[EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 3)

everything-has-chaned

 

Title |Everything has Changed

Author|RHYK

Cast|               Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jisoo ‘BlackPink’ as Arial Ahn

Additional Cast| Hye Ri ‘Girls Day’

                                 DK ‘SVT’

                                 Yuju ‘G-Friend’

                                June ‘Ikon’

                                Jun ‘SVT’

Length| Chapter

Genre|– Romance –Sad –School life –Fluff –Friendship

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks! Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

POSTER| chien @ INDO FANFICTION ARTS –thanks for beautiful poster!

Autor Note’s| Sebagai pembaca yang baik tolong tinggalkan jejak atau like dari kalian yaa.. karena bagiku itu adalah motivasi dan feedback paling menyenangkan thank you^^ Hope you will like it!

Quotes| Karena.. semuanya telah berubah dan tak sama lagi.

Summary this Chapter|“Kau lihat bintang yang paling terang yang sedang berkumpul disana?” Arial hanya mengangguk karena mulutnya masih dibekap oleh Sehun. Kemudian lelaki itu tersenyum dan menurunkan tangannya yang membekap mulut Arial. “Disana rasi bintangmu –dan kau dan aku  punya rasi yang sama, Arial.”

Previous Chapter| Unique Girl >>  Suck Feeling >> Gemintang (now)

-3: Gemintang-

“Sehun?” panggil gadis itu pelan, “Eoh?”jawab lelaki itu masih memandang panorama langit malam yang indah hari itu. “Kau pernah belajar ilmu perbintangan disekolah?”tanya si gadis dengan mata memandang langit yang sama, malam itu langit penuh bintang  yang berkilauan. Sehun menyipitkan kedua netranya dan membentuk bulan sabit, ia kemudian menatap gadis disebelahnya. “Tidak belajar ilmu perbintangan disekolah, hanya ada dipelajaran  IPA dibahas secara singkat tentang bintang. Mengapa?”

“Lalu, bisa carikan aku rasi bintang milikku?” pintanya dengan mata yang mengerling, Sehun hanya tertawa kecil dan melihat bintang lagi. “Sudah kuduga kau akan meminta hal itu padaku –‘ mendengar ucapan Sehun, gadis itu mengerutkan keningnya. “kau tau dari mana?”

“..karena –kau –bodoh, Arial!” kekeh Sehun pelan mentertawakan sahabatnya itu. Sedangkan yang diejek hanya menggembungkan pipinya karena kesal. “Ya! –Oh –‘ Sehun membekap mulut Arial sebelum  gadis itu berteriak, ia kemudian menunjuk kearah langit disebelah utara. “Kau lihat bintang yang paling terang yang sedang berkumpul disana?” Arial hanya mengangguk karena mulutnya masih dibekap oleh Sehun. Kemudian lelaki itu tersenyum dan menurunkan tangannya yang membekap mulut Arial. “Disana rasi bintangmu –dan kau dan aku  punya rasi yang sama, Arial.”

“Lalu,aku harus mengingatnya?”tanya Arial masih memandang sekumpulan bintang itu dengan kagum.Sorot matanya begitu bahagia dan damai, sebuah senyuman yang teukir dibibir tipisnya dibawah musim dingin hari itu membuat Sehun ikut melakukan hal yang sama. “Ya, kau harus –“

 

Chapter 3

“Sedang apa kau disini, Sehun –ah?” Arial menghampiriku dengan wajahnya yang sudah mengantuk, kedua bola matanya sudah meradang meminta untuk diistirahatkan. Dan, Gadis itu masih memaksanya untuk terjaga.Untuk apa?Tentu untuk berbincang dengan Luhan, dan ia merampas waktuku yang berharga dan menunggunya hingga ia selesai bicara dengan Hyung –ku dan aku tak mengerti mengapa aku harus melakukan itu.

“Ya?” kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku saat dimana aku tak seharusnya mengatakan itu, atau setidaknya kau harusnya berbicara dengan kalimat lebih halus Oh Sehun –kau bodoh sekali. Tapi, tidak –aku bukan orang yang akan berbicara baik –baik pada gadis seperti Arial terkecuali pada malam berbintang dimusim dingin itu, dan saat itu kami masih ditingkat Menengah Pertama.

Tapi, malam ini bintang tampak sama dan rasi bintang kami kembali terlihat.

“Apa?kau mau bicara apa?Dan, tumben sekali kau belum tertidur” ujarnya, lantas menarik bangku yang berada dibelakangku dan duduk ditepi balkon, sementara aku masih berdiri disampingnya.

