[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 17

image_11869.JPG

 

Tittle                          : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 17

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

“Jadi… dimana Sehun?” adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Jong In ketika baru bangun dari tidurnya dan melihat penampakan Hyojin yang sedang makan ramyeon sambil menonton televisi dengan jarak yang cukup dekat. Jong In memukul dahi gadis itu seraya menjauhkannya dari televisi, membuat Hyojin mengerang tak terima, menganggap Jong In telah mengganggu acara makannya.

 

“Kau mau matamu semakin rabun?” sindir Jong In, menyuapkan sesendok nasi serta beberapa helai ramyeon ke mulutnya.

 

“Yang penting kan tidak sampai buta!” kesal Hyojin.

 

Jong In tertawa meledek, “Bicara apa kau ini!, tidak ingat siapa yang menyapa tiang listrik karena dikira Park Chanyeol?” lalu terpingkal sendiri mengingat kelakuan konyol Hyojin.

 

“Ka-kapan aku begitu hah?!”

 

“Sudahlah…” Jong In menyudahi, “…jadi Sehun kemana?, bukannya dia sedang tidak ada kelas hari ini?”

 

“Dia kan sudah besar, jadi biarkan saja mengambil waktu untuk bersenang-senang. Memangnya kau?!, pria single yang menyedihkan, cih!”

 

Jong In langsung merasa seperti tertusuk oleh anak panah khayalan dari Hyojin. “Ya ampun, kejam sekali… memangnya kau sudah punya pasangan huh?! Sendirinya juga menyedihkan!” balasnya tak mau kalah.

 

Hyojin tak menjawab, fokus makan dan menonton televisi, meskipun Jong In tahu kalau sahabatnya itu sama sekali tak menikmati kegiatannya sekarang. Buktinya, ketika acara yang dia tonton sedang lucu-lucunya, Hyojin malah diam dengan pandangan kosongnya seperti sedang kerasukan. Situasi kali ini membuat Jong In jadi tak nyaman, tapi tetap saja, membiarkan Hyojin bertingkah aneh seperti ini malah bisa menimbulkan masalah lain.

 

Tagihan listrik membengkak, misalnya.

 

“Lagipula kau kenapa sih?, pagi-pagi sudah emosi. Apa jangan-jangan… karena hal kemarin?” tanya Jong In hati-hati sambil mematikan televisi. Dugaannya benar, Hyojin bahkan tidak sadar ketika gambar Yoo Jaesuk menghilang dari hadapannya.

 

“Memangnya kemarin ada apa?” tanya Hyojin balik dengan muka datar, namun masih ingat untuk menghabiskan makanannya.

 

Jong In mengabaikan sikap Hyojin yang menutup-nutupi masalahnya padahal kemarin setelah pulang dari kedai jelas-jelas dia menceritakan semuanya pada Jong In dan Sehun secara menggebu-gebu. Pria itu berbaring disamping Hyojin yang terus menunduk.

 

“Si Jiyeon itu dasar! Apa dia tidak keterlaluan huh?!. Bisa-bisanya mencari masalah denganmu!, padahal kau tidak pernah melakukan hal buruk kepadanya! Dasar gadis jahat!”

 

Hyojin masih bergeming, bahkan berhenti memakan ramyeonnya. Jong In makin tak tenang tapi masih melanjutkan.

 

“Apalagi TUAN BESAR SIALAN itu!, maunya apa huh?! Sudah bertindak seenaknya sendiri dan masih tidak mau melepaskanmu juga?!. Pria gila tak tahu diri!” Jong In mencurahkan kekesalan yang harusnya dilakukan oleh Hyojin, yang sedang bermasalah. Yah, biarpun dirinya juga punya kesulitan lain, tapi bagi pria itu, Hyojin lebih penting dari kesulitannya sendiri.

 

“Hei!, kau tidak mau coba melakukan ini juga?. Lepaskan saja penatmu, tidak usah ditahan-tahan. Lagipula, rasanya memalukan melakukan ini sendirian, teriak-teriak seperti orang gila yang kurang asupan nutrisi… haha…”

 

Karena masih tak mendapat tanggapan apapun, Jong In pun menoleh dan mendapati wajah Hyojin yang basah oleh air mata. Pria itu tersentak, segera bangun dan bertanya apakah sahabatnya tersebut baik-baik saja, sayangnya Hyojin yang ketahuan sedang menangis malah tak bisa mengendalikan isakannya, membuat ruang tamu apartemen Sehun ramai oleh suara tangis Hyojin serta kekhawatiran Jong In yang berusaha menenangkannya.

