GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2Level 3Level 4 — Level 5 — Level 6 — [PLAYING] Level 7

Chances of the world becoming one

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 7 — Black Label

In Jiho’s Eyes…

“Akhirnya, kau datang juga, HongJoo.”

Ucapannya adalah teror. Rencananya, di mataku, kini telah terlihat dengan begitu jelas. Ia tahu aku akan muncul juga di tengah battle ini, dan eksistensiku adalah hal yang telah ia nantikan.

Dengan terlampau cepat, Baekhyun bergerak dan melukai tiap player yang ada di dekatnya menggunakan sword tersebut. Tak ayal, sword itu juga yang bisa menghancurkan health bar player lain. Mereka semua tersungkur di tanah dengan keadaan menyedihkan, tapi Baekhyun rupanya masih marah.

Selesai menyerang player dari Country menggunakan sword itu, ia menyimpan senjata mematikan tersebut sebelum ia keluarkan dua buah bola plasma berwarna hijau pekat yang kemudian ia lemparkan ke udara dan—

BAM!

Ledakan plasma terjadi di arena yang Baekhyun batasi menggunakan plasmanya. Kabut hijau pekat segera menutupi pandangku—dan beberapa puluh player yang cukup beruntung karena tidak harus terjebak di dalam lapisan plasma tersebut sebelum—

“Mereka semua mati!”

Game over! Wah! Hebat sekali!”

—Baekhyun jadi satu-satunya player yang masih berdiri tegap.

Belum cukup dengan pelampiasan amarahnya, Baekhyun lagi-lagi mengeluarkan dua buah chakram, rarely chakram, kurasa. Karena aku tidak pernah melihat bentuknya dan tentu saja aku tidak tahu apa fungsinya.

Dua chakram berwarna merah darah itu Baekhyun lepaskan dari kedua tangannya, suara berdesing kencang terdengar seiring dengan bergeraknya chakram itu mengelilingi arena, menyingkirkan kabut hijau dan menggantinya dengan kabut serupa berwarna merah gelap.

Blood Chakram adalah racun yang melekat pada kalian semua setidaknya satu atau dua level. Ia tidak mencuri health bar kalian, tapi akan mencuri rarely item1 juga rank kalian dari turbulence spesial dan membuat DPS2 kalian kacau. Mungkin kalau kalian tidak beruntung, DPS kalian akan terulang secara otomatis dari nol.

“Sejujurnya, aku bukan seseorang yang suka merencanakan hal buruk secara diam-diam di belakang musuh. Aku lebih suka membuat kerusakan permanen yang membuat kalian menyesal karena sudah melakukan hal yang salah.”

Ya, dia memang berencana menghancurkan rank player di mode survival. Rencananya bukanlah hal simpel yang bisa diselesaikan dengan menggunakan pouch, ia menggunakan bagian dari permainan, dengan cara yang mematikan.

“Kau bukan pahlawan, kau seorang villain!”

“Ya! Kau menghancurkan rank orang lain demi kesenanganmu!”

“Kau hanya orang egois yang ingin berkuasa!”

Baekhyun tertawa mendengar umpatan-umpatan itu masuk melalui global mode. Meski sebenarnya ada puluhan pesan serupa, tapi aku tidak bisa mendengar semuanya dengan baik, sekarang.

“Bukankah kalian juga sekejam villain karena merencanakan hal buruk terhadap player lain? Aku juga, sudah merencanakan hal ini untuk semua player yang terlibat dalam kecurangan turbulence malam ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Baekhyun! Berhenti! Sebentar! Kita perlu bicara!”

Tidaklah sulit bagiku untuk mengekori Baekhyun ketika ia tiba-tiba saja mengakhiri turbulence dengan sebuah kemenangan mutlak. Meski ia menghilang dalam sistem visual player lain, karena aku pernah melakukan contact dengannya jadi aku masih bisa menemukannya.

“Baekhyun! Kumohon, kita perlu bicara!” aku berteriak ketika Baekhyun melesat dengan begitu cepat dari satu spot ke spot lainnya. Ia mengabaikanku, mengabaikan private chat yang kuberikan dan akhirnya membuatku berpikir ia mungkin telah memasukkanku ke dalam black label3 miliknya.

“Tidak bisakah kau dengar penjelasanku dulu?” aku akhirnya menyerah, kuhentikan langkah di tepi sebuah sungai sementara Baekhyun sudah berdiri di seberang sana—ia baru saja menyebrangi sungai dalam waktu dua sekon.

“Mengapa aku harus mendengarkanmu? Kau bukan siapa-siapa.” ucapannya membuat hatiku mencelos. Aku bukan siapa-siapa, ya dia benar, aku memang bukan siapa-siapa.