Netranya memandang langit temaram dikala netranya  yang sudah berat aku  yakin itu. “Ya, Oh Sehun!Lihat!Itu rasi bintang kita –“ katanya dengan  mata yang mengerling kemudian tersenyum lebar. “Ternyata kau ingat –Arial, terimakasih.Kau ingat?Hari dimana kita –‘ aku menoleh dan gadis itu sudah tertidur ditempatnya duduk.Aku menghela nafasku dan berjongkok memandanginya dari samping, setidaknya ia jadi seorang gadis ketika tertidur, dan itu cukup anggun menurutku.

Mengapa disaat aku ingin bicara baik –baik padanya ia tak mendengarkanku.

Aku masih asyik memandanginya, Arial –gadis itu seperti permen kapas, begitu lembut dan halus ketika ia tertidur.

Dan, tiba –tiba saja Luhan Hyung membuatku  jengah ketika  dengan tiba –tiba ia mengangkat Arial dan menggendongnya secara bridal.Ia tersenyum kearahku beberapa saat, cara dia menatapku dan Arial sangat –sangat berbeda. Itu terlihat sangat jelas, menatap sebagai adik kepadaku namun lebih –dari –adik  ketika ia melihat Arial.

“Apa yang membuatmu rela, membiarkan  seorang gadis tidur diluar diudara yang dingin ini?Sekali saja, tak bisakah kau menganggap Arial seorang manusia?Oh Sehun.” Kalimat yang terlontar dari bibir hyung –ku sendiri membuatku merasa tertohok entah mengapa.Ia sering menasihatiku seperti itu, ketika ia berada di Korea. Tapi, kali ini seperti terselip hal lain dan aku tak tahu apa.

“Dia?Aku?Manusia?Hyung –dengar, bahkan aku tak pernah tahu kapan drama hidup kita ini akan berakhir.Selama aku masih memperlakukan Arial –gadis itu dengan wajar,tak kan ada masalah apapun.Aku merasa marah, kesal karena –“ mulutku terkatup begitu saja hingga kata terakir tadi dan membuat Luhan –Hyung sedikit mengerutkan keningnya sesaat. “—karena.. ahh, karena kau tak ingin membuat Arial dipermalukan dan rendahan dihadapanku dan Ayah?Bukan begitu, Tuan Oh?”pekiknya begitu gembira, ia bahkan tak tahu bagaimana menempatkan ekspresi yang begitu memuakkan untukku  ketika dia menyebut nama Arial disetiap hal yang ia bahas padaku.

Karena, yang kulihat dari pandanganku.. matanya begitu bahagia dan tak ada beban apapun yang terselip ketika ia menyebutkan nama Arial diantara suara yang keluar dari rongga mulutnya itu.

Sehun POV end

[][][]

Seperti biasanya, Luhan terbangun ketika jam menunjukkan tepat pukul 6 am Ia merenggangkan badannya dan menoleh kearah pintu kaca tanpa gorden disisi kiri kamarnya.Senyuman segera merekah dibibir miliknya ketika melihat seorang gadis yang masih pulas tertidur dengan mulut yang menganga dan posisi yang sangat tidak pantas untuk seorang perempuan.

“Dasar Nona Ahn—kau selalu berhasil membuatku tersenyum dihidupku yang berat.” Gumamnya sendirian dan segera beranjak dari kasurnya. Ia pergi kekamar gadis itu, memberi sentuhan kecil pada gadis itu yang membuat ia terbangun, sayup-sayup netranya menegas begitu ia melihat orang yang membangunkannya adalah pangeran istana dari negeri antah berantah.

“Sedang apa kau disini, Oppa?–aish, kau membuatku malu.” Arial menutupi wajahnya dengan selimut,membuat Lu han tak hentinya terkekeh dan mencoba menarik selimut gadis itu lagi.

Dan, membuatnya ikut tertarik dan hampir saja ia menibani Arial jika saja ia tidak sigap menahan bobot badannya.

Hanya ada kedua mata sayu gadis itu yang terlihat dari balik selimut.

Hening.

Hanya ada tatapan yang saling menyelami satu sama lain.

“Ayo, jogging denganku.Jadi, kau harus bangun.”

Arial masih bergulat malas dibalik selimut. Ia benar-benar malas, baginya libur hari minggu adalah hal terbaik untuk bangun ketika jam tambahan sudah dimulai.

Jika ia kesiangan, artinya ia tak perlu menghadiri kelas dan bisa bersantai seharian penuh dirumah.

“Dengan Sehun?” tanya Arial memejamkan matanya lagi. Lu han hanya memasukkan kedua tangannya ke jaket yang ia kenakan. “Hanya aku.”

Arial beranjak dari ranjangnya dan segera kekamar mandi. “Oppa, tunggu aku.” teriaknya dari toilet penuh semangat. Luhan hanya tertawa dan segera keluar dari kamar Arial.

