MY WIFE – Keyo

Keyo’s Present

My Wife

With

EXO’s Suho | OC’s Kim Yul | and others

please be careful ’cause it’s PG 17

dark romance | Gore

Chaptered

Disclaimer : story is mine, plot is mine. Joonmyeon belong to me  God i just borrow his name. Wherever you go, you know https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/wp-admin/post-new.phpthe big rules is NO PLAGIARSM

 

 

Prev : Prolog

 

 

.Enjoy the story.


 

 

Akhirnya, tangisannya berhenti juga. Tapi ini bukan saatnya bagi Joonmyeon untuk senang.

Joonmyeon memperhatikan Yul yang masih duduk disebelah sofa, tepatnya diatas ubin yang dingin dengan menekuk kakinya sendiri dan meletakkan kepalanya diatas lutut. Matanya yang biasanya ceria itu kini menampakkan tatapan kosong yang mengarah entah kemana. Membuat Joonmyeon takut sekaligus khawatir.

 

“Yul, aku sudah menyiapkan air panas untukmu,”

 

Diam. Joonmyeon berbicara pada angin untuk kesekian kalinya. Lawan bicaranya, Yul, tidak bergerak sesenti pun sejak mereka melepaskan pelukan. Tubuhnya masih berlumur darah yang sekarang mulai mengering tapi aromanya masih kental dihidung Joonmyeon.

Joonmyeon mendekatinya. Mencoba menepis rasa jijik akan darah untuk menggapai Yul yang sekarang terlihat rapuh. Dia duduk didepan Yul, memegang tangannya, dan mengusap puncak kepalanya adalah salah satu cara yang terpikir oleh Joonmyeon untuk menenangkannya. Hanya saja pelaksanaannya tidak semudah saat dia memikirkannya. Tangannya sempat maju mundur sebelum mendarat dengan sempurna diatas kepala Yul.

 

“Yul,”

 

“Apa kau terluka?” hanya pertanyaan basa-basi karena Joonmyeon tahu Yul-nya tidak terluka. Tidak ada satupun lecet ditubuhnya yang menjadi sumber darah-darah ini berasal. Dan, siapa sangka basa-basi Joonmyeon membuahkan hasil. Yul balik menatap Joonmyeon, menggeleng dengan lemah. Setidaknya dia menjawab, itu yang dikatakan hati Joonmyeon.

 

“Apa ada yang jahat padamu?” matanya masih pada Joonmyeon saat perubahan itu terjadi. Matanya perlahan menunjukkan butiran air yang siap meluncur. Salahkan Joonmyeon yang tidak mengerti isyarat tubuh wanita, hingga tidak mengerti apa maksud air matanya Yul sekarang.

 

“Kau bisa ceritakan semuanya padaku. Kalau ada yang jahat padamu, aku akan melindungimu, kalau ada yang menyakitimu aku akan membalasnya untukmu, kalau –“

 

“Kalau aku yang jahat, bagaimana?”

 

Joonmyeon yang terdiam. Tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena terlalu terkejut.  Dia yang jahat? Joonmyeon mengenal gadis ini kurang lebih dua tahun. Dan selama waktu itu Joonmyeon tidak melihat perangai jahat dari gadis berwajah malaikat ini. Dia mencintai semua yang ada pada gadis ini karena itulah dia berani mengmbil langkah lebih jauh, menikah. Dia pasti bercanda, ‘kan?

 

“Kau bilang akan melindungiku, apa kau akan melindungi orang jahat?”

 

Dia bertanya lagi dengan wajah polosnya. Joonmyeon menjerit dalam hati tidak kuat karena ikut merasa frustasi. Tapi gemas karena wajah polos Yul. Jika sekarang adalah keadaan yang normal dia pasti akan menciumi pipi Yul karena gemas. Tapi sekarang dia tidak bisa. Entahlah, bukan karena bekas darah dipipinya. Tapi lebih pada mengikuti perintah isi kepala. Jadi yang dapat dia lakukan hanya mengusap puncak kepalanya.

