Caramelo pt. 1

Carameloo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: http://www.shuutory.wordpress.com

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1

Shuu’s Present this story

“Two human with different Character is meet!”

Seorang gadis turun dari bus bercat hijau tersebut dengan terburu-buru. Langkahnya lebar menjahui halte bus, tempat pemberhentiannya. Ia berlari sekuat tenaga menerjang angin yang berlawanan arah. Membuat roknya terbang kesana-kemari. Tetapi tunggu, untungnya ia memakai celana training yang di tekuk sampai ke lutut. Tetapi, dasinya belum terpasang dengan benar. Sesekali ia terlihat melirik jam yang ada di tangannya dengan resah. Langkahnya begitu terseok-seok. Mungkin karena kelelahan.

“ah, sial.” Umpatnya setelah sampai di depan gerbang yang tinggi. Gerbangnya telah tertutup rapat. Gadis ini kemudian menuju samping sekolah sambil membenarkan ikat rambutnya. Ia menyepol rambutnya ke atas menggunakan sumpit.

“Kenapa pak tua itu kejam sekali. Aku hanya terlambat tiga menit. Gerbangnya sudah tertutup rapat. Dasar.” Katanya. Ia kemudian berhenti tepat di depan sebuah tembok yang lebih pendek dari-tembok lain yang mengitari sekolah ini.

“Untung aku memakai celana.” Ia kemudian memanjat tembok tersebut. Sebelumnya ia lemparkan tasnya ke seberang. Ia lalu mendaratkan kakinya tepat diatas semak-semak empuk. Lalu ia terlihat mengambil bolpoin dari kantong kecil yang terdapat di tas tersebut. kemudian melenggang pergi meninggalkan tasnya yang telah ia sembunyikan di balik semak-semak yang tak terurus.

Gadis itu terlihat memasuki kelasnya dengan wajah yang amat datar. Seperti bayi yang tak berdosa. Ia kemudian menghadap Guru Jang sambil membungkuk. “Maaf Saem, saya tadi baru kembali dari kamar mandi. Setelah berjuang, akhirnya emas saya keluar. Saem lihat kan keringat saya?” tanya gadis itu sambil menunjuk dahinya yang berpeluh.

Tetapi, ia malah menerima koor panjang yang dilontarkan teman-temannya. Ada yang menertawainya, ada yang menghela nafas atau berdecak, ada juga yang menatapnya kagum.

“Kwon Chaerin lagi? Ya sudah duduk sana. Pakai seragam tak benar. Aturannya memakai rok nona, bukan pakai celana. Kau ini laki-laki atau perempuan?” Kata Guru Jang dengan acuh tak acuh. Guru Jang terlihat menunjuk celana training yang di pakai gadis yang dipanggil dengan Kwon Chaerin itu. Koor kali ini lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. Membuat Chaerin hanya menggaruk tengkuknya yang benar-benar tak gatal.

Ia tepat mendaratkan pantatnya di kursi kemudian ia menghela nafas panjang. Dari samping ia mendengarkan bisikan.

“Hey, kau terlambat lagi pasti.” Kata Kim Jong In.

“Itu tahu. Kenapa masih tanya?” kata Chaerin sambil merenggangkan otot pundaknya yang terasa kaku akibat begadang semalam.

“Sudah kuduga. Masih melihat tayangan ulang tinju?” tanya Kim Jong In, teman sebangkunya. Sebenarnya Chaerin tidak menganggap orang ini sebagai teman.

“Hei mesum! Sudahlah jangan mengintrogasiku. Iya aku melihat siaran ulang Maywheater dengan Pac Man. Aku masih tidak terima si May, June, July itu yang menang.” Kata Chaerin dengan logat inggris yang aneh.

“Dasar.” Kata Jong In dengan menghela nafasnya panjang.

Chaerin melipat kedua tangannya di atas meja kemudian menjadikan bantal untuk tidur. Tetapi ada suara yang mengusik ketentramannya.

“Tolong kumpulkan tugas kalian tentang pernapasan kecoak yang saya berikan minggu lalu.” Perkataan Pak Jang membuat Chaerin tersentak.

Ia langsung bangkit dari kuburnya kemudian berteriak dengan keras, “SIAL! CHAERIN TIDAK MENGERJAKAN.”