[E V E R Y T H I N G HAS  C H A N G E D]

Sehun menghela nafasnya kasar begitu ia membuka netranya.Matahari telah naik, sementara lelaki itu baru bangun.Ia merasa ini bukan dirinya, ini semua karena gadis itu. Siapa lagi, jika bukan Arial.

“Ya Tuhan, berhenti menyalahkan orang lain Oh Sehun..” ia bergumam sendiri, lalu segera ketoilet.

‘Apa tak bisa, sekali saja kau menganggap Arial sebagai seorang manusia?’

kata-kata Luhan semalam membuat Sehun mengacak rambutnya frustasi, ia kemudian melihat dirinya dipantulan cermin.

Ia baik-baik saja.

Tak ada yang salah sedikitpun, tapi ia hanya merasa sesuatu membuatnya merasa tidak benar tentang perkataan Luhan padanya. Apa seburuk itu ia memperlakukan Arial?Apa ia sudah jahat pada gadis itu? Tunggu, mungkin benar Oh Sehun jahat pada Arial, tapi memang seperti itu tipikal dirinya.

Bagaimana ia harus berubah, ia begitu karena Arial setidaknya harus menjadi sedikit lebih dewasa mengingat ia sudah mau masuk perguruan tinggi.

Mimpinya begitu tinggi, gadis itu bersumpah akan menjadi Astronom, mengingat kencintaannya pada benda-benda langit terutama bintang.

Setidaknya, untuk mencapai apa yang ia impikan sejak dulu bukankah ia harus menjadi lebih baik lagi?

Pemikirannya tentang Arial membuatnya kembali kealam sadar begitu ia berpapasan dengan gadis itu begitu keluar dari kamarnya.

Ia berkeringat, masih dengan hoodie dan celana training selutut dan juga sepatu olahraga yang entah dari mana ia dapatkan.

Seperti sepatu yang  dirinya kenakan saat mereka kelas satu. Dan, yang memakainya Sehun bukan Arial.

“Darimana kau dapatkan sepatu itu?” tanyaku menatapnya sinis. Ia hanya menyengir dan melihat lagi sepatu yang ia kenakan. “Aku pinjam buat jogging bersama Luhan Oppa tadi, lagipula kakimu tak akan muat lagi ‘kan?Lihat, kakimu sudah dua kali lebih besar dari sepatu yang kupakai.” sahutnya panjang lebar yang membuatku hanya memutar mata. “Mau kemana kau pagi begini?” Arial berbalik bertanya. “Perpustakaan–kenapa?”tanyaku dengan wajah datar. Seorang Arial tidak akan tertarik dengan hal berbau ilmu, kecuali perbintangan.

Sehun side’s

Ia hanya menggeleng lalu menguap lagi, benar-benar bukan gadis— sehun bergumam dalam hati. “Ku kira kau ingin jalan-jalan.Aku mau tidur saja, masih mengantuk karena aku jogging pagi sekali.” ujarnya lalu berlalu meninggalkan Sehun.

“Ini hari minggu, kau masih ingin belajar juga, adikku?” tanya Luhan yang baru masuk dari pekarangan luar. Sehun hanya meresponnya dengan anggukkan seraya memakai sepatu. “Kau tak sarapan?” tanya Luhan lagi. “Nanti saja.Aku berangkat.” ujar Sehun lalu pergi.

*

*

“Sehun tak sarapan dulu,Oppa?” tanya Arial seraya mengoles roti dengan selai kacang dan melipatnya lalu memasukkannya kedalam mulut dalam sekali makan. “Katanya nanti–tak baik memasukkan makanan sebanyak itu kedalam mulut, Arial.” ujar Luhan lalu menuangkan air putih kegelas Arial, namun gadis itu hanya tersenyum tertahan karena mulutnya masih penuh dengan roti. “Terimakasih,Oppa.” Luhan hanya tersenyum simpul dan mengelus kepala Arial lembut. “Makan yang banyak–kau akan kemana hari ini?”

[E V E R Y T H I N G HAS  C H A N G E D]

Sehun side’s

Aku menarik nafas begitu kesibukkanku di perpus sama sekali tak berarti apapun karena bayang-bayang Arial selalu muncul dibenakku. Apalagi soal sepatu, membuat aku teringat pada satu kejadian pada tahun pertama disekolah kami.

“Sehun, ayo kita keatap–temani aku membersihkan penghapus.” katanya mengajakku yang lebih kearah memaksa karena aku sedang membaca buku dan seorang Oh Sehun sama sekali tak suka diganggu ketika ia membaca.

“Sehun–aku akan adukan pada guru kalau kau memakai sepatu dikelas.” ancam Arial padaku membuat aku segera bangkit dan menarik tangannya keatap.

Saat itu, Arial benar-benar pengadu paling hebat.

