[EXOFFI FREELANCE] LOVE JOURNAL (CHAPTER 2)

Title        : Love Journal

Author        : keiyeoni

Length        : Chaptered

Genre        : Romance, Campus-life

Rating        : General

Main Cast    :

    Kim Yunju (OC)

    Byun Baekhyun (EXO)

Additional Cast    :

    Xi Luhan (ex-EXO)

Kim Sojung (Gfriend)

Oh Seunghee (CLC)

Xiao Yi (OC)

Choi Jinni (OC)

Cameo        :

Kim Minseok (EXO)

Summary    :

Kenapa kau sangat mempesona di mataku? Kau bilang menyukaiku? Aku juga menyukaimu.

Disclaimer    :

Cerita ini adalah fiktif belaka yang murni dari otak author. Karakter dan tempat adalah imajinasi author sendiri. Jika ada kesamaan nama atau setting semata-mata karena unsur ketidak sengajaan.

Author’s note    :

Cast belongs to himself but Byun Baekhyun belongs to me ^^ No Plagiarism!

2. Candy Jelly Love

“Kau kenapa?” Baekhyun sunbae lebih mendekatkan diri kepadaku lalu memandang wajahku penuh tanya.

“Aku putus dengan pacarku…” aku merasakan air mataku menetes. Air mata yang tidak mau keluar sedari tadi, tapi bisa langsung lolos karena satu pertanyaan dari Baekhyun sunbae. Tapi, air mata itu tidak berlangsung lama. Karena sedetik kemudian Baekhyun sunbae memelukku.

***

“S-sunbae..” aku tidak tahu kemana suaraku menghilang yang jelas saat ini aku sangat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Baekhyun sunbae.

Aku sangat ingin melepaskan pelukannya namun Baekhyun sunbae justru memelukku lebih erat, sebelah tanggannya ia gunakan untuk mengelus kepalaku. “Tidak apa-apa” ucapnya.

Aku semakin bingung. Apanya yang tidak apa-apa? Apakah itu suatu hal yang ‘tidak apa-apa’ dia memelukku sekarang? Hei, bahkan aku tidak cukup dekat dengannya.

Sesaat kemudian Baekhyun sunbae melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua pundakku erat. “Tidak apa-apa kalau kau menangis saat putus cinta”.

Ooh, jadi itu maksud perkataannya tadi.

Aku baru saja akan menghapus sisa air mataku saat lagi-lagi Baekhyun sunbae bertindak diluar keinginanku. Ia menghapus jejak air mataku dengan kedua ibu jarinya.

Aku hanya bisa menatapnya tak percaya. Aku tidak pernah memintanya memelukku atau menghapus air mataku untuk menenangkanku. Lebih aneh lagi, aku tidak mampu menolak semua perlakuannya. Aku terlalu bingung dengan situasi saat ini. Lagi pula, kenapa Baekhyun sunbae bisa ada di depan kamarku? Apa kamarnya ada di dekat sini? Kenapa dia terlihat sangat keren bahkan hanya dengan mengenakan piyama? Oh, aku bahkan lupa kalau aku baru saja patah hati.

“OMO! Baekhyun sunbae! Apa yang kau lakukan di sini?!” apa lagi ini? Sejak kapan Sojung keluar kamar? Dia jadi melihatku bersama Baekhyun sunbae kan. Tapi, apa salahnya kalu Sojung melihatku bersama Baekhyun sunbae? Arghh jantungku jadi berdetak kencang memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk.

“Kamarku ada di sebelah, Sojung-ah” jawabnya seraya menunjuk kamar sebelah dengan dagunya.

Jadi kamarnya di sebelah kamarku? Pantas tadi dia bisa menghampiriku.

“Oh begitu, Yunju-ya ayo masuk kamar. Udara malam semakin dingin, nanti alergimu kambuh!” Sojung membantuku berdiri. Aku berterima kasih memiliki teman yang pengertian seperti dia. Selain pengertian akan alergi dinginku, ia juga pengertian akan situasiku yang canggung menghadapi Baekhyun sunbae.

“Sunbae, aku masuk dulu” Srrt.. sial, aku merasakan ingusku mulai keluar.

“Ya, ya. Cepatlah masuk sebelum kau terserang flu. Aku tidak mau punya partner yang menyebar virus besok! Kkk~” Baekhyun sunbae berjalan ke kamarnya sembari melambaikan tangan ke arah kami. Tunggu dulu, partner untuk besok? Bukankah besok hanya ada acara hiburan yang kami adakan bersama-sama? Apa dia masih menganggap aku partnernya? Oh, kepalaku sedikit berdenyut karena terlalu banyak memikirkan Baekhyun sunbae.

