Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran

rooftopromancehappy.jpeg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | [NOW] Chapter 29

“11 years later.”

 

 

-Chapter 29-

In Author’s Eyes

 

Sebuah ambulance nampak meluncur cepat ke tempat kejadian penabrakan itu. Beberapa orang dokter dan perawat segera memeriksa keadaan seorang pria yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah bercucuran di atas aspal.

“Urat nadinya lemah!” teriak dokter itu sambil memeriksa denyut nadi, lalu dengan cepat sang dokter memerintahkan seorang perawat untuk memasang alat bantu pernafasan pada pria itu yang tengah meregang nyawa itu.

“Haksaeng, kau bisa mendengarku, huh? Bisa sebutkan namamu?” teriaknya lagi sambil mengguncang-guncang tubuh terkapar lelaki itu. dengan perlahan lelaki itu mengangguk di tengah kesadarannya yang kian menipis.

“E…eoh, Pa…Park…..Park…Cha…Chan…Yeol,” jawabnya terbata dengan pandangan yang kembali buram.

Haksaeng, tolong tetap jaga kesadaranmu. Ya! Pasang penyangga di leher dan kakinya. Angkut pasien ke rumah sakit sekarang!”

 

 

Keluarga Park hanya bisa berharap-harap cemas di luar ruang operasi. Sekarang Chanyeol tengah melakukan operasi darurat karena pendarahan dan beberapa retak di bagian tulang kakinya. Sudah 3 jam, tapi operasi itu belum juga selesai hingga menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi keluarga Park.

Sebenarnya banyak orang yang ikut ke rumah sakit, hanya saja pihak rumah sakit meminta teman-teman Chanyeol, guru-guru hingga fans laki-laki itu pulang agar tidak menggangu kenyamanan pasien lainnya. Hanya pihak keluarga-lah yang dibiarkan tetap berada di rumah sakit.

“Aku takut yeobo kalau Chanyeol kenapa-kenapa.” khawatir Nyonya Park —ibu tiri Chanyeol—sambil mengelus bahu suaminya yang sudah memasang raut ketakutan akan kehilangan putra semata wayangnya itu.

“Hiks…. Chanyeol-ah….hiks…….” di sudut lain nampak ibu kandung Chanyeol menangis. Setelah mendengar kabar putranya kecelakaan, Nyonya Han langsung terbang dari China bersama suami barunya karena khawatir dengan keadaan putranya itu.

“Dia akan baik-baik saja, tenanglah,” ucap Tuan Wang menenangkan istrinya yang masih saja menangis.

“Aku harusnya menahan Chanyeol tadi. Aku harusnya menahannya,” isak Baekhyun bersama Sae Ron yang juga tengah menangis. “Oppa, Chanyeol akan baik-baik saja kan? Iya kan? Hiks….” Isak Sae Ron, sahabat masa kecilnya Chanyeol.

Srttttt…….

Suara pintu ruang operasi yang dibuka segera menyadarkan ke-6 orang yang menangis itu. Dengan cepat mereka menghampiri dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang operasi.

“Kami sudah melakukannya sebaik mungkin. Tuan Park Chanyeol baru saja melewati masa kritisnya. Selamat, operasinya berjalan dengan lancar.”

 

 

“Makanlah, kau harus makan agar punya tenaga untuk sembuh nak.”

Chanyeol menatap haru kepada ibu kandungnya yang sekarang tengah menyuapinya bubur. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat ibu kandungnya lagi meski dalam keadaan seperti ini.

“Pulanglah eomma, aku tidak lapar.” jawab Chanyeol singkat sambil memalingkan muka, namun sang ibu masih saja belum menyerah. Nyonya Han nampak membelai pelan surai hitam Chanyeol. “Tidak, kau harus makan Yeol-ah. Lihat, buburnya merengek minta dimakan. Kau tega membuat buburnya menangis, huh?”

Setetes air mata Chanyeol jatuh ketika melihat usaha ibunya yang sama persis seperti uca ibupan ibunya ketika dia menolak makan saat masih kecil dulu. Ibunya akan selalu membelai kepalanya, mengatakan kalau makanannya merengek minta dimakan lalu mulai menyuapi Chanyeol kecil dengan menggoyangkan sendoknya seperti main pesawat-pesawatan.

Eomma, aku bukan anak kecil.” ucap Chanyeol masih menolak,namun ibunya tetap tidak peduli.

“Bagi eomma, kau tetap bayi besar eomma. Jadi, makanlah sebelum buburnya cemberut, arraseo?” balas sang ibu sambil mengelap ujung mata Chanyeol yang berair.

“Maafkan eomma Chanyeol-ah karena kurang memperhatikanmu. Maafkan eomma karena meninggalkanmu,” batin Nyonya Han sambil tetap tersenyum, lalu membelai permukaan wajah putranya yang sedikit lecet karena tergores aspal hingga harus diperban.

Eomma, aku punya pertanyaan.” kata Chanyeol kemudian. Nyonya Han tersenyum samar mengingat kebiasaan Chanyeol yang tidak pernah berubah sejak kecil. Satu jawaban darinya dan satu suapan masuk ke mulut Chanyeol kecil-nya. Barter yang saling menguntungkan.

“Apa? Eomma akan menjawabnya dengan jujur tapi setelah itu kau harus makan yang banyak, arraseo?” tawar sang ibu yang segera dijawab dengan anggukan singkat dari Chanyeol.

Eomma, sebenarnya apa hubungan eomma dengan Son Michael sewaktu kuliah dulu?”

Sederhana, Chanyeol hanya ingin kebenaran.

