Caramelo pt. 2

Carameloo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: Shuutory

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1 2

Shuu’s Present this story

“Its’ time to member Caramelo!”

 

Suasana semakin panas setelah Chaerin menyiapkan bogem kepada berandalan itu. sedangkan siswa berkacamata itu tengah duduk dengan kaki yang gemetar. Chaerin menghela nafas berniat mengambil ancang-ancang.

“Jangan remehkan aku! Cepat maju!” ucap Chaerin sambil memicingkan matanya.

Kedua berandal itu berpandangan sebelum akhirnya maju beberapa langkah dan menyiapkan bogem kepada Chaerin yang jauh lebih kecil daripada mereka berdua. Chaerin kemudian maju terlebih dulu dengan melakukan penyerangan di area wajah bocah berandal yang bertubuh tinggi dari ketuanya itu. Tetapi, dia berhasil menepis.

“Seranganmu bagus juga Kwon Chaerin.” Kata berandal itu sambil menekankan namanya.

Gigi Chaerin terdengar bergemeletuk. Dengan secepat kilat ia menendang alat vital berandal berambut cepak itu kemudian membogem mentah berandal satunya. “Kau cepat lari.” Kata Chaerin kepada siswa berkacamata yang saat ini telah duduk di tanah dengan lutut gemetar.

“Ti-tidak aku harus bertanggung jawab dengan semua ini.” Kata siswa itu.

“Aishhh…. Jinjja!” umpatnya. Tak lama kemudian satu-persatu dari mereka bangkit. Dan Chaerin kembali menghajarnya lelaki berambut cepak itu ia tendang tepat di perutnya sedangkan yang satunya ia tonjok tepat di tulang hidungnya membuat mereka terhuyung.

“KALIAN DIAM DITEMPAT. DILARANG BERKELAHI DI AREA SEKOLAH!” kata seorang namja dari belakang Chaerin. Seketika itu Chaaerin refleks menoleh dan mendapati seorang namja yang wajahnya sangat segar diingatannya. Chaerin hanya menatap lelaki di belakangnya sekilas, tanpa memperhatikan dengan seksama. Sebelum pada akhirnya ia memukul kedua berandalan itu berkali-kali sampai lelaki yang di belakangnya ternganga mendengar suara bergemeletuk dari rahang yang Chaerin pukul.

Kedua berandalan itu rupanya tak menyerah. Salah satu dari mereka yang merupakan bawahannya maju melawan Chaerin yang tengah mengusap peluhnya di pelipis. Saat bocah tengik itu ingin melayangkan pukulan kepada Chaerin, ia dengan sigap memelintir tangannya ke belakang membuat berandal itu terjungkal.

Tapi ia lengah dan mendapatkan pukulan dengan balok kayu di punggungnya membuatnya tersungkur kelantai. Ia mendecih perlahan, walaupun merasakan perih di sekujur tubuhnya. Dan saat itu pula derap langkah itu –dalam ritme cepat- mengarah kepada Chaerin sambil berteriak menyumpah serapahi kedua berandalan itu, Chaerin kenal dengan logat formal itu. ia tersenyum dan bergumam, “Sunbae,”

Lelaki itu membantunya berdiri. sedangkan kedua berandalan itu masih menyiapkan kuda-kuda. Sambil menyeringai mempertontonkan gigi mereka yang ada bercak darah.

“Kau rupanya. Sudah terlanjur kita tak mau mundur.” Kata ketua berandal tersebut.

Chaerin memandang lelaki di sebelahnya itu dan memberi sedikit kode untuk melawan. Dan akhirnya pun mereka berempat adu bogem menimbulkan suara berisik di belakang sekolah. Chaerin mendapatkan pukulan di rahangnya, membuat sudut bibirnya terluka. Tetapi ia tak tinggal diam. Ia terus melawan. Sedangkan pria di sampingnya melawan dan mengunci gerak-gerik berandal tersebut kemudian menghempaskannya ke tumpukan kayu di sudut. Lelaki itu terlihat tak melawan ia hanya menangkis dan menangkis. Ia melawan seperlunya, gerakannya sangat taktis, serta bukan seperti perkelahian melainkan tarian. Membuat Chaerin menyeringai senang.