Perkataan Chaerin itu di sambut tawa seisi kelas. Sedangkan Jong In yang berada di sebelahnya berdecak gemas. Mata Guru Jang terlihat melotot. Chaerin hanya menunjukkan deretan giginya yang berjejer rapi sambil tertawa.

“CHAERIN KELUAR!” bentak Guru Jang sambil menunjuk wajah Chaerin dengan jari telunjuknya yang pendek nan gendut itu.

“Ehehehe… Baik pak.” Kata Chaerin sambil tertawa.

“Kau ini bandel sekali! Kena marah masih saja sambil tertawa! Apa yang kau tertawakan? Tidak menghargai saya!” sepertinya Guru Jang saat ini memiliki tensi yang tinggi, terbukti dari perkataannya yang pedas.

Chaerin melangkahkan kakinya sambil menggerutu tak jelas. Ia menendang lantai keramik itu yang tak mungkin berpindah tempat.

“Bukannya merasa tak bersalah. Aku tertawa itu menertawai diriku sendiri, yang begitu bodohnya lupa mengerjakan PR.”  Gumam Chaerin.

Kemudian langkahnya menuju gedung B, yaitu arena olahraga yang terletak di belakang sekolah. Tepatnya, ia menuju lapangan basket indoor. Ia memasuki lapangan basket tersebut, kemudian menaiki tribun dengan langkah gontai. Langkahnya menciptakan bunyi keras yang dipantulkan gedung ini.

Ia kemudian mendaratkan bokongnya di teribun semen. Terlihat ia mengusap matanya yang dihiasi lingkaran hitam. Ia benar-benar kurang tidur semalam, karena melihat tayangan ulang tinju yang membuatnya gemas sendiri tiap kali menontonnya.ia terlihat mendesah kasar, sebelum pada akhirnya berbaring di tribun semen dengan kaki sebelah menekuk enam puluh derajat. Salah satu tangannya terletak di dahinya. Mencoba untuk tidur rupanya. Karena suasana disini sangat nyaman untuk tidur. Suasana hening, serta semilir angin yang menerpa pori-pori seperti mengandung obat tidur.

Dug… dug… dug

Dahi Chaerin mengerut mendengar suara yang mengusik ketentramannya itu. ia lalu menoleh ke sumber suara. Ia mendapati seorang lelaki sedang men-dribble bola yang menciptakan suara dentuman yang kentara di tengah lapangan indoor yang sunyi. Serta suara dencitan karena sol sepatu beradu pada lantai kayu membuat Chaerin muak.

“Ya! Sunbae! Bisakah kau tak berisik disini?” ucap Chaerin naik satu oktaf. Ia menatap intes lelaki itu dari atas sampai bawah dengan keadaan mata yang setengah terpejam. Lelaki itu menatap Chaerin dengan intens juga, malah tatapan lelaki itu yang sedingin es membuat tubuh Chaerin meremang. Wajahnya datar sedatar tembok sekolahan. Ia menjadi gugup. Ia tak pernah di tatap dengan tatapan sedingin itu!

“Ya-ya sudah, terserah kau mau apa. Lanjutkan saja sesukamu.” Ucap Chaerin yang lebih mengarah ke takut. Kemudian kembali terpejam karena tak tahan dengan rasa kantuknya yang telah memasuki stadium 4.

Tetapi, setelah lelaki itu berhenti memainkan bola. Chaerin mendengar derap suara langkah kaki itu mendekat ke arahnya. Masa bodoh! Ia hanya menegurnya saja karena terlalu berisik. Tetapi tunggu, apa kata-katanya berlebihan membuat lelaki itu marah? Tidak apa. Jika lelaki itu akan melakukan sesuatu untuknya, ia mempunyai jurus yang akan mematahkan lengan siappun yang dihadapinya. Ia tak khawatir.

“Ya! Agassi! Kau sedang apa disini?” tanya lelaki itu dengan nada bicara yang tak kalah dingin dengan tatapannya. Chaerin membuka matanya kemudian menguap. Ia duduk sambil mengusap matanya, ia benar-benar mengantuk saat ini.

“Aku dihukum.” Ucap Chaerin datar. “Kau sendiri memangnya kenapa disini. Bukannya jam pelajaran masih berlangsung?” tanya Chaerin.