 

 

“Kenapa kau memanggilku ke sini?” tanya Park Han Seol to the point pada lawan bicara di depannya sekarang. Son Michael hanya tersenyum tipis melihat raut tidak bersahabat dari teman lamanya itu.

“Jangan terburu-buru Seol-ah, kau seperti ingin membunuhku saja Detektif Park.” tawa Michael menguar ke udara, namun Han Seol masih saja mengeraskan rahang. “Aku sedang tidak bercanda Jung Hwan,” balasnya dengan serius.

“Baiklah, kita bicara to the point saja, arraseo?” ucap Michael kemudian sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas-nya. “Tolong berikan ini pada putramu, katakan padanya kalau aku meminta maaf.” lanjut Michael kemudian sambil menyodorkan sebuah amplop kepada Han Seol —ayah Chanyeol.

“Apa ini?” tanya Han Seoul bingung.“Kebenaran. Haha….. Katakan aku meminta maaf karena berbohong padanya.” Jawab Michael santai sambil tertawa renyah.

“Bohong?”

“Ya, aku mengatakan kalau dia adalah putraku dan bukannya putramu Seol-ah.” kekeh Michael masih dengan santainya, tidak peduli meski kini lawan bicaranya sudah membulatkan mata karena kaget.

Ya! Son Jung Hwan!” bentak Han Seol sambil menggerbak meja. Namun Michael nampaknya tidak terlalu kaget dengan reaksi bekas temannya itu.

“Karena itu aku minta maaf padanya, dan suruh dia tetap menjauhi putriku. Aku akan mengatakan pada Wendy kalau dia sudah meninggal, jadi jangan sekali-sekali dia menggangu putriku lagi.” Han Seol terkekeh pelan mendengar penjelasan dari Michael. Detektif Park itu mengacak surainya asal, lalu menatap tajam ke arah Michael.

“Memangnya apa hakmu brengsek? Kenapa kau terus meyakiti putraku, eoh? Kenapa?! Bajingan!” teriak Han Seol geram sambil menarik kerah Michael yang hanya menanggapinya santai. Michael bahkan menyuruh para boyguard-nya yang hendak maju menghadapi detektif polisi itu untuk tenang di tempat. Dengan santai pula CEO Star Empire, si chaebol dari chaebol itu melepaskan tangan Han Seol dari kerah bajunya.

“Tidak sadar diri, huh? Kalau dia bukan putramu, aku tidak akan serepot ini menjauhkannya dari putriku!” Han Seol tertawa renyah mendengar penjelasan bodoh dari Michael itu.

“Cih, memangnya kenapa dengan aku sialan? Kau masih cemburu padaku? Astaga, itu hanya kisah lama!” pekik Han Seol tidak tahan lagi.

“Kisah lama katamu? Ya, kisah lama. Masalahnya ibu Wendy terus mengingatmu sialan! Kau tau bagaimana rasanya menjadi suami yang tidak dicintai istrinya sendiri? Itu menyakitkan! Dia hanya akan terus menggumam namamu tiap malam, hanya Park Han Seol dan bukan Son Jung Hwan. Bahkan setelah dia hamil anakku pun, Ji Ah tetap saja mengharapkanmu datang untuk menjemputnya, brengsek. Sampai Ji Ah meninggal dalam kecelakaan karena menyelamatkan Wendy yang hampir tertabrak mobil pun, Ji Ah masih tidak mencintaiku dan hanya menggumamkan namamu saat menghembuskan nafas terakhirnya.”

Han Seol diam sebentar. Ya, bukan ibu kandung Chanyeol yang punya hubungan dengan Son Michael, tapi ibu kandung Wendy-lah yang punya hubungan dengan Park Han Seol; ayah Chanyeol.

“Tapi orangtuanya memilihmu brengsek, aku bisa apa kalau ayahnya menjodohkannya Ji Ah denganmu?” balas Han Seol lirih sambil memijit dahinya yang mulai terasa pening.

“Tapi harusnya kau berusaha brengsek. Ji Ah adalah kekasihmu, dan harusnya kau berusaha untuk membatalkan pernikahan kami pada waktu itu. Kau membuatku merasa bersalah karena merebut kekasihmu, dan Ji Ah membuatnya semakin menyakitkan karena hanya mengingatmu. Bahkan dia menggumam namamu dan bukannya namaku ketika aku berusaha menyentuhnya.” Han Seol menggebrak meja kesal, lalu menarik kerah baju Michael sekali lagi.

“Tapi kau menyukai Ji Ah brengsek! Aku tau kau menyukai kekasihku sejak lama dan aku tau kau begitu bahagia saat tau bahwa calon istrimu adalah Kwon Ji Ah! Kau pikir aku buta? Tidak. Ayahnya membenciku karena aku miskin, dan dia menjodohkan Ji Ah dengan kau yang keturunan konglomerat itu. Aku bisa apa? Aku hanya tau Ji Ah tidak bisa menentang appa-nya, dan aku hanya tau kalau calon suaminya mencintainya. Sialnya, calon suami kekasihku itu adalah sahabatku sendiri. Aku bisa apa Jung Hwan? Jelaskan padaku apa yang bisa kulakukan selain mengalah saat itu?”

“Aku benci kau kasihani!” bentak Michael tidak terima meski matanya kini mulai berkaca-kaca.

“Tidak, aku tidak mengasihanimu. Aku hanya sadar diri Son Jung Hwan.” balas Han Seol sambil melepas cengkramannya dari kerah baju Michael.