Sojung menutup pintu kamar kami lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh kami yang sudah terbaring di kasur. “Yunju-ya, kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk yakin, “Sekarang, aku sudah merasa baik-baik saja Sojung-ah. Lagipula, aku memang menginginkan perpisahan ini sejak lama kan? Aku justru merasa lega”.

“Syukurlah, kau memang terlihat baik-baik saja. Tunggu dulu, apa kau jadi baik-baik saja setelah bertemu dengan Baekhyun sunbae?” Aishh kenapa Sojung menanyakan itu? Aku jadi bingung harus menjawab apa.

“Hmm, tidak… mungkin… semacam itu? Sudahlah, aku mengantuk” aku merapatkan selimut sampai leher lalu memejamkan mataku. Sungguh, pertanyaan Sojung membuatku jadi gagap lagi.

“Yasudah, selamat malam Kim Yunju~”

“Hmm”

***

2 Juni 2017

Gyeonggi-do, 06.30 a.m

Pagi ini kami berkumpul di sebuah lapangan dekat dengan penginapan, masih di daerah bakti sosial kemarin. Para warga juga sudah berkumpul disana karena memang pagi ini ada agenda senam. Beberapa mahasiswa yang aku tidak tau namanya berdiri di barisan paling depan memimpin senam. Aku yang datang agak terlambat berdiri di barisan paling belakang. Aku rasa kami sedang menghadap ke timur sekarang karena sinar matahari sangat silau tepat di depan wajahku.

Sojung terlihat berada di tengah-tengah warga yang mengikuti senam dengan ceria. Padahal seingatku tadi dia paling malas bangun untuk senam pagi ini, tapi sekarang dia terlihat bersemangat sekali. Aku sedikit meregangkan otot-ototku, tidak mengikuti irama gerakan yang dicontohkan di depan. Saat aku memutar otot pinggangku ke kanan, aku terlonjak mendapati Baekhyun sunbae sedang melakukan pemanasan disampingku. Dia menoleh kepadaku yang tampak terkejut.

“Selamat pagi nona Kim Yunju, apa tidurmu nyenyak semalam?” err bahkan aku merasa senyuman Baekhyun sunbae di pagi hari jauh lebih menggemaskan dibanding sebelumnya.

“Ti-tidak terlalu..” sial, aku jadi susah bicara kalau berhadapan dengannya.

“Hmm padahal aku pikir sudah berhasil membuat perasaanmu lebih semalam, tapi kelihatannya tidak begitu” wajahnya sedikit kecewa, membuatku tak enak hati.

“Eh, bukan begitu sunbae.. Berkatmu, semalam aku merasa lebih baik. Tapi karena…” oh ayolah Kim Yunju, pikirkan kata-kata yang bagus!

“Ya, ya, aku tahu kau sedang patah hati. Tapi ku sarankan jangan teralu lama Yunju-ya, tidak baik untuk kesehatan” ucapnya memberi nasihat. “Oh ya, sebaiknya kau memakai pakaian hangat saat keluar di malam hari. Sudah tau punya alergi dingin kenapa semalam kau hanya memakai piyama tipis? Untung kan, kau tidak sampai terkena flu!” Baiklah, aku sedikit lupa kalau Baekhyun sunbae adalah calon dokter. Aku baru tau kalau dia secerewet ini saat menyangkut kesehatan.

“Ne, ne, uisa-nim..” aku tertawa kecil, Baekhyun sunbae terkekeh mendengar panggilan baruku untuknya.

“Dia bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini, Yunju-ya. Masih banyak lagi diluar sana yang lebih baik untukmu..” Baekhyun sunbae kini meregangkan kedua kakinya. “Contohnya… aku?”

Aku berhenti dari aktivitas stretching-ku. Dan lagi-lagi, jantungku dibuat berdetak kencang karena perkataan Baekhyun sunbae.

***

Gyeonggi-do, 10.00 a.m

Hahh aku tidak paham sebenarnya ini acara apa, tapi sebagai mahasiswa yang baik aku hanya pasrah mengikutinya. Semua ini gara-gara ide seorang senior bernama Minseok yang aku ketahui dari klub teater, hingga kami terjebak di acara konyol ini. Menari dan bernyanyi berhadiah. Acara ini terlihat menyenangkan bagi warga, tapi tidak untuk beberapa mahasiswa. Seperti aku, Sojung, dan Luhan sunbae yang hanya berdiri diam di sudut belakang. Aku baru bisa berkumpul dengan Luhan sunbae hari ini sejak kami datang ke Gyeonggi. Karena dia seorang senior, dia menangggung beban tak kasat mata untuk mengatur junior-juniornya. Luhan sunbae juga terlihat kelelahan, dia terus-terusan menghela nafas selama acara ini berlangsung sejak pukul 9 tadi.

