[EXOFFI FREELANCE] Black Ink (Chapter 1)

blackinkeu.jpg

BLACK INK
by Tyar
Chaptered | AU – Romance – slight!Action – Suspense | PG
Cast
Suho – Chanyeol – Sehun – Irene – Wendy – etc.
Disclaimer
2017 © TYAR
Don’t claim my fiction.

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

[ Prolog | 1 | … ]

Karya terbaru Kim Suho di awal tahun 2017 ini sukses menarik perhatian netizen internasional dan berhasil menduduki posisi ke-4 dalam TOP10 Best Seller menurut salah satu majalah di Amerika Serikat. Setelah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan China, rencananya buku ini akan diterjemah––

Pukul 8 pagi. Belum 10 menit TV flat yang tergantung di sudut ruangan itu menyala, pemiliknya begitu saja menyambar remote, menekan tombol mute. Dia menghela napas begitu berat seakan ada berton-ton beban yang menumpuk di pundak. Punggung rampingnya segera menyatu dengan kursi hitam yang sejak pertama ia memilikinya, terasa begitu panas.

Kali ini perhatiannya beralih pada layar laptop di hadapannya, menarik scroll mouse dengan malas.

“Kim Suho,” gumamnya saat melihat sebuah judul artikel yang baru rilis pagi ini. “Kim Suho,” sekali lagi ia bergumam, menemukan artikel kedua yang mengangkat topik serupa. “Kim Suho, Kim Suho, Kim Suho.” Tangannya mengibaskan rambut seperti kegerahan––meskipun AC dalam ruangan itu menyala sempurna.

“Di mana Elips menemukan penulis sepertinya, oh? Apakah hanya ada satu di dunia ini? Apa aku juga harus mencari seorang psikolog yang mahir menulis?” Dia menghembuskan napas dengan kasar, benar-benar terlihat seperti sedang kepanasan.

“Kurasa kau harus berhenti membaca dan menonton semua yang membahas Kim Suho, Irene-eonni.” Seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan mimik santai. Dia tersenyum sambil meletakkan seberkas map di atas meja.

“Bagaimana bisa, Seulgi? Seluruh jagat raya begitu panas membahasnya selama lebih dari 2 tahun ini. Apa dia idol, ha?” Irene berkomentar sarkas, mulai membuka map yang diterimanya. Kemudian menahan napas beberapa saat setelah itu. Kali ini ia memandang sekretarisnya dengan seksama. “Kau lihat? Saham kita terus menurun tajam. Tidak ada yang bisa meghentikannya selama penulis Kim Suho masih berjaya di bawah Elips Publisher.”

Wanita di hadapannya menyengir kaku, “setidaknya kita masih di dalam daftar 10 besar.”

“Iya, tepat di posisi ke-10.” Irene mendelik tajam. “Hanya soal waktu Cosmic Publisher akan terhapus dari daftar TOP10 Perusahaan Penerbitan & Percetakan Terbaik.”

Gadis bernama Seulgi itu menghela napas. “Jadi, apa rencanamu?”

Irene diam sejenak saat ia teringat sesuatu. Tangannya mencoba menarik laci di dekatnya, menatap sebuah buku dengan cover hitam yang isinya sudah mulai kusam. Novel itu baru diterimanya bulan lalu dari editor andalannya; Byun Baekhyun.

“Cosmic Publisher mengalami penurunan drastis semenjak penulis Max memutuskan untuk pensiun dan berhenti menulis 3 tahun lalu. Aku harap kita dapat segera menemukan sebuah naskah yang dapat membuat seluruh dunia bergetar.”

Ketika itu, secara kebetulan Baekhyun sedang menggenggam sebuah buku tebal bercover hitam. Maka ide itu begitu saja terlintas dalam benaknya. “Cobalah yang satu ini. Aku yakin kau belum pernah tertarik membacanya.”

“Aku tidak suka politik.”

“Kau akan semakin tidak menyukai politik setelah membacanya.” Baekhyun tertawa renyah, “tapi bukan itu maksudku.”

Lengang beberapa saat, setelah mencerna apa maksud sang editor, Irene tertawa sarkas. “Apa kau gila?”

Waktu itu, Baekhyun menyodorkan sebuah buku nonfiksi kontroversial karya Joon dengan judul ‘Black Skenario’. Yang sekarang berada di tangannya. Karya yang menakjubkan itu berhasil membuat Irene tidak berhenti membaca dan menyelesaikannya hanya dalam 1 malam saja.

“Editor Baekhyun memberiku ini.” Kali ini buku itu ditunjukkannya pada Seulgi.

