GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — Level 2Level 3Level 4 — Level 5 — [PLAYING] Level 6

Even if you try

You can’t bring me down

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 6 — Inside, Tacenda

In Jiho’s Eyes…

“Kau akan jelaskan tentang fungsi amulet ini?”

“Bukan, HongJoo. Aku akan jelaskan padamu tentang legenda yang tidak player lain ketahui—Cosmic, Nebula, and Star.”

“Tidakkah kau hanya akan menghabisiku ketika aku menginjak start?”

“Bukankah kau percaya padaku?”

Pertanyaannya retoris. Ia baru saja memutar balikkan perkataanku untuk menyudutkan. Dan aku tidak punya pilihan lain, meski ia katakan ia akan menjelaskan legenda tentang Cosmic Rings—yang menurutnya tidak diketahui player lain—tapi bagaimanapun ia adalah seorang villain1.

Ia akan menyerangku, itu kemungkinan pertama. Ia akan berbohong, itu kemungkinan kedua. Usahaku akan sia-sia, itu kemungkinan ketiga. Tidak satu pun kemungkinan itu menguntungkanku, dan situasi sekarang juga tidak menguntungkan, jadi aku tak punya pilihan.

“Bagaimana? Kurasa kau tidak punya pilihan lain selain menurutiku.” ia tertawa puas, tahu benar situasi semacam ini menguntungkannya.

Baiklah, berpikir, Jiho. Aku tidak bisa mengganti equipment yang kugunakan karena aku tidak sedang standby, dan yang bisa kugunakan untuk menyelamatkan diri hanyalah berlari.

Mengingat aku memang tidak punya pilihan, akhirnya kuputuskan untuk menginjak start. Lapisan keemasan yang menjadi batas start baru saja lenyap saat sebuah seringai kulihat muncul di wajah Red Hair Witch sebelum sekon kemudian dengan begitu cepat ia melesat ke arahku dan membuat tubuhku menghantam pepohonan.

BRUGK!

Ugh!”

Benar, bukan? Ia akan menyerangku.

“Hah! Lihat bagaimana kau terhempas dengan begitu mudahnya!” ia tertawa puas, berusaha menahan rasa sakit yang benar-benar terasa nyata—kudengar dari player lain kalau terlibat dalam battle2 ketika human wealth seorang player sedang buruk akan memicu stimulasi rasa sakit yang berlebihan—menyerangku.

“Kau katakan kau akan memberitahuku.” aku berucap, sedikit kepayahan karena sedetik kemudian aku memaksa diriku untuk berlari guna menghindari serangan yang baru saja ia lepaskan dari sleeves yang ia kenakan.

“Memang, aku akan memberitahumu. Tapi tentu itu tidak kulakukan dengan cuma-cuma.” ia menyahut ringan, begitu santai ia lempaskan beberapa magical light dari sleevesnya ke arahku yang sekarang tergopoh-gopoh berlari.

“Kau sudah jelas tahu aku tidak akan bertahan satu menit di arena ini. Mengapa tidak kau mulai saja penjelasanmu?” kemudian aku menuntut.

Ia terhenti sejenak, dipandanginya keadaanku—yang sudah berubah menyedihkan dalam beberapa sekon karena magical light—sebelum ia tertawa puas.

“Baiklah, aku akan mulai bercerita. Cosmis Rings, adalah rings yang diperuntukkan bagi dua orang pemain. Gunanya, adalah mengikat pemain tersebut secara offline maupun online.”

Offline?”

SRASH!

Akh!” aku terlambat menghindari serangannya, sekarang aku tergeletak di tanah, health barku sudah hilang setengahnya, dan dua atau tiga serangan lagi darinya akan mengakhiri pertahananku.

“Cosmic Rings punya system tracking3 yang aktif melalui Survival Tube ke dalam tubuh player. Secara tidak langsung, karena sudah bermain dalam survival mode, ada chemical noctah yang terdapat di tubuh tiap player.

“Mengaktifkan Cosmic Rings, akan membuat perbedaan pada chemical noctah tersebut. Nebula, dan Star, begitu mereka disebut. Nebula adalah inangnya, pemegang Cosmic Rings itu, dan Star adalah pasangannya. Lalu—ah! Bagaimana ini, HongJoo, tanganku begitu ingin menyerangmu.”

Aku menghela nafas panjang. Mengapa ia sekarang berbasa-basi? Seharusnya sejak tadi ia bicara dari awal jika memang ingin menyerangku.

“Serang saja, selama kau meneruskan penjelasanmu, aku akan menerimanya.”

SRASH! BRUGK!

Ugh!” aku menahan rasa nyeri yang sekarang bersarang di perutku, ia sungguh tidak berperasaan. Sudah tahu lawannya lemah, mengapa masih menggunakan kekuatan yang sama dengan saat ia menyerang player lain dengan equipment tinggi?

