Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki

gottabeyouposter

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us. Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh. Standard disclaimer appliedHope you like the story. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl |02. The Boy |03. First Impression |04. Bad Behaviour |[5] Let’s Play |06. Kill Her |07. Revenge | [NOW] 08. Kiss |

.

[ PLAY]

                       .

 

“Baby, who you?” —Who You; G-Dragon

.

.

previous chapter

 

Kyaaaa!

Irene berteriak sejadi-jadinya hingga sebuah rengkuhan hangat kini membuat Irene sedikit tenang. Bahu itu ada untuknya. Dada itu siap untuk menjadi sandarannya. Tangan itu dengan cepat memeluknya. Dan deru nafas itu berada dekat dengannya.

“Tenang Irene, aku ada di sini.”

Chanyeol ada untuknya.

“Hiks, aku takut..” lirih Irene sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan Chanyeol. Dia bahkan lupa seberapa bencinya dia dengan lelaki jangkung yang sekarang ada untuknya itu.

“Sttt…gwenchana. Malam ini jangan tidur di apartemenmu. Tinggallah bersamaku dan aku akan menjagamu, Irene.” bisik lelaki itu kemudian yang seketika membuat Irene terhenyak.

Apa katanya tadi? Tingga bersama Chanyeol?

.

Author’s Side

 

Irene ingin bertanya, apakah dia yang salah dengar atau Chanyeol yang salah berucap? Gadis itu menatap Chanyeol dengan gurat wajah kebingungan, penasaran dan terkejut. Ia menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol mengambil sedikit jarak dari pria itu.

“Apa maksudmu?” tanya Irene berusaha setenang mungkin, iya tentu saja ia gugup! Meskipun dia gadis yang terkenal dengan julukan tak memiliki perasaan ia tetap saja gugup jika diajak tinggal bersama dengan seorang pria. Apalagi kalau pria jangkung yang berada di dekatnya ini adalah pria yang belakangan ini kerap kali membuat jantung dan hatinya gusar.

“Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal sendirian, kau sedang dalam bahaya. Maka dari itu, mulai malam ini kau tinggal bersamaku saja.” Irene terperangah, Chanyeol dengan santainya mengucapkan kalimat yang sebetulnya agak mengherankan bagi Irene. Coba kalian bayangkan, pria yang kau benci tiba-tiba perhatian begini padamu? Apalagi Irene adalah seorang gadis yang sejujurnya sangat benci dikasihani tapi dia entah kenapa sangat terhenyak dengan sikap Chanyeol belakangan ini.

“Kenapa kau tiba-tiba berbuat baik padaku?” tanya Irene menyelidik, ia tentu patut curiga atas perhatian dadakan Chanyeol padanya. Sejauh ia mengenal Chanyeol, pria selalu ogah-ogahan tiap kali melihatnya.

“Apakah berbuat baik membutuhkan alasan? Jadi menurutmu aku akan membiarkanmu mati dibunuh oleh orang jahat dan aku tidur pulas di atas ranjangku? Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. Pokoknya kau tidak bisa sendirian. Aku akan terus menemanimu.” Chanyeol meremas kedua pundak Irene kemudian tersenyum teduh, Irene yakin sekarang kedua pipinya sedang merona. Sudah lama ia tak menerima perhatian seperti ini dan ini membuatnya sedikit terharu. Tapi, ia belum bisa mempercayai Chanyeol seutuhnya. Entahlah, ia hanya berpikiran seperti itu.

“Terimakasih, tapi itu mungkin akan merepotkanmu. Lebih baik aku membeli apartemen baru saja. Sepertinya cara itu lebih berguna.” Irene mendorong tangan Chanyeol menjauh dari pundaknya kemudian tersenyum tak enak.

“Kau ingin merepotkan appa-mu lagi? Ia pasti banyak pikiran semenjak kejadian haters itu.” Chanyeol mulai menghasut, rencananya harus berjalan lancar bagaimana pun caranya. Irene harus tinggal bersamanya agar dia bisa menyiksa gadis itu secara mental.

Irene terlihat mencermati perkataan Chanyeol yang ia anggap ada benarnya. Irene yakin ayahnya mungkin justru tidak mau membelikannya apartemen baru malahan ayahnya akan menyuruhnya tinggal di rumah mereka yang seluas istana. Irene tak ingin hal itu terjadi, jika ia tinggal di rumah lagi berarti ruang geraknya semakin sempit, ia akan diawasi kemana-mana.

“Kau benar juga, tapi—”

“Sudah tidak usah bertapi-tapi lagi. Ayo, ambil pakaian gantimu dan mandi di apartemenku saja. Aku akan memasakkan makan malam untuk kita berdua.” Irene mengangguk takut pada Chanyeol. Sepertinya ia harus mulai belajar mempercayai Chanyeol karena pria itu kelihatannya melakukan semua hal ini dengan tulus.

“Ayo, aku temani, siapa tahu nanti tiba-tiba ada orang di dalam.” Irene pun masuk ke dalam apartemen disusul Chanyeol di belakangnya. Gadis itu tak tahu kalau Chanyeol diam-diam tertawa puas di dalam hatinya. Salah besar jika Irene mempercayai si brengsek Chanyeol.

Chanyeol duduk di atas sofa apartemen Irene selagi menunggu gadis itu mengambil piyama tidur dan perlengkapan mandinya.

Ck! Hanya mengambil piyama dan sabun saja sampai lima belas menit!” gerutu Chanyeol dalam hati, kalau bukan karena permintaan bill untuk tidak langsung membunuh Irene, Chanyeol pasti sudah mencekik Irene lalu menembak kepalanya sampai mati.

Melihat kemunculan Irene di ambang pintu kamar, Chanyeol kembali memasang senyum palsunya.

“Sudah selesai?” tanya Chanyeol lembut tak luput dengan senyum teduh palsu miliknya yang terukir di wajahnya.

“Iya, tapi Chanyeol kau yakin kita ti—”

“Irene, aku ikhlas. Aku bukan pria brengsek yang membiarkan seorang gadis tinggal sendiri dan bisa saja mati diperkosa sewaktu-waktu nanti.” Chanyeol bangun dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Irene. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di atas puncak kepala Irene lalu tersenyum manis, “Selama bersamaku, kau akan baik-baik saja,” ucapnya kemudian mengacak surai ungu milik Irene.