“Dan jika itu kau yang akhirnya menjadi pendamping Ji Ah, aku rela Jung Hwan, karena aku tau kau mencintainya dan tidak mungkin menyakiti Ji Ah. Kau akan membahagiakan Ji Ah, dan aku percaya itu.” tutup Han Seol sambil meremas buku tangannya sendiri, menahan emosi lama yang kini perlahan merasup ke sumsum tulangnya.

Harusnya dulu Han Seol tidak membiarkan Wendy yang tinggal di rumah atapnya dengan nama Seungwan itu dekat dengan putranya karena dalam sekali tatap pun, Han Seol tau bahwa gadis itu adalah putri Ji Ah. Bagaimana mungkin Detektif Park yang cakap itu tidak mengenali putri mantan kekasihnya jika rupa Wendy benar-benar seperti duplikat Ji Ah?

Dan dulu harusnya Michael tidak bersikap terlalu keras kepada Chanyeol. Mencari tau latar belakang pacar pura-pura putrinya sendiri demi terbebas dari perjodohan, Michael malah mendapatkan apa yang sudah dia duga sejak awal. Dia menduga Chanyeol adalah putra Park Han Seol, dan itu benar adanya. Entah kenapa emosi Michael naik ke permukaan. Ya, dia tidak ingin putrinya berhubungan dengan putra Han Seol, dan karena itulah dia tidak menyetujui Chanyeol sampai akhir meski ia tau putrinya dan putra mantan sahabatnya itu saling jatuh cinta.

Lalu siapa yang salah?

“Itu kisah lama yang memuakkan. Aku benci dikasihani.” Michael membohongi diri. Sebenarnya sudah sejak lama ia tau segala pengorbanan Han Seol padanya, tapi dia selalu berpura-pura bodoh. Karena ia terlalu mencintai Ji Ah, hingga ia akhirnya bersikap egois dan pura-pura tidak tau. Ya, Michael memang jahat.

“Jangan sentuh putraku lagi atau aku akan menguburmu hidup-hidup Jung Hwan.” Dan Michael berusaha untuk egois lagi. Dia membenci Chanyeol karena darah yang mengalir di tubuh pemuda Park itu terus mengingatkannya akan rasa bersalah. Michael hanya tidak ingin Wendy tau bagaimana dulu gadis itu lahir tanpa rasa cinta dari ibunya. Dia hanya tidak ingin Wendy sadar jika ibunya dulu bersikap dingin pada putri kecil itu karena tidak mencintai ayahnya Wendy yang adalah dia sendiri. Michael terlalu ketakutan semuanya terbongkar jika Wendy berhubungan semakin dekat dengan keluarga Han Seol. Michael tidak ingin Wendy terluka tanpa sadar kalau semua yang ia lakukan untuk mencega itu malah membuat putrinya semakin terluka.

Lalu siapa yang salah?

Michael yang terlalu mencintai putrinya, atau Han Seol yang ingin meluruskan keadaan?

“Aku tidak akan menyentuh putramu lagi. Ingat, mulai sekarang di mata Wendy putramu sudah mati, dan aku harap dia tidak mencoba untuk mendekati putriku lagi. Maafkan aku, tapi aku rasa itu yang terbaik untuk mereka berdua.”

 

 

“Pasien harus melakukan operasi penanaman besi penyangga di tungkai kakinya jika tidak ingin lumpuh. Beberapa tulangnya retak dan besi itu bisa menjadi jaminan pasien tetap berdiri tegak. Dan untuk bagian tangan, kami menyarankan pasien untuk menjalani serangkaian perawatan terapi tulang setelah operasi nanti. Maafkan kami, tapi meski sudah lulus ujian masuk akademi kepolisian, pasien tidak bisa melanjutkan studi di sana. Pasien tidak bisa menjadi polisi seperti cita-citanya dengan fisik seperti ini.”

Malam itu Chanyeol menangis hebat tanpa diketahui siapapun. Bohong jika bilang Chanyeol tidak terluka mendengar kabar bahwa dia harus melepas cita-cita yang sudah ia dambakan sejak kecil.

Satu gerakan kecil khas membuka pintu menyadarkan Chanyeol. Lelaki itu segera menghapus air matanya dengan cepat, lalu tersenyum palsu ke arah dua orang yang mengujunginya malam itu. Di sana ada ayahnya dan juga Kyungsoo —orang yang harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit karen jatuh dari tangga dan Chanyeol menganggap itu semua adalah kesalahannya.

“Ada yang ingin mengunjungimu nak. Katanya dia temanmu. Kalau begitu appa tinggal sebentar, arraseo? Berbicaralah dengannya.” Pesan sang ayah sambil mendorong Kyungsoo masuk sedang Han Seol yang masih mengambil cuti itu kembali menutup pintu ruang rawat inap putranya.

Hening memenuhi ruangan ketika Kyungsoo masuk dan duduk di bangku sebelah tempat tidur Chanyeol.

“Apa kabar? Sepertinya kau tidak baik-baik saja kan?” dan untuk kali pertama, Kyungsoo memulai percakapan terlebih dulu, pun dia tidak melempari Chanyeol seperti biasanya.

“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Chanyeol mengabaikan pertanyaa Kyungsoo. Lelaki bermarga Do itu tersenyum tipis. “Seperti yang kau lihat, aku bisa berjalan normal lagi.” jawabnya dengan bangga.

