Putaran video ingatan Hyerim adalah Jongin—tunangannya, yang tengah berkelahi dengan Luhan—suami dari Hyerim. Sementara posisi Hyerim sendiri, sedang bersembunyi di balik ruang rahasiannya sembari mengintip persiteruan tersebut.

“Detektif Lu, kau sungguh jenius. Ya, aku adalah penerus pemimpin Xenos,”

Aksara figur Jongin yang berada diklip video membuat Haneul refleks membekap mulut dengan tangan. Tak usah ditebak akan parasnya yang tentu membingkai ketidak percayaan. Jonginnya… adalah alien Xenos? Bahkan penerus pemimpinnya?

‘BRAK!’

Sontak cengkeng mata Haneul melotot ketika Jongin dan Luhan kembali adu jotos dan berfinal akan ketidak berdayaan Luhan. Di sisi Hyerim—yang ingatannya tengah diputar kini, Si Wanita telah menintikan air mata kepermukaan melihat suaminya yang bersimpuh darah dan….

‘Ding! Nong!’

“Haneur-ah, aku pulang,”

Alihan atensi Haneul pun tersarang pada pintu depan yang menjadi tempat asal muasalnya vokal Jongin yang memotong fokusnya pada video chip memori Hyerim, disertai pula suara bell rumahnya yang berbunyi. Sekujur tubuh dara ini bergetar tatkala mengetahui bahwa Jongin merupakan satu dari seperkian makhluk menyeramkan yang tengah memporak porandakan Bumi sedemikian rupanya.

“Haneur-ah,” aksara namanya tergaung kembali dari bibir Jongin yang tak kunjung ia bukakan pintu.

Napas Haneul seketika tersenggal, dirinya menelaah sekitar kemudian beranjak menuju suatu tempat namun bukan untuk membukakan Jongin pintu, setelah mematikan laptopnya. Di sisi Jongin, jaka tersebut melipat dahi heran dan menyarangkan tatapan seirama pada daun pintu rumahnya. Dirasa Haneul telah tertidur meski larut malam belum menyapa, akhirnya, Jongin menggesek jari di pintu rumahnya yang lekas mendeteksi sidik jarinya. Tatkala sidik jarinya tersensor, pintu rumahnya membiaskan keypad angka-angka, langsung saja Kim Jongin menekan angka-angka tuk merangkai kata sandi rumahnya.

‘Klik!’

Buah bunyi tersebut menandakan akan password yang cocok dan pintu rumah yang terbuka melihatkan celah. Tangan Jongin terstir mendorong pintu rumahnya menjeblak agak lebar guna ia bisa melangkah masuk. Netra Jongin menelaah sekitar, mencari eksitensi tunangannya dengan kepala ke sana-ke mari menoleh.

“Haneul. Kim Haneul,” vokalnya pecah memanggil. Mulai terselipi rasa khawatir. Saat menoleh pada satu objek, kembali Jongin berfrasa, “Haneur—“

‘—Cklek!’

Intrupsi bising menghentikan sajak kata ranum Jongin yang secara refleks mengatup. Jantungnya serasa berhenti berdentum. Pistol, benda itulah yang menyentuh pelipisnya kala ini. Ujung dwimaniknya mulai memeriksa oknum yang mencodongkan pistol padanya dengan kegemetarannya. Retinanya dijatuhi sosok yang tengah ia cari-cari waktu kebelakang. Sosok perempuan dengan binar sayu, pula kaca-kaca dimatanya. Tak luput tangan yang mengukung pistol gemetar bukan main. Kaget tentu dialami Jongin sekarang dengan rasa tak percayanya.

“Haneul?” gumam pria Kim ini dengan sorot netra tak percaya, runggunya seakan terbang ke awang-awang. Kenapa… tunangannya ini… “Han—“

“—JANGAN PANGGIL NAMAKU, MAKHLUK XENOS!” bungkam bibir Jongin sebab Sang Gadis memotong ayat katanya dengan ranum gemetar—seiringi kiannya gemetar dikedua tangan nan memegang pistol.

Rahang Kim Jongin telah mengatup keras. Sama-sama juga matanya membias kekaca-kacaan. Realita gadisnya mengetahui jati dirinya hanyalah sebuah kejut, namun realita gadisnya yang hendak membunuhnya menyebabkan toreh luka dihatinya.

“Haneur-ah, aku mencintaimu,” ungkap tulus Jongin, pelan dan obsidiannya bertabrakan dengan Haneul serta membinarkan sebuah kedalaman akan hasrat tulusnya.

Nyaris Haneul luluh dan menurunkan tangan nan mengusai pistol yang mengunci Jongin untuk kaku sekarang. Namun pertahanan dalam diri Sang Gadis masih terbangun kuat, ia menatap berkobar pada Jongin.