“Aku tidak terlibat dalam rencana mereka, sungguh!”

“Memangnya aku katakan kau terlibat?” ia malah balik bertanya.

Ugh, memang. Ia tidak mengatakan kalau aku terlibat, tapi secara tidak langsung pesan suaranya menuduhku seperti itu.

“Aku memang tahu rencana mereka, tapi bukan berarti aku mendukung mereka. Aku hanya—”

“—Lalu apa kau mendukungku?” ia lagi-lagi memotongku.

“Tidak, maksudku, ya. Bukan begitu, kau tidak mengerti. Aku mendengar tentang rencana mereka beberapa jam sebelum kita bertemu. Kupikir, akan lebih baik jika kau tidak tahu rencana mereka karena kau mungkin akan marah saat tahu player global ikut terlibat.

“Aku tidak menyangka jika kau nyatanya sudah meminta seseorang untuk menjadi mata dan telingamu di antara player lainnya sampai akhirnya kau tahu rencana itu. Aku tidak tahu siapa orang itu karena nyatanya ia tahu sebanyak yang aku tahu dan—”

“—Hentikan. Kau tahu kau tidak seharusnya bicara sebanyak ini saat aku masih dikuasai emosi, HongJoo. Aku percaya padamu. Hah. Bodohnya aku karena berpikir kau berbeda dari player lainnya. Pergilah. Sampai bertemu dua hari lagi, saat aku menghabisi Raider, UNbeaten dan Third Moon.”

Baekhyun sudah akan melangkah pergi saat aku dengan cepat membawa tungkaiku untuk melintasi bebatuan kecil menuju tempat ia berdiri.

“Baekhyun, tunggu. Aku belum selesai—”

SRASH!

“—Akh!”

Aku tersentak saat tubuhku terhempas ke daratan tempat aku tadi berdiri. Saat kulihat, Baekhyun tengah mengepalkan tangannya, dan pijaran api terlihat muncul dari celah jemarinya.

“Pergilah, HongJoo. Di mataku, sekarang kau sama dengan mereka semua yang sudah kuhancurkan.”

“Apa kau puas? Setelah menghancurkan mereka, apa kau senang? Dan juga, kenapa kau tidak berbalik sedikit pun? Aku paling kesal jika bicara pada seseorang yang tidak menatapku.” akhirnya aku menyahut, kusadari sedari tadi Baekhyun bicara memunggungiku, dan itu mengesalkan.

Masih dengan rasa dongkol yang sama, aku bangkit dan membersihkan bagian pakaianku yang kotor karena ulah Baekhyun. Meski serangannya barusan tidak berefek apapun, tapi aku merasa kesal.

“Aku tak ingin melihat atau mendengarmu, Hong—”

“—Jiho. Berhenti menyebutku ‘HongJoo-ssi’ ‘HongJoo-ssi’ dan membuatku seolah merasa HongJoo benar-benar namaku. Kau menanyakan namaku, bukan? Jiho. Namaku adalah Song Jiho.”

Baekhyun akhirnya berbalik, ditatapnya aku seolah caraku sekarang menyahutinya adalah cara paling konyol yang pernah ada dalam sebuah pertikaian. Pasti ia merasa konyol karena aku baru saja memperkenalkan diri di tengah perdebatan kami.

“Kau pikir mengetahui namamu saat ini akan membuat perbedaan?” nah, lihat, akhirnya ia berkata juga, sudah kubilang ia akan menganggap tindakanku sekarang sangat konyol.

“Tidak, setidaknya lain waktu jangan memanggilku HongJoo lagi. Seperti aku yang memanggilmu Baekhyun, kau juga harus memanggilku Jiho. Jika di turbulence lusa akan ada rencana terselubung lagi, kupastikan aku akan terlibat di dalamnya.

“Mengapa? Karena aku ingin tahu, bagaimana baiknya aku harus menghadapi kemarahanmu. Melihatmu menyerangku bertubi-tubi di arena jauh lebih baik daripada harus melihatmu bicara dengan memunggungiku. Setidaknya, kalau kau seorang player yang jenius kau harus tahu tata krama.”

“Apa? Tata krama? Sekarang apa kau—”

“—Dan kuberitahu ya, memotong perkataan orang lain itu tidak sopan. Kau sudah memotong perkataanku tiga kali, dan aku membalasnya dua kali.”

“Kau mencoba mengguruiku?” tanyanya dengan nada marah. Hah, siapa peduli kemarahannya sekarang? Aku juga merasa marah padanya.