 

“A-aku salah apa?… -hiks, dasar bajingan-bajingan tengik… masih belum cukup membuatku menderita… -hiks, sekarang ingin aku mati muda ya?… huwaaaa!”

 

Jong In memeluknya, menepuk punggung Hyojin dengan lembut, “Shhh… sudah-sudah… iya mereka memang brengsek sialan yang minta dihajar satu-satu. Mau kupesankan ayam?”

 

Hyojin melepas pelukannya, lantas memukul perut Jong In cukup keras.

 

“Ya -akhk!”

 

“Kepalamu mau ku goreng huh? Huh? Huh?!”

 

Jong In berdecak sebal, namun masih bersedia memberikan pelukan hangat untuk kawannya yang sedang sedih itu.

 

“…aku mau yang setengah bumbu…”

 

“Ah! Dasar!”

 

***

 

Yoora bersedekap, menatap tajam pada Sehun, pria yang mencari informasi tentang dirinya secara diam-diam. Ia tak menyangka kalau Sehun akan dengan berani menampakan diri didepannya bahkan mengatakan dengan jujur kalau dialah sang stalker.

 

“Jadi, tuan penguntit, apa mau anda sampai mengganggu privasi orang lain?”

 

Sehun menarik koper merah jambu yang dibawa oleh Yoora, gadis itu terkejut dan hampir meneriaki Sehun sebagai seorang pencuri jika saja Sehun tak mendekatkan wajahnya pada Yoora, memasang senyuman manis yang mampu memikat hati banyak perempuan.

 

“Mau apa? Tentu saja untuk mendekatimu…”

 

Jantung Yoora berhenti berdetak beberapa detik hanya untuk mempercepat degubannya. Ia berusaha untuk tidak mengagumi ketampanan pria itu, perlahan dia mundur, tapi baru beberapa langkah Sehun merangkul pinggangnya dari belakang lantas menariknya agar lebih dekat dengannya. Yoora segera menepis tangan Sehun, menginjak kakinya dengan kuat sambil memaki pria yang tengah kesakitan itu.

 

“P-pe-pelecehan! Dasar pria mesum!” serunya dengan pipi memerah, orang-orang mulai memperhatikannya. “Kau pikir karena kau tampan aku bisa tertipu begitu saja huh?!”

 

Sambil meringis kesakitan, Sehun berdiri lagi dengan tegak, berjalan kearah Yoora lalu melewatinya untuk memastikan keadaan petugas kebersihan yang hampir ditabrak oleh Yoora yang berjalan mundur tadi.

 

“Terima kasih atas pujiannya.”

 

Mendengar ucapan penuh percaya diri Sehun, wajah wanita itu makin memerah, karena malu bercampur marah. Alhasil, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Sehun yang tersenyum puas.

 

“Ugh, memalukan. Lihat saja! Akan kubalas nanti!” gerutu Yoora sepanjang jalan, melewati orang-orang yang berkerumun untuk melihat pertikaian kecil antara dirinya dan Sehun, termasuk tiga orang gadis yang salah satunya terdiam seperti patung, memandangi Sehun tanpa bergeming sementara dua orang temannya nampak gelisah pun cemas pada keadaan teman satunya.

 

“Kenapa dia?” gumam Yoora tapi tak menghentikan langkahnya untuk mengurusi atau sekedar mempertahankan rasa penasarannya, “Sebaiknya Chanyeol sudah menjemput didepan atau kuhabisi dia.”

 

Sementara itu, tiga gadis tersebut merupakan Lee Young yang merasa terpukul ketika melihat adegan -yang menurutnya- romantis antara Sehun dan Yoora. Firasat buruknya terwujud, setelah mengetahui rahasia Mira yang membantu Sehun mencari informasi tentang seorang wanita, Lee Young langsung bertanya mengenai keberadaan Sehun pada setiap kenalan pria itu. lalu disinilah ia sekarang, menatap Sehun yang tersenyum, menganggap bahwa pria yang ia sukai itu sangat senang bertemu dengan wanita yang dicarinya selama ini.