 

“Yul, kenapa bertanya begitu? Baru tadi pagi kita mengucap janji untuk selalu bersama. Aku akan tetap bersamamu, Yul. Apapun yang terjadi,” Joonmyeon tidak tahu apakah yang dia katakan ini akan berujung baik atau tidak. Dia hanya bisa membiarkannya terjadi, ketika tangannya bergerak memainkan cincin emas putih dijari manisnya lalu bergerak mencium tangan Yul yang bergetar. Joonmyeon hanya bergerak, sesuai rasa cintanya untuk Yul.

 

“Janji?”

 

Joonmyeon mengangguk. Tersenyum setulus mungkin. Menatap Yul sungguh-sungguh sambil mencoba menyalurkan kesungguhannya pada Yul.

 

“Mandilah. Lalu ceritakan apa yang sudah kau lalui,” Berhasil. Yul tersenyum dan menuruti apa yang Joonyeon minta padanya.

 

Baiklah Joonmyeon, apapun yang akan Yul ceritakan, apapun yang sudah terjadi padanya, kau harus siap menerimanya.

 

Karena dia istrimu sekarang.

 

***

Joon’s PoV

“Joonmyeon, ayo!” Yul memanggil sambil berbisik. Saat ini dia memimpin didepan. Berjalan mengendap-endap keluar dari hotel menuju bagian belakang hotel. Berusaha sebisa mungkin berjalan di titik buta kamera pengawas. Dan akhirnya kami sampai di sebuah gang kecil, pengap, bau, dan banyak tikus. Disinilah awal aku tidak bisa bergerak.

 

Bukan karena jijik melihat tikus atau bau sampah. Tapi karena sesuatu didepan sana. Tepat sepuluh langkah didepanku dan dua langkah didepan Yul. Sekarang aku tahu darimana bekas darah ditubuh Yul berasal.

 

Disana, dengan pasrah berbaring seorang wanita –kurasa- karena aku melihat dia memakai gaun warna pastel yang sekarang dihiasi bercak kecoklatan. Berbaring dengan genangan darah. Aku tidak kuat, sungguh aku ingin muntah saat melihat wajahnya yang tidak seperti wajah dan otaknya yang keluar. Kurasa dihantam benda tumpul. Ya, batu, karena tidak jauh dari situ aku juga melihat batu besar yang salah satu sisinya bercorak kecoklatan abstrak.

 

“Joon, kau tidak mau membantuku?”

 

Aku mengerjap. Memfokuskan kembali pada Yul yang sudah berjongkok dengan plastik hitam besar disampingnya. Ini adalah misi selanjutnya. Membuang mayat gadis yang entah berdosa atau tidak itu kesuatu tempat. Yang akhirnya kami putuskan membuangnya kelaut.

 

“Kau urus kepala dan bekas darahnya, aku akan urus sisanya. Aku tidak mau kamu pegang-pegang paha dan dadanya,” lalu dia memakai sarung tangan plastik, dan segera mengurus bagiannya. Sementara aku? Menatap bagianku nanar. Bagian inilah yang membuatku mual setengah mati dan sekarang aku harus menanganinya.

 

Baiklah, fokus saja pada bagian lain. Sekarang, mata gadis itu terpejam. Jika dilihat sekilas dia kelihatan baik-baik. Jadi, apa yang dilakukannya hingga membuat Yul-ku khilaf begitu jauh? sampai saat ini pun Yul belum memberitahuku apa alasannya ‘melukai berlebihan’ salah satu temannya ini. Saat bercerita dia hanya bilang ‘tidak sengaja’ melukainya. Alasannya? Dia hanya diam lagi dan lagi.

 

DUG!