“Ya, memangnya kau tidak terima jika aku mengguruimu? Apa kau marah? Kalau begitu simpan kemarahanmu untuk turbulence terakhir, Baekhyun. Asal tahu saja, akan kujual amulet darimu untuk mendapatkan pouch dan mengupgrade semua equipmentku.”

Kusadari, tatapan Baekhyun kini melebar.

“Kau akan menjualnya?”

“Memangnya apa gunanya benda itu untukku? Aku juga tidak tahu apa gunanya jadi lebih baik kujual. Sampai bertemu di arena, BaekHyun-ssi.”

Sekon selanjutnya, aku menginjak logout dan terbangun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Orang bilang, hidup itu menarik. Tapi sampai detik ini aku belum melihat di mana sisi menarik dari kehidupan yang orang-orang katakan. Selain bermain game, agaknya aku adalah seseorang dengan kehidupan yang menyedihkan. Bagi sebagian orang, mungkin kami—para gamers—terlihat menyedihkan dan kesepian, tapi mereka tidak tahu kebahagiaan apa yang bisa kami dapatkan lewat bermain game.

Setidaknya, aku bisa berpikir begitu saat berada di WorldWare, dulu—ah, sampai beberapa minggu lalu, setidaknya. Kemunculan Baekhyun sebagai Invisible Black agaknya sudah mengubah orientasi sebagian besar player—terutama yang berada di sebuah Country.

Memburu Baekhyun dan mengalahkannya seolah jadi sebuah daily quest4. Bahkan, beberapa dari mereka—yang punya kemampuan hacking seperti Taehyung—kudengar berusaha meretas akun Baekhyun. Tidak ada hasil, tentu saja. Dari awal aku yakin Baekhyun bukanlah seorang pemain yang sekedar pintar memainkan jemarinya di atas keyboard saja, tapi ia memang seorang yang jenius.

Masalahnya, berada di Country sekarang tidak lagi membuatku merasa nyaman. Beberapa gadis ‘bermasalah’ di Enterprise, seperti Watashiwayoo, StoryofJia, Dollyana, dan SelynMa, agaknya menganggap persaingan untuk menemukan Baekhyun sebagai sebuah kewajiban.

Chat box Country juga dipenuhi pembicaraan mereka tentang Baekhyun, dan saat aku online di mode survival kutemukan mereka juga tengah membicarakan hal yang sama.

Yang menyebalkan adalah, mereka berencana untuk menawarkan bantuan pada Baekhyun di turbulence terakhir. Ugh, mengapa aku merasa kesal karena tahu mereka akan menawarkan bantuan? Baekhyun toh belum tentu menerima tawaran dari mereka.

Tapi bagaimana jika Baekhyun menerimanya? SelynMa adalah seorang player yang ada di level 92—garis level yang sulit digapai player wanita—dan dia juga seorang perfect yang Ashley bicarakan.

Meski tidak secantik Ashley, tapi aku mengkategorikannya sebagai seorang player yang cantik. Dari caranya memamerkan kehidupan nyata, aku tahu SelynMa adalah seorang mahasiswa fashion yang kuliah di Paris.

“Dia akan menerima tawaran bantuan dariku, aku yakin. Dia bahkan pernah membalas pesanku.” kudengar SelynMa berkata.

Lihat? Aku sekarang bahkan melakukan hal tidak berguna. Berpura-pura ‘sleeping’ sementara aku tengah sibuk mencuri-dengar pembicaraan empat gadis bermasalah itu.

“Dia juga pernah membalas pesanku.” Dollyana membalas.

Hah, dan sekarang aku harus percaya kalau Baekhyun hanya menerima tawaran bantuan dariku? Jangan bercanda. Dia sama saja dengan player pria lainnya. Tidak, Jiho. Hentikan. Tidak seharusnya kau merasa kesal karena hal sepele.

“Ah, tentu saja. Bagaimanapun dia juga seorang pria.” komentar SelynMa. Ya, benar. Dia juga pria, menyebalkan.

“Menurutmu Country akan merencanakan serangan mendadak lagi terhadapnya? Terakhir kali, dia menghancurkan kita semua dan mempermalukan kita. Meski aku merasa marah karena dia sudah mengambil satu level dariku—dan dua rarely items—tapi keinginanku untuk bisa berhadapan dengannya di sebuah battle terwujud juga.” StoryofJia berkata.

SelynMa kini mengangkat bahu acuh. “Siapa peduli? Yang jelas dia sangat keren. Tidak salah lagi, di kehidupan nyata ataupun di sini, pria misterius memang lebih menarik.”

“Ya, benar. Selyn benar. Tapi, menurutmu mengapa ia belum mencapai level akhir? Dia seorang player yang hebat, tentu tidak sulit baginya untuk mencapai level 100, bukan? Apa jangan-jangan, rumor itu benar?”