Wanita itu mengangguk, “karya penulis rahasia bernama Joon itu memang membuat merinding. Aku sudah membacanya, dunia politik memang kejam. Buku ini juga ada di urutan ke-5 dalam TOP10 Best Seller setahun yang lalu––” Kalimat Seulgi tiba-tiba terhenti. Dia diam sejenak ketika menyadari sesuatu apa maksud Irene menunjukkan buku itu saat ini. Lantas dia menatap bosnya dengan ragu. “Kau sedang tidak berencana untuk––”

“Aku sedang mempertimbangkannya.”

Seulgi menggeleng tak percaya. “Apa kau gila? Jika kita nekat menjadi penerbit buku gelap Joon, perusahaanmu akan berakhir seperti penerbit-penerbit sebelumnya yang nekat memproduksi novel Joon. Mereka diboikot selama hampir setengah tahun, eonni. Itu bukannya akan meningkatkan saham kita dan mengembalikan Cosmic ke posisi pertama, tapi malah hanya akan menghancurkan kita sampai tak bersisa.” Suaranya menaik, tidak menyetujui ide gila itu meskipun Irene bahkan belum memutuskan sama sekali.

“Aku tahu, Seulgi. Tapi di luar semua itu, sebenarnya Cosmic masih mampu bertahan untuk bertarung. Ini hanya soal kebebasan berkarya. Siapapun bisa membuat pembelaan.”

“Tapi aku tidak yakin.” Seulgi mencondongkan tubuhnya, menatap Irene lebih serius, “sekali saja satu nama dirugikan, maka seribu musuh akan bangkit.”

>>>>

“Ini tidak adil, hyung.”

Seorang pria tewas dalam kecelakaan maut di jalan tol setelah ia membuntuti seorang petinggi bank sentral tanpa sebab. Begitulah bunyi salah satu kabar terbaru yang beredar pagi ini. Kecelakaan itu terjadi tepat pada pukul 2 dini hari. Dari luar memang terlihat seperti kecelakaan mobil biasa yang dialami seorang penguntit, secara tidak langsung, tampak menjadi kesalahan pria itu sendiri.

“Kita ini penyaji berita, Chanyeol. Bukan pengadilan. Bukan juga polisi.”

Tetapi bagi Chanyeol, itu bukan kecelakaan. Jelas sekali ada kepentingan di balik kematian pria itu. Karena pada faktanya, korban adalah seorang polisi, anggota salah satu Divisi yang sedang melakukan penyelidikan. Pasti saja ada rahasia yang terpaksa dibungkam rapat dalam mulut polisi itu.

“Kita tahu petinggi bank sentral itu masuk ke dalam daftar orang yang tengah dicurigai. Nama yang ikut terseret di kasus suap beberapa bulan lalu, tapi seluruh dunia seolah tutup mata. Lantas semua otoritas terkait termasuk media, menutup-nutupi identitas polisi ini yang sebenarnya? Aku tidak mau bersikap seperti pecundang.

Pria di hadapan Chanyeol itu mengahela napas, sambil membetulkan posisi kaca mata kotaknya yang turun. “Dengar, Chanyeol. Sudah kukatakan seribu kali padamu. Tugasmu hanya menyampaikan berita. Kau harusnya menjadi detektif saja jika kau ingin meluruskan semua hal.”

“Aku akan tetap menerbitkan tulisan versiku, hyung.” Chanyeol mengedikkan bahu dengan santai, meraih map berisi berita yang baru saja ditulisnya, menolak mentah-mentah masukan sang Redaktur, bahkan tak memberinya kesempatan untuk merevisi atau sekadar mengeditnya.

“Kau mau aku dipecat, oh?”

“Kau tidak akan dipecat, Redaktur Shim Jaewon. Percaya padaku.”

Jaewon menghembuskan napas dengan kasar. Kehabisan kata-kata untuk mendebat anak buahnya. Yang dapat dilakukannya hanya membiarkan semuanya berlalu. Membiarkan Chanyeol mengerjakan tugasnya. Dan bersiap diri untuk menerima kembali teguran keras dari atasan.

“Chanyeol-ah.” Setelah menarik napas dalam-dalam dengan pasrah, ia memanggil anak buahnya yang hendak berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.

“Apalagi? Aku tidak akan merubah keputus––”

“Selamat pagi, Redaktur-nim.” Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar dari arah pintu. Keduanya menoleh dan mendapati seorang gadis bersurai coklat dengan poni menutupi dahi tengah tersenyun kaku di ambang pintu, enggan melanjutkan langkahnya ketika melihat keberadaan Chanyeol.

Oh? Kau Son Wendy, benar?” Sahut Jaewon kemudian. Perempuan itu tersenyum lebar dan mengangguk, kemudian melangkah masuk setelah Jaewon memberi intruksi.

