[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 5)

PicsArt_05-11-07.54.41

 

Kupu-Kupu Malang

.

[Oh Sehun, Seravina (oc), Park Chanyeol]

[Another Cast : Bae Joohyun/Irene, Park Bogum, Daren (Oc), Lee Dongwook as Park Dongwook, Park Sena(Oc), Do Kyungsoo]

[Romance, Drama, AU, Hurt?]

[PG-17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Summary : Kisah biasa di antara sejuta kisah klasik lainnya.

Tentang seorang adik yang mengingkar janjinya.

Tentang seorang gadis yang tidak dapat melindungi apa yang harus dilindungi.

Dan juga, tentang seorang pria yang menaruh dendam sekaligus cinta.

Semua itu, perjalanan hidup yang mereka tempuh … hanyalah buah dari penyesalan.]

 [Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

 

Sang Surya masih di peraduannya. Langit hitam mulai memudar berganti menjadi biru seiring pagi menjelang. Suhu masih teramat dingin untuk dinikmati. Tapi di sinilah mereka. Park Bogum suami Joohyun, Sehun, Seravina, Sena dan Joohyun, berdiri di depan gerbang rumah menemani sebelum Seravina pergi ke Seoul bersama Kyungsoo. Pun jaket tebal melingkupi mereka agar terlindung dari dinginnya udara.

Semua barang Seravina telah disimpan di bagasi mobil. Kecanggungan tiba-tiba merayap di sekitar. Semua saling berdiam menikmati waktu yang tersisa. Meski sebenarnya Seravina tidak akan tinggal di Seoul selamanya, tentunya sesekali ia akan pulang kembali ke rumah ini.

“Hati-hati, Sera,” ujar paman. Seravina menoleh dan tersenyum hangat. Manik almond-nya sampai melengkung membentuk bulan sabit.

Ia langsung menubruk Bogum begitu tangan paman terulur untuk memeluknya. Kehangatan dari sang paman sama halnya dengan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan bersama ayahnya. Bogum-lah yang merawat Sehun dan Seravina semenjak kedua orang tua mereka tiada. Kasih sayangnya tercurah melimpah layaknya anak sendiri, sang paman juga yang membuat Seravina bertahan di rumah ini.

Lain halnya dengan Sena dan Joohyun yang menatap tanpa ekspresi. Mereka berdoa agar Seravina lekas pergi dan tak kembali. Doa berbahaya yang mungkin saja terjadi. Ibu dan anak itu memang tidak pernah menyukai keberadaan Seravina. Yang mereka harapkan hanyalah Sehun, sayangnya Sehun justru mengharapkan keberadaan Seravina. Dan mereka sangat benci itu. Benci ketika Sehun memandang mulia seorang Seravina yang notabene-nya kakaknya.

Kejadian tragis belasan tahun lalu yang merenggut nyawa Dennis Oh dan juga isterinya Bae Seulgi membuat segalanya berubah. Park Bogum yang sangat merasa bersalah karena datang terlambat hingga tidak dapat menyelamatkan orang tua Seravina, bertanggung jawab dengan merawat Seravina dan Sehun sepenuh hati. Joohyun, yang memang sangat menantikan keberadaan Sehun, hatinya berbunga ria namun melayu seketika tatkala Seravina ternyata ikut tinggal ke rumah mereka. Namun begitu, ia tetap sedih saat mendapat kabar buruk kejadian naas tersebut. Bae Joohyun … masih mencintai suami dari adiknya itu.

Surai pirang Seravina diusap lembut oleh sang paman. Tidak ada kerelaan dalam hati Bogum untuk melepas Seravina ke Seoul. Rasanya baru kemarin bocah gadis enam tahun yang menangis sambil mendekap Sehun yang baru berumur dua tahun menatapnya nanar seakan meminta perlindungan. Bogum … kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak mampu menyelamatkan adik iparnya. Sebagai seorang polisi, ia bahkan tidak dapat menjaga keselamatan keluarganya sendiri.