Sunbae, kau terlihat kusut” Sojung membuka suara. Aku memperhatikan Luhan sunbae lebih jelas, ya, dia memang tidak secerah Luhan sunbae biasanya.

“Tidak usah berkomentar macam-macam, aku hanya sangat ingin pulang lalu tidur sekarang juga” lagi, Luhan sunbae menghela nafas lagi.

“Kau memang harus istirahat, sunbae. Apa aku harus bilang ke petugas kesehatan kalau kau sakit?” Kami tidak diijinkan mangkir dari acara ini, atau kami akan kena hukuman. Ya, kecuali kau sedang sakit, tidak akan ada yang memaksamu.

“Tidak perlu Yunju-ya, aku baik-baik saja. Lagi pula aku tidak mau menodai reputasiku dengan menghindar dari acara ini”. Oke, aku sedikit lupa tentang Luhan sunbae si mahasiswa teladan yang populer di kampus.

Kami kembali fokus ke depan. Di panggung mini yang ada di depan, tampak dua orang nenek sedang menari mengikuti irama lagu trot yang ceria. Ah, aku mengingat nenek itu, nenek yang mengira aku dan Baekhyun sunbae adalah sepasang kekasih. Wah ternyata nenek itu memang masih  segar bugar dan bersemangat.

Ngomong-ngomong, aku belum melihat Baekhyun sunbae sejak acara senam pagi tadi. Apa dia tadi ikut sarapan? Kenapa tidak terlihat di sekitar sini? Well, kurasa tidak mudah menemukan sosok Baekhyun sunbae diantara kermunan warga dan mahasiswa yang membaur. Tapi baguslah kalau tidak ada dia di sekitarku, aku jadi bisa bernapas lega.

Tiba-tiba kerumunan di depanku menjadi riuh. Seorang mahasiswa ditarik ke panggung ternyata.

Tunggu! Bukankah itu Baekhyun sunbae?

Aku memicingkan kedua mataku berusaha melihat siapa sosok yang ada di panggung dengan jelas. Tidak salah lagi, itu memang Baekhyun sunbae! Ya Tuhan, padahal aku baru saja memikirkannya.

Para penonton meneriaki Baekhyun sunbae dengan histeris, apalagi para ahjumma yang kemarin seharian menggoda Baekhyun sunbae dan beberapa gadis yang mungkin adalah fansnya. MC acara tersebut yang tidak lain adalah si pencetus ide, Minseok sunbae, meminta Baekhyun sunbae untuk menari. Sontak para penonton pun berseru agar Baekhyun sunbae menari. Aku masih fokus melihat ke depan, mungkin bukan ide buruk melihat Baekhyun sunbae menari.

“Baiklah, baiklah, aku akan menari untuk kalian. Tapi aku tidak ingin sendiri” katanya dengan menggunakan mikrofon yang barusan diberikan oleh MC.

“Kalau begitu siapa yang akan kau ajak tampil bersamamu, Baekhyun-ssi?” Tanya MC itu.

Aku melihat sekitar, semoga saja bukan aku yang dipilih. Aku tidak sedang dalam mood yang baik untuk menari di depan para ahjumma dan ahjussi.

“Hei, Kim Yunju, kemari kau!”

Apa?! Aku memelototi Baekhyun sunbae, ntah dia bisa melihat ekspresiku atau tidak karena aku berada di belakang sedangkan ia di depan. Aku menggeleng keras kepadanya.

“Ayolah, Yunju-ya, aku tidak akan tampil kalau tidak bersamamu.”

Semua mata tertuju kepadaku. Sial, keadaan macam apa ini?

“Sejak kapan kau menjadi alasan Baekhyun untuk menari?” Sekarang Luhan sunbae malah memberi pertanyaan yang aku sendiri tidak tau jawabannya.

Aku hanya diam, aku tidak suka dipandangi seperti ini, seolah-olah mereka akan memakanku. Terlebih beberapa gadis yang ku yakini adalah fans Baekhyun sunbae. Sepertinya aku terlalu lama berfikir sampai tidak menyadari kalau Baekhyun sunbae menarik tanganku dan membawaku menuju panggung.

“Eh, eh, sebentar sunbae.. Tunggu dulu, aku…” Baekhyun sunbae seperti tuli atau pura-pura tuli dan masih saja menyeretku naik ke atas panggung.