“Nah, Chanyeol. Aku punya tugas baru untukmu.”

“Tugas?” Kedua alis lelaki itu bertautan tak mengerti.

“Ini anggota baru kita di tim wartawan. Son Wendy. Kenalkan, Wendy. Ini Chanyeol, kau pasti sering melihatnya di KBC News.” Meski masih ada rasa tegang yang tersisa, ini tetaplah kewajibannya untuk saling memperkenalkan pegawai.

Wendy membungkukkan tubuhnya demi memberi salam dan hormat kepada seniornya. Dia tahu sekali siapa Park Chanyeol.

“Jadi tugasku?”

“Wendy akan menjadi partnermu,”

“Aku bekerja sendiri. Berdua bersama kameramen.” Jawab Chanyeol memutus kalimat Redakturnya acuh tak acuh.

Jaewon mengusap wajah, terkadang dia ingin sekali mendepak Chanyeol dari KBC News. “Baiklah, aku ganti. Ini perintah, bukan tugas. Oke? Kau harus membimbing Wendy sebaik mungkin. Bawa dia kemanapun kau meliput. Dan Wendy,”

“Ya, Redaktur-nim?” Jawab Wendy antusias.

“Bantulah Chanyeol apapun yang dia lakukan.”

Wendy mengangguk mantap, sangat siap dengan perintah atasannya, meski ia mendengar sendiri kalimat sarkas sebelumnya yang Chanyeol keluarkan.

Lelaki itu tak menjawab. Hanya membalas tatapan Shim Jaewon dengan datar sebelum menatap Wendy sekilas.

“Ikut aku.” Intruksi Chanyeol pada junior barunya.

Ne, sunbae!”

Jaewon meremas rambutnya dengan gemas. Jika Chanyeol bukanlah wartawan terbaik di KBC, jika KBC tidak membutuhkan Chanyeol, mungkin dia sudah mendapat perintah tegas untuk segera memecat Park Chanyeol––wartawan yang selalu menyampaikan berita langsung dengan improvisasi berani, juga menulis artikel tanpa menerima suntingan apapun. Tetapi pada kenyataannya, semua berita yang Chanyeol sampaikan kebanyakan adalah fakta. Tidak ditutup-tutupi.

“Ini tugas pertamamu.” Sesampainya di meja kerja, Chanyeol menyerahkan sebuah map pada Wendy yang kini memiliki meja kerja tepat di sampingnya. “Ketik di situs berita KBC, pastikan kau tidak merubahnya sedikitpun.”

Wendy membuka map, menatap seisinya dengan sekilas. Kemudian kembali menoleh pada seniornya dengan ragu. “Bukankah seharusnya kau memiliki soft-filenya?”

“Sekarang, Son Wendy.” Tegas Chanyeol santai.

“A-ah, siap, sunbae!” Wendy segera balik kanan, menghampiri komputer kerjanya dan mulai mengetik berita.

“Oh, ya, pastikan kau menyebarkannya di seluruh media sosial.”

Ne!” Jawab Wendy lantang.

Hari pertama bekerja, Wendy tidak pernah menyangka bahwa ia akan diberi posisi menjadi partner langsung senior Park Chanyeol yang namanya begitu terkenal di kalangan jurnalis, bahkan di kalangan semua mahasiswa jurnalistik, tidak ada yang tak megenalnya. Namun entah Wendy harus bersyukur atau merasa sial. Chanyeol nyatanya seserius yang ia lihat di televisi. Seolah senyum adalah sesuatu yang mahal sekali baginya. Karena itu, Wendy mungkin harus bersiap untuk kemungkinan apa saja yang akan diterimanya dari Park Chanyeol.

S-sunbae,” panggilnya ragu setelah ia membaca ulang berita yang baru saja ia ketik. Ini sudah yang kedua kali.

“Hm?” Chanyeol yang tengah memeriksa beberapa berkas, menyahut tanpa menoleh.

“Dari mana kau tahu bahwa dia adalah seorang polisi? Dan lagipula, hasil otopsinya tidak menyatakan bahwa dia korban pembunuhan. Maaf, sunbae, aku tidak bermaksud untuk––”

Publish saja, Wendy. Berita itu ditulis atas namaku, bukan? Hanya itu tugasmu sekarang.” Chanyeol masih tak mengalihkan pandangannya.

“Baiklah.”

Wendy menghela napas, dia tahu bagaimana Chanyeol menyampaikan berita, berani dan berbeda. Namun berakhir dengan fakta yang terbukti. Seharusnya dia mempelajari itu langsung.

“Kau ingin aku menjelaskan situasi sebenarnya?” Tiba-tiba Chanyeol menyahut kembali, kali ini beralih menatap Wendy dengan serius.