Pelukan itu terurai. Dwimanik Seravina berkaca-kaca.

Sehun memalingkan wajah. Egonya melambung tinggi tidak ingin memeluk atau berpamitan dengan Seravina, meski ia sangat ingin. Perang dinginnya memang sudah berakhir, tapi masih tersisa sedikit. Melupakan kejadian semalam dimana ia meminta agar kakaknya itu datang ke acara pelepasannya. The power of ego.

Merasa tidak ada yang berpamitan lagi dengannya, Seravina melemparkan senyumnya kepada Sehun, Sena, paman serta bibinya sebelum masuk ke dalam mobil. Kyungsoo yang duduk di kursi supir hanya diam menunggu Seravina. Ia tidak ingin mengganggu acara pamitan tersebut.

Sena dan Ibunya segera masuk. Disusul dengan Sehun. Tersisa paman yang setia menunggu.

Bogum melangkah mendekati mobil, lebih tepatnya menghampiri Kyungsoo. Bogum dapat melihat Seravina yang tercenung memandang rumah tetangga. Tatapannya memang ke rumah itu tapi Bogum tahu fokusnya bukan di sana. Ia tahu pikiran Seravina sedang melayang. Bogum menghela napas. Ia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Kyungsoo. “Jaga Seravina baik-baik. Anak muda sepertimu, tidak ingin berakhir di sel, ‘kan?”

Kyungsoo terkekeh. Peringatan yang lebih pantas disebut ancaman itu tidak mempengaruhi Kyungsoo. Dengan senang hati tentunya ia akan menjaga Seravina tanpa ‘nasihati.’

“Tenang saja. Saya sendiri yang akan menyerahkan tubuh saya jika Seravina terluka,” tegas Kyungsoo. Manik saling menubruk. Saling meyelami dalam-dalam. Yang satu mempertahankan ketegasan. Satu lagi mencari celah kebohongan yang tersembunyi. Sedikit saja jika Bogum melihat ada keraguan atau kebohongan dalam Kyungsoo, maka ia akan menarik Seravina untuk menetap di kamar tidak mengijinkannya pergi ke Seoul. Atau mungkin mengurungnya sekalian. Karena tanpa Seravina bekerja pun, Bogum masih bisa menafkahi mereka semua. Masalahnya bukan itu, Seravina hanya ingin mendapatkan pengalaman bekerja, bukan uang.

Setelah tidak dijumpai apa yang dicari, tubuh Bogum menegak. Berdiri menjulang di sisi mobil. Ia mengangguk ketika Kyungsoo pamit pada dirinya sebelum menaikan kaca mobil lalu meninggalkan kediamannya.

Ada yang salah dengan hati Bogum.

Firasatnya mengatakan … kejadian buruk akan menimpa Seravina. Entah cepat atau lambat. Itulah yang membuatnya tidak rela.

Bogum mengernyit. Gerat tua di keningnya semakin bertambah saat ia tidak suka dengan pikirannya sendiri.

Menghela napas pelan. Bogum mencoba menyingkirkan pikiran buruk dengan pikiran positif. Yah, lagipula ia tidak berani untuk memaksa Seravina agar tetap tinggal di sini. Ia tidak tega meluruhkan pendar harapan dalam manik Seravina. Setidaknya yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berdoa. Memohon Seravina dilindungi oleh DIA Sang Maha Kuasa.

*****

Seorang pemuda duduk santai menonton layar dalam kegelapan. Dinding putih dalam ruangan itu menjadi remang karena lampu dimatikan hanya bermodal cahaya yang terpancar dari layar.

Pemuda itu tidak sendiri. Dia ditemani oleh seorang pria dewasa di sampingnya. Berdiri tegap siap siaga selayaknya seorang bodyguard.

“Bukankah ini menyenangkan?” Datar namun sarat penghinaan. Si pemuda terkekeh pelan. Pria di sampingnya menegang, gelisah dengan segala pikiran negatif tiba-tiba.