“Rumor apa?”

“Tentang berakhirnya WorldWare jika ada seorang player yang berhasil mencapai level 100.”

“Cih, mana mungkin. Kau pikir programmernya menciptakan WorldWare untuk dihancurkan karena satu orang player? Coba bayangkan, berapa ribu orang yang akan protes jika WorldWare tereset?”

Terlepas dari rumor yang kudengar, kejanggalan yang tercipta lantaran Baekhyun yang belum mencapai level 100 justru lebih terasa mengganggu. Benar juga, mengapa ia menghabiskan waktu untuk bermain-main dengan player lain dan bukannya berusaha menyelesaikan permainan?

Ugh, aku bahkan tidak punya kesempatan untuk bertanya pada Baekhyun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hilangnya kontakku dengan Baekhyun entah mengapa membuatku tidak bisa online dengan tenang. Aku terus mencari Baekhyun, meski aku sendiri juga tidak tahu tentang apa yang akan kubicarakan dengannya saat aku bertemu dengannya nanti, tapi aku tetap mencari Baekhyun.

Biasanya, saat bosan aku akan menghabiskan waktu di Tacenda dan bicara bersama Wendy. Tapi sore ini, saat aku tengah menghabiskan waktu dengan melihat bunga sakura musim dingin yang bermekaran di theatrical garden, Baekhyun muncul.

“Baek—” aku baru saja akan bicara padanya ketika kulihat health bar Baekhyun begitu buruk. Apa ia baru saja kembali dari turbulence? Tapi mengapa tidak ada notice apapun di global chat?

“Spider, serang dia!” tatapanku membulat ketika kutemukan lima orang player pria berpakaian merah marun mengejar Baekhyun. Bukankah mereka berasal dari Country bernama ANonymous yang dikenal sebagai penjarah player lain dan juga hacker yang sering meretas akun player dengan rank tinggi?

“Beri aku waktu, Rabbit. Aku akan meretas habis akunnya.”

Benar, bukan? Aku ingat benar ANonymous menyebut diri mereka setara dengan hacker terkenal itu. Pribadiku yakin mereka pasti hanya sekelompok anak nakal yang berusaha meretas akun milik orang lain demi kesenangan. Tapi mengapa mereka mengejar Baekhyun?

“Kalian tidak bisa meretasku, bagaimanapun kalian mencobanya.” Baekhyun berucap santai, meski tubuhnya sudah babak belur.

“Hah, kau pikir ada system yang aman, huh? Utopia, kau sudah selesaikan tugasmu?” kudengar salah seorang dari mereka—yang memiliki label leader—berucap.

“Aku akan—” ucapan player bernama Utopia itu terhenti. Tubuhnya juga berdiam. Freeze. Entah apa yang terjadi, tapi pasti dia offline sekarang.

“Sial! Earthquake, cepat selesai—Earhtquake?” player lain juga mengalami freeze yang sama seperti Utopia tadi.

“Tsk, Spider, Basick, ayo kita habisi saja dia. Setidaknya dia akan kehilangan beberapa level.” leader mereka berkata. Siapa tadi namanya? Rabbit?

Baekhyun, tampak berdiri dengan tatapan tenang. Meski sekon kemudian ia menerima serangan bertubi-tubi tanpa memberi perlawanan berarti. Ada apa dengannya? Apa dia sedang bertingkah lemah untuk kemudian secara tiba-tiba menyerang?

Health bar Baekhyun semakin kacau, bahkan mencapai titik danger. Human wealthnya juga terlihat sama mengerikannya. Apa dia sedang sakit sampai dia tidak memberikan perlawanan apapun?

Tidak, aku tahu Baekhyun bukan seorang yang akan menyerah begitu saja pada kekalahan. Dia juga tidak lemah. Setidaknya, ia pasti punya rencana untuk menyelamatkan diri dan—

Urgh!”

—tidak. Kali ini dia tidak punya rencana.

Aku tidak lagi bisa menahan diri ketika kulihat Baekhyun ambruk dengan pasrah di tanah. Membiarkan tiga orang player di sana menyerangnya. Aku tidak ingin ia dilukai seperti ini. Aku tidak ingin dia terlihat lemah dan sendirian di depan player lain.

SRASH!

Aku terkejut saat kusadari archeryku telah menyerang player di sana. Ketiganya berbalik, menatap ke arahku yang sekarang berdiri di belakang mereka.

“Wah, wah. Lihat siapa yang mau ikut campur di permainan kita.” kudengar leader mereka—Rabbit—berucap.