Jika orang-orang katakan NPC4 WorldWare cerdas, maka aku akan serta-merta merasa tidak terima. Mereka tidak secerdas yang orang-orang bicarakan.

Oops, maaf. Aku tidak tahu kalau kau tidak menghindar.” ia berucap seolah baru saja secara tidak sengaja menyerangku padahal aku tahu ia sengaja.

“Bagaimana dengan Star yang kau bicarakan?” tanyaku mengalihkan pembicaraannya sebelum ia beralasan tangannya ingin menyerangku lagi.

“Oh, benar! Jadi, pemilik Cosmic Rings boleh memilih satu player sebagai partnernya. Ketika mereka terhubung, exchange, trading, dan semua jenis transaksi antar pemain akan diperbolehkan tanpa harus menunggu. Mereka juga bisa saling memakai equipment. Umm, seperti pair? Ya, hampir seperti pair, tapi Cosmic lebih menguntungkan.”

“Apa yang membuatnya menguntungkan?”

“Karena kalian juga terhubung secara offline!” ia menjentikkan jemarinya, lantas bibirnya kembali terbuka. “Saat salah satu dari kalian offline, dan sesuatu yang buruk terjadi pada player yang online, seperti misalnya… terlibat dalam battle, akan ada rasa sakit spesifik yang muncul di tubuh player yang offline.”

“Bagaimana bisa?” aku menatap tidak mengerti.

Chemical noctah. Karena benda itu!” ia memekik.

“Lalu apa bedanya Nebula, dengan Star?” tanyaku masih tidak memahami mengapa aku dikatakan sebagai nebula sementara aku tahu antara nebula dan bintang, nebula adalah sistem yang lebih besar dan kuat.

“Karena Nebula adalah inang. Seorang Nebula bisa meninggalkan Star, atau membunuh Star itu dalam sebuah PK5 dengan menggunakan equipment yang dimiliki oleh Star tersebut, sedangkan Star tidak bisa melakukan hal sebaliknya.”

Aku terkesiap. “Tapi Nebula terdiri dari Star, dalam aturan galaksi. Bukankah begitu? Mengapa Nebula bisa melakukan hal tidak adil seperti itu?”

Penyihir cantik itu lantas tersenyum.

“Apa kau lupa aturan galaksi lainnya? Cosmic Blast, adalah istilah ketika nebula meledakkan cahaya cosmic dan menghancurkan stars. Tapi stars, hanya bisa memperindah nebula, tanpa bisa menghancurkannya.”

Baru saja aku berusaha menyerap maksud di balik ucapan Red Hair Witch, ia sudah melesat ke arahku, menusukkan sebuah sword ke jantungku dan berhenti ketika kulihat health barku berkedip merah.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa tidak membunuhku?” tanyaku membuatnya lantas tersenyum.

“Ingat, Star berguna untuk memperindah Nebula, di sini… ia juga melindunginya. Jika aku membunuhmu, lalu kau mengadu pada Star-mu, apa untungnya bagiku? Kau juga akan menyelesaikan stage ini dan tidak bisa mengaksesnya lagi. Padahal, kupikir kita bisa jadi teman bicara yang baik.”

“Apa maksud—argh!” aku memekik ketika ia menarik sword itu, meski tidak berakibat apapun pada health bar, tapi rasa sakitnya cukup mengerikan.

“Kau tidak tahu kan? Kalau menyelesaikan stage ini akan menutup aksesmu untuk kembali ke sini. Itulah mengapa tempat ini menjadi bonus stage.”

Ia bahkan tahu kalau ia ada di dalam bonus stage? Sungguh, aku harus bertanya pada ahli game tentang NPC aneh yang ada di dalam game ini. Apa mungkin, ucapan Taehyung tentang NPC yang aktif seperti player di dalam game ini benar? Selama ini kupikir dia berbohong.

“Setidaknya aku tahu, tidak banyak player yang tahu bonus stage ini, jadi kurasa kau pasti kesepian. Bukankah begitu?” akhirnya aku bertanya.

Tidak lantas menjawabku, ia justru mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Kembali kutemukan diriku terperangah karena kehebatan NPC dalam game ini, tapi melihat bagaimana percikan elektrik keluar dari tubuhnya saat ia membantuku, kusadari ia adalah sebuah program, tidak lebih.

“Benar, aku memang selalu sendirian. Orch dan Lilith tak bisa bicara jadi mereka juga tidak menemaniku. Aku juga selalu ada di Tacenda, dengan pemandangan yang sama. Dalam seminggu hanya ada dua atau tiga player yang menemukan tempat ini dan tujuan mereka hanya untuk membunuhku dan mendapatkan bonus.

“Membosankan. Dulu, aku membiarkan mereka menyerangku begitu saja dan hanya melawan sekali dua kali. Tapi aku akhirnya memutuskan untuk membeberkan kelemahan mereka dan mempersulit mereka untuk menyelesaikan stage ini. Jadi… setidaknya aku menghabiskan sekitar tiga sampai lima menit lebih lama bersama player lain.”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Memang, ia bicara dengan nada bersahabat, dimana seharusnya ia bisa melakukan gesture-gesture yang sesuai. Tapi karena ia adalah seorang NPC, ia hanya berdiri diam sementara bibirnya terus berceloteh.