Gadis itu terdiam sejenak, perlahan mengangguk dengan tampang penasaran.

Chanyeol tersenyum miring. “Pertama-tama, ada yang harus kau lakukan.”

“Apa itu? Kau ingin aku membuat sebuah berita? Atau?”

“Pertama-tama, buatkan aku segelas kopi.” Jawab Chanyeol santai, kembali menatap isi map di tangannya, tak peduli dengan air muka Wendy yang antusias kini luntur habis. “Dengan 2 sendok gula.”

>>>>

Jika bukan karena Kim Minseok selaku CEO Elips Publisher yang langsung mengatur schedule Suho, dia mungkin tidak akan menerima semua tawaran show di beberapa talkshow televisi. Berbeda halnya dengan menerima ajakan interview dengan majalah atau beberapa radio, Suho sudah terbiasa.

“Sedangkan acara televisi? Oh ayolah, aku sudah merasa seperti seorang selebriti sekarang, Paman.” Suho meraih cangkir teh, menyeruputnya perlahan.

Seperti biasa, sebelum akhir pekan, Suho akan mengunjungi Pamannya dengan membawa menu makan siang masakan sang Ibu. Lalu dengan bahan-bahan yang tidak pernah lupa dibawa oleh keponakannya, Kim Jungmin akan membuatkan secangkir teh tradisional yang menenangkan. Persis seperti kesukaan Suho sejak remaja.

Pria paruh baya di hadapannya itu tertawa renyah. “Tampangmu itu sudah cocok untuk menjadi selebriti, Suho. Itu akan menyenangkan jika kau menikmatinya.”

Suho tersenyum tipis, mengangguk samar. Mengingat kembali ketika 3 jam lalu dia berhadapan dengan pembawa acara talkshow terkemuka, berbincang-bincang seputar karirnya di depan banyak orang.

“Kapan siarannya akan tayang? Sayang sekali aku tidak bisa menontonnya.”

“Akhir pekan ini, dua hari lagi.” Suho tertawa ringan, “Itu acara yang tidak penting. Kau tidak usah memikirkannya, Paman.”

Jungmin kembali tertawa. Meski telah berjalan 5 tahun dia di dalam penjara, menjalani aktivitas sebagai narapidana, menahan rindu akan masakan sang istri yang kini sudah tidak bisa menjalankan aktivitas dengan normal, begitu mendamba udara bebas, namun dia tetap senang melihat Suho yang bisa hidup maju seperti sekarang. Dia bersyukur, tidak semua narapidana di tempat itu memiliki keluarga yang mau rutin berkunjung dengan berbagai macam masakan lezat.

“Aku harap usiaku masih cukup setelah hukuman ini selesai.”

Cengiran Suho segera luntur, digantikan dengan sebuah senyuman yang kecut. “Hukuman apanya? Kau tidak bersalah apa-apa.”

“Di sini tidak begitu buruk, kau tahu? Rasanya jiwa sosialku saat ini tumbuh semakin tinggi. Asalkan kau tidak nekat kembali menjadi ‘Joon’, aku tidak apa-apa.”

“Kau akan segera keluar, Paman. Kita tidak bisa membiarkan Korea Selatan dipimpin oleh manusia seperti Kim Youngmin.”

“Dia tetap saja Ayahmu.”

Suho tersenyum miring, “Dia bukan Ayahku.”

Lima belas menit lagi Suho sudah berada di dalam mobil, menyelesaikan pembicaraan bersama Pamannya dan membereskan barang-barang bawaan. Kakinya baru saja menginjak pedal gas, hendak meluncur kembali ke rumah ketika tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Suho pun menjawab lewat handsfree yang terpasang di telinga. “Ada apa, Sehun? Kau tidak meneloponku untuk––”

Ada yang mengikutimu, hyung. Lagi.

Suho nyaris saja tanpa sengaja menginjak rem mendadak di tengah jalan. Lewat kamera cctv kecil yang terpasang tepat di belakang mobil Suho, Sehun dapat melihat dengan jelas sebuah SUV hitam berada tepat 5 meter di belakang, menjaga jarak. Dia hafal sekali bagaimana gerak-gerik seorang penguntit.

“Sejak kapan?”

Setengah jam yang lalu. Aku melihatnya lewat cctv di luar lapas, mobil itu berhenti dan tak seorangpun keluar dari sana sampai kau keluar.

“Apakah dia penguntit yang sama?”

Percepat, hyung!” Alih-alih menjawab rasa penasaran Suho, Sehun segera memberi perintah.