“Tinggalkan dia sendiri. Menyerangnya ketika human wealthnya lemah membuatmu merasa bangga?” ucapku, tahu benar jika mereka memanfaatkan keadaan Baekhyun yang sedang drop untuk menyerangnya dan mengambil keuntungan.

“Dan apa yang kau lakukan di sini? Kau dari Enterprise, bukan? Seharusnya kau bergabung bersama kami dan membalaskan dendam Countrymu padanya.” Rabbit berucap, ministry swordnya terayun ke arah Baekhyun saat aku lagi-lagi menarik busur panahku dan menyerangnya.

Argh! Kau gila?!” Rabbit berteriak marah.

“Tinggalkan. Dia.” aku mengulang ucapanku dengan penuh penekanan.

“Cih, apa kau berusaha mengambil keuntungan jika kami pergi? Kau rupanya cerdas sekali. Sayang, ANonymous tidak sebodoh yang kau pikir, HongJoo.”

Aku menghembuskan nafas kesal. Memangnya tindakanku sekarang terlihat seolah aku tengah berusaha mengambil keuntungan di tengah kelemahan seseorang? Ya, memang kupikir Baekhyun akan bicara padaku lagi jika aku membantunya. Tapi bukan itu titik permasalahannya sekarang.

“Tidak bisakah kalian pergi saja? Dia sudah seperti itu. Meski aku ada di level 87, tapi aku tidak akan segan-segan melawan kalian.”

“Kau menantang kami? Atau kau mewakili Enterprise untuk menantang kami? Apa kau tidak tahu apa yang bisa kami lakukan? Kau ingin semua anggota Enterprise menyalahkanmu jika sesuatu terjadi pada akun mereka?” Rabbit berucap dengan nada mengancam.

Ya, aku tahu dia mungkin bisa meretas akunku dan merusak rank yang susah payah kuraih.

“Kalau kalian bersedia melawanku dalam turbulence yang fair, aku tidak keberatan. Dan juga, tindakanku ini tidak ada hubungannya dengan Enterprise, jadi jika kalian berminat meretas akun, retas saja akunku. Toh, tidak ada untungnya bagi kalian karena aku tak punya banyak equipment berharga.”

Rabbit tertawa mengejek. Nampaknya dia tahu jika aku bukan tipe player yang menyimpan lebih dari dua jenis sword atau weapon lainnya di dalam martial box milikku. Aku bahkan tak punya lebih dari seratus pouch sekarang. Dan jika mereka meretas akunku, mereka tak akan bisa menggunakannya dalam survival mode karena ID kami berbeda.

“Jika bukan karena Enterprise, lalu mengapa kau berdiri di sini?” pertanyaan Rabbit menyadarkanku.

Agaknya, alasanku menginginkan Baekhyun untuk kuserang sendiri akan terdengar lebih masuk akal dibandingkan kemunculan tidak beralasanku sekarang.

“Aku ada di sisi yang sama dengannya.” ucapku membuat Rabbit menatap ke arah Baekhyun—yang keadaannya masih sama menyedihkannya—kemudian memandangku.

Sekon kemudian, dia tertawa cukup keras hingga membuatku terkejut.

“Astaga! Tidak kusangka kau adalah player yang membuatnya tahu tentang semua hal di WorldWare ini. Kau pintar juga, HongJoo. Bukankah yang kau lakukan sekarang sama seperti perselingkuhan yang ada di kehidupan nyata?”

Apa? Ah, apa dia sekarang berpikir jika aku adalah salah seorang player yang Baekhyun bayar untuk mengorek informasi tentang rencana kecurangan di turbulence dan semacamnya? Kupikir dugaannya malah lebih baik dari rencanaku.

“Ya, memangnya aku tidak boleh hidup dengan caraku di dalam game ini? Lagipula, untuk apa hidup di satu Country saja ketika player hebat bisa memberimu pengalaman yang berbeda?” aku lantas berkelakar, berusaha sebaik mungkin agar Rabbit percaya pada ucapanku.

Akhirnya, Rabbit memperhatikanku dari atas sampai bawah, sementara ia mengangguk-angguk seolah berpikir keras.

“Aku suka caramu bertahan di permainan ini.” ucapnya kemudian. Ia melempar pandang ke arah Baekhyun sebelum pandangnya kembali bersarang padaku.

“Kalau begitu cepat selamatkan rekanmu ini sebelum aku berubah pikiran.”

Secepat kilat, aku melangkah menghampiri Baekhyun, memapah tubuhnya meski ia menunjukkan penolakan.

“Kupikir-pikir lagi, sepertinya meretasmu memang tak akan menghasilkan apapun. Kau pasti selalu hidup bagai parasit yang meminta equipment darinya. Hah. Hidup memang tidak berbeda.” Rabbit berucap. Baru saja aku akan menimpali perkataannya, ia sudah menarik dua rekannya untuk pergi.