Mungkin, hal membosankan yang sama juga terjadi pada wanita yang ada di dekat roulette. Dan alasan player lain mengajaknya bicara juga tidak berbeda dengan yang kupikirkan sekarang.

Tidak tega. Meski mereka NPC, tapi cara mereka berkomunikasi dengan kami sama. Dan kesepian seolah jadi hal yang tidak diinginkan siapapun, meski mereka NPC.

“Kalau begitu aku akan sering mengunjungimu.”

“Apa?” ia menatapku.

“Tidak menginjak start dan menghabiskan beberapa menit kupikir tidak akan melelahkan. Aku akan mengunjungimu umm… mungkin dua atau tiga hari sekali. Aku akan menceritakan padamu tentang battle yang kuhadapi, dan aku bisa memamerkan equipmentku padamu.

“Ah, aku bisa memperlihatkan pictures di sini bukan? Jika kau tidak keberatan, aku bisa menunjukkan view dari beberapa tempat di luar sini. Aku juga kadang merasa bosan pada player yang hanya bermain untuk mendapatkan level tinggi jadi… bukankah seorang villain sekarang akan cocok untuk menjadi teman?”

Ia menatapku, dengan sebuah senyum kecil di wajahnya sebelum ia mengangguk.

“Kalau begitu aku tidak akan menyerangmu saat kau datang lagi.” katanya membuatku tergelak. Bagaimana ia bisa bangga dengan menjanjikan tidak menyerangku?

“Baiklah. Apa villain yang lainnya juga sepertimu?” tanyaku kemudian.

“Sepertiku?”

“Ya, bisa diajak bicara, dan bahkan berdiskusi. Menurutmu villain yang lainnya juga begitu?”

“Kalau aku memberitahumu itu berarti aku membocorkan informasi tentang villain. Aku juga seorang villain.” katanya menolak.

“Ya, memang. Kau seorang villain, dan juga, aku tahu benar bagaimana karakter Red Hair Witch yang sekarang kau perankan. Tapi… kupikir ada peran yang lebih cocok untukmu.”

“Apa itu?” tanyanya.

“Wendy.”

“Wendy? Siapa itu?” lagi-lagi ia bertanya.

“Karakter fiksi. Dia seorang storyteller, hampir mirip sepertimu. Tapi, di sini kau adalah seorang NPC yang bisa menceritakan tentang player lainnya. Wendy juga seorang yang baik, sepertimu. Kau tidak keberatan jika aku memanggilmu Wendy?” tanyaku menunggu persetujuannya.

“Daripada menjadi penyihir, kau lebih cocok menjadi Wendy. Lagipula, memanggilmu dengan nama Red Hair Witch akan sangat menyusahkanku.” Aku berkata, memang kenyataannya begitu, panggilan Red Hair Witch untuknya sangatlah tidak simpel.

“Baiklah, untukmu saja, aku akan buat pengecualian.” Dia berkata.

“Kau bisa membuat pengecualian seperti itu?” tanyaku penasaran. Siapa tahu aku bisa tahu sedikit lebih banyak tentang NPC yang ada di sini.

Ia tersenyum kecil. “Tentu saja, kami punya kuasa akan beberapa hal. Tetapi, masing-masing villain punya batasan yang tidak bisa mereka lewati, HongJoo.”

Kubalas senyumannya ketika aku tahu ia telah menjawab keingintahuanku. Masing-masing villain punya batasan, jika ia punya batas beberapa menit untuk bersikap kejam, maka villain yang lainnya mungkin punya waktu yang berbeda juga.

“Sekarang aku mengerti kenapa tempat ini dinamakan Tacenda.” ucapku membuatnya menatapku dengan bibir mengerucut.

“Mengapa?”

“Karena ada beberapa rahasia yang lebih baik untuk disimpan dalam diam daripada diungkapkan. Dan kau juga begitu, membiarkan rahasia tentangmu ditelan kediaman selama beberapa menit sebelum menjadi dirimu sendiri, Wendy.”

Lagi-lagi, ia hanya tersenyum kecil. Jika kupikir-pikir lagi, mungkin ia tidak diprogram untuk menyahuti ucapan-ucapan tertentu yang tidak diduga akan diucapkan oleh seseorang jadi ia hanya akan tersenyum untuk menyahutinya.

“Terima kasih, HongJoo.”

Setidaknya, ia tahu cara berterima kasih.

“Oh, Wendy. Apa kau tahu cara mengaktifkan Cosmic Rings ini?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

‘Temui aku di Spring Hall.’

