[EXOFFI FREELANCE] BLACK INK (Prolog)

blackinkeu

BLACK INK
by Tyar
Chaptered | AU – Romance – slight!Action – Suspense | PG
Cast
Suho – Chanyeol – Sehun – Irene – Wendy – etc.
Disclaimer
2017 © TYAR
Don’t claim my fiction.

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Sebelum memulai, lebih baik baca dulu: [ CASTs ]

[Prolog]

2012 …

SUV Veracruz hitam merapat ke halaman rumah megah yang telah dipenuhi berbagai macam mobil. Suho berhenti tepat di belakang Van putih dengan logo besar bertuliskan KBC di sampingnya. Beberapa mobil polisi sudah terparkir rapi di sekitar pintu masuk, termasuk beberapa mobil wartawan, juga satu mobil ambulans. Suho meremas setir kuat-kuat sebelum benar-benar memutuskan untuk turun. Melangkah dengan cepat sambil berusaha menutup wajahnya di bawah topi hitam. Dia sudah menghafal rumah mewah itu di luar kepala, cukup memudahkannya untuk mencari jalan masuk yang lebih sepi, meminimalisir pusat perhatian.

Sebelum itu Suho sempat melihat beberapa polisi dengan senjata lengkap berbaris tepat di depan pintu masuk rumah, membuat jarak dengan para wartawan yang telah siap dengan sejumlah pertanyaan, perekam suara, bahkan kamera liputan. Jika salah satu saja di antara mereka menyadari keberadaannya, maka runyam semua urusan.

Berhasil masuk, Suho menemukan sekelompok orang tak berseragam tengah sibuk mengumpulkan data-data, berkas-berkas, apapun yang bisa dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tak jauh dari tempatnya berdiri, asisten Lee––yang meneleponnya setengah jam lalu––tampak risau dengan sebuah ponsel di telinga, mencoba menelepon beberapa orang penting yang mungkin bisa membantu.

“Jangan gegabah!” Sebuah suara tercekat terdengar dari sebuah ruangan kerja. Pria paruh baya itu melangkah keluar dengan ekspresi bingung, berusaha melawan salah seorang penyidik yang membawa laptop, map, bahkan ponsel milik pria itu.

“Apa yang kalian lakukan, bedebah!” Suho berteriak dengan satu tarikan napas, menarik semua perhatian polisi, para pembantu rumah tangga, penyidik, sang paman dan asistennya. Lengang pun menguasai beberapa saat.

“Siapa kau?” Pria tegap yang lebih tinggi darinya menoleh, mendekat satu langkah dengan tatapan interogasi.

“Untuk apa kau ada di sini?” Keberadaan keponakannya hanya membuat si pemilik rumah itu semakin cemas.

Napas Suho bergemuruh, menahan semua emosi yang tersulut sejak detik pertama ia mendengar kabar ini. Tidak rela sama sekali melihat orang tua yang disayanginya diperlakukan seperti seorang teroris.

“Sekali lagi aku tanya, apa yang kalian lakukan pada Presiden kalian sendiri?!” Suho merapat dengan langkah besar-besar ke arah komandan dari semua penyelidikan ini. Seorang Ketua Divisi bernama Choi Minho itu tak melawan saat Suho dengan kasar menarik kerah bajunya. Beberapa bawahan Minho segera mendekat, mencengkram lengan Suho demi menarik tubuhnya menjauh. Lelaki itu menepis kasar.

“Aku tidak tahu siapa kau, tapi tolong pahamilah bahwa Pak Presiden kita yang terhormat ini sudah terjerat––”

“Kasus korupsi?” Suho menginterupsi, “itu maksudmu?”

Dengan tatapan tegas, Minho terdiam kemudian mengangguk.

“Omong kosong! Aku tahu Kim Jungmin tidak mungkin melakukannya. Kau juga tahu itu, Ketua Choi.”

Minho menatap Suho lekat-lekat, tidak punya ide sama sekali siapa pria yang keras kepala membela Kim Jungmin itu.

“Menyingkirlah anak muda, sebelum kau terseret dalam kasus ini dengan cuma-cuma. Aku tidak ingin mempercayai ini, tapi perintah atasan tetaplah perintah.” Minho mengusap wajah. “Bawa semua berkas bersama Presiden Kim.”

Setelah memastikan itu adalah perintah terakhir, Minho kembali menatap Suho. “Selamat malam.”

Tepat setelah kedua tangan Kim Jungmin diborgol, dia berbisik pada Suho. “Jaga Bibimu, Nak. Dia kritis.”