Suho mencengkram setir semakin kuat, menginjak gas demi meningkatkan kecepatan. Dia melirik sebentar ke arah kaca spion di atasnya, melihat bagaimana SUV hitam terbaru itu sama-sama mempercepat laju demi tak kehilangan jejak.

Memasuki jalanan raya, kecepatan Suho semakin tinggi, menyusul sebuah mobil pick-up di depan sana, mendahului 2 mobil berikutnya sekaligus. Mencoba menghilangkan jejak diri dari jangkauan penguntit. Selang 2 menit saja Suho merasa berhasil memimpin jauh.

Mobil itu tepat di dekatmu, hyung.”

Suho lagi-lagi nyaris menginjak rem jika tidak mengingat bahwa ia masih di tengah kejar-kejaran. Dia menoleh ke samping, menemukan mobil penguntit itu tak jauh dari mobilnya, sama-sama menyusul 3 mobil di belakang, berusaha menyejajarkan kecepatan dengan Suho. Pria itu mendengus.

“Mereka jelas-jelas bukan sasaeng. Karena aku memang bukan seorang idol. Sungguh menyusahkan.”

Kau bisa lebih cepat dari itu, hyung. Tinggalkan mobil itu 3 meter saja, lalu belok kanan tanpa tanda. Dalam kecepatan penuh, mobil itu akan terkejut dan tak sempat mengikutimu.”

“Kau mau membunuhku, oh?” Suho bergerutu pelan. Dia lantas memaksimalkan kecepatan penuh, tepat di penghujung batas garis kecepatan, tidak peduli apakah dia berhasil meninggalkan 3 meter atau lebih. Lantas membanting setir ke kanan, berbelok tanpa aba-aba, membuat beberapa mobil harus terpaksa menginjak rem dan menekan klakson panjang.

“Dia berhasil mengikutiku, Sehun! Berbelok tajam seperti apa yang kulakukan.” Suho mulai jengkel, dia tidak suka membawa mobil ugal-ugalan seperti ini.

Setidaknya jaga jarak lebih dari 3 meter, itu akan memudahkanmu untuk melarikan diri jika sempat.” Di seberang sana Sehun membalas berseru, gemas menghadapi Suho yang mulai tak sabaran.

“Jika sempat, katamu?!” Suho berseru lagi.

Lima menit lagi kau akan menembus ke jalan utama. Kau bisa melarikan diri di tengah ramainya jalanan raya. Jangan beri dia kesempatan.”

Suho merasakan seluruh aliran darahnya berdesir dengan cepat, membawa mobil secepat itu bukanlah kebiasaannya. Dia bukan Sehun yang bahkan bisa mengendarai mobil dengan kecepatan penuh di jalanan utama Seoul, menyalip sana sini seakan dia sedang mengendarai motor.

Belum 5 menit, jantung Suho seperti berhenti berdetak ketika tiba-tiba saja sebuah sedan hitam keluar begitu saja dari samping kanan, berhenti tepat menghalangi jalannya. Kali ini, dia tidak bisa menahan diri untuk menginjak rem kuat-kuat. Membuat mobilnya berhenti dengan mendadak. Jika telat sedikit saja, dia tidak tahu akan bagaimana nasib sedan itu berakhir. Suho menoleh ke belakang, mendapati penguntitnya memperlambat kecepatan bahkan 5 meter sebelum mendekatinya.

Lanjutkan, hyung. Itu jalan yang cukup besar untuk kau salip.” Intruksi Sehun kemudian, seakan mengerti apa yang dipikirkan Suho ketika melihat spasi jalan yang tersisa di hadapannya cukup sempit akibat sedan hitam yang masih berdiam diri di tempat.

Dia segera memutar setir secepat mungkin, peduli setan jika dia harus melewati batas trotoar. Namun kabar buruknya, sedan hitam itu maju, memposisikan mobil tepat di tengah jalan, memblokade pergerakan Suho.

“Mereka tidak sendiri.” Lelaki itu segera menyadari situasi. Melihat SUV hitam di belakangnya melaju santai, Suho mengumpat, memukul setir dengan kasar.

Tak ada suara di seberang sana. Sehun diam menatap layar komputernya, memperhatikan kembali peta jalan yang ada di hadapannya. Sial. Daerah itu dipenuhi dengan jalan pintas. Penguntit itu tidak sendiri, mereka bekerja sama untuk mengejar Suho dari arah yang berbeda. Sedan hitam itu tahu dimana harus mencegat SUV putih mewah milik Suho.

Aku akan mengirim bantuan.”