Sialan. Dia mengejekku sebagai parasit? Ugh, jika saja dia tidak menyerang Baekhyun, aku pasti tidak akan pedu—tunggu. Kemana aku akan membawa Baekhyun?

Dia tidak punya Country, dan tidak ada penthouse5 yang bisa ia tuju. Membawanya bersamaku ke Enterprise—meski secara diam-diam—hanya akan menimbulkan masalah pada akhirnya.

Berpikir, Jiho, berpikir. Ah! Wendy!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Wendy, apa hanya aku yang berpikir kalau dia tampan?”

“Tidak, dia memang tampan.”

“Nah… bukan aku seorang yang berpikir begitu. Apa kau pernah melihat player lain yang sepertinya? Maksudku… yang punya visualisasi tampan seperti ini?”

Umm, kurasa tidak. Eh, bukankah dia player legendaris itu?”

“Kau juga tahu tentangnya? Wah, dia pasti sangat terkenal…”

“Tentu saja. Dia tidak pernah singgah di Tacenda, pantas saja wajahnya terlihat asing. Tapi semua player yang singgah di tempatku punya history dengannya. Termasuk kau.”

“Apa kau tahu kalau aku—”

“—Bekerja sama dengannya? Ya, aku tahu. Bekerja sama antar sesama player memang sering terjadi. Bukankah begitu?”

Sudah lebih dari setengah tiga jam aku menghabiskan waktu di Tacenda. Untung saja, tidak ada player yang mengakses babak bonus di sini sehingga aku tidak harus keluar dari Tacenda untuk memberi Wendy ruang untuk terlibat dalam battle dengan player lain.

“Bagaimana dengan historynya? Kau bisa melihatnya juga?” tanyaku penasaran.

“Bukankah dia ‘star’-mu?”

“Apa?” aku mengerjap terkejut.

“Dia memberimu Cosmic Rings itu, aku melihatnya. Kalau kau Nebula, dia pasti Star yang kau butuhkan.” Wendy tersenyum, ia memainkan surai merah gelapnya sambil memperhatikan aku dan Baekhyun.

“Ah… Aku belum pernah melihat pair datang ke Tacenda, tapi aku yakin kalian akan terlihat cocok sebagai pair.”

“Benar, apa aku harus mencari pair yang selevel dengannya? Sebenarnya dia benar-benar cocok dengan kriteria idealku.” aku menyahuti ucapan Wendy dengan sebuah candaan kecil.

“Ya, ya aku tahu. Memangnya wanita mana yang tidak ingin memiliki pria yang tangguh? Aku tahu kau juga ingin dia menjadi pairmu. Bukankah begitu? Lihat saja caramu mempedulikannya sekarang.” tatapanku membulat saat Wendy menarik sebuah kesimpulan.

“Apa kau gila? Memangnya aku tidak punya kaca sampai-sampai berkeinginan semacam itu? Aku hanya menolongnya karena dia drop. Dan juga, kau harus belajar memahami candaan, Wendy.”

Wendy terkekeh mendengar ucapanku. “Memangnya aku mengatakan apa? Aku hanya melihat list history unik di antara kalian.”

History unik?” tanyaku.

“Hmm, dia—oh, tunggu. Sepertinya ada yang akan bertamu ke sini.” Wendy mencicit kecil, ia seringkali mengintip—entah bagaimana ia melakukannya, tapi Wendy selalu mengistilahkannya sebagai mengintip—keluar dari areanya saat ada player yang mendekati Tacenda.

Akhirnya, aku duduk bersimpuh sendirian, sementara Baekhyun tertidur di pangkuanku—aku tak mungkin membiarkannya tertidur di tanah, bukan? Meski lambat, health barnya mulai membaik. Tapi human wealthnya seolah tidak bergerak.

“Apa menyenangkan membicarakanku seperti itu?” aku terkejut saat mendengar Baekhyun bicara. Sepasang netra gelapnya bahkan sudah menatapku.

“Kau mendengarnya?” tanyaku terkesiap. Harusnya, aku bertanya apa dia merasa lebih baik, atau bertanya apa dia beristirahat cukup, tapi aku lebih khawatir pada kemungkinan bahwa dia—

“Yang mana? Kau mengatakanku tampan? Kau yang ingin tahu tentang historyku? Aku yang entah sejak kapan menjadi ‘star’-mu? Perkataan NPC itu tentang kecocokan kita? Atau pengakuanmu tentang aku yang jadi kriteria ideal pair yang kau inginkan?”

—mendengarnya.