Pesan itu Baekhyun tinggalkan di mailbox milikku beberapa menit yang lalu, saat aku masih disibukkan dengan pembicaraan bersama Wendy—sebut saja sekarang ia adalah Wendy dan bukannya Red Hair Witch—di dalam Tacenda Corner.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai Spring Hall. Selain karena aku penasaran tentang tujuan Baekhyun mengajakku bertemu, aku juga ingin menjelaskan padanya tentang Cosmic Rings yang sudah kupahami.

“Baekhyun!” panggilku ketika kulihat ia berdiri memunggungiku.

Segera, ia berbalik, membuat langkahku terhenti lantaran terkejut melihat robe yang ia kenakan sekarang. Bingkai keemasan menjadi penghias di pinggiran robe miliknya—meski tetap berwarna hitam, sebuah amulet juga melingkar di antara turtle neck hitam yang ia kenakan. Amulet serupa juga ada di gloves yang menutupi punggung tangannya.

Upgrading?” tanyaku masih memperhatikan penampilan barunya yang sedikit lebih menyala. Merasa canggung karena kuperhatikan, Baekhyun akhirnya menggaruk tengkuknya, membuatku memperhatikan surai kelamnya—yang tampak begitu kontras dengan kulit pucatnya.

“Apa terlihat aneh?” tanyanya segera kujawab dengan gelengan cepat.

“Tidak, kau terlihat tampan, sungguh.”

“Tampan?” ia mengulang, senyum kecil ia sunggingkan di wajahnya dan detik itu juga aku ingin menenggelamkan diriku saja atau tiba-tiba terkena freeze. Mengapa mulut bodoh ini mengucapkan sesuatu yang tidak masuk akal?

“L-Lupakan saja.” aku mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajah, sementara dengan canggung kucoba mencari bahan pembicaraan lain.

“Mengapa ingin bertemu denganku?”

Tatapannya sedikit melebar saat mendengar pertanyaanku. “Ah, kupikir aku butuh pendapat seseorang mengenai upgrade ini. Satu jam lagi aku akan masuk dalam sebuah turbulence dan—hey, ada apa denganmu?”

“Apa?” aku terkejut ketika ia tiba-tiba saja membelokkan pembicaraan lantaran menyadari ada yang salah denganku.

Oh, tentu saja. Ia melihat kedua survival levelku yang begitu hancur. Satu hancur karena flu, satu lagi karena Wendy.

“Kau tidak kehilangan level, tapi health barmu kritis. Apa kau sakit? Human wealthmu terlihat menyedihkan.” ia berucap, menatapku dari ujung kaki sampai kepala sementara aku sekarang memutar otak, mencari-cari alasan.

“Ya, kau tahu. Aku terkena flu.” sahutku membuat Baekhyun menatap dengan alis berkerut. “Flu?” ulangnya segera kusahuti dengan anggukan pelan.

“Ya, flu.” tegasku.

Sekon kemudian ia menghela nafas panjang.

“Ekspresimu jelas berkata kalau kau tidak berbohong. Tapi rasanya tidak masuk akal jika flu bisa membuat seseorang sakit separah ini. Sebaiknya kau logout dan beristirahat saja.” ucap Baekhyun membuatku menahan tawa.

Ia pasti menganalisis ekspresiku, sempat mencurigai aku tengah berbohong sebelum akhirnya ia memutuskan untuk percaya.

“Aku tidak ingin logout. Kau tidak tahu aku menunggu turbulence ini?” tanyaku membuat Baekhyun kembali menatapku dengan alis berkerut.

“Aku akan merekamnya untukmu. Lagipula, aku akan menang. Apa yang begitu tertarik untuk ditonton? Sebaiknya kau pikirkan kesehatanmu.”

“Kata siapa kau akan menang?”

“Memangnya ada alasan yang membuatku tidak akan menang?”

“Ya. Mereka—” segera kuhentikan kalimatku. Kutahan semua penjelasan yang ingin kuutarakan pada Baekhyun tentang rencana yang sudah kudengar dari Tarin. Aku tidak bisa memberitahunya.

Ada kalanya, beberapa hal di dunia ini lebih baik tenggelam dalam kediaman daripada diucapkan. Dan menceritakan bagaimana aku tahu tentang rencana itu hanya akan membuatku merasa bersalah pada Baekhyun.

Semua strategi yang WhiteTown susun adalah tikungan tajam bagi Baekhyun. Yang jika kuberitahukan sekarang hanya akan membuatnya kehilangan sedikit kepercayaan diri.

“Mereka kenapa?” tanya Baekhyun menyadarkanku dari lamunan.

“Mereka mungkin sudah punya equipment lebih baik darimu.” sahutku asal.

Sekali lagi, kutekan keinginan untuk menceritakan semua yang kuketahui, karena aku tahu fakta itu hanya akan melukai Baekhyun. Keterlibatan player lain di luar Country yang bermasalah dengannya hanya akan membuat Baekhyun merasa ia telah dikhianati.