“Segera!” Tangannya masih mencengkram setir dengan gelisah. Memperhatikan ketika supir sedan itu keluar, bersamaan dengan dua orang berpakaian serba hitam lainnya di pintu belakang. Sang supir membuka satu pintu tersisa, mempersilahkan seseorang keluar dari sana. Kali ini Suho melirik spion, menemukan 3 pria berpakaian serupa turun, melangkah menghampiri. Di balik setirnya, ia menggigit bibir. Tujuh pria berbadan tinggi tegap sudah berdiri di hadapan mobilnya. Seorang laki-laki dengan kemeja hitam dan jas polos senada tanpa kancing, berdiri paling depan. Pria itu melepas kaca mata hitamnya, menyisir rambutnya yang dicat abu dengan jemari. Dengan tampang santai, dia melangkah mendekat, berdiri tepat di depannya. Satu orang yang lain menghampiri pintu pengemudi. Membuat Suho menahan napas.

“Mereka pastilah orang yang sama, Sehun.” Gumamnya.

Hm. Mereka dapat membaca bagaimana cara kita menghindar.” Sehun mendengus, memperhatikan baik-baik pemandangan yang tersaji lewat cctv di depan mobil Suho. “Ah, sial! Aku tahu orang ini.

Jendela mobil diketuk keras. Suho melepas sabuk pengaman dengan kesal. “Aku tidak akan menggajimu 3 bulan kedepan jika terjadi sesuatu padaku, Oh Sehun.”

Terdengar desahan napas di seberang sana. Sehun mengeluh, sudah berusaha sebisanya, dia bahkan telah menjanjikan setengah dari jumlah gajinya bulan ini untuk membayar satu geng temannya yang ia pinta bantuan.

Suho membuka pintu, turun menghadap orang-orang itu dengan wajah yang tak kalah dingin dari pemimpin mereka. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, duduk sedikit di bemper mobil. Meski dalam keadaan jantung yang menegang, Suho berusaha tampak santai dan datar, membalas tatapan orang-orang itu dengan berani.

“Apa ini? Penulis Kim Suho fans club?” Sahutnya kemudian.

Pria berambut abu itu melipat tangan di dada, tersenyum miring. “Bagaimana kalau Penulis Kim Suho antis club?”

“Benarkah?” Pertanyaan Suho terdengar meyakinkan, seolah dia percaya dengan perkataan barusan. Meski sebenarnya dia tahu itu hanya gurauan belaka.

“Ah, mungkin bisa kubilang, Penulis Joon antis club?” Sebelah alis orang itu terangkat.

Ketegangan Suho bertambah setelah mendengar kalimat itu. Dia lantas menyeringai, “Dia sudah bukan urusanku lagi sejak setahun yang lalu.”

“Tapi urusanmu denganku masih banyak, Penulis-nim.”

“Siapa kau?”

Kris Wu. Mantan polisi cyber dan detektif. Entah apa pekerjaan dia sekarang. Dia menolak lamaran kerjaku 5 tahun lalu. Sial! Rasanya aku ingin ke sana dan memberinya sedikit ‘hadiah’.” Sehun memberi jawaban lebih dulu.

“Tidak penting kau tahu atau tidak siapa aku. Sejak seminggu lalu, anak buahku hanya ingin mencoba menjemputmu. Tidak berniat jahat.” Kris tersenyum jengkel.

Suho berdecih. “Tidak usah membual.”

Hackermu itu lumayan juga. Katakan padanya untuk tidak langsung berasumsi yang macam-macam.”

Bagaimana dia bisa tahu kau memiliki hacker?

“Lantas apa maumu?” Suho mengumpat dalam hati, dia berharap tidak ada pertarungan yang harus dimulai karena dia tidak terlalu ahli dalam hal adu jotos.

“Temui atasanku.” Jawabnya singkat.

Kali ini Suho menegakkan tubuh, berdiri dengan sempurna, menatap orang di hadapannya lebih serius.

“Maksudmu Kim Youngmin?” Dia tidak hanya sekadar menebak, sejak awal ia sudah menduga bahwa penguntit-penguntit itu adalah suruhan Ayahnya sendiri.

Kris memandang Suho takjub, kemudian tertawa. “Tidak heran. Selama apapun seorang Ayah dan anaknya bermusuhan, ikatan batin di antara mereka tidak akan pernah terputus.”

Kalimat yang baru saja terlontar, terdengar menjijikan di telinga Suho. “Cih. Pecundang sekali dia menggunakanmu hanya untuk menemuiku.”

Kris diam sejenak, menatap Suho dengan tajam. Lantas mengangkat tangan, memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera bergerak.

Suho otomatis terkesiap, melihat beberapa anak buah Kris mendekat dengan cepat, hendak meraih tubuhnya untuk dibawa paksa. Namun Suho segera menghindar, menepis orang-orang itu dengan kasar. Sementara Kris sudah mundur beberapa langkah, membiarkan anak buahnya bekerja kali ini.