Irene lekas menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya yang sudah semerah cherry. Kenapa jantung berdegub cepat begini? Ah, entahlah, namun yang pasti Irene merasa perasaannya lebih ringan sekarang.

 

 

“Kenapa kau belum tidur?” Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk putihnya sembari berjalan menuju sofa. Mendekati Irene yang sudah anteng dengan piyama berwarna hitam miliknya.

“Ini belum jam tidurku,” jawab Irene sekenanya, karena sejujurnya bukan itu alasan yang sesungguhnya. Irene tidak tahu ia harus tidur dimana? Di sofa? Di kamar? Di lantai? Dan juga ia tengah memikirkan suatu hal: kenapa ia dan Chanyeol tidak tinggal di apartemennya saja?

Chanyeol menjatuhkan pantatnya ke bagian sofa kosong tepat di sebelah Irene. Ia masih menggosok-gosok rambutnya yang basah.

“Hei, rambutmu bisa rusak kalau di keringkan begitu, pakai hair dryer saja.” terang Irene seraya melirik surai hitam milik Chanyeol. Chanyeol kemudian menghentikan aktivitasnya lalu menatap Irene, “Aku sudah coba dan aku malah hampir melukai telingaku,” Chanyeol meniup-niup poninya.

“Sini, biar aku bantu mengeringkannya. Kau punya hair dryer ‘kan?” Chanyeol mengangguk sebagai jawabannya, ia pun bergerak kemudian mengambil pengering rambut di laci lemari televisi. Ia kembali ke sofa dan menyerahkan benda itu pada Irene.

Paling tidak, Irene bisa membalas kebaikan Chanyeol dengan perbuatan-perbuatan kecil seperti ini. Gadis itu pun menyuruh Chanyeol duduk di atas karpet agar ia bisa menggapai kepala lelaki tiang itu. Irene menghidupkan pengering rambut itu kemudian mulai mengeringkan rambut Chanyeol dengan telaten.

“Eum… Chanyeol, kenapa kita tidak tinggal di apartemenku saja?” Irene bersyukur akhirnya pertanyaan itu mampu ia tanyakan pada Chanyeol. Chanyeol yang tengah menikmati sentuhan Irene di kepalanya kemudian menjawab dengan sedikit terkekeh, “Yang ada kita berdua mati, dimalam yang sama dan di lokasi yang sama.”

“Ah.. begitu, ya..” Irene mengangguk mengerti, kenapa ia tidak berpikiran sampai ke situ? Jawaban Chanyeol akhirnya membuatnya tak lagi uring-uringan.

Irene mematikan pengering rambut ketika ia sudah selesai mengeringkan rambut pria Park itu. Ia meletakkan alat itu di atas meja disusul Chanyeol yang naik ke sofa.

“Kau tidur di kamar dan aku tidur di sofa.” Irene menoleh pada Chanyeol dengan terkejut, “Kenapa begitu? Ini ‘kan apartemenmu, aku hanya menumpang.” tolak Irene cepat, ia merasa kebaikan Chanyeol suda keterlaluan. Ini membuat Irene merasa sangat tidak enak.

“Jika nanti penjahat itu tahu-tahu membongkar apartemenku yang pertama ia lukai adalah aku, bukan kau.” jawaban Chanyeol membuat Irene menge-blush. Gadis itu megap-megap seakan lupa caranya berbicara. Lidahnya kelu akibat pernyataan Chanyeol yang sangat menyentuh hatinya.

“Ka-kau terlalu berlebihan,” ucap Irene seraya memukul lengan Chanyeol pelan, ia memang terkekeh tapi hatinya menari samba di dalam sana.

“Gadis cantik sepertimu harus dapat perhatian khusus,” Chanyeol tersenyum tipis kemudian bangkit berdiri. Ia seakan tak tahu kalau Irene benar-benar terbawa perasaan saat ini. Chanyeol benar-benar berhasil memporak-porandakan hati dan pikiran Irene.

giphy (1).gif

 

 

Irene menatap jam yang tergantung di dinding kamar Chanyeol. Gadis itu mendesah pelan, sudah hampir pukul setengah satu pagi dan ia sama sekali belum bisa memejamkan matanya. Senyum Chanyeol tak kunjung hilang dari pikirannya. Belum lagi sikap manis Chanyeol yang membuat tersipu hingga sekarang.

“Ahhhh… Irene, dia hanya kasihan padamu! Jangan baper!” rutuk Irene kesal, ia bergerak gusar di atas kasur milik Chanyeol. Akhirnya ia pun beringsut turun dari kasur, hendak menuju dapur untuk meminum segelas air dingin guna menjernihkan pikirannya.

Irene memutar knop pintu yang tidak dikunci—karena Chanyeol melarangnya mengunci pintu—kemudian menyembulkan kepalanya keluar. Ia tersenyum tipis melihat sosok Chanyeol yang tidur dengan damai diatas kasur berselimutkan sebuah selimut tipis bercorak kotak-kotak.

Irene melangkah pelan keluar dari kamar. Berjalan jinjit-jinjit menuju dapur agar tak menimbulkan suara yang bisa saja membangunkan Chanyeol yang sudah tertidur pulas. Gadis itu pun tiba di depan kulkas dan segera mengeluarkan sebotol air mineral dingin. Ia segera meneguk isinya dengan rakus kemudian membuang nafas lega.

“Oh astaga!”

Irene memekik tertahan ketika mendapati Chanyeol mendadak sudah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari. Gadis itu mengelus-elus dadanya pelan, “Kau mengagetkanku saja!” omel Irene kesal, ia segera melangkah kembali menuju kamar namun tangannya di tahan oleh Chanyeol.

“Irene, leherku sakit, kita tidur di kasur berdua, ya?” pertanyaan Chanyeol membuat Irene membulatkan mata beserta bibirnya, “A-apa katamu? Tidak-tidak! Biar aku yang tidur di sofa!” tolak Irene mentah-mentah, meskipun terlihat baik dan tidak tertarik pada wanita, Chanyeol tetaplah seorang pria yang sewaktu-waktu bisa liar juga. Bisa-bisa terjadi hal yang tidak diinginkan!