Kedua tangannya mengepal, menahan amarah dalam dirinya kuat-kuat. Dia yakin dan selalu yakin bahwa Pamannya tidak bersalah. Dia selalu tahu bahwa Kim Jungmin adalah Presiden yang taat aturan, bertanggung jawab. Memiliki kekurangan, tapi tidak pernah berbuat kejahatan, terutama melakukan hal murahan seperti itu.

Tak ada yang bisa dilakukannya, selain merelakan polisi menciduk dan membawa Presiden Kim Jungmin meninggalkan lokasi. Suho segera berlari ke arah kamar, lantas menemukan Bibinya sudah berbaring dengan alat bantu napas bersama seorang dokter dan beberapa perawat.

“Bibi, bertahanlah.”

“Apakah kau kerabatnya?” Dokter yang masih sibuk dengan aktivitasnya bertanya, “kami akan membawanya ke rumah sakit.”

Suho menahan napas, menatap sang Dokter dengan tajam. “Kalau begitu, cepat!”

)))(((

Di pelataran parkir rumah sakit yang remang, Suho meremas dahinya ketika sebuah siaran radio terdengar dari dashboard mobil, memberitakan penangkapan Presiden Kim Jungmin atas kasus korupsi yang menimpanya. Dengan sigap dia mematikan radio dengan penuh rasa jengkel, untuk yang kesekian kalinya memukul setir dengan kasar.

Suho meraih ponsel, menyambungkan sebuah panggilan. Setelah beberapa nada sambung, terdengarlah sebuah jawaban, sebuah suara yang begitu memuakkan baginya.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Sambar Suho tak sabaran.

Apa kau tahu ini pukul berapa? Biarkan orang tua ini istirahat dengan tenang, Nak.”

Suho mendecih, “Bisa-bisanya kau bersikap setenang ini ketika adikmu sendiri diciduk polisi, hah?”

Lantas apa yang harus kulakukan, eh?

“Berengsek! Satu-satunya alasan kenapa kau tidak mempedulikannya adalah karena kaulah dalang dari semua ini.”

Jaga ucapanmu, Kim Suho!” Intonasi di seberang sana membalas tak kalah tinggi. “Terima saja ketentuan ini, Nak. Pamanmu memang bersalah. Lantas apa lagi yang harus dipermasalahkan?

Suho meremas setir hingga tangannya kebas. “Jika terbukti bahwa kau memang orang di balik semua ini, aku bersumpah akan membalas semua perbuatanmu, semua yang pernah kau lakukan padaku dan Ibuku 10 tahun lalu, termasuk apa yang sudah kau lakukan pada Pamanku kali ini! Sejak dulu, aku memang tidak pernah menganggapmu sebagai Ayahku.”

Terdengar sebuah tawa mengerikan dari seberang sana. “Terserah apa yang kau ingin, Suho. Semuanya sudah jelas. Pamanmu,” Youngmin memberi jeda sejenak, menurunkan suara.

Selesai.

[Prolog; end]

Tyarnotes:

Heiho! Apa kabar reader EXOFFI? Akhirnya Tyar balik lagi menyapa pembaca exoffi. Buat pembaca DRAFT pasti udah gak asing lagi sama tyar. Semoga FF kali ini bisa jadi ff yang menarik buat kalian. Hihi. Eee kok kaku gini sih tyar nyapanya lol.

Buat yang merasa belum buka link CASTs nya, coba scroll lagi ke atas dan di baca dulu castnya, disitu juga ada opening(cuap-cuap) singkat tyar.

Berhubung ane lagi baca Negeri para Bedebah-nya Tere Liye, tanpa sengaja pembukaan ff ini feel-nya agak-agak mirip tapi beda gitcyu. Tapi kali ini sih, tyar lebih terinspirasi dari drama Healer ((kalo belum nonton helaer nonton deh sumpeh recomended banget!!))

Seperti yang aku bilang di cuap-cuap(s), dari semua ff yang udah aku buat (di wattpad & blog sebelah) ff ini sebenernya ff kedua setelah DRAFT yang membusuk di folder dengan judul ‘the writers’. Akhirnya bisa didebutkan juga~

Pairingnya seperti biasa tyar pake yg mainstream-mainstream aja, terutama surene. Ga ngerti ini pairing yang paling mainstream justru yang paling susah ffnya. Semoga surene-shipper atau suho stan terhibur sama ff ini. Hiw :3

Selamat menikmati, selamat berpuasa, dan jangan lupa tinggalkan jejak 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] BLACK INK (Prolog)

  1. Ping balik: BLACK INK — [ CASTs ] | THE CLAN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s