Kami sampai di panggung. “Baiklah, mari kita menari! MusicQue!” Baekhyun sunbae menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya memegang mikrofon. Terdengar lagu trot lawas berjudul “Nimgwa Hamkke (With You)” diputar, lalu Baekhyun sunbae mulai menyanyi.

Tanpa sadar tubuhku mulai bergerak sesuai alunan lagu. Baekhyun sunbae menyanyi, suaranya sangat lembut. Aku tidak tau kalau dia memiliki banyak kelebihan seperti suaranya yang merdu ini. Baekhyun sunbae seperti kotak kado yang isinya siap mengejutkanmu kapan saja.

Baekhyun sunbae menggoyang-goyangkan tangan kami yang bertautan. Ia juga ikut menari. Bahkan, aku tidak mengerti kenapa kami harus menari sambil berpegangan tangan seperti ini, tapi yang jelas aku merasa nyaman saat ini. Para penonton bertepuk tangan mengiringi kami, ada beberapa yang ikut bernyanyi dan menari juga.

Sepertinya aku sudah larut dalam suasana. Di penghujung lagu, Baekhyun sunbae mengeluarkan suara tingginya yang menurutku benar-benar bagus. Aku sampai terpukau dan tidak menyadari kalau Baekhyun sunbae merangkul pundakku sekarang. Ia mengajakku membungkuk lalu mengucapkan terima kasih kepada penonton. Sampai turun panggung pun Baekhyun sunbae masih terus merangkulku. Aku baru tersadar saat berada di antara kumpulan mahasiswa lain yang aku yakini adalah para seniorku, lalu mulai melepaskan rangkulan Baekhyun sunbae.

Aku langsung pamit undur diri untuk kembali ke tempatku tetapi Baekhyun sunbae menahan lenganku.

“Yunju-ya..” Panggilnya

“Ne, sunbae?”

Gomawo

Oh tidak, senyum itu. Senyum yang menggemaskan. Aku hanya bisa mengangguk menanggapinya lalu segera berlari kecil menuju tempatku tadi bersama Sojung dan Luhan sunbae. Ku rasakan pipiku mulai memanas. Apa-apaan ini? Tidak, tidak, tidak boleh seperti ini. Aku melihat Baekhyun sunbae sedang tertawa bersama teman-temannya. Wajahnya terlihat ceria. Ia tiba-tiba menoleh ke arahku saat aku masih memandanginya. Kami saling bertatapan selama beberapa detik lalu aku segera menundukkan kepalaku. Pipiku kembali memanas. Tidak, ini menyebalkan!

“Sepertinya aku melewatkan sesuatu”.

Aku menoleh menghadap Sojung. Wajahnya yang penuh kecurigaan memandangiku dalam-dalam.

“Aku mencium ada yang tidak beres sejak melihatmu bersama Baekhyun sunbae semalam. Apa kau menjadi dekat dengan Baekhyun sunbae setelah seharian bersama?” Tanya Sojung menyelidik.

“Ti-tidak Sojung, bu-bukan seperti itu” tuhkan aku jadi terbata-bata lagi.

“Tunggu dulu, kau dekat dengan Baekhyun? Sejak kapan?” Lagi-lagi Luhan sunbae memberi pertanyaan yang jelas tidak bisa kujawab.

“Ah kalian ini, aku dan Baekhyun sunbae tidak seperti yang kalian kira. Tadi itu… hanya kebetulan saja” aku menggigit bibirku. Apakah itu jawaban yang benar? Ugh semua ini gara-gara Baekhyun sunbae!

***

Seoul, 06.00 p.m

Aku terbangun dari tidurku yang tidak nyenyak. Kami sudah sampai di kampus ternyata. Aku sedikit meregangkan otot lalu mulai mengambil tasku dan menuruni bus. Udara disini terasa segar dibanding di dalam bus tadi. Aku sedikit terhuyung karena kesadaranku belum sepenuhnya pulih setelah tidur selama perjalanan dari Gyeonggi menuju Seoul.

Aku menggandeng lengan Sojung lalu berjalan ke area parkir. Kami berencana menumpang mobil Luhan sunbae untuk pulang karena kami tidak membawa mobil. Aku dan Sojung kemarin berangkat ke kampus naik taksi untuk mengantisipasi kami yang mengantuk saat perjalanan pulang dan tidak bisa menyetir dengan baik.

Setelah sedikit berkeiling, kami tidak menemukan Luhan sunbae. Malah aku melihat Baekhyun sunbae sedang memasukkan tas ke bagasi mobilnya.