“Jangan! Kau tidak boleh tidur di sofa!” Chanyeol menolak balik, membuat Irene membuang nafas kasar.

“Lalu bagaimana? Kau bilang lehermu sakit!” tegas Irene yang membuat Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.

“Errr….bagaimana kalau begini saja. Tempat tidurku itu kan king size, jadi pasti muat untuk kita berdua ditambah pembatas. Itu, maksudku, pembatas seperti….guling, bantal, semacam itulah. Bisa kan? Aku janji tidurku akan tenang, serius.”

Irene menatap Chanyeol yang tengah memandangnya intens itu dengan sangat lekat, seperti menimbang-nimbang usul Chanyeol. Akhirnya setelah beberapa detik berpikir, Irene akhirnya menghela nafasnya pelan sambil mengangguk.

“Baiklah, ayo, tidur bersama.”

“Tapi ada pembatas tentunya!” lanjut Irene dengan cepat. Sungguh, gadis itu benar-benar gugup. Pipinya bahkan jauh lebih merah daripada sebelumnya. Chanyeol, apa yang sudah kau lakukan pada seorang Bae Irene?!

 

 

Irene mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu menaikkan kedua tangannya sambil menguap lebar. Dia melirik jam di sebelah nakas. Sudah pukul enam. Akhirnya gadis itu bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan segera menuju pintu kamar. Sungguh, dia harus mengisi kerongkongannya karena dia benar-benar haus saat bangun tidur.

Brukhh.

Tepat setelah Irene membuka pintu, tubuh mungil gadis itu segera menubruk keras badan jangkung di depannya. Irene mengucek-ucek matanya, masih belum sepenuhnya sadar.

“Kau sudah bangun?” suara berat itu membuat Irene secara otomatis mendongakkan kepalanya menatap sosok tinggi itu. Irene meneguk ludahnya kasar ketika menemukan Chanyeol yang tersenyum ke arahnya. Oh sungguh, Irene bisa terkena serangan jantung mendadak!

“I-iya,” jawab gadis itu terbata sambil menunduk malu. Irene mengutuk dirinya di dalam hati. Bagaimana bisa dia lupa kalau kemarin dia menumpang tinggal di apartemen Chanyeol?!

“Hm, Irene. Bisa kau minggir sebentar? Aku ingin memakai kamar untuk berganti pakaian. Tidak apa kan? Aku tidak akan lama. Kau tunggu saja di sofa, okey?”

Irene tidak menjawab Chanyeol. Gadis itu masih menundukkan kepalanya sambil menggeser tubuhnya beberapa langkah ke samping, membiarkan ruang yang cukup untuk badan Chanyeol masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Tepat setelah suara pintu yang tertutup terdengar, Irene segera berlari cepat ke arah dapur dan menengak minuman sisanya kemarin malam yang masih tergeletak di meja dapur dengan membabi-buta.

Kenapa Irene merasa benar-benar gerah sekarang ini?

Oh, sederhana. Salahkan saja Chanyeol yang hanya menggunakan handuk putih yang melilit bagian bawahnya itu sehingga Irene mau tidak mau melihat bagian atas Chanyeol yang ternyata sangat sempurna untuk ukuran seorang pria. Badan tegap Chanyeol punya dua otot bisep yang kekar, leher dengan guratan tegas dan jakung yang naik turun. Belum lagi bagian perut Chanyeol yang keras dan berisi enam lipatan sempurna yang sempat membuat Irene ternganga. Nerd darimananya?! Irene sudah salah sangka selama ini. Bahkan badan Chanyeol bisa dibilang sangat bagus. Sepertinya si nerd itu merawat tubuhnya dengan sangat baik, pikir Irene menjadi-jadi.

Irene bahkan harus mengibas-ibaskan tangannya ke arah leher karena masih merasa gerah yang luar biasa. Pantas saja dia langsung menunduk malu tadi, dia baru saja melihat pemandangan sexy secara eksklusif di pagi hari. Seliar-liarnya Irene, gadis itu belum pernah melihat tubuh topless lelaki. Tunggu, Irene lupa satu hal. Chanyeol tidak mengenakan kacamata. Ya, lelaki bermarga Park itu tidak menggunakan benda yang selalu menghias wajahnya itu. Dan Irene tiba-tiba bersyukur di dalam hati karena Chanyeol selalu menggunakan pakaian biasa saja ke kampus dan menggunakan kacamata yang membuatnya terlihat nerd. Bagaimana tidak bersyukur. Bukankah itu artinya hanya Irene gadis yang melihat dengan eksklusif betapa sempurna badan tegap Chanyeol dan betapa tampannya Chanyeol tanpa kacamata?

Baiklah, Irene sudah memutuskan sesuatu. Mulai sekarang dia tidak akan memanggil Chanyeol dengan sebutan nerd lagi, tapi nerd tampan.

“Irene?”

Gadis yang tengah melamun itu mengerjap. Dengan kaku dia berbalik dan menatap Chanyeol yang baru saja keluar dengan menggunakan pakaian lengkap. Chanyeol menggunakan celana jeans panjang berwarna hitam dan hoodie tebal sederhana berwarna senada, hitam. Lelaki itu menenteng tasnya di punggung dan sepatu kets lusuhnya di tangan kanan.

“Aku sudah selesai, kau bisa menggunakan kamar mandi di dalam.” lanjut Chanyeol ketika Irene masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tentu saja, lelaki itu tidak menggunakan kacamatanya.

“Kenapa tadi kau mandi di kamar mandi luar?” baik, sepertinya Irene cukup banyak bicara hari ini.

“Ah, itu, sebenarnya aku tidak mau menggangumu yang masih tidur. Aku suka bernyanyi tidak jelas di kamar mandi, takutnya kau jadi terbangun.” Chanyeol tertawa kecil membuat Irene mau tidak mau meneguk ludahnya lagi dengan kasar. Gadis itu merapikan sedikit rambutnya dan berjalan menuju pintu kamar Chanyeol.