“Si Tua bangka itu tidak akan menyangka akibat atas sikap egonya, ‘kan?”

Pria dengan raut kaku itu menjawab hormat, “Tentu, Tuan muda.”

Pemuda itu memejamkan mata dan bersandar di kursi. Ujung bibirnya tertarik ke atas. Pengawal terpercaya ayahnya telah ia boikot. Ayahnya pikir dirinya bodoh? Membiarkan pengawal pribadi sekaligus menjabat kaki tangan yang telah mengabdi bertahun-tahun tentunya tidak akan mudah berpaling begitu saja.

Pemuda itu tahu jikalau ayahnya mengintai seluruh kegiatannya melalui pria di sampingnya ini. Ia diamkan karena ingin tahu sesabar apa ayahnya dalam menghadapinya. Lagi pula … penyebab utama segala kekacauan ini adalah ayahnya. Dan tentunya ia akan membuat ayahnya tersiksa, secara tidak langsung.

“Kau boleh pergi, Daren.” Suaranya menggaum meneriakan ancaman. Perintahnya adalah mutlak. Oleh karena itu pria di sampingnya membungkuk.

“Baik, Tuan muda.”

Ketukan sepatu terdengar tidak lama, dilanjut suara pintu terbuka dan tertutup.

“Kita lihat nanti. Siapa yang akan menang dalam pertempuran kali ini. Aku … atau Si Tua bangka itu?”

*****

Tubuh tegap yang memang sudah terlatih, melangkah dalam lorong terang sepi. Pemuda tinggi dengan wajah arsitokrat kaku itu tampak santai namun tetap waspada.

Langkahnya terhenti begitu sampai di pintu lebar yang dijaga oleh dua pengawal. Seperti sudah biasa dengan kedatangan pemuda itu, dua pengawal tadi membungkuk hormat dan membuka pintu. Pemuda itu mengangguk sekilas lalu masuk ke dalam ruangan.

Luas dan mencekam. Ruang kerja serba hitam itu begitu mendominasi seakan sengaja dirancang untuk menakuti siapa saja yang masuk. Lemari panjang berisi berbagai buku berdiri di samping kiri. Ada juga TV Plasma yang menempel di dinding. Sofa hitam empuk tersedia di seberang lemari, lengkap dengan meja bundar yang cukup besar. Sementara di ujung sana, meja kerja yang tak kalah besar berdiri dengan angkuhnya. Letaknya yang di tengah bidang dinding membuatnya seolah dapat mengintai dari berbagai sudut. Meja kayu dengan atasnya terbuat dari kaca hitam terpenuhi oleh berbagai benda. Kertas-kertas bertumpuk rapi, laptop yang terbuka, papan nama pemilik terbuat dari kaca, ballpoin, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk bekerja.

Pemuda itu membungkuk hormat pada pria paruh baya yang duduk di meja besar. Ia sangat menghormati pria yang telah membantu keluarganya dulu. Bukan hanya itu, dia juga secara khusus mendapat ilmu bela diri dari beliau. Padahal, perusahaan yang dipegang oleh beliau tidak ada satu pun yang bersangkutan dengan ilmu bela diri. Anehnya dapat melatih pemuda itu menjadi tangguh, seperti seorang master.

“Paman Dongwook.” Pemuda itu memanggil pria paruh baya. Dongwook, paman dari pemuda itu tersenyum. Ia menghentikan aktivitas sejenak.

“Ada apa?”

Raut datar si pemuda tidak membuat Dongwook bingung. Ia tahu keponakannya ini sedang dilanda kegalauan. Apa lagi hanya diam dan lama menjawab, seakan sedang menimang baik-buruknya.

“Kau tidak perlu khawatir.” Pemuda itu menatap Dongwook. Tidak terkejut ketika sang paman tahu tentang kegundahannya. “Seravina tidak akan mati walau terluka separah apapun. Alfa hanya ingin membuat Seravina sakit seperti mamanya. Kita biarkan saja sampai Alfa menyesal dengan sendirinya.”