“Dihukum? Pelanggaran apa?” tanyanya kemudian duduk di sebelah Chaerin. Terlihat sekali ia menggunakan bahasa yang sangat formal kepada Chaerin. Padahal ia yakin jika lelaki ini lebih tua darinya.

“Tidak mengerakan PR sunbae!” kata Chaerin yang sebenarnya ogah meladeni lelaki ini. “Eyyy, tunggu. Kau! Memangnya kenapa kau kesini?” tanya Chaerin yang tak pernah lupa pertanyaan yang sempat dilontarkannya itu.

“Sama sepertimu. Tetapi saya mempunyai alasan yang berbeda.” Ucapnya datar sambil memainkan bola basket di tangannya. “Ngomong-ngomong Anda memakai seragam tak benar Agassi. Dasimu juga.” Kata lelaki tersebut.

Aigoo, sudah 2 orang yang mengingatkan tentang penampilanku hari ini.” Katanya menggerutu kesal. “Sunbae, bisakah kau tidak bicara seformal itu kepadaku? Kita hanya beda beberapa tahun saja ‘kan?” tanya Chaerin sambil emnggaruk kepalanya.

Lelaki itu langsung terdiam dan tak mengeluarkan kata apapun dari mulutnya, tetapi tangannya masih saja memainkan bola asket di tangannya. “Sunbae? Memangnya kau siapa menanyaiku seperti itu? anggota OSIS?” taya Chaerin dengan wajah polos. Lelaki itu terlihat terkesiap.

“Anda benar-benar tak tahu saya?” tanya lelaki itu sambil menunjuk dirinya sendiri. Chaerin menggeleng kuat sampai membuat cepolan rambutnya mengendur. “Anda tidak perlu tahu saya.” Katanya sambil melenggang pergi. Meninggalkan Chaerin yang masih terkejut dengan sikap lelaki itu. sebenarnya siapa orang itu? Apakah dia anak dari penyumbang dana terbesar disini? Ataukah pemain basket yang katanya tampan itu? ataukah anak dari kepala sekolah? Ada banyak apakah yang terlintas dipikiran Chaerin.

Tanpa Chaerin sadari, sedari tadi banyak orang yang tengah memandangnya berjalan di lorong. Ia ingin menuju kantin karena perutnya sudah berontak tak karuan. Ia bodoh memang, tak memerhaikan orang di sekitarnya yang sedang memandangnya dengan berbagai macam tatapan. Rata-rata tatapan mereka mengandung artian heran atau lainnya. Tetapi entah kenapa Chaerin seolah tidak ingin memerhatikan sekelilingnya.

Saat in ia sudah berada di kantin dengan membawa semangkuk ramen istan di tangannya. Langkahnya meuju bangku kosong di sudut ruangan yang mulai ramai. Karena beberapa menit lalu bel tanda istirahat berbunyi, membangunkannya yang sedang tertidur di lapangan basket.

Ia kemudian mendaratkan pantatnya di kursi tersebut dan meletakkan ramennya di atas meja. Ia kemudian melepaskan benda yang mengikat rambutnya itu. iya benar, itu adalah sebuah sumpit. Ia kemudian memetahkan sumpit itu menjadi dua kemudian mulai makan ramennya dengan lahap.

Suapan demi suapan masuk ke mulutnya. Kelihatannya ia benarbenar kelaparan. Bagaimana tidak ia tidak sempat sarapan, karena telah terlambat tadi pagi. Gadis tomboy ini mungkin snagat berbeda dari gadis lainnya. Kau tahulah, gadis biasanya seperti apa. Suka bergosip dan yang lainnya. Dan Chaerin adalah bahan gosip mereka dari kelas satu sampai kelas tiga membicarakannya. Tentang keanehannya tentu saja.

Bagaimana tidak aneh? Dia mengenakan training sebagai lapisan rok sekolahnya. Celana training itu ia tekuk sampai ke lutut. Sepatu lari birunya menjadi andalan. Jarang sekali ia memakai almamater dengan benar. Ia juga sering membiarkan dasinya begitu saja tanpa tersimpul dengan benar. Dan rambutnya setiap hari tergulung rapi ke atas menggunakan sumpit sekali pakai. Berandal sekali memang. Ia juga sering terlambat, tetapi akhir-akhir ini kebiasaan itu mulai berkurang. Petugas penyidak sudah angkat tangan dengannya.Tadi saja ia khilaf, karena kemarin hasrat yang sudah ia tahan tidak bisa diganggu gugat. Ia menonton ulang pertandingan tinju di Youtube antara Maywheater dengan Pac Man.