“Kau pakai kacamata kan ke kampus?” bisik Irene ketika dia melewati lelaki itu, dan ketika Chanyeol mengangguk singkat, Irene segera bersorak dalam hati.

“Aku mandi dulu.” pamitnya sambil menutup pintu kamar Chanyeol.

Oh, siapa yang menduga Irene akan melompat-lompat kegirangan di dalam kamar mandi hingga hampir terpeleset hanya karena jawaban Chanyeol? Tunggu, kenapa Irene harus senang? Ah, Irene bisa gila kalau begini terus.

 

 

“Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan. Kau suka pancake kan?”

Irene yang baru saja keluar dari kamar Chanyeol dengan sudah berpenampilan cantik itu mengangguk pelan. Gadis itu lantas duduk di kursi tinggi meja bar milik Chanyeol yang berada di dapur, lalu tersenyum tipis saat Chanyeol meletakkan sepiring pancak hangat di depannya.

Irene menyendokkan sesendok pancake itu ke mulutnya, lalu tersenyum-senyum sendiri karena pancake yang ternyata sangat enak itu. “Kau pandai memasak,” puji Irene tanpa sadar.

“Yah, nasib tinggal sendiri harus pandai masak kalau tidak mau mati kelaparan,” jawab Chanyeol sambil terkekeh dan duduk di depan Irene untuk menikmati pancake buatannya juga. Mendengar itu Irene hanya bisa ber-oh ria.

Acara sarapan pagi itu cukup diam. Irene lebih banyak menunduk malu-malu sambil menyendokkan suapan demi suapan pancake ke dalam mulutnya. Gadis itu sesekali mencuri pandang ke arah Chanyeol yang juga menyuap pancake sambil mengecek notifikasi ponselnya.

“Matamu minus berapa?” tanya Irene akhirnya yang membuat Chanyeol segera menatap gadis di depanya dengan bingung. Tanpa sadar Chanyeol segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menatap Irene lagi. “Maksudmu mataku?” Irene mengangguk. “Tidak punya minus, mataku sehat-sehat saja.” jawab Chanyeol kemudian sambil terkekeh pelan.

Irene tercengang mendengar jawaban Chanyeol. “Lalu kenapa kau memakai kacamata?” tanyanya lagi dengan bingung. “Hanya ingin saja. Tidak boleh, ya?” jawab Chanyeol yang membuat pipi Irene merona.

Kau menyembunyikan fakta kalau kau itu tampan, tapi entah kenapa aku senang, batin Irene sambil menggeleng kepada Chanyeol.

“Itu hakmu pakai kacamata atau tidak.” ucapnya pada lelaki jangkung itu.

Suasana pun kembali hening. “Aku sudah kenyang.” putus gadis itu kemudian sambil turun dari atas kursi dan membawa piring kotornya ke arah wastafel. Oh, betapa baiknya Irene hari ini. Biasanya dia hanya meletakkan piring kotor begitu saja di atas meja.

“Irene, aku bisa minta tolong?” Irene yang masih berada di depan wastafel itu menatap Chanyeol dengan bingung.

“Bisa keringkan rambutku lagi dengan hair dryer seperti kemarin?”

Oh, pipi Irene tentu saja merona.

“Te-tentu,” jawabnya kemudian sedikit gagap.

 

 

“Belajar yang baik. Jangan melamun di kelas. Proffesor Jung benci mahasiswa yang tidak mendengarkan penjelasannya.”

“Jangan buat masalah. Kalau ada yang menggangumu atau menghinamu, panggil saja aku, arraseo?”

“Mulailah mencari teman. Jangan terlalu galak dan menutup diri.”

“Kalau masih belum dapat teman dan kau harus makan siang sendirian, duduk saja bersamaku di kantin. Aku pasti ada di kantin di jam makan siang.”

 

Irene meneguk ludahnya kasar sembari mendengarkan penjelasan Proffesor Jung. Sungguh, tumben-tumbennya dia mendengarkan penjelasan dari Proffesor yang sudah cukup berumur itu. Meski sesungguhnya Irene melamunkan apa saja petuah yang disampaikan Chanyeol ketika mereka berpisah di parkiran kampus. Ya, hari ini Irene menawarkan tumpangan lagi kepada Chanyeol, dan lelaki bermarga Park itu setuju untuk berangkat ke kampus bersamanya.

“Makan siang bersama di kantin?” pikir Irene menimbang-nimbang. Ya, dia memang belum punya teman. Masalahnya semua orang segera menunduk ketika Irene mengajak mereka berbicara padahal Irene hanya mengatakan kalau tipex orang itu jatuh atau Irene yang meminjam bolpoin berwarna karena Irene hanya membawa satu pulpen berwarna hitam ke kampus. Mungkin mereka sudah kepalang ketakutan melihat apa yang sudah gadis bermarga Bae itu lakukan di masa orientasi kemarin.

“Baiklah, materi hari ini cukup sampai di sini saja. Selamat siang semuanya.”

Irene mengerjap sambil menatap kepergian Proffesor Jung. Kelasnya ternyata sudah selesai beberapa menit yang lalu tapi Irene tidak sadar karena menghabiskan waktunya untuk melamun. Gadis itu lantas melirik jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya, pukul satu siang lebih. Ini waktunya makan siang.

Gadis itu menimbang-nimbang sambil bangkit berdiri dari kursinya setelah menyimpan semua peralatan belajarnya ke dalam tas dan menenteng tas channel yang tumben-tumbennya berisi materi pelajaran dan bukannya peralatan make up seperti kemarin-kemarin.

Apa aku harus makan bersama si nerd tampan itu?” pikirnya sambil melangkahkan high heels-nya keluar dari dalam kelas.

 

 

Chanyeol ada di sana, duduk bersama teman-temannya yang lain sambil bercanda ria di salah satu kursi kantin. Irene mengingat mereka semua, para panitia orientasi. Ada pemuda tan yang kemarin ia suruh membersihkan apartemennya, putri dari Jung Group yang menjilat sepatunya, pemuda cukup tinggi yang kemarin berteriak kepadanya ketika menyiram Chanyeol dengan jus jeruk saat pertama kali menginjak kantin, juga Chanyeol sendiri yang tertawa keras di samping pemuda tan itu entah karena alasan apa.