“Baekhyun sunbae!” Sojung menyeretku yang masih mengantuk mendekati Baekhyun sunbae. Apa-apaan Sojung ini? Padahal aku sedang tidak ingin bertmu Baekhyun sunbae karena kejadian siang tadi. Tapi karena aku sedang tidak bertenaga, jadi aku menurut saja.

“Oh, hai Sojung-ah. Hai juga Yunju, kau terlihat masih mengantuk”. Aku memang masih mengantuk, sunbae -_-

“Baekhyun sunbae, boleh kami menumpang mobilmu? Lihatlah temanku ini seperti akan tertidur di jalanan. Kau tidak akan membiarkan kami naik taksi kan?” Oh dasar Sojung si tukang merayu.

“Hahaa baiklah, dimana rumah kalian?” Ini lagi, kenapa Baekhyun sunbae dengan mudah mengiyakan?

“Di daerah Gangnam, kau juga tinggal di daerah situ juga kan sunbae?” Tunggu, darimana Sojung tau tempat tinggal Baekhyun sunbae?

“Iya, kalau begitu masuklah gadis-gadis!”

Sojung mendorongku untuk duduk di depan, sementara dia sendiri memilih duduk di belakang. Mobil Baekhyun sunbae sangat bagus. Apa ini mobil impor? Pasti dia anak orang kaya.

Aku menarik seatbelt tapi sedikit kesusahan saat memasangnya. Tiba-tiba Baekhyun sunbae memasangkan seatbelt untukku. Dari jarak sedekat ini bisa ku rasakan aroma tubuhnya, mint. Jantungku sedikit berdebar saat ini. Wajahnya terlalu dekat denganku, kami sempat bertatapan beberapa detik sebelum ia berdehem dan mulai melajukan mobilnya.

***

Apartemen Yunju & Sojung

09.00 p.m

Sojung sudah tertidur sejak tiga puluh menit lalu sedangkan aku masih di ruang tamu menonton tv. Sojung memang tidak tidur sama sekali saat perjalanan pulang dari Gyeonggi, sampai rumah langsung mandi setelah itu tergeletak di kasurnya. Bahkan barang bawaannya belum dibereskan.

Aku menutup pintu kamar Sojung takut suara tv akan membangunkannya. Lagi-lagi aku berbaring di sofa sambil mengganti-ganti channel. Ada drama favoitku yang sedang diputar. Aku hendak mengambil toples kripik kentang saat kurasakan ponselku bergetar.

Satu pesan dari Baekhyun sunbae. Kami sempat bertukar nomor telepon saat acara bakti sosial kemarin.

From : Baekhyun sunbae

Kau sudah tidur?

Aku buru-buru membalasnya.

To : Baekhyun sunbae

Belum, aku terlalu banyak tidur tadi saat perjalanan pulang, hihihi~

Kenapa aku menambahkan emoji tertawa segala? Aishh~

Tidak lama, ada balasan dari Baekhyun sunbae.

From : Baekhyun sunbae

Kau tertidur seperti orang mati, kkk~

Aku sedikit mengangkat alisku. Darimana dia tahu?

To : Baekhyun sunbae

Kau memperhatikanku saat tidur? Wah, aku tidak menyangka

From : Baekhyun sunbae

Jangan bilang kau lupa kalau tadi aku duduk di seberangmu

Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya.

Sesekali aku tertawa karena pesannya yang sangat lucu. Yah.. sudah kuduga, dia memang orang dengan selera humor receh. Dan sepertinya aku mulai tertular karena aku bisa tertawa terbahak-bahak hanya karena lelucon kecil darinya. Dan malam itu berlanjut dengan aku yang saling berbalas pesan dengan Baekhyun sunbae.

***

5 Juni 2017

Universitas Seoul, 01.00 p.m

Aku berjalan tergesa-gesa menuju kantin universitas. Salahkan Luhan sunbae yang memanggilku ke ruang klub tari saat jam makan siang, aku jadi kelaparan. Di meja antrian aku melihat Baekhyun sunbae sedang mengambil makanan.

“Hai, sunbae!” Sapaku ceria.

“Kau berlari kesini? Pasti kau sangat lapar? Kkk~” Baekhyun sunbae mengambil beberapa potong udang goreng tepung.

“Ya, Luhan sunbae keterlaluan karena menceramahiku panjang lebar di jam makan siang” aku mengambil nasi, lalu kami bergeser ke kanan untuk mengambil menu selanjutnya.