Pemuda itu menunduk. Sedikit tersinggung karena Dongwook terlihat memihak Alfa yang notabene anaknya sendiri, wajar. Ucapan selanjutnya bahkan lebih menohok hatinya.

“Aku yakin Si Sialan Alfa akan jatuh hati pada Seravina.” Dongwook tidak segan menghina anaknya sendiri. “Dan saat itu … Seravina akan ditarik dalam kehidupannya. Aku akan memindahkan gadis itu ke luar negeri, hidup bahagia mencari pasangan hidupnya sesuka hati. Tentunya di bawah perlindunganku.”

Dia hanya membantu balas budi. Sungguh tidak sopan jika ia meminta agar Seravina untuknya.

“Mengapa kau diam? Jangan katakan kau juga jatuh hati pada Seravina. Ingat janjimu.”

Pelan, si pemuda embuskan napas sebelum menjawab, “Baik … Paman.”

Keheningan menguasai ruangan. Melingkupi ke setiap sudut. Lama mereka diam hingga tawa kecil dari Dongwook memecah sunyi.

“Aku tahu tidak mudah menjalankan misimu dulu. Melindungi Seravina dari manusia-manusia iri yang tidak berguna. Memang, pesona Seulgi menurun pada anaknya. Tidak ada yang dapat menolaknya. Aku mafhum.” Dongwook menganggukkan kepalanya. Kesombongan memang sudah meresap dalam setiap sel tubuh Dongwook. Pemuda itu memahami karakter pamannya. Wajar, keluarga pamannya itu turun-temurun keluarga taipan. Bahkan darah bangsawan melekat di area pembuluh nadinya.

Meski sebenarnya pemuda itu bisa saja merenggut Seravina sekarang juga ke dalam pelukannya. Ya, jika saja ia tidak mempunyai moral.

“Terima kasih telah membantuku. Untuk sekarang, kita hanya akan menunggu anak durhaka itu puas.”

Berakhir. Perbincangan ini telah berakhir. Apa yang ia tunggu ternyata tidak muncul. Pemuda itu mengangguk lalu membungkuk pamit. Ia membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu.

Andai saja pamannya itu sedikit mengerti hatinya. Andai saja pamannya itu memberikan Seravina untuknya. Andai saja ia tidak terikat dengan balas budi pamannya ini. Andai saja—

“Aku tidak bisa memberikan Seravina pada siapa pun. Hanya Seravina yang menentukan teman hidupnya.”

Pemuda itu berhenti di kenop pintu. Tadinya hendak melangkah keluar. Namun pernyataan Dongwook membuat ia tercenung. Hanya sekilas karena ia sekarang menampilkan senyum tipis.

“Terima kasih, Paman,” ucap pemuda itu sebelum meninggalkan ruang kerja Dongwook.

*****

Sunyi. Dingin. Dan sendiri. Sehun duduk di ranjang memerhatikan kamarnya yang terasa lain.

Tidak ada yang berubah. Semua benda di dalam kamar masih terletak sama seperti sebelumnya. Ranjang kakaknya, bahkan masih terletak di seberang sana. Sehun merasakan perbedaan atmosfir yang sangat kentara.

Kedua tungkai Sehun berjalan ke ranjang kakaknya yang rapi, menghempaskan bokongnya di ranjang hingga menimbulkan jejak kusut di seprai. Ia mengelus bantal yang ditumpuk dengan selimut di kepala ranjang. Ah, tentu saja tidak ada yang berubah. Pemilik ranjang ini, hanya pergi untuk sementara, bukan? Pemilik ini akan menempatinya kembali, suatu saat nanti.

Sehun mengernyit begitu hatinya tiba-tiba sesak seakan ada yang mencekiknya. Perasaan ini … mengapa begitu menyiksanya?