Aku tidak ingin amarahnya terpancing karena tahu player-player yang ditolongnya malam ini berbalik menyerangnya dengan berbagai alasan. Sebagian besar karena tergiur pouch yang WhiteTown janjikan. Sebagian kecil lagi hanya ingin tahu bagaimana rasanya melawan Baekhyun, dan segelintir lain yang mungkin sudah bekerja sama dengan player lain untuk mendapatkan keuntungan.

Baekhyun akan kesulitan malam ini, dan aku tidak bisa membiarkannya sendiri.

“Aku seorang level 99, apa yang harus aku khawatirkan dari equipment player yang levelnya berada di bawahku?” ucapnya membuatku merengut tanpa sadar.

“Ya, benar. Aku yang sekarang ada di level 87 bisa berbuat apa untuk melawanmu. Terakhir kali, aku terjebak di dalam plasma tanpa bisa berbuat apa-apa dan mati dengan cara paling dramatis yang ada di server.” sahutku.

“Cara dramatis?” Baekhyun mengulang.

“Hmm.” aku mengangguk mengiyakan, “Mereka katakan kalau caramu mengalihkan perhatianku dengan Wild Rose sebelum menikamku adalah cara yang sangat dramatis. Bahkan, temanku berkata jika ia melihat seolah kau sebenarnya tidak rela melukaiku.” anggap saja Ashley bicara begitu, padahal tidak. Tapi setidaknya ucapannya memiliki makna yang serupa dengan apa yang aku katakan sekarang.

Baekhyun mendengarkan celotehanku dengan sabar, sebelum ia mengerjap cepat dan mengangguk-angguk, ekspresinya memamerkan bagaimana ia terlihat seolah sedang berpikir keras untuk menyahuti ucapanku.

“Aku suka pendapat mereka.”

“Apa?” aku menatap Baekhyun tak mengerti.

“Temanmu benar, aku memang tidak ingin melukaimu, tapi membunuhmu adalah sebuah keharusan, saat itu. Aku dikenal sebagai seorang penyendiri, tapi kau membuatku justru ingin mengenal seseorang dengan cara lebih baik.

“Menemuimu sekarang, juga sebuah pelanggaran yang aku lakukan. Aku sudah berkata padamu jika kita tidak akan bertemu, tapi aku justru ingin bertemu denganmu, lagi dan lagi. Jika orang-orang memahami bagaimana beratnya bagiku untuk membunuhmu saat itu… kau pasti juga mengerti apa yang sedang terjadi padaku.”

“Apa yang harus aku mengerti?” lagi-lagi kutemukan diriku bertanya lantaran tidak mengerti. Ia memahami segalanya dengan cara lebih baik, sementara aku masih meraba-raba maksud ucapannya.

“Melindungi player lain bukanlah insting yang selalu muncul bagiku. Tapi melindungimu dari kecurigaan player lain tentang keterlibatanmu denganku adalah sebuah keharusan yang tidak beralasan. Aku senang karena kau masih mau menemuiku, tapi di satu sisi aku merasa jika suatu hari kau mungkin akan mengkhianatiku.

“Pernah kudengar orang-orang berkata, jika dalam permainan sekalipun kita tak boleh mempercayai orang lain dengan mudah, tapi aku mempercayaimu. Aku bahkan mengizinkanmu masuk ke dalam invisible mode dan membuatmu tahu segalanya tentangku.

“Andai saja aku tidak terjebak dalam keadaan seperti ini, mungkin aku sudah menonaktifkan mode invisible dan hidup layaknya player lain. Tapi mereka mengawasiku, mengikuti tiap kali aku online dan tidak jarang mencoba berbalas pesan denganku.

“Aku mencegah semua orang untuk tahu tentangku, untuk dekat denganku, tapi aku tidak mencegahmu, tidak juga menolak eksistensimu. Aku ingin berada dalam mode normal karena kupikir bisa berkomunikasi dengan cara lebih baik denganmu tapi aku tidak bisa. Apa kau masih tidak mengerti maksud dari ucapanku?”

Tidak. Aku tidak mengerti. Tidak satupun dari kalimatnya membawaku pada kesimpulan jelas yang lantas membuatku tahu tentang apa yang seharusnya aku mengerti dan aku pahami.

Aku yang terlalu bodoh, atau dia yang terlalu cerdas?

Satu-satunya yang dapat kutarik sebagai kesimpulan hanyalah bagaimana ia membiarkanku menjadi satu-satunya orang yang dekat dengannya, yang bisa ia percaya, itu saja.

Sisanya? Aku harap aku bisa menyimpan semua kalimatnya untuk kuulang dan kuulang lagi sampai aku memahaminya.

“Kurasa kau tidak mengerti.” akhirnya Baekhyun menyimpulkan, kediamanku selama beberapa saat tentu menjadi sebuah pertanda baginya bahwa aku telah gagal memahami maksud dari penuturan panjangnya.