“Dimana mereka, Sehun?” Pekik Suho setelah memberi tendangan ke arah salah satu ajudan Kris. Menundukkan kepala mencoba menghindar dari salah satu serangan tinju.

Mereka di sana.

Dan benar saja. Geng yang Sehun maksudkan datang tepat waktu. Ketika suara-suara deru knalpot beberapa motor terdengar dari kejauhan, semua orang terdiam, menoleh ke arah sumber suara dari berbagai arah.

Motor-motor besar itu tersebar, datang dari arah belakang dan jalan di mana mobil Kris muncul tadi. Tanpa aba-aba yang Suho berikan, para anggota geng berandal itu segera turun dari motor masing-masing. Kebanyakan dari mereka membawa benda-benda tumpul seperti tongkat baseball, balok kayu, dan sebatang paralon panjang. Kerumunan itu mendekat, dengan gagah berani mendorong dan menarik 6 anak buah Kris untuk menjauh dari Suho.

“Serahkan pada kami, hyung.” Seorang pemuda dengan gaya rambut cepak, anting di telinga dan sebuah tusuk gigi di mulut berbisik pada Suho, lantas bergabung dengan teman-temannya, mulai mengintimidasi musuh.

“Memangnya dia pikir dia siapa, memanggilku hyung?” Gerutu Suho. Kemudian kembali ke balik setir setelah mendengar intruksi dari Sehun.

Di luar sana Kris tampak terlihat kesal, amarahnya menaik saat melihat geng motor itu mengancam-ancam dengan mengayunkan benda-benda yang mereka bawa. Bahkan ketika para ajudannya memulai pertarungan, mereka menyesal telah meremehkan kemampuan lawan. Nyatanya orang-orang suruhan Sehun itu pandai berkelahi. Tentu saja, mengingat mereka semua adalah anak jalanan, berkelahi adalah makanan mereka sehari-hari.

Mino, rebut kunci mobil sedan itu dari laki-laki yang baru saja kau lawan. Singkirkan mobil itu dan beri jalan untuk Penulis Suho.”

Suho ikut mendengar intruksi dari Sehun. Dia lantas segera menyalakan mesin, langsung paham dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kakinya siap menginjak pedal gas. Tangannya mencengkram setir kuat-kuat. Memperhatikan dengan seksama bagaimana laki-laki bernama Mino yang barusan memanggilnya hyung itu merebut kunci dengan cekatan, berlari menuju mobil setelah mencoba menghindar dari serangan Kris yang dapat membaca situasi dengan cepat. Mino berhasil masuk, membawa mobil kembali mundur dan memberi jalan seluas mungkin untuk Suho.

Tidak sampai 5 menit kemudian, mobil Suho sudah berhasil meluncur, menembus kekacauan yang dibuat kelompok Mino, keluar ke jalan utama kota dan segera meloloskan diri. Beruntung, pemuda urakan itu bergerak cepat, menghalangi jalan kembali sebelum SUV hitam milik musuh kembali menguntit.

Kau harus membayar mereka, hyung! Kau yang harus membayarnya, aku tidak peduli.”

Sambungan segera terputus. Suho menghembuskan napas lega. Apapun yang Ayahnya lakukan demi bertemu dengannya, apapun juga akan Suho lakukan demi tidak bertemu dengan Kim Youngmin. Karena dia sudah sangat muak, tidak ingin mendengar desakan Ayahnya lagi untuk mengirimnya ke luar negeri, menjauhkan Suho dan sang Ibu dari Korea Selatan. Bahkan jika dirinya dan sang Ayah benar-benar harus bertarung sungguhan, dia tidak peduli.

>>>>

Suasana senyap meliputi rumah besar itu meski jam di dinding baru saja menunjukkan pukul 8 malam. Hanya ada sayup-sayup suara televisi yang masih menyala di ruang tengah. Setelah melewati kejadian kejar-kejaran dan kebut-kebutan di jalanan siang tadi, akhirnya Suho dapat menikmati rileksnya berendam dengan air hangat tepat setelah ia sampai.

Dengan sekaleng minuman dingin di tangan, Suho melangkah melewati kamarnya yang luas, menembus ke balkon belakang rumah di lantai dua. Pemandangan gemerlap bintang-gemintang yang indah segera menyambutnya. Udara dingin malam menerpa wajahnya dengan lembut.

Dia duduk di atas bantal, tepat dihadapan seporsi sushi kesukaannya yang terhidang di atas meja kayu. Inilah kebiasaannya setiap makan malam, menyantap seporsi sushi yang ia pesan dari restoran langganan, ditemani dengan suara-suara sunyi khas malam, juga di bawah langit pekat yang menyelimuti.