“Tapi bagaimana?” tanya Chanyeol bingung. Seingatnya dulu Kyungsoo hanya menerima perawatan seharusnya bagi pasien, sedang uang yang Chanyeol kumpulkan dari pekerjaannya menjadi pacar pura-pura Wendy habis untuk membayar biaya rumah sakit dan kebutuhan adik Kyungsoo yang masih SMP. Lalu Chanyeol teringat sesuatu, Son Michael sudah mengambil alih semuanya ketika ia setuju untuk meninggalkan Wendy.

“Son Michael?” lafal Chanyeol dengan nafas tercekat yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Kyungsoo. “Ya, dia yang membiayai semuanya.”

“Tenang saja Park Chanyeol, aku juga memasang palang besi di kakiku sebagai peyangga, dan itu cukup efektif mencegah kelumpuhan. Jangan khawatir, besinya bisa dikeluarkan beberapa tahun lagi jika kakimu sudah cukup seimbang. Dokter rumah sakitnya cakap, jadi tidak akan terjadi kesalahan apa pun selama operasi.” Chanyeol terkekeh mendengar penjelasan dari Kyungsoo. “Kau sedang berusaha menghiburku?” tanyanya sambil tertawa renyah, dan Kyungsoo dengan cepat mengangguk.

“Aku ingin berdamai denganmu.” jelasnya yang seketika membuat tawa Chanyeol naik ke permukaan. “Benarkah?” tanyanya yang segera dijawab dengan anggukan kecil dari Kyungsoo. Dan malam itu, Chanyeol mendapatkan teman baru.

“Operasinya berjalan sukses. Kami harap pasien akan rajin untuk terapi selama setahun ini.”

Chanyeol tersenyum samar mendengar penjelasan dokter seminggu setelah operasi pemasangan lempeng besi di kakinya. Setahun adalah waktu yang diminta dokter agar Chanyeol fokus dirawat di rumah sakit, dan Chanyeol tidak keberatan sama sekali karena dia tau biaya rumah sakit sudah ditanggung seluruhnya oleh Son Michael. Tanpa sepengetahuan keluarganya, Michael rupanya pernah datang sekali mengunjungi Chanyeol dan meminta maaf langsung pada lelaki itu. Tak lupa Michael juga memberikan satu rekening kepada Chanyeol sebagai kompesasi kaki Chanyeol yang hampir lumpuh.

“Kau bisa menggunakan isinya untuk belajar di luar negeri atau apapun itu. Aku minta maaf karena sudah merusak mimpimu menjadi polisi. Tapi percayalah, kecelakaan itu benar-benar tidak disengaja dan murni kecelakaan.”

Selepas dokter yang memeriksa keadaanya itu pergi, Chanyeol segera berucap santai kepada kedua orangtuanya.

“Aku ingin menjadi dokter. Tahun depan, setelah selesai menjalani terapi, aku akan mencoba mendaftar dan ikut tes masuk fakultas kedokteran Universitas Seoul.”

Ya, Chanyeol menemukan mimpi barunya; menjadi seorang dokter.

Umur 20 tahun, Chanyeol resmi diterima di fakultas kedokteran Universitas Seoul. Pria yang disebut jenius itu benar-benar bisa mengejar ketertinggalannya selama setahun dirawat intensif di rumah sakit. Dengan semangat Chanyeol belajar tanpa henti, dan dengan bekal jenius yang ia miliki Chanyeol bisa lulus kedokteran hanya dalam waktu 3 tahun.

Kurang dari setahun, waktu yang jauh lebih singkat dari semestinya, Chanyeol menyelesaikan masa magangnya di rumah sakit Universitas Seoul. Setahun pula Chanyeol habiskan untuk mengambil dokter spesialis, dan tidak tanggung-tanggung, setelah mendapat gelar dokter spesialis Neurologi atau spesialis saraf, Chanyeol segera berangkat ke Amerika untuk mengambil S2 kedokteran.

Masih rajin dan berkemauan keras, 2 tahun kemudian Chanyeol resmi menjadi S2 kedoteran—waktu yang sangat singkat karena Chanyeol begitu tekun—dan mulai bekerja di salah satu rumah sakit terbaik di dunia, John Hopskin. Sembari bekerja di John Hopskin hospital, Chanyeol pun mengambil gelar S3 kedokterannya hingga pada usia 27 tahun Chanyeol resmi menjadi salah satu lulusan S3 kedokteran termuda di dunia.

Dan tanpa mengenal lelah, Chanyeol tetap meneruskan pendidikannya sembari bekerja di John Hopskin. Umur 29 tahun kurang beberapa bulan, Chanyeol bersama beberapa mahasiswa lainnya di Universitas Harvard Amerika pun di wisuda dengan gelar Proffesor ahli. Ya, Chanyeol benar-benar serius menekuni bidang medis hingga bisa menjadi salah satu lulusan professor termuda dengan nilai cum laude dari universitas ternama di dunia.

Setelah menyelesaikan pendidikan professor-nya, Chanyeol dengan mantap menyerahkan surat pengungunduran diri kepada Proffseor David, tentornya secara pribadi sekaligus pimpinan tertinggi John Hopskin hospital.

I’d like to come back to korea, my native country. There are many exprerts doctors here and I think korea needs me more than America. Also the president had sent an official message from the central government of South Korea to get me back to korea as a specialist doctor of neurology.(Aku ingin kembali ke korea, negara asalku. Banyak dokter yang ahli di sini dan aku pikir Korea lebih membutuhkanku dari pada Amerika. Presiden juga sudah mengirimkan pesan resmi dari pemerintah pusat Korea Selatan agar aku kembali ke Korea sebagai dokter spesialis neurologi.)”

Dan dengan berat hati Professor David harus merelakan Chanyeol, dokter muda yang berbakat itu agar kembali ke negara asalnya—tapi dengan satu syarat.