“Udara sangat dingin ya?” kata Chaerin sambil menghempaskan tubuhnya kesamping siswa berkacamata itu yang tengah gemetaran. Chaerin mengelap noda darah di bibirnya kemudian menepuk-nepuk siswa di sampingnya ini.

Pertengkaran ini telah usai, sejak beberapa menit lalu. Setelah kedua berandal itu lari terbirit-birit setelah sunbae misterius itu menghempaskan badan mereka berkali-kali ke tanah serta tumpukan kayu yang tak terpakai.

Sunbae, Kamsahamnida!” kata Chaerin kepada sunbaenya yang tengah berdiri sambil memasukkan tangannya di saku celana.

Gomawo.” Kata siswa itu kepada Chaerin. Ia terlihat takut-takut menatap Chaerin.

“Eyy,,, tak usah sungkan. Itu sudah kewajibanku melindungimu. Pria itu harusnya kuat, jika ada berandalan yang ingin mengerjaimu. Tatap matanya dalam dan katakan padanya kalau kau sibuk tak punya waktu meladeni mereka.” kata Chaerin panjang lebar sambil memijat punggungnya yang telah terpukul dengan balok kayu tadi.

“N-ne.” Kata siswa itu.

“Anda tidak perlu takut lagi setelah kejadian ini terjadi. Saya pasti akan menindak lanjuti perkara ini.” Kata Sunbae itu sambil kembali memebenarkan selempang tasnya.

“Sudah pulanglah, ibumu pasti mencari.” Kata Chaerin kemudian menghela nafas panjang.

Ne.” Kata siswa itu sambil memungut tasnya kemudian bangkit berdiri dengan kaki yang masih gemetaran. “Kamsahamnida, kamsahamnida.” Kata siswa itu sambil membungkuk berkali-kali membuat Chaerin tidak enak.

“Anda juga harus pulang.” Kata sunbae itu kepada Chaerin.

“Apa kau tidak bisa berbicara tidak seformal itu?” kata Chaerin dengan mata yang menyipit.

Lelaki itu terlihat gelagapan, “E-e, jika anda tak segera pulang aku akan meninggalkanmu disini.”

“E-e! Sunbae,” kata Chaerin dengan sedikit khawatir. “Kau bisa membawaku ke apotik atau kemanapun yang penting aku tak pulang jam segini. Aku bisa dimarahi Appaku.” Kata Chaerin, wajahnya sangat khawatir.

“Apa itu urusan saya?” kata sunbae itu lalu melenggang pergi.

Wajah Chaerin yang penuh memar itu langsung berubah mimik wajahnya menjadi ketakutan. Ia mengejar sunbae-nya itu. di brlari dengan langkah lebar dan menepuk pundaknya.

“Sun-bae, izinkan aku ikut bersamamu, eoh?” tanya Chaerin memohon. Pertama kali memohon kepada orang lain.

“Baiklah.” Kata sunbae itu sambil memutar mata. “Ikuti saya.” Katanya masih dengan logat formalnya.

Chaerin memandang punggung sunbaenya itu takut-takut. Ia tak pernah sekhawatir ini. Jika kalian ingin tahu alasan ia ketakutan, mungkin lain kali kalian akan tahu sendiri. Kelihatannya orang itu cukup baik. Wajah kriminalnya tak ada. Wajahnya tetap sangat tajam dengan sorot mata yang dingin.

Ia mengkuti langkah sunbaenya itu sampai tibalah mereka di tempat parkir. “E-hem.” Kata lelaki itu. “Saya tidak membawa helm lebih.”  Katanya.

“Tidak apa.” Jawab Chaerin sambil mamandang lelaki itu dengan tatapan redup.

“Saya rasa celana olahragamu itu berguna untuk saat-saat seperti ini.” Katanya kemudian meraih helm full-face berwarna hitam itu kemudian memakainya.