Irene ingin menghampiri Chanyeol, tapi dia segera berhenti ketika dua orang lelaki tidak cukup tinggi datang dan bergabung dengan mereka berempat. Bahkan satu dari lelaki itu yang berambut cokelat berucap dengan sangat heboh kalau dirinya baru saja berbaikan dengan kekasihnya.

Niat Irene urung. Chanyeol terlihat sangat bahagia di sana. Terlebih Chanyeol tertawa sangat lebar hingga tidak sadar kalau Irene sudah berdiri di pintu masuk kantin sejak beberapa menit lalu dan memandanginya.

Gadis itu pun menarik nafasnya dalam-dalam. Memangnya apa salahnya makan sendirian? Toh, selama ini dia juga selalu makan sendirian. Akhirnya Irene pun memantapkan diri. Gadis itu segera melangkahkan kakinya dengan angkuh memasuki arena kantin yang luas dan melewati meja Chanyeol begitu saja.

“Ah, Irene.”

Oh, bahkan Irene baru saja mengabaikan Chanyeol yang menyapanya. Irene sedikit tersenyum hambar ketika menemukan raut bingung Chanyeol karena dirinya hanya lewat begitu saja. Irene tidak ambil pusing. Akhirnya gadis itu mendudukkan dirinya di meja kosong yang bersisian dengan kaca kantin, berjarak dua meja kosong dari meja Chanyeol.

 

 

“Ah, Irene.”

Chanyeol membulatkan matanya ketika Irene, gadis yang kemarin terlihat sangat ketakutan dan malu-malu kucing di pagi hari karena melihat badan setengah telanjangnya, melewatinya begitu saja tanpa menggubris sapaannya. Chanyeol menautkan kedua alisnya. “Ada apa dengan Irene?” batinnya penuh tanda tanya.

Ya! Kenapa kau menyapanya?” tanya Chen cepat sambil memukul pelan tangan Chanyeol yang terkulai di atas meja. Chanyeol menatap pemuda Kim itu dengan cepat. “Memangnya kenapa?” tanyanya dengan bingung.

Heol, kau pura-pura tidak tau atau bagaimana? Dia itu musuh semua angkatan di kampus ini.” dengus Krystal yang nampaknya masih kesal kepada Irene karena harus menjilat sepatu juniornya itu. Kai nampak menepuk-nepuk bahu kekasihnya itu, memberikan semangat karena Krystal nampak emosi menemukan Irene berada di tempat yang sama dengannya.

“Oh, nafsu makanku bahkan jadi hilang.” lanjut gadis cantik itu dengan kesal.

“Menurutku biasa saja.” bohong Chanyeol padahal sebenarnya dia juga mengakui Irene sangatlah merepotkan. Gadis bermarga Bae itu benar-benar manja dan suka berbuat seenaknya. Tapi mengingat Irene duduk tidak terlalu jauh darinya dan gadis itu mempunyai kemungkinan mendengar semua percakapan mereka, bukankah itu artinya Chanyeol harus bermulut manis?

“Kurasa dia terlihat cukup baik. Jangan menilai orang dari luarnya saja.” lanjut Chanyeol yang membuat kelima temannya menatap lelaki bermarga Park itu dengan pandangan kaget bukan main.

“Kau kerasukan setan mana?” astaga, bahkan Kyungsoo yang biasanya masa bodoh dan lebih tertarik membaca buku—motivasi Kyungsoo adalah mengalahkan Chanyeol dan menjadi peringkat satu—kini juga ikut angkat bicara.

“Hei bung, jangan bilang terjadi sesuatu ketika kau mengangkatnya ke UKS?” selidik Baekhyun kemudian dengan penasaran. Sebenarnya dia ingin melanjutkan kisahnya yang berbaikan dengan kekasihnya itu kemarin malam, tapi sepertinya membicarakan Chanyeol dengan junior kurang ajar bernama Bae Irene itu lebih menarik.

“Tidak terjadi apa-apa.” kata Chanyeol lagi dengan tegas. Lelaki bermarga Park itu memutar matanya malas. “Kenapa kita harus membicarakan Irene?” lanjutnya kemudian sambil meneguk jus jeruknya dengan cepat.

“Seperti tidak ada topik lain saja.”

 

 

“Seperti tidak ada topik lain saja.”

Irene meletakkan garpu di tangannya dengan cukup kasar. Dia memang membelakangi Chanyeol, tapi dia tau betul kalau suara berat itu adalah milik Chanyeol yang kemarin dan tadi pagi bersikap baik kepadanya. Awalnya Irene memang melayang ketika Chanyeol membelanya di depan teman-temannya, tapi ketika Chanyeol mengucapkan kalimat terakhir itu, Irene merasa ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan Chanyeol. “Brengsek,” gumam Irene akhirnya pelan hampir tanpa suara.

“Bukankah itu si jalang Irene?”

“Hush, jangan berucap keras-keras. Kau mau bernasib seperti Krystal sunbae? Dia itu anak daddy yang manja. Jangan membuat masalah dengannya.”

“Memangnya kenapa? Biar saja. Anak sogokan sepertinya juga tidak pantas ada di Universitas Seoul yang elit.”

“Benar juga, aku masih penasaran berapa yang appa kayanya itu berikan untuk menyogok rektor agar si jalang itu bisa masuk universitas paling bergengsi di Korea.”

“Namanya juga anak daddy, biasa, pasti anak manja. Makanya tingkahnya seperti tidak punya tata krama seperti itu.”

Irene menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Dia masih kesal dengan Chanyeol, tapi bisik-bisik kumpulan gadis yang duduk beberapa meja di depannya itu benar-benar mengusiknya. Beruntunglah orang yang duduk di meja antara Irene dan kumpulan gadis penggosip itu baru saja pergi sehingga Irene bisa dengan jelas mendengar bisikan-bisikan mereka tentang Irene si jalang manja.

“Hei lihat, sepertinya dia melihat ke arah sini.”