I have a request. There is a brain cancer VVIP patient in John Hopkins hospital who will be transferred, to the hospital where you work, the university hospital of seoul in South Korea, and he has specifically asked you to be his doctor in Korea. (Aku punya permintaan. Ada seorang pasien VVIP yang mengidap kanker otak di John Hopskin hospital yang akan dipindahkan ke rumah sakit tempatmu bekerja nanti, Rumah Sakit Univeristas Seoul di Korea Selatan. Dan beliau pun sudah secara khusus memintamu menjadi dokternya di Korea nanti.)”

Chanyeol tersenyum, setengah terkekeh sebenarnya mendengar permintaan Proffesor David itu.

Seems like he’s really an important patient, right? Of course I will be his doctor if it is Proffesor David who asked me. But if you can, who is this patient that I am going to handle now? (Sepertinya dia benar-benar pasien penting, benar kan? Tentu saja aku akan menjadi dokternya jika sudah Professor Davud yang memintaku. Tapi jika boleh tau, siapa pasien yang akan ku tangani ini?)” tanya Chanyeol penasaran meski ia sudah menduga siapa pasien yang akan ditanganinya ini.

My patient, Mr. Son Michael; The CEO of Star Empire. You know him, aren’t you? I specifically advise you as my successor doctor, and he really agrees to make you as his doctor even if you are still very young and just got a proffesor degree a few months ago. He trusts you, and he hopes you’ll be a good doctor for him. (Pasienku, Mr. Son Michael; CEO dari Star Empire. Kau mengenalnya, kan? Secara khusus aku sudah menyarankanmu sebagai dokter penggantiku, dan beliau benar-benar setuju untuk menjadikan kau dokternya meski kau masih sangat muda dan baru mendapat gelar proffesor beberapa bulan yang lalu. Dia mempercayaimu, dan dia harap kau menjadi dokter yang baik untuknya.)”

 

 –

 

“Kalian sudah dengar dokter baru itu?”

Eoh, katanya dia lulusan Harvard dan menjadi Proffesor di usia yang sangat muda.”

“Dia bekerja di John Hopskin, tapi Presiden secara resmi meminta pulang dan mengabdi di Korea.”

“Berapa umurnya? Bukankah masih 29 tahun?”

“Iya, dan katanya dia itu jenius juga tampan!”

Pagi itu lorong rumah sakit Universitas Seoul dipenuhi gosip mengenai kedatangan Chanyeol ke Korea sebagai dokter baru di rumah sakit itu. Fakta bahwa Chanyeol diminta khusus oleh Presiden lewat surat resmi pemerintahan, menyandang gelar lulusan Harvard dan menjadi Professor di usia yang sangat muda serta pengalaman kerja di salah satu rumah sakit terbaik dunia —John Hopskin—membuat Chanyeol menjadi buah bibir di rumah sakit.

“Astaga, dia benar-benar tampan!”

“Dia masih berkewarganegaraan Korea kan? Oh Tuhan, dia benar-benar style Amerika.”

“Pakaiannya kasual tapi tetap nampak berwibawa.”

“Aku tidak percaya ada dokter setampan itu!”

“Apa dia masih single?”

2f0d9ee64e85bdd6028b0920aaabd806.jpg

Anyeonghaseyo. Perkenalkan, nama saya Park Chanyeol, Proffesor spesialis neurologi. Nama Amerika saya Peter Park, jadi jika ada nama Peter Park di beberapa berkas nanti, mohon maklum karena itu adalah berkas saya. Soal rambut dan gaya berpakaian saya, ini memang sudah gaya saya dari dulu jadi mohon kalian tidak mengkritik, arraseo? Saya sudah mendapat persetujuan untuk berpakaian sesuka saya di lingkungan kerja selama masih berpakaian sopan, jadi saya harap kalian semua maklum dan mengerti style saya. Menurut saya cukup sekian, salam kenal semuanya, mohon bantuannya.”

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan ketika Chanyeol memperkenalkan diri dengan bahasa formal namun dengan gaya santai. Jangan tanya siapa yang histeris dengan perkenalan diri Chanyeol, tentu saja kaum hawa! Beberapa dokter laki-laki hanya memandangi Chanyeol dengan iri meski mereka membalas Chanyeol dengan tersenyum, yah, mereka mungkin merasa tersaingi kan?

“Maaf Chanyeol-ssi, apa kau sudah menikah? Punya pacar atau sejenisnya?” Chanyeol tertawa tipis mendengar pertanyaan salah seorang gadis yang tidak ia kenal itu. Chanyeol pun dengan cepat merapikan letak tas ransel di punggungnya sambil tertawa kecil. Tak lama kemudian Chanyeol mengangkat tangannya ke depan, lalu menunjukkan jemarinya yang sudah berlingkar semua cincin emas putih polos.

_20170618_061343

“Saya bertunangan.” jawabnya dengan cepat.

“Oh, dan tolong jangan menggunakan nama Chanyeol di lingkungan rumah sakit. Bisa kan kalian memanggil saya dengan sebutan Proffesor Peter saja? Rasanya cukup aneh jika kalian memakai nama Chanyeol.”

 

 

“Cepat panggil Proffesor Peter kemari, bilang keluarga pasien Son Jung Hwan akan segera datang.” Perintah Proffesor Jang, direktur rumah sakit Universitas Seoul kepada sekretarisnya lewat sambungan telfon yang kemudian dimatikan sepihak oleh kepala rumah sakit itu.