Sebelumnya, diatap kami berbincang, ia membersihkan penghapus sedangkan aku membaca dan sesekali melihat kepintu karena khawatir ada guru yang tiba-tiba datang dan memergokiku memakai sepatu didalam sekolah, karena peraturannya para siswa harus menggunakan sandal didalam kelas,agar kelas tidak kotor.

“Aku sudah menuruti perintahmu,kita impas.” kataku menatap Arial sekilas. “Ng,baiklah–siapa suruh kau memakai sepatu dikelas?–”

Aku memutar mata gemas, lalu menghentikan aktivitasku dan berdiri disampingnya. “Kau yang merusak sandalku karena kau berlari sepanjang koridor karena hukuman guru Park, tidak ingat?”

Mendengar itu, Arial menenggelamkan kepalanya dan tertawa pelan. “Ya maaf, kau tak akan aku adukan pada guru kelas.”

Aku bernafas lega, sedangkan ia hanya tersenyum picik yang ternyata hari itu ia tetap saja melaporkanku ke guru kelas, dengan alasan ia sudah menggantikan sandalku dan menaruhnya didalam loker miliknya.

“Kau yang salah, kenapa tak bertanya?Aku bahkan memakai uang saku-ku untuk mengganti sandal milikmu.Lagipula, lokermu dikunci dan aku tahu kau tak suka barangmu disentuh apalagi dipakai.”

Saat itu, aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa dan sepatu itu disita. Aku tak tahu kapan itu dikembalikan, tapi jelas tadi pagi Arial memakainya.

‘Jadi, selama ini sepatu itu ada pada Arial.?’

“Aish!” rutukkan yang ternyata mengeluarkan suara membuat orang-orang disekitarku menatapku dengan dahi mengernyit membuatku tersadar sekarang aku berada diperpus. Aku hanya menyembunyikan amarahku dibawah rasa maluku dengan membungkukkan badan meminta maaf pada semuanya.

*

*

Arial pura-pura membaca buku, begitu ia tahu Luhan akan masuk kekamarnya. Sebelumnya, rencana gadis itu sama seperti yang ia lakukan. Namun, entah kenapa berhadapan dengan hangeul beratus kata membuat matanya menyatu ketengah dan kantuk seketika datang.

“Tak perlu seperti itu, ini bukan disekolah.” Luhan bersuara lalu menempelkan minuman dingin dipipi Arial, membuat gadis itu terlonjak kebelakang dan hampir saja ia menjungkal kebelakang jika saja seperti biasa reflek Luhan yang menyelamatkannya sehingga ia masih ditempat yang sama.

“Aku sudah ditingkat akhir, Oppa. Aku ingin menjadi astronom, kau tahu masuk jurusan itu harus punya nilai yang tinggi– jadi, aku mulai mencoba seperti yang Sehun lakukan tiap hari.”

Mendengar itu, Luhan hanya mentautkan senyuman lalu mengelus pucuk kepala Arial dan beberapa helai rambut Arial keluar dari kuncirannya. Membuat rona merah terlihat dikedua pipi gadis itu. “Aku senang, kau mulai berubah–minumlah dulu kau akan merasa segar kembali.”

Arial hanya mengangguk dan segera meneguknya seolah-olah ia tinggal dipadang pasir. Ekspresi Luhan selalu sama, tertawa, tersenyum, entahlah ekspresi apalagi yang jelas ia sudah sama sekali tak terkejut dengan ketidak-anggunan seorang Arial Ahn.

“Sehun sudah pulang, Oppa?” tanya Arial, Luhan hanya menggeleng. “Aku rasa tidak akan berhasil jika belajar disini, Oppa mau tidak antarkan aku keasrama?Nanti aku akan keruang belajar atau keperpus dan bertemu dengan Hye Ri atau–Sehun?”

“Baiklah, bersiaplah.Aku tunggu dimobil.” ujar Luhan lalu keluar dari kamar Arial. “Yeay!Gumawo, Oppa!” sorak Arial lalu membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tas.

To: Hunnie Mr.Perfect

Hun?aku akan keasrama tapi, sepertinya aku akan keperpustakaan. Kau ada disana?

 

**

From: Hunnie Mr.Perfect

Eoh.

See Ya Next Chapter**

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 3)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 14) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 8) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] EVERYTHING HAS CHANGED – 7: THE END OF US | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Everything has Changed (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] EVERYTHING HAS CHANGED: 4 (VALUE) | EXO FanFiction Indonesia

    • Hohoho aku rasa kamu ada benernya, cerita ini memang kurang konflik diawal tapi seiring berjalannya chapter ada rahasia besar yang tersimpan so, patut buat ditunggu kelanjutannya ~
      Gomawo udah komen 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s