Ugh, aku ingin meminta maaf, tapi bibirku justru terkatup. Seolah diam adalah hal paling baik untuk dilakukan saat ini. Sekarang, aku paham maksud dari pepatah diam adalah emas. Ya, diam terkadang jadi jalan paling baik diantara semua pilihan yang ada.

“Karena kau bilang aku terlihat baik dengan penampilan ini, jadi tujuanku menemuimu sudah terpenuhi. Aku akan pergi mengambil beberapa PK kecil untuk berlatih. Masih ada satu jam—ralat, empat puluh lima menit, untukmu beristirahat.

“Kau seorang yang cukup tertutup jadi aku tidak ingin mengusik batasan nyamanmu dengan bertanya apa yang sudah terjadi hingga health barmu kacau seperti itu jadi… kusarankan kau lebih baik logout sebelum system memaksamu untuk keluar.”

Ya, mungkin Baekhyun benar. Mungkin aku terlalu lelah saat ini sehingga aku kesulitan mencerna maksud ucapan orang lain. Mungkin setelah beristirahat aku bisa mengingat-ingat lagi ucapan Baekhyun barusan dan bisa memahaminya.

“Kau benar… kupikir aku butuh istirahat.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

RING! RING! RING!

Haruskah aku mengumpat pada diriku sendiri ketika empat puluh lima menit yang kuharapkan bisa menjadi rehat sejenak berubah menjadi satu jam? Apa alarm yang terpasang tidak tahu bagaimana artinya lima belas menit bagiku malam ini?

Well, aku terbangun pukul sembilan lewat enam belas menit. Itu artinya, aku sudah terlambat enam belas menit untuk menyaksikan turbulence antara WhiteTown dan Baek-Hyun.

Gila. Bagaimana bisa aku melewatkan momen yang sudah kutunggu-tunggu? Ya, mungkin bagi sebagian orang keterlambatan enam belas menit tidak berarti apa-apa. Tapi dalam game, enam belas menit mungkin berarti berakhirnya sebuah pertunjukkan.

Panik, aku akhirnya masuk tanpa memperhatikan pesan-pesan yang ada di mailbox atau private chat milikku. Tujuan utamaku adalah Hall, dan benar saja, tubuhku baru masuk ke dalam mode survival Hall ketika suara bising langsung menyambut runguku.

Battle mereka belum selesai.

Lekas, aku berusaha mengenali sosok yang sekarang sedang dihadapi Baekhyun. Rambut berwarna nyentrik milik Hayana segera menarik perhatianku. Womanizer. Jika mengurutkan dari rencana yang Tarin utarakan padaku, saat Womanizer menyerang berarti WhiteTown sudah dilumpuhkan dan pemain global juga sudah—

Baekhyun. Health barnya.

Segera aku melangkah dengan tergesa-gesa, ingin masuk ke dalam arena yang—tidak. Plasma ini. Aku mengenalinya. Sekarang netraku mengelana, menyadari bahwa sebuah plasma raksasa telah menyelubungi ratusan pemain yang ada di dalamnya, dan aku tidak bisa masuk ke dalam arena.

Apa yang Baekhyun rencanakan?

Argh!” aku segera memandang ke arena ketika kutemukan Baekhyun tersungkur ke tanah karena serangan dari salah seorang anggota Womanizer. Tapi tersungkurnya Baekhyun kemudian diikuti dengan sebuah ledakan kecil yang menjatuhkan dua orang anggota Womanizer yang menyerangnya.

Womanizer lumpuh. Itu berarti… Clown dan Enterprise adalah yang selanjutnya. Dengan health bar yang hanya tersisa separuhnya, Baekhyun tidak akan bertahan. Dan jika ia kalah dalam battle ini, ia akan kehilangan belasan level sebagai akibatnya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengobrak-abrik mailbox, mungkin saja ada beberapa pesan di dalam sana yang bisa membantu.

‘Untuk semua anggota Enterprise, hadirlah dalam battle melawan Invisible Black malam ini pukul sembilan malam. Bagi tiap anggota yang hadir akan ada reward yang diberikan.’

Satu pesan dari Royal Thrope, dan beberapa pesan lain dari—Baekhyun.

Dia mengirimkan lima pesan padaku. Semuanya adalah pesan suara.

“Apa tidurmu nyenyak, HongJoo? Battle akan segera dimulai, kupikir kau tertarik untuk melihat bagaimana aku menang malam ini.”

“Sekarang aku tahu apa yang membuatmu tidak yakin aku akan memenangkan battle malam ini. Mereka akan menyerangku secara tiba-tiba. Apa kau sudah tahu rencana ini? Mengapa kau tidak memberitahuku? Apa kau tidak yakin aku akan bisa menghadapi rencana mereka?”

Player global bahkan menyerangku. Mengapa kau tetap diam? Kupikir aku bisa mempercayaimu, HongJoo. Tapi kau bahkan menyembunyikan rencana kecil ini dariku.”