Tsk, sekarang kemana lagi dia keluyuran? Kenapa dia selalu membuat repot, huh? Sialnya kerjanya selalu bagus,” dengus Proffesor Jang sambil menyesap kopi yang sudah tersaji di atas mejanya.

Drtttt…….

Satu panggilan telfon membuat Chanyeol yang asyik mengunyah tiramisu di sebuah café dekat rumah sakit segera melirik ponselnya, lalu terkekeh ketika menemukan nama sekretaris direktur muncul di layar ponselnya itu.

“…………”

“Ya, aku akan datang segera.” jawabnya santai sambil tetap memotong kue tiramisu di piringnya menjadi beberapa bagian, lalu menyesap latte di gelas kopinya secara perlahan. Tak lama Chanyeol segera mematikan panggilan telfon itu. Namun bukannya berangkat seperti ucapannya, Chanyeol tetap asyik dengan cemilannya. Chanyeol tidak terbiasa makan siang, dan cemilan kue manis dan kopi seperti ini sudah menjadi hal wajib yang dilakukan Chanyeol setiap hari. Lagipula, kedatangan tamu VVIP tidak terlalu urgent bagi seorang Park Chanyeol.

Drttttt…….

Chanyeol mendengus lagi ketika suara ponselnya yang berdering kembali terdengar. Sebenarnya ia malas untuk mengangkat panggilan telfon itu, namun setelah melihat bahwa dokter magang yang bekerja untuknya yang menelfon, Chanyeol dengan cepat berubah pikiran.

“Pasien Jung Il Ho mengalami kejang-kejang Proff, saya tidak tau apa yang salah, hanya saja detak jantungnya meningkat sangat drastis.”

“Cih, kau sudah mengatur dosis obatnya seperti perintahku pagi ini?”

Hening, tidak ada jawaban sama sekali dari seberang telfon sana.

“Maaf Proff, saya

“—Sudahlah, aku sedang dalam perjalanan. Amati saja urat nadinya dan tunggu aku datang.”

Klik.

Chanyeol mematikan panggilan telfon itu dengan sepihak. Dengan cepat ia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar won di atas meja lalu segera berlari ke luar café. Chanyeol bisa dibilang dokter yang santai, tapi jika sudah berhubungan dengan pasien, Chanyeol tidak bisa berleha-leha.

Brughhh.

“Ah, maafkan aku.” lirih Chanyeol ketika dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Tanpa melirik siapa yang ia tabrak, Chanyeol segera melanjutkan langkah lebarnya keluar dari dalam café.

Tap.

Chanyeol mengehentikan langkahnya, merasa familiar dengan gadis yang baru saja ia tabrak itu ketika sudah sampai di luar café. Namun ketika ingin berbalik untuk menuntaskan rasa penasarannya, satu dering ponsel kembali menyadarkan Chanyeol bahwa ia sedang dikejar waktu.

“Ya, aku akan segera ke sana.” jawab Chanyeol cepat sambil mulai berlari ke arah rumah sakit tempatnya bekerja.

 

 

“Harusnya kau menurunkan dosis obat penenangnya sebanyak 15%! Kau tau, dia hampir mengalami gagal jantung karena overdosis obat!”

Plakk.

Chanyeol memukul pelan kepala dokter magang itu dengan papan check up pasien bermarga Jung yang baru saja kembali stabil setelah diperiksa olehnya. Dokter magang itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menunduk dalam-dalam, takut dengan amarah Proffesor di depannya.

“Maafkan saya Proff,” cicitnya yang hanya dibalas dengan tatapan tajam oleh Chanyeol.

“Kau mau meminta maaf ketika nyawanya sudah melayang, huh?!” bentak Chanyeol lagi yang segera membuatnya menjad pusat perhatian. Jika melihat Chanyeol yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan rambut coklat yang sedikit acak-acakan tengah membentak seorang gadis berpenampilan rapi dan jas dokter, pasien akan bertanya-tanya apa benar orang yang sedang marah-marah itu adalah seorang dokter atau bukan, tapi para staff di sana sudah mengenal Proffesor muda itu dengan sangat baik. Meski santai dan sering membuat lelucon, Chanyeol tetaplah seorang dokter jenius yang menginginkan kesempurnaan dalam setiap pekerjaan anak buahnya. Chanyeol benar-benar dokter yang perfeksionis.

“Proffesor Peter, Proffesor Jang meminta anda untuk naik ke lantai 14 dan memeriksa keadaan pasien VVIP.” Chanyeol memutar matanya sebentar menatap kepala perawat yang menggangu aksi marah-marahnya itu. Sedikit mendengus, Chanyeol akhirnya mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas informasi dari perawat bertubuh sedikit gempal itu.

“Jaga keadaan pasien ini agar stabil selama 24 jam penuh. Ingat beri obat penenang setiap 5 jam sekali dan dosisnya turun 15%, arraseo?!” bentak Chanyeol untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya meletakkan papan keadaan pasien itu di atas meja dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Dengan kaku dokter magang itu mengangguk sambil mengguman ‘ne’ dengan pelan. Chanyeol benar-benar menyeramkan ketika marah.

 

 

Satu helaan nafas keluar dari bibir Chanyeol ketika sampai di lantai 14. Dia tidak menduga bahwa kedatangan wali pasien dapat membuat ruangan VVIP yang biasanya hanya berisi satu pengawal itu kini berisi 5 bodyguard berwajah baru —yang tidak Chanyeol kenal sebelumnya— berjaga dengan wajah sangar di depan pintu.