Para anggota OSIS sampai geleng-geleng melihat kelakuannya itu. semua anggota OSIS sudah angkat tangan kepadanya. Padahal ia masih tahun pertama, tetapi kelakuannya sangat luar biasa. Semua pelanggaran kelihatannya pernah ia lakukan. Dan semua hukuman juga telah ia laksanakan. Tetapi, semua orang tak tahu apa yang sebenarnya  ada di otak manusia yang satu ini. Ia sedikitpun tidak jera degan semua hukuman yang pernah ia lakukan.

Seharusnya di masa-masa seperti ini, ia lebih memilih berdadan di rumah sambil memabaca majalah Vogue, Elle atau Marie Claire. Atau mengincar beberapa sunbae-sunbae keren yang menjadi primadona sekolah. Tetapi tidak untuk seonggok makhluk bernama ‘Kwon Chaerin’ ini. Setiap harinya ia pergi ke sanggar Muay Thai untuk berlatih atau sekedar bermain dengan samsak yang tergantung manis sebagai hiasan kamarnya.

Tak terasa ia menghabiskan semangkuk ramen jumbo sampai tandas. Oiya satu lagi, ia setiap harinya kalau tidak melakukan kegiatan di atas ia biasa menghabiskan persediaan makanan dirumah. Sumpit yang telah ia gunakan untuk makan ramen ia lap dengan tisu kemudian ia gunakan lagi sebagai tusuk konde.

Walaupun begitu, tanpa ia sadari banyak sekali lelaki yang menyukainya. Tetapi, mereka lebih memilih untuk mengagumi dari jauh, daripada harus terkena omelan dari Chaerin. Ia dapat secara tiba-tiba mulutnya bertambah menjadi seratus dalam waktu sekejap.

Chaerin sidang berjalan di samping sekolah. Siang ini terasa sama saja seperti musim dingin kemarin, padahal sudah memasuki musim semi. Ia berjalan dengan mengunyah permen karet stroberi. Masih sama dengan tadi pagi, yaitu sumpit ramen tersemat di kepalanya serta dasi yang tak tersimpul dengan rapi, dan tak ketinggalan celana training-nya yang ia gulung sampai lutut, dengan dilapisi rok kotak-kotak.

Ia ingin mengambil tasnya yang pagi tadi ia sembunyikan dibalik semak-semak di dekat sini. Ia kemudian menemukan tas merahnya kemudian membersihkan beberapa sisinya yang terkena oleh tanah dan debu. Kemudian melanjutkan langkahnya.

Matanya terlihat berkeliling mengamati sekitar. Tangan kanannya menenteng tasnya. Tetapi, inderanya terusik dengan suara berdebum dari gudang belakang sekolahnya.  Rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa malasnya untuk berjalan ke arah gudang yang terkenal bau dan penuh debu itu.

Ia kemudian dengan setengah berlari menghampiri asal suara berdebum itu. Ternyata di depan pintu gudang yang terbuat kayu itu, terlihat seoarang siswa berkacamata hampir kena pukul oleh siswa berandalan yang lainnya. 2 orang siswa berandal itu melihat ke arah Chaerin dengan tatapan yang bisa diartikan sebagai ‘Urus urusanmu sendiri’. Sepertinya siswa berandal itu mencari korban bully setelah beberapa hari yang lalu salah satu siswa pindah sekolah dengan alasan pembully-an.

“Cih,” kata Chaerin lalu membuang permen karet yang sedari tadi ia kunyah ke tanah.

“Ada apa Kwon Chaerin? Apa kau datang menemuiku?” kata bocah tengik berpotongan cepak itu kepada Chaerin. Ia rasa itu adalah bos dari anak berandal satunya –yang berbadan lebih tinggi-. Sedangkan anak yang hampir dipukul itu hanya menunduk, Chaerin melihat kakinya sudah bergetar karena ketakutan.