Ugh, tentu saja dia mendengar semuanya. Aku bahkan belum menjawab pertanyaannya ketika ia sudah bangkit.

“Jiho?”

“A-Apa?” aku berjingkat saat Baekhyun menyebut namaku. Tidak memanggilku dengan sebutan HongJoo-ssi lagi, dia sekarang benar-benar memanggil namaku.

“Yang mana dari semua konversasi itu yang seharusnya tidak kudengar?” ia bertanya, bisa kulihat sebuah senyum kecil disunggingkannya meski keadaannya masih tidak terlihat baik-baik saja.

“Apa kau sudah merasa lebih baik?” pertanyaan lain justru kuutarakan untuk membelokkan arah pembicaraan.

“Bukankah kau harus menjawabku dulu, baru aku menjawab pertanyaanmu?”

Aku memejamkan mata, menarik dan menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya kuberanikan diri menatap Baekhyun. “Semuanya, kurasa. Aku tidak tahu jika kau mendengarnya. Kau tahu, aku tidak bermaksud apa-apa—jika kau mungkin berpikir aku menyelamatkanmu karena tujuan lain.”

“Aku ingin tahu, seberapa banyak NPC itu tahu tentangku. Haruskah aku menantangnya dalam sebuah duel?”

“Tidak. Jangan. Maksudku, sebaiknya jangan. Jika kau menang melawannya, kau tidak akan bisa masuk ke sini lagi. Dan juga… kupikir tempat ini menyenangkan.” ucapku pada Baekhyun.

“Dan apa hubungannya semua itu denganku?”

“Ah… tidak ada. Aku hanya berpikir jika kau mungkin ingin singgah di sini lagi. Wendy adalah seorang yang menyenangkan.” aku menjelaskan, meski sekarang tatapan Baekhyun padaku terlihat seolah aku tengah menjadi orang paling aneh di dunia.

“Kau berteman dengan NPC?” tanyanya, menyelipkan tawa dalam suaranya.

“Kenapa? Beberapa orang di Country juga mengenal NPC. Awalnya kupikir mereka gila karena bicara pada karakter game, tapi kemudian… kupikir game ini memang berbeda.”

“Berbeda?” Baekhyun menuntut penjelasan.

“Ya, kita bisa berteman dengan NPC. Seperti aku dan Wendy, kami berteman—cukup akrab, kurasa. Tidakkah kau pikir NPC game ini begitu pintar?”

Baekhyun tidak langsung menjawabku. Ia bangkit dari pangkuanku, merapikan surai gelapnya sebelum kudengar ia menghembuskan nafas panjang.

“Mungkin saja begitu. Kau tidak akan tahu kalau besok-besok ada seorang player yang menjadi pair dengan NPC.” jawaban Baekhyun kini membuatku menyernyit bingung.

“Memangnya hal itu masuk akal?”

Kini, Baekhyun menatapku. “Memangnya tidak? Melihat bagaimana pandainya NPC di sini, hal itu mungkin saja terjadi, bukan?”

“Tapi bukankah menjadi pair… berarti ada setidaknya sedikit ‘perasaan dekat’ di antara dua orang itu?” pertanyaanku Baekhyun jawab dengan sebuah senyum kecil.

“Setidaknya salah satu di antara mereka memiliki ‘perasaan dekat’ yang kau maksud itu. Lalu apa masalahnya?” mendengar jawaban Baekhyun, aku terdiam. Caranya berbicara terdengar seolah ia pernah—

“Apa kau pernah menyukai NPC?”

“Apa?” Baekhyun tergelak, ia lantas membenarkan posisi duduknya, menatapku dengan ekspresi ramah—yang tadinya kupikir ia akan terus bersikap dingin karena perdebatan kami hari itu.

“Aku lebih suka pada player dibandingkan NPC.”

“Kenapa begitu?”

“Apa kau senang membayangkan player akan menjadi pair dengan NPC? Menurutmu dengan cara seperti itu… sebuah kesempatan untuk menyatukan dunia akan muncul? Dengan cara tidak masuk akal?”

Aku segera menggeleng.

“Tidak, aku tidak bicara begitu.”

“Terdengarnya seolah kau bermaksud begitu.”

Sejenak, aku terdiam. Dari cara bicaranya tadi jelas kudengar ia begitu mendukung hubungan antara player dengan NPC, tapi sekarang ia bersikap seolah enggan untuk menjalani hubungan aneh seperti itu.

Baekhyun sudah lama bermain di mode survival, dan dia juga selalu sendirian.

Siapa yang tahu jika dia mungkin pernah punya pengalaman buruk dengan NPC?

“Baekhyun-ah…”

“Hmm?”

“Apa kau… pernah punya pair?”