Ia meraih stang motor kemudian menaiki motor sportnya, kemudian menaikkan benda penyagga motornya. Ia kemudian mengeluarkan motornya yang berwarna hitam  itu dari parkiran. Kemudian lelaki itu terlihat memberi kode kepada Chaerin dengan tangannya untuk naik. Saat itu juga Chaerin langsung naik ke bagian belakang dari jok motornya.

Beberapa saat kemudian benda baja itu melesat seperti anak panah menembus keramaian kota Seoul yang sudah hampir gelap. Bersaing dengan benda besi lainnya menembus kebisingan kota. Lampu-lampu mulai berpendaran cantik. Mau tak mau Chaerin harus memegang erat tas lelaki itu dengan ragu. Berkendara dengan kecepatan tinggi ini menyenangkan juga.

Mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah, rumah itu berhalaman besar nan luas. Bangunannya minimalis. Chaerin menunggu aba-aba dari lelaki ini untuk turun. Tetapi lelaki ini malah menyalakan klaksonnya sekali, kemudian pintu dibuka oleh seoarang paman setengah baya. Lalu sepeda motornya melaju agak pelan menuju jalan yang kelihatannya menghubungkan halaman depan dengan garasi.

Benar saja tak lama kemudian lelaki itu memarkirkan sepeda motornya di sebuah garasi luas yang dipayungi fiber dan pintu geser. Disana berjejer mobil-mobil mewah dengan berbagai merek dan jenis. Chaerin terperangah melihatnya. Di depan garasi yang menghadap utara itu terlihat sebuah taman belakang yang dihiasi air mancur serta ayunan putih cantik. Oh, ya disudut taman besar tersebut terdapat sebuah bangunan yang Chaerin duga adalah gudang, tetapi gudang itu lebih besar dari gudang-gudang lainnya.

“Turun,” kata lelaki itu dingin. Chaerin mengikuti perintah ellaki itu lalu turun dengan perlahan. Ia hanya begong setelah turun dari sepeda motor lelaki itu.

“Ehem,” Chaerin berdeham menetralkan suasana. “Ini rumahmu?” tanya Chaerin takjub.

“Aniyo, rumah teman Saya.” Katanya sambil turun dari motor kemudian melepaskan helmnya sebelum ia merapikan rambutnya. “Ikuti saya.” Kata lelaki itu sambil berjalan ke arah taman.

Chaerin hanya mengikutinya dari belakang, ia tak ingin protes sekarang. Karena ia tak ingin lelaki itu menganggapnya tak tahu terimakasih. Ia mengikuti lelaki itu menuju sebuah bangunan yang Chaerin duga adalah gudang itu, tembok luarnya masih terlihat bata-bata yang menonjol. Memberi kesan klasik. Didepan pintu itu, terlihat lelaki itu memasukkan kode. Chaerin takjub dengan semua ini. Tak henti-hentinya mulutnya menganga.

Tak lama kemudian pintu tersebut berbunyi, menandakan terbuka. Sekali lagi Chaerin takjub. Walaupun rumahnya tak kalah besar dengan rumah ini, ia tak pernah melihat ruangan yang keren seperti ini sebelumya.

Chaerin melangkahkan kakinya ragu. Lelaki itu terlihat meliriknya sekilas kemudian melanjutkan menuruni tangga. Terdengar bunyi kegaduhan kecil di dalam ruangan itu. saat Chaerin satu persatu menuruni tangga ia sadar jika ruangan ini adalah sebuah ruangan bawah tanah yang biasa digunakan untuk menyimpan anggur. Tetapi entah bagaimana bisa di sulap menjadi seperti ini.

“Kyungsoo!” pekik sorang pria bersuara bass yang sedang bermain billiard yang ada di sudut ruangan. Sedangkan lelaki yang di panggil hanya menyunggingkan bibirnya sekilas.

Chaerin terlihat takut-takut berada disini, lebih tepatnya canggung. Di belakang billiard terdapat sebuah banner atau apalah itu yang bertuliskan Caramelo. Di tulis menggunakan tinta merah magenta.