“Kupastikan aku merekam battle ini. Esok hari kau akan lihat bagaimana hasil akhir dari kebohonganmu.”

“Jangan muncul. Melihatmu di arena malam ini hanya akan membuatku berkeinginan untuk menyerangmu karena rasa marah.”

Dia tahu aku berbohong? Bagaimana bisa? Aku bahkan—ugh, Jiho. Lupakah kau kalau dia adalah seorang yang cerdas? Mengetahui kebohongan bukanlah hal yang sulit baginya. Melihat player global yang ikut dalam battle ini pasti membuatnya menarik kesimpulan kalau aku juga terlibat dan tahu tentang rencana ini.

Benar dugaanku, empat anggota Clown dan delapan anggota Enterprise ada di arena. Health bar Baekhyun yang kacau membuatnya tidak lagi bisa bergerak dengan gesit untuk menghindari serangan.

Dan saat Baekhyun terjatuh untuk ke sekian kalinya, kusadari aku telah membuat kesalahan yang fatal. Caranya sekarang menatap player di hadapannya, caranya menyunggingkan senyum sarkatis itu, dia bukan Baekhyun yang aku kenal.

Kemarahan pasti sudah mendominasi permainannya, hingga ia bisa melontarkan belasan serangan sekaligus, mengabaikan fakta bahwa tiap serangannya yang ditangkis akan mengenai player lain di dalam arena.

Baekhyun akan melumpuhkan semua player yang ada di dalam lapisan plasmanya.

Berpikir, Jiho. Berpikir.

“Hah! Kau masih tidak menyerah, huh? Lihat, keadaanmu sudah sangat menyedihkan.” kudengar A-Clown berucap.

Baekhyun, berdecih pelan. Visual effect di WorldWare bahkan membuatku bisa melihat bagaimana Baekhyun terluka di sana-sini, dan sekarang melihat darah mengotori wajahnya membuatku merasa terganggu.

Aku tidak ingin berandai-andai tentang memberitahu Baekhyun sebelumnya, semua sudah terjadi dan aku terlanjur bersalah.

“Ah, kau tidak tahu rupanya, kau pikir aku membiarkanmu menyerangku karena aku tidak sanggup menghancurkan kalian? Aku menunggu. Sampai kalian semua merasa puas karena berpikir sudah mengalahkanku.

“Aku tidak terkalahkan. Bahkan jika kau mencoba, aku tetap tidak akan terkalahkan. Menggelikan sekali, melihat kalian menjanjikan pouch untu mengundang player datang ke tempat ini dan menyerangku. Apa kalian tidak tahu? Aku sudah tahu, rencana yang sudah kalian buat untukku.”

Baekhyun… tahu? Ia tahu tentang rencana WhiteTown padanya? Tapi… bagaimana ia bisa tahu? Apa seseorang memberitahunya? Apa ia mengenal player lain juga? Tidak mungkin, ia katakan jika aku adalah satu-satunya player yang dekat dengan—tunggu.

Apa ada player yang menceritakan strategi itu melalui pesan?

“Lihat ekspresi konyol kalian sekarang.” Baekhyun tertawa sarkatis, sementara ia bangkit dari keadaan menyedihkannya dan menatap lawannya yang masih bergeming.

“WhiteTown akan menyerangku sebagai permulaan. Ketika WhiteTown kalah, player global akan ikut. Ah, berapa banyak dari mereka yang menyetujui quest ciptaan kalian ini? Dua ratus dua puluh empat? Benar bukan?”

Kini, aku yang berdiri terperangah. Baekhyun tahu. Ia bahkan tahu jumlah global player yang mengikuti battle ini.

“Lalu, karena mereka semua hanya player pemula yang menginginkan pouch, tentu saja tidak sulit bagiku untuk mengalahkan mereka. Womanizer ada di urutan selanjutnya. Karena dua dari mereka berada dalam level kritis dan tak ingin terlibat denganku, hanya ada empat orang dari Womanizer yang terlibat.

“Sayang sekali gadis-gadis itu harus kalah dengan cara yang memalukan. Sebegitu memalukannya sampai Clown dan Enterprise menggantikan mereka. Mengapa? Apa kalian mulai merasa ragu untuk menyerangku? Apa kalian takut?

“Bukankah seluruh anggota House Of Zeus ada di belakang kalian? Ah, jangan khawatir. Bukan hanya WhiteTown yang bisa menyediakan jutaan pouch untuk player di sini. Jika hanya sepuluh juta pouch, aku juga bisa membayar player dengan pouch sebanyak itu untuk membuatnya memberitahuku tentang rencana kalian.”

Seseorang? Memberitahu Baekhyun tentang rencana yang WhiteTown ciptakan dengan bayaran sepadan? Tunggu, Baekhyun juga punya sepuluh juta pouch? Dan ia berikan pada satu orang player hanya untuk mendapatkan informasi tentang rencana yang WhiteTown ciptakan? Apa dia sudah gila?