Aku masih akan menyumpit semua telur gulung yang hanya tersisa dua biji namun Baekhyun sunbae lebih dulu mengambil yang satu, padahal di nampannya sudah ada dua biji telur gulung. Aku memberengut kepadanya. “Sunbae, bisakah kita bertukar menu? Aku ingin telur gulungmu” kataku dengan sedikit aegyo, semoga membuat Baekhyun sunbae luluh.

“Tidak, aku suka telur gulung”. Ia mengambil mangkuk berisi sup rumput laut yang disodorkan koki universitas.

“Aku akan memberimu semua jatah udang gorengku, kau suka seafood kan?” karena aku jadi sering chatting dengan Baekhyun sunbae setelah pertama kali dia mengirim pesan padaku beberapa hari lalu, aku sampai tahu makanan kesukaannya. Oke, kali ini aku mengedip-kedipan mataku ke Baekhyun sunbae hanya untuk mendapatkan telur gulung.

“Tidak” jawabnya acuh. Aishh sunbae ini benar-benar.

“Sebenarnya aku tidak bisa makan udang sunbae~ aku alergi ikan laut” kali ini dengan tatapan memohon kepadanya.

“Tsk, kenapa tidak bilang dari tadi?” Baekhyun sunbae memberikan semua telur gulungnya ke nampanku yang ku balas dengan senyuman lima jari.

Gomawo sunbae, sebentar aku ambilkan udang untukmu”.

“Tidak perlu, ini sudah cukup, kau cepat makanlah!”.

Baekhyun sunbae berlalu menuju meja dimana teman-temannya berkumpul. Aku segera mengambil jatah sup rumput lautku dan tersenyum puas. Oh ternyata sudah ada teman-temanku duduk di meja dibagian tengah kantin.

“Cihh kalian meninggalkankuu~ aku jadi baru bisa makan sekarang” gerutuku sambil menyuapkan nasi ke mulutku.

“Aku tidak mau menjadi santapan Luhan sunbae juga jika terlihat bersamamu, wkwk” Sojung tertawa kecil, nasi di nampannya tinggal beberapa sendok saja.

Eonni, kau terlihat akrab dengan Baekhyun sunbae” eh? Kenapa Jinni tiba-tiba bertanya seperti itu?

“Hmm apa ini yang disebut cinta lokasi? Kau jadi dekat dengannya sejak acara bakti sosial” Seunghee menimpali lalu mereka semua tertawa, menertawakanku.

“Apa maksud kalian? Kami tidak seperti itu”.

“Benarkah? Menurutku Baekhyun sunbae lumayan keren, dia lebih keren dari Jiyoung oppa-mu itu, hmm.. mungkin setara Luhan sunbae!” Sekarang Xiao Yi jadi bersemangat membicarakan Baekhyun sunbae.

“Aku akan mendukungmu kalau kau berpacaran dengannya.. Eh eh apa kalian tau? Di malam Yunju menangis setelah mendapat telepon dari Jiyoung oppa, aku melihat dia bersama Baekhyun sunbae dan…” Sojung menggantung kalimatnya, tiga orang lainnya memasang wajah penasaran, empat termasuk aku. Mungkinkah Sojung melihat semuanya malam itu?

“Dan apa eonni??”

“Baekhyun sunbae memeluknya!” Katanya dengan pekikan yang tertahan.

Aku membulatkan mataku, jadi Sojung melihat semuanya? Kenapa dia tidak pernah bilang?

Seunghee, Xiao Yi, dan Jinni terlihat kaget. Bahkan Xiao Yi yang terkenal paling lebay diantara kami sampai menjerit-jerit.

“Hei hei kalian membuat seisi kantin melihat kita”, ucapku malas, masih melanjutkan acara makan siangku.

“Baiklah, seratus persen kami akan mendukungmu eonni!!

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Obrolan kami dilanjutkan dengan Sojung, Seunghee, Xiao Yi, dan Jinni yang membicarakan Baekhyun sunbae. Tidak sadarkah mereka kalau Baekhyun sunbae juga berada di kantin ini? Bisa saja ia mendengar semuanya. Tapi mungkin juga Baekhyun sunbae sudah terbiasanya dengan gadis-gadis yang membicarakannya. Ia cukup populer di kampus ini.

Tak kupungkiri memang benar yang mereka katakan. Baekhyun sunbae memang orang yang keren. Dia punya sesuatu yang membuat wanita tergila-gila padanya. Apalagi senyumnya yang menggemaskan itu, dan kadang membuatku berdebar dengan perkataan atau perlakuannya. Aishh, apa aku mulai menyukainya sekarang?