“Sudah biarkan saja. Anak manja ya tetap anak manja.”

 

Irene mendengus, kemudian bangkit berdiri sambil menenteng sling bag-nya. Awalnya Irene ingin mengabaikan mereka saja dan pergi dari kantin, tapi melihat kumpulan Chanyeol yang masih duduk sambil tertawa di meja mereka membuat Irene semakin kesal saja. Akhirnya setelah rasa gondok Irene mencapai puncak, gadis itu segera memutar arahnya dan berjalan angkuh ke meja kumpulan penggosip itu.

BRUKH!

Irene menendang kasar kursi salah satu dari kumpulan gadis itu—hingga membuat gadis yang duduk di atasnya tersentak kaget—sambil menatap mereka dengan tajam. Seketika suasana kantin berubah hening. Irene lagi-lagi menjadi pusat perhatian.

“Kau bilang apa tadi? Anak daddy manja?” sarkas gadis itu sambil menarik kasar rambut salah satu gadis di meja itu, rambut gadis yang tadi memulai mengatai-ngatai Irene.

Bukannya menolong, gadis-gadis yang tadi sok berani itu malah menundukkan kepalanya, membiarkan salah satu teman mereka kesakitan karena jambakan Irene.

“Dengar ya, brengsek. Aku memang anak daddy. Memangnya kalian tidak punya daddy, huh? Kalau tidak ada sperma appa kalian, kau juga tidak bisa ada di dunia ini!” bentak Irene dengan frontal dan makin menguatkan jambakannya pada gadis malang itu. Irene sama sekali tidak peduli meski gadis yang rambutnya ia jambak itu sudah menangis dan meminta ampun pada Irene.

BRUKHH!

Irene menendang lagi bangku di sebelah gadis yang ia jambak. Gadis berponi itu makin menundukkan kepalanya, takut menjadi sasaran ambukan Irene yang baru.

“Jalang? Memangnya kau pikir aku ini gadis murahan? Kau saja yang jalang. Lihat saja pakaian murahanmu itu. KW berapa, huh? Tidak punya uang membeli baju sexy yang original? Kurang bahan begini tapi harga bajuku bisa membeli satu truk baju sampahmu itu. Bukannya kau yang jalang? Apa-apaan lipstick tebal semacam itu? Mau ke kampus atau menggoda ahjussi, huh? Ah, atau mau kukenalkan pada ayahku? Ayahku itu ahjussi paling kaya raya. Siapa tau kau bisa menggodanya demi membeli baju baru yang sama mahalnya dengan bajuku, bitch! Dasar tolol! Membedakan jalang dan wanita kelas atas saja kau tidak bisa!”

“IRENE!”

Gadis bermarga Bae itu memutar matanya malas. Dia tau, Chanyeol yang baru saja berteriak kepadanya. Tapi Irene tidak peduli. Memangnya siapa Chanyeol sehingga bisa mengatur-atur dirinya.

Irene lantas melepaskan jambakan rambutnya pada gadis yang sudah menangis itu, lalu menjambak pelan rambut gadis berponi tadi. “Jangan bermain-main denganku.” Ucapnya dengan sinis lalu melepaskannya dengan cepat.

Irene berbalik, lalu menatap Chanyeol dengan tatapan nyalang. Dia bisa melihat Chanyeol yang geram dibalik rahang tegas Chanyeol yang mengatup. Irene sempat ingin menghentikan aksinya, tapi Irene berpikir lagi. Bukankah aku ini bukan topik penting di mata Chanyeol? Jadi untuk apa berhenti? Alhasil Irene tersenyum miring, lalu berbalik ke arah gadis-gadis ketakutan itu.

Irene lantas mengangkat tinggi-tinggi jus dan minuman bersoda yang ada di atas meja mereka. Dengan cepat Irene berjalan memutar dan menyiramkan minuman-minuman itu ke kepala-kepala gadis yang hanya bisa menunduk tanpa melawan karena takut Irene semakin mengamuk. Akhirnya, Irene benar-benar menyiram kelima orang gadis di sana dan tertawa menyeringai.

“Kalian memang cocok disiram.Kalau kalian sirik tidak bisa membeli baju semahal yang aku kenakan, tidak usah mengatai aku jalang. Mengemis saja padaku, aku bisa memberikan berapa yang kalian minta.” kekehnya sambil membuka sling bag dan mengeluarkan dompetnya. Irene lantas mengeluarkan beberapa lembar won dan melemparkannya ke arah gadis-gadis itu.

“Untuk uang laundry dan membeli minuman baru. Sisanya masih banyak. Saranku sih kalian tabung saja untuk membeli baju KW satu truk besar.” Sarkas Irene sambil tersenyum penuh kemenangan dan segera berjalan angkuh keluar kantin, tidak peduli meski kini seisi kantin menatapnya ketakutan dan bahkan ada yang mengarahkan ponsel pintar mereka untuk merekam aksi Irene. Sungguh, gadis itu benar-benar tidak peduli lagi dengan image-nya di dalam kampus.

 

 

“Irene!”

“Keluar dari dalam mobilku!” bentak gadis itu dengan cepat ketika Chanyeol dengan seenaknya masuk ke dalam mobil mewahnya. Padahal Irene ingin pergi ke kelab dan memangis sesuka hatinya, tapi Chanyeol makin membuatnya kesal saja.

“Kau mau kemana? Kelasmu belum selesai.”

“Jangan sok peduli padaku!” bentak gadis itu lagi pada Chanyeol yang menatapnya dengan bingung.

Kalau kau memang tidak tulus jangan berbuat baik kepadaku, brengsek!” ronta Irene di dalam hati.

“Bawa mobilnya ke apartemen. Kita pulang saja.” putus Chanyeol kemudian dengan sepihak.

“Keluar!” bentak Irene masih tidak mau kalah, namun Chanyeol tetap tidak mau.

“Aku akan terus disini. Bawa saja mobilnya sesukamu.” Lanjut lelaki itu kemudian.