“Ya! Nuguya?” tanya lelaki bersuara lebih kecil sambil menunjuk kebelakang lelaki misterius yang mereka panggil Kyungsoo –lebih tepatnya menunjuk Chaerin.

Chaerin berusaha santai untuk menampakkan dirinya. “Annyeonghamnida.” Kata Chaerin sambil membungkuk.

“KWON CHAERIN!!!” teriak mereka lantang ia beru menyadari jika ada satu orang lagi kali ini bukan lelaki melainkan seorang gadis yang sedang tiduran di sofa panjang sambil membawa manga di tangannya, wajahnya memantulkan cahaya yang di keluarkan TV di hadapannya.

“Kalian kenal aku?” tanya Chaerin sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Tentu saja! siapa yang tidak kenal Chaerin dengan penampilan sangar itu?” kata gadis itu dengan mata berbinar. Sedangkan Kyungsoo kali ini berjalan menuju kulkas setelah menyampirkan tasnya di gantungan yang biasa digunakan untuk menggantung mantel. Letak kulkas itu tepat di samping papan dart di samping meja billiard.

“Aku mengidolakanmu!” kata gadis itu kali ini sambil melemparkan manganya ke sembarang tempat. Lelaki bersuara bass itu mendekatinya masih sambil membawa tongkat billiard-nya.

“Kwon Chaerin? Aku tak salah lihat? Uwahhh… aku beberapa hari lalu meletakkan cokelat di lokermu lo.” Kata lelaki berambut platinum itu. Chaerin hanya membalasnya dengan senyum canggung.

“Tapi kenapa dengan wajahmu?” tanya lelaki yang lainnya.

“Bertengkar dengan dua berandal sekolah.” Kata Chaerin kemudian mereka semua meng-o perkataannya.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengan Ketua OSIS galak itu?” tanya gadis berambut coklat sepunggung itu, kali ini pisisinya duduk di sofa dengan mata yang tak sedikitpun berpaling darinya.

“Dia ketua OSIS?” tanya Chaerin sambil melongo. Mati kau Kwon Chaerin.

“Kau tak tahu Do Kyungsoo si Ketua OSIS berngsek itu?” tanya lelaki berambut platinum tersebut.

“Diam kau.” Kata Kyungsoo lalu duduk di samping gadis berambut cokelat itu, lalu melemparkan sebuah kaleng coca cola kepada Chaerin yang di tangkap dengan sempurna dengannya. “Kompres lukamu dengan itu.” kata Kyungsoo dingin.

“Terimakasih kau sudah membawa Kwon Chaerin ke sini.” Kata gadis itu senang.

“Jika tahu dia Kwon Chaerin aku tidak akan membawanya kesini.” Kata Kyungsoo. Jika berbicara dengan teman-temannya seperti ini bahasa formalnya seolah hilang ditelan bumi.

“Kalian hidup di zaman aa sebenarnya? Kwon Chaerin kau hidup di zaman dinasti Joseon? Dan Kyungsoo hidup di zaman dinasti Goryo?” kata lelaki berambut coklat itu.

“Sebaiknya kita melakukan perkenalan saja. dia saja tak tahu Kyungsoo apalagi kita. Pasti tak tahu.” Kata lelaki bermabut paltinum tersebut. “Seulgi!” kata lelaki itu sambil menunjuk gadis bermbut coklat itu.

“Kang Seulgi! Kick Boxing, aku sekelas denganmu, tapi kuperhatikan kau sangat suka tidur ya?” kata Seulgi smabil menggaruk kepalanya. Keren gadis ini bisa kick boxing. Bahkan Chaerin tak megingat jika ia punya teman sekelas Seulgi.

“Byun Baekhyun, karate, sekelas dengan Chanyeol dan Kyungsoo.” Kata pria berambut coklat itu.