 

“Lee Young-ah… ja-jangan salah paham dulu… sebaiknya kau pastikan apakah wanita tadi adalah wanita impian Sehun atau bukan… k-kan bisa saja dia hanya-”

 

“Hanya apa?”

 

Perkataan Mira dipotong begitu saja. Kimberly yang sedari tadi memperhatikan mulai tak sabaran.

 

“Jangan mengambil kesimpulan sendiri.” Ujar gadis blasteran itu tegas, “Kau tidak bisa menebak isi hati seseorang.”

 

Mira menepuk tangan keras satu kali, “Benar itu!, siapa tahu dia hanya senang karena bertemu teman lama yang sudah lama dicari-cari?”

 

“Ya, teman lama yang merupakan cinta pertama.” Sahut Kimberly.

 

Mira menoleh dan menunjukkan wajah sebalnya, “Maumu apa sih?, jangan memperkeruh keadaan!”

 

“Apa sih? Aku kan cuma mengemukakan pendapat!. Lagipula, Lee Young-ah, bukannya kau sendiri yang bilang, meski kau menyukainya, kau tak akan ikut campur dalam urusan pribadinya?. Jika kau memang ingin bersamanya, maka ungkapkan perasaanmu dengan tegas. Memangnya masih zaman menyukai diam-diam?, itu apa bedanya dengan stalker?”

 

Lee Young semakin terpukul oleh kata-kata Kimberly, Mira kelabakan untuk menenangkan Lee Young atau memarahi Kimberly atas perkataannya yang menyakitkan tapi benar.

 

“Mau minum kopi?, biar aku yang traktir…” akhirnya gadis dua marga itu menyerah.

 

***

 

“Ah, sial, mataku jadi bengkak dalam sekejap!” keluh Hyojin, “Lapar… tapi aku tidak punya uang.”

 

Langkah gadis itu terhenti disebuah café dekat kampusnya, bukan saja tergiur oleh menu yang terpampang didepan café, pun karena keberadaan orang-orang yang dia kenal di café tersebut. Mengambil kesempatan, Hyojin berniat menghampiri mereka untuk minta ditraktir.

 

“Memalukan? Haha… apa malu bisa dimakan?” ucapnya mengacuhkan kata hatinya yang menganggap apa yang akan Hyojin lakukan bukanlah hal yang baik. Tapi, yah, persetan, perut lapar mengalahkan segalanya, kalau cuma segini bukan apa-apa dibanding hidup sendiri sebelum bertemu keluargaku, pikir Hyojin.

 

“Mira-ya!” panggil Hyojin yang lantas disambut antusias oleh Mira.

 

Hyojin sedikit bingung dengan respon gadis itu, nampak terlalu berlebihan seperti baru saja bertemu juru selamat atau semacamnya. Dan begitu melihat dua gadis lain yang duduk bersama Mira, menganalisis ekspresi keduanya -terutama gadis berwajah bulat yang terlihat marah, ia mulai bisa menebak situasinya.

 

“Sepertinya aku kena karma karena tidak menuruti kata hati.” Gumam Hyojin sebelum benar-benar bergabung satu meja dengan tiga gadis tersebut.

 

Tak mengacuhkan batinnya yang meledek, Hyojin duduk disamping Mira, berhadapan dengan Kimberly dan Lee Young.

 

“Sedang apa kalian disini?” tanyanya basa-basi.

 

“Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan di cafe?. Demo masak?” ketus Lee Young seraya menyeruput kopi susunya.

 

“Haha…” Hyojin tertawa lemah. Padahal ia juga sedang bad mood, tapi melihat Lee Young marah ia malah sedikit takut.

 

*Hyojin POV*

 

Entah kenapa gadis ini mengingatkanku pada Yejin, mantan kekasih Chanyeol yang juga anggota band dari empat pria menyebalkan kemarin. Apa kabar gadis itu? Masih ada di band? Kalau iya kenapa kemarin tidak datang bersama tiga makhluk aneh-

 

Ralat, ralat. D.O-ssi tidak termasuk menyebalkan tapi sedikit aneh. Anehnya? Ya sikap dinginnya itu.

 

Eonni juga bagaimana bisa datang kemari?”