“Wali pasien VVIP sudah tiba di rumah sakit. Proffesor Jang ingin anda menemui keluarga pasien dan membicarakan perihal operasi selaput pasien VVIP Prof.”

Chanyeol mengingat-ingat kembali isi pesan sekretaris direktur itu. Ia sedikit tertawa, wali pasien Son Jung Hwan? Siapa? Batinnya mulai menebak-nebak. Namun mengingat gadis di café yang rasanya familiar, Chanyeol jadi ingin berharap. “Apa mungkin Wendy?” pikirnya mulai melantur.

Chanyeol menarik nafasnya lagi. Siapapun itu, Chanyeol harus menemuinya dan berbicara 4 mata mengenai operasi yang akan segera dilaksanakan, entah itu istri pasien, putra tiri pasien, atau bahkan putri kandung pasiennya itu.

“Anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan VVIP.”

Chanyeol terkekeh mendengar larangan dari bodyguard-bodyguard baru itu. Chanyeol melihat penampilannya sendiri. Rambut yang sudah di cat cokelat dan jauh dari kesan rapi, kaos oblong berwarna putih, celana jeans hitam model robek di bagian lutut, serta sepatu kets berwarna merah menyala. Chanyeol sudah terlalu sering disalah sangka bukan seorang dokter karena penampilannya yang kelewat kasual itu.

“Aku dokter pasien VVIP, jadi biarkan aku masuk.” jelas Chanyeol dengan santai.

“Kami tidak percaya ada dokter semacam anda Tuan.”

“Aku ini benar dokter, kalian tidak percaya?”

“Kalau begitu, tolong perlihatkan kartu pengenal anda.”

Perdebatan kecil terjadi antara Chanyeol dan bodyguard-bodyguard itu. Chanyeol segera merogoh sakunya, lalu memukul pelan kepalanya ketika mengingat bahwa tanda pengenalnya berada di dalam jas dokternya sementara jas dokternya itu sendiri ia letakkan di dalam ruangan VVIP di depannya sekarang.

“Tanda pengenalku ada di dalam jas dan jas dokterku ada di dalam ruangan ini. Sudah, biarkan aku masuk.” jelas Chanyeol tanpa raut ketakutan sedikit pun.

“Kalau begitu anda tidak boleh masuk.” Chanyeol mendengus mendengar jawaban dari bodyguard itu. Ah, apa perlu aku menerobos paksa ke dalam agar dia percaya? batin Chanyeol, namun ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia tidak mungkin main tangan dengan bodyguard pasiennya sendiri.

“SUDAH KU BILANG AKU INI DOKTER YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PASIEN DI DALAM SANA!”

Jadi Chanyeol menaikkan satu oktaf suaranya, berteriak sedikit keras karena ia yakin Proffseor Jang dan dokter-dokter lainnya ada di dalam ruangan itu. Setidaknya mereka akan keluar dan mengkonfirmasi kalau Chanyeol adalah benar dokter pasien VVIP.

Ya! Lepaskan aku!” perintah Chanyeol ketika bodyguard-bodyguard itu mulai memegangi Chanyeol dan menariknya menjauh.

Clekk.

Chanyeol tersenyum ketika pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan menampilkan Dokter Kim dari divisi bagian penyakit dalam. “Ah, dokter Kim, bisa ambilkan jas dokterku di dalam sana? Bodyguard ini tidak percaya kalau aku benar-benar dokter VVIP. Lihat, mereka bahkan menahanku seperti ini.” kekeh Chanyeol dengan santai, tidak malu sama sekali meski dokter Kim yang lebih tua darinya itu memandangi Chanyeol sambil memijit pelipisnya. Mungkin dokter Kim berpikir seperti ini, “Bagaimana bisa bocah ceroboh dan berpakaian tidak mirip dokter semacam itu bisa menyandang gelar proffesor dari universitas Harvad di usia yang sangat muda?”

“Dia benar-benar dokter, bahkan dia sudah menyandang gelar Proffesor. Jadi lepaskan tangan kalian.” Perintah dokter Kim sambil memberikan jas dokter Chanyeol dan menunjukkan kartu pengenal lelaki itu sebagai seorang dokter.

Peter/ Chanyeol-Park

Proffesor Neurologi

Rumah Sakit Universitas Seoul

“Ma-maafkan kami, Proffesor.” ucap para bodyguard itu cepat karena baru saja menyadari kesalahannya, sementara Chanyeol tanpa rasa bersalah segera membebaskan diri dari kukungan bodyguard itu dan meraih jas dokter serta kartu pengenalnya.“Don’t judge book by its cover.” singkat Chanyeol sambil menyampirkan jasnya di atas bahu dan masuk ke dalam ruangan VVIP.

 

 

“Bukankah sudah ku bilang pakai kemeja dan celana seperti dokter, Professor Peter? Kau malah membuat bodyguard Tuan Son salah paham.” ucap Proffesor Jang ketika Chanyeol sampai di dalam ruangan.

“Aku tidak nyaman berpakaia formal jika tidak penting.” jawab Chanyeol santai dan mulai memakai jas dokter yang sedari tadi hanya dia sampirkan di bahu.

Chanyeol mengalihkan atensinya dari jas dokternya dan Proffesor Jang, lantas dengan cepat penampakan punggung seorang gadis di dalam ruangan itu membuyarkan semua konsentrasinya.

Gadis itu pun berbalik, lalu melihat penampilan Chanyeol dari ujung kakinya hingga kaos yang laki-laki itu kenakan sembari tertawa kecil, mungkin lucu melihat ada dokter berpangkat Proffesor yang berpakaian sedemikian santai?