Sehun memejamkan matanya. Tangannya terkepal menahan emosi agar tidak membludak. Mengapa ego ini begitu tinggi? Padahal semalam tadinya ia akan meminta maaf pada kakaknya atas sikap kekanak-kanakannya. Sepertinya takdir berkata lain. Seravina malah membuat Sehun sakit hati. Mungkinkah keberadaan Sehun tidak dianggap oleh kakaknya lagi? Dia bahkan tega meninggalkan Sehun di sini. Kakaknya … apakah muak dengan segala ego Sehun?

Terkekeh. Sehun menertawakan segala pikiran busuknya. Ah, mengapa ia jadi melankolis seperti ini? Kakaknya hanya akan pergi ke Seoul untuk bekerja. Dia sesekali akan pulang ke rumah ini lagi, ‘kan?

“Seravina keponakanmu, Joohyun. Mengapa kau membeda-bedakan kasih sayang? Dia anak dari adikmu sendiri! Mengapa otak cantikmu tidak juga mau mengerti?!”

Sehun terkesiap saat mendengar suara pamannya yang menggelegar ke seluruh ruangan. Tidak biasanya paman meninggikan suaranya bahkan membentak seperti ini.

Sehun bergegas keluar kamar. Khawatir dengan bibinya yang mungkin saja terkejut dengan sikap pamannya.

Turun dari tangga, Sehun melihat pintu kamar pamannya terbuka lebar menampilkan pasangan suami istri yang bersitegang. Kaki Sehun seakan tertancap di anak tangga terakhir. Tidak ingin mengusik pertengkaran hebat yang sangat tidak terduga. Ke mana wajah lembut nan penyabar penuh kasih sayang pamannya? Atau raut manis bibinya yang menenangkan? Semua berubah. Wajah sampai telinga memerah, urat di leher berkedut-kedut, tangan terkepal bahkan menuding. Kepergian Seravina, apakah itu penyebabnya?

“Aku diamkan kau sesuka hati, Joohyun. Berharap suatu saat kau luluh menyayangi Seravina layaknya anak sendiri. Tapi apa yang kau lakukan, HAH?!” Joohyun diam dengan berkaca-kaca. Membiarkan suaminya mengeluarkan emosi. Bogum menyeringai, mendengus meremehkan istrinya yang diam dengan manik membara seakan menantangnya, “KAU SIKSA FISIK DAN HATINYA. KAU PIKIR AKU BUTA DENGAN SEGALA LUKA DI SEKUJUR TUBUHNYA? MANUSIA MACAM APA KAU INI?! TIDAK TAHU TERIMA KASIH! SAMPAI HATI KAU LUKAI ANAK DARI ADIKMU SENDIRI, SEBENCI ITUKAH DIRIMU PADA ADIK KANDUNGMU? APAKAH SERAVINA HARUS MATI DULU AGAR KAU SADAR DENGAN SEGALA EGO BODOHMU?! JAWAB, IRENE!”

Bogum rupanya hilang kendali. Dia tidak memikirkan perasaan istrinya yang telah beku.

Irene. Nama asli dari Joohyun. Nama dari kenangan yang sangat ia lupakan. Nama yang membuka luka masa lalu. Bogum, tidak akan memanggilnya seperti itu jika dia emosinya tidak terguncang. Ia tahu, nama itu hanya akan membuka luka lama istrinya. Bogum tidak tahan lagi. Joohyun harus sadar akan rasa konyol yang terpendam untuk adiknya.

“Bogum-ah … kau tahu semua alasanku melakukan ini.” Bibir Joohyun bergetar saat berucap, tubuhnya menegang mengingat kenangan yang menyesakkan dada dari nama itu. “KAU TAHU ITU! KAU TAHU BAGAIMANA TERPURUKNYA DIRIKU SAAT—”

Bogum memeluk Joohyun erat. Menghentikan kalimat yang akan membuat luka baru. Bogum sadar jika dia telah keterlaluan dalam mengambil sikap. Sementara Joohyun sendiri hanya terisak hebat, menangis meraung meluapkan emosi. Ia meracau tidak jelas, tangannya memukul lemah dada suaminya.