 

Untunglah ada Mira yang bisa mencairkan suasana. Soalnya, dari tiga sekawan ini yang aku kenal dekat hanya si gadis berambut pendek yang suka gaya rock and roll serta sering dipanggil Leader ini. Sejak awal bertemu Lee Young terlihat tak menyukaiku (bukannya membenci yah) dan Kim-apalah itu namanya, si keturunan Kanada itu agak kaku kalau berinteraksi dengan sesama wanita, karena itu di kelas tari dia hanya dekat dengan Mira dan Lee Young saja.

 

He? Kenapa aku malah mendeskripsikan mereka?. Sepertinya penyakit ‘analisis orang’ miliku kambuh lagi.

 

“Ah, sebenarnya agak tak enak bicara begini padamu… Tapi yah…” kuhela napas panjang lalu akhirnya bilang juga, “Bisakah kau mentraktir aku makan siang?” dengan lancar.

 

Bagus harga diri, pergi sana jauh-jauh!.

 

“Eoh?”

 

Mira hanya melongo, begitu pula dengan Lee Young. Sementara Kimberly nampak tak acuh.

 

“Whaaa eonni ini berani juga ya?”

 

Aku tahu itu sarkasme, aku tahu betul. Tapi terserah, aku lapar. Jika kalian belum pernah hidup sendiri, mengembara kesemua penginapan atau rumah kost, lalu diusir dan menumpang dirumah teman, maka jangan banyak komentar soal bagaimana caraku menjalani hidup. Oke?.

 

“Eh… Oke! Tak masalah!”

 

Yes!. Aku tahu Mira tak akan menolak mengingat dia adalah gadis baik yang suka menghabiskan uang. Bukan dalam konotasi buruk loh ya. Toh itu uang miliknya, dari keluarnya, punya hak apa orang-orang mengatakan bahwa dia gadis nakal?. Kadang mulut mereka perlu disumpal pakai kaos kaki bau hasil fermentasi milik Jong In kalau sudah bergosip tak karuan.

 

Mira berdiri dari tempat duduknya untuk memesankan minum dan makanan untukku. Awalnya aku menolak, mengatakan bahwa aku akan memesan sendiri jadi dia tak perlu repot-repot. Sayangnya dia sudah pergi ke counter dan aku malas untuk menyusulnya.

 

“Ehem!” kudengar Lee Young berdehem, “Maaf sebelumnya, tapi… Bukankah meminta traktir secara langsung itu agak…”

 

Hohoho, aku mulai paham alur pembicaraan ini.

 

“Hmmm, mau bagaimana lagi. Aku lapar.” Jawabku jujur, sekali-sekali tidak menipu orang supaya bisa masuk surga hehe.

 

“Memangnya tidak ada pacar yang mau membelikan makanan ya?” timpal Kim-siapa sih namanya?!. Bahkan tanpa menatapku!.

 

“Yak! Kasar sekali bicaranya!”

 

“Hahaha, maaf.” Meski bilang begitu ekspresinya terlihat dingin!. “Kudengar Hyojin tidak pernah pacaran, makanya aku penasaran.”

 

“Ada yang aneh?. Apalagi kau bicara informal padaku huh?!”

 

Sorry aku terbiasa dengan budaya Kanada.”

 

“Dan kau sekarang tinggal di Kanada nona… Siapa namanya?” sial, disaat begini malah lupa marganya.

 

“Hyun, Kimberly Hyun.” Jawab Lee Young yang sedikit terkejut pada pertanyaan dadakanku.

 

“Ah, iya itu.”

 

“Euh… Hyojin eonni belum pernah pacaran?”

 

Harrgghh! Kenapa ditanya begitu terus sih?!. Memangnya kalau tidak pernah pacaran berarti aku bukan manusia ya? Dasar rasis!. Dan bagaimana mereka bisa tau soal itu?!. Sial, sepertinya si mulut ember Jang Mira yang membocorkannnya!.

 

“Iya, kenapa?” tanyaku sedikit ketus. “Eh, pernah sih, tapi tidak berlangsung lama karena kami hanya berpura-pura melakukannya.” Lanjutku dalam hati. Agak memalukan juga mengakuinya.