Suho meraih sumpit, mengapit satu lingkaran nasi yang berbungkus nori. Baru saja hendak memasukkannya ke dalam mulut ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di samping piring. Dia mendengus.

“Apa kau tahu ini pukul berapa?”

Hm. Aku tidak peduli meski ini jam makan malammu yang tidak bisa diganggu, tapi aku harus menyampaikan sesuatu.

“Setidaknya tunggu 15 menit saja, Sehun. Itu tidak lama.” Balas Suho kemudian terpaksa meraih kembali sumpit dan memasukkan sebuah sushi ke dalam mulutnya.

Ini darurat. Seseorang meminta kontak email Joon pada Editor Penerbit sebelumnya yang menerbitkan bukumu sebagai Joon.”

Suho berhenti mengunyah, mencerna baik-baik kalimat yang baru saja didengarnya. Dia nyaris menjawab dengan sebuah penolakan tegas. Namun Sehun kembali menyahut.

Seorang CEO dari Perusahaan Penerbitan besar, hyung.” Suho akhirnya urung melontarkan niatnya untuk menolak. Itu tidak seperti yang ia sangka, yang terlintas di dalam benaknya beberapa saat lalu adalah seseorang yang berniat mengejar Joon untuk membunuhnya.

Kau masih ingin menulis sesuatu di bawah nama pena itu? Jika iya, aku akan––

“Berikan saja. Hubungi aku segera jika kau sudah membuat jadwal pertemuanku dengan CEO itu. Kita akan kembali melawan opini-opini busuk media dan otoritas penjilat.”

Aku mendengar itu‘Opini busuk media’.” Sebuah suara yang lain terdengar menyahut santai.

“Oh? Kau di sana, Chanyeol-ah?”

Hm. Aku boleh bergabung, bukan? Saatnya mengakhiri hiatus ini, bung. Aku bosan.

Suho menyeringai, mengangguk mantap meski orang-orang di seberang sana tak melihatnya.

Selamat menikmati sushimu, hyung. Aku akan segera memberi kabar.” Kali ini Sehun kembali membalas, lantas segera mengakhiri sambungan.

>>>>

Televisi di sudut ruangan masih menyala tanpa suara. Pencahayaan di gedung besar itu nyaris padam seluruhnya, ketika Irene masih fokus di hadapan laptop. Kedua tangannya saling bertautan di depan dagu. Ia menunggu sesuatu. Sejak siang, Irene mencari informasi kesana kemari, menanyai satu persatu Penerbit yang pernah menerima naskah Joon 2 tahun ke belakang. Kebanyakan dari mereka sudah menghapus semua kontak, tidak mau lagi berhubungan dengan Penulis gelap itu. Tidak juga mau tahu-menahu soalnya. Adalah sebuah keberuntungan saat akhirnya Irene mendapatkan seorang Editor yang bersedia menghubungi email Joon untuk sekadar mengkonfirmasi apakah orang itu mau menerima penawaran Irene.

Pukul setengah 10 malam, penantian Irene akhirnya bebuah hasil. Tanda email masuk pun berbunyi, Irene terkesiap. Menatap layar lekat-lekat.

From: blackink@moebius.com

Irene menahan napas saat membaca sang pengirim. Itu pasti Joon, pikirnya. Dia tak menyangka bahwa orang itu akan mengiriminya pesan lebih dulu secara langsung.

Subject: Selamat malam, CEO Irene.

Message: Kami akan menerima tawaran kerja sama ini, jika kau memang siap dengan risikonya. Kami harap kau akan segera mengosongkan jadwal, besok, pukul 8 malam. Sebuah mobil akan menjemputmu di depan kantor Cosmic Publisher. Sampai bertemu, CEO-nim.

Jantung Irene tiba-tiba berpacu lebih kencang. Rasa penasarannya segera berkecamuk menguasai pikiran. Sekali lagi dia membaca isi pesan singkat itu, kemudian menggigit jarinya.

“‘Kami’?” Gumamnya.

[to be continued]

Yassalam ternyata nulis cerita ginian gak semudah yang dibayangkan. Gak seindah yang ada di pikiran. Wkwkwk. Tyar harap sih ini berhasil bikin reader bertanya-tanya banyak hal. Pengen bikin penasaran gituloh ceritanya. H3h3.

Selamat berpuasa, yorobun. Jangan lupa tinggalkan jejak dan kesannya~~

–––tyar.

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Black Ink (Chapter 1)

  1. Sukakkk
    Penasaran maunya gimana ini cerita.
    Aku harap disini ada irene-sehun story meski gak sebanyak kisah philosophy of love. Kaka yg buat kan? Hehe.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s