Sehun tidak mengerti. Jadi, selama ini pamannya tahu akan segala sikap istrinya? Lalu ia diam saja berharap bibi lelah dan berakhir menyayangi kakaknya? Ha, semut pun tahu jika itu adalah mustahil. Dan alasan dibalik bibinya berlaku beda karena dia membenci adiknya. Bukankah seharusnya Sehun juga dibenci? Sehun anak dari adik Joohyun juga ‘kan?

Sehun menunduk. Baginya semua ini masih membingungkan. Dia tidak dapat menyimpulkan dari kalimat pamannya. Sehun tidak ingin berprasangka yang hanya akan menyakiti dirinya sendiri.

Tangis dan raungan bibinya masih terdengar walau mulai melambat, perlahan memelan. Ini adalah sejarah dimana untuk pertama kalinya Sehun mendengar pertengkaran paman dan bibi. Sejak dulu, paman selalu sabar walau semarah apapun. Bahkan paman hanya akan menaikan intonasinya tidak berkata kasar. Jadi, akan sangat tidak sopan jika Sehun menanyakan pertanyaan yang kini berlabuh di hatinya. Mungkin lain kali saja. Saat ini situasinya tidak tepat.

Sehun membalikkan badannya, hendak pergi ke kamarnya namun langkahnya terhenti begitu menjejak di anak tangga kedua.

Sena berdiri di ujung tangga dengan wajah memucat. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin dia terkejut karena keharmonisan rumah ini sedikit terganggu. Sehun tidak peduli. Hati dan pikirannya pun sama kacaunya. Ia harus membenahi semua itu.

Langkah Sehun kembali melaju, melewati Sena begitu saja. Ia tidak peduli akan janjinya pada kakaknya untuk selalu berbuat baik pada bibi dan Sena.

Bagai efek film, slow motion, saat wajah dingin Sehun berlalu di sisi Sena yang memucat dengan manik membola. Sehun mengabaikan Sena sengaja, karena ia tahu. Jika saja Sehun mengeluarkan satu patah kata, dia akan menyakiti Sena. Jadi, lebih baik seperti ini, ‘kan?

Sehun mendengar isak tangis dari Sena. Sudah Sehun duga karena ia tadi melihat Sena yang susah payah menahan tangis. Hati Sehun sedikit terenyuh, tapi pikirannya kalut kembali. Terlalu banyak rahasia yang disimpan keluarga ini.

Ketika tangannya berada di kenop pintu, Sehun berkata sebelum masuk ke kamar, “Jangan menangis, Sena. Suara cemprengmu menyakiti telingaku.”

Sena menoleh ke kiri pada Sehun yang telah masuk kamar. Sehun … peduli padanya?

*****

Dering ponsel yang menjerit-jerit membuat Seravina mengerjap pelan. Dengan mata masih mengantuk, Seravina meraih ponsel di samping kasur di atas nakas.

 

Sehun calling.

Itulah yang tertera di layar ponsel. Seravina langsung menggeser ikon jawab. Ia me-loud speaker, meletakkan di sampingnya. Ayolah, perjalanan ke Seoul itu melelahkan. Di tambah lagi ia baru selesai merapikan barang-barangnya. Bahkan sekarang ia tidak tahu sekarang jam berapa? Seravina langsung terlelap begitu selesai membereskan kepindahannya.

Noona….”

Seravina berdeham manjawab panggilan Sehun. Matanya terpejam kembali tapi mendengarkan Sehun.

Noona….”

Wae? Sehun, ada masalah?”

Kepala Seravina berdenyut-denyut. Efek bangun tidur baru terasa. Dia segera bangun menyandar di head board kasur begitu Sehun terdengar lain. Seperti remaja yang kehilangan asa.

Sehun tidak menjawab. Sementara Seravina sendiri menunggu jawaban Sehun, namun keheningan terjadi.