 

Aku terkejut. Sangat-sangat terkejut saat melihat tiba-tiba batu besar dengan bercak kecoklatan itu jatuh tepat dihadapanku. Dihadapanku adalah, wajah wanita itu. Kau bisa simpulkan sendiri kemana batu itu jatuh, ‘kan? Aku tidak bisa menjelaskannya karena aku semakin mual melihat isi kepala yang berhamburan keluar. dan begitu melihat Yul berdiri disana menatapku dingin, seketika bulu tengkukku berdiri dengan sempurna.

 

“Kenapa memperhatikannya seperti itu? Kau menyukainya?”

 

Astaga, apa ini maksudnya? Dia cemburu pada mayat hasil karyanya?

 

“Yul, apa maksudmu? Aku hanya –“

 

“Kau pergi siapkan mobil saja aku yang akan bereskan disini,” dan seperti yang dia katakan dia membereskan ‘yang terburai’ termasuk batu yang dia gunakan. Kemudian dia menggunakan kain dari gaun gadis itu dan air untuk membereskan tempat itu dari darah. Terakhir, dia menuangkan satu tong penuh sampah disampingnya. Mungkin untuk menghilangkan bau darah.

 

“Joon?” lagi, aku tersadar dari lamunanku. Dengan segera berjalan menjauh. Melaksanakan yang dia minta sebelum aku terjatuh pada lamunanku. Mengambil mobil untuk selanjutnya membuang mayat itu kelaut.

 

***

 

“Yul, kau masih marah?” dia hanya menatapku sekilas dan kembali menatap pepohonan disana yang sepertinya lebih menarik dari wajah tampanku. Melihatnya seperti ini, sudah jelas kalau dia masih marah, untuk sebuah alasan yang kurang masuk akal menurutku.

 

“Bicara saja pada si jalang dibagasi,”

 

Aku ingin menangis dan melemparkan diri keluar dari mobil rasanya. Tapi kalau aku melakukan itu aku akan membunuhnya.

 

“Baiklah, maafkan aku ya,”

 

“…”

 

“Yul cantik, Yul manis, maafkan aku ya,” dia masih tak bergeming ditempatnya tapi aku bisa melihatnya menahan senyum.

 

“Yul, kau tahu kalau kau cemberut seperti itu, tiba-tiba malam jadi redup begini,”

 

Dia tersenyum lagi. Benarkan? Aku paling bisa membuatnya tersipu seperti itu. tapi aneh. beberapa saat kemudian senyum diwajahnya menghilang. Digantikan kerutan didahimya.

 

“Loh, loh… kenapa wajahmu begitu Yul? Apa perlu kucium?”

 

Dia bergeming. Masih seperti sebelunya kali ini dia menambahkan ekspresi kaku diwajahnya,

 

“Diamlah sebentar Joon,”

 

“Kenapa? Kau malu, ya? Hahaha”

 

“..Joon kumohon diam sebentar,”

 

“Tidak mau, aku mau menggodamu sampai kau berhenti marah,”

 

“Kim Joonmyeon tolong perhatikan jalan didepanmu,”

 

“Tidak mau, kau terlalu cantik untuk tidak dilihat,”

 

“Kim Joonmyeon!” akhirnya seperti yang dia minta, aku berhenti bicara. Tidak, tidak hanya berhenti bicara. Kurasa jantungku juga berhenti begitu mendengar satu kata terakhir yang diucapkan Yul, sebelum akhirnya muka kami berdua pucat pasi.

 

“Polisi!”

 

 

 

.to.be.continued.

 

Keyo’s Note:

Honyaww ~~

Part 1 keluar. Keyo minta maaf karena telat update. Yang kemaren perjuangan mau kuliah pasti tau kenapa TT

Sorry for typo(s) dan semua kekurangan disini ya mantemans.

ketemu lagi di next chapter

Sayonara~

 

 

Keyo ❤

Iklan

2 pemikiran pada “MY WIFE – Keyo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s