“Aku mencintaimu, Kim Haneul,” kembali frasa cinta sialan itu dikumandangkan Jongin, menyebabkan katupan rahang Haneul mengeras dengan air mata brengsek merangsek dipipi. “Karena aku mencintaimu, jadi turunkan senjatamu dan selesaikan baik-baik.”

Dagu Haneul terangkat didominasi dengan sorot mata tajamnya. “Tapi kau telah membunuh suami sahabatku!” pita suara Haneul berada dioktaf tertingginya, menyebabkan dua kelopak Jongin menutup rapat dan terbuka kembali dengan kelirihannya.

“Itu karena…” tuturannya tercekat dikerongkongan. Hanya tatapan lirih yang mampu Jongin torehkan.

Hatinya menyangkal, tapi tangan Haneul perlahan menarik pelatuk dengan gemetar yang turut andil. Obsidiannya kembali menuangkan air mata. “Aku mencintaimu, Jongin. Tapi kau… adalah makhluk Xenos. Kau… penerus pemimpin makhluk menyeramkan yang membuat Bumi luluh lantah. Aku tak mau dirimu menjadi makhluk menyeramkan seperti ini, aku akan membuatmu berbeda.” Haneul mengutarakan kata dengan lekat netra dalam, pun air mata mendominasi kian derasnya.

Kembali likuid hangat menyusuri pipi Jongin, pasrah dalam kuasa gadisnya dan hanya setia beraksi patung. Masih jua diterjang kegemetaran, tangan Haneul perlahan menarik pelatuknya dan…

‘DOR!’

Suara tragis tembakan mengaum disusul dengan—

‘BRUK!’

—tumbangnya tubuh Kim Jongin yang ditorehkan tembakan dipelipis kanan kepalanya. Setelah itu pun, tubuh Haneul merosot dengan mata perlahan terpejam seraya menumpah tangis dengan isakan tertahan dirunggu.

║█║♫║█║— Umanoide Straniero —║█║ ♪ ║█║

EPILOG

Dwimanik humanoid tersebut merasakan rangsangan cahaya yang menimpanya, sontak menyebabkan maniknya meloloskan diri dari kegelapan. Pandangnya berusaha ia sesuaikan, entah bagaimana, sensor otaknya mengenali tempat ini meski inilah kala pertama ia mengeskpos dunia luar. Sebuah laboratorium pribadi lah tempatnya bernaung sekarang.

“Akhirnya kau bangun juga. Kukira ciptaanku gagal karena sudah lama tidak memakai ilmu sainsku,” vokal ayu menyeruak menjejali liang dengar Si Humanoid yang kemudian menoleh ke perempuan yang berkata tersebut.

Sosok perempuan dengan setelan jas laboratorium dengan name tag menjuntai memahatkan nama Kim Jongin dengan sebuah jepret dimensi pria bernamakan tersebut—entah mengapa, Si Humanoid berasa sedang bercermin tatkala melihat foto Kim Jongin. Sedang perempuan yang memakai jas milik Jongin, tengah menyematkan senyum kemudian agak membungkuk menjajarkan diri dengan  humanoid pertamanya setelah sekian lama tak bergelut di laboratorium.

“Hallo, Kai. Mulai sekarang meski kau robot, kau akan hidup selayaknya manusia,” kata Si Gadis setia dengan semat senyum yang sialnya membuat Si Humanoid—Kai, berdesir.

Gadis yang seperkian detik membuat Kai terpana ini mengelus pelan surainya dan kembali berkata seraya mengulas senyum tipis tak selebar barusan. “Aku Kim Haneul, pencipta dan juga kekasihmu.”

Kim Haneul, nama itu seakan terekam jelas diruang memori Kai. Mata Kai mengerjap-ngerjap, berusaha mengingat untai-untai memori yang terhempas jauh meski berujung pada kenihilan. Tanpa Kai ketahui, dirinya adalah Kim Jongin, alien Xenos yang dibunuh oleh tunangannya sendiri dan dijadikan sebagai umanoide straniero—robot alien atau bisa dibilang selayaknya  humanoid—robot manusia oleh Haneul, Sang Tunangan.

Landas alasan Haneul hanyalah satu, ia mencintai Jongin sepenuh hati. Tak ingin Sang Tunangan menjadi makhluk menyeramkan ditengah Bumi yang sedang diporak porandakan. Maka  dirinya rela menggunakan ilmunya sebagai mantan ilmuan guna memodif Jongin sedemikian rupa.

—FINALE—

SELAMAT ULANG TAHUN WAWA!