Lama mereka saling diam, Seravina tidak tahan dan akhirnya bertanya pada Sehun. Yakin, mereka akan saling diam selama berjam-jam jika Seravina tidak berinisiatif bertanya duluan.

Wae, Sehun? Ada masalah apa? Kamu bisa cerita ke noona.”

Di seberang sana, Sehun menutup matanya, menikmati angin yang berembus lumayan kencang. Dia berada di beranda kamar.

Sehun tidak ingin membebani Seravina, ia hanya ingin mendengar suara kakaknya. Karena dengan begitu, kekuatannya akan pulih kembali.

“Tidak. Aku hanya merindukan noona.”

Kekehan Sehun membuat Seravina mengernyit. Ada yang tidak beres di sini. Sehun tidak dapat membodohi Seravina, lelah dan putus asa tersirat dalam tawa kecil itu.

“Padahal belum satu hari. Sehun harus bisa menahan rindu, oke?”

Mereka tertawa.

Tidak perlu mengutarakan secara langsung, mereka mengerti akan kondisi masing-masing yang memiliki masalah. Mereka tidak memaksa untuk menceritakan masalah, mereka hanya menunggu sampai salah satu dari mereka sudah siap untuk bercerita. Sekarang, mereka hanya bisa saling menguatkan meski tidak tahu masalah yang terjadi.

“Jangan tinggalkan aku, noona.”

Sehun dapat merasakan senyum hangat Seravina di ujung sana. Dia, merindukan senyum hangat kakaknya. Senyum hangat yang terkadang menyembunyikan luka.

“Tentu saja, noona tidak akan meninggalkan Sehun. Kamu ini bicara apa sih.”

Seravina menggerutu pelan. Sehun tertawa lagi. Kakaknya ini memang sumber kekuatannya.

“Aku memegang janjimu … noona.”

.

.

.

.

.

To be Continued.

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 5)

  1. Apa urusan dongwook sama seravina dan kenapa anak dongwook gak suka sama ayahnya sendiri. Apa anak dongwook itu chanyeol ya ? Kenapa irene harus benci sama seravina karna seravina anak dari adiknya dan irene kenapa gak benci sama sehun apa karna sehun bukan adik kandung seravina yah ?

    • Dongwook kasian sama seravina. Karena dongwook nyebelin, makanya anaknya gak suka..iya, si cy emang anaknya dongwook. Irene benci sera karena sera mirip seulgi, adiknya. Irene emang sayang sehun, dan ya emang bener si sehun bukan anak kandung Denis-seulgi.

      Semoga kamu seneng ya sama jawaban saya. Itu udah saya usahain jawab semampunya. Thanks ya slalu ninggalin jejaknya. See you 😘

  2. ihhh knpa nyeseekkk..percakapan sehun sera di telfon, maknanya tuh berasa dalem bgt..serius kk..feel akuu okke bgt, sm ikatan persaudaraan mereka..tp balik lagii, aku pengennya sehun nganggep sera bukan sekedar kakak wkwkwk..*khayal bgt yaa, tp apa salahnya berharap wekeke..semoga aja..
    ehh ngomong”..bener tuh pemikiran sehun,klo emang irene benci sm adiknya sndiri..trs menurun ke sera, knpa enggaa dg sehun..?? malah keliatan sebaliknya..irene begitu suka sm sehun, ihh pasti ada sesuatu hal kan kk..??
    hiiihhh gregettt bgttt…kakaaaaaaa authorr makin keyeeeennnnnnn
    bikin penasarannn tauuukkkk…

    • Alhamdulillah ada yang nge-feel, kirain pembaca pada lempeng-lempeng aja bacanya, hihihi.

      Iya, emang ada sesuatu hal>,<
      Greget? Macem gini greget? Oh, tararengkyu sayang, sudah greget sama cerita absurd satu ini. Semoga gak bosen bosen ya….

      💗 sekali lagi makasih ya 😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s