“Chanyeol, Hapkido! Suka cokelat dan hobi memendangi Kwon Chaerin.” Kata pria berambut platinum ini dengan menunjukkan giginya yang berjejer rapi.nChaerin hanya tersenyum kecut elihat tingkah mereka semua yang aneh kaena mengidolakan dirinya. Ia dari radi masih mengompress lukanya dengan kaleng Coca Cola smabil sesekali menyruputnya.

“Giliranmu.” Kata Seulgi sambil menyenggol Kyungsoo. “Apa peduli.” Katanya sambil memainkan ponselnya. “Dia memang brengsek, tetapi ia sudah sabuk hitam Judo sebanyak dua kali.”kata Seulgi sambil menepuk-nepuk lengan sahabatnya itu.

“Kau punya bakat apa dalam bela diri?” tanya Baekhyun yang disertai anggukan Chanyeol. “Kalo tidak ada tidak apa-apa sih.” kata Chanyeol menambahi.

“Muai Thai.” Jawab Chaerin masih berdiri di tempatnya dari tadi. Chanyeol terlihat mengacungkan jempol kepada Chaerin sedangkan Seulgi saling pndang dengan Baekhyun.

“Anak orang jangan diinterogasi. Seulgi, obati lukanya sana.” Kata Kyungsoo masih sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya sedangkan badannya sudah melorot di punggung sofa.

Chaerin saat ini duduk sambil berbincang dengan Seulgi yang berada di sampingnya. Ia membantu Chaerin untuk mengobati lukanya itu dengan menempelkan plester di pelipisnya.

“Apa di selalu berbicara formal dengan orang lain?” tanya Chaerin lalu meringis kesakitan karena luka di bibirnya yang di beri antiseptik itu terasa perih.

“Siapa? Kyungsoo Oppa?” tanya Seulgi. Chaerin mengangguk kemudian merintih lagi. Selgi tetap saja mengobati Chaerin dengan lembut. “Dia seperti itu kepada orang yang tak dikenalnya saja. dia itu brengsek, arogan tetapi suatu saat ia bisa bersikap sangat perhatian dan baik hati kepada kami dalam waktu bersamaan.” Kata Seulgi. “Aku harap kau mau bergabung dengan kami, karena aku tak mempunyai teman wanita disini.”

“Ya! Kalian jangan membicarakanku dari belakang aku mendengarnya!” teriak Kyungsoo yang bermain dart.

“Ne!” kata Chaerin bersikap biasa saja.

“Sebenarnya kalian berkumpul disini mengapa?’ tanya Chaerin penasaran. Tak biasanay ia penasaran seperti ini.

“Ini sebenarnya adalah tempat berkumpul biasa. Kami bersahabat sejak kecil, dan aku adalah adik sepupu Chanyeol Oppa.” Kata Seulgi. “Kebetulan kami sama-sama mempunyai hobi beladiri, tapi berbeda jenis. Aku yang memaksa mereka untuk menyetujui nama geng ini Caramelo.” Kata Seulgi lalu terkikik.

Chaerin juga ikut terkekeh. “Kau terlihat termpil mengobati luka seperti ini.” Kata Chaerin.

“Iya, karena dulu setidaknya seminggu sekali aku harus mengobati mereka yang terkena pukulan karena berurusan dengan berandal  sekolah lain yang menantang kami bertarung.” Kata Seulgi lalu terkekeh.

“Kau gadis satu-satunya disini?” tanya Chaerin sambil memandang lekat Seulgi.

“Kupikir seperti itu. tapi sekarang tidak. Aku harap kau mau bergabung disini.” Kata Seulgi kemudian membereskan P3K , lalu berjalan menyimpannya kembali di dalam bufet. “Jangan hiraukan sikap Kyungsoo Oppa yang kasar, dia memang seperti itu. jika kau dekat-dekat dengannya hatimu dan telingamu harus mempunyai filter untuk menyaring omongannya. Sebetulnya ia sangat baik kepada kami jangan khawatir.”

Arraseo.” Kata Chaerin sambil memegang plester yang terpasang di sudut bibirnya.