I know, this fic is very very very late. Tadinya mau diselesein satu hari biar tanggal 20 (sehari sesudah ente ultah, ane post) nyatanya ane kehilangan mood dan keasyikan liatin drama dan mager LOLOLOL. Fyi aja ya, FF model gini ada di file ane, biasa castnya HyerLu tapi belum beres eh udah buat dystopia lagi bareng Haneul-Jongin dan muncul lah HyerLu nyempil sebagai figuran yang ngenes :’’’’D ini maaf banget pasangan kesayangan ane muncul, bikos bingung mo pake siapa. Yowes Hyerim-Luhan dipakek AKAKAKAKAK. Ini juga tadinya posternya mau ada Jonginnya tapi sayang gak nemu position yang enak jadilah begono, Haneul doang yang nampak padahal yang akhirnya dijadiin robot itu Si Jongeen XD XD

Oh ya meski udah lewat. Happy birthday ya beb, wish you all the best :* semoga dinotais sama Jongin (AMIIIIINNN YA GAK?) dan semoga koleb kita rampung, summer holiday lagi nyambut ane soalne :’’’’D tapi gak lagi menggebu nulis, sayangnya huhuhuhu.

Semoga suka hadiahnya ya, walau genrenya begini sangaddd WKWKWKWK. Idenya dadakan loh dan aku cuman edit sekali cepat, jadi typo akan menjadi penghias :“`v

P.S : Jangan lupa komennya bagi yang baca dan selamat lebaran ya ^^ mohon maaf lahir batin.

P.P.S : Arti judulnya pake bahasa Itali yang artinya humanoid alien TROLOLOL.

[ HYEKIM WORLD ]

Iklan

4 pemikiran pada “[Oneshot] Umanoide Straniero – HyeKim

  1. Wakakkaka haiiii v: /pake toa/ jadi tadi pegang hp, trus tbtb ada email masuk eh ternyata ffnya uda jadii senenggg aaa >< aaaaa. Ini keren banged hmm ㅠㅠ hyerlu ngenes amat matii😂 but mereka sll mati di waktu yg agak samaan eakk eakkk v: XD wehehehee ongen kaga jadi makhluk jahad lagi uyy /nari kecak/ /ga/ wakakka btw makasee yakk aminn moga di notais jongin wahahaha /imajinasi kelewat tinggi/ 😂 dan pokoknya ente harus sama luhennn harus pokoknya haruss dikitin tergoda sama om om gud kisser xD wakakak . Pokoknya makasiii banged yakk uda mau bikinin kado buat temen ente yg suka janji janji palsu /ga/ :"v wkwkkw canda xD btw bacaa awalan pas si jonginnya kek gitu masa iya ane kesemsen sendiri lolololl😂 manis banged astogehh :"v last makasi (lagi) beb, luv yuu /ga/ v:

    • WKWKWK INI FF DADAKAN, MANA BARU NGEH TYPO DI POSTERNYA TP GAK APA LAH AHAHAHAHA.

      Ide ini nemplok pas lagi wara-wiri ngidam pen nulis dystopia-fantasy
      Hyerlu gak ngenes, mereka tetep setia sampe ajal menanti :v

      Ongeen gak jadi makhluk jahat tapi dia jadi robot dong 😎😎😎😎

      APAAN NOH, GAK BISA LAH MENGAGUMI SESEORANG TERLALU OVER TAK BAIK MAKA ITULAH FUNGSINYA BANYAK COGAN DAN GOOD KISSER LEBIH DARIPADA LUHAN, YA BUAT DILIRIK-LIRIK KAN SO ANJIRRR SAMPE NETES AIRMATA GARA-GARA KARISMA KAMPRETNYA SEUNGHOO DI RULER WKWKWKW. LUHAN TETEP NUMBER ONE TENANG, TP HATI INI BUKAN PUNYA DIA SEORANG, ITU AJA SIH LOLOL XD

      Iya janji palsu muluk ente, mana hyerlu ane mana? Wkwkwkwkwk, lagi butuh asupan ff mereka karena lagi mager ngelanjutin journey mereka di ff-ff ane. Dan btw masama ya muach beb :* suka gak kadonya? Suka gak? HARUS SUKA LOH /NGANCEM/PLAK

      Manis diawal itu danger nak, akhirannya si haneul ngebunuh jongin kan, untung adegan haneul belek jongin, mindahin organ-organ dia jadi robot ane skip, kalo gak wassalam WKWKWKWK XD

      LUV YU TUU LUHAN EH GAK, LUV YU TOO SEUNGHO WKWKWKWK

      BTW BANGGA DONG DI BLOG ENTE PERTAMA KALI FF YG MUNCUL ITU FF REBLOGAN FF ANE INI WKWKWK

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s