Irene mendengus. Lantas gadis itu segera menghidupkan mesin mobilnya dan menyetir mobilnya dengan kecepatan di luar batas. Irene pikir Chanyeol akan ketakutan dengan caranya menyetir, tapi lelaki itu nampak memasang raut biasa saja. Malah Irene yang kini ketakutan sendiri karena tidak biasa menyetir secepat itu. Akhirnya Irene melambatkan laju mobilnya, lalu menghentikan kendaraan mewah itu karena takut.

“Kenapa berhenti?” tanya Chanyeol datar, dan Irene tidak menjawab sama sekali. Chanyeol menghela nafasnya pelan. Lantas Chanyeol segera membuka pintu mobil dan keluar dari kendaraan itu. Irene masih diam di tempat, tidak tau harus berbuat apa hingga ketukan Chanyeol di kaca mobil menyadarkannya.

Tidak sampai sedetik, Chanyeol sudah membuka pintu mobil Irene, membuat gadis itu menatap Chanyeol dengan bingung. “Geser,” perintah Chanyeol, dan anehnya Irene menurut. Alhasil sekarang Chanyeol duduk di balik kemudi sementara Irene duduk di bangku penumpang.

Masih dalam mode diam, Chanyeol melepas jaket hoodie miliknya dan memasangkan jaket itu kepada Irene yang terang saja kebesaran bagi gadis itu. Chanyeol memasang kupluk topi hoodie-nya hingga membuat kepala kecil Irene hampir tertutup sepenuhnya.

“Menangislah.” Ucap Chanyeol datar, lalu mulai menghidupkan mesin mobil.

Isak tangis Irene memenuhi sepanjang Chanyeol menyetir. Gadis itu masih terus menangis hingga Irene sendiri tidak sadar Chanyeol sudah memarkirkan mobilnya di basement apartemen. Chanyeol menarik Irene keluar, menggengam tangan gadis itu dan membawanya menaiki lift menuju apartemennya.

Sesampainya di dalam apartemen, Chanyeol melepas pegangannya pada gadis yang masih menangis sesegukan itu.

“Bersihkan semua isi apartemen ini. Aku tidak mau ada debu sedikitpun. Ini hukumanmu karena berbuat ulah di arena kampus.” Irene ingin menolak, tapi Chanyeol sudah menyodorkan gagang vacuum cleaner kepada Irene.

“Karena kau besok aku pasti akan dipanggil ke ruang dekan karena aku ini ketua mahasiswa. Kau membuatku sibuk Irene, jadi tidak ada tapi-tapian. Cepat bersihkan atau kau pindah saja kembali ke apartemenmu dan didatangi orang jahat.”

 

 

Irene merutuk di dalam hati. Seumur-umur dia belum pernah membersihkan sesuatu atau apapun itu yang mengandung unsur menjadi babu, tapi sekarang Irene harus membersihkan apartemen Chanyeol yang notabene sama besar dengan apartemennya yang tentu saja sangat luas!

Irene mematikan vacuum cleaner. Dia baru saja selesai menyingkirkan setiap debu dari lantai rumah Chanyeol. Gadis itu mendengus lagi. Kenapa dia mau menjadi babu Chanyeol secara mendadak. Namun Irene hanya menghela nafasnya lagi. Tugasnya belum selesai. Sekarang dia masih harus memasak makan malam karena katanya Chanyeol lapar. Oh, kalau kalian bertanya dimana lelaki itu jawabannya adalah Chanyeol sedang mandi. Ya, dia tenang-tenang mandi sementara Irene bersusah-susah ria membereskan apartemennya.

Sepertinya aku harus memasukkan sianida ke makanannya.” Pikir Irene sembari memegang wortel dengan emosi memuncak. Dia benar-benar membenci Chanyeol sekarang. Kemarin Chanyeol menjadikannya putri dalam semalam, tapi sekarang dia menjadi babu. Rasa kesal Irene semakin memuncak saja.

Tiba-tiba sebuah bohlam ide melintas di kepala Irene ketika melihat tali setipis benang di rak bahan makanan Chanyeol. Irene menyerngitkan dahinya, itu tali tipis yang mengikat kemasan beras.

“Jangan salahkan aku kalau badanmu remuk setelah ini, Park Chanyeol sialan.” gumam Irene kemudian sambil tersenyum miring.

 

 

Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono mandinya saja. Lelaki itu mengusap-usap rambutnya basahnya dengan handuk lalu duduk di sofa, memasang kacamatanya dan pura-pura mengecek ponselnya. Dia tau, irene sudah memasang tali memanjang di antara jalan. Irene pikir Chanyeol bodoh? Ayolah, dia itu Zen.

Chanyeol tersenyum samar. Rencana Irene pastilah membuat Chanyeol jatuh dan gadis itu bisa tertawa terbahak-bahak. Klise sekali ajang balas dendam Irene, benar kan? Tentu saja, soalnya Irene bukanlah Zen yang balas dendam dengan merengut nyawa.

“Irene, makanannya sudah siap?” tanyanya kemudian pada gadis yang masih asyik di dapur itu. Irene mendengus. “Belum,” jawabnya singkat.

“Kau marah?” tanya Chanyeol lagi, dan Irene kembali mendengus. “Tidak,” jawabnya lagi kian singkat.

Chanyeol lantas tertawa sambil berdiri. Lelaki jangkung itu memangku tangannya dan berjalan menuju dapur, tentunya dengan bergerak senatural mungkin melewati jebakan Irene seperti tidak tau kalau ada jebakan di sana. Semacam Chanyeol tengah beruntung karena baru saja melewati jebakan.

Sialan. Mungkin kali kedua lewat dia akan jatuh.” Batin Irene percaya diri.

Chanyeol lantas menyenderkan dirinya ke dinding dapur. “Kau mendengar ucapanku tadi, ya?” lanjutnya kemudian yang segera membuat mata Irene membulat. Hanya sebentar karena Irene kembali bergelut dengan wortel yang sekarang tengah ia potong kecil-kecil.

“Maaf, sepertinya kau sakit hati karena ucapanku, ya?” lanjut Chanyeol lagi dengan nada menyesal, lantas pria jangkung itu kembali berjalan menuju jebakan Irene.