“Cih, yang benar saja.” Ucapnya lalu menggulung almamaternya sebatas siku. “Aku belum menunjukkan sesuatu yang lain ya kepada yang lain?” kata Chaerin sambil memasang kuda-kuda. “Jangan beraninya dengan yang lemah. Sini, maju!” kata Chaerin sambil mengode siswa-siswa berandal itu degan jari telunjuknya.

“Memangnya kau bisa apa cantik?” tanya siswa berandal satunya dengan nada yang menurut kuping Chaerin sangat menjijikkan. Tiba dari rumah ia harus mengorek kupingnya agar kata-kata yang keluar dari mulut mereka tak bersarang dikupingnya menjadi bakteri.

“Jangan remehkan aku! Cepat maju!” ucap Chaerin sambil memicingkan matanya.

Kedua berandal itu berpandangan sebelum akhirnya maju beberapa langkah dan menyiapkan bogem kepada Chaerin yang jauh lebih kecil daripada mereka berdua. Chaerin kemudian maju terlebih dulu dengan melakukan penyerangan di area wajah bocah berandal yang bertubuh tingi dari ketuanya itu. tetapi, dia berhasil menepis.

“Seranganmu bagus juga Kwon Chaerin.” Kata berandal itu sambil menekankan namanya.

Gigi Chaerin terdengar bergemeletuk. Dengan secepat kilat ia menendang alat vital berandal berambut cepak itu kemudian membogem mentah berandal satunya. “Kau cepat lari.” Kata Chaerin kepada siswa berkacamata yang saat ini telah duduk di tanah dengan lutut gemetar.

“Ti-tidak aku harus bertanggung jawab dengan semua ini.” Kata siswa itu.

“Aishhh…. Jinjja!” umpatnya. Tak lama kemudian satu-persatu dari mereka bangkit. Dan Chaerin kembali menghajarnya lelaki berambut cepak itu ia tendang tepat di perutnya sedangkan yag satunya ia tonjok tepat di tulang hidungnya membuat mereka terhuyung.

“KALIAN DIAM DITEMPAT. DILARANG BERKELAHI DI AREA SEKOLAH!” kata seorang lelaki dari belakang Chaerin. Seketika itu Chaaerin refleks menoleh dan mendapati seorang lelaki yang wajahnya sangat segar diingatannya. Gerakan menoleh Chaerin serasa slow motion sebelum pada akhirnya ia kembali menatap kedua berandal itu lalu memukul dan menendang mereka berkali-kali.

To Be Continue…

Setelah berpikir panjang akhirnya part 1 update dihari jumat dan rencananya part 2 akan update di hari sabtu. Itu berlaku untuk part-part selanjutnya. Terus baca Caramelo ya love you! Jangan lupa like, komen, dan bilang temen-teman supaya baca jangan lupa suruh like dan komen juga wkwkwk… makasih again! Love you ❤

ada beberapa rekomendasi playlist buat liburan kalian:

  1. B1A4 – Solo Day
  2. SISTAR – I Swear
  3. Taeyeon – Cover Up
  4. SHINEe – Stand by Me
  5. Kassy – Good Morning
  6. SNSD – Its’ Fantastic
  7. SNSD – Say Yes
  8. GIRLFRIEND – Glass Bead
  9. Oh My Girl – Liar Liar
  10. Tiffany – I Just Wanna Dance
  11. Henry – Runnin’
  12. Vinicius – Easy
Iklan

21 pemikiran pada “Caramelo pt. 1

  1. Ping balik: Caramelo pt. 12 | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Caramelo pt. 11 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Caramelo pt. 10 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Caramelo pt. 9 | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Caramelo pt. 8 | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Caramelo pt. 7 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Caramelo pt. 6 | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Caramelo pt. 5 | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Caramelo pt. 4 | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: Caramelo pt. 3 | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: Caramelo pt. 2 | EXO FanFiction Indonesia

  12. Daebakk!! Koq aku jdi ngebayangin paek shin hye ya gra2 krakternya chaerin (abaikan) keep writing ya thor dtggu next chap :-*

  13. Yawla yawla yawla 😂😂😂😂
    Chaerin absurd bgt.
    Paling ngakak sama alasan CL waktu telat “Setelah berjuang, akhirnya emas saya keluar.” 😂😂😂😂😂
    Ini bocah kenapa gaada jaim jaim nya 😅😅😅

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s