***

9 Juni 2017

Universitas Seoul, 11.00 a.m

Aku melangkahkan kakiku di koridor Fakultas Ekonomi menuju lokerku. Sojung sedang ke toilet karena perutnya sakit akibat memakan lemon untuk sarapan tadi. Benar-benar aneh. Sampai di loker, aku merasakan ponselku bergetar. Oh, ada dua pesan, satu dari Luhan sunbae dan satu lagi dari Baekhyun sunbae. Aku membukan pesan dari Luhan sunbae lebih dulu.

From : Luhan sunbae

Datanglah ke ruang klub nanti jam 3 sore, tanggal pementasan sudah ditetapkan. Jangan sampai telat!

Aku langsung membalas pesannya.

To : Luhan sunbae

Neeeeee~

Selanjutnya aku membuka pesan dari Baekhyun sunbae.

From : Baekhyun sunbae

Ayo kita makan siang bersama! Ada restoran enak yang ingin kutunjukkan padamu.

To : Baekhyun sunbae

Aku masih ada kelas setelah ini, bagaimana kalau jam 1?

From : Baekhyun sunbae

Baiklah, aku akan menunggumu di lobi fakultasmu ^^

To : Baekhyun sunbae

Tidak sunbae, jarak antara fakultasmu dan fakultasku cukup jauh. Kita bertemu di tempat parkir saja bagaimana?

From : Baekhyun sunbae

Baiklah, terserah kau ^^

Aku memasukkan ponselku ke dalam tas lalu membuka lokerku. Aku sedikit mengangkat alis menemukan secarik kertas kuning tertempel di bagian dalam lokerku. Aku mulai membaca tulisan didalamnya.

‘Aku menyukaimu, tapi kenapa kau tidak pernah peka terhadap persaanku?’

Hah? Notes apa ini? Siapa yang mengirimkannya?

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Tidak ada yang mencurigakan. Sojung sedang berlari ke arahku.

“Kau mendapat pesan dari Luhan sunbae?” tanyanya.

“Hmm”

Sojung mendapati kertas yang sedang ku pegang lalu merebutnya. Dia membaca notes itu dengan mata yang terbuka lebar.

“Siapa yang mengirim ini?”

“Tidak tahu, sudah ada di dalam lokerku saat ku buka”

“Ada seseorang yang menyukaimu, Yunju-ya. Kira-kira siapa ya? Luhan sunbae?” Sojung mulai menebak-nebak.

“Tidak, tidak. Aku dan Luhan sunbae memang saling menyukai tapi sebagai kakak-adik. Kau tahu sendiri, Sojung-ah”. Oh, aku jadi ikut berfikir gara-gara Sojung.

“Benar juga, lagipula Luhan sunbae tipe lelaki gentle yang akan menyatakan perasaannya secara langsung daripada dengan notes seperti ini”.

Kami terdiam, sama-sama berfikir. Sampai beberapa detik kemudian…

“Baekhyun sunbae!

Teriakan Sojung membuatku tersadar. Mungkinkah dirinya?

***

Itaewon, 01.15 p.m

Kelasku selesai lebih cepat dari jadwalnya sehingga aku bisa menemui Baekhyun sunbae lebih cepat. Ia mengajakku ke daerah Itaewon untuk makan siang. Aku sempat bertanya-tanya kenapa kami harus kesini jika hanya untuk makan siang, tapi Baekhyun sunbae bilang ada restoran daging yang enak di sekitar sini.

Kami berjalan sekitar sepuluh menit dari tempat Baekhyun sunbae memarkir mobil. Benar juga, sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah makan berjejeran. Sepertinya kawasan ini memang kawasan wisata kuliner. Aku yang terlalu sibuk melihat-lihat sekitar tidak sadar kalau Baekhyun sunbae berhenti di depan salah satu restoran. Kami masuk kesana lalu memilih tempat duduk paling pojok karena memang tempat ini terlihat penuh.

Baekhyun sunbae memesan menu yang katanya andalan dari restoran ini. Aku hanya mengikuti saja karena tidak tahu menahu, ini pertama kalinya aku datang ke sini. Biasanya aku dan teman-teman hanya makan di daerah Gangnam dekat apartemenku atau di sekitar kampus. Tak lama seorang pelayan membawakan minuman untuk kami.

“Kau suka makan daging?” Tanya Baekhyun sunbae kepadaku.

“Ya, karena aku tidak bisa makan sembarang ikan”, jawabku jujur.

“Aku jamin kau akan ketagihan dengan makanan di sini”, katanya dengan bangga.