“Jangan kaget juga, jika setelah kejadian ini kau akan di usik dengan Chanyeol dan Baekhyun.” Kata Seulgi , lalu duduk kembali di sebelah Chaerin.

“Kenapa kau tiak memanggil mereka dengan tambahan Oppa?” tanya Chaerin.

“Aigoo, mereka berdua tidak pantas disebut Oppa. Kelakuan mereka masih seperti anak-anak. Berbeda dengan Kyungsoo Oppa yang lebih muda daripada mereka tetapi memiliki sikap bijaksana.” Kata Seulgi sambil meninggikan intonasinya, sepertinya sengaja membuat Chanyeol dan Baekhyun dengar.

Tak lama kemudian dari meja billiard mereka mendengar teriakan Chanyeol dan Baehyun, “Kami dengar!”

“Jaga mulutmu itu ya gadis kecil!” kata Baekhyun sambil mengancam. Kemudian dibalas dengan juluran lidah Seulgi.

Chaerin berusaha bersikap biasa saja saat memasuki rumahnya. Rumahnya tidak besar namun tidak boleh jua dikatakan kecil. Ia kemudian mengganti sepatunya dengan sandal rumahan. Kemudian melewati ruan tamu lalu ke ruan tenah menyalakan lampu kemudian melanjutkan lankahnya menuju tangga.

“Kwon Chaerin,” pangil seseoran saat Chaerin inin cepat-cepat menaiki tangga. Chaerin dengan berat hati membalikkan badannya menghadap sang empu suara. Terlihat seoran lelaki setengah baya sedang berdiri sambil memegang tongkat kehormatannya.

Ne. Algeseuminda.” Katanya.

“Ada apa dengan wajahmu?” kata oran tersebut lalu mengatupkan rahang rapat-rapat, kemudian terlihat giinya bergemeletuk.

“Anda sudah pulang ataukah tidak jadi pergi?” tanya Chaerin.

“Kwon Chaerin! Appa bertanya padamu!” bentak ayah Chaerin yang membuat wajahnya memerah.

Ne. Jeoseonghamnida.” Kata Chaerin sambil memilin ujung roknya.

“Sudah berapa kali Appa peringatkan? Sudah kubilang berapa kali? Jangan pernah berkelahi! Sudah berapa kali Appa harus mengancammu? Ini kesempatanmu yang terakhir untuk berkelahi. Kalau Appa tahu seklai lagi, kau akan menerima hukumannya. Kukirim kau bersama kakak perempuanmu ke Jerman.”  Kata Appa Chaerin.

“Tapi ayah tadi-“

“Sudah kubilang apapun alasannya, berkelahi tetaplah berkelahi.” Katanya yan kesabarannya udah berada di puncak.

Ne. Algeuseumnida.” Kata Chaerin. “Hormat.” Tambahnya sambil hormat kepada Appanya yang dibalas hormat juga. Appanya melenggang pergi sebelum Chaerin juga pergi menuju kamarnya.

To be continue……

Akhirnya Caramelo update. Kali ini postnya akan teratur. Jadi baca terus ya Caramelo! Boleh kasih saran kok, jangan lupa like, dan komen ya! Shuu, Chaerin, dan Caramelo mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri! Minal Aidzin Wal Faidzin ^^ Selamat bermudik ria kalian. Ada kalian bacanya ada dalem kapal, bus, mobil, pesawat? Sampai jumpa minggu depan. Chu~

Iklan

14 pemikiran pada “Caramelo pt. 2

  1. Ping balik: Caramelo pt. 8 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Caramelo pt. 7 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Caramelo pt. 6 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Caramelo pt. 5 | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Caramelo pt. 4 | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Caramelo pt. 3 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Jadi ceye naksir sama cl 😆😆😆
    Ceye bakal jadi orang ketiga noh 😅😅
    Etapi gitu amat bapak nya Cl cak orang militer aja. 👮

  8. Astaghfirullah, gua ngakak sm sikapnya ceye sm baek masa😂😂😂
    Bisa gitu ya,,ke appanya sendiri hormat hormatan😂😂
    Fighting…❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s