Tidak. Ia tidak gila, kalau kupikir-pikir lagi. Ia cerdas. Aku bahkan berpikir ia tidak tahu apa-apa saat ia nyatanya menelanjangi semua player di tengah-tengah battle yang dipikir orang lain akan membawa sebuah kekalahan baginya. Dia kelewat jenius karena rencana yang disusunnya bahkan jauh lebih sempurna daripada rencana berbumbu dendam yang WhiteTown suguhkan.

Dengan sedikit keraguan, aku akhirnya memberanikan diri membuka voice chat milik Baekhyun, kuberanikan diri untuk akhirnya mengucapkan sepatah kata untuk membuat Baekhyun tahu bahwa aku ada.

“Baekhyun?”

Sekon kemudian, tatapan Baekhyun—yang masih berdiri di tempat yang sama—bersarang padaku sebelum ia mengeluarkan sepasang sword berlapis emas dengan kobaran api yang menyelimuti.

“Akhirnya, kau datang juga, HongJoo.”

— 계속 —

Footnotes:

Villain: NPC antagonis yang diciptakan untuk menjadi karakter musuh/lawan bagi pemain game untuk menyelesaikan suatu level dan/atau mendapatkan bonus tertentu dalam game.

Battle: istilah untuk menyebut sebuah pertandingan/pertarungan di dalam sebuah game, melibatkan dua sampai sepuluh player dengan rules terikat yang sudah diciptakan oleh game itu sendiri dan tidak bisa melibatkan player lain secara tiba-tiba di tengah battle tersebut.

Tracking system: system yang secara otomatis terinstall pada tubuh setiap player survival mode WorldWare, serupa dengan teknologi GPS yang ada pada benda-benda elektronik, namun tracking system tidak berbahaya bagi manusia.

NPC: Non-Player Character, sebuah karakter yang diciptakan oleh programmer sebagai karakter pembantu/pendukung untuk game tersebut.

PK: Player Kill adalah sebuah tindakan ‘membunuh’ player lain di dalam sebuah permainan online.

IRISH’s Fingernotes:

Eh aduh, sesuatu banget rasanya ketika sadar kalo Jum’at udah berlalu dan diri ini lupa update Game Over :” maapkeun ~ minggu ini diriku banyak keliling buat nyicil-nyicil tabungan di akhirat /ehem/. Yah, taulah, berhubung bulan puasa udah mendekati kata berakhir, jadi diriku disibukkan sama perihal-perihal kecil ini-itu yang berhubungan sama amal, jadi lagi-lagi fanfiksi harus jadi hal yang dikorbankan. Berhubung aku belum bisa post dengan stabil, satu-satunya yang bisa dipost dengan jadwal stabil ya cuma Game Over doang T.T

EH OMONG-OMONG YA, BEBEB DANIELKU DEBUT /OOT BANGET RISH YAAMPUN/ tapi gapapa, debutnya Daniel berarti dia bakal sering jadi kameo di fanfiksiku :v haseek ~

DAN YAAMPUN, YAAMPUN, SEK, KUTARIK NAPAS TERUS HEMBUSIN DENGAN KALEMNYA DULU SOALNYA UDAH LAMA BANGET ENGGA NYENTUH GAME OVER, TETIBA AJA PAS NGEDIT-NGEDIT LEVEL INI DIRIKU MENJERIT KARENA SWEKNYA SI CABE DI ENDING, WKWKWKWKWK, YAAMPON KALO BIAS MAH EMANG BAWAANNYA KUDU DIJERITIN EMANG.

Ah ~ cukup sekian deh dariku, bagian serunya masih ada besok jadi biar ocehanku dilanjut besok aja :v see you tomorrow, fellas!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

 

Iklan

23 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Gak tau mau bilang apa. . .
    MAKIIIIIN SERU POKOKNYA
    MAKIIIIIIN HEBOOOH CERITANYA
    MAKIIIIIIIIN NGESELIN ALUR CERITANYA
    MAKIIIIIIIIIIN BIKIN JATUH CINTA AJAH CABENYA
    Aah udahlah kalo di bahas panjang bakalan komenanku. Mungkin bisa sibu words wkwkwkwk
    Mangat aja ya rish di bulan puasa.

  5. Wah apdet juga akhirnya
    Greget sma hongjoo knp gak ngasih tau baekhyun ajasi kan gini kan ntar malah diserang baekhyun lu joo..
    Ihh aku juga sneng ongnielminhyun debut, tapi masih galau jonghyun-muel gadebut huaa 😭😭
    Lanjutin terus kak rish😄😄fightingg😘

  6. Ping balik: GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  7. Iya nih telat kak ngepostnya 😦 padahal aku selalu buka email buat liat notif 😦 uh, aku selalu nungguin game over loh. Aduh, ini juga kenapa endingnya begitu? Greget, tbc-nya gasesuai tempat. Rasa penasaranku udah nyampe ubun-ubun :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s