Lain Chanyeol lain Irene. Gadis itu dengan cepat meletakkan pisau yang dia pegang ke atas meja dengan kasar, melepas celemeknya lalu segera mengejar Chanyeol. Sekarang bukan saatnya memasak. Sekarang waktunya dia menghakimi lelaki brengsek itu.

“Hei nerd, kau—“

Dan Irene melupakan sesuatu. Gadis itu lupa jebakan yang dia pasang sendiri. Senjata makan tuan!

Brukhhh!!

Suara jatuh karena Irene terjatuh terdengar memenuhi ruangan. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, bersiap-siap merasakan rasa sakit karena jatuh di atas keramik yang dingin dan keras.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tapi Irene tidak merasakan apapun.

Irene membuka matanya perlahan, lalu kaget bukan main karena sekarang wajah Chanyeol benar-benar dekat dengannya. Chanyeol menahan pinggang Irene dan memegang tangan gadis itu, menyelamatkan Irene dari kata ‘jatuh karena senjata makan tuan’.

“Kau tidak apa-apa?”

Sungguh, ini benar-benar seperti drama! Chanyeol dan Irene seperti tengah berdansa saja.

Kaget, Irene lantas berontak dan mulai kehilangan keseimbangannya sendiri, dan—

BRUK!

—gadis itu benar-benar terjatuh di atas lantai bersama dengan Chanyeol yang berada di atasnya karena Irene tanpa sadar juga menarik Chanyeol ikut serta untuk jatuh. Untung saja Chanyeol menahan kepala Irene hingga tidak membentur lantai sehingga gadis itu hanya merasakan sakit di bagian tubuhnya yang lain saja.

Tapi bukan itu masalahnya.

Irene merasakan sesuatu yang basah di bibirnya. Bibir Chanyeol menempel dengan bibirnya!

BRUK!

Irene memukul dada Chanyeol dan segera melepaskan bibirnya dari ciuman tidak sengaja itu. Tapi bukannya menyingkir, Chanyeol malah seperti sengaja mengukung Irene. Chanyeol menempatkan kedua lengannya di sebelah tubuh gadis itu, lalu menatap intens ke arah Irene yang sudah semerah kepiting rebus di bawah sana.

“Menyingkir kau, nerd,” desak Irene, namun Chanyeol tidak peduli. Irene meronta, tapi apalah daya, tenaga Chanyeol jauh lebih kuat daripada Irene.

“Dengarkan aku!” bentak Chanyeol hingga akhirnya Irene hanya memilih diam, menunggu Chanyeol melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak berniat menyakiti hatimu. Aku hanya mengatakan itu agar teman-temanku berhenti menjelek-jelekkanmu. Kau tau kenapa? Karena aku tidak suka mereka mengata-ngataimu yang tidak-tidak. Aku tidak suka kau dihina, Irene.”

Arghh sialan! Bibirku sudah dicicipi nerd brengsek semacam dia dan sekarang aku malah baper dengan perhatiannya!

Irene hanya diam, membuang muka karena malu jika Chanyeol melihat wajah semerah tomatnya. Namun tiba-tiba, Chanyeol mengangkat tubuh mungilnya kemudian mendudukkannya di atas meja bar mini dapur. Deguban jantung Irene semakin menjadi-jadi ketika Chanyeol menatapnya begitu lekat.

“Dan juga..” Chanyeol menggantung kalimatnya lalu melepaskan kacamata bundarnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai.

“…jangan panggil aku dengan sebutan nerd, lagi.”

Langsung saja, Chanyeol mencium bibir ranum Irene dengan lembut dan semakin lama-semakin menjurus ke arah lumatan. Tangan pria itu menangkup kedua pipi Irene untuk memperdalam cium—maksudnya lumatan mereka.

Dan malam ini, Chanyeol melumat habis bibir manis milik Irene. Oh, jangan tanya bagaimana kondisi Irene saat ini. She’s intoxicating.

 

 

 

[ to be continue ]

 

 

Iklan

13 pemikiran pada “Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Kangen ff ini😭😭😭
    Ini hati kak, bukan layangan yang bisa kakak tarik ulur seenaknya *bahasa lu neng*😁😁😁
    Ayo kak, up lagi,, ntar ceye keburu diambil aku loh kalo sama kakak di anggurin wkwk *digampar*
    Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤ Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤ Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤ Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤ Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤ Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting ❤Fighting❤
    😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚

  2. Tgl 10 udah kelewat 😐 tgl 23 juga udah kelewat 😑 tapi kenapa ini ff belum dilanjutin juga? 😶 ayolah jaebal 😢 lanjut
    Lanjut
    Lanjuttttt 🙏

  3. Gemes aku tu sama abang 😔 di depan ngalus mulu kerjaannya tp punya maksud terselubung 😔 tapi aku suka sama ni cerita 🤓 gimana dong 😂 gasabar nunggu kelanjutannya 🤓 pokoknya keep writing and fighting! 😍

  4. Satu hal yg bikin aku semangat banget baca chap ini, JUDULNYA!!! 😂😂😂
    Si ceye sebenci-bencinya dia sama irene kalo liat cewek secantik itu dirumah pasti naluri lelakinya muncul 😂😂😜😜
    Awas kebablasan 😆

  5. Ya ampuun kak… omaigatt omaigat…..ya Allah……. astaghfirullahaladzim…. bangsul kau kak…. _- Ini chapter yg udh bikin aku teriak teriak baper loncat sana sini, guling guling abis ga karuan gara gara baper sm ceye….ya Allah ya Allah….. *seketika aku serangan jantung.. mana skrg blm buka lagi,,, astogeh astogeh…. dosa lu kak baperin anak gadis org pas bulan puasa gini…ya Allah… nyebut gue kak,,😰 astaghfirullahaladzim,, ya Allah ampuni anii ㅜㅜ…. tau ah,, aku gatau lagi mau ngomong apa,,, pokoknya aku greget bgt sm kak eki sm ka yuki,,, ya Allah… nasib mata sm otak gue gimana ini kak,,, ya ampuun… tanggung jawab lu kak,,, ya Allah sucikanlah kembali pikiran hambaㅜㅜ
    Huaaaaaaa😭😭 *nangis di pojokan🔪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s