“Ini adalah putri dari Tuan Son, nona Son— “

“—Wendy?” ucap Chanyeol memotong perkataan Professor Jang. Mendengar namanya disebut, Wendy pun dengan segera mendongak, dan betapa kagetnya dia ketika melihat wajah dokter yang akan mengoperasi ayahnya itu.

Chanyeol menahan nafasnya dalam-dalam, masih belum sanggup bertemu Wendy dalam keadaan seperti ini. Mata mereka berdua bersitatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Chanyeol sendiri yang memutus kontak mata mereka berdua.

“Ternyata memang Wendy. Astaga, kenapa dunia ini begitu sempit?” kata Chanyeol sambil berusaha tersenyum dan bersikap ramah, persis seperti gaya orang yang bertemu teman lama.

Wendy yang melihat Chanyeol pun mengerjapkan matanya dua kali kedipan, masih tidak percaya dengan sosok dokter di depannya. Terlebih dokter itulah yang bertanggung jawab atas operasi ayahnya nanti.

“Hei, kau seperti melihat hantu saja. Apa kabar, Son Wendy?” tanya Chanyeol lagi masih bersikap ramah. Bahkan sekarang Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya dengan gaya santai dan tersenyum lebar ke arah Wendy—memasang senyum tanpa rasa bersalah.

Berbeda dengan Chanyeol yang ceria, satu air mata Wendy menetes tanpa aba-aba, membuat para dokter yang ada di sana kaget bukan main karena Wendy tiba-tiba saja menangis. Sama seperti dokter yang lainnya, Chanyeol pun tentu saja kaget bukan main.

Ya! Kenapa kau malah menangis, huh? Kau tidak suka bertemu denganku lagi?” tanya chanyeol sambil mendekat ke arah Wendy, berniat mengelap air mata si gadis dengan ibu jarinya namun urung karena melihat para dokter di ruangan itu menaruh atensi ke arah keduanya yang nampak aneh, seperti pandangan bertanya, apa mereka berdua saling mengenal sebelumnya?

Akhirnya Chanyeol memilih mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam saku celana jeans-nya, lalu menyerahkan kain berwarna putih itu ke arah Wendy. “Jangan menangis.” kata Chanyeol datar sambil menyerahkan sapu tangan itu secara paksa ke telapak tangan Wendy.

Satu gumaman lolos dari bibir Wendy ketika melihat jemari Chanyeol yang bersentuhan dengan kulitnya, terlebih penampakan sebuah cincin yang melingkar di jemari manis Chanyeol menarik atensi Wendy seluruhnya. “Brengsek.” Ucap gadis itu dengan cepat sementara tangisnya makin mengalir dengan deras.

 

To be Continued

 

Screenshot_20170618-052635

vote bg cy di instagram @tccandler sebagai #100mosthandsomefaces. Kali ini no hoax tapi asli. finally by cy jadi nominasi juga setelah sekian lama ane nge-spam akun itu buat masukin muka cy.

 

Iklan

25 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. 😭😭😭😭😭 aku mesti nangis or ketawa sih….swedih bwanget pas bc cerita 11 tahun y lalu,untung abang ceye pinter mah….jdi gampang aj dia mau bercita-cita apapun.
    To Appanya Wendy:
    Om….cey elah….kalo udah tau tuh mukanya abang ceye mirip sama bapakny,ya knp masih aj diselidikan atuh….
    To Appanya Ceye:
    Lah in juga,udah tau tuh muka Wndy mirip sama Eommanya knp juga masih dijinin buat ngenyewa

    Kan y sakit jdi anak kalian toh..
    Bukan kalian.
    Kalina boleh egois akan prinsip hidup kalian,tpi jgn sampai mengorbankan HAK ASASI HATI dong 😄😄😄😄😄 ,kan wendy ky mayat hidup pas udah dipisahin sama abang ceye,abang ceye aj ampe ky org ga mmpu buat hidup lg,gegara mimpinya tak bisa digapai.

    Panjang amat yah….nih komen,keasikan ngetik ampe lupa kalo in lg komen 😅😅😅😅

    Semangat trus authornim eki buat melanjutkan ff in 💪💪💪 eki strong kok 👌👌👌
    Cintaku padamu mah eki 😍😍😍😍😚😚😚😚😚

  8. wkwkwk wendy akhirnya mengumpat bung!
    Teruskan wen… Wehehe
    Eh jangan deh, Bulan puasa, gak baik wen. Wehe
    Awalnya mbulet tp nyambung akhirnya 😂

  9. Akhirnya up jg
    Ya ampun baper akunya..akhirx wendy -chanyeol ketemu lg, msih berharap mreka balikan lg
    Please thor jgn blg itu cincin yg dipke chan beneran cincin tunangan, pkokx chanyeol hrus sm wendy titik *maksa 😀
    chapter selanjutnya jgn lama2 yah thor heheh

  10. Itu maksudnya 11 years ago kali… Kan flashback
    Btw, itu cincin yg dipake chanyeol cincin dari wendy kah??
    Haduuhhh akhirnya mereka ketemu jugaaaa 😭😭😭

  11. Aduh…itu cincinnya siapa yak???
    kok wendy ngomong ky gitu….😅😅😅😅 makin pnasan lanjut trus eki lanjut…komennya maaf kmn2 yah…cuma sempet bc TBC nya doang mah saya

  12. Izin save dulu authornim eki,soalx susah mau komen pas drmh,mesti naik kgunung dulu baru bisa komen mah reader y satu in(ga ad y nanya)

    Wow….park chan 😍😍😍😍😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s