 

“Lee Young sangat menghormati orang-orang yang tidak pernah pacaran selama hidupnya. Atau orang yang setia pada satu pasangan seumur hidup.” Mira tiba-tiba datang dan menjelaskan. “Makanya eonni bisa merasa senang karena dia akan memperlakukan eonni dengan baik.” lanjutnya yang langsung mendapat sentakan dari Lee Young.

 

“Memangnya tidak pernah tertarik atau disukai oleh pria?”

 

“Daripada itu, apa namamu hanya satu suku kata? Bukan nama panggung seperti si Kim ini?”

 

“Daripada itu, apa eonni tidak sadar diperhatikan sejak tadi oleh orang itu?”

 

Wah, hebat juga anak ini bisa mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Bahkan tidak terpengaruh terhadap seruan tak terima dari si Kim-apalah itu…

 

“Hah?! Siapa?!”

 

Aku langsung menoleh hanya untuk mendapati wajah menyebalkan Myungsoo dari meja dekat pintu masuk, yang kini melakukan wink sekaligus senyuman anehnya padaku. Aku pun buru-buru berbalik supaya tidak muntah sebelum makan.

 

Kenapa aku tidak sadar dia ada disana sejak tadi sih?!. Mana dia mau kemari lagi!. Apa aku pergi saja ya?… Tapi makanan gratisku…

 

“Hah! Seenaknya saja kau bilang mau berhenti!. Minta dihajar sampai mati ya?!”

 

Noona pindah ke Thailand untuk belajar membunuh adik sendiri ya?!”

 

Suara ini sepertinya tak asing… Entah kenapa aku selalu kepikiran Chanyeol kalau sudah mendengar suara berat seorang pria.

 

“Pokoknya tidak bisa! Tetap sesuai rencana!. Hyojin tetap harus menjadi umpan balas dendam kita. Atau gunakan saja Rae Mi sebagai gantinya!”

 

Noona!. Kecilkan suaramu atau akan ada yang-”

 

Seharusnya aku langsung pergi… Seharusnya aku tidak menoleh lagi untuk memastikannya… Seharusnya… Aku tidak datang kemari.

 

“…mendengar…”

 

“Oh rupanya dia ada disini juga.”

 

Padahal dulu eonni terlihat begitu hangat dan menyenangkan. Sekarang kenapa?…

 

“Hyojin-ah… Kau… Ja-jangan salah paham dulu.” Chanyeol sepertinya mencoba menjelaskan sesuatu. Tapi sayangnya aku tak dapat menangkap apapun yang dia katakan. Aku terdiam seperti manekin payah sampai ada seseorang merangkulku.

 

“Sepertinya kau butuh bantuan, Jin-ah.” Kata Myungsoo yang sekali lagi mengedipkan matanya genit. Mungkin aku butuh garpu rumput untuk menusuknya.

 

 

~To Be Continue~

 

 

PENGUMUMAN!!!

 

karena kesibukan author dan sulitnya bagi waktu, maka dengan sangat menyesal ff ini akan dipotong durasi nya alias bakal lebih pendek daei chapter sebelumnya. Karena itu mohon pengertian pembaca sekalian *bow*

 

Saya rasa ini pilihan terbaik daripada harus hiatus atau telat update T.T sekali lagi mohon pengertian *bow again* doakan semoga saya lancar ide dan ChanJin bisa menghibur anda semua dalam THE ONE PERSON IS YOU…

 

Okedeh, RCL Juseyoooo~~~~

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 17

  1. Lanjut author huaaa, maaf baru sempet ninggalin komen, aku ngebut baca dari chapter awal dan sumpah deh langsung tak masukin list ff favorit sepanjang masa~
    Next thor, aku penasaran lanjutannya

  2. pantesan bantet kek tinggi hyojin, ternyata dipangkas… wkwkwk
    ini tuh bener” part ngenesnya hyojin ya.. sama part sebelumnya
    gk ada gitu yg tulus bantu ato naruh hati ke hyojin.. selain duo sahabat sehun-jongin pastinya
    yongguk kemana ini, kalo yongguk tau pasti gk bakal dibiarin hyojin nangis kek gitu… busettt dah, Ya!!! bang yongguk eodiseo??????????? jangan bilang ente pdkt sma kan raemi
    ini jg yoora kok segitu banget yaaa…
    apa myungsoo bener” mau nolong karna hati atau karna yg lain nih??!!! mencurigakan temen jiyeon atu ini.. wkwkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s