Aku hanya tertawa kecil. Baekhyun sunbae menjelaskan beberapa menu yang pernah ia coba di sini dengan menggebu-gebu. Aku jadi penasaran seperti apa rasanya. Beberapa menit kemudian menu yang kami pesan datang. Asapnya mengepul, aroma dari supnya sangat enak.

Baekhyun sunbae memanggangkan daging untuk kami dan aku hanya memperhatikannya. Ah, aku jadi ingat sesuatu. Apa kutanyakan saja sekarang?

“Hmm, sunbae…” panggilku ragu-ragu.

“Apa?” dia masih sibuk memanggang daging.

“Itu… apa mungkin, kau memasukkan sesuatu ke dalam lokerku tadi?”

Baekhyun sunbae menatapku, “Memasukkan apa?”

Ah, mungkin memang bukan dia. Kenapa aku jadi sedikit kecewa? Aku mengeluarkan sticky notes kuning yang ku ambil dari lokerku tadi lalu menyerahkannya pada Baekhyun sunbae.

Dia tersenyum kecil saat membaca isi notes tersebut. “Ada seseorang yang menyukaimu, Yunju-ya”. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya memanggang daging. Kenapa dia terlihat santai menanggapi notes itu? Ah, Yunju bodoh! Lagipula apa Baekhyun sunbae harus panik begitu? Dia hanya temanku. Yah, jujur meskipun belakangan ini kami menjadi semakin dekat.

“Aku mengira notes itu darimu sunbae, jujur aku tidak punya clue tentang siapa yang mengirimnya karena aku tidak sedang dekat dengan siapa-siapa selain kau”, ucapku jujur.

“Kalau itu aku, aku lebih memilih mengatakannya langsung padamu daripada melalui notes”, dia memindahkan daging yang sudah matang ke atas piring yang sudah dialasi selada.

“Maksudmu, sunbae?

“Maksudku, aku akan mengatakan langsung bahwa aku suka padamu, tidak dengan catatan seperti itu. Itu bukan style-ku”. Mengatakan langsung padaku? Bahwa aku suka padamu? Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

Aku hanya terdiam, Baekhyun sunbae menghela nafas lalu memandangku serius. “Kau tidak mengerti? Bukankah sudah terlihat jelas bahwa aku menyukaimu, Kim Yunju?”

Aku sedikit melongo, ingin mengatakan sesuatu tapi mendadak bingung apa yang harus ku katakan. Baekhyun sunbae menyukaiku. Dia bilang begitu. Aku sedikit kaget dan menjadi berdebar. Dia masih memandangiku, raut wajahnya tidak bisa kujelaskan. Aku menggigit bibirku.

“Aku pikir… hanya aku yang menyukaimu, sunbae”.

Aku melihat Baekhyun sunbae membulatkan mata kecilnya. Ugh, ekspresinya sangat imut sekarang. Aku jadi ingin mencubit pipinya.

“Jadi aku tidak bertepuk sebelah tangan?”, senyumnya merekah, senyum yang paling aku sukai. Aku balas tersenyum padanya karena tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

Baekhyun sunbae membuatkan bungkusan daging untukku. Aku mengulurkan tangan untuk menerimanya tapi ia malah menarik tanganku mendekat dan menyuapiku. Oh tidak, apa pipiku memerah sekarang? Mungkin efek asap panggangan daging yang terlalu panas atau… efek sentuhan Baekhyun sunbae? Daging ini enak sekali. Apa karena Baekhyun sunbae yang menyuapinya? Ooh aku merasa sangat senang, ini adalah hari terbaikku!

“Ngomong-ngomong tadi aku juga mendapatkan notes sepertimu tertempel di meja kelasku, dan sepertinya itu bukan darimu”. Eh? Dia mendapat notes juga? Dia mengeluarkan kertas berwarna biru muda dari saku kemejanya lalu menyerahkan kertas itu padaku. Aku membacanya.

Aku sangat menyukaimu oppa sejak dulu. Jadilah pacarku! –blue-

Blue? Sial, apa-apaan ini?!

TBC

Hai hai~ keiyeoni’s here!

Aku mau ngucapin terima kasih buat reader yang udah sempet-sempetin baca apalagi komen cerita yang absurd ini T.T

Buat yang udah baca tapi belum komen plisss aku mohon komennya biar next chapter bisa lebih baik dari ini, see you guys ^^

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] LOVE JOURNAL (CHAPTER 2)

  1. I can’t help but enjoying this fanfic!!!
    I wish my college story was sweet like this 😦
    Kok aku merasa sepertinya yg kirim notes ke mereka itu temen2nya yunju ya? Kkkk
    Lanjut terus ceritanya yaaa
    Bagus banget!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s