Mendengar pertanyaanku, Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum kecil yang tidak kumengerti. Senyum selalu terlihat sebagai sebuah peringatan untuk waspada jika Baekhyun yang menunjukkannya.

“Kenapa? Kau ingin memberikan Wild Rose milikmu padaku? Bukankah kita masih ada di tengah perang dingin dimana seharusnya aku mengabaikanmu?”

— 계속 —

Footnotes:

Rarely items: equipment langka yang tidak bisa dimiliki semua player tapi kemungkinan bisa dimiliki beberapa player. Bisa diperoleh dengan menyelesaikan bonus stage tertentu.

DPS: Damage Per Second—besar serangan (dalam bentuk angka) pada player lainnya di dalam battle/PK/turbulence dimana serangan dengan DPS yang tinggi bisa mengurangi health bar lawan dengan cepat.

Black label: black list yang dimiliki masing-masing player untuk menghalangi player(s) tertentu untuk mengakses profilnya/berkomunikasi dengannya.

Daily quest: tantangan kecil yang biasa muncul dalam kurun waktu 24 jam dari saat player login di tiap harinya.

Penthouse: sebuah tempat yang berfungsi sebagai ruang berkumpulnya anggota dari sebuah Country.

IRISH’s Fingernotes:

Ini hari minggu :v (engga nanya Rish) dan berhubung semalem baru aja ngepost level enam jadi yaudah enggak apa sekalian ngepost part tujuh. Anyway, minggu depan udah lebaran, yang mudik mana suaranya ~~ duh duh diriku mah cinta tanah air, engga acara mudik tapi jadi penjaga kampung soalnya sekampung pada mudik, LOL.

Karena udah deket lebaran kudunya ngomong soal macetnya jalan kalo malem sama sempitnya mall ya… mau ngomongin ini epep kenapa diriku terlena sama efek H-7 lebaran :’D

Berhubung lagi puasa kayaknya diriku kudu mengurangi kecerewetan, jadi rencana sih minggu depan pas lebaran-lebaran postingnya barengan sama post pendek lainnya, biar para gamers WorldWare aja yang berceloteh, ya, biar pembaca makin kenal sama WorldWare dan pemain-pemain game di dalamnya yang selalu disebut pake nama gamers dan bukannya nama asli :v

Contact Me  ]

instagram wattpad wordpress

Iklan

8 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH

  1. Daebak!😃 aku sampai lupa kalo tadinya jiho habis cekcok sama baekhyun. Greget bangeet😍 . Keep writing ya kak.. Fighting!😇

  2. Cieee yg kesel
    Cieeeeee makin ganteng kalo yg kesel
    Ahahaha jiho-yaaa
    Lu di dalam game aja ngakuin kalo baek itu cakep apalagi lu ketemu di dunia nyata. . .

    Ak ngeship banget pasangan ini sumpah. Suka gitu. Si jihonya lemot eeeh si baekinya sok sok tebar pesona getoooh.

    Kasih saran apa emang pengen jiho jadi pair kamu bang cabeee??? Hmmmm senyumanmu itu sesuatu yaaa

    Btw itu si cabe rambutnya di cat red gitu gitu yaaaah. Moga kambeknya nambah HOT!!!!

    Udah aaaah
    Riiiiisssh samaan dong kita gak mudik. . .

    Ya udah semoga kita bertemu lagi di level selanjutnyaaaa

    Tha tha risssssh

  3. Tbc nya ngeselin sumpah -_-udah senyum” juga bayangin cengirannya si cabe sma muka cengony jiho —
    Sneng ih trnyta jiho sma baek brantemny ga lama” ,.. Udh baek jadiin jiho pairmu aja *maksa*
    Fighting ka rish lanjutin ny 😄😘

  4. Yaampun kak padahal siangnya tadi aku baca yg part 6, eh sekarang udah dipost yang part 7~ulala..
    Nah gitu dong kak, post cepet-berbuat kebaikan- dibulan puasa yg ceritanya H-7 lebaran duh, kan baik tuh wkwk. Btw aku cinta banget sama ff ini cinta secinta-cintanya. Kadang, pas aku lagi baca ini ff terus kebaca tulisan tbc aku meraung-raung tak terima kalo harus nunggu part selanjutnnya 😦 plis, berbaik hatilah kak untuk ngepost lebih cepet wkwk/tendang aku plis/ Btw (2) kenapa aku jadi curcol disini -_- duh duh. Yaudah kalo gitu aku berharap dirim mendapat hidayah ya kak biar lancar ide-idenya buat bikin cerita yg keren bgt begini :’ ugh, mohon maaf lahir batin Kak Irisheuu ❤ *ngucap duluan sebelum lebaran tiba wkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s